Tampilkan postingan dengan label Life Style. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Style. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2024

Zumba Istanbul

Sore ini seperti mendapat kejutan paling menyenangkan. Satu itu tentang langit biru yang cerah setelah seharian hujan. Dua, tentang schedule zumba yang tidak jadi tiada. Dan tiga, adalah tentang haha hihi yang sudah lama sekali tidak dijalani.

Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan? 18 lagu, 50 sekian menit, sewidak sekian kecacalan, dan foto epik bareng langit biru yang malu-malu. Awww ini benar-benar seru. Menghadiahi diri sendiri dengan berolahraga itu sesuatu yang manis bukan? Perayaan paling mewah atas apa-apa yang bisa badan kita lakukan. Kita melompat-melompat, berputar-putar, lari-lari, dan sesekali berteriak yeayyy.

Have fun saja meskipun sering salah membaca gerakan selanjutnya. Haha. It's okay, kita semua berhak menjadi amatiran. Lagi pula, olahraga bukan melulu menjadi ahli bukan? Merawat kebiasaan yang kecil dan sederhana juga cukup bisa membuat kita hidup dalam keberlimpahan. So, let's move (tidak peduli jika itu hanya tentang menggoyangkan pinggangmu 100x). Haha.

Satu lagi kenyataan manis dari berolahraga adalah ketika kita secara tidak sengaja merasa cantik ketika selesai melakukannya. Maybe that's just my feeling, but try to feel it too. We must accept this sweet reality together guys.

Tidak harus sekarang. Cobalah 5 menit lagi.

Jangan lupa 5 menit lagi.

5 menit lagi. 😈😈😈

Selasa, 05 Desember 2023

Tentang "Roman(tika)"

Kiranya aku ini hanya ingin melapangkan nasib. Berusaha tetap senang juga tenang meski waktu rasanya berjalan begitu lambat.

Sebenarnya aku lebih suka "roman" tanpa "tika". Tapi tidak apa-apa. Karena hidup ini adalah serangkaian lika-liku, jadi aku pikir "Roman(tika)" bisa jadi nama yang apik untuk memanggil anak sulung ini.

"Roman(tika)" ini adalah bentuk dari sebuah perayaan, tempat dimana banyak mata begitu sembab, tempat kata maaf diada-ada, dan tempat dimana begitu banyak persimpangan.

Dia adalah penggalan-penggalan dari aku yang (masih berusaha waras). Dia adalah kumpulan dari kusut-kusut yang berhasil kuurai. Dia adalah marah-marah yang berhasil kuredam. Dia adalah tanya-tanya yang datang jawabnya. Dia adalah perayaan yang nananana. Dia adalah aku yang (mungkin) sama denganmu (siapapun kamu) yang begitu sederhana tapi kadang berharap jadi mulia.

Dia adalah aku yang sempat menangis, meringis, dan kebingungan menyelesaikan setiap malam yang baik. Dia adalah aku yang telah berjalan begitu jauh, tapi lupa bahwa ternyata diri sendiri telah lunglai mencintai kehilangan dan sesuatu yang bukan untukku. Dia adalah definisi dari serangkaian kesabaran dan alur yang lambat.

Dia adalah aku yang setiap pagi membuka mata seperti biasa, lalu bingung akan melakukan apa juga bagaimana menyelesaikannya. Tapi anehnya aku nyaman mengulang itu dan kadang sembrono mengklaim bahwa diri ini bahagia melakukannya. Kadang aku bisa bilang bahwa aku baik-baik saja, tapi semoga aku benar-benar telah terkendali. Karena singkatnya ini hanya tentang bagaimana seseorang akhirnya berhasil melapangkan nasib.

Dan sungguh setiap emosi dan pengalaman hidup berhak dirasakan dan berhak diceritakan. Begitulah akhirnya seseorang berhasil menikmati sesuatu. Begitulah akhirnya aku memberanikan diri meracau. Memang tidak begitu banyak, tapi setidaknya ada satu dan itu akan menjadikanku (juga kamu) merasa cukup. Lebih dari cukup.

Merangkai ini dengan maksud berbicara sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa banyak "ya" yang tidak melulu jadi "ya" dan banyak "tidak" yang tidak melulu jadi "tidak".

Barangkali ini adalah pencapaian terbaikku di tahun 2022. Draf-draf lama yang mangkrak di buku-buku catatan yang sudah mulai kusut itu akhirnya lahir menjadi anak cantik bernama "Roman(tika)". Itu hanya sesuatu yang kecil. Itu adalah tentang perjalanan menjadi manusia berwujud aku. Itu bisa jadi berwujud kamu juga. Itu bisa jadi berwujud kita.

Membaca ini mungkin bisa dilakukan sekali jalan. Itu memang tidak banyak, jadi aku pikir itu akan menjadi cepat selesai. Tapi bagaimanapun itu, semoga setelah membaca (satu judul saja), seseorang bisa terketuk hatinya.

Banyak hal yang terjadi tahun ini, juga di tahun-tahun sebelumnya. Aku pikir itu akan berlaku juga di tahun-tahun selanjutnya. Segala senang, segala sedih, segala yang terjadi biarkan terjadi. Bisa jadi itu akan menjadi semakin, tapi yang penting, semoga kita selalu jadi yang bisa melalui itu dengan senang hati.

Jadi, sudilah seseorang berkenalan dengan anak sulungku dan mendekapnya dengan penuh.

Selamat membaca, dan
mari tumbuh dan sembuh bersama.

Selasa, 17 Oktober 2023

Part of Being an Adult (Bagian dari Menjadi Dewasa)

Siapa yang semakin dekat dengan menjadi dewasa malah semakin tidak berkeinginan untuk menjadi dewasa? Siapa yang merasa aneh melihat orang lain seperti itu dan diri sendiri seperti ini? Siapa yang tiba-tiba kangen masa kecil?

This adult life is so fucking complicated, right? Kita mengucap "hadehh/haiyahhh/ bjirrr/syibal se.....k.i..ya", tapi akhirnya tetap melakukannya. Kita berdebat hebat, tapi berakhir damai juga. Pokoknya kudu pusing dulu, meski ujungnya juga bisa ngerjain. Haha.

Tapi aku senang berada difase dewasa ini. Aku bisa duduk sendirian di sebuah restoran dan membeli matcha dan coklat favoritku tanpa ada yang bisa menghentikanku. Itu juga tentang bersantai ria di rumah, tidur lebih awal, dan merasa itu baik-baik saja. Rasa-rasanya memang tidak ada yang namanya menjadi dewasa. Bukankah kita semua hanya anak-anak yang terjebak di dalam tubuh orang dewasa saja? Atau bukankah itu terlalu susah untuk terus berpura-pura?

Jadi, bolehkah kita berhenti membual tentang hal-hal yang dengan atau tidak semestinya di lakukan? Karena "kedewasaan" tidak melulu ditandai dengan bertambahnya usia, tapi juga tentang pengalaman dan pertumbuhan. Jadi jangan pernah mengharapkan kedewasaan dari siapapun. Hidup ini sudah sulit. Hanya saja semoga semua orang tetap terkendali dalam menjaga energinya sepanjang hari.

Lagi pula dewasa adalah tentang bagaimana diri sendiri bisa mengajak hatinya jatuh cinta lagi dan lagi. Dia tahu bagaimana harus merasa senang dan bahagia. Dia tahu bagaimana menjadi yang terkendali atas semua-muanya. Karena baiknya, semua memang harus seimbang. Supaya akhirnya dia berhasil merasa dicintai sebanyak-banyaknya, juga sepenuh-penuhnya. Ya, mungkin ada lebih banyak hal dalam hidup ini daripada menjadi seorang remaja dan menjadi dewasa bukan berarti kita harus meninggalkan itu. Akhirnya, dari semua hal yang ada, semoga kita bisa semakin paham bagaimana cara kerja semesta.

So, happy growing into adulthood. I hope we don't become annoying adults. May us always be the winner. Hopefully everyone will support us to always be calm.

Good luck 🤘

Selasa, 19 September 2023

Review Buku "The Things You Can See Only When You Slow Down"

"Ketika segala sesuatu disekitar saya bergerak begitu cepat, saya berhenti sejenak dan bertanya “Apakah memang dunia yang terlalu sibuk, atau malah batin saya?”"(TTYCSOWSD, Hal: 9).

Memulai tahun baru dengan membaca buku self improvment yang meaningful, begitu ringan tapi tetap mengajak kita untuk berfikir dan merefleksi diri. Buku ini ditulis oleh Haemin Sunim, seorang guru agama Buddha Zen sekaligus penulis paling berpengaruh di Korea Selatan.

Berisi sekumpulan kalimat singkat berupa kutipan-kutipan bijak tentang semua aspek kehidupan manusia mulai dari relationship, cinta, spiritual, juga pekerjaan. Buku yang mengingatkan kita untuk lebih aware lagi dalam memahami pentingnya bersikap, bertutur kata, dan mengistirahatkan diri. Itu adalah tentang hal-hal yang hanya dapat kita lihat dan rasakan ketika kita melambat dan bagaimana menjadi tenang di dunia yang sibuk. Karena beberapa hal justru dapat kita nikmati saat kita tidak terburu-buru.

“..............bahwa yang mengusik kita bukanlah keadaan dunia, melainkan cara pandang kita. (TTYCSOWSD, Hal: 15)

Ilustrasi gambarnya cantik dan kalimat-kalimatnya begitu relate dengan kehidupan sehari-hari. Buku ini membantu ketika pikiran sedang tidak stabil. Itu cukup untuk membantu menenangkan pikiran kita, tentu saja dengan membacanya perlahan untuk memahami lebih dalam tentang apa-apa yang sebenarnya penulis maksudkan. Buku ini juga akan cukup membantu kita untuk mendapatkan kekuatan dan meraih sebuah kepuasan ketika hidup sedang terasa begitu sulit. Itu seperti sebuah resep untuk menjalani hidup ini dengan cara yang lebih ringan dan bahagia.

Tapi memang semua hal selalu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Jadi tidak melulu itu akan mengubah hidup. Ya, selamat menemukan kutipan-kutipan apik sesuai kondisi yang kita alami. Selamat mengembangkannya dengan caramu sendiri.

Jadi, ini tidak apa-apa menjadi hari kita untuk melambat sedikit bukan?

Selasa, 16 Mei 2023

Review Buku "Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah"

Mungkin kita tidak sempurna, belum dewasa, dan sering melakukan kesalahan, tetapi kita tetap harus bahagia” (Hal: 231).

Aku suka sekali bunga matahari yang tumbuh di cover buku ini. Rasanya sudah seperti disambut dengan hangat, padahal aku belum mulai membuka bukunya, apalagi membaca isinya.

Buku ini sangat-sangat heartwarming. Pertama aku menjadi berterimakasih kepada diriku sendiri yang sudah kuat berjalan sampai sejauh ini. Kedua aku meminta maaf kepada diriku atas ragu-ragu dan putus asa yang sudah-sudah. Ketiga aku memutar lagi memori-memori perihal perjalanan panjang yang sudah-sudah. Ternyata memang banyak sekali lelahnya. Ternyata memang banyak sekali senangnya. Ternyata hidup memang sedinamis itu. Tidak lama senangnya. Tidak lama sedihnya. Sangat-sangat sementara.

“Kau hanya perlu menjadi orang yang bisa melanjutkan sesuatu yang sudah kau mulai sampai kau melihat akhirnya” (Hal: 78)

Begitulah Geulbaewoo mengingatkan kita untuk menjadi baik dan lebih peduli dengan diri sendiri, beristirahat ketika merasa lelah, meluangkan waktu untuk sendiri, dan bersemangat lagi untuk melanjutkan perjalanan yang sempat berhenti. Geulbaewoo merangkul kita lewat pengalaman jatuh bangun yang diceritakannya lewat esai-esai di buku ini. Rasanya sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Apalagi untuk kita yang sempat atau sedang mengalami quarter life crisis, untuk kita yang sedang kehilangan gairah melanjutkan sebuah perjalanan, untuk kita yang sedang cemas, takut, kosong, dan ingin menyerah.

Buku ini terbagi menjadi 3 bagian. Pertama tentang impian dan pencapaian. Kedua tentang bagaimana berhubungan dengan manusia khususnya bab asmara. Dan terakhir tentang bagaimana mencintai diri sendiri. Isinya berupa esai singkat tapi padat makna. Aku suka buku ini karena Goelbaewoo berhasil menerbangkan semangat-semangatnya tanpa pernah menjanjikan sebuah harapan dan keberhasilan.

“Apapun masalahnya, kau akan mampu melewatinya” (Hal: 238)

Akhirnya, selamat melakukan yang terbaik sepanjang hari, jangan lupa istirahat, jangan lupa jalan lagi. Semoga beruntung menemukan hal-hal yang kita sukai teman-teman.

Selasa, 14 Maret 2023

Review Buku "Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa"

Membaca buku ini, membaca juga macam-macam keresahan di diri sendiri. Yang sudah, yang sedang, atau bahkan yang mungkin belum terfikirkan sebelumnya. Sesuatu entah apa di dalam isi kepala, selalu saja memainkan suara-suara. Waktu seperti memburu-buru dan parahnya kita seperti tidak keberatan diburu-buru olehnya.

"...kita semua punya kekhawatiran masing-masing. Tentang akan ke mana. Nanti menjadi apa. Karena kita memang tak pernah tahu kemana masa depan akan membawa kita." (Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Hal: 72).

Orang-orang memang seperti cepat sekali berjalan, sedangkan kita tidak, atau bahkan malah diam di tempat. Jangkauan demi jangkauan rasanya jadi semakin jauh, sampai-sampai kadang kita lupa bagaimana melanjutkan perjalanan. Dangkal sekali memang kita memandang kehidupan. Padahal rasa-rasanya kita sama-sama tahu bahwa akan menjadi sia-sia jika terlalu lama mendongak ke atas. Sampai-sampai kadang kita tidak tahu bahwa sekeliling telah mengijinkan kita jadi sesuatu. Ya, mungkin bukan kita yang tidak tahu, tapi kita yang tidak mau tahu karena itu bukan yang kita mau. Begitulah kita yang tidak pernah benar-benar jadi dewasa dan melihat sesuatu dengan jelas. Kita selalu menginginkan sesuatu yang tidak kita miliki. Kita selalu ingin tahu rasanya. Padahal kesenangan itu semu. Padahal segala sesuatu ya begitu, tidak ada yang menjanjikan. Dunia seisinya, hanya titipan.

"...Namun, sebenarnya apa kesuksesan itu jika pada akhirnya, kita semua mati?" (Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Hal: 6).

Hidup, begitulah jalannya. Hari ini menjelma jadi masalah, besok menjelma jadi solusi, besoknya lagi begitu saja, bertukar peran, dan berakhir. Kita sungguh hanya perlu percaya dengan diri sendiri. Bahwa kita bisa jadi sesuatu suatu saat nanti. Bahwa jikapun kita tidak pernah jadi apa-apa, itu tidak apa-apa. Atau jikapun ternyata kita pernah diizinkan jadi sesuatu, suatu saat kita akan menyadari bahwa ternyata kita tidak pernah benar-benar ingin jadi sesuatu. Kita sungguh hanya perlu melakukan apa yang ingin kita lakukan, yang baik, yang bermanfaat. Mari kita benar-benar menikmati, mengambil manfaat dari sesuatu, dan menjadi sesuatu di hari itu. Jangan lupa merasa cukup, sebab begitulah definisi kesuksesan yang sesungguhnya.

"Everybody's struggling, hardly. So, let's make it casier for one and another." (Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Hal: 144).

Itu menakjubkan. Bahwa perjalanan setiap orang memang tidak sama panjangnya, tidak sama likunya, tidak sama dewasanya. Bahwa dari itu semua, kita mungkin akan jadi sesuatu, mungkin juga tidak, tapi semua proses akan jadi bermakna. Karena masing-masing dari kita punya peran. Karena masing-masing dari kita punya tujuan. Karena kita bisa jadi sesuatu tanpa perlu kita menginginkan itu. Karena kita bisa jadi sesuatu tanpa perlu standar yang bertebaran di kehidupan masyarakat maupun sosial media.

"Dan, pada akhirnya, kita berjalan di zona masing-masing dengan sepatu yang paling pas dengan kaki kita. Paling, paling pas." (Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Hal: 176).


Selasa, 05 April 2022

Review Buku "Seni Memahami Pria"

"Dasar lelaki. Mereka semua sama. Gila atau waras, tetap saja mereka laki-laki." -Cornelia Funke. (Seni Memahami Pria, Hal : 146).

Sebagaimana wanita, pria juga senang berbicara. Dan sebagai lawan bicara, siapapun dia, perlu berusaha untuk mendengarkannya. Tapi siapa yang peduli jika ternyata pria adalah makhluk hidup pertama yang mengenakan sepatu hak tinggi di Eropa pada tahun 1600-an? Alih-alih mencari tahu, aku lebih bingung jika ternyata pria menyebut wanita sebagai makhluk yang sulit dimengerti. Padahal wanita terhadap pria juga sama. Kecuali jika masing-masing sudah paham akan diri sendiri. Jadi, ya ini memang membingungkan.

Buku ini adalah kumpulan asumsi-asumsi yang entah bagaimana ketika dibaca bisa jadi berguna atau mungkin sebaliknya. Semua tergantung kepada kita yang membaca dan siapa pria yang kita hadapi.
14 bab ini cukup sekali menyita waktu-waktu yang dipaksa luang. Kadang menemukan sekian lembar diantaranya bisa mencerahkan, kadang sebaliknya, kadang bahkan rasanya abu-abu. Haha, sudah kubilang, sensasi itu kita yang cipta.

Jadi.........

"Jika anda ingin hidup bahagia dengan laki-laki, anda harus banyak memahaminya dan sedikit mencintainya. Jika anda ingin berbahagia dengan perempuan, anda harus lebih banyak mencintainya dan jangan coba-coba memahaminya" - Helen Rowland. (Seni Memahami Pria, Hal : 148).

Ya, selamat menjadi versi terbaikmu.

Selasa, 08 Maret 2022

Selamat Hari Perempuan Sedunia

Jadi perempuan itu susah-susah gampang. Jadi laki-laki juga. Atau bisa jadi malah lebih berat. Tapi sekali lagi hidup ini hanya perkara sawang sinawang. Kita memandang sesuatu itu baik juga menyenangkan, tapi ternyata tidak. Atau malah sebaliknya. Ya, tapi mari ingat lagi bahwa kita bukan seseorang yang kita kira seberuntung itu untuk merasakan sesuatu yang kita jelmakan sebagai asumsi.

Jadi perempuan itu banyak limitnya. Hah? Maksudku diskriminasi dan stigma-stigma tentangnya banyak jelmanya seperti hantu. Orang-orang suka memandangnya sebelah mata. Bahkan jika mereka adalah perempuan itu sendiri. Pikiran-pikiran lama berbentuk lingkungan tempatnya berada sudah sebegitu jahat membentuknya. Padahal jika ada sedikit saja percaya dan dukungan, seorang perempuan  bisa tumbuh menjadi yang lebih baik, lebih banyak, lebih ada, bahkan lebih dari yang sekedar sekitarnya bayangkan.

Jadi perempuan itu berharga. Ya, tentu saja kita akan menjadi sesuatu atau mungkin saja tidak. Tapi yang pasti, kita benar-benar akan berproses. Proses yang penuh makna, yang bahkan tidak kita sadari itu, tapi orang-orang bahkan akan lebih senang membacanya. Ya, orang-orang yang kadang hanya menggunakan sebelah matanya itu. Waw, ini sangat-sangat menyenangkan, bahkan jika ternyata kita hanya akan menjadi langit senja yang merah muda.

Jadi perempuan itu tidak harus sempurna, yang penting kita nyaman menjalaninya. Karena kita berhak menjadi siapa saja. Kita berhak berada dimana saja. Kita berhak melakukan apa saja. Kita berhak menjadi bahagia. Kita berhak jadi hebat menjadi kita. Jadi mari kita nikmati hari-hari kita sepenuhnya.

Ya, selamat hari perempuan sedunia.
.
.
#kamuberhargaRG #IWD2022 #BreakTheBias #hariperempuansedunia

Jumat, 04 Maret 2022

Review Novel "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya"

"Kamu akan tahu sendiri siapa dirimu. Nikmati saja peranmu, Mat. Itu anugerah. Bisa jadi peranmu harus menderita. Bisa jadi kamu ditetapkan sebagai raja. Bisa jadi karaktermu hanya menjadi pembenci dan pendusta." (Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, Hal: 69).

Begitulah tutur Cak Dlahom kepada Mat Piti usai ketidakberdayaan Cak Dullah di cerita "Wayang yang Memuji Diri Sendiri".

Cak Dlahom, seorang tokoh utama yang istimewa di buku ini. Dia sinting tapi tidak. Dia pintar tapi tidak. Dia bodoh, tapi juga tidak. Cuma kadang bikin geregetan dan tentu saja gila. Tapi di setiap tingkah absurdnya, Cak Dlahom selalu menyampaikan peringatan-peringatan kecil tentang bagaimana cara orang-orang memahami islam, tentang bagaimana hidup beragama, hidup bermasyarakat, juga tentang ibadah-ibadah yang sudah mereka lakukan. Apakah sudah benar-benar karena Allah atau hanya demi mendapat pujian dari orang lain.

Buku ini menceritakan tentang kehidupan orang-orang di kampung Ndusel. Kehidupan yang sederhana dan sangat-sangat relate dengan kehidupan orang-orang pada umumnya. Yang kadang peduli, yang kadang rajin beribadah, yang kadang tersinggung, yang kadang putus asa, yang kadang lupa bersyukur, yang kadang merasa benar padahal tidak, yang kadang kebingungan, yang kadang sombong, yang kadang keras, yang kadang lupa bahwa berwudu yang sebenarnya adalah memberi maaf. Bukan hanya menyejukkan muka. Bukan.

Buku ini bacaan yang sederhana tapi syarat akan makna. Buku ini buku islami yang bertema komedi. Buku ini rumah yang baik. Cak Dlahom pasti cekikikan mengetahui ini sambil terus menggumam

"...manusia itu hanya bisa mengaku-aku ada. Mengaku-aku bisa berbuat. Mengaku-aku punya nama. Mengaku ini itu. Tapi, semua hanya pengakuan karena mereka sebetulnya tidak ada dan tidak tahu kalau tidak ada". (Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, Hal: 173)

Selasa, 01 Februari 2022

Review Buku "Filosofi Teras"

Buku ini bukan buku terbaik yang aku punya. Tapi buku ini termasuk salah satu buku yang punya andil baik untuk membantuku menjadi lebih baik. Meski butuh 2 bulan lamanya untuk menyelesaikan buku ini, tapi aku bersyukur bisa menyelesaikannya diantara badai-badai kehidupan yang datang.  Sehingga banyak kehilangan, membuat jiwaku lumayan tegar. Ya, lumayan tegar. Karena setegar apapun, rasanya angin kesedihan itu akan tetap ada. Ah tapi tenang saja, aku sudah lebih bisa menikmatinya.

Buku ini ditulis oleh Henry Manampiring. Berisi tentang filsafat yunani-romawi kuno dengan pendekatan filosofi STOA yang membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh.

Buku ini mengenalkanku dengan seorang kaisar baik bernama Marcus Aurelius, pilot pesawat tempur Angkatan Laut Amerika bernama Jamea Stockdale yang lama jadi tawanan perang, seorang Henry Manampiring, dan banyak narasumber yang takjub pemikirannya. Sebuah buku yang menjelma sebagai way of life.

Filosofi STOA atau yang familiar disebut dengan Filosofi Teras menerangkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati datang dari apapun yang bisa kita kendalikan. Wujudnya bisa berupa pikiran, persepsi, dan segala pertimbangan yang kita punya. 

Buku ini mengingatkan kita akan pentingnya punya kendali atas diri kita sendiri. Seperti Epiktetos yang selalu berlatih memilah "apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak bergantung padaku", seperti itulah seharusnya kita kepada diri kita. Supaya hilang penyakit jiwa. Supaya tenang jiwa kita dalam menjalani kehidupan yang ada di depan mata.

Rasanya dunia ini tidak akan terasa adil, jika memang tidak kita sendiri yang mengkondisikannya jadi adil. Keistimewaan inilah yang dimiliki oleh Stoisisme, bahwa kita diajarkan untuk tidak hanya menerima, tapi juga menikmati setiap perjalanan kehidupan. Inilah yang bisa menjadikan kita bertahan waras.

Akhirnya, aku bahagia hidup sebagai prokopton. Menapaki jalan sebagai seorang yang berusaha menjadi lebih baik lagi.

Dan inilah review-ku tentang buku ini. Kamu udah baca buku ini? Yuk share hasil review-mu.

Sabtu, 17 April 2021

Ancak

Cepat sekali. Dikejar apa entah. Waktu lari-lari. Melompat kesana-kemari. Tanpa pernah memberi arti. Oh atau hanya aku saja yang belum mengerti? Ah, dunia ini. Tak bisa aku meraba jalan-jalan yang akan dilaluinya.

Di balik jendela, aku hanya melihat sepasang mataku yang sayu. Melukis aku akan banyak hal pada langit yang biru. Luka kuurai. Senyum kusemai. Meski layu, bunga hati kupaksa mekar. Perasaaan-perasaan penuh ingin, terus datang mengetuk. Sepanjang waktu, aku mencoba membuka pintu untuknya. Semuanya, tanpa terkecuali. Aku ingin jadi tuan rumah yang baik.

Egoku kududukkan manis di beranda rumahku. Lumayan, hujan seharian menyuguhkan pelangi yang berlatar belakang senja yang tidak begitu jingga. Bincang yang sepertinya basi kusuguhkan untuknya. Tentu saja lengkap dengan tanda tanya-tanda tanya yang semakin lama semakin mahal jawabnya. Sudah lama ia merasa sendiri. Tenangnya pergi entah kemana. Hanya ada air mata yang ia tinggalkan sebagai jaminan.

"Pelan-pelan saja, bisa tidak? Satu per satu. Nafas dulu yang panjang. Jangan buru-buru hilang"

Dia mulai menggerutu. Dan aku mulai tertawa. Lalu angin-angin malam mulai menemaninya duduk memangku senja.

"Tidak usah jadi yang istimewa. Sederhana juga bisa jadi mulia" katanya.

Saben hari aku menatap harap. Membayangkan tiap detik yang berjalan menjadi saksi betapa baiknya aku menjalani hari-hari. Saben hari aku melambungkan dan membisikkan banyak doa, berharap bisa dengan baik menjaga diri. Saben hari aku berjalan dengan teka-teki yang kadang ingin kutertawakan setelahnya. Setelah sampai di ujung yang tetap menjadikanku baik-baik saja. Meskipun diiringi banyak bualan. Meskipun didekap erat ketakutan. Meskipun aku, sempat tak baik-baik saja.

"Hari ini adalah hari ini. Besok belum tentu ada hari seperti ini. Jadi, mari jalani. Apapun yang terjadi, jalani. Kalau senang, berbahagialah. Kalau sedih, berbahagialah. Sebab setidaknya, kita semua masih terbukti ada"

Begitulah mantra yang sering mengunci tekadku setiap sepasang mataku membalas senyum matahari pagi. Meski kadang hilang fungsi, setidaknya niat dari hati sudah pernah ada dalam diri. Toh hidup ini hanya perkara beruntung dan tidak beruntung. Juga perkara cara menyelami sudut pandang. Karena tiada beda bagi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mereka adalah perjalanan dan kita semua adalah pejalan yang melintasinya.

Dan begitulah waktu memberikan perjalanan kepada kita. Dan begitulah waktu mengantarkan kita kepada realita. Dan begitulah waktu mengetuk ruang terdalam dari jiwa kita yang kadang hilang bentuk, bahkan untuk sekedar menjadi rumah untuk diri sendiri.

Semua hal akan berakhir menjadi biasa. Semua hari dan apapun yang terjadi akan baik-baik saja. Ya, tentu saja terjemahkan sendiri arti "baik" untukmu. Jadi jangan lupa bersulang dengan kesempatan-kesempatan yang masih ada. Sesekali menarilah bersamanya. Sekian kali kuingatkan lagi, jangan lupa jadi bahagia meski hanya karena hal-hal sederhana.

Sedih itu biasa. Yang luar biasa itu sedih tapi dinikmati jadi bahagia. Sebab setiap hal berjalan. Sebab setiap kita adalah pejalan. Sebab setiap kita dalam perjalanan. Sebab setiap perjalanan adalah kesempatan. Dan setiap kesempatan adalah penmbelajaran.

Ya hanya begitu. Hanya itu. Jalani saja sampai waktu menemukan ujungnya dan kita selesai.

Jumat, 12 Februari 2021

Review Buku : "Segala-galanya Ambyar"

Akhirnya, selesai juga membaca buku kedua karya Mark Manson. "Segala-galanya Ambyar (Everything is Fuck)", begitulah judulnya. Lagi-lagi Mark Manson mengingatkan kepada pembacanya bahwa penderitaan dan kesedihan datang untuk dihadapi, bukan untuk ditinggal lari. Buku ini berisi tentang bagaimana menyikapi sebuah harapan dan sekaligus menjadi peringatan agar kita tidak tenggelam dalam pengaruh narsisisme manusia.

Seperti di judul buku sebelumnya, Mark Manson banyak menyuguhkan contoh real atas pemikiran-pemikiran yang dimiliknya. Wiotld Pilecki, seorang perwira perang Polandia yang akhirnya dijatuhi hukuman mati karena keahliannya jadi mata-mata terendus lawan menjadi cerita pembuka di buku ini. Dia berani, memiliki harapan tinggi, dan sekaligus harus mati karena membela negaranya sendiri. Dia tidak pernah menyesali perbuatannya dan malah menutup pidatonya dengan kalimat heroik "Aku telah mencoba untuk menjalani hidupku sebaik mungkin, maka menjelang ajalku kini yang kurasakan justru kegembiraan, bukan ketakutan". Waw, dahsyat. Begitulah harapan bekerja. Dia bermakna, setidaknya untuk terus menjalani kehidupan. Setidaknya ada 3 hal yang dibutuhkan untuk membangun dan merawat sebuah harapan, yaitu kesadaran akan kendali, kepercayaan akan nilai, dan sebuah komunitas.

Cerita kedua datang dari seorang Elliot. Seorang eksekutif di sebuah perusahaan besar yang jenaka dan disayangi istri, anak-anak, teman-teman, dan semua orang yang ada disekitarnya. Tapi belakangan dia didiagnosa terkena tumor otak. Dokter bedah telah mengambil tumornya, dia sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa, tapi situasi malah bertambah buruk. Kinerjanya turun, dia dipecat, diceraikan istrinya, dan ditinggalkan anak-anaknya. Ya, semua kekacauan ini berangkat dari operasi pegangkatan tumor yang dijalaninya. Kendali diri seorang Elliot hilang. Dia tidak lagi bisa berempati dan merasa. Frontal lobotomy yang dijalaninya telah mengubah orang yang sakit jiwa menjadi idiot. Karena itulah maka Tom Waits lebih memilih menyukai hobby minum daripada tidak memiliki gairah sama sekali,. Dia merasa lebih baik menemukan harapan di tempat sederhana daripada tidak sama sekali. Karena menurutnya tanpa gejolak hati yang liar, kita menjadi hampa.

Disinilah pentingnya menyelaraskan antara otak pemikir dan otak perasa. Kamu sudah tahu tentang ini? Bahwa diri kita adalah ibarat mobil badut. Otak perasa adalah sopir kita dan otak pemikir adalah navigatornya. Otak perasa menghasilkan emosi-emosi yang membuat kita tergerak untuk bertindak dan otak pemikirlah yang menyarankan tindakan itu harus dilakukan. Ya benar, hanya menyarankan. Sebab tidak selamanya otak pemikir bisa mengendalikan otak perasa. Lalu bagaimana caranya? Penulis ini bilang kita bisa memulainya melalui empati dan perasaan-perasaan. Dan jangan pernah berkelahi dengan otak perasa atau dia akan menjadi semakin kusut dan menjadi-jadi. Dan tentu saja kita tidak akan menang melawannya.

Oh ya, memang hidup ini sulit dan tidak bisa ditebak. Begitupun dengan pejalan dan perjalanannya yang semakin memuakkan. Sadar atau tidak, kita telah ditakdirkan untuk selalu bertikai hanya karena perbedaan-perbedaan kecil. Lalu kita (sering) tidak membenahi masalah sendiri dan malah menyalahkan orang lain. Kita selalu butuh menganggap bahwa diri kita ini penting. Ya, kenapa tidak? Beginilah awal mula moralitas tuan dan moralitas budak merebak.

"Amorfati" (mencintai nasib) adalah formula milik Nietzsche untuk bisa menjadi manusia yang besar. Dia menerima dan mencintai apapun yang ada di hidupnya dengan tanpa syarat. Katanya "Aku mencintai mereka yang tidak tahu cara untuk hidup. Karena merekalah orang-orang yang sukses menyeberang."

Manusia tumbuh dengan urutan kesadaran. Urutan kesadaran pertama adalah fase anak. Fase dimana eksplorasi sedang gencar-gencarnya dilakukan. Tidak peduli dengan pandangan orang lain, inginnya hanya senang dan senang. Lalu lanjut ke fase remaja. Fase yang menjunjung tinggi nilai transaksional. Fase dimana kita mengerti bahwa rasa sakit merupakan pertukaran yang harus diterima demi meraih sebuah tujuan. Lalu berlanjut ke tingkatan terakhir dan paling penting, yaitu fase dewasa. Sebuah fase dimana kita hanya perlu melakukan apa yang benar dengan sebaik-baiknya untuk sebuah alasan sederhana tanpa mencari imbalan dan tanpa mempedulikan apapun konsekuensinya. Beginilah seharusnya pandangan tentang kemanusiaan berjalan. Bukan sebagai sarana, tapi sebagai tujuan yang berdiri sendiri. Disinilah sarana belajar kita untuk menjadi lebih bijaksana membawa diri kita menuju kedewasaan yang sesungguhnya.

Penderitaan akan selalu ada. Penderitaan adalah pengalaman. Dan menjadi kebal karenanya adalah sebuah pilihan. Karena hidup dengan baik bukan berarti menolak penderitaan, tapi menderita untuk alasan-alasan yang benar supaya kita bisa belajar menderita secara tepat.

"Anda diminta untuk terus berlatih sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu. Cintailah kebosanan itu."

Kualitas kehidupan tergantung dengan kualitas karakter. Dan kualitas karakter tergantung dengan hubungan tuan bersama deritanya. Itulah kenapa kita tidak boleh lari penderitaan dan malah harus bersentuhan dengannya lalu menemukan makna dan nilai didalamnya.

"Penderitaan itu mungkin menjadi semakin mendingan, barangkali berubah bentuk, barangkali semakin bisa dihadapi hari demi hari. Namun, dia selalu ada. Penderitaan adalah bagian dari kita. Penderitaan adalah kita."

Paradoks kemajuan telah memperlihatkan kepada kita semua bahwa semakin baik kondisi yang kita dapatkan, semakin cemas dan putus asa diri kita. Orang-orang banyak mengenal ini sebagai Efek Titik Biru. Sejatinya setiap kita bersifat emosional, hanya saja banyak diantara kita yang lihai menyembunyikannya. Jangan pernah menertawakan ini, atau ini akan semakin memperjelas bahwa anda termasuk salah satunya. Ah dunia ini, selalu saja digerakkan oleh "perasaan". Dan perasaan senang, tidak akan mengenal kata cukup. Padahal bentuk merdeka yang sejati adalah pembatasan diri. Tapi ya apapun itu, "Tidak perlu mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Cukup hiduplah dengan baik. Jadilah lebih murah hati, lebih tabah, lebih rendah hati, lebih disiplin. Jadilah manusia. Tapi tidak. Jadilah manusia yang lebih baik. Dan barangkali, jika kita mujur, suatu saat kita akan menjadi lebih baik dari sekedar manusia."

Akhirnya sampai juga di paragraf akhir ini. Sampai jumpa di review selanjutnya. Selamat menikmati bacaan berat ini. Aku membutuhkan (mungkin) 6 bulan menyelesaikan 346 halaman buku ini. Agak malas atau memang aku yang lelet memahaminya. Tapi apapun itu, semoga bermanfaat untuk kalian semua.

Salam sayang.

Selasa, 19 Mei 2020

Review Buku : "Bicara Itu Ada Seninya"

Komunikasi adalah salah satu hal dasar yang sangat penting dalam menjalin dan menjaga hubungan dengan orang lain. Memperbaiki dan mengasah kemampuan berkomuikasi adalah sebuah langkah awal yang baik untuk membuka peluang yang besar untuk kita semua baik dalam hal berhubungan dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Oh Su Hyang, seorang Dosen dan pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan dalam bukunya yang berjudul "Bicara Itu Ada Seninya" mengulas banyak hal tentang teknik berbicara yang baik. Beliau memberikan beberapa rahasia tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan menghadirkan banyak pengalaman-pengalaman yang sudah beliau jalani dan beberapa cerita menarik yang tentunya menginspirasi kita semua ketika selesai membaca buku ini.

Dalam buku ini beliau menjelaskan tentang bagaimana membentuk kesan awal yang baik ketika kita bertemu lawan bicara untuk pertama kalinya. "Ucapan menentukan kesan pertama" begitulah ucapnya. Ya, kita memang tidak seharusnya terus membicarakan diri sendiri dan tidak memikirkan lawan bicara. Kita seharusnya hanya perlu berbicara secukupnya dan lebih banyak mendengar penuturan lawan bicara.

Beliau juga menjelaskan bagaimana cara membangun kepercayaan diri, melatih logika bicara, berbicara dengan cara bercerita (story telling), mengatasi trauma dalam berbicara, memperhatikan olah suara dan gerak tubuh, cara bernegosiasi, trik berdebat, mempersiapkan presentasi, membangun obrolan yang menguntungkan, menghadirkan irama dalam berbicara, juga cara berbicara untuk mewujudkan impian.

Ada satu kutipan yang menjadi favoritku:
"Bila ingin sukses, berbicaralah seperti orang sukses. Berbicaralah seperti orang yang Anda impikan. Berbicaralah dengan antusias dan bertingkah seolah Anda telah sukses. Mulai sekarang, berbicara sambil membayangkan bahwa Anda akan segera sukses, maka tak lama lagi impian Anda akan terwujud."
(Bicara Itu Ada Seninya, Hal : 46)

Kemudian beliau juga menjelaskan rumus terapi komunikasi yang bisa kita terapkan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.



 C = Q x P x R 
Communication = Question x Praise x Reaction 
Komunikasi = Pertanyaan x Pujian x Reaksi


Beliau menjelaskan bahwa dalam dialog, ada "aturan 1-2-3". Sekali berbicara, 2 kali mendengar, 3 kali memberi umpan balik.


Kemudian membahas juga tentang humor dalam berbicara. Bahwa humor adalah tentang timing. Bahwa kita bisa melatih rasa humor kita sendiri dengan menonton banyak drama atau pertunjukan komedi.


Beliau juga menjelaskan bagaimana trik untuk mengakhiri presentasi yang bisa menggerakkan hati audiens. Selain menggunakan ucapan persuasif, simpati, dan kalimat pembuka yang orisinil, beliau memberikan rumus mengenai pokok bujukan, yaitu:



 P = P x S x T 

Persuasion = Punch x Sympathize x Touch
Bujukan = Pukulan x Simpati x Sentuhan


Hal mendasar lain yang harus kita tahu, bahwa tidak bisa bicara dengan baik adalah masalah besar. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengubah keadaan, karena bisa bicara dengan baik bukan bawaan dari lahir. Kita bisa memulainya dengan latihan berbicara dengan memotong suku kata, kemudian latihan olah suara, dan kemudian kita bisa menjadikan suara kita menjadi suara bariton yang menggema, indah,

Sering-seringlah berbicara, sebab aktif berbicara justru lebih baik. Karena hidup akan berubah dengan mengubah cara bicara. Tidak perlu takut menjadi bahan tertawaan. Tampillah secara sempurna sebagai diri kita yang apa adanya. Karena kita istimewa dengan apa yang kita punya dan kita tata. 


Selamat membaca. Selamat berlatih menjadi pembicara yang hebat.


Salam Literasi.


Senin, 27 April 2020

Romantika Orang Dewasa (3)

"Manusia banget sih kamu, sedih melulu" kataku kepadanya.

Dia perempuan, seumuran denganku, agak nyablak tapi baik, masih jomlo, dan sedang sama meratapnya denganku. Sebenarnya sudah lama aku dan dia tidak bertemu. Mungkin selepas wisuda sekitar 2 setengah tahun yang lalu. Tapi meski begitu, kita tetap saling mengganggu via chat WA.

"Sesungguhnya aku tidak terlalu bahagia seperti postinganku. Tapi ya syudahlaa, ahh aku jadi pengen ketawa haha" sahutnya.

Aku tertawa membaca chat terakhirnya. Membacanya menjadikanku berfikir bahwa memang selain banyak yang harus digapapain, hidup juga banyak yang harus diketawain. Bukan, bukan karena lucu. Tapi karena memang udah nggak habis pikir aja sama apa yang sudah-sudah. "Kok bisa? Lhah bagimane ceritanye? Lhah nggak jelas. Lhah yaudahlahhya terserah." gerutuku setiap merasakannya.

"Lhah sama, aku juga tidak sebijaksana postinganku. Serius, aku pengen jadi cah cilik lagi. Sakit akutuu jadi dewasa haha" kataku mencoba menyamai perasaannya.

"Aku pengen mainan masak-masakan aja nih. Jadi dewasa ribetnya nggak ketulungan. Ngorbanin perasaan nggak ada abisnya hihhhh" katanya kesal.

Aku tertawa (lagi). Kali ini lebih kepada merasa tidak tahu diri. Dulu masih kecil, aku meratap minta jadi kaya orang-orang tua yang kelihatannya dewasa itu. Tapi setelah sampai ditahap yang pernah ku mau itu, aku ketakutan dan mulai merengek minta kembali saja ke masa lalu. Waktu masih imut, masih lucu, masih lugu tanpa risau memikirkan ini itu. 

Kata orang-orang dewasa adalah pilihan. Kata orang-orang dewasa adalah tuntutan. Kata orang-orang dewasa adalah keharusan. Tidak ada jawaban yang mutlak. Setiap orang punya versi terbaiknya masing-masing.

Dulu aku membayangkan bahwa dewasa adalah sebuah pilihan. Aku bisa memilih menjadi apapun, pergi kemanapun, berhubungan dengan siapapun, dan dengan cara bagaimanapun. Aku bebas, merdeka sebagai seorang hamba. Tapi ternyata aku tidak sampai kepada bayanganku itu. Sepanjang perjalanan hidup yang aku lalui, dewasa bukan lagi sebagai pilihan. Dewasa adalah sebuah keharusan, juga tuntutan. Ya tentu saja ini membosankan. Banyak yang menjadikan diri sendiri menjadi terpaksa tanpa ada sebuah opsi pilihan. Padahal sebenarnya, sama saja. Karena sesungguhnya orang-orang dewasa itu hanyalah anak-anak kecil yang terpaksa menua. Yang usianya mau tidak mau bertambah dan kemudian memaksa orang-orang itu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada.

"Aku juga, sama. Tapi kita masih bisa main masak-masakan kok, tapi ya kudu jaga perasaan. Wkwkwk"

"Bercandamu.......... tidak lucu hah" katanya kesal.

"Jadi, beginilah rasanya setelah menjadi dewasa." kataku melanjutkan.

"Apa?"

"Oh tidak, maksudku menua."

"Ahh ya, itu...... lebih tepat"

Menua? Ya, ini memang istilah yang lebih tepat daripada menamakan diri dewasa tapi ternyata tidak dengan kenyataan yang ada. Kalau kita sedang ingin sesuatu dan tidak berkesempatan mendapatkan kemudian ingin menangis, menangis saja. Kalau kita sedang lelah kemudian mencari ibu, ayah atau siapa saja yang kita mau, datang saja. Ceritakan apa yang sedang kita rasakan juga yang kita inginkan. Yang membuat kita jatuh, yang bahkan ingin membuat kita menjadi gila. Lakukan saja apa yang kita mau. Bebaskan diri, jangan terlalu melawan masa bodoh.

Tapi satu yang harus selalu kita ingat. Datanglah kepada orang yang tepat. Yang bisa mengerti, yang tidak enggan menjadikan dirinya pendengar setia, yang bisa menemani, yang bisa membalut luka hati dan kemudian akan lebih bisa menjadikan kita bahagia setelahnya.
Atau kalau tidak, kita akan tahu siapa yang lebih tidak dewasa daripada apa yang telah kita lakukan dihadapannya. Haha

Karena sesungguhnya, dewasa itu hanyalah perkara tahu diri. Mengerti mana yang harus jadi prioritas. Mengerti bagaimana cara menyesuaikan dan membawa diri. Mengerti tanggung jawab terhadap resiko hidup. Mengerti bagaimana cara menghadapi apa saja yang datang dikehidupan ini.

Dewasa itu bukan soal umur. Pun bukan soal menilai. Dewasa itu bukan hanya pilihan. Dewasa itu keharusan dan tuntutan. Dewasa itu soal berfikir juga penerimaan terhadap diri sendiri atau bahkan kepada apa saja yang sedang dihadapi. Dewasa itu menghargai. Dewasa  itu menjaga. Dewasa itu, apa yang sedang kita lalui.

Jadi mari bergandengan tangan. Mari menua bersama dan menuju puncak dewasa itu. Semoga berhasil. Allah Yuftah Alaikum.

---------------------------

Salam Literasi

#Day (5)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Minggu, 26 April 2020

Tips Berteman Ala-Alaku

"Apa itu teman?"
Teman itu aku dan kamu. Ya, kita itu teman. Orang-orang yang kita kenal, yang ada di sekitar kita itu teman.
Yang kenalan jabat tangan atau sekedar say hello via sosial media itu teman. Yang sudah lama atau yang baru saja kita kenal itu teman.
Yang datang membagi bahagianya itu teman. Yang datang menangis dan sering menyusahkan kita itu juga teman.
Yang jadi sahabat kita itu teman. Yang jadi pasangan kita juga teman. Bapak, ibu, saudara? Mereka juga teman. Bahkan yang sudah terlanjur menjadi musuh kita juga teman.
Yang suka ndengerin celotehan itu teman. Yang bikin jadi terpaksa jadi pendengar juga teman. Yang suka berbagi pengalaman, yang suka ngasih wejangan, yang suka bikin seneng atau malah kesel itu juga teman.

Aku ini temanmu, kamu itu temanku. Kita itu teman. Aku mengenalmu, kamu mengenalku. Kita saling kenal, meski hanya sekedar tahu nama.

"Lalu menurutmu bagaimana cara berteman yang baik?"

Jadi hubungan pertemanan yang baik menurutku itu adalah hubungan yang bisa buat kita sebagai pribadi yang kurang baik bisa jadi baik dan kita sebagai pribadi yang udah baik jadi lebih baik lagi. Ya baik cara berpikirnya, baik imannya, baik hatinya, apalagi keuangannya. Hehe bercanda. Tapi serius.

Tapi ya namanya juga manusia, sedikit tapi pasti banyak salahnya. Ya lemes tutuknya, ya kusut isi otaknya, ya kaku hatinya, ya tipis isi dompetnya, ya apalagi yang mesti ku sebut. Aku pikir, masing-masing dari kita sudah lebih paham mengenai ini.

Ya, beginilah medan perjuangan kehidupan. Lewat hal-hal menyebalkan yang bahkan nggak pernah kita bayangkan, kadang malah bikin jalan kita kembali lurus, sudut pandang kita jadi lebih banyak, hati kita jadi nggak berteman dengan kaku, dan senyum? Tentu saja jadi indah merekah.

Dan dari sekian banyak yang ada di hati, sebagai teman yang baik, kalian mungin akan tetap menjadi salah sekian minoritas yang sering dicari. Teman adalah salah sekian hal yang ketika tidak ada dihadapan, kita jadikan sebagai pencarian. Kemudian ketika ada dihadapan, kita jadikan sebagai sasaran. Benar kan?

Jadi begini, sehalu apapun kita, kita tetap butuh seseorang sebagai teman. Ya, aku tetap butuh kamu, mereka, juga kalian sebagai teman. Entah akan menjadi sebagai yang aku cari atau malah yang lebih dari itu. Ya memang begitulah kenyataannya. Berteman memang harus begitu teman. Jangan bosen berteman ya. Nanti jadi sepi dan sendirian karena nggak punya teman. Haha.

Bersamaan dengan kata maaf, sebagai teman yang baik, aku ingin mengingatkan satu hal kepada teman-temanku yang budiman. Jadi teman, berjanjilah untuk lebih banyak memanjatkan syukur kepada-Nya. Jangan lupa minta yang lebih baik, lebih banyak, lebih segalanya, dan lebih menjadikanmu dekat dengan-Nya. Mintanya sambil nangis, sambil yakin, biar Allah cepet ngabulin.

Ahh terlalu berbelit, padahal sebagai teman aku cuma pengen ngomong:

"Kalau sebagai temanmu, aku belum bisa bikin kalian jadi lebih baik, berarti kalian yang kudu bikin aku lebih baik. Kalo ternyata susah, ya usaha. Masak gitu doang nyerah? Katanya sayang?"

Jangan bilang makasih ke aku. Aku cuma berusaha menjadi baik. Tapi kalau ternyata aku beneran jadi baik, itu keberuntunganmu. Aku tidak memberikan apapun kepadamu. Tidak sebelum ini, tidak sekarang, dan tidak juga setelah ini. Semua akan tetap berjalan apa adanya. Sebisaku semampuku, begitupun denganmu.

Ambillah keuntungan yang banyak dari ini semua, maksudku dari pertemanan yang sedang kita bangun dan rawat ini. Ambil sesukamu, bebas dan sebanyak yang kalian mau. Aku akan dengan senang hati menyerahkannya kepadamu (kalau aku mampu dan aku juga mendapat keuntungan dari itu).

Tapi sekali lagi, tidak usah bilang makasih/suwun/thank you dan semacamnya. Karena aku yang akan lebih dulu mengatakan itu kepada kalian.

"Terimakasih telah sudi bergabung dalam usahaku menjadi baik teman-teman."

Demi-kian dan aku sayang kalian sebagai teman.

Selamat siang.

------------------------------

Salam Literasi

#Day (4)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah






Selasa, 10 Maret 2020

Romantika Orang Dewasa (1)

Apa kabar masa kecilmu? Adakah yang kau ingat darinya? Sebuah masa dimana kita begitu bebas, lepas, tak terbeban, dan menangis dengan lebih beralasan. Tidak ada ketakutan, tidak ada kekhawatiran yang benar-benar berarti. Kita nyaman sekali menikmati sebuah pelukan.

Semalam seorang teman menghubungiku via whatsapp. Teman lama, tapi masih sering bareng, ya alhamdulillah. Disampaikanlah kepadaku sekian banyak sambatan-sambatan wajar yang aku pikir setiap manusia berkemungkinan merasakannya. Tentang usia, cita-cita, dan apa saja yang berhubungan dengan proses mendewasa.
Rasanya berat sekali membahas ini. Aku pikir aku tidak menyukai bab ini. Sebenarnya sejauh ini aku hanya menikmati babak ini sebagai sesuatu yang terpaksa aku lakoni. Selebihnya aku lebih suka menjalani hidup sebagai anak kecil yang manja. Ya tentu saja.

Dulu kecil aku tak tak pernah benar-benar merasakan luka. Jatuhku menjadi sesuatu yang biasa. Aku tidak pernah malu menangis juga merengek begitu hebat karena kesakitan, padahal hanya buset sedikit di kedua lutut, atau goresan kecil di tangan, atau luka jahit sebanyak 5 buah di kepala karena tertimpa pembatas bambu yang besar berikut penumpangnya. Aku ingat benar bagaimana kejadiannya. Aku juga bisa menceritakannya. Tapi rasanya biasa saja. Aku sudah tidak lagi mempedulikannya.

Sekarang sudah tidak bisa lagi begitu. Dulu kecil aku bermain api, tersulut lelehan plastik, melepuh, dan terluka, aku tetap mengenang bekas luka itu sebagai kebahagiaan. Tapi setelah beranjak dewasa, apa-apa yang terjadi malah menjadikanku merasakan beragam luka. Yang nyata berbekas, yang tidak terlihat mata, yang orang-orang pedulikan, yang orang-orang acuhkan, yang sudah terjadi atau yang bahkan belum terjadi. Semuanya terasa menakutkan. Semuanya terasa menyakitkan. Kamu merasakan juga tidak?

Sama sepertiku, temanku juga merasakan hal serupa. Orang-orang seumuranku mungkin juga memikirkan hal yang sama. Kita sadar berbeda, tapi seketika ketakutan menyadarinya. Kita yakin akan bahagia, tapi tidak pernah mau menikmati proses harunya. Kita merasakan banyak luka, tapi malah abai mengobatinya. Kita sempat membayangkan bahagia menjadi dewasa, tapi tidak dengan kenyataannya. Selalu ada hal yang menjadikan kita tidak tahu, sekalipun percaya diri telah membumbung sebegitu jauh.

"Udah aku bilang, aku tidak seperti yang lainnya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa." katanya dipesan whatsapp yang baru saja dikirimkan kepadaku. Aku tersenyum, menebak ada apa dibalik pesan itu.

"Ya, teruskan" kataku mencoba mendengarkan.

"Bukan aku tidak bersyukur. Tapi...... aku ingin dimengerti setelah aku menjelaskan ini" katanya melanjutkan.

"Masih ada lagi?"

"Sebenarnya aku malas menjelaskan ini. Tapi kalau nggak dijelasin, nggak bakal ada yang tahu juga apa yang tak rasain" katanya menyudahi.

Siapa yang tahu akan seperti apa kita di detik-detik yang terus berjalan ini? Aku selalu menanyakan hal serupa setiap mencoba mengerti seseorang yang sudi menjadikanku pendengar atas kisah-kisah yang telah dialaminya. Aku tidak butuh jawaban atas itu, aku hanya perlu tahu bahwa setiap orang berhak merasa dan melakukan apapun yang dia suka. Aku tidak selalu menerima semuanya, aku hanya sedang mencoba menjadi pribadi yang lebih dewasa meski sebenarnya aku sama sekali tidak ingin melakukannya.

"Ternyata serepot ini ya jadi dewasa? Dulu mau bahagia gampang banget. Sekarang semuanya jadi susah dan mahal (ya tentu saja)." kataku membalas.

"Kenapa baru kerasa sekarang si?" katanya kesal.

"Dipikir-pikir kita dulu sombong banget ya tee jadi anak kecil?"

"Gaya banget pengen cepet gedhe, ngerasa bisa jadi apapun, padahal realitanya nggak semanis itu buk."

"Dulu kecil aku sering berkhayal jadi orang dewasa. Enak kali ya? Cantik, punya duit sendiri, bisa pergi kesana kemari, bisa beli ini itu, jadi sarjana, kencan bersama kekasih hati, dan apalagi? Aku sedih mengingat mimpiku ini. Aku tidak menyadari bahwa semakin banyak yang kita inginkan akan semakin besar tanggung jawab yang harus kita emban." kataku panjang.

"Sedih banget aku ingat khayalanmu"

"Ngenes banget aku tahu sambatanmu"

"Pelukan jauh aja yukk yukk"

Mungkin waktu itu kami sedang sama-sama merebah, terpejam, dan tentu saja meratapi semua-muanya di tempat yang berbeda. Ditemani hujan gerimis yang tak kunjung berhenti, kami saling memeluk diri sendiri.

"Misuh dong misuh. Wkwkwk" kataku menggoda.

"Yukkkkk" ajaknya.

"Astagfirullahaladzim" seru kami bersamaan"

Dan kami tertawa bersama. Menertawakan apa entah. Tapi kami sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Kami memang pintar sekali mengada-ada.

"Kamu ingat tee?"

"Apa bong?"

"Dulu pas masih krucil-krucil, kita manjat pohon jambu punya tetangga aja udah seneng banget. Kamu di ranting sebelah sana, aku di ranting sebelah sini, si siapa aja si yang ada di tengah-tengah? Siapa juga yang tinggal nangkepin hasil petikan di bawah? Seasyik itu ternyata kita dulu."

"Belajar kelompok. Mainan kursi puter. Ke sawah. Sepedahan keliling kampung buat nyari daun menjari, menyirip, mengapalah itu. Sesederhana itu kita dulu. Ayo dong kita ulang. Aku kangen tauk."

"Tida sopan kamu ya"

"Apa si?"

"Make sepeda nggak bilang-bilang. Untung dulu aku masih kecil, nangis bombai begitu juga nggak kerasa malu"

"Wwkwkwk maafkan aku. Aku khilaf dan terburu-buru waktu itu"

"Dengan senang hati tuan putri"

Sudah hampir tengah malam, dan kami menutupnya dengan sambatan seseru itu. Sekalian menemaninya begadang, padahal sebenarnya kepalaku sudah nyut-nyutan karena ngantuk tak tertahankan.

"Jadi dewasa ternyata nggak semenarik itu ya tee?"

"Nyesel pernah pengen cepet-cepet nyampe di titik ini"

"Betewe tee, ayo kita jadikan jurnal saja"

"Apa?"

"Buat warning buat anak cucu kita nanti"

"Good idea. Cuss"

"Jadi dewasa itu menyebalkan. Dulu pas kecil aku rajin nyusun cita-cita, sekarang kenyataannya beda. Aku dipaksa rela menerima, padahal jelas-jelas aku ingin lari dari semua itu"

"Aku? Aku ingin jadi anak kecil lagi. Enak, tanpa beban. Kenapa si dulu pas jamannya kita belum ada ponsel? Harusnya sekarang kita bisa mandangin masa lalu kita di foto-foto jadul itu"

"Aku capek memulai terus. Aku ingin ketemu teman-teman lamaku, tapi semakin hari orang-orang baru malah masuk gitu aja ke kehidupanku. Kecuali kamu, dan si A, si R, si siapa lagi sih? Bentar aku itung dulu."

"Haha. Kenyataan pahit. Kita akan ada dimasa yang ketika kita punya banyak waktu luang, kita tidak punya uang. Tapi ketika kita punya uang, kita tidak punya waktu luang."

"Orang-orang dewasa suka banget menilai. Tapi setengah mati menolak ketika dinilai. Ya, kita adalah hakim yang egois di semesta raya."

"Mereka suka salah menilai diri mereka. Maksud hati bijaksana, tapi malah kenanya menghakimi. Menyakitkan sekali."

"Kita harus berhati-hati atas itu."

"Kadang aku khawatir berlebihan. Mempertanyakan akan berujung seperti apa kelak. Tentang karier, keluarga, pasangan, kehidupan sosial, dan apa saja yang tiba-tiba melintas di kepala"

"Kita rentan sekali diperbudak perasaan. Mari kita lawannnnnn"

"Hahaha manusiawi bong"

"Dewasa menjadikanku terbatas dalam berbicara. Termasuk bilang suka ke dia. Ah andai"

"Mon maap, ada yang perlu saya bantu bong?"

"No thanks, aku punya banyak cara untuk tetap mengatakannya meski tidak langsung kepadanya."

"Aku bangga punya teman sepertimu"

"Harus, tapi aku sedang tidak punya cukup uang untuk bisa membelikanmu ice cream glico"

"Haha dasar orang dewasa. Apa-apa mesti kepikirannya ke isi dompet."

"Aku juga semakin malu ketika sadar kemampuan masakku terbatas di bhan masakan telur, mie, tepung, dan sossis. Aku butuh bisa melakukan hal yang lebih dari itu, demi memanjakan diriku di hari libur."

"Dewasa memaksa kita keluar dari zona nyaman. Tapi ya bagaimana lagi, dewasa juga bagian dari siklus hidup."

"Tambah umur, tambah bikin takut mati. Aku suka mikir aja gitu "Kalau tiba-tiba aku pergi, bakal ada yang nangis enggak ya? Nangis yang beneran karena kehilangan, bukan yang dipaksain keluar air mata." "

"Jadi orang dewasa butuh berkali-kali llipat rela. Rela menerima, rela memaafkan, rela menjalankan apa yang menjadi jatah dari-Nya"

"Besok anak-anak kita jangan disuruh cepet-cepet jadi dewasa ya tee. Ingetin kalau aku lupa."

"Iya, biar kita aja yang banyak tagihan, mereka ntar-ntar aja deh ya."

"Janji ya tee?"

"Apa bong?"

"Kita selalu berhak dan sudah semestinya akan menjadi diri kita sendiri, meskipun kelak hidup kita bukan hanya tentang kita lagi."

"Tapi bong........."

"Ya tee...."

"Kita perlu waktu belajar itu sepanjang waktu"

"Nggak papa. Sekarang kita istirahat aja dulu."

Kedua mataku sudah menggelayut. Kepalaku semakin pening. Bukan karena memikirkan bagaimana menjadi dewasa yang berhasil lagi, aku benar-benar butuh tidur. Tapi aku belum menemukan celah bagaimana menghentikan dialog berat ini.

"Kamu udah ngantuk ya bong?"

"Pening banget kepalaku tee"

"Ya udah lanjut besok lagi deh, atau pas kita ketemu. Bahas beginian sambil mamam glico enak kali ya bong?"

Aku tidak kuat lagi. Chat terakhirnya ku balas pagi setelah aku terbangun.

"Baiqqq, insyaallah nyonyah (emot senyum)" kataku.

Menjadi tua memang pasti, menjadi dewasa juga memang pilihan. Tapi meskipun begitu, jangan pernah melepaskan jiwa mudamu wahai orang-orang dewasa. Jangan melupakan hal-hal sederhana di balik tekanan hidup yang semakin menjadi-jadi. Jangan pernah menghentikan jiwa liarmu untuk tetap terus berpetualang. Tetaplah terus bertanya, tentang apa saja. Teruslah mencari tahu jawabannya.

Karena kita tidak tahu ada banyak misteri lagi yang ada di kehidupan setiap orang dewasa. Kita juga tidak tahu lagi akan seperti apa kita akan menjalani dan memilih siapapun sebagai dia yang akan kita ajak berbagi. Tapi semoga setiap orang dewasa bisa benar-benar dewasa membawa dirinya dimanapun, kapanpun, dengan siapapun, dan dalam keadaan apapun.

Bicara tentang dewasa, bicara tentang cara memaknai hidup, juga mengembangkan diri, dan menyiapkan diri supaya siap jatuh bangun menjalani apa saja yang menjadi ketentuan-Nya. Jangan lagi berfikir menyerah, jangan lagi berfikir tidak bisa menyelesaikannya, jangan lagi berhenti, berjalanlah terus sampai kepada apa yang dimaksudkan-Nya untuk kita. Kita bisa, kita pasti bisa jadi dewasa, kita pasti bisa melewati semuanya.


Salam Literasi.

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....