Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Agustus 2023

Review Buku "Tempat Paling Liar di Muka Bumi"

“Ada banyak perbuatan yang sia-sia, melawan cinta itu sia-sia” (Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Hal: 79).

Sebuah buku yang sangat dan sangat romantis. Kumpulan puisi-puisi yang cocok sekali untuk sepasang kekasih yang sedang saling kasmaran. Tentang bagaimana mereka saling jatuh cinta dan mencintai dengan cara yang ajaib. Saling bersahut-sahutan, begitu manis dan menggoda.

Buku ini seperti sebuah diary dan bentuk komunikasi yang apik milik Theor dan Welly. Sepasang kekasih yang saling menceritakan tentang bagaimana rindu, jarak, dan cinta-cinta bermekaran dan tidak pernah padam. Juga tentang bagaimana untuk bisa saling menjadi tempat pulang. Gambaran perasaan yang apik tersaji dengan menggunakan simbol tubuh dan alam di Indonesia bagian timur. Begitu meriah, sampai-sampai deburan ombak, hutan, laut, pasir putih, laut, dan semua perkakasnya ikut menjadi saksinya.

Akhirnya, mari tersesat dalam puisi-puisi romantis ini. Mari saling melempar kata-kata cinta. Mari kita nikmati ini. Karena

“yang berdosa itu ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya”

 juga tentu saja

 “aku ingin menjadi tenang dan mencintaimu tanpa banyak kekhawatiran” (Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Hal: 61).

Senin, 28 November 2022

Review Buku "Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau"

Ini deadline buku bacaan pertama yang aku selesaikan sebagai pembuka tahun baru ini. Sengaja ngide begini karena sengaja mau nge-challenge diri sendiri biar rajin baca lagi. Haha.

Niatnya mau baca tiap pagi satu judul. Eh tapi ternyata aku lengah dan tiba-tiba nyampe di halaman terakhir. Baca buku ini bikin hati ketagihan berbunga-bunga.

"Katakan 'aku mencintaimu', agar tampangku kian menawan
sebab tanpa cintamu aku tidak bisa tampan
katakan 'aku mencintaimu' agar jemariku
menjelma emas dan keningku menjadi lentera
katakan 'aku mencintaimu', agar tuntas aku berubah menjadi gandum atau kurma
sekarang katakanlah, jangan ragu
beberapa cinta tak suka menunda"
(Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau, Hal : 72).
Itu seperti seseorang benar-benar memujaku. Seperti seseorang benar-benar punya cinta yang begitu besar untukku. Seperti itulah aku bersaksi tiada lelaki selain dia, selain dia, selain dia. Ya, tentu saja aku tidak sedang meracau.

Buku ini bukan novel, tapi kumpulan puisi karya penyair arab bernama "Nizar Qabbani" yang diterjemahkan "Musyfiqur Rahman". Judul aslinya adalah "Asyhadu An La Imraata Illa Anti". Di dalamnya tertulis teks bahasa arab asli lengkap dengan terjemahannya. Tiap lariknya mengistimewakan perempuan. Sajak demi sajaknya penuh cinta. Kalian tentu harus membaca ini wahai pecinta sastra romance.

Selamat membaca.

Jumat, 16 Oktober 2020

"Pukul 10 Malam"

/1/
Langit-langit kamar serasa berbintang
dipenuhi cahaya-cahaya temaram
yang menepi perlahan,
menuju tengah malam

Saatnya menjelma,
menjadi nona berwujud puisi
yang mahir, merajam rasa
menjadi bait-bait kata

/2/
Pertikaian baru saja dimulai
logika, nurani, dan
persimpangan jalan
yang memaksa berhenti ; hari-hari ku akhiri
dengan meniup lilin-lilin,
redup; kunikmati teguk demi teguk
syukur, tanda sebagai hamba yang terukur

/3/
Barangkali tak pernah ada sunyi,
barangkali sunyi hanya gemuruh
yang menjelma sebagai sosok-sosok
yang gagu
ayam-ayam sibuk menggembara,
katak-katak bersembunyi di balik cerita, dan
aku masih sibuk membaca mantra

"Jadilah esok lebih bahagia"

/4/
Denting jam terus berjalan
memikul rapuh rahasia tuannya
dalam, kubenamkan sejenak kata hatiku
yang berantakan
kutimang luka-luka tak berwujud itu
bergumam aku tak mampu,
berserah aku bertumbuh

"Tak ada yang tak baik-baik saja. Terimakasih cinta"

/5/
Kereta puisiku berhenti,
memungut puing-puing rumit
yang menggunung

Pulang,
pada dentingan detik terakhir
aku kembali ; melerai
tanda tanya dan realita

Terbukalah,
pintu-pintu maaf
dekaplah aku,
ruang kosong
yang kadang berair, dan
sering berapi

Aku ingin lelap
aku ingin selesai
sebagai puisi
yang tak lagi resah
.
.
(Kudus, Sep 21'20)

Sabtu, 01 Juni 2019

Aku dan Jiwa Pengelanaku

Picture by : Pinterest

Udara dingin menelisik diantara pori-pori kulit
Menggugah kehidupan di balik sehelai kain
Bulu kudukku menari-nari
Menikmati riuh hembusan angina

Kuncup sakura di luar bermekaran
Menyelimuti batang tubuhnya yang lama bertelanjang
Musim semi berkunjung
Sakura mekar merimbun

Sejuk mata ini memandang
Satu per satu berguguran
Menghiasi jalanan kehidupan
Berkedip dengan mesra
Melambai indah ke arah kedua mata
Aku diajaknya menari-nari di atas hamparan tubuh indahnya
Gairah hidupku kembali tergugah
Bergegas menyusuri terowongan kehidupan bernuansa sakura

Terhenti sejenak
Aku melanjutkan lamunan
Mungkin sampai lama
Hingga sakura layu berguguran
Terganti perlahan dengan daun-daun muda
Sakura pergi
Sakura hilang
Dan kemudian mati
Menyusuri satu putaran waktu kembali

Sampai jumpa rimbun sakura
Aku menantimu di ujung masa
Mengenangmu sementara
Diantara kerumunan aksara
Atau malah diantara gambar-gambar klise yang aku punya-

Oh sakura kekasihku
Pemilik warna muda cerah
Kembalilah
Gali jiwaku lagi
Ajak aku menari lagi
Sejenak melupakan diri sendiri
Sebagai pengelana di semesta ini
Temanilah
Temani diri ini mengukir banyak harapan
Guna menapaki tangga baru kehidupan

(Kudus, Mei 2019)

--------------------------

#Day27
#OneDayOnePost30HRDC 
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Jumat, 24 Mei 2019

Sajak Tungguku Untuk Bapak

Picture by: Pinterest

Menghitam kulit tubuhnya
Tapi tidak dengan uban di kepala
Keriput raut wajahnya hilang
Tersangga oleh seunting senyum
Harapannya membesar
Ditemani kopi hitam kesukaannya
Diseduhkan penuh cinta
Oleh orang yang pernah dan mungkin masih dicintainya
Batas senja
Adalah saksi setiap cerita kita

Bapak kembali
Menghambakan diri di sepanjang hari
Langkahnya telah berhenti
Kini dia kembali pada hati yang pernah dibuatnya mati

Tapi angin ribut datang menerpa
Membuat batinku terkoyak hebat
Aku ingin lari
Jauh
Sampai tak ada lagi yang ku temui
Aku ingin sendiri
Mencari sepasang tanya beserta jawab
Yang lama ku cari
Yang tak kunjung ku temui

Begitu sulit
Tapi biarlah
Biar tangis yang menjadi saksi
Biar air mata ini membasahi pipi
Biar semesta mengerti
Bahwa yang mati sulit hidup kembali
Bahwa meski sembuh menjadi ujung dari segala luka
Bekasnya tetap ada
Diakui atau tidak

Bimbang diri menerima
Tapi menolakpun tak sanggup ku jalani
Aku tidak ingin lagi
Ditinggalkan sendiri di jurang keterpurukan
Diduakan dengan hati yang tak pernah aku inginkan

Tapi aku siapa?
Aku bukan siapa-siapa
Hanya cucu hawa
Yang beruntung didekap nyawa hingga waktuku dewasa
Hanya seorang anak yang satu-satunya dipunyai Bapak
Ya aku adalah putri Bapakku
Dan Bapak akan selamamnya menjadi Bapak

Lelaki itu
Bentuk cinta tanpa bicaraku
Bekas luka abadi yg tertancap di dadaku
Sekaligus narasi cinta abadi di kehidupanku
Berdamai dengan takdir diri
Aku tak akan menghakimi lagi
Aku berhenti
Aku menyerah pada takdir diri
Berulang kali aku mengetuk
Berulang kali aku kembali
Berulang kali aku memohon
Berulang kalipun aku ditolak
Dan sampai pada ketukan ke berapa entah
Aku berhasil
Pintu hatiku terbuka
Aku menerima

Mungkin karena masih ada cinta
Dan mungkin ini adalah jalannya

Aku mencintai Bapak
Aku mencintaimu pahlawan hidupku
Engkaulah penanggung jawabku
Semoga surga Firdaus menjadi hadiah terbaikmu kelak

Bapak
Adalah satu terbaik yang ku miliki
Meski jarak membentang
Meski waktu dengan jahatnya memisahkan
Suaranya tetap menjadi sesuatu yang ku rindu
Kusut wajahnya tetap menjadi sesuatu yang ku tatap dari jauh
Nasehatnya tetap menjadi sesuatu yang ku tunggu

Kopi Bapak sudah dingin
Tapi Bapak masih saja menikmati seduhan
Mungkin ini cara Bapak menunggu masa-masa penghabisan
Hingga garis takdir benar membawanya benar menghilang

Seperti kopi
Seperti ini yang aku jalani
Menikmati dunia dalam cangkir kehidupan
Menunggu sebuah masa kepergian
Hingga aku, Bapak, atau orang-orang yang ku sayangi benar pergi menghilang

Seperti Bapak
Aku juga sedang menikmati kopi
Menikmati seduhannya di batas senja bersama Bapak
Enak
Mungkin karena ada Bapak disini
Kataku sambil menyeruput kopiku
Tapi sayang
Tidak ada pelukan
Hanya ditemani ocehan 
Ahh tapi tidak apa apa
Tetap manis

Bayang bayangku menerka


(Kudus, Mei 2019)

----------------------------------

#Day19
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Senin, 29 Oktober 2018

CERITA TENTANG GAGANG SAPU


Picture by : Google

AKU PUNYA NIAT TERSELUBUNG
Gagang sapu pernah melayang ke punggung
Gara-gara qira’ah mendengung, sedang aku asyik saja mengurung diri disalah satu ruangan sebuah gedung
Pura-pura saja aku tidur, padahal aku punya maksud terselubung
Seseorang di luar tempatku terdengar memanggilku dengan merdu, indah sekali seperti kidung
Suaranya khas, membuatku seketika menjadi murung
Tapi aku masih saja diam mematung
Tapi perlahan aku mulai terusik, mulai terbangun dan mulai merasa bingung

AKU MULAI TIDAK BAHAGIA
Pintu kamarku mulai terbuka
Terdengar harmonis penuh dengan estetika
Aku mulai menutup telinga
Mulai takut menerima murka
Suara langkah kaki itu terdengar mulai mendekat saja
Aku semakin kehilangan rasa bahagia
Segera saja ku mulai sandiwara
Naas saja semuanya menjadi malapetaka

AKU MERASAKAN SAKIT DI PUNGGUNG
Pria itu bilang aku harus mau berangkat ke perbatasan kampung
Katanya, biar aku bisa belajar jadi orang yang agung
Juga supaya menjadi orang yang beruntung
Tapi pikirku langit sedang mendung
Aku jadi malas bertarung dengan sampah jalanan yang mengapung
Tapi dia sama sekali tak menghiraukan alasan yang telah ku buat sampai menggunung
Pria itu mulai memposisikan tangannya di kayu bagian ujung
Kayu itu mulai melayang ke arakhku, tepat sekali di bagian punggung
Aku merasakan itu, aku dipentung
Dan bodohnya aku hanya bisa mematung
Hanya merengek sambil melindungi punggung
Ahh rasanya sakit sekali di punggung
Membuatku merasa seperti menerima hukuman pancung
Aku mencari tempat berlindung sambil menangis bersenandung
Bukan pop apalagi dangdut, hanya seperti mendendangkan tembang pocung
Bahkan wanita itu hanya diam termenung
Benar-benar tidak ada lagi tempatku bernaung
Apalagi sekedar menemukan orang yang bersedia mendengarku berteriak tulung

KARENAMU, AKU MENJADI PEMENANG ULUNG
Luka di punggung masih terlihat saja
Rapat tersimpan dalam balutan kaos lengan panjang berwarna biru tua
Sakitnya telah hilang entah kemana
Tinggal bekasnya yang enggan sirna
Sekarang aku sedang sibuk termenung
Ditemani seduhan kopi di sebuah warung
Juga seorang pria yang datang tanpa rasa canggung
Dengan membawa  tumis pedas berbahan dasar kangkung
Luka dipunggung telah membuatku beruntung
Selalu membuat merasa menang menjadi seorang petarung
Membuatku selalu ingin menjadi seorang pelindung
Kenal saja, akulah sang pemenang ulung

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....