Tampilkan postingan dengan label Self Reminder. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self Reminder. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2024

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone,

I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan. Jujur, aku senang sekali bisa menyaksikan kalian menangis. Karena, ya memang tidak semua orang bisa begitu.

Don't hold back guys. Your friends would rather see you like that than watch you run away. Tidak harus ke semua, tidak harus ke aku. You can choose one. Just one. Haha.

Nikmatilah setiap perasaan yang datang kepadamu. Nikmatilah sampai kalian tidak menyadari kalau kalian sudah berhasil melewati itu.

Aku yakin banyak orang bangga memiliki seseorang seperti kalian di dekat mereka. Aku tidak tahu seberapa persisnya, tapi semoga memang benar ada sesuatu yang baik di diri kita. Semoga itu terjaga. Semoga itu menjaga. We will reap what we have sown, right?

Sorry can't do much for you guys. Aku cukup bingung harus memulai dari mana. Aku mungkin pernah di posisi itu, tapi aku juga tahu rasanya tidak akan pernah benar-benar sama. Kehilangan memang tidak bisa dianggap sebelah mata. Bentuknya sedihnya apalagi. Yang sama cuma satu bahwa ada bagian dari diri sendiri yang tidak mungkin bisa kembali dan kita semua melawan ketakutan itu. Ketakutan yang tidak semua orang bisa melihat itu. Haaaa very unfortunate, isn't it?

Tapi guys, dari semua duka-duka yang rasanya berat sekali untuk tuntas, semoga selalu ada hal-hal manis yang membantumu kembali jadi riang meskipun itu tidak lebih dari lima detik. Aku pikir itu cukup. Tapi aku pikir-pikir lagi, kalian perlu mengulangnya sepuluh kali atau tiga puluh kali dan seratus kali lagi. Hehe. It's not funny, right?

Haaa but i don't care. I just want you to know guys, bahwa tidak ada yang pantas tidur dengan berat hati. Itu tidak melulu tentang perkara senang dan merasa tidak ada masalah. Cukup dengan ingat bahwa masih ada matahari yang masih akan bersinar di hari esok. Itu tidak akan menjamin sesuatu akan menjadi baik-baik saja, meskipun mungkin akan menjadi begitu juga pada akhirnya. So, stay enthusiastic. You are strong, You are great. Fighting guys.


Hug away from your icy friend,

..n..er...ka

Selasa, 09 Januari 2024

Review Buku "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya"

"Lagi pula, "ada kejahatan yang lebih mengerikan daripada membakar buku."....."yaitu tidak membaca"." (Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, Hal: 156).
Begitulah akhirnya aku menyelesaikan buku ini. Agak bingung, lebih ke banyak tidak tahunya. Tapi aku pikir, itu jauh lebih baik daripada aku berhenti begitu saja di titik pertama ketika aku kebingungan tentang isi buku ini.

Buku ini kaya akan pelajaran penting, meski tidak semuanya berhasil aku mengerti. Atau memang lebih banyak yang tidak aku mengerti. Itu mungkin benar-benar seperti membaca "In Search of Lost Time" dalam cerita "Efek Proust". Benar-benar harus berkonsentrasi atau mungkin aku juga butuh mengucilkan diri. Haha, tapi tentu saja aku tidak benar-benar melakukan itu.

Buku ini terdiri dari 181 halaman dengan 20 essay pendek tentang kehidupan yang beragam. Itu adalah tentang obrolan-obrolan sederhana mengenai pohon pisang, jenis-jenis orang tua yang bahagia, sampai kehidupan anak-anak di daerah perang, dan sedikit tentang "In Search of Lost Time" yang membingungkan. Ya, buku ini adalah jelma dari pesan-pesan humanis yang tersirat. Bahwa setiap manusia punya cobaan masing-masing. Bahwa kita tidak seharusnya merasa menjadi manusia yang paling menderita. Bahwa yang seharusnya kita lakukan adalah bersiap kemudian menerima segalanya (puas/kecewa, senang/sedih, ha/hi, dan bla/bla/bla). Bahwa kita setidaknya harus bertahan meskipun tahu sesuatu akhirnya akan berakhir sia-sia. Karena memang hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya.

Selasa, 05 Desember 2023

Tentang "Roman(tika)"

Kiranya aku ini hanya ingin melapangkan nasib. Berusaha tetap senang juga tenang meski waktu rasanya berjalan begitu lambat.

Sebenarnya aku lebih suka "roman" tanpa "tika". Tapi tidak apa-apa. Karena hidup ini adalah serangkaian lika-liku, jadi aku pikir "Roman(tika)" bisa jadi nama yang apik untuk memanggil anak sulung ini.

"Roman(tika)" ini adalah bentuk dari sebuah perayaan, tempat dimana banyak mata begitu sembab, tempat kata maaf diada-ada, dan tempat dimana begitu banyak persimpangan.

Dia adalah penggalan-penggalan dari aku yang (masih berusaha waras). Dia adalah kumpulan dari kusut-kusut yang berhasil kuurai. Dia adalah marah-marah yang berhasil kuredam. Dia adalah tanya-tanya yang datang jawabnya. Dia adalah perayaan yang nananana. Dia adalah aku yang (mungkin) sama denganmu (siapapun kamu) yang begitu sederhana tapi kadang berharap jadi mulia.

Dia adalah aku yang sempat menangis, meringis, dan kebingungan menyelesaikan setiap malam yang baik. Dia adalah aku yang telah berjalan begitu jauh, tapi lupa bahwa ternyata diri sendiri telah lunglai mencintai kehilangan dan sesuatu yang bukan untukku. Dia adalah definisi dari serangkaian kesabaran dan alur yang lambat.

Dia adalah aku yang setiap pagi membuka mata seperti biasa, lalu bingung akan melakukan apa juga bagaimana menyelesaikannya. Tapi anehnya aku nyaman mengulang itu dan kadang sembrono mengklaim bahwa diri ini bahagia melakukannya. Kadang aku bisa bilang bahwa aku baik-baik saja, tapi semoga aku benar-benar telah terkendali. Karena singkatnya ini hanya tentang bagaimana seseorang akhirnya berhasil melapangkan nasib.

Dan sungguh setiap emosi dan pengalaman hidup berhak dirasakan dan berhak diceritakan. Begitulah akhirnya seseorang berhasil menikmati sesuatu. Begitulah akhirnya aku memberanikan diri meracau. Memang tidak begitu banyak, tapi setidaknya ada satu dan itu akan menjadikanku (juga kamu) merasa cukup. Lebih dari cukup.

Merangkai ini dengan maksud berbicara sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa banyak "ya" yang tidak melulu jadi "ya" dan banyak "tidak" yang tidak melulu jadi "tidak".

Barangkali ini adalah pencapaian terbaikku di tahun 2022. Draf-draf lama yang mangkrak di buku-buku catatan yang sudah mulai kusut itu akhirnya lahir menjadi anak cantik bernama "Roman(tika)". Itu hanya sesuatu yang kecil. Itu adalah tentang perjalanan menjadi manusia berwujud aku. Itu bisa jadi berwujud kamu juga. Itu bisa jadi berwujud kita.

Membaca ini mungkin bisa dilakukan sekali jalan. Itu memang tidak banyak, jadi aku pikir itu akan menjadi cepat selesai. Tapi bagaimanapun itu, semoga setelah membaca (satu judul saja), seseorang bisa terketuk hatinya.

Banyak hal yang terjadi tahun ini, juga di tahun-tahun sebelumnya. Aku pikir itu akan berlaku juga di tahun-tahun selanjutnya. Segala senang, segala sedih, segala yang terjadi biarkan terjadi. Bisa jadi itu akan menjadi semakin, tapi yang penting, semoga kita selalu jadi yang bisa melalui itu dengan senang hati.

Jadi, sudilah seseorang berkenalan dengan anak sulungku dan mendekapnya dengan penuh.

Selamat membaca, dan
mari tumbuh dan sembuh bersama.

Senin, 20 November 2023

Review Buku "Terima Kasih Sudah Mengatakannya"

"Penting untuk mendengarkan cerita orang lain. Ketika kita sudah mendengar semua ceritanya, tolong segera katakan 'Terima kasih atas ceritanya'." (Terima Kasih Sudah Mengatakannya, Hal: 235).

Waw, ini bagian di mana aku seketika berfikir betapa berharganya mereka yang sudi membicarakan sesuatu kepadaku. Sebab memang, rasanya menjadi dipercaya lebih punya nilai lebih daripada percaya kepada seseorang. Sebab rasanya, manusia hanya cenderung senang dan selalu mengupayakan diri untuk disukai dan diterima lawan bicaranya.

"Terima Kasih Sudah Mengatakannya" adalah buku terjemahan dari Korea. Bergenre self improvement yang sangat relate dengan kehidupan kita. Cara penulisannya tidak kaku dan banyak dilengkapi dengan kutipan-kutipan dari beberapa film dan buku. Covernya cantik. Ilustrasi di dalamnya juga. Itu cukup menyegarkan pandangan yang sesekali lelah karena memang huruf-huruf didalamnya begitu kecil, meskipun masih bisa terbaca.

Buku ini berisi tentang bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan seseorang, tentang bagaimana kita menggunakan kata-kata, juga tentang bagaimana mengendalikannya. Sebab memang kata-kata punya kekuatan yang berdampak baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Buku ini akan sedikit banyak menyadarkan kita tentang betapa pentingnya melindungi hubungan dengan siapapun, tentang bagaimana menemukan kata-kata yang tidak melukai, tentang bagaimana menyikapi pujian dan kritikan, juga tentang bagaimana hidup dengan penuh keberanian dengan kata-kata kita sendiri.

"Waktu hingga menjadi dewasa adalah proses memiliki "logika komunikasi". (Terima Kasih Sudah Mengatakannya, Hal: 31).

Akhirnya, untuk kalian yang telah selalu mengucapkan kata-kata yang baik kepada siapapun dan khususnya untuk diri sendiri, terima kasih sudah mengatakannya.

Selasa, 17 Oktober 2023

Part of Being an Adult (Bagian dari Menjadi Dewasa)

Siapa yang semakin dekat dengan menjadi dewasa malah semakin tidak berkeinginan untuk menjadi dewasa? Siapa yang merasa aneh melihat orang lain seperti itu dan diri sendiri seperti ini? Siapa yang tiba-tiba kangen masa kecil?

This adult life is so fucking complicated, right? Kita mengucap "hadehh/haiyahhh/ bjirrr/syibal se.....k.i..ya", tapi akhirnya tetap melakukannya. Kita berdebat hebat, tapi berakhir damai juga. Pokoknya kudu pusing dulu, meski ujungnya juga bisa ngerjain. Haha.

Tapi aku senang berada difase dewasa ini. Aku bisa duduk sendirian di sebuah restoran dan membeli matcha dan coklat favoritku tanpa ada yang bisa menghentikanku. Itu juga tentang bersantai ria di rumah, tidur lebih awal, dan merasa itu baik-baik saja. Rasa-rasanya memang tidak ada yang namanya menjadi dewasa. Bukankah kita semua hanya anak-anak yang terjebak di dalam tubuh orang dewasa saja? Atau bukankah itu terlalu susah untuk terus berpura-pura?

Jadi, bolehkah kita berhenti membual tentang hal-hal yang dengan atau tidak semestinya di lakukan? Karena "kedewasaan" tidak melulu ditandai dengan bertambahnya usia, tapi juga tentang pengalaman dan pertumbuhan. Jadi jangan pernah mengharapkan kedewasaan dari siapapun. Hidup ini sudah sulit. Hanya saja semoga semua orang tetap terkendali dalam menjaga energinya sepanjang hari.

Lagi pula dewasa adalah tentang bagaimana diri sendiri bisa mengajak hatinya jatuh cinta lagi dan lagi. Dia tahu bagaimana harus merasa senang dan bahagia. Dia tahu bagaimana menjadi yang terkendali atas semua-muanya. Karena baiknya, semua memang harus seimbang. Supaya akhirnya dia berhasil merasa dicintai sebanyak-banyaknya, juga sepenuh-penuhnya. Ya, mungkin ada lebih banyak hal dalam hidup ini daripada menjadi seorang remaja dan menjadi dewasa bukan berarti kita harus meninggalkan itu. Akhirnya, dari semua hal yang ada, semoga kita bisa semakin paham bagaimana cara kerja semesta.

So, happy growing into adulthood. I hope we don't become annoying adults. May us always be the winner. Hopefully everyone will support us to always be calm.

Good luck 🤘

Selasa, 19 September 2023

Review Buku "The Things You Can See Only When You Slow Down"

"Ketika segala sesuatu disekitar saya bergerak begitu cepat, saya berhenti sejenak dan bertanya “Apakah memang dunia yang terlalu sibuk, atau malah batin saya?”"(TTYCSOWSD, Hal: 9).

Memulai tahun baru dengan membaca buku self improvment yang meaningful, begitu ringan tapi tetap mengajak kita untuk berfikir dan merefleksi diri. Buku ini ditulis oleh Haemin Sunim, seorang guru agama Buddha Zen sekaligus penulis paling berpengaruh di Korea Selatan.

Berisi sekumpulan kalimat singkat berupa kutipan-kutipan bijak tentang semua aspek kehidupan manusia mulai dari relationship, cinta, spiritual, juga pekerjaan. Buku yang mengingatkan kita untuk lebih aware lagi dalam memahami pentingnya bersikap, bertutur kata, dan mengistirahatkan diri. Itu adalah tentang hal-hal yang hanya dapat kita lihat dan rasakan ketika kita melambat dan bagaimana menjadi tenang di dunia yang sibuk. Karena beberapa hal justru dapat kita nikmati saat kita tidak terburu-buru.

“..............bahwa yang mengusik kita bukanlah keadaan dunia, melainkan cara pandang kita. (TTYCSOWSD, Hal: 15)

Ilustrasi gambarnya cantik dan kalimat-kalimatnya begitu relate dengan kehidupan sehari-hari. Buku ini membantu ketika pikiran sedang tidak stabil. Itu cukup untuk membantu menenangkan pikiran kita, tentu saja dengan membacanya perlahan untuk memahami lebih dalam tentang apa-apa yang sebenarnya penulis maksudkan. Buku ini juga akan cukup membantu kita untuk mendapatkan kekuatan dan meraih sebuah kepuasan ketika hidup sedang terasa begitu sulit. Itu seperti sebuah resep untuk menjalani hidup ini dengan cara yang lebih ringan dan bahagia.

Tapi memang semua hal selalu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Jadi tidak melulu itu akan mengubah hidup. Ya, selamat menemukan kutipan-kutipan apik sesuai kondisi yang kita alami. Selamat mengembangkannya dengan caramu sendiri.

Jadi, ini tidak apa-apa menjadi hari kita untuk melambat sedikit bukan?

Selasa, 16 Mei 2023

Review Buku "Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah"

Mungkin kita tidak sempurna, belum dewasa, dan sering melakukan kesalahan, tetapi kita tetap harus bahagia” (Hal: 231).

Aku suka sekali bunga matahari yang tumbuh di cover buku ini. Rasanya sudah seperti disambut dengan hangat, padahal aku belum mulai membuka bukunya, apalagi membaca isinya.

Buku ini sangat-sangat heartwarming. Pertama aku menjadi berterimakasih kepada diriku sendiri yang sudah kuat berjalan sampai sejauh ini. Kedua aku meminta maaf kepada diriku atas ragu-ragu dan putus asa yang sudah-sudah. Ketiga aku memutar lagi memori-memori perihal perjalanan panjang yang sudah-sudah. Ternyata memang banyak sekali lelahnya. Ternyata memang banyak sekali senangnya. Ternyata hidup memang sedinamis itu. Tidak lama senangnya. Tidak lama sedihnya. Sangat-sangat sementara.

“Kau hanya perlu menjadi orang yang bisa melanjutkan sesuatu yang sudah kau mulai sampai kau melihat akhirnya” (Hal: 78)

Begitulah Geulbaewoo mengingatkan kita untuk menjadi baik dan lebih peduli dengan diri sendiri, beristirahat ketika merasa lelah, meluangkan waktu untuk sendiri, dan bersemangat lagi untuk melanjutkan perjalanan yang sempat berhenti. Geulbaewoo merangkul kita lewat pengalaman jatuh bangun yang diceritakannya lewat esai-esai di buku ini. Rasanya sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Apalagi untuk kita yang sempat atau sedang mengalami quarter life crisis, untuk kita yang sedang kehilangan gairah melanjutkan sebuah perjalanan, untuk kita yang sedang cemas, takut, kosong, dan ingin menyerah.

Buku ini terbagi menjadi 3 bagian. Pertama tentang impian dan pencapaian. Kedua tentang bagaimana berhubungan dengan manusia khususnya bab asmara. Dan terakhir tentang bagaimana mencintai diri sendiri. Isinya berupa esai singkat tapi padat makna. Aku suka buku ini karena Goelbaewoo berhasil menerbangkan semangat-semangatnya tanpa pernah menjanjikan sebuah harapan dan keberhasilan.

“Apapun masalahnya, kau akan mampu melewatinya” (Hal: 238)

Akhirnya, selamat melakukan yang terbaik sepanjang hari, jangan lupa istirahat, jangan lupa jalan lagi. Semoga beruntung menemukan hal-hal yang kita sukai teman-teman.

Jumat, 27 Januari 2023

Roman(tika)


Merangkai ini dengan maksud berbicara sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa banyak "ya" yang tidak melulu jadi "ya" dan banyak "tidak" yang tidak melulu jadi "tidak". Itu hanyalah sesuatu yang kecil. Itu adalah tentang perjalanan menjadi manusia berwujud aku. Itu bisa jadi berwujud kamu juga. Itu bisa jadi berwujud kita.

Membaca ini mungkin bisa dilakukan sekali jalan. Itu memang tidak banyak, jadi aku pikir itu akan menjadi cepat selesai. Tapi bagaimanapun itu, semoga setelah membaca (satu judul saja), seseorang bisa terketuk hatinya.

Banyak hal yang terjadi tahun ini, juga di tahun-tahun sebelumnya. Aku pikir itu akan berlaku juga di tahun-tahun selanjutnya. Segala senang, segala sedih, segala yang terjadi biarkan terjadi. Bisa jadi itu akan menjadi semakin, tapi yang penting, semoga kita selalu jadi yang bisa melalui itu dengan senang hati.

Barangkali ini adalah pencapaian terbaikku di tahun 2022. Draf-draf lama yang mangkrak di buku-buku catatan yang sudah mulai kusut itu akhirnya lahir menjadi anak cantik bernama "Roman(tika)".

"Roman(tika)".

Sebenarnya aku lebih suka "roman" tanpa "tika". Tapi tidak apa-apa. Karena hidup ini adalah serangkaian lika-liku, jadi aku pikir "Roman(tika)" bisa jadi nama yang apik untuk memanggil anak sulung ini.

"Roman(tika)" ini adalah bentuk dari sebuah perayaan, tempat dimana banyak mata begitu sembab, tempat kata maaf diada-ada, dan tempat dimana begitu banyak persimpangan.

Dia adalah penggalan-penggalan dari aku yang (masih berusaha waras). Dia adalah aku yang sempat menangis, meringis, dan kebingungan menyelesaikan setiap malam yang baik.

Dia adalah definisi dari serangkaian kesabaran dan alur yang lambat. Dia adalah kumpulan dari kusut-kusut yang berhasil kuurai. Dia adalah marah-marah yang berhasil kuredam. Dia adalah tanya-tanya yang datang jawabnya.

Dia adalah aku yang telah berjalan begitu jauh, tapi lupa bahwa ternyata diri sendiri telah lunglai mencintai kehilangan dan sesuatu yang bukan untukku. Dia adalah aku yang (mungkin) sama denganmu (siapapun kamu) yang begitu sederhana tapi kadang berharap jadi mulia.

Dia adalah aku yang setiap pagi membuka mata seperti biasa, lalu bingung akan melakukan apa juga bagaimana menyelesaikannya. Tapi anehnya aku nyaman mengulang itu dan kadang sembrono mengklaim bahwa diri ini bahagia melakukannya.

Kadang aku bisa bilang bahwa aku baik-baik saja, tapi semoga aku benar-benar telah terkendali. Karena singkatnya ini hanya tentang bagaimana seseorang akhirnya berhasil melapangkan nasib.

Dan sungguh setiap emosi dan pengalaman hidup berhak dirasakan dan berhak diceritakan. Begitulah akhirnya seseorang berhasil menikmati sesuatu.

Begitulah akhirnya aku memberanikan diri meracau. Memang tidak begitu banyak, tapi setidaknya ada satu dan itu akan menjadikanku (juga kamu) merasa cukup. Lebih dari cukup.

Akhirnya, sudilah seseorang berkenalan dengan anak sulungku dan mendekapnya dengan penuh.

Selamat membaca, dan
mari tumbuh dan sembuh bersama.

Sabtu, 29 Oktober 2022

Review Novel "Di Tanah Lada"

"Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi," katanya. "Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut." (Di Tanah Lada, Hal:197).

Buku ini mengisahkan tentang seorang Ava. Gadis kecil umur 6 tahun yang bertemu dengan P (anak kecil berumur 10 tahun) setelah kepindahannya ke rusun nero bersama kedua orang tuanya. Ava dan P, mereka senasib tapi tidak sama. Keluarganya sama-sama berantakan, tapi mereka tumbuh di lingkungan yang sangat berbeda sebelum akhirnya mereka bertemu di rusun nero. Dari sinilah perjalanan mereka bermula. Tragis, tapi penuh warna. Lucu, tapi memprihatinkan. Sederhana, tapi mengaduk-aduk. Pahit, tapi begitulah realita.

Itu adalah tentang bagaimana mereka menatap dunia dengan cara yang berbeda. Tentang bagaimana mereka  menerjemahkan diri menjadi orang dewasa dengan cara berfikir khas anak kecil. Tentang bagaimana mereka tumbuh menjadi anak-anak yang skeptis dan berhenti percaya pada hal-hal baik. Tentang bentuk emosional anak kecil yang tumbuh di dalam rasa sedih dan lelahnya mental. Mereka sedih, marah, bimbang, bingung, sendirian, tapi sesungguhnya mereka tidak membenci. Mereka hanya merindukan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orang tua mereka.

"Karena belajar jadi mama yang baik itu sulit, Ava," kata Mas Alri. "Jadi mama, jadi papa... dua-duanya susah." (Di Tanah Lada, Hal:197).

Ya, jadi manusia memang susah. Jadi lumba-lumba juga susah. Jadi bintang di langit juga. Apalagi jadi laut. Dingin, hitam, dan menelan Ava juga P.

Seseorang sungguh perlu membaca ini, untuk belajar lebih lagi tentang bagaimana menjadi seorang dewasa yang benar-benar dewasa dan bisa jadi rumah untuk anak-anak terutama untuk anak kecil di dalam dirinya.

Itu memang susah, tapi mari terus kita coba.

Selasa, 02 Agustus 2022

Review Novel "Tuhan Maha Asyik"

Buku ini adalah kumpulan dialog bocah yang diperuntukan untuk orang-orang yang mau lebih mengenal lagi siapa Tuhan-Nya. Di setiap babnya ada saja bahasan yang seperti tidak disadari tapi sengaja menyentil. Ya, menjadi mitra kerja Tuhan memang susah-susah gampang.

Mengenal berarti menyatu. Menyatu dengan Tuhan berarti melakukan kebaikan dalam hidup. Dan percaya kepada-Nya adalah meliputi segalanya. Begitulah Tuhan hadir pada setiap ruang dan waktu. Begitulah kita kembali merasa dekat kepada-Nya, dengan cara selalu mengingat-Nya. Begitulah kita harus selalu mengenali diri sendiri agar akhirnya bisa mengenal-Nya. Ini bukan lagi rahasia, tapi Tuhan dan kita memang ada untuk mencintai dan dicintai.

Agama itu hening. Begitulah perjalanan asyik itu sudah dan masih kita lalui. Agama adalah sebuah ruang, tempat segala kebaikan mengalir. Tapi akhir-akhir ini, orang-orang seperti mengubahnya sebagai paguyuban tempat darah-darah tumpah. Aku tidak berfikir aku tidak pernah melakukan ini, tapi memandang diri sendiri baik juga kadang menyakiti orang lain. Padahal ukuran iman bukan hanya dari itu.

"Tuhan hanya menginginkan manusia selalu mencintai dengan kesadaran dan manghilangkan kecurigaan dan kebencian" (Tuhan Maha Asyik, Hal : 234).

Yang penting kita jujur kepada diri sendiri. Yang penting kita beribadah dengan hati yang tulus. Sebab beragama baru dikatakan benar, jika kita mampu mengendalikan diri agar tidak menyakiti orang lain.

Ya begitulah kira-kira. Hidup ini adalah sebuah panggung. Kehidupan adalah sebuah drama. Dan kita adalah lakon yang melengkapinya. Jadi santai saja, karena hidup ini memang tempatnya peran-peran serius dan kepura-puraan dilakonkan.

Selamat mencintai Tuhan lebih dalam, para co-worker Tuhan.

Selasa, 05 April 2022

Review Buku "Seni Memahami Pria"

"Dasar lelaki. Mereka semua sama. Gila atau waras, tetap saja mereka laki-laki." -Cornelia Funke. (Seni Memahami Pria, Hal : 146).

Sebagaimana wanita, pria juga senang berbicara. Dan sebagai lawan bicara, siapapun dia, perlu berusaha untuk mendengarkannya. Tapi siapa yang peduli jika ternyata pria adalah makhluk hidup pertama yang mengenakan sepatu hak tinggi di Eropa pada tahun 1600-an? Alih-alih mencari tahu, aku lebih bingung jika ternyata pria menyebut wanita sebagai makhluk yang sulit dimengerti. Padahal wanita terhadap pria juga sama. Kecuali jika masing-masing sudah paham akan diri sendiri. Jadi, ya ini memang membingungkan.

Buku ini adalah kumpulan asumsi-asumsi yang entah bagaimana ketika dibaca bisa jadi berguna atau mungkin sebaliknya. Semua tergantung kepada kita yang membaca dan siapa pria yang kita hadapi.
14 bab ini cukup sekali menyita waktu-waktu yang dipaksa luang. Kadang menemukan sekian lembar diantaranya bisa mencerahkan, kadang sebaliknya, kadang bahkan rasanya abu-abu. Haha, sudah kubilang, sensasi itu kita yang cipta.

Jadi.........

"Jika anda ingin hidup bahagia dengan laki-laki, anda harus banyak memahaminya dan sedikit mencintainya. Jika anda ingin berbahagia dengan perempuan, anda harus lebih banyak mencintainya dan jangan coba-coba memahaminya" - Helen Rowland. (Seni Memahami Pria, Hal : 148).

Ya, selamat menjadi versi terbaikmu.

Jumat, 04 Maret 2022

Review Novel "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya"

"Kamu akan tahu sendiri siapa dirimu. Nikmati saja peranmu, Mat. Itu anugerah. Bisa jadi peranmu harus menderita. Bisa jadi kamu ditetapkan sebagai raja. Bisa jadi karaktermu hanya menjadi pembenci dan pendusta." (Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, Hal: 69).

Begitulah tutur Cak Dlahom kepada Mat Piti usai ketidakberdayaan Cak Dullah di cerita "Wayang yang Memuji Diri Sendiri".

Cak Dlahom, seorang tokoh utama yang istimewa di buku ini. Dia sinting tapi tidak. Dia pintar tapi tidak. Dia bodoh, tapi juga tidak. Cuma kadang bikin geregetan dan tentu saja gila. Tapi di setiap tingkah absurdnya, Cak Dlahom selalu menyampaikan peringatan-peringatan kecil tentang bagaimana cara orang-orang memahami islam, tentang bagaimana hidup beragama, hidup bermasyarakat, juga tentang ibadah-ibadah yang sudah mereka lakukan. Apakah sudah benar-benar karena Allah atau hanya demi mendapat pujian dari orang lain.

Buku ini menceritakan tentang kehidupan orang-orang di kampung Ndusel. Kehidupan yang sederhana dan sangat-sangat relate dengan kehidupan orang-orang pada umumnya. Yang kadang peduli, yang kadang rajin beribadah, yang kadang tersinggung, yang kadang putus asa, yang kadang lupa bersyukur, yang kadang merasa benar padahal tidak, yang kadang kebingungan, yang kadang sombong, yang kadang keras, yang kadang lupa bahwa berwudu yang sebenarnya adalah memberi maaf. Bukan hanya menyejukkan muka. Bukan.

Buku ini bacaan yang sederhana tapi syarat akan makna. Buku ini buku islami yang bertema komedi. Buku ini rumah yang baik. Cak Dlahom pasti cekikikan mengetahui ini sambil terus menggumam

"...manusia itu hanya bisa mengaku-aku ada. Mengaku-aku bisa berbuat. Mengaku-aku punya nama. Mengaku ini itu. Tapi, semua hanya pengakuan karena mereka sebetulnya tidak ada dan tidak tahu kalau tidak ada". (Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, Hal: 173)

Selasa, 15 Februari 2022

Review Novel "Waktu untuk Tidak Menikah"

"Kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?" (Waktu untuk Tidak Menikah, Cover belakang).

Waw, sebuah ringkasan ciamik. 14 cerita pendek dengan seorang perempuan sebagai tokoh utamanya. Isu-isu sosial melenggang begitu mulus di dalamnya. Suguhan kisah-kisah yang menyentil akan membuka mata kita untuk menyadari lagi dan lagi bahwa dalam hubungan tidak akan ada yang baik-baik saja. Kadang patah hati itu ada. Juga perpisahan yang dianggap baik tapi tetap saja menyiksa. Belum lagi ingatan lama yang mencuat tiba-tiba. Tentang mimpi yang mau tidak mau terkubur begitu saja. Dan kita yang tetap dipaksa bertahan meski sekedar untuk melanjutkan peran sebagai manusia.

Ya, begitulah. Memilih menikah atau tidak, menikah cepat atau nanti, resiko hidup tetap akan membuntuti. Menuju pernikahan itu tidak mudah. Menghabiskan perjalanan menujunya juga lebih tidak mudah. Beberapa orang berhasil melakoninya sampai garis akhir. Beberapa lagi terpaksa bertahan. Beberapa sisanya saling melepaskan. Satu ke persimpangan sebelah kanan, satu ke sebelah kiri, satu lainnya tersesat diantaranya. Beberapa meratap menyesali yang sudah-sudah. Beberapa lagi melamun membayangkan yang (belum tentu) indah. Tapi persetan dengan apa saja yang menjadikan hati menjadi sempit, sekali lagi kita hanya perlu ingat lagi bahwa saling mencintai memang tidak pernah sesederhana itu. Kita perlu jadi beruntung untuk ada di waktu dan di ruang yang tepat.

Dan untukku dan siapapun yang belum menemukan tempat untuk berlabuh:
"Segala kemungkinan bisa terjadi. Asal kau tahu, kehidupan rumah tangga lebih berat jutaan kali lipat. Kau harusnya menghemat air matamu." (Waktu untuk Tidak Menikah, Hal: 126)

Selasa, 01 Februari 2022

Review Buku "Filosofi Teras"

Buku ini bukan buku terbaik yang aku punya. Tapi buku ini termasuk salah satu buku yang punya andil baik untuk membantuku menjadi lebih baik. Meski butuh 2 bulan lamanya untuk menyelesaikan buku ini, tapi aku bersyukur bisa menyelesaikannya diantara badai-badai kehidupan yang datang.  Sehingga banyak kehilangan, membuat jiwaku lumayan tegar. Ya, lumayan tegar. Karena setegar apapun, rasanya angin kesedihan itu akan tetap ada. Ah tapi tenang saja, aku sudah lebih bisa menikmatinya.

Buku ini ditulis oleh Henry Manampiring. Berisi tentang filsafat yunani-romawi kuno dengan pendekatan filosofi STOA yang membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh.

Buku ini mengenalkanku dengan seorang kaisar baik bernama Marcus Aurelius, pilot pesawat tempur Angkatan Laut Amerika bernama Jamea Stockdale yang lama jadi tawanan perang, seorang Henry Manampiring, dan banyak narasumber yang takjub pemikirannya. Sebuah buku yang menjelma sebagai way of life.

Filosofi STOA atau yang familiar disebut dengan Filosofi Teras menerangkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati datang dari apapun yang bisa kita kendalikan. Wujudnya bisa berupa pikiran, persepsi, dan segala pertimbangan yang kita punya. 

Buku ini mengingatkan kita akan pentingnya punya kendali atas diri kita sendiri. Seperti Epiktetos yang selalu berlatih memilah "apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak bergantung padaku", seperti itulah seharusnya kita kepada diri kita. Supaya hilang penyakit jiwa. Supaya tenang jiwa kita dalam menjalani kehidupan yang ada di depan mata.

Rasanya dunia ini tidak akan terasa adil, jika memang tidak kita sendiri yang mengkondisikannya jadi adil. Keistimewaan inilah yang dimiliki oleh Stoisisme, bahwa kita diajarkan untuk tidak hanya menerima, tapi juga menikmati setiap perjalanan kehidupan. Inilah yang bisa menjadikan kita bertahan waras.

Akhirnya, aku bahagia hidup sebagai prokopton. Menapaki jalan sebagai seorang yang berusaha menjadi lebih baik lagi.

Dan inilah review-ku tentang buku ini. Kamu udah baca buku ini? Yuk share hasil review-mu.

Jumat, 31 Desember 2021

Menyambut Tahun Baru

Hari ini dan sejak saat itu, anak kecil ini bernafas, bergerak, juga jatuh dan bangun, tapi begitu saja sepertinya dia tidak cukup layak dikatakan untuk hidup. Di perjalanan panjang yang menyesatkan itu, dia telah banyak mencintai, menangis, melakukan kesalahan, menyesal, menderita, bangkit, tertawa, tercengang, dan (masih) tumbuh.

Entah bagaimana, tubuh anak kecil ini rentan sekali jatuh. Isi kepalanya gemar sekali kusut. Pikiran-pikiran seperti gampang sekali dipeluk kecewa. Separuh dirinya seperti telah hilang, tapi hidupnya masih (tetap) disini.

Berlanjut.

Hari ini, anak kecil ini memecat linglungnya. Sejak hari ini dan sekali lagi, terimakasih diumbarnya untuk siapapun juga apapun. Sejak hari ini dan seterusnya, anak kecil ini akan mengambil alih hidupnya yang tentu saja akan banyak kejutan. Sejak hari ini, dia sepakat memulai lagi. Belajar untuk selesai, tidak marah, tidak repot, lebih peduli dengan diri sendiri, tidak membiarkan dirinya merasa sendiri lagi, stabil lahir dan batin, senang, tenang, bangga, terurai, dan benar-benar hidup.

Anak kecil ini, bukan ingin menjadi pribadi yang lain. Hanya saja dia akan belajar lagi dan lagi menjadi yang lebih terkendali, lebih membuka mata, hati, juga ruang dalam diri. Sebab esok akan datang lagi, maksudnya ehmmm ciiee ciiee.

Ya, mungkin itu akan menjadi yang lebih.
Lebih sering.
Lebih rinci.
Lebih memabukkan.

Enjoy.

Minggu, 29 Agustus 2021

M(asih)elaju

Masa demi masa, semua berlalu dan aku? Sebisaku, aku berusaha menjadi biasa saja. Tidak bahagia, tidak bersedih, tidak juga di antara keduanya. Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku pikir dengan begini saja aku...... cukup. Waw, rasanya aku akan butuh waktu yang lebih banyak untuk sekedar melamun dan melerai pikiran-pikiran yang lagi-lagi kacau balau.

Aku memandang sekitaran. Di atas sana langit sedang biru-birunya. Dan orang-orang sedang sibuk-sibuknya berlalu lalang. Satu per satu dari mereka melaju bersama kereta yang mereka tumpangi. Rasanya cepat sekali sampainya. Aku melihat satu per satu dari mereka turun dari kereta mereka masing-masing. Aku terdiam, bergumam saja dengan sebab-sebab yang kupaksa ada sebagai jawaban dari tanya-tanya yang berkerumun di dalam isi kepala.

"Mungkin begitulah dia ada sebagai bahan uji." kataku asal.

Dan di tempatku berdiri kini, aku sedang memandang iri lengkap dengan jenuh kenyataan-kenyataan yang ada. Orang-orang dan kota baru itu, kereta-kereta sedang menuju dan telah sampai di tempat tujuan. Dan aku? Aku dan kota entah yang mana yang akan mejadi tempatku berlabuh, keretaku masih dan terus saja melaju. Terasa lambat jalannya, tapi mungkin begitulah akhirnya dia menjadi tepat. Oh ya tentu saja. Tentu saja aku juga akan sampai. Tentu saja aku akan melewati ini, apapun itu. Aku hanya harus mengeluh tentang ini lebih dulu. Jadi beri aku ruang yang penuh. Sekalipun lagi-lagi aku merasa sedang terjebak di antara harus terus berjalan atau kenapa aku harus repot-repot melakoni ini. Oh aku merasa seperti sedang menjadi racun untuk diriku sendiri. Aku meminta maaf berulang kali kepada diriku sendiri atas ini, tapi aku tidak juga kunjung menghentikannya. Tapi sungguh, aku hanya berharap bisa menikmati omong kosong ini dengan seseorang tanpa pernah merasa mengganggunya kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun.

Orang-orang datang dan pergi. Hari ini mereka datang mengetuk pintu, lalu singgah, dan bergegas pergi dikemudian hari. Seperti terburu-buru mengejar sesuatu, tapi apa? Oh bukan, aku bukan tidak bahagia menyaksikan panggung mereka begitu megah. Aku hanya sedikit bingung, kenapa rasanya waktu semua orang berjalan, tapi tidak denganku? Waktuku kadang serasa berhenti, kadang berjalan lambat, kadang malah terasa begitu berat. Rasanya sulit sekali mengejar orang-orang itu. Aku takut, aku takut hanya aku yang masih berdiri di sini, tertinggal, dan sendiri.

Oh Allah, mohon jauhkan aku dari hati yang akan menjadi rusak lalu menjadi terlalu membenci. Bawa aku pergi jauh dari perasaan yang sulit menerima.

Tapi tidakkah sama? Tidakkah memang begitu sesuatu-sesuatu yang belum berhasil sampai kepada kita? Jalanan yang lebih panjang dan berliku itu, oh haruskah? Hei, tapi bagaimana bisa aku merasakan seperti aku saja yang paling menderita? Padahal disana, entah dimana, pasti selalu ada mereka yang lebih lelah, lebih pusing, dan lebih segalanya dariku.

Sering setiap iri itu datang, aku berkali-kali bertanya dengan diriku sendiri,

"Jadi bagian pahit mana lagi yang belum aku tahu dari lika-liku kehidupan mereka?".

Sesekali seperti itu berhasil menghentikanku bertanya, sesekali aku mengulang tanya, sesekali sisanya aku tidak tahu harus bagaimana. Begitukah cara hidup bertaruh? Diantara untung dan buntung, diantara menang dan kalah, diantara itu semua, aku hanya ingin menjadi yang tidak menyerah dan tetap bertahan, meski aku hanya akan menjadi yang paling fasih membaca kesedihan dan kemudian hilang dengan kata-kata. 

Aku benci mengulangnya, tapi bagaimana bisa aku lupa bahwa aku pernah sampai disuatu tujuan yang tentu saja orang lain lebih cepat sampai tujuan dan aku tidak? Jalanan yang lebih panjang dan berliku itu, ah aku ingat betul bagaimana aku selalu merasa terluka karena tidak kunjung sampai. Putus asa demi putus asa mengetuk. Hampir saja aku membukakan pintu itu. Untung saja sesuatu itu lebih cepat sampai kugenggam daripada kedua tangan yang mulai dijabat keputus-asaan. Ujung itu, ya sebelum ujung itu, hampir saja aku menyerah. Memang benar, keajaiban demi keajaiban selalu ada ketika kita benar-benar berpasrah setelah menempuh perjalanan panjang atas sesuatu.

Ketakutan-ketakutan menjelma seperti kutukan. Perjalanan-perjalanan seperti semakin habis dimakan waktu. Dia terus berjalan, terus saja tanpa peduli diri kita siap atau tidak, lelah atau tidak, kuat atau tidak, atau bahkan sudah sembuh atau belum. Oh atau aku saja yang terlalu keras meraba bahagia? Atau aku terlalu naif memandang dunia? Oh aku, kenapa selalu ada dari dirimu yang belum bisa kutaklukkan? Oh aku, tidak bisakah kita tenang sebentar saja? Lalu mari kita lakukan hal-hal kecil terlebih dulu, jalan kaki saja. Atau kita bisa naik mobil. Kita bahkan tidak perlu naik kereta cepat seperti orang-orang itu. Kita ciptakan ritme kita sendiri. Kita nikmati setiap kemacetan atau apapun yang terjadi di depan sana.

Tidak lupa bersyukur. Sungguh kita tidak perlu lagi merawat sakit kepala karena kecepatan kereta orang-orang. Sungguh kita hanya perlu terus maju dan tentu saja lakukan itu, sampai selesai, sampai kita sendiri tidak sadar kita sudah mendapatkan yang lebih dari apa yang sebelumnya kita ingin. Sungguh kita hanya perlu menerima bahwa tidak semua hal itu baik dan membahagiakan. Mari lebih bersiap-siap menyambut baik hari-hari yang berkemungkinan jadi buruk, menyambut diri kita yang berbuat kesalahan, menyambut kita yang gagal. Sepasang kaki ini semoga semakin kuat berpijak di jalanan yang mungkin lebih berliku dan memutar dan terjal. Tubuh yang semakin rapuh ini semoga semakin gagah berkelahi demi sanggup berdiri untuk menghadapi hari yang baru.

Sungguh semua hal tidak harus sesuai dan itu tidak apa-apa.




Sabtu, 17 April 2021

Ancak

Cepat sekali. Dikejar apa entah. Waktu lari-lari. Melompat kesana-kemari. Tanpa pernah memberi arti. Oh atau hanya aku saja yang belum mengerti? Ah, dunia ini. Tak bisa aku meraba jalan-jalan yang akan dilaluinya.

Di balik jendela, aku hanya melihat sepasang mataku yang sayu. Melukis aku akan banyak hal pada langit yang biru. Luka kuurai. Senyum kusemai. Meski layu, bunga hati kupaksa mekar. Perasaaan-perasaan penuh ingin, terus datang mengetuk. Sepanjang waktu, aku mencoba membuka pintu untuknya. Semuanya, tanpa terkecuali. Aku ingin jadi tuan rumah yang baik.

Egoku kududukkan manis di beranda rumahku. Lumayan, hujan seharian menyuguhkan pelangi yang berlatar belakang senja yang tidak begitu jingga. Bincang yang sepertinya basi kusuguhkan untuknya. Tentu saja lengkap dengan tanda tanya-tanda tanya yang semakin lama semakin mahal jawabnya. Sudah lama ia merasa sendiri. Tenangnya pergi entah kemana. Hanya ada air mata yang ia tinggalkan sebagai jaminan.

"Pelan-pelan saja, bisa tidak? Satu per satu. Nafas dulu yang panjang. Jangan buru-buru hilang"

Dia mulai menggerutu. Dan aku mulai tertawa. Lalu angin-angin malam mulai menemaninya duduk memangku senja.

"Tidak usah jadi yang istimewa. Sederhana juga bisa jadi mulia" katanya.

Saben hari aku menatap harap. Membayangkan tiap detik yang berjalan menjadi saksi betapa baiknya aku menjalani hari-hari. Saben hari aku melambungkan dan membisikkan banyak doa, berharap bisa dengan baik menjaga diri. Saben hari aku berjalan dengan teka-teki yang kadang ingin kutertawakan setelahnya. Setelah sampai di ujung yang tetap menjadikanku baik-baik saja. Meskipun diiringi banyak bualan. Meskipun didekap erat ketakutan. Meskipun aku, sempat tak baik-baik saja.

"Hari ini adalah hari ini. Besok belum tentu ada hari seperti ini. Jadi, mari jalani. Apapun yang terjadi, jalani. Kalau senang, berbahagialah. Kalau sedih, berbahagialah. Sebab setidaknya, kita semua masih terbukti ada"

Begitulah mantra yang sering mengunci tekadku setiap sepasang mataku membalas senyum matahari pagi. Meski kadang hilang fungsi, setidaknya niat dari hati sudah pernah ada dalam diri. Toh hidup ini hanya perkara beruntung dan tidak beruntung. Juga perkara cara menyelami sudut pandang. Karena tiada beda bagi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mereka adalah perjalanan dan kita semua adalah pejalan yang melintasinya.

Dan begitulah waktu memberikan perjalanan kepada kita. Dan begitulah waktu mengantarkan kita kepada realita. Dan begitulah waktu mengetuk ruang terdalam dari jiwa kita yang kadang hilang bentuk, bahkan untuk sekedar menjadi rumah untuk diri sendiri.

Semua hal akan berakhir menjadi biasa. Semua hari dan apapun yang terjadi akan baik-baik saja. Ya, tentu saja terjemahkan sendiri arti "baik" untukmu. Jadi jangan lupa bersulang dengan kesempatan-kesempatan yang masih ada. Sesekali menarilah bersamanya. Sekian kali kuingatkan lagi, jangan lupa jadi bahagia meski hanya karena hal-hal sederhana.

Sedih itu biasa. Yang luar biasa itu sedih tapi dinikmati jadi bahagia. Sebab setiap hal berjalan. Sebab setiap kita adalah pejalan. Sebab setiap kita dalam perjalanan. Sebab setiap perjalanan adalah kesempatan. Dan setiap kesempatan adalah penmbelajaran.

Ya hanya begitu. Hanya itu. Jalani saja sampai waktu menemukan ujungnya dan kita selesai.

Jumat, 12 Februari 2021

Review Buku : "Segala-galanya Ambyar"

Akhirnya, selesai juga membaca buku kedua karya Mark Manson. "Segala-galanya Ambyar (Everything is Fuck)", begitulah judulnya. Lagi-lagi Mark Manson mengingatkan kepada pembacanya bahwa penderitaan dan kesedihan datang untuk dihadapi, bukan untuk ditinggal lari. Buku ini berisi tentang bagaimana menyikapi sebuah harapan dan sekaligus menjadi peringatan agar kita tidak tenggelam dalam pengaruh narsisisme manusia.

Seperti di judul buku sebelumnya, Mark Manson banyak menyuguhkan contoh real atas pemikiran-pemikiran yang dimiliknya. Wiotld Pilecki, seorang perwira perang Polandia yang akhirnya dijatuhi hukuman mati karena keahliannya jadi mata-mata terendus lawan menjadi cerita pembuka di buku ini. Dia berani, memiliki harapan tinggi, dan sekaligus harus mati karena membela negaranya sendiri. Dia tidak pernah menyesali perbuatannya dan malah menutup pidatonya dengan kalimat heroik "Aku telah mencoba untuk menjalani hidupku sebaik mungkin, maka menjelang ajalku kini yang kurasakan justru kegembiraan, bukan ketakutan". Waw, dahsyat. Begitulah harapan bekerja. Dia bermakna, setidaknya untuk terus menjalani kehidupan. Setidaknya ada 3 hal yang dibutuhkan untuk membangun dan merawat sebuah harapan, yaitu kesadaran akan kendali, kepercayaan akan nilai, dan sebuah komunitas.

Cerita kedua datang dari seorang Elliot. Seorang eksekutif di sebuah perusahaan besar yang jenaka dan disayangi istri, anak-anak, teman-teman, dan semua orang yang ada disekitarnya. Tapi belakangan dia didiagnosa terkena tumor otak. Dokter bedah telah mengambil tumornya, dia sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa, tapi situasi malah bertambah buruk. Kinerjanya turun, dia dipecat, diceraikan istrinya, dan ditinggalkan anak-anaknya. Ya, semua kekacauan ini berangkat dari operasi pegangkatan tumor yang dijalaninya. Kendali diri seorang Elliot hilang. Dia tidak lagi bisa berempati dan merasa. Frontal lobotomy yang dijalaninya telah mengubah orang yang sakit jiwa menjadi idiot. Karena itulah maka Tom Waits lebih memilih menyukai hobby minum daripada tidak memiliki gairah sama sekali,. Dia merasa lebih baik menemukan harapan di tempat sederhana daripada tidak sama sekali. Karena menurutnya tanpa gejolak hati yang liar, kita menjadi hampa.

Disinilah pentingnya menyelaraskan antara otak pemikir dan otak perasa. Kamu sudah tahu tentang ini? Bahwa diri kita adalah ibarat mobil badut. Otak perasa adalah sopir kita dan otak pemikir adalah navigatornya. Otak perasa menghasilkan emosi-emosi yang membuat kita tergerak untuk bertindak dan otak pemikirlah yang menyarankan tindakan itu harus dilakukan. Ya benar, hanya menyarankan. Sebab tidak selamanya otak pemikir bisa mengendalikan otak perasa. Lalu bagaimana caranya? Penulis ini bilang kita bisa memulainya melalui empati dan perasaan-perasaan. Dan jangan pernah berkelahi dengan otak perasa atau dia akan menjadi semakin kusut dan menjadi-jadi. Dan tentu saja kita tidak akan menang melawannya.

Oh ya, memang hidup ini sulit dan tidak bisa ditebak. Begitupun dengan pejalan dan perjalanannya yang semakin memuakkan. Sadar atau tidak, kita telah ditakdirkan untuk selalu bertikai hanya karena perbedaan-perbedaan kecil. Lalu kita (sering) tidak membenahi masalah sendiri dan malah menyalahkan orang lain. Kita selalu butuh menganggap bahwa diri kita ini penting. Ya, kenapa tidak? Beginilah awal mula moralitas tuan dan moralitas budak merebak.

"Amorfati" (mencintai nasib) adalah formula milik Nietzsche untuk bisa menjadi manusia yang besar. Dia menerima dan mencintai apapun yang ada di hidupnya dengan tanpa syarat. Katanya "Aku mencintai mereka yang tidak tahu cara untuk hidup. Karena merekalah orang-orang yang sukses menyeberang."

Manusia tumbuh dengan urutan kesadaran. Urutan kesadaran pertama adalah fase anak. Fase dimana eksplorasi sedang gencar-gencarnya dilakukan. Tidak peduli dengan pandangan orang lain, inginnya hanya senang dan senang. Lalu lanjut ke fase remaja. Fase yang menjunjung tinggi nilai transaksional. Fase dimana kita mengerti bahwa rasa sakit merupakan pertukaran yang harus diterima demi meraih sebuah tujuan. Lalu berlanjut ke tingkatan terakhir dan paling penting, yaitu fase dewasa. Sebuah fase dimana kita hanya perlu melakukan apa yang benar dengan sebaik-baiknya untuk sebuah alasan sederhana tanpa mencari imbalan dan tanpa mempedulikan apapun konsekuensinya. Beginilah seharusnya pandangan tentang kemanusiaan berjalan. Bukan sebagai sarana, tapi sebagai tujuan yang berdiri sendiri. Disinilah sarana belajar kita untuk menjadi lebih bijaksana membawa diri kita menuju kedewasaan yang sesungguhnya.

Penderitaan akan selalu ada. Penderitaan adalah pengalaman. Dan menjadi kebal karenanya adalah sebuah pilihan. Karena hidup dengan baik bukan berarti menolak penderitaan, tapi menderita untuk alasan-alasan yang benar supaya kita bisa belajar menderita secara tepat.

"Anda diminta untuk terus berlatih sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu. Cintailah kebosanan itu."

Kualitas kehidupan tergantung dengan kualitas karakter. Dan kualitas karakter tergantung dengan hubungan tuan bersama deritanya. Itulah kenapa kita tidak boleh lari penderitaan dan malah harus bersentuhan dengannya lalu menemukan makna dan nilai didalamnya.

"Penderitaan itu mungkin menjadi semakin mendingan, barangkali berubah bentuk, barangkali semakin bisa dihadapi hari demi hari. Namun, dia selalu ada. Penderitaan adalah bagian dari kita. Penderitaan adalah kita."

Paradoks kemajuan telah memperlihatkan kepada kita semua bahwa semakin baik kondisi yang kita dapatkan, semakin cemas dan putus asa diri kita. Orang-orang banyak mengenal ini sebagai Efek Titik Biru. Sejatinya setiap kita bersifat emosional, hanya saja banyak diantara kita yang lihai menyembunyikannya. Jangan pernah menertawakan ini, atau ini akan semakin memperjelas bahwa anda termasuk salah satunya. Ah dunia ini, selalu saja digerakkan oleh "perasaan". Dan perasaan senang, tidak akan mengenal kata cukup. Padahal bentuk merdeka yang sejati adalah pembatasan diri. Tapi ya apapun itu, "Tidak perlu mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Cukup hiduplah dengan baik. Jadilah lebih murah hati, lebih tabah, lebih rendah hati, lebih disiplin. Jadilah manusia. Tapi tidak. Jadilah manusia yang lebih baik. Dan barangkali, jika kita mujur, suatu saat kita akan menjadi lebih baik dari sekedar manusia."

Akhirnya sampai juga di paragraf akhir ini. Sampai jumpa di review selanjutnya. Selamat menikmati bacaan berat ini. Aku membutuhkan (mungkin) 6 bulan menyelesaikan 346 halaman buku ini. Agak malas atau memang aku yang lelet memahaminya. Tapi apapun itu, semoga bermanfaat untuk kalian semua.

Salam sayang.

Minggu, 27 September 2020

Tanda Tanya Di Meja Kerja

Kemarin, panggung cerita ala kadarnya menggelar pestanya. Dibuka dengan pertanyaan "ada cerita apa selama kita tidak bertemu?" 3 perempuan amatiran memulai perannya. Mengurai dan mendongeng satu per satu kebahagiaan, kekecewaan, air mata, dan segala sambatan yang menyertainya sampai habis kata-kata. Bukan, bukan karena habis ceritanya. Tapi karena sadar betapa terlalu terbatasnya waktu yang kita punya, padahal satu yang lainnya juga butuh panggung untuk bercerita. Bagian demi bagian terlewati dan kami selesai dengan makan sushi di warung sushi langganan kami. Lumayanlah untuk buang-buang waktu, mengusulkan makan disana dan disono dengan menu yang ini yang itu yang akhirnya berakhir lagi di tempat sushi itu.

Satu bagian yang masih tersisa di kepalaku. Pertanyaan itu, pertanyaan yang kubuat sendiri. Pertanyaan yang rasanya berat kujawab sendiri.
"Kalau kalian dikasih kesempatan bisa balik ke masa lalu, kalian pengen balik ke umur berapa dan kenapa?"
Pertanyaan itu, entah kapan berhenti menari-nari di kepalaku. Ingin sekali aku menjawabnya, tapi rasanya hampir setiap bagian dari hidupku ingin kembali kuselami. Mengulang dan memperbaiki satu per satu kesalahan yang hampir tidak kusadari. Tapi kalau memang benar aku dikasih kesempatan bisa balik ke masa lalu, aku ingin kembali ke masa, emmhh mungkin saat umurku masih 5 atau 6 tahun. Bukan, bukan untuk menjadi dewasa. Aku hanya ingin menjadi yang paling bisa menerima dan berdamai dengan semuanya. Aku ingin juga menjadi yang diterima dan senantiasa menjadi hangat. Ahhh rasanya aku ingin menangis mengingat perjalanan 20 tahun terakhir ini. Pahit sekali dan parahnya aku sendiri belum mahir membuat beberapa bagiannya menjadi "manis".

Lelah juga ya ternyata. Membenci apa yang semakin menjadikan diri sendiri malah semakin mencintai. Begitulah yang kusadari akhir-akhir ini. Sadar kecewa tapi tak sanggup marah-marah. Sadar ingin lari tapi nyatanya tetap saja berada dititik yang awal sekali. Terlepas dari penjelasan yang masih sesekali kunanti, juga salah yang terpaksa kuterima tanpa pernah kudengar permisi dan atau sekian kata maaf (mungkin), juga dari kebencian yang diselimuti dengan sekian cinta. Marahku tak bisa sepenuhnya tumpah. Marahku begitu saja, padam, dalam diam. 

Pagi ini di meja kerja, aku berdua dengan cerita orang-orang yang kubaca di berbagai media. Di meja kerja aku merana, mengingat apa saja yang tiba-tiba terlintas di kepala. Di meja kerja aku sigap menyeka air mata, bertahan menjadi lebih kuat demi tidak menjadi perhatian rekan-rekan kerja. Di meja kerja aku tidak boleh bersuara, kecuali karena gembira. Di meja kerja aku  menata hati, berharap apapun yang dianugerahkan untukku ini bisa kuterima dengan selapang-lapangnya.

Empat tujuh delapan, kuulang perlahan dan berulang. Empat tujuh delapan, kuhitung dan sesekali menahan. Rasanya aku sudah hampir berhasil masuk. Bukan ke alam bawah sadar, hanya kepada ingatan lama yang enggan pudar. Di persimpangan jalan itu, di antara pintu-pintu yang terbuka, di antara remang cahaya yang masuk melalui bilik-bilik jendela, di antara apa yang tidak membuatku mengerti dan akhirnya hanya bertahan dengan tanda tanya tanpa jawabnya. Terduduk aku disana , bersama pangeran kecil. Di siang terik yang bertambah terik karena dingin yang tak kusadari ternyata perlahan telah membakarku, aku terpana. Lebih kebertanya kenapa. Tapi aku hanya bisa bisu melakoninya.

Sepasang yang pernah begitu saling mencintai, tak mempedulikan sekitarnya lagi. Sepasang itu terus saja menari-nari di atas panggung megah. Panggung yang tak pernah mereka sadari mewah gelaran pestanya. Dan aku masih terduduk disana, masih juga bersama bayangan pangeran kecil dan wajah datar yang basah oleh air mata.

Hanya ada sisa kerja yang seadanya dan semampu yang mereka ingin dan tentu yang mereka bisa. Merasa baik-baik saja, menyayangi anak-anaknya dan juga menyenangkan jiwa raganya. Ahh rasanya aku ingin merajam isi kepala mereka dan mencabik-cabik hati mereka, sampai kutemukan maksud dan tujuan ini terjadi. Rasanya ini tidak adil, tapi itu adalah hidup mereka. Aku tidak berhak sama sekali. Mereka sama sepertiku, berhak salah, berhak marah, dan tentu berhak berdarah. Mereka berhak mengukir luka dihati siapa saja dan semoga cerita bijaksana dan satu pelukan bisa membayar apa saja yang sepertinya tidak bisa dibayar dengan itu semua.

Aku sudah merasa, aku telah mencoba, rela. Tapi ya rasanya aku belum berhasil menerima semuanya dengan sempurna. Ada bagian darinya, yang sepertinya tidak akan pernah menjadikanku kembali utuh. 

Setiap hari, setiap waktu aku mengetuk. Aku mengetuk pintu hatiku sendiri. Memohon untuk bisa menyayangi siapa saja yang menyayangiku selayaknya mereka menyayangiku. Setiap hari aku mengetuk. Aku mengetuk pintu langit. Memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk bisa melembutkan hatiku dan memampukanku berdamai dengan segala hal yang menjadi ketentuan-Nya.

"Hidup ini kepalang bajingannya ya ma?"

Haha kalau aku menanyakan itu kepada mamaku, pasti dahinya langsung mengeryit dan tentu saja diakhiri dengan mengiyakan pertanyaanku. Mungkin juga mama akan berkata "sangat, apalagi siapa, siapu, siapi, dan sia-sia lain yang sudah menjadikannya kokoh berdiri seperti sekarang. Mamaku kuat, meskipun keras. Mamaku sayang, meskipun hidupnya kepalang malang. Mamaku hebat, meskipun sering mengeluhkan asam urat.

Di dekatku puluhan pasang kaki berdiri tegap, menapaki hidup yang kadang tak masuk dicerna akal. Di dekatku puluhan pasang mata memandang, berkedip anggun seolah bicara bahwa semua akan baik-baik saja. Di dekatku puluhan hati merah muda penuh cinta, menebar bahagia kepada siapa saja yang dirangkulnya. Di dekatku puluhan bibir tersenyum, meramu rayu pada sedih yang singgah di hati. Di dekatku puluhan jiwa hilang, seolah di tempatku berdiri hanya ada aku dan aku seorang. Di dekatku aku bertanya, apa tandanya bahagia pada isi kepala yang enggan berhenti mempertanyakan apa saja?

Kadang aku bertanya, bagaimana cara menemukan bahasa cinta  seorang laki-laki? Aku belum bisa menemukannya. Mencari ditubuh bapak aku buta, mencari ditubuh anak lanang mama aku kebingungan, mencari ditubuh seorang pria aku ketakutan.

Kadang aku juga bertanya, bagaimana cara menemukan bahasa cinta seorang perempuan? Aku merasa belum juga bisa menemukannya. Mencari ditubuh mama aku melihat banyak luka, mencari ditubuh teman-teman aku merasa rumit, mencari ditubuh sendiri aku seperti terperangkap dalam sebuah labirin.

Tidak tersentuh, tapi bekasnya terasa menyeluruh. Berlari jauh sampai ke antah berantah, aku hilang diantara kabut amarah. Terjatuh begitu dalam, aku tergilas putaran waktu. Bahagiaku direnggut, diganti dengan luka yang akhirnya menjadikanku tersudut.

Aku terluka oleh wajah-wajah itu. Ingin sekali bertanya, tapi aku tak mampu. Aku tidak mau, aku tidak mampu menjadikan mereka lawan bicaraku untuk banyak pertanyaan dan kebingunganku. Aku takut menambah luka. Aku takut menguras deras air mata. Akhirnya kepada hati sendiri aku berpulang, meramu pelipur lara, sendirian.

Tidak apa-apa, esok aku akan berhenti. Tidak apa-apa, esok aku akan berhasil menaklukkan diriku sendiri. Tidak apa -apa, esok aku akan berhasil merelakan ini. Tidak apa-apa, esok aku akan menyelesaikan ini. Tidak apa-apa juga kalau ternyaa akhirnya aku menangis (lagi). Sebab menangis bukan tidak mungkin karena sesuatu yang menyedihkan. Hanya saja ada beberapa hal yang bahkan tidak diketahui sebabnya pun bisa menyebabkan patah hati, dan basah di kedua pipi, juga rintihan di hati. Semua bisa jadi ada secara tiba-tiba ada, tanpa pernah benar-benar diketahui penyebabnya. Sebab jika akhirnya ada air mata yang jatuh di meja kerja, itu bukan berarti apa-apa kecuali karena alasan cinta yang entah kemana arahnya.

Tapi ma, apa kabar rambut panjangku? Aku lucu sekali ya kepangan dikuncir satu? Baju warna warni, tas gendong, dan botol minum. Ah tapi mama tetep juara satu menjagaku. Makasi ya ma.

Dan bapak, apa kabar motor bututmu pak? Aku kangen tahu pak dibonceng di depan. Sepatu ilang sebelah, baju basah berhias lebah, dan tiup lilin diperayaan ulang tahunku bersamamu. Ahh ternyata moment kita tidak sebanyak itu pak. Mau tidak pak, kita mengulangnya lagi, dari awal? Aku masih pak, aku masih sama, menjadi putri kecilmu selamanya.

Di meja kerja ini, aku merasa sepi. Berulang kali kupanggil banyak nama, tapi nyatanya aku tak mampu bersuara. Lalu kutulis sajak, tapi aku terhenti di bait pertama.

Di meja kerja ini, aku merasa gelap. Gelap sekali. Lorong perjalananku tak bercahaya, tak ada kilau bintang-bintang, tak ada bulan sabit serupa senyumku, tak ada apapun. Kecuali, aku. Dan sisa-sisa harapanku. Tentang apapun dan tanpa pengecualian apapun.

Di meja kerja ini, aku merasa dingin. Tak ada bentangan tangan siapapun, tak ada belai lembut penuh sayang di kepalaku, tak ada yang bisa menghentikanku berkata tak ada. Tak ada. Ya, aku telah mengulangnya. Sengaja.

Di meja kerja ini, aku ingin sementara berhenti bertanya. Rasanya sesak sekali. Mengulang duka, mengobati luka, dan merana lagi dan lagi sambil bertanya-tanya.

Di meja kerja ini, bolehkan aku mendapatkan salah satu?


Selasa, 19 Mei 2020

Review Buku : "Bicara Itu Ada Seninya"

Komunikasi adalah salah satu hal dasar yang sangat penting dalam menjalin dan menjaga hubungan dengan orang lain. Memperbaiki dan mengasah kemampuan berkomuikasi adalah sebuah langkah awal yang baik untuk membuka peluang yang besar untuk kita semua baik dalam hal berhubungan dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Oh Su Hyang, seorang Dosen dan pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan dalam bukunya yang berjudul "Bicara Itu Ada Seninya" mengulas banyak hal tentang teknik berbicara yang baik. Beliau memberikan beberapa rahasia tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan menghadirkan banyak pengalaman-pengalaman yang sudah beliau jalani dan beberapa cerita menarik yang tentunya menginspirasi kita semua ketika selesai membaca buku ini.

Dalam buku ini beliau menjelaskan tentang bagaimana membentuk kesan awal yang baik ketika kita bertemu lawan bicara untuk pertama kalinya. "Ucapan menentukan kesan pertama" begitulah ucapnya. Ya, kita memang tidak seharusnya terus membicarakan diri sendiri dan tidak memikirkan lawan bicara. Kita seharusnya hanya perlu berbicara secukupnya dan lebih banyak mendengar penuturan lawan bicara.

Beliau juga menjelaskan bagaimana cara membangun kepercayaan diri, melatih logika bicara, berbicara dengan cara bercerita (story telling), mengatasi trauma dalam berbicara, memperhatikan olah suara dan gerak tubuh, cara bernegosiasi, trik berdebat, mempersiapkan presentasi, membangun obrolan yang menguntungkan, menghadirkan irama dalam berbicara, juga cara berbicara untuk mewujudkan impian.

Ada satu kutipan yang menjadi favoritku:
"Bila ingin sukses, berbicaralah seperti orang sukses. Berbicaralah seperti orang yang Anda impikan. Berbicaralah dengan antusias dan bertingkah seolah Anda telah sukses. Mulai sekarang, berbicara sambil membayangkan bahwa Anda akan segera sukses, maka tak lama lagi impian Anda akan terwujud."
(Bicara Itu Ada Seninya, Hal : 46)

Kemudian beliau juga menjelaskan rumus terapi komunikasi yang bisa kita terapkan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.



 C = Q x P x R 
Communication = Question x Praise x Reaction 
Komunikasi = Pertanyaan x Pujian x Reaksi


Beliau menjelaskan bahwa dalam dialog, ada "aturan 1-2-3". Sekali berbicara, 2 kali mendengar, 3 kali memberi umpan balik.


Kemudian membahas juga tentang humor dalam berbicara. Bahwa humor adalah tentang timing. Bahwa kita bisa melatih rasa humor kita sendiri dengan menonton banyak drama atau pertunjukan komedi.


Beliau juga menjelaskan bagaimana trik untuk mengakhiri presentasi yang bisa menggerakkan hati audiens. Selain menggunakan ucapan persuasif, simpati, dan kalimat pembuka yang orisinil, beliau memberikan rumus mengenai pokok bujukan, yaitu:



 P = P x S x T 

Persuasion = Punch x Sympathize x Touch
Bujukan = Pukulan x Simpati x Sentuhan


Hal mendasar lain yang harus kita tahu, bahwa tidak bisa bicara dengan baik adalah masalah besar. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengubah keadaan, karena bisa bicara dengan baik bukan bawaan dari lahir. Kita bisa memulainya dengan latihan berbicara dengan memotong suku kata, kemudian latihan olah suara, dan kemudian kita bisa menjadikan suara kita menjadi suara bariton yang menggema, indah,

Sering-seringlah berbicara, sebab aktif berbicara justru lebih baik. Karena hidup akan berubah dengan mengubah cara bicara. Tidak perlu takut menjadi bahan tertawaan. Tampillah secara sempurna sebagai diri kita yang apa adanya. Karena kita istimewa dengan apa yang kita punya dan kita tata. 


Selamat membaca. Selamat berlatih menjadi pembicara yang hebat.


Salam Literasi.


Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....