Sebagian basa-basi kehidupan dunia dengan pernak-pernik rasa apa saja yang telah terjadi sesuai dengan garis takdir Yang Maha Kuasa
Sabtu, 24 Februari 2024
Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan
Selasa, 05 Desember 2023
Tentang "Roman(tika)"
Selasa, 17 Oktober 2023
Part of Being an Adult (Bagian dari Menjadi Dewasa)
This adult life is so fucking complicated, right? Kita mengucap "hadehh/haiyahhh/ bjirrr/syibal se.....k.i..ya", tapi akhirnya tetap melakukannya. Kita berdebat hebat, tapi berakhir damai juga. Pokoknya kudu pusing dulu, meski ujungnya juga bisa ngerjain. Haha.
Tapi aku senang berada difase dewasa ini. Aku bisa duduk sendirian di sebuah restoran dan membeli matcha dan coklat favoritku tanpa ada yang bisa menghentikanku. Itu juga tentang bersantai ria di rumah, tidur lebih awal, dan merasa itu baik-baik saja. Rasa-rasanya memang tidak ada yang namanya menjadi dewasa. Bukankah kita semua hanya anak-anak yang terjebak di dalam tubuh orang dewasa saja? Atau bukankah itu terlalu susah untuk terus berpura-pura?
Jadi, bolehkah kita berhenti membual tentang hal-hal yang dengan atau tidak semestinya di lakukan? Karena "kedewasaan" tidak melulu ditandai dengan bertambahnya usia, tapi juga tentang pengalaman dan pertumbuhan. Jadi jangan pernah mengharapkan kedewasaan dari siapapun. Hidup ini sudah sulit. Hanya saja semoga semua orang tetap terkendali dalam menjaga energinya sepanjang hari.
Lagi pula dewasa adalah tentang bagaimana diri sendiri bisa mengajak hatinya jatuh cinta lagi dan lagi. Dia tahu bagaimana harus merasa senang dan bahagia. Dia tahu bagaimana menjadi yang terkendali atas semua-muanya. Karena baiknya, semua memang harus seimbang. Supaya akhirnya dia berhasil merasa dicintai sebanyak-banyaknya, juga sepenuh-penuhnya. Ya, mungkin ada lebih banyak hal dalam hidup ini daripada menjadi seorang remaja dan menjadi dewasa bukan berarti kita harus meninggalkan itu. Akhirnya, dari semua hal yang ada, semoga kita bisa semakin paham bagaimana cara kerja semesta.
So, happy growing into adulthood. I hope we don't become annoying adults. May us always be the winner. Hopefully everyone will support us to always be calm.
Good luck 🤘
Selasa, 20 Juni 2023
Review Buku "Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih"
"Halah, Lis. Dengan kamu mau nikah sama aku saja, bapakmu harusnya sudah paham, mana yang pinter dan mana yang goblok." (Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih, Hal: 76)
Benar kata orang-orang, awal mula mengira buku ini berisi tips-tips bagaimana cara memahami kekasih atau bagaimana menjaga hubungan dengan kekasih supaya langgeng adalah hal yang sia-sia belaka.
Buku ini ternyata buku yang berisi tentang kisah cinta dan romantisme sehari-hari sepasang kekasih. Buku ini adalah definisi "another level of bucin" seorang Agus Mulyadi kepada kekasihnya yang sekarang berhasil menjadi istrinya yakni Kalis Mardiasih. Banyak tawanya, sering apesnya, tapi begitulah kisah mereka berjalan.
Membaca buku ini aku jadi tahu sisi seorang Kalis yang lain. Tetap terkesan tangguh, tapi seperti manusia kebanyakan, seorang Kalis ternyata juga banyak alfanya, banyak konyolnya, banyak menyebalkannya. Hampir putus asa perkara nggak bisa buka jok motor, keseringan ketinggalan pesawat, dan perkara baju gambar Sunan Giri? Haha, Agus memang pintar sekali menceritakan detail tentang istrinya. Mereka berdua adalah panutan rumah tangga yang realistis. Semoga banyak kebaikan menyertai mereka.
"Hidup memang soal kompromi" (Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih, Hal: 70)
Hanya 94 halaman, tapi aku berhasil senyum-senyum. Agal kesel, tapi mereka lucu. Jadi pengen juga nulis beginian kaya Agus. Judulnya mungkin "Sebuah Seni Menyaingi Romantisme Agus dan Kalis". Tapi entar dulu ya, mau nyari seseorangnya dulu nih biar ada ceritanya. Semoga bisa lebih romantis kisahku bersamanya. Hihi.
Jumat, 27 Januari 2023
Roman(tika)
Selasa, 20 Desember 2022
Kamis Bersama Bapak

Sabtu, 29 Oktober 2022
Review Novel "Di Tanah Lada"
"Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi," katanya. "Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut." (Di Tanah Lada, Hal:197).
Buku ini mengisahkan tentang seorang Ava. Gadis kecil umur 6 tahun yang bertemu dengan P (anak kecil berumur 10 tahun) setelah kepindahannya ke rusun nero bersama kedua orang tuanya. Ava dan P, mereka senasib tapi tidak sama. Keluarganya sama-sama berantakan, tapi mereka tumbuh di lingkungan yang sangat berbeda sebelum akhirnya mereka bertemu di rusun nero. Dari sinilah perjalanan mereka bermula. Tragis, tapi penuh warna. Lucu, tapi memprihatinkan. Sederhana, tapi mengaduk-aduk. Pahit, tapi begitulah realita.
Itu adalah tentang bagaimana mereka menatap dunia dengan cara yang berbeda. Tentang bagaimana mereka menerjemahkan diri menjadi orang dewasa dengan cara berfikir khas anak kecil. Tentang bagaimana mereka tumbuh menjadi anak-anak yang skeptis dan berhenti percaya pada hal-hal baik. Tentang bentuk emosional anak kecil yang tumbuh di dalam rasa sedih dan lelahnya mental. Mereka sedih, marah, bimbang, bingung, sendirian, tapi sesungguhnya mereka tidak membenci. Mereka hanya merindukan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orang tua mereka.
"Karena belajar jadi mama yang baik itu sulit, Ava," kata Mas Alri. "Jadi mama, jadi papa... dua-duanya susah." (Di Tanah Lada, Hal:197).
Ya, jadi manusia memang susah. Jadi lumba-lumba juga susah. Jadi bintang di langit juga. Apalagi jadi laut. Dingin, hitam, dan menelan Ava juga P.
Seseorang sungguh perlu membaca ini, untuk belajar lebih lagi tentang bagaimana menjadi seorang dewasa yang benar-benar dewasa dan bisa jadi rumah untuk anak-anak terutama untuk anak kecil di dalam dirinya.
Itu memang susah, tapi mari terus kita coba.
Rabu, 05 Oktober 2022
Review Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"
"Jangan tergila-gila dalam mencintai. Jangan tergila-gila dalam membenci. Jangan tergila-gila dalam mengagumi. Jangan tergila-gila pada apapun di dunia ini. Dunia fana. (Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, Hal : 210).
Memang tidak ada yang lebih menjaga dari pada mencukupkan semuanya. Tidak hanya tentang mencintai, tapi juga tentang bagaimana menerima cinta dan tidak melakukannya. Tidak hanya tentang asmara, tapi juga tentang harapan, bunga yang mekar, pohon yang layu, dan sesuatu yang abu-abu. Tidak hanya tentang kita yang seharusnya sudah dewasa, tapi juga tentang anak kecil yang masih dan akan terus tumbuh di masing-masing diri kita.
"Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta" adalah sebuah buku tentang orang-orang yang jatuh cinta, bermasalah, patah hati, menyesal, bangkit lagi, dan banyak kemungkinan lagi.
Buku ini berisikan sesuatu tentang cinta. Yang tidak direstui, yang diam-diam, yang terhalang jarak, yang hilang kendali, juga yang kehilangan diri sendiri.
Buku ini mengingatkan kepada kita semua bahwa tidak ada yang lebih penting dari cinta selain bagaimana cara menemukan konsekuensi dari cinta itu sendiri. Bahwa segala sesuatu selalu tampak lebih indah dari kejahuan, saat kita belum memilikinya. Bahwa dalam kondisi yang demikian, semakin banyak yang kita beri, maka semakin banyak pula kita merugi. Bahwa keselamatan hati adalah poin pentingnya. Bahwa dia adalah lelaki yang baik dan kau adalah gadis yang tahu batasnya.
"We're better than love. Jangan biarkan cinta menginjak-injak kita." (Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, Hal : 59).
Rabu, 07 September 2022
Review "Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan"
"Begitulah arti kehilangan seorang wanita. Dan ada kalanya kehilangan seorang wanita berarti kehilangan segala wanita. Dengan demikian kami menjadi-jadi lelaki-lelaki tanpa perempuan." (Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan, Hal 261).
Begitulah seorang Murakami menggambarkan sekian banyak emosi dan perasaan yang begitu nelangsa dari beberapa lelaki yang ditinggalkan perempuannya.
"Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan" adalah sebuah novel yang terdiri dari 7 cerita pendek tentang seorang lelaki yang ditinggalkan perempuannya. Seseorang ditinggalkan karena relasi yang menggantung. Seseorang lainnya ditinggalkan karena pengkhianatan. Seseorang lainnya ditinggalkan karena terputus maut. Seseorang lainnya ditinggalkan karena permainan. Seseorang lainnya tidak sadar dirinya telah jatuh cinta. Seseorang lainnya menjalin hubungan tanpa status. Seseorang lainnya memilih mati. Seseorang... hanya bernasib serupa tapi tak sama. Mereka berhubungan, kesepian, kehilangan, kebingungan, tapi seperti hanya begitu. Menerima segala sakit hati dan kesendirian.
"Begituan susah ya?" tanyanya
"Begituan bagaimana?"
"Maksudku, tiba-tiba harus seorang diri padahal sebelumnya selalu berdua"
"Kadang-kadang" kataku jujur.
(Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan, Hal 66)
Tapi itu tidak seberapa daripada kata Pak Kafuku, bahwa...
"Yang paling sulit bagiku daripada apapun" ujar Kafuku, "adalah kenyataan bahwa aku sebenarnya tidak pernah bisa memahaminya-atau setidaknya bagian yang barangkali penting dari dirinya. Dan, kini ia sudah tiada, mungkin takkan kupahami selama-lamanya. Ibarat lemari besi kecil keras yang ditenggelamkan ke dasar laut dalam. berpikir begitu, dadaku terasa sesak" (Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan, Hal 34).
Waw, agak sakit. Tapi Takatsuki juga sangat mewakiliku.
"Tapi Pak Kafuku, apakah mungkin bagi kita untuk sepenuhnya memahami seseorang? Walaupun kita mencintai orang itu dalam-dalam?" (Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan, Hal 34).
Sebuah titik buta. Sebuah bukti kehidupan. Ya, setidaknya semua (pernah) ada.
Jumat, 04 Maret 2022
Review Novel "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya"
Begitulah tutur Cak Dlahom kepada Mat Piti usai ketidakberdayaan Cak Dullah di cerita "Wayang yang Memuji Diri Sendiri".
Cak Dlahom, seorang tokoh utama yang istimewa di buku ini. Dia sinting tapi tidak. Dia pintar tapi tidak. Dia bodoh, tapi juga tidak. Cuma kadang bikin geregetan dan tentu saja gila. Tapi di setiap tingkah absurdnya, Cak Dlahom selalu menyampaikan peringatan-peringatan kecil tentang bagaimana cara orang-orang memahami islam, tentang bagaimana hidup beragama, hidup bermasyarakat, juga tentang ibadah-ibadah yang sudah mereka lakukan. Apakah sudah benar-benar karena Allah atau hanya demi mendapat pujian dari orang lain.
Buku ini menceritakan tentang kehidupan orang-orang di kampung Ndusel. Kehidupan yang sederhana dan sangat-sangat relate dengan kehidupan orang-orang pada umumnya. Yang kadang peduli, yang kadang rajin beribadah, yang kadang tersinggung, yang kadang putus asa, yang kadang lupa bersyukur, yang kadang merasa benar padahal tidak, yang kadang kebingungan, yang kadang sombong, yang kadang keras, yang kadang lupa bahwa berwudu yang sebenarnya adalah memberi maaf. Bukan hanya menyejukkan muka. Bukan.
Buku ini bacaan yang sederhana tapi syarat akan makna. Buku ini buku islami yang bertema komedi. Buku ini rumah yang baik. Cak Dlahom pasti cekikikan mengetahui ini sambil terus menggumam
"...manusia itu hanya bisa mengaku-aku ada. Mengaku-aku bisa berbuat. Mengaku-aku punya nama. Mengaku ini itu. Tapi, semua hanya pengakuan karena mereka sebetulnya tidak ada dan tidak tahu kalau tidak ada". (Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, Hal: 173)
Selasa, 15 Februari 2022
Review Novel "Waktu untuk Tidak Menikah"
"Kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?" (Waktu untuk Tidak Menikah, Cover belakang).
"Segala kemungkinan bisa terjadi. Asal kau tahu, kehidupan rumah tangga lebih berat jutaan kali lipat. Kau harusnya menghemat air matamu." (Waktu untuk Tidak Menikah, Hal: 126)
Selasa, 01 Februari 2022
Review Buku "Filosofi Teras"
Jumat, 31 Desember 2021
Menyambut Tahun Baru
Minggu, 29 Agustus 2021
M(asih)elaju
Orang-orang datang dan pergi. Hari ini mereka datang mengetuk pintu, lalu singgah, dan bergegas pergi dikemudian hari. Seperti terburu-buru mengejar sesuatu, tapi apa? Oh bukan, aku bukan tidak bahagia menyaksikan panggung mereka begitu megah. Aku hanya sedikit bingung, kenapa rasanya waktu semua orang berjalan, tapi tidak denganku? Waktuku kadang serasa berhenti, kadang berjalan lambat, kadang malah terasa begitu berat. Rasanya sulit sekali mengejar orang-orang itu. Aku takut, aku takut hanya aku yang masih berdiri di sini, tertinggal, dan sendiri.
Oh Allah, mohon jauhkan aku dari hati yang akan menjadi rusak lalu menjadi terlalu membenci. Bawa aku pergi jauh dari perasaan yang sulit menerima.
Tapi tidakkah sama? Tidakkah memang begitu sesuatu-sesuatu yang belum berhasil sampai kepada kita? Jalanan yang lebih panjang dan berliku itu, oh haruskah? Hei, tapi bagaimana bisa aku merasakan seperti aku saja yang paling menderita? Padahal disana, entah dimana, pasti selalu ada mereka yang lebih lelah, lebih pusing, dan lebih segalanya dariku.
Sering setiap iri itu datang, aku berkali-kali bertanya dengan diriku sendiri,
Sabtu, 17 April 2021
Ancak
Cepat sekali. Dikejar apa entah. Waktu lari-lari. Melompat kesana-kemari. Tanpa pernah memberi arti. Oh atau hanya aku saja yang belum mengerti? Ah, dunia ini. Tak bisa aku meraba jalan-jalan yang akan dilaluinya.
Di balik jendela, aku hanya melihat sepasang mataku yang sayu. Melukis aku akan banyak hal pada langit yang biru. Luka kuurai. Senyum kusemai. Meski layu, bunga hati kupaksa mekar. Perasaaan-perasaan penuh ingin, terus datang mengetuk. Sepanjang waktu, aku mencoba membuka pintu untuknya. Semuanya, tanpa terkecuali. Aku ingin jadi tuan rumah yang baik.
Egoku kududukkan manis di beranda rumahku. Lumayan, hujan seharian menyuguhkan pelangi yang berlatar belakang senja yang tidak begitu jingga. Bincang yang sepertinya basi kusuguhkan untuknya. Tentu saja lengkap dengan tanda tanya-tanda tanya yang semakin lama semakin mahal jawabnya. Sudah lama ia merasa sendiri. Tenangnya pergi entah kemana. Hanya ada air mata yang ia tinggalkan sebagai jaminan."Pelan-pelan saja, bisa tidak? Satu per satu. Nafas dulu yang panjang. Jangan buru-buru hilang"
Dia mulai menggerutu. Dan aku mulai tertawa. Lalu angin-angin malam mulai menemaninya duduk memangku senja.
"Tidak usah jadi yang istimewa. Sederhana juga bisa jadi mulia" katanya.
Saben hari aku menatap harap. Membayangkan tiap detik yang berjalan menjadi saksi betapa baiknya aku menjalani hari-hari. Saben hari aku melambungkan dan membisikkan banyak doa, berharap bisa dengan baik menjaga diri. Saben hari aku berjalan dengan teka-teki yang kadang ingin kutertawakan setelahnya. Setelah sampai di ujung yang tetap menjadikanku baik-baik saja. Meskipun diiringi banyak bualan. Meskipun didekap erat ketakutan. Meskipun aku, sempat tak baik-baik saja.
"Hari ini adalah hari ini. Besok belum tentu ada hari seperti ini. Jadi, mari jalani. Apapun yang terjadi, jalani. Kalau senang, berbahagialah. Kalau sedih, berbahagialah. Sebab setidaknya, kita semua masih terbukti ada"
Begitulah mantra yang sering mengunci tekadku setiap sepasang mataku membalas senyum matahari pagi. Meski kadang hilang fungsi, setidaknya niat dari hati sudah pernah ada dalam diri. Toh hidup ini hanya perkara beruntung dan tidak beruntung. Juga perkara cara menyelami sudut pandang. Karena tiada beda bagi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mereka adalah perjalanan dan kita semua adalah pejalan yang melintasinya.
Dan begitulah waktu memberikan perjalanan kepada kita. Dan begitulah waktu mengantarkan kita kepada realita. Dan begitulah waktu mengetuk ruang terdalam dari jiwa kita yang kadang hilang bentuk, bahkan untuk sekedar menjadi rumah untuk diri sendiri.
Semua hal akan berakhir menjadi biasa. Semua hari dan apapun yang terjadi akan baik-baik saja. Ya, tentu saja terjemahkan sendiri arti "baik" untukmu. Jadi jangan lupa bersulang dengan kesempatan-kesempatan yang masih ada. Sesekali menarilah bersamanya. Sekian kali kuingatkan lagi, jangan lupa jadi bahagia meski hanya karena hal-hal sederhana.
Sedih itu biasa. Yang luar biasa itu sedih tapi dinikmati jadi bahagia. Sebab setiap hal berjalan. Sebab setiap kita adalah pejalan. Sebab setiap kita dalam perjalanan. Sebab setiap perjalanan adalah kesempatan. Dan setiap kesempatan adalah penmbelajaran.
Ya hanya begitu. Hanya itu. Jalani saja sampai waktu menemukan ujungnya dan kita selesai.
Jumat, 12 Februari 2021
Review Buku : "Segala-galanya Ambyar"
Jumat, 16 Oktober 2020
"Pukul 10 Malam"
Minggu, 27 September 2020
Tanda Tanya Di Meja Kerja
"Kalau kalian dikasih kesempatan bisa balik ke masa lalu, kalian pengen balik ke umur berapa dan kenapa?"
"Hidup ini kepalang bajingannya ya ma?"
Haha kalau aku menanyakan itu kepada mamaku, pasti dahinya langsung mengeryit dan tentu saja diakhiri dengan mengiyakan pertanyaanku. Mungkin juga mama akan berkata "sangat, apalagi siapa, siapu, siapi, dan sia-sia lain yang sudah menjadikannya kokoh berdiri seperti sekarang. Mamaku kuat, meskipun keras. Mamaku sayang, meskipun hidupnya kepalang malang. Mamaku hebat, meskipun sering mengeluhkan asam urat.
Kadang aku juga bertanya, bagaimana cara menemukan bahasa cinta seorang perempuan? Aku merasa belum juga bisa menemukannya. Mencari ditubuh mama aku melihat banyak luka, mencari ditubuh teman-teman aku merasa rumit, mencari ditubuh sendiri aku seperti terperangkap dalam sebuah labirin.
Tidak tersentuh, tapi bekasnya terasa menyeluruh. Berlari jauh sampai ke antah berantah, aku hilang diantara kabut amarah. Terjatuh begitu dalam, aku tergilas putaran waktu. Bahagiaku direnggut, diganti dengan luka yang akhirnya menjadikanku tersudut.
Tapi ma, apa kabar rambut panjangku? Aku lucu sekali ya kepangan dikuncir satu? Baju warna warni, tas gendong, dan botol minum. Ah tapi mama tetep juara satu menjagaku. Makasi ya ma.
Selasa, 04 Agustus 2020
Hadiah Kebenaran Yang Tidak Kusuarakan
"Bodo amat moo nulis gini doang nggak kelar kelar hiksss"
Begitulah judul draft terakhir yang kubuat untuknya. Sebuah draft yang
akhirnya kuubah lagi isinya menjadi lebih, emhhh aku berharap itu bisa jadi
lebih sederhana. Tapi kelihatannya tidak juga, aku pikir aku hanya membuatnya
lebih cepat selesai terbaca. Ya, begini lebih baik.
Harusnya ini
bisa sampai kepadanya lebih cepat. Tapi ya dipikir-pikir, sebenarnya aku hanya
berusaha menjadikan semua ini menjadi tepat. Semoga saja besok pas aku berani,
aku tidak terlambat. Sebenarnya aku sudah mulai lelah, sudah hampir gila, tapi masih bisa
sumringah.
Aku tidak tahu
bagaimana cara memulai. Aku tidak tahu ini akan menjadi pantas atau tidak. Aku
tidak tahu apa ini, tapi aku pikir sudah seharusnya dia tahu. Aku tidak bisa
mengatakannya sebagai apa, tapi aku punya kebenaran yang tidak kusuarakan
kepadanya. Oh bukan tidak, aku hanya belum berani mengatakannya. Aku tidak bisa
memastikan ini akan menjadikan aku dan dia baik-baik saja setelahnya. Tapi aku
pikir, aku perlu begini untuk menjadikan diriku menjadi apa adanya. Akhir-akhir
ini suara hatiku berisik sekali, isi kepalaku jadi penuh, aku jadi susah
tenang.
Sudah lama aku tidak menyapanya. Sekedar menanyakan kabarnya. Padahal aku ingin sekali tahu bagaimana kabarnya. Aku ingin tahu cerita-ceritanya selama tidak denganku. Aku ingin tahu semua tentangnya. Apa yang dia suka, apa yang tidak dia suka, apa yang masih menjadi cita-cita, apa yang sudah menjadi nyata. Apapun itu, aku ingin tahu. Tapi ya sengaja tidak kulakukan. Mana mungkin aku sepercaya diri itu? Tapi ya sudahlah, sebenarnya aku hanya sedang mencari celah. Tapi kalau ternyata ini akan menjadi sesuatu yang salah, aku tidak akan menyesalinya. Tapi ya kenapa tidak kulakukan saja? Namanya juga usaha. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bukan? Ya aku tidak terlalu percaya diri, tapi kan tidak ada salahnya mencoba. Maksudku memupuk percaya. Iya kan? Ya, begitu. Aku hanya ingin memberitahunya saja. Soal bagaimana setelahnya, aku belum terlalu memikirkannya. Aku hanya ingin bebas, aku hanya ingin jadi berani, aku hanya ingin merdeka, aku hanya ingin tetap menjadi aku yang banyak bicaranya, aku hanya ingin mengatakan segalanya, sejujur-jujurnya. Aku sungguh tidak bermaksud membuatnya menjadi terbeban. Aku juga tidak bermaksud membuatnya terkejut. Aku sungguh sudah mengupayakan datang kepadanya dengan hati-hati. Aku hanya mulai merasa kelelahan dan aku sudah ingin dia tahu tentang perasaan sialan ini. Sialan? Haha aku tidak menyangka akhirnya aku mengatakannya.
Tentang
kebenaran itu, sebenarnya aku tidak tahu persis semenjak kapan. Aku tidak tahu
bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku tidak tahu dimana tepatnya. Aku tidak tahu
akan mengatakannya sebagai apa. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, tidak
dengan bertanya, tidak juga dengan mencari jawabnya. Sudah lama tidak
bersua, tapi rasanya masih sama. Aneh, tapi ya gimana? Suka tiba-tiba ada. Aku
sungguh tidak sengaja merasakannya. Aku sungguh tidak berniat memulai ini
semua. Tapi ya tahu-tahu jadi terlanjur. Aku jadi bingung harus bagaimana.
Sejauh ini aku tangguh diam sendirian. Tapi akhir-akhir ini aku mulai
kuwalahan. Aku pikir memang sudah saatnya aku mengakui sesuatu kepadanya.
Mumpung aku dan dia masih sama-sama ada di bumi.
Aku ingat bincang malam setelah seleksi waktu itu. Gelap, dingin, ketakutan, terburu-buru, teledor, dan pincang sampai seminggu setelahnya. Haha sekarang sudah pulih, aku sudah bisa berjalan dengan normal lagi. Aku bahkan bisa lari-lari, melompat-lompat, dan melakukan apa saja yang aku mau. Tapi belum dengan datang ke arahnya. Wkwk pengecualian yang payah.
Malam
itu aku tidak sengaja menoleh ke belakang, melihatnya, tersenyum, tapi
tidak lama. Buru-buru kukembalikan pandanganku ke posisi awal lagi. Rasanya
langsung aneh, entah apa yang tidak beres denganku. Awalnya aku pikir ini hanya
kebetulan, tapi ternyata tidak. Tapi bukankah segala hal yang terjadi di
semesta ini sudah digariskan-Nya? Sejak malam itu, setiap berada
disekitarnya irama degup jantungku jadi berantakan. Aku sudah bilang, rasanya
aneh. Tapi aku kenapa? Ya mana kutahu. Segalanya begitu saja terasa tanpa
pernah memberikanku kesempatan bertanya “kenapa?”. Tega ya? Malam itu kupikir
aku baru saja jatuh. Rasanya luar biasa. Tidak sakit, tapi peningnya
berhari-hari dan tentu berkali-kali. Ya menyebalkan sekali terjebak dikondisi
begini.
Bertanya "apa,
kenapa"? Tanda tanyaku sia-sia. Tidak ada jawaban yang berhasil
menenangkanku. Akhirnya sejak malam itu, semua berjalan begitu saja. Tapi rasanya ketakutanku jadi 2x lipat lebih banyak. Isi
kepalaku selalu sibuk menerka-nerka. Seperti itu ceritaku. Sudah bertahun-tahun
aku berusaha lari, tapi aku pikir aku tidak ditakdirkan ahli dibagian ini.
Aku tidak bisa
menjelaskan dibagian mananya, ganteng sudah pasti. Siapa yang tidak tahu ini?
Ya, ini poin yang tidak berpoin. Mapan? Aku bahkan sudah lebih dulu jatuh
ketika seragam hitam putih masih sama-sama mengiringi perjuanganku dan
perjuangannya di rumah yang nyaman tapi banyak ricuhnya itu. Mungkin dari
suaranya atau mungkin hanya itu. Aku suka warna suaranya. Aku suka cara
bicaranya. Aku suka mendengarnya mengaji. Aku suka sekali. Dibeberapa
kesempatan aku mencoba menjadikan diriku biasa saja. Tapi tidak lagi bisa
setelah malam itu. Adakah yang tahu rasanya dibelai angin malam disepanjang
perjalanan menuju sabana Merbabu? Adakah yang tahu ketika tiba-tiba
kau dengar seseorang melantunkan beberapa ayat di bawah tarian bintang dan
sinar rembulan dimalam yang sedang lelah-lelahnya itu? Adakah yang
tahu betapa segala penat dan lelahku seketika hilang karena tiba-tiba
mendengar suara itu? Adakah yang tahu betapa aku pernah ingin
membawanya pulang dan menjadikannya tempat pulang? Adakah yang
tahu siapa saja yang menyadari semua itu? Aku pikir dia sendiri
tidak menyadarinya. Sebenarnya, aku juga tidak, tapi entahlah. Aku benar-benar
tidak tahu ada apa denganku. Tiba-tiba sesuatu muncul dibenakku. Kataku
“Mungkin suara ini yang akan selalu jadi obat dari
segala kekalutanku. Iya tidak si? Tidak apa iya si? Iya apa iya si? Nggak tahu.
Lihat nanti deh. Astagfirullah Astagfirullah Astagfirullah, aku kenapa?”
Lucu? Tidak
sama sekali. Suaranya biasa saja, tapi ya istimewa. Aku sering menirukan
gayanya. Kadang berhasil, tapi ya banyak tidaknya. Susah juga ternyata.
Aku tidak bisa
menyebut ini apa. Mungkin aku terkagum, atau entahlah. Sebenarnya aku juga
tidak ingin mengatakan apapun kepadanya. Ya, tentu saja aku malu. Tentu saja
aku tidak percaya diri. Tentu saja aku takut. Aku cantik tapi tidak terlalu.
Aku keras tapi cepat layu. Aku berisik tapi sepi. Aku utuh tapi terbelah. Aku
masih kuwalahan dengan egoku sendiri. Aku paham itu. Aku tahu aku jauh dari apa
yang menjadi impiannya. Aku tahu bisa saja dia mengidamkan yang lebih dariku.
Aku tahu aku mungkin masih jauh dari kata layak untuk bisa membersamainya. Ya
aku tahu, tidak seharusnya aku berpikir begitu. Aku pikir dia sudah jauh lebih tahu semua itu. Tapi ya sudahlah.
Sebenarnya
sudah sejak lama, semacam berpuisi dan menulis sajak tentangnya. Tapi ya belum
juga ada yang sampai kepadanya. Entah aku yang kurang berusaha atau memang dia
belum diijinkan untuk tahu. Entahlah, yang aku tahu sekarang jarak sudah
sebegitu teganya membentang. Aku dan dia sudah sama-sama jauh dan sama-sama
hampir hilang. Aku tenggelam dalam beberapa ketakutan, dan dia? Aku bahkan
tidak tahu dan sengaja tidak mencari tahu tentang itu. Sejak
awal aku tidak pernah mencari tahu tentangnya. Aku tidak pernah tahu
hobbynya, makanan favoritnya, cita-citanya, dan apapun tentangnya. Memang
sengaja tidak kulakukan. Biar saja, biar aku tidak semakin jatuh. Biar aku
jatuh pada apapun yang menjadi sebatas kutahu. Biar berjalan secukupnya saja.
Seperti ini kadang membuatku bertanya "jatuh macam apa yang kulakoni
dengan begini?"
Kau tahu? Bahwa
jatuh selalu membuat kita lebih baik dari sebelumnya. Jatuhnya jatuh yang
sebebas-bebasnya. Terlepas dari akhir yang akan bersambut atau malah sebaliknya.
Seperti itu aku menikmati jatuhku. Seperti itu yang kulakukan demi merasa dekat
dengannya. Menjadikan suaranya sebagai nada alarm, menari dengan kata-kata,
mengingat malam itu, memanggil-manggil namanya dalam bincang sendiriku,
berdialog dengannya dengan puisi dan sajak-sajak itu, juga melangitkan doa-doa.
Sementara ini cukup kulakoni. Setidaknya aku tidak harus datang kepadanya dulu.
Setidaknya rahasia ini tetap aman digenggamanku. Setidaknya dia akan jadi abadi
menjadi sajak-sajak amatirku.
Aku jadi ingin
meminta banyak maaf kepadanya. Maaf karena sudah sering tidak sengaja
mengandaikannya disela-sela lamunanku. Aku suka sekali mempertanyakan sekian
kemungkinan setelahnya, lalu menjawabnya dengan pemisalan-pemisalan yang
kuandaikan sendiri. Hanya sebentar, tapi berkali-kali terjadi. Kadang aku
berusaha menghindari ini. Tapi semakin pikiranku kuajak lari, malah semakin
jelas rasanya. Aneh ya, kubuka mata dia tidak ada, kututup mata bayangnya
serasa nyata. Haha. Semesta memang sering sebercanda itu ya. Sudah ada yang
mendekat juga kepikirannya masih dia. Jahatnya aku. Sedih.
Sekarang 2020
sudah datang lebih dari separuh. Kita hampir genap lagi untuk sampai ditahun
yang baru. Jadi, sudah berapa lama aku mengaguminya? Jadi, sudah berapa lama
aku terjebak dikondisi semenyebalkan ini? Jadi, sudah berapa lama aku menjadi
bisu dan berharap dia tahu tanpa perlu kuberi tahu? Jadi, sudah berapa draft
yang kubuat sampai akhirnya jadilah ini? Jadi, sudah berapa pendapat yang
kutimbang sampai akhirnya jadi berani begini? Jadi, kalau aku terlanjur
mengungkapkannya lebih dulu waktu itu, kira-kira akan secanggung apa ya aku dan dia
setelahnya? Haha aku benar-benar tidak berani membayangkan resiko berat yang
akan kutanggung setelahnya.
Aku hanya perlu
dia tahu apa yang pernah dan masih sesekali aku rasakan. Siapa tahu ada juga
yang perlu kutahu darinya. Aku hanya ingin membebaskan diriku dari kekacauan
yang telah dengan baik kurawat selama ini. Aku hanya ingin jujur kepadanya dan
tentu kepada diriku sendiri. Aku hanya ingin menyelesaikan ini. Aku tidak ingin
menjadikan ini hal kedua yang tidak bisa kuselesaikan. Aku hanya tidak ingin
menyesal karena tidak berhasil mengatakan ini kepadanya. Ini tidak mudah, tapi
sejauh ini aku telah berhasil melakukannya. Sudah lama sekali aku menahan diri
dan melaluinya dengan segala kegelisahan yang kurahasiakan sendiri. Aku senang
karena akhirnya aku bisa menjaga rahasia ini sendiri. Aku senang karena aku dan
dia baik-baik saja sampai saat ini. Aku senang karena sempat melihatnya senang.
Aku senang karena sempat setenang itu meskipun hanya bisa melihatnya atau
mendengar suaranya dari jauh. Aku senang akhirnya dia tahu apa yang
selama ini kurasakan. Aku senang akhirnya aku berhasil
mengutarakan. Tapi besok ya, kalau aku tidak kehilangan nyali dan kepercayaan diri.
Haha.
Segala awal akan menemukan akhir dan segala akhir akan menjadi sebuah awal. Begitulah kehidupan. Aku tidak ingin menebak akan seperti apa setelah menjadikannya tahu ini semua. Bagiku diam atau bicara, berjalan atau berlari, menujunya tetap akan menjadi yang beresiko bagiku. Pun kupendam atau kusampaikan, keadaan tidak akan bisa merubah kapasitasku menjadi seorang perempuan. Aku tidak pernah takut kehilangan dirinya sebagai apapun. Toh, semua hal punya masing-masing fasenya. Aku hanya takut tidak berhasil membuatnya tahu tentang ini semua. Karena jika setelah ini aku harus hilang dari dunianya, aku sudah lebih dulu melakukannya.
Ternyata
seperti ini ya rasanya menjadi pemendam yang lihai? Sebenarnya aku tidak rela,
tapi aku kan bukan siapa-siapa dan tidak berhak melakukan apa-apa. Aku hanya
tidak ingin dia jauh. Aku tidak ingin menjadikannya berbeda. Aku juga tidak
ingin membatasinya. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak kapanpun. Dia berhak
dan memang seharusnya menjadi merdeka dengan cara terbaik yang dia punya. Aku
tidak ingin merebutnya dari siapapun. Tidak dari mereka, tidak dari siapapun,
tidak juga dari dirinya sendiri.
Tidak apa-apa
kalau ternyata dia tidak sama jatuhnya denganku. Bebas, yang penting dia sudah
tahu. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan
tidak menerima. Tidak ada yang salah dengan tidak diterima. Semua orang
berpeluang menemukan dan ditemukan. Tidak harus dia, tidak harus aku, tidak
harus. Ya, tidak harus.
"Puncak
kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Kita memang merdeka terhadap
rasa, tapi terbatas dalam mengharap balas.” Kata siapa, aku lupa. Aku tidak
bisa mengatakan ini semua telah mati. Aku hanya sudah berhasil menjadi terbiasa
melihatnya dari jauh. Aku tidak tahu apakah aku harus lari atau malah menyelami
ini lebih jauh lagi. Sejauh ini aku menikmati berada diantara yang kunikmati
sendiri. Aku tidak bisa mengatakannya sebagai apa. Kadang aku bahagia, kadang
juga tidak. Aku takut, entahlah. Aku sendiri tidak tahu takut karena apa.
Sudah sejauh
ini. Sudah sepanjang ini. Kata-kata bisa jadi tidak pernah berkata-kata. Tapi ketika berani itu mendekapku, semoga saja sudah tidak ada lagi
rahasia. Aku tidak akan keberatan kalau ternyata dia tidak lagi menghiraukanku setelah
ini. Aku sudah bilang, aku hanya ingin memberitahunya. Aku sudah bilang, dia
berhak jadi apa yang dia mau. Aku sudah bilang bahwa aku dan dia harus selalu
bahagia, entah bagaimanapun caranya.
Aku tidak akan menyesal pernah merasakan ini. Aku harap nantinya dia juga tidak menyesal pernah membaca dan akhirnya tahu mengenai ini. Aku akan menjadi lega, meski aslinya masih bingung harus bersikap bagaimana setelahnya. Aku tidak akan melupakan ini. Aku tidak berani mencobanya karena aku tahu itu tidak akan berhasil. Karena tidak akan pernah ada lupa yang benar-benar lupa. Begitukan?
Sekarang masih
belum jam 03.00 WIB. Tapi seperti biasa, suaranya sudah berhasil
membangunkanku. Rekaman 13 ayat pertama surat Ar-Rahman kirimannya
sekian tahun yang lalu itu, sudah jadi nada alarm di sepertiga malamku sejak
dia mengirimkannya untukku. Selancang itu aku. Tapi terimakasih banyak untuknya
karena sudah setiap hari membangunkan. Berkatnya malamku tidak pernah
sepi. Aku senang sekali bisa berdua dengan Yang Maha Mempertemukan. Meski
sesekali, belum usai meratap aku sudah lebih ketiduran lagi. Haha.
Sampai jumpa keberanian. Sampai jumpa lakon utama rahasiaku. Sampai jumpa kalian yang sudah membaca. Sampai jumpa semua.
Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan
Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....
-
Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....
-
Sore ini seperti mendapat kejutan paling menyenangkan. Satu itu tentang langit biru yang cerah setelah seharian hujan. Dua, tent...
-
Esok ramadhan akan datang. Sudahkah jiwa kita siap menjamu setiap ketukan yang dihadiahkan kepada masing-masing dari kita? Belakangan in...











