Tampilkan postingan dengan label Diary Veni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Veni. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Oktober 2023

Part of Being an Adult (Bagian dari Menjadi Dewasa)

Siapa yang semakin dekat dengan menjadi dewasa malah semakin tidak berkeinginan untuk menjadi dewasa? Siapa yang merasa aneh melihat orang lain seperti itu dan diri sendiri seperti ini? Siapa yang tiba-tiba kangen masa kecil?

This adult life is so fucking complicated, right? Kita mengucap "hadehh/haiyahhh/ bjirrr/syibal se.....k.i..ya", tapi akhirnya tetap melakukannya. Kita berdebat hebat, tapi berakhir damai juga. Pokoknya kudu pusing dulu, meski ujungnya juga bisa ngerjain. Haha.

Tapi aku senang berada difase dewasa ini. Aku bisa duduk sendirian di sebuah restoran dan membeli matcha dan coklat favoritku tanpa ada yang bisa menghentikanku. Itu juga tentang bersantai ria di rumah, tidur lebih awal, dan merasa itu baik-baik saja. Rasa-rasanya memang tidak ada yang namanya menjadi dewasa. Bukankah kita semua hanya anak-anak yang terjebak di dalam tubuh orang dewasa saja? Atau bukankah itu terlalu susah untuk terus berpura-pura?

Jadi, bolehkah kita berhenti membual tentang hal-hal yang dengan atau tidak semestinya di lakukan? Karena "kedewasaan" tidak melulu ditandai dengan bertambahnya usia, tapi juga tentang pengalaman dan pertumbuhan. Jadi jangan pernah mengharapkan kedewasaan dari siapapun. Hidup ini sudah sulit. Hanya saja semoga semua orang tetap terkendali dalam menjaga energinya sepanjang hari.

Lagi pula dewasa adalah tentang bagaimana diri sendiri bisa mengajak hatinya jatuh cinta lagi dan lagi. Dia tahu bagaimana harus merasa senang dan bahagia. Dia tahu bagaimana menjadi yang terkendali atas semua-muanya. Karena baiknya, semua memang harus seimbang. Supaya akhirnya dia berhasil merasa dicintai sebanyak-banyaknya, juga sepenuh-penuhnya. Ya, mungkin ada lebih banyak hal dalam hidup ini daripada menjadi seorang remaja dan menjadi dewasa bukan berarti kita harus meninggalkan itu. Akhirnya, dari semua hal yang ada, semoga kita bisa semakin paham bagaimana cara kerja semesta.

So, happy growing into adulthood. I hope we don't become annoying adults. May us always be the winner. Hopefully everyone will support us to always be calm.

Good luck 🤘

Jumat, 27 Januari 2023

Roman(tika)


Merangkai ini dengan maksud berbicara sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa banyak "ya" yang tidak melulu jadi "ya" dan banyak "tidak" yang tidak melulu jadi "tidak". Itu hanyalah sesuatu yang kecil. Itu adalah tentang perjalanan menjadi manusia berwujud aku. Itu bisa jadi berwujud kamu juga. Itu bisa jadi berwujud kita.

Membaca ini mungkin bisa dilakukan sekali jalan. Itu memang tidak banyak, jadi aku pikir itu akan menjadi cepat selesai. Tapi bagaimanapun itu, semoga setelah membaca (satu judul saja), seseorang bisa terketuk hatinya.

Banyak hal yang terjadi tahun ini, juga di tahun-tahun sebelumnya. Aku pikir itu akan berlaku juga di tahun-tahun selanjutnya. Segala senang, segala sedih, segala yang terjadi biarkan terjadi. Bisa jadi itu akan menjadi semakin, tapi yang penting, semoga kita selalu jadi yang bisa melalui itu dengan senang hati.

Barangkali ini adalah pencapaian terbaikku di tahun 2022. Draf-draf lama yang mangkrak di buku-buku catatan yang sudah mulai kusut itu akhirnya lahir menjadi anak cantik bernama "Roman(tika)".

"Roman(tika)".

Sebenarnya aku lebih suka "roman" tanpa "tika". Tapi tidak apa-apa. Karena hidup ini adalah serangkaian lika-liku, jadi aku pikir "Roman(tika)" bisa jadi nama yang apik untuk memanggil anak sulung ini.

"Roman(tika)" ini adalah bentuk dari sebuah perayaan, tempat dimana banyak mata begitu sembab, tempat kata maaf diada-ada, dan tempat dimana begitu banyak persimpangan.

Dia adalah penggalan-penggalan dari aku yang (masih berusaha waras). Dia adalah aku yang sempat menangis, meringis, dan kebingungan menyelesaikan setiap malam yang baik.

Dia adalah definisi dari serangkaian kesabaran dan alur yang lambat. Dia adalah kumpulan dari kusut-kusut yang berhasil kuurai. Dia adalah marah-marah yang berhasil kuredam. Dia adalah tanya-tanya yang datang jawabnya.

Dia adalah aku yang telah berjalan begitu jauh, tapi lupa bahwa ternyata diri sendiri telah lunglai mencintai kehilangan dan sesuatu yang bukan untukku. Dia adalah aku yang (mungkin) sama denganmu (siapapun kamu) yang begitu sederhana tapi kadang berharap jadi mulia.

Dia adalah aku yang setiap pagi membuka mata seperti biasa, lalu bingung akan melakukan apa juga bagaimana menyelesaikannya. Tapi anehnya aku nyaman mengulang itu dan kadang sembrono mengklaim bahwa diri ini bahagia melakukannya.

Kadang aku bisa bilang bahwa aku baik-baik saja, tapi semoga aku benar-benar telah terkendali. Karena singkatnya ini hanya tentang bagaimana seseorang akhirnya berhasil melapangkan nasib.

Dan sungguh setiap emosi dan pengalaman hidup berhak dirasakan dan berhak diceritakan. Begitulah akhirnya seseorang berhasil menikmati sesuatu.

Begitulah akhirnya aku memberanikan diri meracau. Memang tidak begitu banyak, tapi setidaknya ada satu dan itu akan menjadikanku (juga kamu) merasa cukup. Lebih dari cukup.

Akhirnya, sudilah seseorang berkenalan dengan anak sulungku dan mendekapnya dengan penuh.

Selamat membaca, dan
mari tumbuh dan sembuh bersama.

Selasa, 20 Desember 2022

Kamis Bersama Bapak

Hari ini aku membawakannya kembang warna-warni. Lebih dominan warna pink, tapi sebenarnya aku lebih suka menaburkan yang warna putih atau kuning. Tapi belakangan aku malah lebih sering membawakannya yang warna merah. Halah tapi siapa juga yang peduli, yang penting tiruan taman surga buatanku bisa kelihatan apik. Bapak juga tidak pernah komplain tentang ini. Dia memang selalu tahu bagaimana menyenangkan satu-satunya anak wedok yang dia punya.

Ahh aku membayangkan betapa candu senyum canggungnya. Bunga-bunga itu bahkan tidak mau menceritakannya kepadaku. Tapi aku pikir mereka terlalu sibuk bertasbih untuk bapak sekaligus bermain-main dengan terik matahari dan kemudian berakhir kering. Waw ternyata tidak hanya manusia yang kembali ke tanah.

November sudah dua kali berlalu semenjak itu. Jarak itu terbentang menjadi semakin jauh, sangat-sangat jauh. Aku di sini dan apakah Bapak sudah di surga?

Haha, aku tidak tahu apakah aku harus senang atau sedih karena kehilangan seorang paman tua. Aku pikir aku hanya menyimpan perasaan terlalu banyak sampai akhirnya aku kehabisan waktu. Atau waktu untuk itu memang tidak pernah ada untukku? Waktu memang sebuah jarak yang menjaga.

Aku hanya senang bahwa akhirnya aku bisa menulis ini. Bahwa aku telah sadar tidak ada yang salah dengan sebuah kepergian, kecuali atas apa-apa yang tidak bisa lagi dibawa. Tapi betapa manusia sangat-sangat beruntung karena mereka punya surat-surat terbang bernama doa. Itu lumayan, daripada hanya merasa gelap, mengerikan, dan sendirian. Lagi pula itu mendekatkan, entah kita menyadarinya atau tidak. Setidaknya kita sudah mendekat, setidaknya kita sudah punya waktu untuk membungkam perasaan bernama rindu.

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....