Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri 1440 H. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri 1440 H. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2019

"Blora Mustika" Waktu Itu

Semalam binar bintang memancar menemani sinar rembulan yang menyerupai sebuah senyuman. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, lalu menggerakkan tanganku ke arah langit. Seperti akan meraih sesuatu. Dengan segala imaginasiku, aku raih bintang  dan bulan di atas sana. Perlahan aku mulai terpejam, dan kemudian mengucap banyak syukur dan juga doa. Semalam aku bahagia menatap wajah-wajah lama yang semakin renta. Yang hanya aku sapa setahun sekali, itupun kalau aku sempat. Bukan karena sombong. Hanya saja setelah berhasil sampai diumur segini, prioritas semakin bertambah dan waktu semakin terbatas.

Meskipun jalanan untuk sampai kepadanya tak serusak yang ku kira. Bahkan semakin parah, berliku, bergelombang, dan beberapa kali membuatku hampir terjatuh. Tapi belum jadi, peganganku terlalu erat. Meski beberapa kali lambaianku melayang ke bahu enang. Pembalap handal yang membawaku sampai ke tempat tujuan. Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa melimpahkan berkahnya kepada kita semua. Semoga Allah memberikan kami kesempatan untuk bisa kembali pulang ke tempat berdebu ini. Secepatnya dan dengan keadaan sebaik-baiknya. Setidaknya sebagai obat untuk menawar tebaran rindu-rindu yang telah lama tersimpan.

Dapur
Seharian kemarin aku seperti orang linglung. Merasa lapar tapi enggan makan. Merasa ngantuk tapi enggan tidur. Apalagi? Entah. Lupa. Terlalu banyak. Membaca buku berakhir ngantuk. Menikmati gerah tapi terus-terusan sambat. Ngupil jagung, jempol tangan kesakitan. Memasak sayur bayam juga menggoreng bumbu untuk sambal. Padahal di rumah boro-boro. Padahal disini banyak asap karena bahan bakarnya masih memakai kayu. Sebenarnya embah sempat punya kompor gas. Tapi karena takut gasnya meledak, embah memberikannya begitu saja ke orang lain. Ya, akhirnya begini. Setiap keluar dari dapur jadi mendadak kumel dan bau asap. Baiklah tidak apa-apa. Mau tidak mau, semua aku lakukan. Saking bingungnya diri karena tidak tahu harus melakukan apa.

Kemarin sekitar setengah 6 pagi, aku sekeluarga berangkat mudik ke Blora. Aku boncengan dengan enang dan mamak berdua bersama bapak. Jalanan begitu lengang. Tapi karena kondisi jalan yang tidak cukup baik, aku jadi berulang kali mengeryitkan dahi sebagai cara menunjukkan keterkejutanku. Bapak dan enang tidak pernah naik motor pelan, kecuali pas macet. Dan alhamdulillah, itu hanya sebentar ketika melewati semacam pasar tumpah. Mereka hampir tidak mau peduli bagaimana nasib kami yang dibonceng di belakang.

"Nang Nang Nang Nang Nang" kataku

Aku mendadak menjadi cerewet ketika jadi penumpang. Lebih banyak khawatirnya daripada nyetir sendiri. Apalagi dengan kondisi jalanan yang kelihatannya bagus tapi ternyata begelombang. Aku bahkan memegang pundak adikku dengan sangat erat di sepanjang jalan. Begitu juga mamak. Tapi meskipun begitu, kami tetap saling menertawakan.

"Mak, duduk di tepi amat mak?" kataku

"Lhah mamak kan bawa tas ndok. Malah bapakmu ga pernah mau pelan. Mamak hampir jatuh tadi" kata mamak

"Pelan-pelan nggak cepet nyampe kali mak" kata enang

"Nah, bener tuh" kata bapak

Lumayanlah untuk hiburan. Sekedar melupakan lelah akibat perjalanan. Kami sampai dalam kurun waktu kurang lebih 2,5 jam. Lebih cepat setengah jam dari perjalanan yang ku tempuh ketika menyetir sendiri. Dahsyat memang, tapi ya bersyukur bisa lebih sampai ke tempat embah.

Halaman Depan Rumah
Rumah embah ada di pelosok kampung. Pengkol nama kampungnya, Bacem nama kelurahannya, dan Banjarejo nama kecamatannya. Butuh hampir 1 jam untuk sampai ke pusat kota dengan kecepatan yang minim karena kondisi jalan yang rusak. Aku hampir tidak kemana-mana setiap disana, kecuali ke rumah saudara mamak. Aku malas melewati jalanan yang rusak. Melelahkan.

Rumah-rumah warga disana kebanyakan tidak menggunakan tumpukan batu bata seperti di derah rumahku. Katanya disini struktur tanahnya bergerak, jadi kalau mendirikan rumah dengan batu bata terlalu beresiko. Tapi jangan salah, sebenarnya warga-warga disini kaya raya. Tanahnya, ternaknya banyak. Ah tapi aku tetap enggan tinggal disini.

Selain debu, keminiman air, panas yang menyengat, banyak nyamuk, jalanan yang rusak, dan jaringan internet yang susah. Disini juga tidak ada toilet. Perlu ke sungai atau ke tempat pembuangan hajat umum jika perut mendadak melilit. Ah pokoknya hidup disini serba susah. Bersyukur sekali aku tidak dibesarkan disini. Cukup numpang lahir saja. Haha

Tapi aku suka disini. Setelah sampai disini maksudku, tapi tetap saja enggan dengan perjalanannya. Kata mamak, disini aku dilahirkan. Diurus mamak dan embah sampai akhirnya aku pindah ke tempat tinggalku yang sekarang ini. Tetangga embah yang notabennya tetangga dan teman kecil mamak, bergantian mendatangi kami ketika kami tiba. Ada yang menanyakan kabar, membandingkan warna rambut juga kehidupan, menanyakan aku enang dan juga bapak, atau sekedar menikmati jajanan yang dibawa mamak dari rumah sambil lanjut ngomongin ini itu. Embah juga sering menanyakan ini itu kepadaku. Tapi kadang aku sedih, ada beberapa bahasa yang aku tidak mengerti. Apalagi kalau sedang tidak ada mamak atau bapak. Menjawab "iya" menjadi jawaban teraman daripada berkata tidak tahu. Jangan ditiru, nanti kamu jadi terus begitu.

Dan waktu berjalan begitu cepat. Sekarang aku sudah di rumah. Menonton TV dan menikmati sosial media yang aku punyai. Aku juga sudah mandi dan berdua dengan toilet di kamar mandi. Masker wajah sudah terpasang dan aku sedang ingin tidur. Terlalu lama terpapar sinar matahari dan terbasuh debu membuat kulit wajahku kusam. Sekalian untuk membayar jam tidur yang lumayan kacau malam tadi. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Salam Literasi.

Selasa, 04 Juni 2019

The Goal of 30 Days Writing Challenge

Selamat pagi semesta dan apa saja yang mendiaminya.

Alhamdulillah ramadhan sudah sampai di penghujung. Hari ini adalah puasa terakhir di tahun ini. Semoga apa yang telah terbangun selama ini bisa bertahan dan bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di ramadhan tahun depan dengan keadaan yang lebih baik lagi.

Picture by : Google
Berakhirnya ramadhan menandakan berakhirnya juga 30 Days Writing Challenge yang aku ikuti. Alhamdulillah genap 30 hari aku menulis dan menghidupkan kembali blog milikku yang tatanannya masih apa adanya. Memegang komitmen tidaklah mudah. Berulang kali malas menghampiri dan hampir membuatku lari dari ini. Tapi tidak jadi, aku kembali dan memutar pikiranku lagi. Berulang kali juga pikiran rasanya ingin mati, buntu, dan tidak ada ide sama sekali. Padahal sebenarnya kalau aku mau membuka mata lebih jauh, ada banyak sekali hal yang bisa aku jadikan bahan cerita.

Ini adalah tantangan. Sebenarnya aku sering mengikuti event-event seperti ini. Tapi bukan ngeblog, melainkan menulis cerpen dan berpuisi. Tidak selalu menang memang, tapi minimal dengan mengikuti ini aku bisa melatih diri untuk lebih percaya diri dan memegang komitmen diri. Beberapa kali juga, hasil postinganku di instagram berhasil kena repost. Rasanya senang sekali, tulisanku jadi lebih banyak yang menikmati.

Dipertemukan dengan event ini, membuatku merasakan banyak hal. Aku bertemu dengan penggiat-penggiat literasi yang hampir setiap hari saling belajar dan memotivasi satu sama lain. Banyak hal yang aku kagumi dari mereka, apalagi kaum mamak-mamak muda. Sudah sibuk dengan rumah tangga, tapi tetap saja bisa berkarya. Masyaallah, semoga Allah kasih keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah, Wal Barakah untuk mereka semua.

Postingan teman-teman juga bagus-bagus. Kadang aku merasa minder karena hasil tulisanku yang masih amatiran. Selain bahasannya yang sudah terlalu umum, kata-kata yang aku gunakan juga masih tergolong rumit. Kadang aku juga ketakutan, kalau-kalau yang membaca tulisanku malah kebingungan setelah membaca tulisanku. Tapi bismillah , aku niatkan ini untuk belajar. Semoga bisa membawa berkah untuk kita semua ya.

Yang paling terpenting adalah kemampuan untuk bisa menyelesaikan komitmen menulis di event ini. Ramadhan ini begitu berkesan untukku. Menjelang tidur mulai menulis. Subuh lanjut lagi. Kadang malah juga rebutan dengan kerjaan kantor. Saking nggak bisa mikir tuh haha.
Kadang pas lagi nulis, baru beberapa baris ada yang manggil. Entah mamak, entah orang-orang kantor, atau malah panggilan via ponsel. Ada saja yang mengganggu dan membuat ide jadi buyar dan berakhir hilang. Akhirnya setelah kembali dari tugas, mau tidak mau harus membaca ulang tulisan yang sudah ada kemudian berpikir ulang setelahnya. Ini benar-benar melelahkan.

Menulis juga sangat membutuhkan kesabaran. Karena sabar akan membawa kepada ketenangan dan tenang akan membawa kepada pikiran yang jernih. Dengan pikiran yang seperti ini, maka menulis akan jadi lebih mudah. Sedikit tips dari seorang amatir. Hehe

Terimakasih juga untuk mbak Yusnia. Perantara Allah yang diutus untuk membuka event ini. Kunjungi saja yusniaagussaputri.blogspot.com dan kenali beliau lebih dalam. Kapan-kapan minta diadain lagi event seperti ya mbak. Biar aku bisa sering-sering belajar memaksa diri. Hehe

Tak lupa juga aku sampaikan maaf kepada para pembaca dan semua anggota WA grup "Writing Challenge #HRDC" untuk kesalahan yang sengaja atau tidak sengaja aku lakukan. Sampai jumpa dievent selanjutnya. Jangan lepas meski waktu telah menemui batas.

Desain by : Canva
Salam Literasi.

#Day30
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....