Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Juli 2021

Dear, Bulan Sabit...

Tuan
Tuan...
Orang-orang bisa begitu saja tampak dan benar-benar membosankan. Menari-nari mereka dengan omong kosong yang meriah. Dan begitulah musik yang tidak sempurna itu menggelar pestanya. Jadi, mari gemuruhkan tepuk tangan demi siapapun. Setidaknya mereka sudah bekerja keras dan tentu bersusah payah, bahkan untuk sesuatu yang menurut kita berantakan atau malah tidak berguna. Termasuk ini, termasuk aku, termasuk kamu, termasuk kita yang tidak sadar ketagihan jatuh berkali-kali.

Tuan
Tuan...
Kadang kita perlu menyelam, lebih dalam, sampai tenggelam, dan bahkan berkarat. Isyarat-isyarat kadang datang dalam wujud yang tidak kita suka. Dan kita rentan menyambutnya dengan sesuatu yang kekanak-kanakan. Sepenggal makna, aku pikir aku juga sama sepertimu. Jabat erat tanganku tuan. Kita sama-sama tidak mahir dalam hal ini.

Tuan
Tuan...
Hari demi hari berlalu. Dan tepat sedetik yang lalu, aku telah mendidih. Berteriak aku, berlari aku menujumu, berbisik sesuatu aku kepadamu. Menurutmu, apakah aku berhasil sampai kepadamu?

Tuan
Tuan...
Terlihatkah ini di kedua matamu? Adalah aku yang sedang berdandan dihadapanmu. Cerminku adalah kau. Tempat segala kata-kata terlahir. Tempat segala cukup mahir memeluk. Tempat asing yang tiba-tiba saja jadi rumah.

Tuan
Tuan...
Bagaimana kalau besok kita bertemu? Lalu dalam keyakinan itu, mari kita bersulang. Pakai air putih saja tidak apa-apa. Asal salah satu tanganmu menggenggam tanganku. Aku tidak perlu matcha favoritku. Sudah kukatakan kepadamu bahwa kau adalah segala cukup untukku.

Tuan
Tuan...
Barangkali kita butuh detik yang menjelma jadi lebih banyak untuk sekedar mengosongkan ruang yang riuhnya merongrong. Barangkali kita butuh saling melihat, kemudian jadi sembuh dari pura-pura yang gemar kehilangan logika. Maka dari itu, lekaslah sampai kepadaku tuan. Dan jangan lagi lari. Menderitalah bersamaku sampai aku sembuh, sampai kau sembuh, sampai kita berdua jadi obat satu-satu.

Tuan
Tuan...
Besok atau nanti kupanggil lagi namamu. Lirih, tapi semoga kau mendengarnya. Sebab begitulah cara cinta mulai bekerja. Sebab begitulah aku memulai berani lagi. Sampai jumpa obat kalutku. Sayang kamu dari jauh, bulan sabitku.

Sabtu, 25 April 2020

Romantika Puan Yang Sedang Jatuh Cinta (1)

Aku tidak tahu bagaimana harus memulai. Aku juga tidak tahu apa dulu yang harus aku mulai. Aku bahkan tidak tahu apakah ini bisa benar ku mulai atau sebaiknya tidak usah. Ya, aku terlalu banyak bertanya kepada diriku yang tidak mahir menjawabnya.

Malam ini aku ingin terbang ke atas langit. Aku ingin menari-nari dengan riang bersama bintang-bintang. Dan kemudian beristirahat sejenak di tubuh bulan sabit yang ku pandang indah serupa senyummu. Nyaman sekali sepertinya, aku tersenyum memandangmu dari jauh.

Oh hai, bersediakah kau genggam tanganku? Sebentar saja. Dan kita mainkan lagu romantis milik siapa saja untuk mengiringi dansa perdana kita. Lalu kita akan menjadi sepasang yang bahagia. Berdua seperti cerita romansa orang-orang yang sedang jatuh cinta. Oh kau, sungguh aku tak bisa berhenti mendambamu.

Semesta kepalang baiknya ya? Dipertemukannya aku denganmu, ya meski pada kenyataannya kau masih sekedar seseorang yang hanya bisa ku damba. Tidak apa-apa, setidaknya aku pernah bahagia bisa menemukanmu diluasnya semesta ini. Aku beruntung bukan? Ya, tentu saja. Kau juga, seharusnya. Kita sama, dalam hal yang berbeda.

Sekarang kita sudah saling jauh. Padahal aku belum sempat mengatakannya atau mungkin sekedar menanyakan tentang ini semua. Sampai didetik aku menuliskan ini, aku bahkan belum mengerti apa ini. Suka, kagum, atau malah cinta. Cinta yang apa adanya atau yang hanya sebatas ekspektasi belaka. Haha memangnya apa itu cinta, ahhh aku hampir putus asa menjawabnya sendirian.

Jauh di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak ingin menyesal karena tidak menjadikan kamu tahu ini semua. Tapi aku butuh cara untuk bisa menjadikanmu baik-baik saja setelah mendengarnya. Kau tau, aku bukan tipe wanita idamanmu. Dan aku tahu, aku belum cukup pantas untuk bisa membersamaimu. Aku cukup tahu diri untuk menyadari ini semua. Aku cupu ya? Belum berjuang, tapi sudah terkesan menyerah. Ahh aku memang payah berurusan dengan cinta.

"Bagaimana rasanya" tanyanya singkat.

"Biasa saja (tapi agak lain setiap mengingatnya)" kataku menjawab.

"Apa susahnya si menyatakan cinta?" katanya.

Kataku takut berkata-kata. Aku membisu seketika sambil bertanya-tanya mengenai apa saja.

"Apa yang akan terjadi setelahnya?"

Ya, siapa yang tahu akhirnya? Aku bahkan belum dan entah kapan akan siap menerima segala kemungkinan yang ada. Kau tahu bukan, membicarakan ini tidak akan menjadi sesederhana yang semestinya.

Kau tahu? Sepanjang waktu ku ketuk hatimu. Ku bisikkan lembut di kedua telingamu dari jauh, sebuah tanya yang entah kapan akan ku dapatkan jawabnya.

Kau tahu? Sejauh apapun kau, kedua mataku tak pernah bisa meninggalkanmu. Ku pandang apa saja yang bisa ku pandang tentangmu. Sesuatu yang lama ku tahu, yang mulai ku tahu, dan tentu saja yang belum ku tahu.

Kau tahu? Kedua mataku basah mengingatmu. Mengingat ketidakberanianku untuk bicara jujur kepadamu. Kau, andai kau tahu bagaimana rasanya. Seperti memaksa menggenggam sebuah pisau tanpa penghalau, tanganku berdarah, tapi aku tidak bisa begitu saja melepaskannya. Aku terjebak, kau telah menjadikanku terjebak.

Kau mungkin tahu bahwa aku suka menulis. Tapi aku tidak tahu, mungkin kau juga suka membaca. Tapi aku tidak yakin kau singgah untuk membacanya sebentar. Atau pernahkah kau membaca sajak amatirku? Aku sering menyampaikan beberapa hal untukmu. Mungkin kau pernah merasakan itu untukmu, atau baiklah lupakan saja. Aku hanya sedang menerka-nerka saja.
Tapi ada yang perlu ku sampaikan. Bisa minta waktumu sebentar? Sebentar saja. Atau  baiklah, tidak jadi, maaf mengganggumu.

Ahh tapi baru saja aku mengingat itu. Aku harus menyampaikannya padamu sekarang. Atau mungkin besok. Kau ada waktu? Oh ya tentu saja, aku membuang waktumu sekarang. Maafkan aku.

Hei, sebentar. Tapi aku sungguhan. Ada yang perlu kau tahu dariku. Sesuatu yang ku sembunyikan dari dulu. Kau mungkin sudah tahu, atau kau sengaja menghindar dariku, atau sebentar, sepertinya aku terlalu pandai menyembunyikan itu. Aku bahkan tidak berhasil menjawab pertanyaanku sendiri. Maaf, tapi aku pikir, aku mengganggumu lagi.

Tapi ini penting, bertahun-tahun ku rawat siksaan ini. Tidak apa-apa, akan ku lakukan apapun demi membuatmu tetap menjadi baik-baik saja. Bukankah kau adalah pusat dunia? Dunia milik orang-orang yang menaruh cinta dan sayangnya untukmu. Rekah senyummu adalah satu yang menjadikanku hidup. Oh ya, tentu baru saja aku mengakui itu kepadamu.

Hei, aku bingung harus memulainya dari mana. Aku takut, aku takut membuatmu terluka atau tidak nyaman. Tapi ketahuilah, aku tak pernah berniat melakukan itu kepadamu. Aku hanya ingin itu, sesuatu yang tak pernah kau beritahukan kepadaku.

Setiap hari, setiap detik yang terpaksa ku nikmati, setiap itupun pertanyaan itu muncul dibenakku. Tak berhenti disitu, aku menjadi semakin pilu, tanya itu menuntut jawab, sedang jawabnya ada padamu.

Dan katakanlah kepadaku apa yang harus ku lakukan untuk itu? Aku harus tetap baik-baik saja bukan? Ya, sama dengan yang ku upayakan untukmu. Tidakkah kau bersedia membantu? Aku menunggu jawabmu.

Tapi biar, aku tak akan menuntut lagi. Setidaknya sudah pernah sampai kehadapanmu puan malang yang mencintaimu. Sesuatu itu, biar berlalu. Biar tetap akan menjadi rahasia. Karena kita sama, kita adalah dua pemuja rahasia yang berkemungkinan berbeda.

--------------------------------------

#Day (3)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Jumat, 14 Februari 2020

Sekedarnya Untukmu

Melihat senyummu, rekam otakku abadi mengalun. Bunyi-bunyi kerinduan berdenting. Suara-suara yang menyebut namamu kembali mengeja. Derap langkah kaki seakan mendekat. Kau begitu erat terdekap. Oh hari yang indah. Seindah kalimat pertama yang telah kau baca.

Liar, kau begitu bebas, menari-nari di dalam isi kepalaku. Membuka mata, menjalani hari, istirahat sejenak, melanjutkan lagi, sampai terlelap kembali, kamu selalu ada. Aku tak bisa lari dari semua hal yang berhubungan denganmu.

Takut, setiap malam aku bersembunyi di kolong imajinasiku. Remang-remang ku curi waktu, ku bingkai kisah impianku bersamamu. Indah, ah sepertinya aku akan benar bahagia.

Tapi seketika terhenti, aku membiarkanmu menunggu. Sengaja, aku menarik dalam-dalam nafasku, dan menghembuskannya sambil membisikkan sesuatu kepadamu. Sengaja, aku memainkan cincin di jari kelingkingku. Sengaja aku berjalan pelan dan kemudian mengambil waktu. Sengaja ku uji kebaikanmu, berharap tak menemukan keberatanmu.

Bertanya, akankah benar bisa bersama? Sungguh aku tak ingin berakhir kecewa.

Terpejam, aku mencoba membayangkan cerita kita yang begitu indah. Persis seperti yang ku mau, atau tentu saja yang sama-sama kita berdua mau. Tapi seperti berakhir, jarak dan waktu menjadi tak seperti yang aku mau. Kau juga (mungkin). Hei, kita berkemungkinan sama bukan? Ya, aku hanya takut benar-benar jatuh hati kepadamu dan kemudian tak bisa melupakanmu. Keseluruhan tentangmu tepatnya.

Bertemu, berbulan-bulan lamanya aku menunggumu tapi datangnya selalu sosok yang lain. Kami  bersama, berdua, berjalan begitu baik, dan ya tentu saja kau begitu pas menjelma di dalam dirinya. Setiap ku memandangnya, setiap itu pula ku pandang kau. Terlalu manis. Aku merasa sangat jahat telah melakukan ini. Tapi ini sungguh menyakitkan. Kenapa begitu sulit menghilangkan bayangmu? Kenapa melupakanmu aku tak pernah bisa? Sesak hatiku dipenuhi harapku tentangmu. Kau benar-benar jahat. Tapi aku masih ingin mencintaimu.

Pudar, rahasiaku bukan menjadi rahasia lagi. Semua orang tahu, ya orang-orang itu tahu. Kecuali aku. Aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana isi hatiku. Aku tersesat, sekaligus terjebak, ya tentu saja. Dalam kagum aku memujamu, dalam hati aku mempertanyakanmu. Hai kau, katakanlah sesuatu kepadaku.

"Hai kau, kagumkah atau cintakah aku kepadamu?"

Ingin, aku ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan. Tentang senyummu yang semalam, tentang yang ku rasa entah, tentang suara yang menjadikanku candu, tentang cinta yang entah kapan ku ketahui artinya, tentang apa saja, tentang apa saja, tentang apa saja.

Terkunci, terhenti aku pada sesuatu yang tak bisa ku artikan.

"Aku mencintaimu" kataku pilu sendiri.

Cermin-cermin berisi gambar diriku menertawakanku.

"Jangan sampai tak terucap" kata mereka riang.

"Ya tentu saja. Akan ku lakukan. Secepatnya. Sampai setidaknya aku tak berada di alam yang berbeda dengannya" kataku merendah.

Berpikir, apakah aku sempat terlintas dibenakmu? Apakah kau merasakan sesuatu yang sama sepertiku? Apakah dikejahuan sana kau menatap bulan yang sama seperti yang malam ini ku lakukan? Apakah hati kita akan sama-sama terpaut? Apakah aku akan bisa berhenti meananyakan apakah dan apakah lagi? Oh aku bahkan belum pernah berhasil menemukan alasan mencintaimu. Aku ingin sekali menyampaikannya kepadamu. Tapi sayangnya tidak akan terjadi, atau mungkin belum, atau ya tentu saja aku tidak benar-benar mencari tahu kebenarannya.

Terbayang, akankah benar kau adalah sesuatu yang akan ku temukan? Atau akankah benar aku adalah sesuatu yang akan kau temukan? Atau apakah kita akan saling menemukan? Dan kita akan menjaadi pelengkap yang saling membuka ruang berfikir masing-masing dari kita, lebih luas, lebih jauh, dan juga lebih banyak cinta.

Berniat, jika kau benar datang, aku tak akan memikirkannya 2 kali. Karena kau adalah satu, kau adalah satu-satunya, dan tentu aja kita akan bersatu. Kau ibarat jiwa, sedang aku adalah raga yang bernyawa karenamu.

Oh tapi tunggu dulu.

Tak bisakah semua ini berhenti?

Sungguh aku ingin jatuh cinta selain kepada kau, tuan tampanku.

Jumat, 07 Februari 2020

Ketika Kita Tidak Saling Menemukan (Lagi)

Kata kata telah rusak, tidak lagi berbentuk, dan tidak ada lagi yang sudi menjamah. Sebab perannya sudah berubah. Jelmanya telah berubah menjadi api yang saling membakar satu sama lain. Rasanya tidak ada lagi makna dari dialog yang mulai kehilangan rumahnya. Tembok-tembok telah meninggi. Aku merasakan sekat ini semakin ada dan menjadikan kita semakin jauh. Dadaku rasanya penuh, kepalaku pening, aku berjalan pasrah ke tempat biasanya aku merebah.

"Aku benci begini, aku benci jarak, aku benci diam, aku benci kehilangan, aku benci kamu yang tega melakukan, aku benci kita yang tidak bisa saling menemukan" kataku menggerutu.

Pintu-pintu semakin tertutup. Kita mulai kehilangan kewarasan, berteman dengan keheningan, dan mulai mencari pelampiasan lain agar tidak merasa kesepian. Tak ada lagi yang tersisa, meski hanya sekedar menyelesaikan ujung pembicaraan. Jiwa-jiwa kita mulai mati. Dan ya aku pikir kita layak disebut sekarat. Kita telah lebih dulu jatuh pada apa yang masing-masing menjadikan kita angkuh. Kita terjerat, kita tenggelam dalam lautan emosi yang berat.

Oh tidak adakah celah untuk kita duduk melingkar bersama, mengurai sekian tanda tanya, dan kemudian saling memperebutkan sesi untuk menjawabnya?
Tidak adakah lagi ruang di masing-masing hati kita yang sempat larut dalam satu kasih sayang yang sama ini?
Tidak adakah?
Hei.
Jawablah.
Aku mohon jawablah
Aku bertanya kepadamu.
Atau ya kepada siapa saja kalian yang telah sudi membaca ini.

Terlampau kering air mataku meratapi kehilangan ini. Kehilangan yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa kembali menemukan. Sudah lebih dari sekali, aku takut kita tidak bisa kembali lagi. Dan ternyata, masing-masing dari kita sudah lama pergi. Kita bahkan telah meninggalkan apa yang belum selesai di antara kita. Aku yang salah (ya mungkin), tapi kau juga (ya tentu saja), atau malah kita yang sama-sama tak mengakui itu? Ya, begini mungkin lebih tepat. Tapi apapun itu, harusnya kita tetap harus saling menemukan.

Setiap kita adalah petarung. Setiap kita adalah pemenang. Tapi seiring dengan itu, begitulah setiap kita, terlampau bahagia sebagai seorang pecundang yang tidak pernah mengakui kebenarannya. Aku begitu. Aku tidak pernah malu mengakui itu. Aku melakukan itu demi kebahagiaanku. Atau, hei, apa kau juga seperti itu? Haha dasar pecundang.


Hei, kenapa menjadi sesulit ini? Kataku ingin terus melaju, tapi melihatmu tidak lagi menjadikanku begitu. Aku tidak bisa begini. Bertahan dengan diam dan sekian banyak tanda tanya yang tergantung di kepala. Oh aku tidak sekuat itu. Aku tidak setuju dengan kemauanmu yang bersikap seolah-olah seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Bukan begini jiwa seorang pemenang. Pemenang sejati tidak pernah lari dari apa yang menjadikannya tidak enak hati. Dia bertanggung jawab. Dia rela melakukan apa saja bahkan ketika dia tahu bahwa dia harus terluka.

Aku menyadari ketidaknyamananmu. Aku menghargai caramu melindungi dirimu. Aku menghargai keputusanmu. Aku sadar kau berhak penuh atas hidupmu. Tapi aku tidak selalu suka caramu membungkus lika-liku yang datang di kehidupanmu.

Kita sama, berkemungkinan membahagiakan dan ya tentu saja sebaliknya. Kita sama, sudah sepatutnya saling mengingatkan. Kita sama, kita berhak atas apa saja. Kita sama, harusnya kita bisa duduk bersama, menceritakan semuanya, dan menikmati apa saja bersama.

Aku ingin kembali, menghidupkan rumah kita lagi dengan cahaya yang masing-masing kita punya. Aku ingin melihat air mata bahagia, senyum yang apa adanya, caci maki yang menjadikan masing-masing dari kita saling terbuka, juga rencana yang beberapa kali hanya jadi rencana. Aku ingin kembali dekat. Aku ingin segera pulang. 

Terbukalah, terbukalah duhai pintu-pintu rapuh yang sempat kehilangan kunci untuk membukanya.
Terbukalah, terbukalah duhai hati-hati yang sempat mati tanpa meninggalkan arti.
Terbukalah, terbukalah duhai ruang berfikir yang menjadikan jiwa-jiwa tuannya hangat dipeluk gengsi.
Terbukalah, terbukalah pintu surgaku.

Mendekatlah. Kembalilah. Cukupkanlah segala lelah yang sempat singgah di antara kita. Kita harus kembali. Kita harus memperbaiki jiwa kita. Kita harus mengulangnya. Ya tentu saja menjadikan setelahnya lebih baik dari sebelumnya. Lalu kemungkinan aku akan menjatuhkanmu dan kamu akan menjatuhkanku. Ya tentu saja, kita terpaksa harus menikmatinya (jika ternyata harus ada).
Kita harus saling menemukan.
Kita harus bahagia.


Jumat, 31 Januari 2020

G A M A M

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi aku pikir aku bisa membuatmu sedikit mengerti tentang apa yang belakangan ini menjadi kemelut yang hampir membakar diriku sendiri. Ada beda diantara yang sudah ada. Tapi aku tak mengerti, aku susah memahaminya. Ya, mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi entahlah. Aku benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda.

Kemarin aku pulang ke rumah lamaku dan pergi sementara dari rumah yang aku tempati sekarang. Aku berangkat melewati jalanan ramai nan panjang dengan penuh ambisi. Sambil mengendalikan scoopy, aku sibuk merangkai mimpi, juga merapal doa demi kesuksekan pertemuan kali ini. Sesampainya disana, aku disambut sebuah senyuman pada langkah pertama menuju pintu rumah lamaku. Riuh teriakan bahagia hasil perjumpaan terdengar bersahut-sahutan. Aku meraihnya, satu per satu dari kedua tangan yang membentang tanda penantian sebuah pelukan. Lepas, sebagian dari rinduku terhempas. Akhirnya, setelah sekian lama, kami bertemu pada sebuah temu yang nyata. Kami (tampak) bahagia.

Di hari itu aku mencoba menikmati semuanya. Hujan, obrolan, permainan, makanan, dan apapun yang aku usahakan untuk jadi sesuatu yang berkesan. Ah, tapi aku pikir, aku tidak benar-benar melakukannya. Aku tidak benar-benar menikmatinya. Aku tidak benar-benar menemukan sebuah kenyamanan.

Berjalan aku menuju sebuah ruang, tapi kosong. Aku tak menemukan sesuatu yang berkesan. Lalu aku keluar menuju sebuah ruang lain, tapi gelap. Aku hanya menemukan kerumunan sepi. Lalu aku keluar menuju sebuah ruang yang lain. Di sana ramai. Tapi aku malah bingung menjawab kerumunan tanya yang ada di kepalaku. Lalu aku diam. Aku memaksa diri menikmati semua yang ada. Sampai akhirnya lelap, sampai akhirnya aku benar-benar melalui semuanya tanpa pernah lagi bertanya apa dan bagaimana seharusnya.

"Aku merasa ada yang berbeda" kataku di perjalanan pulang.

"Apa?" kata seseorang.

"Aku tidak tahu" kataku memandang lurus.

"Sebenarnya aku juga merasakan" katanya menyahut.

"Apa?" tanyaku.

"Rasanya beda" katanya.

"Kita sama" kataku menyerah.

"Kita tak pernah tahu itu apa" katanya lelah.

Dulu rumah lamaku itu hangat. Dulu pada setiap mereka adalah apa yang aku cari, juga apa yang aku tuju. Dulu ruang-ruang di dalam rumah itu terasa penuh, terang, juga menjadikanku bergairah. Dulu, tapi itu dulu. Dulu, ya aku masih merindukan yang dulu dulu.

Mungkin karena sebab waktu, atau lingkungan, atau bahkan karena sebab yang tidak pernah menjadikan kita sendiri mengerti tentang itu. Beberapa hal memang bisa menjadi sangat rumit tiba-tiba. Padahal harusnya tidak. Padahal harusnya semua sederhana. Padahal seharusnya kita tahu yang sebenarnya.

Aku dingin, aku kosong, aku tidak lagi menemukan apa yang aku mau di rumah lamaku itu. Aku limbung, aku sekarat, tapi aku tak benar-benar tahu apa penyebabnya. Aku ingin lari, aku ingin memantau dari jauh dan mendapatkan kesimpulan atas ini. Tapi diam, aku tak bergerak sama sekali. Sampai saatnya tiba. Sampai akhirnya waktu itu habis bersama dengan pertanyaan yang belum juga ku temukan jawabnya. Sampai di situ aku berhenti bertanya. Sampai akhirnya aku pasrah berkata "setidaknya aku tahu ada beda di antara kita semua".

Ya, kita tidak pernah sampai kepada yang seharusnya.


Salam rindu dariku,
Nona manis yang merindukanmu.

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....