Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2023

Review Novel "Please Look After Mom"

"Menurut Anda, apakah ibu Anda bahagia?" (Please Look After Mom, Hal: 78).

Siapa yang tahu berapa kali kita telah menghancurkan hati ibu? Siapa yang hari ini sudah memeluk ibu? Siapa yang hari ini sudah bilang "aku sayang kepadamu ibu"? Siapa yang benar-benar tahu tentang rahasia-rahasia ibu? Siapa yang sudah benar-benar mengenal ibu?

Dan begitulah novel ini mengajak kita untuk selalu tertarik kepada seorang ibu. Seorang ibu yang bukan hanya menjadi seorang ibu. Tapi juga seorang ibu yang juga masih kecil, ibu yang juga menjadi manusia pemula, ibu yang juga menua bersama kita, juga ibu yang tetap menjalani hidup, menahan sekian banyak keinginannya, menyerah terhadap mimpinya, dan menyerahkan keseluruhan hidupnya kepada suami dan anak-anaknya.

Novel ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang kehilangan seorang ibu di sebuah stasiun di Seoul. Si ibu yang sedang bepergian dengan suaminya dan entah bagaimana terpisah begitu saja dikeramaian. Suami dan anak-anak si ibu mencarinya sambil merefleksikan hubungan mereka dengan si ibu. Mereka hanya begitu, tidak tahu apa-apa tentang si ibu yang telah membersamai mereka. 

"Bukankah menyenangkan tinggal di rumah yg di dalamnya banyak tempat bersembunyi untuk anak-anak?" (Please Look After Mom, Hal: 206).

Begitulah seorang ibu. Dia selalu saja tidak bisa membaca dirinya sendiri dan menjadikan anak-anaknya mengerti tentang itu. Dia hanya tetap bekerja keras sampai akhir untuk anak-anaknya supaya menjadi nyaman dan cukup. Dia hanya tetap menjadi yang selalu ada.

Memang agak bingung membaca novel ini. Alurnya maju mundur dan sudut pandangnya campuran. Agak bingung membayangkan akan menjadi siapa aku di setiap pergantian bab nya. Tapi aku berhasil memahami setelah membacanya lebih jauh lagi. Aku telah tidak sengaja menyelami hampir dua puluh tujuh tahun kisahku bersama ibuku. Bahwa sedikit banyak aku telah mengambil sesuatu dari hidupnya. Bahwa aku selalu membutuhkan ibu. Bahwa aku juga sangat ingin memeluknya dan membisikkan kepadanya "aku sayang kepadamu ibu". Semoga hari itu akan datang. Semoga aku bisa selalu menjadi anak yg baik untuk ibu.


Terimakasih sudah melakukan banyak hal untukku ibu.

Senin, 28 November 2022

Review Buku "Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau"

Ini deadline buku bacaan pertama yang aku selesaikan sebagai pembuka tahun baru ini. Sengaja ngide begini karena sengaja mau nge-challenge diri sendiri biar rajin baca lagi. Haha.

Niatnya mau baca tiap pagi satu judul. Eh tapi ternyata aku lengah dan tiba-tiba nyampe di halaman terakhir. Baca buku ini bikin hati ketagihan berbunga-bunga.

"Katakan 'aku mencintaimu', agar tampangku kian menawan
sebab tanpa cintamu aku tidak bisa tampan
katakan 'aku mencintaimu' agar jemariku
menjelma emas dan keningku menjadi lentera
katakan 'aku mencintaimu', agar tuntas aku berubah menjadi gandum atau kurma
sekarang katakanlah, jangan ragu
beberapa cinta tak suka menunda"
(Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau, Hal : 72).
Itu seperti seseorang benar-benar memujaku. Seperti seseorang benar-benar punya cinta yang begitu besar untukku. Seperti itulah aku bersaksi tiada lelaki selain dia, selain dia, selain dia. Ya, tentu saja aku tidak sedang meracau.

Buku ini bukan novel, tapi kumpulan puisi karya penyair arab bernama "Nizar Qabbani" yang diterjemahkan "Musyfiqur Rahman". Judul aslinya adalah "Asyhadu An La Imraata Illa Anti". Di dalamnya tertulis teks bahasa arab asli lengkap dengan terjemahannya. Tiap lariknya mengistimewakan perempuan. Sajak demi sajaknya penuh cinta. Kalian tentu harus membaca ini wahai pecinta sastra romance.

Selamat membaca.

Jumat, 18 November 2022

Review Buku "Seribu Kisah, Sebuah Kasih"

"Mencintai dan dicintai adalah kesedihan yang sama...Kita mencintai bukan sekedar untuk dicintai-kita mencintai oleh sebab kita ingin dan sanggup untuk mencintai orang tersebut.... Meskipun tidak melulu hal indah yang datang, semoga kita bisa kerap jatuh cinta, berulang-ulang.... (Seribu Kisah, Sebuah Kasih, Hal: 136).

Ini adalah halaman favoritku. Halaman pembuka bagian akhir dari buku ini. Buku yang berisi banyak cerita pendek tentang hubungan antar manusia. Buku yang menyimpan banyak kisah cinta. Yang diam-diam, yang terang-terangan, yang hati-hati, yang sembrono, yang tidak sengaja, yang bertepuk sebelah tangan, yang tidak menyadari, yang bahagia, yang tidak bahagia, yang diantara itu semua, aku tidak peduli bagaimana. Karena perjalanan-perjalanan telah banyak tertulis juga terbaca, dan aku telah berhasil menjadi salah satunya. Ah senangnya menjadi manusia. Agak aneh, tapi aku menikmatinya. Ya meskipun itu berjalan sedikit demi sedikit.

Hubungan antar manusia memang tidak ada yang pasti. Tidak akan ada rumusnya. Tidak juga bisa diterka-terka. Kalau endingnya bahagia, ya selamat. Kalau ternyata tidak, ya selamat juga. Setidaknya semuanya pernah ada, bahkan dititik dimana orang lain tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Kita semua sudah sama-sama tahu, baik saja tidak cukup untuk menjadikan sesuatu jadi pas. Dan begitulah hari-hari berjalan. Selalu mengalir ke segala arah. Kita hanya perlu tahu bagaimana arah arusnya, juga bagaimana cara menikmatinya.

Megah bukan?

Rabu, 12 Juni 2019

Walau Jauh, Tentangmu Tetap Menjadi Seluruh

Siang ini aku memandang langit, berbicara kepada awan, dan kemudian menceritakan apa saja tentangnya. Tapi aku tak berbicara, hanya menggerutu di dalam hati saja. Lelaki itu. Ah kenapa enggan pergi dari ingatanku? Padahal jelas-jelas, jarak sudah begitu jauh memisahkan kami. Dia sudah lama pergi. Maksudku kami sama-sama pergi sesuai dengan garis takdir yang kami miliki. Entah akan bertemu atau tidak, aku sudah cukup senang akhirnya ilmu yang belakangan membuat kami didera kebingungan akhirnya sampai kepada hasil yang kami mau. Tapi ternyata tidak sepenuhnya begitu. Aku malah berada diantaranya. Bahagia sekaligus merana.

"Duhai hati,
kenapa semudah ini berbolak-balik si?"

Sebenarnya aku tidak suka perpisahan. Akhir yang kebanyakan menyedihkan. Termasuk dengan apa yang masih bergemuruh di ruang pikirku ini. Tentang apa saja yang sangat ingin ku sampaikan kepadanya, tapi belum jadi suka sampai sekarang. 

Tidak ada yang tahu tentang ini. Kecuali aku, Allah dan doa-doa yang berlarian kearahnya. Sampai sekarang, aku masih berhasil bersembunyi di balik kata yang sengaja tak banyak ku sampaikan. Aku berhasil berlarian di antara lorong-lorong ruang kagumku kepadanya. Aku berhasil menatap dengan lembut ke arahnya dari dekat di antara riuh keramaian yang ada. Aku berhasil menyayanginya dengan caraku dan tanpa dia atau orang lain mengetahui itu. Aku berhasil bertahan dalam diamku. Tapi aku belum berhasil berdiri dihadapannya dan kemudian mengatakan "Aku Menyayangimu Sejak dari Dulu".

Dan jari-jariku tiba-tiba bergetar setelahnya. Jantungku berdegup semakin kencang. Tepat setelah menuliskan itu. Setelah 5 kata di akhir paragraf kedua itu bisa terbaca. Senyumku mengembang dengan sendirinya. Aku ingin lari. Jauh. Sampai benar-benar tak ada yang tahu keberadaanku. Rasanya aku malu membayangkan kalimat itu benar-benar terucap dari bibirku. Ah apa? Aku bukan tipikal orang yang berani melakukan hal-hal semacam itu. Sejak dari dulu. Bahkan sejak aku mulai berani mengagumi orang-orang sebelum dia. Tapi aku bisa jadi berani, kalau dalam keadaan terpaksa. Ah tapi jangan sampai, aku berharap dia saja yang datang kepadaku dan aku hanya tinggal menjawab "Ya". Menyenangkan (mungkin).

"Cupu banget si ven. Bilang gitu aja nggak punya nyali" kataku menghujat diriku sendiri.

Baiklah, terserah. Bahkan kalau kau tak setuju dengan apa yang sudah sejak lama ku lakukan, aku terima dengan lapang dada. Aku belum  memiliki cukup nyali untuk bisa melakukan ini. Aku tidak terlalu berani mengambil resiko. Aku takut patah hati, takut kecewa dan menyesal di kemudian hari. Tapi apapun itu, aku berharap gayungku ini akan bersambut. Semoga Allah segera memberikan jawaban atas ini semua.

Lama tak bertemu, tak membuat ingatanku menjadi lumpuh. Bahkan setiap hal yang ada padanya tak pernah hilang meski sudah lama dia tak ada dihadapan. Meskipun aku hanya menyaksikan ini itu di diri orang lain. Rasanya, lagi-lagi aku ingin berlari jauh sampai ke tempat yang bisa membantuku untuk bisa melupakan semua ini. Tapi semakin menjauh, aku semakin merasa tak mampu. Pandangan pertama itu, membekas dan enggan pergi. Apakah ini yang orang-orang katakan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama?

Baiklah. Apapun itu, biarkan saja. Biar aku lanjutkan kagumku ini. Toh jika ini jalannya, Allah akan memudahkan semuanya. Tapi jika ternyata tidak, Allah bakal kasih yang lebih baik daripada dia bukan? Ya, ini memang cara terapik untuk menenangkan diri.

Semenjak wisuda berakhir, komunikasi kami menjadi berakhir. Oh bukan, maksudku kami hanya bertanya seperlunya saja. Ah tapi daridulu juga begini. Iya benar, aku dan dia hanya bicara seperlunya saja. Pernah beberapa kali bercanda, tapi bareng-bareng sama yang lain. Padahal aku ingin hanya berdua saja. Tapi belum sampai terjadi, jarak sudah lebih dulu membentang. Sekarang aku dan dia sudah tidak ada kepentingan, jadi komunikasi kami sangat minim. Tapi tidak begitu menjadi masalah. Aku tetap bisa mendengar kabarnya lewat cerita orang-orang, atau lewat update media sosialnya, atau bahkan lewat mimpi yang berkisah di tidurku semalaman. Aku juga tetap bisa menikmati suara indahnya lewat rekaman lantunan ayat Allah yang sengaja aku jadikan alarm tiap tengah malam. Aku juga tetap bisa memandangnya lewat foto-foto lama yang aku punyai. Dan aku tetap bisa memutar kisah-kisah lama yang masih jelas sekali di ingatan.

Terlalu banyak hal yang bahkan aku sendiri masih enggan melupakan ini. Terlalu indah dan sayang untuk dibiarkan begitu saja. Pernah waktu itu hujan. Kami sedang dalam perjalanan pulang dan kebetulan berboncengan. Kau tahu? Entah bagaimana awalnya, tapi aku merasa senang sekali. Rintik hujan waktu itu menjadi saksinya. Aku mengatakan banyak hal ke diri sendiri. Tapi aku tetap diam, meminimalisir perkataan seperti biasa. Jalanan yang kami lewati berkelok dan agak licin karena terkena hujan. Tapi dia asyik sekali dengan kaca spion. Orang ini memang fanatik sekali dengan kaca. Di jalanan, di ruangan, di mall, di rumah siapa entah, pokoknya dimana saja. Sukanya membenarkan ujung rambut, atau sekedar memandang wajahnya sendiri, atau mungkin dia bermaksud lain. Ahh aku  bahkan belum semapt menanyakan ini benar-benar kepadanya. Saking senangnya (hehe). Jarang sekali aku bisa mendapatkan hal semenyenangkan ini. Biar saja, tapi aku ketakutan. Takut dia hilang kendali dan kemudian kami sama-sama terjatuh dan merepotkan semua rombongan.

"Bisa enggak, enggak ngaca tiap lihat kaca?" kataku

"Bisa enggak, enggak merhatiin aku terus?" katanya membalik

Aku diam, tapi menahan senyum. Baper si, tapi aku nggak cerita sama siapa-siapa. Biar, biar cuma dikatain baper diri sendiri. Biar nggak malu-maluin. Wkwkwk

Terakhir, aku dengar dia pindah tugas ke luar pulau. Kata teman-temanku deket si, tapi naik pesawat. Bisa banget emang mereka memangkas jarak. Tapi apapun itu, semoga Allah kasih yang terbaik buat kita semua. Semoga Allah jagain Mamak Bapak kita ketika kita lagi nggak sama mereka. Semoga Allah memberikan berkah, nikmat, rahmat, hidayah, dan inayah-Nya untuk kita semua. Semoga Allah kasih kita kesempatan untuk bisa bersilaturrahmi kembali dengan keadaan yang tertunya lebih baik lagi. Terlepas dari akan berakhir bersama atau tidak, biarkan cerita ini tetap ku rangkum menjadi beberapa paragraf yang mengisahkan bagaimana aku kepadanya. 

Sebenarnya tentangnya sudah banyak ku sampaikan. Lewat sajak-sajak yang terangkai menjadi puisi. Lewat cerita pendek yang ku posting di media sosialku. Atau lewat doa yang banyak kupanjatkan. Sering juga ku ikutkan lomba. Pernah sesekali menang. Aku senang sekali. Setidaknya kekagumanku ini tidak berakhir sia-sia. Meskipun belum benar-benar sampai kepadanya.

Tapi biarkan waktu menjawabnya. Aku sudah lama berhenti memperhatikannya. Tidak sepenuhnya berhasil, tapi aku tetap berusaha. Aku ingin menjadi seperti Fatimah yang mencintai Ali dalam diam, yang kemudian semua doa-doanya terjawab dan berhasil menuju kepada orang yang dituju dalam doanya. Aku ingin seperti Aisyah yang muncul 3 kali dimimpi Rasulullah dan kemudian dipersunting menjadi seorang istri. Tapi kalau Allah mengijinkan, aku tak menolak jika menjadi seperti Khadijah yang malah menyatakan perasaannya lebih dulu kepada Rasulullah.

Sebenarnya dari awal aku memang tidak banyak mencari tahu tentangnya. Aku juga tidak tahu hobbynya (selain fanatik dengan kaca), aku tidak tahu siapa teman baiknya, aku tidak tahu apa-apa yang disukainya, aku tidak tahu apa cita-citanya, aku tidak tahu apa yang menjadi masalahnya, pokoknya aku tidak banyak tahu tentangnya. Aku hanya tahu sedikit. Aneh kadang rasanya. Kebanyakan orang-orang yang menyukai seseorang selalu mencari tahu ini itu tentang orang yang disukainya. Tapi aku? Tidak. Nanti juga tahu sendiri. Yang penting, pas lihat dia rasanya tenang. Wehehehe

Tapi aku tak ingin berangan terlalu jauh. Aku cukup sadar diri dengan banyak kekurangan yang aku miliki. Aku takut terjatuh dan menelan banyak kecewa. Ya meskipun sebenarnya aku ingin sekali dia tahu. Tapi bukankah sebaik-baiknya harapan hanya kepada Allah?

Yash, that's right. Sekarang, aku hanya perlu menjadi lebih baik. Doakan aku teman-teman. Semoga yang terbaik selalu memeluk diri ini. Semoga doa kalian melangit dan berbalik ke kalian semua.

Salam Literasi,


Veni Veronika 

Senin, 03 Juni 2019

Fenomena Nikah Muda

Waktu terlalu cepat berlalu. Tiba-tiba saja sudah sampai ke kepala dua. Syukur terpanjat begitu syahdu kepada Allah Yang Maha Segalanya.

Tapi sepanjang waktu berjalan, aku mulai bosan dengan apa yang ada. Oh, bukan bosan maksudku. Lebih kepada ingin rehat sejenak kemudian memikirkan sesuatu yang lain. Tentang cara menjadi penulis yang sukses misal, atau bagaimana bisa menjadi hamba Allah yang benar-benar dicintai-Nya. Tapi sepertinya sulit. Bisa terlaksana (mungkin), tapi hanya sebentar. Berulang kali ku coba, selalu saja ku jumpai persimpangan di pertengahan jalan.

"Fenomena Nikah Muda" memang begitu dahsyat menggelitik. Apalagi diusia-usia rawan sepertiku ini. Bertemu dengan si A, bahas apa tiba-tiba sampai urusan nikah. Bertemu dengan si D, bahas apa tiba-tiba sampai urusan nikah. Bertemu siapa lagi selalu saja sampai urusan nikah. Nikah lagi, nikah lagi, nikah lagi. Sepertinya hanya mamak dan bapakku yang tak pernah menanyakan ini. Tapi tetap saja, mereka sering memasang kode pengen cepet-cepet punya mantu.

Bukan aku bosan, bukan aku ingin lari. Untuk apa juga lari, toh aku akan sampai di tahap ini. Mau sejauh apapun aku lari dan sepandai apapun aku bersembunyi, waktu tak akan bisa menahanku. Garis takdir tetap akan sampai kepada yang ditujunya bukan?

Hanya saja aku bingung, kenapa banyak orang begitu senang membicarakan ini. Padahal tidak semua merasakan hal yang sama. Bukankah setiap orang memiliki jatah hidup masing-masing? Kenapa mereka menuntut hal yang sama dengan yang sama? Oke bukan menuntut. Tapi dengan pertanyaan yang selalu sama, itu akan menjadi hal yang sangat memojokkan. Akhirnya, akan berakhir dengan rasa tertuntut juga bukan? Ya memang tidak semua orang seperti ini. Beruntung saja bagi mereka yang teguh hatinya dan tetap menganggap hal itu menjadi hal yang biasa.

Tapi bukankah lebih baik diam dan mendoakan yang terbaik? Atau membantu mencarikan calon yang sesuai dengan kriteria mungkin? Atau apalah yang lebih bisa menjaga hati yang lumayan rapuh ini. Halah bicara apa aku? Aku juga sering tanya ini itu. Tapi tidak melulu soal bab nikah. Beberapa kali aku bertanya, untuk melegakan hatiku sendiri. Aku ingin tahu bagaiman jalanan panjang yang telah mereka lalui sampai bisa mencapai titik yang menurutku tergolong bahagia. Tapi ternyata jawabnya berbeda. Ada banyak sekali liku jalan yang harus mereka lalui. Memang tidak seharusnya aku berfikir seperti itu.

Menikah tidak semudah yang orang-orang bicarakan. Apalagi bagi aku atau orang yang senasib denganku. Yang hangat dipeluk trauma akibat masa lalu kedua orang tuanya. Selalu ada rasa takut yang membayang, meski berulang kali mencoba mengusirnya jauh dari pikiran. Aku percaya tidak semua orang bernasib sama seperti mereka. Aku percaya setiap orang memiliki daya uji masing-masing. Aku percaya Allah selalu menyediakan yang terbaik untuk hamba-Nya. Tapi sebagai manusia biasa, aku juga memiliki hak untuk merasa takut atas ini.

Kemarin aku baru saja selesai membaca buku pemberian dari saudara jauhku. Katanya buku tentang "nikah" ini adalah hadiah ulang tahunku dan sekaligus menjadi bekal untukku supaya lebih bisa mempersiapkan diri menuju itu. Senang bukan main aku menerimanya. Selesai ku baca, aku ingin membagi isinya kepada teman-teman ku.

Waktu itu sore hari. Aku dan teman-temanku pergi makan bersama. Kami menuju ke tempat makan favorit kami di tengah kota. Sampai disana kami menuju ke meja kosong dekat wastafel sebelah utara cafe. Kami duduk disana, memesan makanan, kemudian kami makan sambil bercerita ini itu. Seru, sampai hampir lupa waktu.

"Katanya mau cerita pen?" kata Annisa

"Enggak jadi deh" kataku

"Cerita apa si? Buru napa, kita dengerin kok bong" kata Mayang

Sebenarnya aku tak ingin menceritakan ini. Aku takut berakhir dengan debat yang kita sendiri belum mengerti benar ilmu yang sesungguhnya. Tapi daripada aku memendam pikiranku sendiri, aku pikir berbagi lebih baik. Kemungkinan mendapatkan pandangan dari sudut pandang lebih luas, selain dari pemikiranku sendiri dan juga dari buku yang sudah ku baca tentunya.

Aku menceritakan bagaimana cara mempersiapkan diri sebelum menikah, juga bagaimana tahapan yang dilalui sampai ditahap pernikahan. Kebetulan buku yang ku baca membahas bab pra nikah dari sudut pandang islami yaitu lewat tahapan taaruf.

Mereka mendengarkanku bercerita sampai selesai. Mereka menyampaikan pendapatnya menurut apa yang mereka rasakan. Aku menghargai, sama sekali tak menganggap apa yang mereka sampaikan benar atau salah. Begitupun dengan apa yang aku sampaikan. Kita sama-sama menyimak dan menimbang sendiri mana yang kami anggap baik.

Ada yang menganggap pendekatan itu penting sebelum akhirnya menikah. Menentukan pendamping seumur hidup harus melalui proses mengenal diri pasangan. Kesehariannya, keluarganya, dan apapun yang berhubungan dengan pasangannya.

Ada juga yang menganggap taaruf itu lebih baik. Aku termasuk di dalamnya. Kita tidak perlu membuang waktu untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang yang belum tentu membersamai kita menjadi pasangan hidup. Selain itu, taaruf menjauhkan kita dari hal-hal yang dilarang Allah. Tidak aku jelaskan disini satu-satu ya. Aku pikir, sebagian dari kalian sudah mengerti.

Aku pernah beberapa kali bertanya kepada ibu-ibu kantor, tetangga, juga teman-temanku yang sudah menikah. Masyaallah, ternyata sebagian dari mereka yang ku tanyai melalui proses pernikahannya dengan tanpa pacaran. Ada yang semula teman lama kemudian beberapa tahun kemudian datang melamar. Ada yang cuma kenal sebentar langsung di lamar. Dan masih banyak lagi kisah kisah yang serupa dengan itu. Allahuakbar, begitu besar kuasa Allah. Begitu mudahnya dia menjatuhkan hati 2 insan manusia yang bahkan sebelumnya belum pernah saling kenal. Sering sekali aku membayangkan kehidupan setelah menikah tanpa pacaran. Memulai semua dari awal. Mengenal semua dari awal dan kemudian saling mencintai karena Allah. Saling canggung untuk akhirnya saling terbiasa. Menyenangkan sekali semestinya.

Tapi aku tak melulu memikirkan sesuatu yang bahagia. Di dalam rumah tangga pasti akan ada satu, dua, atau sekian kali permasalahan yang tentu akan menguji daya kuat diri. Ini salah satu yang harus kita persiapkan. Kadang permasalahan materi bisa teratasi, tapi susah dengan hati. Hati itu mudah berbolak-balik. Tidak ada yang bisa memastikan bagaimana akhirnya. Yang harus dipersiapkan adalah mental dan penerimaan. Ini susah, belajarnya harus seumur hidup. Semoga kita semua dimanapun, kapanpun, dengan keadaan apapun sama-sama dimampukan Allah untuk bisa melewati garis takdir-Nya yang telah ditetapkan-Nya untuk kita semua. Semoga kita sama-sama didekatkan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat-Nya.

Jangan merisaukan apapun. Nanti kalau sudah sampai waktunya, kita akan dipertemukan dengan pasangan terbaik yang Allah pilihkan untuk kita. Jangan lupa membenahi diri juga memantaskan diri karena Allah. Karena Allah ya, bukan karena jodoh. Ingat ingat. Hehe
Pun jangan melulu mempertanyakan kapan seseorang akan menikah. Nanti kalau sudah waktunya, akan ada undangan sampai ke rumah kalian masing-masing kok. Ya kan?

Salam Literasi.

---------------------

#Day 29
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Senin, 27 Mei 2019

Orang Tua dan Kepandaian Anak

Picture by : Pinterest
Pikiranku masih belum sepenuhnya terbebas. Aku masih saja menimbang satu per satu kata yang keluar dari mulutku sore tadi. Aku takut menyinggung mamak. Hampir saja aku salah mengucap, semoga mamak tetap berpikiran positif terhadapku.

"Dek Arin semalem dapet duit dari Pak Yai tha ndok?"

"Iyo mak. Hafalane pinter banget. Masyaallah"

"Owalah gimana ceritanya ndok?"

"Pak Yai nawarin bakal ngasih Rp 50.000,- ke anak-anak kecil yang berani ngafalin surat Al-Alaq. Aku mau maju sebenere, tapi udah terlanjur sadar umur. Haha"

"Wkwkwk. Terus ndok?"

"Terus Dek Arin maju, ngafalin, dapet duit deh"

"Mantep emang"

"Bapak ibuk e juga joss semua sih ya mak. Bapaknya dokter, ibunya bidan. Pantes nurun ke anaknya"

"Hubungane apa ndok?"

"Gen orang tua kan berpengaruh ke anak-anaknya mak"

"Lhah mamak ga pinter. Terus kamu berarti turunane siapa?"

Aku diam. Mengulang kembali perkataanku di dalam hati. Lalu aku linglung. Bingung harus menjawab pertanyaan mamak dengan kalimat apa. Sebenarnya aku merasa biasa saja. Tidak begitu pintar dan tidak juga sebaliknya. Bahkan aku merasa harus lebih belajar lagi tentang ilmu kehidupan. Tapi bagi mamak dan beberapa orang tidak. Dihadapan mereka aku dianggap beruntung memiliki kualitas berpikir yang cukup baik. Aku bersyukur atas ini. Tapi juga berulang kali berfikir bahwa aku tak sebaik yang mereka pikir.

"Ya beda kasus tha mak" jawabku sambil terus berfikir

"Beda gimana?" kata mamak memojokkanku

"Mamak pinter kok"

"Pinter dari mananya? Tukang nyari rumput kok dibilang pinter" kata mamak merendah

Aku hampir selalu kesusahan setiap bicara sama mamak. Takut salah ngomong dan akhirnya menyakiti. Kehidupan kami 180 derajat berbeda. Mamak dibesarkan dilingkungan perkampungan yang terpencil, kering, minim penerangan, pendidikannya terbatas, dan mayoritas hanya sibuk mengumpulkan kekayaan tanpa tahu akan dikemanakan. Dulu sebelum mamak memutuskan merantau ke ibu kota, mamak sekolah di salah satu sekolah dasar di ujung kampung sambil membantu kakek nenek mengurus ternak sapi dan kambing. Setiap pulang sekolah dia mencari rumput untuk makan ternak-ternak itu. Malamnya capek dan ketiduran. Ditambah minim penerangan menjadikan mamak malas belajar. Aku tidak sampai hati membayangkan berada diposisi mamak.

Tidak sepertiku yang sekarang ini. Aku tinggal di perkampungan yang sudah modern. Waktu memang cepat sekali berputar. Begitu juga dengan perubahan yang ada. Kehidupanku jauh lebih baik daripada yang mamak rasakan. Begitu banyak syukur ku haturkan kepada Allah yang Maha Segalanya. Terimakasih telah menjadikanku ada di tempatku yang sekarang ini Ya Rabb.

Sudah tidak ada lagi penerangan yang redup, pendidikan disini juga lebih berkembang dan meskipun tidak semua berpikiran terbuka terhadap pendidikan, setidaknya ada beberapa dari mereka yang berpikiran sama denganku. Aku harus berkembang, meski tidak terlalu jauh. Perubahan di dunia ini begitu pesat. Aku tidak sanggup membayangkan ketika sudah memiliki anak-anak dan kemudian aku buta akan perubahan ini lalu tidak bisa mengarahkan mereka dengan baik menuju masa depan. Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

Orang tua adalah pewaris kecerdasan, terutama seorang ibu. Kromosom seorang ibu 2 kali lipat lebih banyak dari pada seorang ayah. Nah kromosom inilah yang mewariskan kecerdasan kepada sang anak. Pernah mendengar ungkapan Dian Sastro?

"Entah akan tetap berkarir atau menjadi ibu rumah tangga sekalipun, seorang wanita harusnya berpendidikan tinggi karena akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas menghasilkan anak-anak yang cerdas"

Berpendidikan tinggi memang bukan satu-satunya cara menjadi cerdas. Bahkan ada banyak sarjana yang nyatanya hanya pandai di mata kuliah tapi lemah di lingkungan sosial atau malah sebaliknya. Pun tidak hanya di lembaga pendidikan saja, kita bisa belajar. Dengan lebih banyak membaca, lebih banyak besosialisasi dengan orang banyak juga merupakan cara belajar. Tapi minimal pendidikan memperlihatkanmu tentang pengalaman dan membuka pandangan secara lebih luas. Aku merasakannya, begitu banyak perbedaan. Dan ini yang membuat kita lebih bisa memposisikan diri.

Mamak memang tidak sepenuhnya menjadi madrasah pertamaku. Aku mengerti dengan keterbatasan yang beliau punya. Tapi mamak istimewa. Mamak berhasil memastikanku untuk tetap berada di lingkungan yang bisa mendukung perkembanganku terutama dalam hal belajar. Inilah salah satu kecerdasan milik mamak. Dulu setiap ada PR dan aku tidak bisa mengerjakan, mamak mengantarku ke tempat tetanggaku dan menemaniku mengerjakan PR itu sampai selesai meskipun dengan bantuan orang lain. Mamak juga memberikan dorongan semangat untukku supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus dan kemudian melanjutkan ke sekolah yang menurutnya terbaik untukku bahkan sampai aku selesai menjadi seorang Ahli Madya sekarang ini. Doa mamak juga sepertinya tak pernah berhenti. Terimakasih mak.

"Setidaknya mamak bisa memastikan aku berkembang di lingkungan yang baik. Ini udah lebih cukup kok" kataku mencoba menenangkan

Tapi kemudian mamak pergi meninggalkan obrolan kita dengan seunting senyum. Aku tak mengerti arti senyumnya itu. Tapi aku berharap, aku tak salah mengucap. Jujur saja, membahas ini membuatku kebingungan. Tak seharusnya aku memulai perkataanku seperti itu.

Aku tahu tidak semua orang beruntung di segala hal. Tapi pasti ada satu. Termasuk aku. Aku terlahir di keluarga dengan pendidikan yang minim. Bapak dan Mamakku bahkan tidak berpendidikan tinggi. Tapi alhamdulillah, aku bisa sampai di Diploma III. Kuasa Allah memang Masyaallah. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung dunia dan akhirat.

Salam Literasi

----------------------------

#Day22
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Sabtu, 25 Mei 2019

Wanita dan Keahlian Memasak

Kata orang-orang, wanita itu kudu bisa masak. Supaya kalau sudah berumah tangga suaminya betah di rumah katanya. Kata siapa entah. Aku tak begitu ingat. Terlalu banyak yang mengatakan seperti itu. Baiklah aku paham, tapi tidak semuanya ku benarkan. Memasak bukan hanya cara satu-satunya untuk membangun suasana nyaman bagi suami, anak-anak, dan semua anggota keluarga.

Restoran dan warung sekarang ada dimana-mana. Tinggal uangnya aja, ada atau enggak. Ibu-ibu di kantorku juga jarang masak, tapi rumah tangganya harmonis. Yang penting tiap suami dan anak-anaknya pulang dan ingin makan, di rumah sudah tersedia makanan. Ini yang seharusnya diperhatikan. Pintar memposisikan diri. Benar kan?

"Nggak bisa masak nggak papa yang penting bisa mijit"

"Suami tuh nyari istri, enggak nyari koki ya kan?"

Dan masih banyak lagi kata-kata yang terucap dari kami masing-masing. Lumayan lah, cukup untuk menenangkan hati. Setidaknya, aku tidak sendiri melakoni diri sebagai wanita yang belum pandai memasak. Tapi percayalah, aku pasti akan belajar memasak sampai jadi ahli. Insyaallah.

Semalam aku dan teman-teman kantor seusiaku mengadakan buka puasa bersama. Kami berunding berhari-hari dan akhirnya memutuskan untuk masak sendiri menu buka puasa yang akan kami nikmati sendiri. Kami berenam, perempuan semua, dan tidak ada yang benar-benar ahli masak. Istimewa, bukan? Aku pikir iya. Tapi jangan anggap kami ini tidak idaman. Ada sisi lain yang memaksa kami menjadi ahli, tapi belum dengan memasak. Mungkin setelah ini akan jadi ahli. Yang pasti setelah kami sering belajar dan saling menilai hasil masakan kami masing-masing.

Dan ini adalah hasil dari masak bersama kami sore tadi. Bening bayam, lele goreng, tempe goreng dan mendoan, sambel kecap dan sambel bawang, nasi, krupuk,  teh anget, dan es buah berhasil kami buat dengan proses yang cukup drama. Dari mulai caraku memotong labu untuk campuran sayur yang terlalu tipis, sampai rasanya yang kurang asin. Sebenarnya bukan pelit garam. Hanya saja, aku takut dikatain kebelet nikah gara-gara masak keasinan. Ahhh bukan, ini hanya alibi. Aku memang sering was-was ketika menakar garam dan gula ke masakan. Apalagi ditambah dengan tidak mencobanya setelah matang. Akhirnya mengira-mengira menjadi jalan satu-satunya. Meskipun memang rasanya masih kurang pas.

"Ketahuan banget nih. Amatiran" kataku menggerutu.

Sepertinya setiap pergerakanku hampir semuanya kena omel sama mereka. Apalah itu, aku terima sebagai pembelajaran hidup. Semoga di agenda masak selanjutnya aku bisa lebih baik lagi ya.

Drama kedua dilanjutkan saat menggoreng lele. Gorengan pertama agak gagal. Lele menempel dengan wajan yang kami pakai untuk menggoreng. Aku pikir, karena minyak goreng yang kami pakai kurang banyak, sedangkan lele yang kami masukkan terlalu banyak. Kemudian hasilnya agak sedikit hancur. Saking besarnya semangat yang kami punya, lele dipenggorengan kami bolak-balik sampai akhirnya kami memutuskan untuk meniriskannya diatas piring. Seharusnya lele kami biarkan dan sesekali kami balik ketika menggoreng. Baiklah, koreksi.

Drama ketiga dilanjutkan dengan tempe. Sebenarnya rasanya sudah pas. Aku hanya ingin menceritakan tentang keributan kami ketika hendak menggorengnya. Dimulai dari memastikan bumbu yang akan digunakan sampai bentuk tempe yang akan dipotong semuanya jadi masalah. Aku kesal, tapi sekaligus merasa lucu. Jadi keinget Mamak tiap masak di rumah. Mamak selalu keberatan setiap aku ingin membantunya di dapur ketika beliau memasak. Tapi anehnya Mamak selalu menggerutukan aku yang jarang sekali memasak. Pernah suatu ketika, Mamak masak botok pindang. Mamak memanggilku, meminta tolong padaku untuk memarut kelapa dan mengulek sambal. Setelahnya aku disuruh kembali, tapi aku enggan.

"Udah, sana nonton TV lagi aja ndok" katanya

"Enggak ah. Mau ngelarin ini aja" kataku

Mamak tetap keberatan. Katanya aku merepotkan dan hanya akan memperlama proses memasaknya siang itu.

"Lhah mau ngapain? Kan udah kelar" katanya memaksa

"Lhah ini belum kelar si mak. Lagian mamak nih ribet banget. Aku nggak bisa masak diomongin, giliran mau bantuin masak diusir-usir. Gimana sih mak mak?"

"Emang bisa ngelarin kamu?"

"Bisa lah. Ginian doang kali mak"

Mamak pergi meninggalkanku di dapur dengan segala proses dan bahan yang tersisa dihadapan. Agak bingung sebenarnya. Takut masakannya nggak jadi atau malah rasanya yang jadi nggak karuan.

"Ginian doang kecil kali mak. Ngeremehin aku banget nih. Nggak tahu apa, tiap mamak masak aku curi-curi nyari tahu resep sama cara masak. Dihhh sebel" kataku menggerutu

Tapi alhamdulillah botok pindang hasil dari kesombonganku jadi dengan rasa yang tidak terlalu buruk bagi ukuran pemula sepertiku. Rasanya senang. Aku jadi percaya kalau aku sebenarnya pandai memasak, hanya saja aku tidak mau sombong. Halah ven ven, pinter banget nenangin diri. Huahhhhh

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku memasak. Dulu pas masih jadi anak kos, aku sering masak di kos. Menjadi mahasiswa akhir, membuatku malas keluar kos dan lebih sering menyelesaikan revisian hasil dari bimbingan. Seminggu sekali aku pergi ke tempat tukang sayur dan membeli beberapa bahan masakan. Setiap lapar, aku pergi ke dapur memasak. Entah telur dadar, telur ceplok, mie rebus, mie goreng, tempe goreng, tahu goreng, sarden, nugget, atau bahkan sossis. Ini cukup membantu mengganjal perut, sampai ajakan keluar untuk makan datang dari teman-temanku.

Percaya aku hanya bisa memasak itu? Tidak. Tolong perluas pemikiranmu tentang aku. Kadang di kos, aku memasak sayur atau juga menumis sesuatu. Mengurus diri sendiri, aku tak pernah ingin ribet. Yang penting nasiku tak sendiri masuk ke perut. Satu macam menu masakan dengan nasi cukup untukku. Mengurus diri sendiri memang semudah ini. Yang penting kita bisa mengerti apa maunya diri.

Jadi ingat masakan pertama yang aku masak di kos. Waktu itu aku ingin membuat tumis tempe dicampur dengan beberapa sayuran. Aku pergi ke dapur kos, menyiapkan bahan dan alat memasak dan kemudian memulai memasak. Api kompor ternyata terlalu besar, akhirnya hasil masakanku gosong. Bergegas aku membereskan dapur dan membawa hasil masakanku ke dalam kamar. Aku memandangnya berulang. Begitu hitam dan pahit rasanya. Ingin ku buang, tapi jatah uangku sudah minim.

"Ya Allah, masakanku gosong dan pahit. Uang jatah makanku sudah kepotong untuk membuat ini. Tapi masa iya, aku makan ini" kataku meratap

Akhirnya hari itu aku makan nasi dengan masakan tumis tempe gosong buatanku. Aku bercerita kepada mamak dan teman-temanku. Jangan ditebak bagaimana setelah mendengar ceritaku. Tentu saja mereka menertawakanku dengan tega. Tapi aku beruntung, aku mendapat banyak saran untuk masak selanjutnya. Akhirnya hari setelahnya aku mencobanya lagi dengan api yang lebih kecil tentunya. Alhamdulillah, belum sepenuhnya sempurnya, tapi untuk ukuran pemula menurutku ini sudah lebih dari cukup. Aku senang sekali.

Dari memasak aku belajar banyak hal. Keikhlasan hati dan kemauan belajar dibutuhkan demi menyajikan sebuah hidangan yang tentu saja harus dibumbui oleh banyak cinta. Masakan adalah simbol dari kasih sayang.

Yang ingin ku sampaikan kepada wanita-wanita yang belum ahli memasak, jangan sedih. Jangan khawatir tak bisa menyenangkan suami karena tidak pandai memasak. Masih banyak cara yang bisa kita gunakan untuk menggantikan itu. Dan semua akan menjadi ahli, asal mau belajar. Kita sama kok, bahkan Mamakku juga begitu.

"Mamak dulu tuh orang yang paling malas masak di rumah. Tapi abis nikah, jadi pinter sendiri ndok. Ndok besok juga gitu. Yang penting mau belajar aja" kata Mamak

Tuh kan, dengerin. Yang penting kita mau belajar. Ok?

Salam Literasi.

-----------------------------------

#Day20
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Jumat, 28 September 2018

Jadilah yang Mengerti, Jadilah yang Menjaga

Picture by : Google
Baru saja gadis ayu seumuranku menyalakan sepeda motor kepunyaannya. Belum larut malam, jam dinding di rumahku baru menunjukkan pukul 20.40 WIB. 2 jam yang lalu dia mengunjungiku dan menanyakanku tentang beberapa hal mengenai skripsi. Setahun lagi dia akan diwisuda, semoga Allah memudahkannya dalam menyelesaikan urusannya. 

Tidak banyak yang kami diskusikan dan kami melanjutkannya dengan bercerita sesuatu yang lain. Sudah lama sekali kami tidak bertemu dan berbagi cerita. Dia bilang banyak yang mau diceritakan kepadaku, tapi pertemuan kami selalu saja menolak temu. Aku sibuk dengan keadaanku dan begitupun dengannya.

"Tee katanya mau cerita" kataku memulai

"Oh iya bong" katanya singkat

Tiba-tiba dia terlihat murung dan seperti menahan sesuatu.

"Tee jadi enggak?"

"Aku enggak betah di rumah nii, suasana di rumah bikin aku ga nyaman. Sekarang aja aku lebih seneng pulang sore, lebih enak di kampus. Padahal di kampus aku gak ngapa-ngapain juga sii"

"Lhoh kenapa tee? Jangan bilang karena kelanjutan dari cerita terakhirmu lhoh ya?"

"Lhah ya memang karena itu. Bapak tambah ga karuan deh, Ibu juga. Ga ada yang percaya sama aku sekarang. Aku capek"

Dia mahasiswa tingkat hampir akhir. Sekarang dia sedang sibuk dengan persiapan skripsi. Dia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya. Kehidupannya baik-baik saja sampai pada akhirnya kekhawatiran berlebih yang dilakukan oleh kedua orang tuanya membuatnya merasa tidak nyaman menikmati kehidupannya yang sekarang.

Tidak hanya satu atau dua, ada beberapa tetangga kami yang memang terlanjur berada pada kesalahan. Seperti beberapa kasus kebanyakan (terlalu banyak yang mengabarkan kepadaku tentang ini, sampai aku menyebutnya dengan kebanyakan), anak gadis tetangga kami mengandung bayi mungil dengan ikatan perkawinan yang belum sah.

Aku salut, tapi juga merasa tidak adil. Ada banyak orang tua yang menganggap cara mendidiknya sudah benar, padahal tidak begitu dengan si anak. Tidak seharusnya setiap gerak-gerik dari anak gadisnya dicurigai berlebih seperti yang mereka lakukan sekarang. Aku tahu bagaimana gadis ayu yang baru saja beranjak pulang, dia baik dan insyaallah dalam lingkungan yang baik. Aku pikir dia tahu batasan pergaulan yang harus dia jalani, termasuk bagaimana cara behubungan dengan lawan jenis.

Ada banyak perkataan yang membuatnya tidak bisa menerima keadaan ini. Aku bisa mengerti, tapi aku hanya bisa memberikan sepatah dua puluh kata yang bisa jadi menarik untuk diingat.

"Tidak ada yang menginginkan keadaan seperti ini, tapi inilah garis takdir yang harus kamu lewati. Mereka hanya mengkhawatirkanmu, kamu harus bersyukur atas itu. Kalau menurut mereka cara yang mereka gunakan sudah tepat tapi ternyata menurutmu itu tidak, kamu yang harus mencoba mengerti" kataku menasehati

"Tapi aku capek bong, kenapa si mereka enggak bisa ngertiin aku?"

"Kalau capek, aku diem teee. Aku berbisik ke Allah biar Allah yang bisa buat orang-orang itu mengerti. Aku ga mau banyak ngomong, aku terlalu takut menyakiti lawan bicaraku. Ya meskipun aku ga punya niat sedikitpun buat ngelakuin itu. Apalagi orang tuaku. Ridho kita ada dimereka lhoh, inget inget"

"Aku dah pernah ke Ibu tentang ini, tapi Ibu malah bilang ini itu. Bilang aku dah pinter ngelawan lah, bilang aku ginilah, gitulah. Serasa serba salah gitu aku tuu"

"Aku juga pernah gitu tee. Niatku dah baik, ngingetin, tapi Ibuku bilang "Oh gini ya, sekolah jauh-jauh ke Semarang tuu kamu jadi pinter gini ya nduk", hmmmm aku diem, enggak lanjut ngomong dan cuma bisa berkaca-kaca"

Tema pembicaraan kami sama, tapi kasus kami berbeda. Lawan bicara kami sama, tapi beda orang. Kami saling bebicara mengenai ini dan sekarang aku merasa tidak sedang sendiri. Kami sering begini, bercerita seperti ini untuk kemudian saling menenangkan.

"Jangan bingung tee, pemikiran kita dengan mereka emang beda. Kita yang kudu lebih ngerti. Oke?"

"Ehh bong, pas banget nii ya. Kalo aku mau kejadian gini tuh aku mesti sebelumnya baca quotes apa gitu yang mendukung kondisiku"

"Hmmm terus tambah gitu bapermu? Akakakak"

Dia mengangguk sambil meringis, aku tertawa menertawakannya yang terlihat menahan tawa

"Kemarin aku baca, anak-anak tuu ga boleh dimarahin sebelum tidur. Karena otak akan lebih mengingat hal-hal yang terjadi sebelum tidur dan aku pikir itu bener"

"Bener gimana coba?"

"Beberapa kejadian, terjadi sebelum aku tidur, pas aku dimarahi misal dan itu keinget banget sampe sekarang"

"Aku juga, sampe sekarang juga"

"Ahh aku capek, suka iri tahu kalo liat idup temen ueee"

"Istigfar oeyyy, enggak selamanya kehidupan mereka sebahagia kaya yang kamu lihat. Semua sudah sesuai porsi boss, garis takdir sudah ada yang mengatur. Kamu mau tukeran nasib sama akuu? Lebih pahit, lebih lama, dan lebih menyedihkan. Tapi sekarang semua sudah jauh lebih dari baik, setelah aku memahami garis takdirku"

Dia menggeleng, dan aku melanjutkan kisahku

"Tee tee, kasusmu tuu belum seberapa, baru berapa tahun si? Aku aja yang dari kelas 1 SD gini aja ni, santee akakak"

"Bener kata postingan instagram kemarin "Banyak yang siap menjadi ayah ibu, tapi tidak untuk menjadi orang tua" aku pikir lagi-lagi ini benar"

Aku agak shock, aku ikut berpikir kalimat itu benar, dan ini sekian hal yang bisa menjadi pelajaran untuk kita semua 

"Ya aku pikir juga benar, makanya calon ibu, yuuhh mari kita mempersiapkan diri biar bisa jadi orang tua seutuhnya, bukan hanya sekedar perempuan yang dipanggil Bunda oleh anak-anak kita nanti"

"Siap boss, makasi ya untuk sharing hari ini"

"Iya sama-sama, semoga dari sekian banyak basa-basiku bisa melegakan hatimu ya"

Kami saling menatap dan tersenyum. Obrolan kami berakhir, dan dia berpamitan pulang. Dia bilang ayah ibunya sudah menunggunya di rumah. 

Ya beginilah, setidakbahagianya dirimu di dalam istanamu, tempat terbaik untuk pulang tetaplah rumah. Kalau ternyata pondasinya mulai rapuh, kamu yang harus menguatkan. Kehidupan selalu memerlukan orang-orang yang merelakan dirinya untuk membuka hati untuk sesuatu yang malah nyata membuatnya kesakitan. Tidak mudah, tapi aku yakin Allah akan membantumu melewati garis takdirmu kalau kamu  mau.

Jadilah yang mengerti, biar hidupmu penuh arti. Jadilah penjaga, biar hidupmu terjaga. Ini tidak rumit, kamu hanya butuh merelakan diri. Kamu bisa semakin kuat jika kamu mampu memahami apa saja yang terjadi di hidupmu. Jangan lelah, nanti kamu kalah. Mengerti ya


Salam sayang,



Veni Veronika

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....