Tampilkan postingan dengan label Menunggu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menunggu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2022

Review Buku "Seribu Kisah, Sebuah Kasih"

"Mencintai dan dicintai adalah kesedihan yang sama...Kita mencintai bukan sekedar untuk dicintai-kita mencintai oleh sebab kita ingin dan sanggup untuk mencintai orang tersebut.... Meskipun tidak melulu hal indah yang datang, semoga kita bisa kerap jatuh cinta, berulang-ulang.... (Seribu Kisah, Sebuah Kasih, Hal: 136).

Ini adalah halaman favoritku. Halaman pembuka bagian akhir dari buku ini. Buku yang berisi banyak cerita pendek tentang hubungan antar manusia. Buku yang menyimpan banyak kisah cinta. Yang diam-diam, yang terang-terangan, yang hati-hati, yang sembrono, yang tidak sengaja, yang bertepuk sebelah tangan, yang tidak menyadari, yang bahagia, yang tidak bahagia, yang diantara itu semua, aku tidak peduli bagaimana. Karena perjalanan-perjalanan telah banyak tertulis juga terbaca, dan aku telah berhasil menjadi salah satunya. Ah senangnya menjadi manusia. Agak aneh, tapi aku menikmatinya. Ya meskipun itu berjalan sedikit demi sedikit.

Hubungan antar manusia memang tidak ada yang pasti. Tidak akan ada rumusnya. Tidak juga bisa diterka-terka. Kalau endingnya bahagia, ya selamat. Kalau ternyata tidak, ya selamat juga. Setidaknya semuanya pernah ada, bahkan dititik dimana orang lain tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Kita semua sudah sama-sama tahu, baik saja tidak cukup untuk menjadikan sesuatu jadi pas. Dan begitulah hari-hari berjalan. Selalu mengalir ke segala arah. Kita hanya perlu tahu bagaimana arah arusnya, juga bagaimana cara menikmatinya.

Megah bukan?

Selasa, 15 Februari 2022

Review Novel "Waktu untuk Tidak Menikah"

"Kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?" (Waktu untuk Tidak Menikah, Cover belakang).

Waw, sebuah ringkasan ciamik. 14 cerita pendek dengan seorang perempuan sebagai tokoh utamanya. Isu-isu sosial melenggang begitu mulus di dalamnya. Suguhan kisah-kisah yang menyentil akan membuka mata kita untuk menyadari lagi dan lagi bahwa dalam hubungan tidak akan ada yang baik-baik saja. Kadang patah hati itu ada. Juga perpisahan yang dianggap baik tapi tetap saja menyiksa. Belum lagi ingatan lama yang mencuat tiba-tiba. Tentang mimpi yang mau tidak mau terkubur begitu saja. Dan kita yang tetap dipaksa bertahan meski sekedar untuk melanjutkan peran sebagai manusia.

Ya, begitulah. Memilih menikah atau tidak, menikah cepat atau nanti, resiko hidup tetap akan membuntuti. Menuju pernikahan itu tidak mudah. Menghabiskan perjalanan menujunya juga lebih tidak mudah. Beberapa orang berhasil melakoninya sampai garis akhir. Beberapa lagi terpaksa bertahan. Beberapa sisanya saling melepaskan. Satu ke persimpangan sebelah kanan, satu ke sebelah kiri, satu lainnya tersesat diantaranya. Beberapa meratap menyesali yang sudah-sudah. Beberapa lagi melamun membayangkan yang (belum tentu) indah. Tapi persetan dengan apa saja yang menjadikan hati menjadi sempit, sekali lagi kita hanya perlu ingat lagi bahwa saling mencintai memang tidak pernah sesederhana itu. Kita perlu jadi beruntung untuk ada di waktu dan di ruang yang tepat.

Dan untukku dan siapapun yang belum menemukan tempat untuk berlabuh:
"Segala kemungkinan bisa terjadi. Asal kau tahu, kehidupan rumah tangga lebih berat jutaan kali lipat. Kau harusnya menghemat air matamu." (Waktu untuk Tidak Menikah, Hal: 126)

Sabtu, 10 Juli 2021

Dear, Bulan Sabit...

Tuan
Tuan...
Orang-orang bisa begitu saja tampak dan benar-benar membosankan. Menari-nari mereka dengan omong kosong yang meriah. Dan begitulah musik yang tidak sempurna itu menggelar pestanya. Jadi, mari gemuruhkan tepuk tangan demi siapapun. Setidaknya mereka sudah bekerja keras dan tentu bersusah payah, bahkan untuk sesuatu yang menurut kita berantakan atau malah tidak berguna. Termasuk ini, termasuk aku, termasuk kamu, termasuk kita yang tidak sadar ketagihan jatuh berkali-kali.

Tuan
Tuan...
Kadang kita perlu menyelam, lebih dalam, sampai tenggelam, dan bahkan berkarat. Isyarat-isyarat kadang datang dalam wujud yang tidak kita suka. Dan kita rentan menyambutnya dengan sesuatu yang kekanak-kanakan. Sepenggal makna, aku pikir aku juga sama sepertimu. Jabat erat tanganku tuan. Kita sama-sama tidak mahir dalam hal ini.

Tuan
Tuan...
Hari demi hari berlalu. Dan tepat sedetik yang lalu, aku telah mendidih. Berteriak aku, berlari aku menujumu, berbisik sesuatu aku kepadamu. Menurutmu, apakah aku berhasil sampai kepadamu?

Tuan
Tuan...
Terlihatkah ini di kedua matamu? Adalah aku yang sedang berdandan dihadapanmu. Cerminku adalah kau. Tempat segala kata-kata terlahir. Tempat segala cukup mahir memeluk. Tempat asing yang tiba-tiba saja jadi rumah.

Tuan
Tuan...
Bagaimana kalau besok kita bertemu? Lalu dalam keyakinan itu, mari kita bersulang. Pakai air putih saja tidak apa-apa. Asal salah satu tanganmu menggenggam tanganku. Aku tidak perlu matcha favoritku. Sudah kukatakan kepadamu bahwa kau adalah segala cukup untukku.

Tuan
Tuan...
Barangkali kita butuh detik yang menjelma jadi lebih banyak untuk sekedar mengosongkan ruang yang riuhnya merongrong. Barangkali kita butuh saling melihat, kemudian jadi sembuh dari pura-pura yang gemar kehilangan logika. Maka dari itu, lekaslah sampai kepadaku tuan. Dan jangan lagi lari. Menderitalah bersamaku sampai aku sembuh, sampai kau sembuh, sampai kita berdua jadi obat satu-satu.

Tuan
Tuan...
Besok atau nanti kupanggil lagi namamu. Lirih, tapi semoga kau mendengarnya. Sebab begitulah cara cinta mulai bekerja. Sebab begitulah aku memulai berani lagi. Sampai jumpa obat kalutku. Sayang kamu dari jauh, bulan sabitku.

Selasa, 04 Agustus 2020

Hadiah Kebenaran Yang Tidak Kusuarakan

"Bodo amat moo nulis gini doang nggak kelar kelar hiksss"

Begitulah judul draft terakhir yang kubuat untuknya. Sebuah draft yang akhirnya kuubah lagi isinya menjadi lebih, emhhh aku berharap itu bisa jadi lebih sederhana. Tapi kelihatannya tidak juga, aku pikir aku hanya membuatnya lebih cepat selesai terbaca. Ya, begini lebih baik.

Harusnya ini bisa sampai kepadanya lebih cepat. Tapi ya dipikir-pikir, sebenarnya aku hanya berusaha menjadikan semua ini menjadi tepat. Semoga saja besok pas aku berani, aku tidak terlambat. Sebenarnya aku sudah mulai lelah, sudah hampir gila, tapi masih bisa sumringah.

Aku tidak tahu bagaimana cara memulai. Aku tidak tahu ini akan menjadi pantas atau tidak. Aku tidak tahu apa ini, tapi aku pikir sudah seharusnya dia tahu. Aku tidak bisa mengatakannya sebagai apa, tapi aku punya kebenaran yang tidak kusuarakan kepadanya. Oh bukan tidak, aku hanya belum berani mengatakannya. Aku tidak bisa memastikan ini akan menjadikan aku dan dia baik-baik saja setelahnya. Tapi aku pikir, aku perlu begini untuk menjadikan diriku menjadi apa adanya. Akhir-akhir ini suara hatiku berisik sekali, isi kepalaku jadi penuh, aku jadi susah tenang.

Sudah lama aku tidak menyapanya. Sekedar menanyakan kabarnya.  Padahal aku ingin sekali tahu bagaimana kabarnya. Aku ingin tahu cerita-ceritanya selama tidak denganku. Aku ingin tahu semua tentangnya. Apa yang dia suka, apa yang tidak dia suka, apa yang masih menjadi cita-cita, apa yang sudah menjadi nyata. Apapun itu, aku ingin tahu. Tapi ya sengaja tidak kulakukan. Mana mungkin aku sepercaya diri itu? Tapi ya sudahlah, sebenarnya aku hanya sedang mencari celah. Tapi kalau ternyata ini akan menjadi sesuatu yang salah, aku tidak akan menyesalinya. Tapi ya kenapa tidak kulakukan saja? Namanya juga usaha. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bukan? Ya aku tidak terlalu percaya diri, tapi kan tidak ada salahnya mencoba. Maksudku memupuk percaya. Iya kan? Ya, begitu. Aku hanya ingin memberitahunya saja. Soal bagaimana setelahnya, aku belum terlalu memikirkannya. Aku hanya ingin bebas, aku hanya ingin jadi berani, aku hanya ingin merdeka, aku hanya ingin tetap menjadi aku yang banyak bicaranya, aku hanya ingin mengatakan segalanya, sejujur-jujurnya. Aku sungguh tidak bermaksud membuatnya menjadi terbeban. Aku juga tidak bermaksud membuatnya terkejut. Aku sungguh sudah mengupayakan datang kepadanya dengan hati-hati. Aku hanya mulai merasa kelelahan dan aku sudah ingin dia tahu tentang perasaan sialan ini. Sialan? Haha aku tidak menyangka akhirnya aku mengatakannya.

Tentang kebenaran itu, sebenarnya aku tidak tahu persis semenjak kapan. Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku tidak tahu dimana tepatnya. Aku tidak tahu akan mengatakannya sebagai apa. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, tidak dengan bertanya, tidak juga dengan mencari jawabnya.  Sudah lama tidak bersua, tapi rasanya masih sama. Aneh, tapi ya gimana? Suka tiba-tiba ada. Aku sungguh tidak sengaja merasakannya. Aku sungguh tidak berniat memulai ini semua. Tapi ya tahu-tahu jadi terlanjur. Aku jadi bingung harus bagaimana. Sejauh ini aku tangguh diam sendirian. Tapi akhir-akhir ini aku mulai kuwalahan. Aku pikir memang sudah saatnya aku mengakui sesuatu kepadanya. Mumpung aku dan dia masih sama-sama ada di bumi.

Aku ingat bincang malam setelah seleksi waktu itu. Gelap, dingin, ketakutan, terburu-buru, teledor, dan pincang sampai seminggu setelahnya. Haha sekarang sudah pulih, aku sudah bisa berjalan dengan normal lagi. Aku bahkan bisa lari-lari, melompat-lompat, dan melakukan apa saja yang aku mau. Tapi belum dengan datang ke arahnya. Wkwk pengecualian yang payah.

Malam itu aku tidak sengaja menoleh ke belakang, melihatnya, tersenyum, tapi tidak lama. Buru-buru kukembalikan pandanganku ke posisi awal lagi. Rasanya langsung aneh, entah apa yang tidak beres denganku. Awalnya aku pikir ini hanya kebetulan, tapi ternyata tidak. Tapi bukankah segala hal yang terjadi di semesta ini sudah digariskan-Nya? Sejak malam itu, setiap berada disekitarnya irama degup jantungku jadi berantakan. Aku sudah bilang, rasanya aneh. Tapi aku kenapa? Ya mana kutahu. Segalanya begitu saja terasa tanpa pernah memberikanku kesempatan bertanya “kenapa?”. Tega ya? Malam itu kupikir aku baru saja jatuh. Rasanya luar biasa. Tidak sakit, tapi peningnya berhari-hari dan tentu berkali-kali. Ya menyebalkan sekali terjebak dikondisi begini.

Bertanya "apa, kenapa"? Tanda tanyaku sia-sia. Tidak ada jawaban yang berhasil menenangkanku. Akhirnya sejak malam itu, semua berjalan begitu saja. Tapi rasanya ketakutanku jadi 2x lipat lebih banyak. Isi kepalaku selalu sibuk menerka-nerka. Seperti itu ceritaku. Sudah bertahun-tahun aku berusaha lari, tapi aku pikir aku tidak ditakdirkan ahli dibagian ini.

Aku tidak bisa menjelaskan dibagian mananya, ganteng sudah pasti. Siapa yang tidak tahu ini? Ya, ini poin yang tidak berpoin. Mapan? Aku bahkan sudah lebih dulu jatuh ketika seragam hitam putih masih sama-sama mengiringi perjuanganku dan perjuangannya di rumah yang nyaman tapi banyak ricuhnya itu. Mungkin dari suaranya atau mungkin hanya itu. Aku suka warna suaranya. Aku suka cara bicaranya. Aku suka mendengarnya mengaji. Aku suka sekali. Dibeberapa kesempatan aku mencoba menjadikan diriku biasa saja. Tapi tidak lagi bisa setelah malam itu. Adakah yang tahu rasanya dibelai angin malam disepanjang perjalanan menuju sabana Merbabu? Adakah yang tahu ketika tiba-tiba kau dengar seseorang melantunkan beberapa ayat di bawah tarian bintang dan sinar rembulan dimalam yang sedang lelah-lelahnya itu? Adakah yang tahu betapa segala penat dan lelahku seketika hilang karena tiba-tiba mendengar suara itu? Adakah yang tahu betapa aku pernah ingin membawanya pulang dan menjadikannya tempat pulang? Adakah yang tahu siapa saja yang menyadari semua itu? Aku pikir dia sendiri tidak menyadarinya. Sebenarnya, aku juga tidak, tapi entahlah. Aku benar-benar tidak tahu ada apa denganku. Tiba-tiba sesuatu muncul dibenakku. Kataku 

“Mungkin suara ini yang akan selalu jadi obat dari segala kekalutanku. Iya tidak si? Tidak apa iya si? Iya apa iya si? Nggak tahu. Lihat nanti deh. Astagfirullah Astagfirullah Astagfirullah, aku kenapa?”

Lucu? Tidak sama sekali. Suaranya biasa saja, tapi ya istimewa. Aku sering menirukan gayanya. Kadang berhasil, tapi ya banyak tidaknya. Susah juga ternyata. 

Aku tidak bisa menyebut ini apa. Mungkin aku terkagum, atau entahlah. Sebenarnya aku juga tidak ingin mengatakan apapun kepadanya. Ya, tentu saja aku malu. Tentu saja aku tidak percaya diri. Tentu saja aku takut. Aku cantik tapi tidak terlalu. Aku keras tapi cepat layu. Aku berisik tapi sepi. Aku utuh tapi terbelah. Aku masih kuwalahan dengan egoku sendiri. Aku paham itu. Aku tahu aku jauh dari apa yang menjadi impiannya. Aku tahu bisa saja dia mengidamkan yang lebih dariku. Aku tahu aku mungkin masih jauh dari kata layak untuk bisa membersamainya. Ya aku tahu, tidak seharusnya aku berpikir begitu. Aku pikir dia sudah jauh lebih tahu semua itu. Tapi ya sudahlah.

Sebenarnya sudah sejak lama, semacam berpuisi dan menulis sajak tentangnya. Tapi ya belum juga ada yang sampai kepadanya. Entah aku yang kurang berusaha atau memang dia belum diijinkan untuk tahu. Entahlah, yang aku tahu sekarang jarak sudah sebegitu teganya membentang. Aku dan dia sudah sama-sama jauh dan sama-sama hampir hilang. Aku tenggelam dalam beberapa ketakutan, dan dia? Aku bahkan tidak tahu dan sengaja tidak mencari tahu tentang itu. Sejak awal aku tidak pernah mencari tahu tentangnya. Aku tidak pernah tahu hobbynya, makanan favoritnya, cita-citanya, dan apapun tentangnya. Memang sengaja tidak kulakukan. Biar saja, biar aku tidak semakin jatuh. Biar aku jatuh pada apapun yang menjadi sebatas kutahu. Biar berjalan secukupnya saja. Seperti ini kadang membuatku bertanya "jatuh macam apa yang kulakoni dengan begini?"

Kau tahu? Bahwa jatuh selalu membuat kita lebih baik dari sebelumnya. Jatuhnya jatuh yang sebebas-bebasnya. Terlepas dari akhir yang akan bersambut atau malah sebaliknya. Seperti itu aku menikmati jatuhku. Seperti itu yang kulakukan demi merasa dekat dengannya. Menjadikan suaranya sebagai nada alarm, menari dengan kata-kata, mengingat malam itu, memanggil-manggil namanya dalam bincang sendiriku, berdialog dengannya dengan puisi dan sajak-sajak itu, juga melangitkan doa-doa. Sementara ini cukup kulakoni. Setidaknya aku tidak harus datang kepadanya dulu. Setidaknya rahasia ini tetap aman digenggamanku. Setidaknya dia akan jadi abadi menjadi sajak-sajak amatirku.

Aku jadi ingin meminta banyak maaf kepadanya. Maaf karena sudah sering tidak sengaja mengandaikannya disela-sela lamunanku. Aku suka sekali mempertanyakan sekian kemungkinan setelahnya, lalu menjawabnya dengan pemisalan-pemisalan yang kuandaikan sendiri. Hanya sebentar, tapi berkali-kali terjadi. Kadang aku berusaha menghindari ini. Tapi semakin pikiranku kuajak lari, malah semakin jelas rasanya. Aneh ya, kubuka mata dia tidak ada, kututup mata bayangnya serasa nyata. Haha. Semesta memang sering sebercanda itu ya. Sudah ada yang mendekat juga kepikirannya masih dia. Jahatnya aku. Sedih.

Sekarang 2020 sudah datang lebih dari separuh. Kita hampir genap lagi untuk sampai ditahun yang baru. Jadi, sudah berapa lama aku mengaguminya? Jadi, sudah berapa lama aku terjebak dikondisi semenyebalkan ini? Jadi, sudah berapa lama aku menjadi bisu dan berharap dia tahu tanpa perlu kuberi tahu? Jadi, sudah berapa draft yang kubuat sampai akhirnya jadilah ini? Jadi, sudah berapa pendapat yang kutimbang sampai akhirnya jadi berani begini? Jadi, kalau aku terlanjur mengungkapkannya lebih dulu waktu itu, kira-kira akan secanggung apa ya aku dan dia setelahnya? Haha aku benar-benar tidak berani membayangkan resiko berat yang akan kutanggung setelahnya.

Aku hanya perlu dia tahu apa yang pernah dan masih sesekali aku rasakan. Siapa tahu ada juga yang perlu kutahu darinya. Aku hanya ingin membebaskan diriku dari kekacauan yang telah dengan baik kurawat selama ini. Aku hanya ingin jujur kepadanya dan tentu kepada diriku sendiri. Aku hanya ingin menyelesaikan ini. Aku tidak ingin menjadikan ini hal kedua yang tidak bisa kuselesaikan. Aku hanya tidak ingin menyesal karena tidak berhasil mengatakan ini kepadanya. Ini tidak mudah, tapi sejauh ini aku telah berhasil melakukannya. Sudah lama sekali aku menahan diri dan melaluinya dengan segala kegelisahan yang kurahasiakan sendiri. Aku senang karena akhirnya aku bisa menjaga rahasia ini sendiri. Aku senang karena aku dan dia baik-baik saja sampai saat ini. Aku senang karena sempat melihatnya senang. Aku senang karena sempat setenang itu meskipun hanya bisa melihatnya atau mendengar suaranya dari jauh. Aku senang akhirnya dia tahu apa yang selama ini kurasakan. Aku senang akhirnya aku berhasil mengutarakan. Tapi besok ya, kalau aku tidak kehilangan nyali dan kepercayaan diri. Haha.

Segala awal akan menemukan akhir dan segala akhir akan menjadi sebuah awal. Begitulah kehidupan. Aku tidak ingin menebak akan seperti apa setelah menjadikannya tahu ini semua. Bagiku diam atau bicara, berjalan atau berlari, menujunya tetap akan menjadi yang beresiko bagiku. Pun kupendam atau kusampaikan, keadaan tidak akan bisa merubah kapasitasku menjadi seorang perempuan. Aku tidak pernah takut kehilangan dirinya sebagai apapun. Toh, semua hal punya masing-masing fasenya. Aku hanya takut tidak berhasil membuatnya tahu tentang ini semua. Karena jika setelah ini aku harus hilang dari dunianya, aku sudah lebih dulu melakukannya.

Ternyata seperti ini ya rasanya menjadi pemendam yang lihai? Sebenarnya aku tidak rela, tapi aku kan bukan siapa-siapa dan tidak berhak melakukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin dia jauh. Aku tidak ingin menjadikannya berbeda. Aku juga tidak ingin membatasinya. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak kapanpun. Dia berhak dan memang seharusnya menjadi merdeka dengan cara terbaik yang dia punya. Aku tidak ingin merebutnya dari siapapun. Tidak dari mereka, tidak dari siapapun, tidak juga dari dirinya sendiri.

Tidak apa-apa kalau ternyata dia tidak sama jatuhnya denganku. Bebas, yang penting dia sudah tahu. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan tidak menerima. Tidak ada yang salah dengan tidak diterima. Semua orang berpeluang menemukan dan ditemukan. Tidak harus dia, tidak harus aku, tidak harus. Ya, tidak harus. 

"Puncak kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Kita memang merdeka terhadap rasa, tapi terbatas dalam mengharap balas.” Kata siapa, aku lupa. Aku tidak bisa mengatakan ini semua telah mati. Aku hanya sudah berhasil menjadi terbiasa melihatnya dari jauh. Aku tidak tahu apakah aku harus lari atau malah menyelami ini lebih jauh lagi. Sejauh ini aku menikmati berada diantara yang kunikmati sendiri. Aku tidak bisa mengatakannya sebagai apa. Kadang aku bahagia, kadang juga tidak. Aku takut, entahlah. Aku sendiri tidak tahu takut karena apa.

Sudah sejauh ini. Sudah sepanjang ini. Kata-kata bisa jadi tidak pernah berkata-kata. Tapi  ketika berani itu mendekapku, semoga saja sudah tidak ada lagi rahasia. Aku tidak akan keberatan kalau ternyata dia tidak lagi menghiraukanku setelah ini. Aku sudah bilang, aku hanya ingin memberitahunya. Aku sudah bilang, dia berhak jadi apa yang dia mau. Aku sudah bilang bahwa aku dan dia harus selalu bahagia, entah bagaimanapun caranya.

Aku tidak akan menyesal pernah merasakan ini. Aku harap nantinya dia juga tidak menyesal pernah membaca dan akhirnya tahu mengenai ini. Aku akan menjadi lega, meski aslinya masih bingung harus bersikap bagaimana setelahnya. Aku tidak akan melupakan ini. Aku tidak berani mencobanya karena aku tahu itu tidak akan berhasil. Karena tidak akan pernah ada lupa yang benar-benar lupa. Begitukan?

Sekarang masih belum jam 03.00 WIB. Tapi seperti biasa, suaranya sudah berhasil membangunkanku. Rekaman  13 ayat pertama surat Ar-Rahman kirimannya sekian tahun yang lalu itu, sudah jadi nada alarm di sepertiga malamku sejak dia mengirimkannya untukku. Selancang itu aku. Tapi terimakasih banyak untuknya karena  sudah setiap hari membangunkan. Berkatnya malamku tidak pernah sepi. Aku senang sekali bisa berdua dengan Yang Maha Mempertemukan. Meski sesekali, belum usai meratap aku sudah lebih ketiduran lagi. Haha.

Sampai jumpa keberanian. Sampai jumpa lakon utama rahasiaku. Sampai jumpa kalian yang sudah membaca. Sampai jumpa semua.

Rabu, 29 April 2020

Tentang "Menunggu"

Menunggu? Kata orang-orang ini hal yang menyebalkan. Kataku juga, tapi tidak dengan sekarang ini. Membiarkan waktu berlalu begitu saja memang membuat sebagian orang kesal. Kecuali untuk orang-orang yang menganggap ini tidak penting.

Aku pernah. Pernah sengaja melakukannya. Pernah juga karena tidak sengaja, tapi akhirnya jadi terbiasa. Pernah kesal pada akhirnya. Pernah menyesal setelahnya. Tapi semua tetap sama. Tidak ada yang berubah, kecuali keadaan hati setelahnya. 
Siapa si di dunia ini yang benar-benar tahu bagaimana nasib hidup ke depan? Sedetik bahkan setahun atau berapapun panjang waktu yang ada. Tidak ada, kita adalah manusia. Hanya bisa berencana dan hanya bisa menjadikan diri sebagai pelaksana. Lebih dari itu, kuasa Allah adalah segalanya.

Mengertilah, menunggu bukan hanya soal berapa waktu yang kita habiskan. Tapi bagaimana kita bisa menikmati semua itu, meskipun apa kita tunggu belum tentu menjadi akhir yang kita tuju.

Sebenarnya aku belum begitu ahli dalam hal ini. Langkah demi langkah masih ku jajaki untuk bisa memahami benar perihal hakikat menunggu. Ada begitu banyak kemungkinan. Ya begitu banyak. Yang baik, yang buruk, yang terduga, atau bahkan yang tidak pernah disangka-sangka.

Tapi kenapa masih saja sekian kali berpikir "ahhh mana mungkin"?

Bukankah tugas kita hanya menunggu? Bukankah semua hal memiliki waktu? Dan dia akan datang dengan begitu menakjubkan di kehidupan kita yang mungkin, ya mungkin bisa jadi sudah hampir menjadikan diri kita sebagai seorang pecundang. Aku tahu ini bukan sesuatu yang mudah. Aku tahu butuh usaha keras untuk bisa menyadari semua bahwa ini akan menjadi sesuatu yang baik-baik saja.

"Capek banget nggak si nunggu terus?" kata siapa diluaran sana.

Sebuah tanya, sejuta jawabnya, tapi ya mungkin sama saja. Paling kita sepakat bilang "iya (banget)" haha.

Tapi lama ku cerna, bilang iya tidak selamanya benar. Aku pikir kita dan waktu itu seimbang. Kita pikir kita saja yang menunggu waktu, tapi ternyata waktu juga melakukan hal yang sama dengan kita. Kita sama-sama berusaha saling menemukan. Semoga kita selalu menyadarinya.

Waktu juga suka ngeluh. Sama sambatnya dengan kita. Katanya "Mereka kapan sampenya si? Cape tau nunggu terus. Aku kan pengen ngerasa plong gitu. Nggak kaya gini, bertanya-tanya terus.". Tapi mereka diam, lebih ke manjaga (mungkin). Menjaga diri biar nggak salah jalan (lagi).

Udah kebayang belum, gimana waktu sama galaunya sama kita? Kebayang juga enggak gimana waktu cuma bisa muter, sedangkan kita bisa ini itu. Enakan kita tau. Kita bebas, penuh rencana, meskipun hasilnya ya tidak selamanya bikin bangga. Tapi minimal kita sudah mempersembahkan yang terbaik untuk semuanya.

Kalian sadar nggak? Kita sudah lebih dari berhasil sampai tahap ini. Pertama, kita sudah sampai di detik ini. Kedua, kita sudah bisa menerima semuanya sampai sejauh ini. Ketiga, kita tidak lupa bersyukur atas semuanya. Keempat, kita masih sudi menunggu sesuatu yang selanjutnya, yang belum kita tahu seperti apa tentunya. Kelima, keenam, dan ke-selanjutnya cari sendiri saja ya.

Kalian bertemu denganku karena  menunggu, aku menemukan kalian juga karena menunggu, waktu yang telah sampai kepada kita juga menunggu. Kita telah sama-sama sudi menunggu dan kita sudah sama-sama berhasil sampai di detik itu. Detik pertama saat kita berjabat tangan, saling berkenalan, dan lanjut berteman, meski kadang sering beradu argumen. Ya, hampir sempurna.

Dan jika ternyata ini tidak berlangsung lama, semoga kita tidak akan lama merasakan kecewanya. Susah ya? Sedih ya? Pasti, tapi ingat poin satu dan seterusnya. Kita cuma butuh terbiasa. Kita sudah berhasil sebelumnya dan akan berhasil juga setelahnya.

Aku sayang kalian, kalian juga harus sayang sama aku. Aku tidak bermaksud memaksa, tapi aku mengharuskannya.

Paham ya cah?

-------------------------------

Salam Literasi

#Day (10)
#OneDayOnePOst30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....