Sebagian basa-basi kehidupan dunia dengan pernak-pernik rasa apa saja yang telah terjadi sesuai dengan garis takdir Yang Maha Kuasa
Sabtu, 24 Februari 2024
Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan
Selasa, 09 Januari 2024
Review Buku "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya"
"Lagi pula, "ada kejahatan yang lebih mengerikan daripada membakar buku."....."yaitu tidak membaca"." (Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, Hal: 156).
Selasa, 05 Desember 2023
Tentang "Roman(tika)"
Senin, 20 November 2023
Review Buku "Terima Kasih Sudah Mengatakannya"
"Penting untuk mendengarkan cerita orang lain. Ketika kita sudah mendengar semua ceritanya, tolong segera katakan 'Terima kasih atas ceritanya'." (Terima Kasih Sudah Mengatakannya, Hal: 235).
Waw, ini bagian di mana aku seketika berfikir betapa berharganya mereka yang sudi membicarakan sesuatu kepadaku. Sebab memang, rasanya menjadi dipercaya lebih punya nilai lebih daripada percaya kepada seseorang. Sebab rasanya, manusia hanya cenderung senang dan selalu mengupayakan diri untuk disukai dan diterima lawan bicaranya.
"Terima Kasih Sudah Mengatakannya" adalah buku terjemahan dari Korea. Bergenre self improvement yang sangat relate dengan kehidupan kita. Cara penulisannya tidak kaku dan banyak dilengkapi dengan kutipan-kutipan dari beberapa film dan buku. Covernya cantik. Ilustrasi di dalamnya juga. Itu cukup menyegarkan pandangan yang sesekali lelah karena memang huruf-huruf didalamnya begitu kecil, meskipun masih bisa terbaca.
Buku ini berisi tentang bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan seseorang, tentang bagaimana kita menggunakan kata-kata, juga tentang bagaimana mengendalikannya. Sebab memang kata-kata punya kekuatan yang berdampak baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Buku ini akan sedikit banyak menyadarkan kita tentang betapa pentingnya melindungi hubungan dengan siapapun, tentang bagaimana menemukan kata-kata yang tidak melukai, tentang bagaimana menyikapi pujian dan kritikan, juga tentang bagaimana hidup dengan penuh keberanian dengan kata-kata kita sendiri.
"Waktu hingga menjadi dewasa adalah proses memiliki "logika komunikasi". (Terima Kasih Sudah Mengatakannya, Hal: 31).
Akhirnya, untuk kalian yang telah selalu mengucapkan kata-kata yang baik kepada siapapun dan khususnya untuk diri sendiri, terima kasih sudah mengatakannya.
Selasa, 17 Oktober 2023
Part of Being an Adult (Bagian dari Menjadi Dewasa)
This adult life is so fucking complicated, right? Kita mengucap "hadehh/haiyahhh/ bjirrr/syibal se.....k.i..ya", tapi akhirnya tetap melakukannya. Kita berdebat hebat, tapi berakhir damai juga. Pokoknya kudu pusing dulu, meski ujungnya juga bisa ngerjain. Haha.
Tapi aku senang berada difase dewasa ini. Aku bisa duduk sendirian di sebuah restoran dan membeli matcha dan coklat favoritku tanpa ada yang bisa menghentikanku. Itu juga tentang bersantai ria di rumah, tidur lebih awal, dan merasa itu baik-baik saja. Rasa-rasanya memang tidak ada yang namanya menjadi dewasa. Bukankah kita semua hanya anak-anak yang terjebak di dalam tubuh orang dewasa saja? Atau bukankah itu terlalu susah untuk terus berpura-pura?
Jadi, bolehkah kita berhenti membual tentang hal-hal yang dengan atau tidak semestinya di lakukan? Karena "kedewasaan" tidak melulu ditandai dengan bertambahnya usia, tapi juga tentang pengalaman dan pertumbuhan. Jadi jangan pernah mengharapkan kedewasaan dari siapapun. Hidup ini sudah sulit. Hanya saja semoga semua orang tetap terkendali dalam menjaga energinya sepanjang hari.
Lagi pula dewasa adalah tentang bagaimana diri sendiri bisa mengajak hatinya jatuh cinta lagi dan lagi. Dia tahu bagaimana harus merasa senang dan bahagia. Dia tahu bagaimana menjadi yang terkendali atas semua-muanya. Karena baiknya, semua memang harus seimbang. Supaya akhirnya dia berhasil merasa dicintai sebanyak-banyaknya, juga sepenuh-penuhnya. Ya, mungkin ada lebih banyak hal dalam hidup ini daripada menjadi seorang remaja dan menjadi dewasa bukan berarti kita harus meninggalkan itu. Akhirnya, dari semua hal yang ada, semoga kita bisa semakin paham bagaimana cara kerja semesta.
So, happy growing into adulthood. I hope we don't become annoying adults. May us always be the winner. Hopefully everyone will support us to always be calm.
Good luck 🤘
Selasa, 19 September 2023
Review Buku "The Things You Can See Only When You Slow Down"
"Ketika segala sesuatu disekitar saya bergerak begitu cepat, saya berhenti sejenak dan bertanya “Apakah memang dunia yang terlalu sibuk, atau malah batin saya?”"(TTYCSOWSD, Hal: 9).
Memulai tahun baru dengan membaca buku self improvment yang meaningful, begitu ringan tapi tetap mengajak kita untuk berfikir dan merefleksi diri. Buku ini ditulis oleh Haemin Sunim, seorang guru agama Buddha Zen sekaligus penulis paling berpengaruh di Korea Selatan.
Berisi sekumpulan kalimat singkat berupa
kutipan-kutipan bijak tentang semua aspek kehidupan manusia mulai dari relationship,
cinta, spiritual, juga pekerjaan. Buku yang mengingatkan kita untuk lebih aware
lagi dalam memahami pentingnya bersikap, bertutur kata, dan mengistirahatkan
diri. Itu adalah tentang hal-hal yang hanya dapat kita lihat dan rasakan ketika
kita melambat dan bagaimana menjadi tenang di dunia yang sibuk. Karena beberapa
hal justru dapat kita nikmati saat kita tidak terburu-buru.
“..............bahwa yang mengusik kita bukanlah keadaan dunia, melainkan cara pandang kita. (TTYCSOWSD, Hal: 15)
Ilustrasi
gambarnya cantik dan kalimat-kalimatnya begitu relate dengan kehidupan
sehari-hari. Buku ini membantu ketika pikiran sedang tidak stabil. Itu cukup
untuk membantu menenangkan pikiran kita, tentu saja dengan membacanya perlahan
untuk memahami lebih dalam tentang apa-apa yang sebenarnya penulis maksudkan. Buku
ini juga akan cukup membantu kita untuk mendapatkan kekuatan dan meraih sebuah
kepuasan ketika hidup sedang terasa begitu sulit. Itu seperti sebuah resep
untuk menjalani hidup ini dengan cara yang lebih ringan dan bahagia.
Tapi memang semua hal selalu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Jadi tidak melulu itu
akan mengubah hidup. Ya, selamat menemukan kutipan-kutipan apik sesuai
kondisi yang kita alami. Selamat mengembangkannya dengan caramu sendiri.
Selasa, 16 Mei 2023
Review Buku "Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah"
Mungkin kita tidak sempurna, belum dewasa, dan sering melakukan kesalahan, tetapi kita tetap harus bahagia” (Hal: 231).
Aku suka sekali bunga matahari yang tumbuh di cover buku ini. Rasanya sudah seperti disambut dengan hangat, padahal aku belum mulai membuka bukunya, apalagi membaca isinya.
Buku ini sangat-sangat heartwarming. Pertama aku menjadi berterimakasih kepada diriku sendiri yang sudah kuat berjalan sampai sejauh ini. Kedua aku meminta maaf kepada diriku atas ragu-ragu dan putus asa yang sudah-sudah. Ketiga aku memutar lagi memori-memori perihal perjalanan panjang yang sudah-sudah. Ternyata memang banyak sekali lelahnya. Ternyata memang banyak sekali senangnya. Ternyata hidup memang sedinamis itu. Tidak lama senangnya. Tidak lama sedihnya. Sangat-sangat sementara.
“Kau hanya perlu menjadi orang yang bisa melanjutkan sesuatu yang sudah kau mulai sampai kau melihat akhirnya” (Hal: 78)
Begitulah Geulbaewoo
mengingatkan kita untuk menjadi baik dan lebih peduli dengan diri sendiri,
beristirahat ketika merasa lelah, meluangkan waktu untuk sendiri, dan bersemangat
lagi untuk melanjutkan perjalanan yang sempat berhenti. Geulbaewoo merangkul kita
lewat pengalaman jatuh bangun yang diceritakannya lewat esai-esai di buku ini.
Rasanya sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Apalagi untuk kita yang
sempat atau sedang mengalami quarter life
crisis, untuk kita yang sedang kehilangan gairah melanjutkan sebuah
perjalanan, untuk kita yang sedang cemas, takut, kosong, dan ingin menyerah.
Buku ini terbagi menjadi
3 bagian. Pertama tentang impian dan pencapaian. Kedua tentang bagaimana
berhubungan dengan manusia khususnya bab asmara. Dan terakhir tentang bagaimana
mencintai diri sendiri. Isinya berupa esai singkat tapi padat makna. Aku suka buku ini
karena Goelbaewoo berhasil menerbangkan semangat-semangatnya tanpa pernah
menjanjikan sebuah harapan dan keberhasilan.
“Apapun masalahnya, kau akan mampu melewatinya” (Hal: 238)
Akhirnya, selamat melakukan
yang terbaik sepanjang hari, jangan lupa istirahat, jangan lupa jalan lagi.
Semoga beruntung menemukan hal-hal yang kita sukai teman-teman.
Jumat, 27 Januari 2023
Roman(tika)
Sabtu, 29 Oktober 2022
Review Novel "Di Tanah Lada"
"Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi," katanya. "Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut." (Di Tanah Lada, Hal:197).
Buku ini mengisahkan tentang seorang Ava. Gadis kecil umur 6 tahun yang bertemu dengan P (anak kecil berumur 10 tahun) setelah kepindahannya ke rusun nero bersama kedua orang tuanya. Ava dan P, mereka senasib tapi tidak sama. Keluarganya sama-sama berantakan, tapi mereka tumbuh di lingkungan yang sangat berbeda sebelum akhirnya mereka bertemu di rusun nero. Dari sinilah perjalanan mereka bermula. Tragis, tapi penuh warna. Lucu, tapi memprihatinkan. Sederhana, tapi mengaduk-aduk. Pahit, tapi begitulah realita.
Itu adalah tentang bagaimana mereka menatap dunia dengan cara yang berbeda. Tentang bagaimana mereka menerjemahkan diri menjadi orang dewasa dengan cara berfikir khas anak kecil. Tentang bagaimana mereka tumbuh menjadi anak-anak yang skeptis dan berhenti percaya pada hal-hal baik. Tentang bentuk emosional anak kecil yang tumbuh di dalam rasa sedih dan lelahnya mental. Mereka sedih, marah, bimbang, bingung, sendirian, tapi sesungguhnya mereka tidak membenci. Mereka hanya merindukan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orang tua mereka.
"Karena belajar jadi mama yang baik itu sulit, Ava," kata Mas Alri. "Jadi mama, jadi papa... dua-duanya susah." (Di Tanah Lada, Hal:197).
Ya, jadi manusia memang susah. Jadi lumba-lumba juga susah. Jadi bintang di langit juga. Apalagi jadi laut. Dingin, hitam, dan menelan Ava juga P.
Seseorang sungguh perlu membaca ini, untuk belajar lebih lagi tentang bagaimana menjadi seorang dewasa yang benar-benar dewasa dan bisa jadi rumah untuk anak-anak terutama untuk anak kecil di dalam dirinya.
Itu memang susah, tapi mari terus kita coba.
Selasa, 02 Agustus 2022
Review Novel "Tuhan Maha Asyik"

"Tuhan hanya menginginkan manusia selalu mencintai dengan kesadaran dan manghilangkan kecurigaan dan kebencian" (Tuhan Maha Asyik, Hal : 234).
Selasa, 05 April 2022
Review Buku "Seni Memahami Pria"
Jumat, 04 Maret 2022
Review Novel "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya"
Begitulah tutur Cak Dlahom kepada Mat Piti usai ketidakberdayaan Cak Dullah di cerita "Wayang yang Memuji Diri Sendiri".
Cak Dlahom, seorang tokoh utama yang istimewa di buku ini. Dia sinting tapi tidak. Dia pintar tapi tidak. Dia bodoh, tapi juga tidak. Cuma kadang bikin geregetan dan tentu saja gila. Tapi di setiap tingkah absurdnya, Cak Dlahom selalu menyampaikan peringatan-peringatan kecil tentang bagaimana cara orang-orang memahami islam, tentang bagaimana hidup beragama, hidup bermasyarakat, juga tentang ibadah-ibadah yang sudah mereka lakukan. Apakah sudah benar-benar karena Allah atau hanya demi mendapat pujian dari orang lain.
Buku ini menceritakan tentang kehidupan orang-orang di kampung Ndusel. Kehidupan yang sederhana dan sangat-sangat relate dengan kehidupan orang-orang pada umumnya. Yang kadang peduli, yang kadang rajin beribadah, yang kadang tersinggung, yang kadang putus asa, yang kadang lupa bersyukur, yang kadang merasa benar padahal tidak, yang kadang kebingungan, yang kadang sombong, yang kadang keras, yang kadang lupa bahwa berwudu yang sebenarnya adalah memberi maaf. Bukan hanya menyejukkan muka. Bukan.
Buku ini bacaan yang sederhana tapi syarat akan makna. Buku ini buku islami yang bertema komedi. Buku ini rumah yang baik. Cak Dlahom pasti cekikikan mengetahui ini sambil terus menggumam
"...manusia itu hanya bisa mengaku-aku ada. Mengaku-aku bisa berbuat. Mengaku-aku punya nama. Mengaku ini itu. Tapi, semua hanya pengakuan karena mereka sebetulnya tidak ada dan tidak tahu kalau tidak ada". (Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, Hal: 173)
Selasa, 15 Februari 2022
Review Novel "Waktu untuk Tidak Menikah"
"Kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?" (Waktu untuk Tidak Menikah, Cover belakang).
"Segala kemungkinan bisa terjadi. Asal kau tahu, kehidupan rumah tangga lebih berat jutaan kali lipat. Kau harusnya menghemat air matamu." (Waktu untuk Tidak Menikah, Hal: 126)
Selasa, 01 Februari 2022
Review Buku "Filosofi Teras"
Jumat, 31 Desember 2021
Menyambut Tahun Baru
Minggu, 29 Agustus 2021
M(asih)elaju
Orang-orang datang dan pergi. Hari ini mereka datang mengetuk pintu, lalu singgah, dan bergegas pergi dikemudian hari. Seperti terburu-buru mengejar sesuatu, tapi apa? Oh bukan, aku bukan tidak bahagia menyaksikan panggung mereka begitu megah. Aku hanya sedikit bingung, kenapa rasanya waktu semua orang berjalan, tapi tidak denganku? Waktuku kadang serasa berhenti, kadang berjalan lambat, kadang malah terasa begitu berat. Rasanya sulit sekali mengejar orang-orang itu. Aku takut, aku takut hanya aku yang masih berdiri di sini, tertinggal, dan sendiri.
Oh Allah, mohon jauhkan aku dari hati yang akan menjadi rusak lalu menjadi terlalu membenci. Bawa aku pergi jauh dari perasaan yang sulit menerima.
Tapi tidakkah sama? Tidakkah memang begitu sesuatu-sesuatu yang belum berhasil sampai kepada kita? Jalanan yang lebih panjang dan berliku itu, oh haruskah? Hei, tapi bagaimana bisa aku merasakan seperti aku saja yang paling menderita? Padahal disana, entah dimana, pasti selalu ada mereka yang lebih lelah, lebih pusing, dan lebih segalanya dariku.
Sering setiap iri itu datang, aku berkali-kali bertanya dengan diriku sendiri,
Sabtu, 17 April 2021
Ancak
Cepat sekali. Dikejar apa entah. Waktu lari-lari. Melompat kesana-kemari. Tanpa pernah memberi arti. Oh atau hanya aku saja yang belum mengerti? Ah, dunia ini. Tak bisa aku meraba jalan-jalan yang akan dilaluinya.
Di balik jendela, aku hanya melihat sepasang mataku yang sayu. Melukis aku akan banyak hal pada langit yang biru. Luka kuurai. Senyum kusemai. Meski layu, bunga hati kupaksa mekar. Perasaaan-perasaan penuh ingin, terus datang mengetuk. Sepanjang waktu, aku mencoba membuka pintu untuknya. Semuanya, tanpa terkecuali. Aku ingin jadi tuan rumah yang baik.
Egoku kududukkan manis di beranda rumahku. Lumayan, hujan seharian menyuguhkan pelangi yang berlatar belakang senja yang tidak begitu jingga. Bincang yang sepertinya basi kusuguhkan untuknya. Tentu saja lengkap dengan tanda tanya-tanda tanya yang semakin lama semakin mahal jawabnya. Sudah lama ia merasa sendiri. Tenangnya pergi entah kemana. Hanya ada air mata yang ia tinggalkan sebagai jaminan."Pelan-pelan saja, bisa tidak? Satu per satu. Nafas dulu yang panjang. Jangan buru-buru hilang"
Dia mulai menggerutu. Dan aku mulai tertawa. Lalu angin-angin malam mulai menemaninya duduk memangku senja.
"Tidak usah jadi yang istimewa. Sederhana juga bisa jadi mulia" katanya.
Saben hari aku menatap harap. Membayangkan tiap detik yang berjalan menjadi saksi betapa baiknya aku menjalani hari-hari. Saben hari aku melambungkan dan membisikkan banyak doa, berharap bisa dengan baik menjaga diri. Saben hari aku berjalan dengan teka-teki yang kadang ingin kutertawakan setelahnya. Setelah sampai di ujung yang tetap menjadikanku baik-baik saja. Meskipun diiringi banyak bualan. Meskipun didekap erat ketakutan. Meskipun aku, sempat tak baik-baik saja.
"Hari ini adalah hari ini. Besok belum tentu ada hari seperti ini. Jadi, mari jalani. Apapun yang terjadi, jalani. Kalau senang, berbahagialah. Kalau sedih, berbahagialah. Sebab setidaknya, kita semua masih terbukti ada"
Begitulah mantra yang sering mengunci tekadku setiap sepasang mataku membalas senyum matahari pagi. Meski kadang hilang fungsi, setidaknya niat dari hati sudah pernah ada dalam diri. Toh hidup ini hanya perkara beruntung dan tidak beruntung. Juga perkara cara menyelami sudut pandang. Karena tiada beda bagi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mereka adalah perjalanan dan kita semua adalah pejalan yang melintasinya.
Dan begitulah waktu memberikan perjalanan kepada kita. Dan begitulah waktu mengantarkan kita kepada realita. Dan begitulah waktu mengetuk ruang terdalam dari jiwa kita yang kadang hilang bentuk, bahkan untuk sekedar menjadi rumah untuk diri sendiri.
Semua hal akan berakhir menjadi biasa. Semua hari dan apapun yang terjadi akan baik-baik saja. Ya, tentu saja terjemahkan sendiri arti "baik" untukmu. Jadi jangan lupa bersulang dengan kesempatan-kesempatan yang masih ada. Sesekali menarilah bersamanya. Sekian kali kuingatkan lagi, jangan lupa jadi bahagia meski hanya karena hal-hal sederhana.
Sedih itu biasa. Yang luar biasa itu sedih tapi dinikmati jadi bahagia. Sebab setiap hal berjalan. Sebab setiap kita adalah pejalan. Sebab setiap kita dalam perjalanan. Sebab setiap perjalanan adalah kesempatan. Dan setiap kesempatan adalah penmbelajaran.
Ya hanya begitu. Hanya itu. Jalani saja sampai waktu menemukan ujungnya dan kita selesai.
Jumat, 12 Februari 2021
Review Buku : "Segala-galanya Ambyar"
Minggu, 27 September 2020
Tanda Tanya Di Meja Kerja
"Kalau kalian dikasih kesempatan bisa balik ke masa lalu, kalian pengen balik ke umur berapa dan kenapa?"
"Hidup ini kepalang bajingannya ya ma?"
Haha kalau aku menanyakan itu kepada mamaku, pasti dahinya langsung mengeryit dan tentu saja diakhiri dengan mengiyakan pertanyaanku. Mungkin juga mama akan berkata "sangat, apalagi siapa, siapu, siapi, dan sia-sia lain yang sudah menjadikannya kokoh berdiri seperti sekarang. Mamaku kuat, meskipun keras. Mamaku sayang, meskipun hidupnya kepalang malang. Mamaku hebat, meskipun sering mengeluhkan asam urat.
Kadang aku juga bertanya, bagaimana cara menemukan bahasa cinta seorang perempuan? Aku merasa belum juga bisa menemukannya. Mencari ditubuh mama aku melihat banyak luka, mencari ditubuh teman-teman aku merasa rumit, mencari ditubuh sendiri aku seperti terperangkap dalam sebuah labirin.
Tidak tersentuh, tapi bekasnya terasa menyeluruh. Berlari jauh sampai ke antah berantah, aku hilang diantara kabut amarah. Terjatuh begitu dalam, aku tergilas putaran waktu. Bahagiaku direnggut, diganti dengan luka yang akhirnya menjadikanku tersudut.
Tapi ma, apa kabar rambut panjangku? Aku lucu sekali ya kepangan dikuncir satu? Baju warna warni, tas gendong, dan botol minum. Ah tapi mama tetep juara satu menjagaku. Makasi ya ma.
Selasa, 19 Mei 2020
Review Buku : "Bicara Itu Ada Seninya"
"Bila ingin sukses, berbicaralah seperti orang sukses. Berbicaralah seperti orang yang Anda impikan. Berbicaralah dengan antusias dan bertingkah seolah Anda telah sukses. Mulai sekarang, berbicara sambil membayangkan bahwa Anda akan segera sukses, maka tak lama lagi impian Anda akan terwujud."
(Bicara Itu Ada Seninya, Hal : 46)
Kemudian beliau juga menjelaskan rumus terapi komunikasi yang bisa kita terapkan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.
C = Q x P x R
Communication = Question x Praise x Reaction
Komunikasi = Pertanyaan x Pujian x Reaksi
Beliau menjelaskan bahwa dalam dialog, ada "aturan 1-2-3". Sekali berbicara, 2 kali mendengar, 3 kali memberi umpan balik.
Kemudian membahas juga tentang humor dalam berbicara. Bahwa humor adalah tentang timing. Bahwa kita bisa melatih rasa humor kita sendiri dengan menonton banyak drama atau pertunjukan komedi.
Beliau juga menjelaskan bagaimana trik untuk mengakhiri presentasi yang bisa menggerakkan hati audiens. Selain menggunakan ucapan persuasif, simpati, dan kalimat pembuka yang orisinil, beliau memberikan rumus mengenai pokok bujukan, yaitu:
P = P x S x TBujukan = Pukulan x Simpati x Sentuhan
Persuasion = Punch x Sympathize x Touch
Sering-seringlah berbicara, sebab aktif berbicara justru lebih baik. Karena hidup akan berubah dengan mengubah cara bicara. Tidak perlu takut menjadi bahan tertawaan. Tampillah secara sempurna sebagai diri kita yang apa adanya. Karena kita istimewa dengan apa yang kita punya dan kita tata.
Selamat membaca. Selamat berlatih menjadi pembicara yang hebat.
Salam Literasi.
Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan
Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....
-
Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....
-
Sore ini seperti mendapat kejutan paling menyenangkan. Satu itu tentang langit biru yang cerah setelah seharian hujan. Dua, tent...
-
Esok ramadhan akan datang. Sudahkah jiwa kita siap menjamu setiap ketukan yang dihadiahkan kepada masing-masing dari kita? Belakangan in...









