Tampilkan postingan dengan label Jatuh Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jatuh Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Januari 2024

Dear Mas (3)

Dear mas,

Bisa dikatakan, sekarang aku tidak sedang bersembunyi, tapi kamu bisa (sementara) menganggapnya begitu.

Kamu tidak perlu mencariku. Sebab aku ada di mana-mana. Aku di sisi yang jauh darimu. Aku di sisi yang dekat denganmu. Aku juga ada di antara itu.

Aku tidak perlu memberitahumu di mana aku. Sebab kamu bisa saja menemukan aku di dalam hatimu, di dalam isi kepalamu, di langit yang biru, di jiwamu yang sedang kamu timang-timang, di antara bintang-bintang, di antara puisi-puisi yang tidak semua orang tahu, di mimpimu, di anak-anak tangga yang kamu kenal, juga di setiap hal kecil yang kamu nikmati. Aku ada di mana-mana. Mengakar, merayap di setiap malam, berisik, dan kadang menjelma jadi cemburu.

Aku membawa rasaku ke mana-mana. Aku melakukannya, seperti kamu juga melakukannya. Sejak saat itu, aku berhasil menjadi seseorang yang ahli. Aku membuat segala sesuatu di setiap waktu menjadi menyenangkan dan (mungkin) sebentar lagi aku juga akan berhasil menjadikanmu memanggilku "kekasihku".

Waw, haruskah aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?


Senin, 20 November 2023

Dear Mas (2)

Dear mas,

Aku mendongak ke atas dan mencoba mencari kedua matamu yang berbinar di depan pandangku. Tapi alih-alih mendapatkan binar di kedua matamu, aku malah menemukan langit yang biru. Haha, sungguh perburuan yang seru.

Aku berjalan ke arahmu, mencari sebuah celah untuk masuk ke rumahmu yang belum kutemukan pintunya itu. Tapi mas, sepertinya aku telah tersesat. Tapi senangnya, aku masih tersesat di situ-situ saja. Di sebuah tempat dimana aku bisa tetap memandangmu meski itu kulakukan dengan malu-malu dan agak takut. Aku takut Yang Maha Cinta cemburu kepadamu. Haha, lucu bukan?

Padahal dari awal aku sudah mengatakan kepada-Nya

"Ya Allah, jangan khawatir aku akan lebih cinta kepadanya daripada kepada Engkau. Kalaupun aku khilaf melakukannya, maka Engkau jadikanlah aku lebih mencintai-Mu. Engkau punya caranya Ya Allah. Engkau satu-satunya yang paham baik tentang itu".

Ya, aku harap kamu juga tidak cemburu kepada-Nya. Sebab kamu tetap menjadi yang pertama dan Allah akan menjadi yang utama.

Sabtu, 09 September 2023

Dear Mas

Dear mas,

Nanti aku akan menulis sesuatu tentangmu. Nanti saja, setelah kamu datang dan bernafas lega.

Nanti aku buatkan kopi hitam favoritmu dan aku akan membuat matcha favoritku. Kita bisa menikmatinya sambil memandang langit dan (menemukan sesuatu?). Aku sungguh ingin menemukan bintang sirius bersamamu sambil menjatuhkan satu per satu puisi buatanku ke telingamu.

Oh ya tenang saja, sebab kamu tidak perlu mengerti apapun setelah itu. Kamu hanya perlu mendengarkanku dan menikmati kopimu (juga suasana bersamaku).

Tapi jangan juga jadi bisu.

Sebab, kamu boleh juga banyak bicara sebanyak atau boleh lebih banyak dariku. Kamu boleh menceritakan apa saja, termasuk jok motormu yang sudah lama kedinginan itu.

Aku bisa mendengarkanmu lebih banyak, dan juga lebih lama.

Waw, aku pikir malam-malam pasti akan menjadi terasa begitu panjang ketika isi kepalaku dan isi kepalamu bercumbu mas.

Aku berharap, aku dan kamu tidak akan menyesali banyak hal atas apa-apa yang sudah berlalu. Dan aku berharap atas apapun itu, aku bisa selalu memenangkan isi kepalamu (dan aku pikir, aku juga harus begitu kepadaku).

Aku berharap segala hal baik diantara kita berdua bisa selalu meluas dan meluap-luap. Aku berharap kamu akan sependapat denganku. Sebab itu adalah rencanaku dan mohon lekas dibantu.

Deal?

Selasa, 15 Agustus 2023

Review Buku "Tempat Paling Liar di Muka Bumi"

“Ada banyak perbuatan yang sia-sia, melawan cinta itu sia-sia” (Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Hal: 79).

Sebuah buku yang sangat dan sangat romantis. Kumpulan puisi-puisi yang cocok sekali untuk sepasang kekasih yang sedang saling kasmaran. Tentang bagaimana mereka saling jatuh cinta dan mencintai dengan cara yang ajaib. Saling bersahut-sahutan, begitu manis dan menggoda.

Buku ini seperti sebuah diary dan bentuk komunikasi yang apik milik Theor dan Welly. Sepasang kekasih yang saling menceritakan tentang bagaimana rindu, jarak, dan cinta-cinta bermekaran dan tidak pernah padam. Juga tentang bagaimana untuk bisa saling menjadi tempat pulang. Gambaran perasaan yang apik tersaji dengan menggunakan simbol tubuh dan alam di Indonesia bagian timur. Begitu meriah, sampai-sampai deburan ombak, hutan, laut, pasir putih, laut, dan semua perkakasnya ikut menjadi saksinya.

Akhirnya, mari tersesat dalam puisi-puisi romantis ini. Mari saling melempar kata-kata cinta. Mari kita nikmati ini. Karena

“yang berdosa itu ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya”

 juga tentu saja

 “aku ingin menjadi tenang dan mencintaimu tanpa banyak kekhawatiran” (Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Hal: 61).

Selasa, 20 Juni 2023

Review Buku "Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih"

"Halah, Lis. Dengan kamu mau nikah sama aku saja, bapakmu harusnya sudah paham, mana yang pinter dan mana yang goblok." (Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih, Hal: 76)

Benar kata orang-orang, awal mula mengira buku ini berisi tips-tips bagaimana cara memahami kekasih atau bagaimana menjaga hubungan dengan kekasih supaya langgeng adalah hal yang sia-sia belaka.

Buku ini ternyata buku yang berisi tentang kisah cinta dan romantisme sehari-hari sepasang kekasih. Buku ini adalah definisi "another level of bucin" seorang Agus Mulyadi kepada kekasihnya yang sekarang berhasil menjadi istrinya yakni Kalis Mardiasih. Banyak tawanya, sering apesnya, tapi begitulah kisah mereka berjalan. 

Membaca buku ini aku jadi tahu sisi seorang Kalis yang lain. Tetap terkesan tangguh, tapi seperti manusia kebanyakan, seorang Kalis ternyata juga banyak alfanya, banyak konyolnya, banyak menyebalkannya. Hampir putus asa perkara nggak bisa buka jok motor, keseringan ketinggalan pesawat, dan perkara baju gambar Sunan Giri? Haha, Agus memang pintar sekali menceritakan detail tentang istrinya. Mereka berdua adalah panutan rumah tangga yang realistis. Semoga banyak kebaikan menyertai mereka.

"Hidup memang soal kompromi" (Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih, Hal: 70)

Hanya 94 halaman, tapi aku berhasil senyum-senyum. Agal kesel, tapi mereka lucu. Jadi pengen juga nulis beginian kaya Agus. Judulnya mungkin "Sebuah Seni Menyaingi Romantisme Agus dan Kalis". Tapi entar dulu ya, mau nyari seseorangnya dulu nih biar ada ceritanya. Semoga bisa lebih romantis kisahku bersamanya. Hihi.

Senin, 28 November 2022

Review Buku "Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau"

Ini deadline buku bacaan pertama yang aku selesaikan sebagai pembuka tahun baru ini. Sengaja ngide begini karena sengaja mau nge-challenge diri sendiri biar rajin baca lagi. Haha.

Niatnya mau baca tiap pagi satu judul. Eh tapi ternyata aku lengah dan tiba-tiba nyampe di halaman terakhir. Baca buku ini bikin hati ketagihan berbunga-bunga.

"Katakan 'aku mencintaimu', agar tampangku kian menawan
sebab tanpa cintamu aku tidak bisa tampan
katakan 'aku mencintaimu' agar jemariku
menjelma emas dan keningku menjadi lentera
katakan 'aku mencintaimu', agar tuntas aku berubah menjadi gandum atau kurma
sekarang katakanlah, jangan ragu
beberapa cinta tak suka menunda"
(Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau, Hal : 72).
Itu seperti seseorang benar-benar memujaku. Seperti seseorang benar-benar punya cinta yang begitu besar untukku. Seperti itulah aku bersaksi tiada lelaki selain dia, selain dia, selain dia. Ya, tentu saja aku tidak sedang meracau.

Buku ini bukan novel, tapi kumpulan puisi karya penyair arab bernama "Nizar Qabbani" yang diterjemahkan "Musyfiqur Rahman". Judul aslinya adalah "Asyhadu An La Imraata Illa Anti". Di dalamnya tertulis teks bahasa arab asli lengkap dengan terjemahannya. Tiap lariknya mengistimewakan perempuan. Sajak demi sajaknya penuh cinta. Kalian tentu harus membaca ini wahai pecinta sastra romance.

Selamat membaca.

Jumat, 18 November 2022

Review Buku "Seribu Kisah, Sebuah Kasih"

"Mencintai dan dicintai adalah kesedihan yang sama...Kita mencintai bukan sekedar untuk dicintai-kita mencintai oleh sebab kita ingin dan sanggup untuk mencintai orang tersebut.... Meskipun tidak melulu hal indah yang datang, semoga kita bisa kerap jatuh cinta, berulang-ulang.... (Seribu Kisah, Sebuah Kasih, Hal: 136).

Ini adalah halaman favoritku. Halaman pembuka bagian akhir dari buku ini. Buku yang berisi banyak cerita pendek tentang hubungan antar manusia. Buku yang menyimpan banyak kisah cinta. Yang diam-diam, yang terang-terangan, yang hati-hati, yang sembrono, yang tidak sengaja, yang bertepuk sebelah tangan, yang tidak menyadari, yang bahagia, yang tidak bahagia, yang diantara itu semua, aku tidak peduli bagaimana. Karena perjalanan-perjalanan telah banyak tertulis juga terbaca, dan aku telah berhasil menjadi salah satunya. Ah senangnya menjadi manusia. Agak aneh, tapi aku menikmatinya. Ya meskipun itu berjalan sedikit demi sedikit.

Hubungan antar manusia memang tidak ada yang pasti. Tidak akan ada rumusnya. Tidak juga bisa diterka-terka. Kalau endingnya bahagia, ya selamat. Kalau ternyata tidak, ya selamat juga. Setidaknya semuanya pernah ada, bahkan dititik dimana orang lain tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Kita semua sudah sama-sama tahu, baik saja tidak cukup untuk menjadikan sesuatu jadi pas. Dan begitulah hari-hari berjalan. Selalu mengalir ke segala arah. Kita hanya perlu tahu bagaimana arah arusnya, juga bagaimana cara menikmatinya.

Megah bukan?

Rabu, 05 Oktober 2022

Review Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"

"Jangan tergila-gila dalam mencintai. Jangan tergila-gila dalam membenci. Jangan tergila-gila dalam mengagumi. Jangan tergila-gila pada apapun di dunia ini. Dunia fana. (Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, Hal : 210).

Memang tidak ada yang lebih menjaga dari pada mencukupkan semuanya. Tidak hanya tentang mencintai, tapi juga tentang bagaimana menerima cinta dan tidak melakukannya. Tidak hanya tentang asmara, tapi juga tentang harapan, bunga yang mekar, pohon yang layu, dan sesuatu yang abu-abu. Tidak hanya tentang kita yang seharusnya sudah dewasa, tapi juga tentang anak kecil yang masih dan akan terus tumbuh di masing-masing diri kita.

"Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta" adalah sebuah buku tentang orang-orang yang jatuh cinta, bermasalah, patah hati, menyesal, bangkit lagi, dan banyak kemungkinan lagi.

Buku ini berisikan sesuatu tentang cinta. Yang tidak direstui, yang diam-diam, yang terhalang jarak, yang hilang kendali, juga yang kehilangan diri sendiri.

Buku ini mengingatkan kepada kita semua bahwa tidak ada yang lebih penting dari cinta selain bagaimana cara menemukan konsekuensi dari cinta itu sendiri. Bahwa segala sesuatu selalu tampak lebih indah dari kejahuan, saat kita belum memilikinya. Bahwa dalam kondisi yang demikian, semakin banyak yang kita beri, maka semakin banyak pula kita merugi. Bahwa keselamatan hati adalah poin pentingnya. Bahwa dia adalah lelaki yang baik dan kau adalah gadis yang tahu batasnya.

"We're better than love. Jangan biarkan cinta menginjak-injak kita." (Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, Hal : 59).

Selasa, 15 Februari 2022

Review Novel "Waktu untuk Tidak Menikah"

"Kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?" (Waktu untuk Tidak Menikah, Cover belakang).

Waw, sebuah ringkasan ciamik. 14 cerita pendek dengan seorang perempuan sebagai tokoh utamanya. Isu-isu sosial melenggang begitu mulus di dalamnya. Suguhan kisah-kisah yang menyentil akan membuka mata kita untuk menyadari lagi dan lagi bahwa dalam hubungan tidak akan ada yang baik-baik saja. Kadang patah hati itu ada. Juga perpisahan yang dianggap baik tapi tetap saja menyiksa. Belum lagi ingatan lama yang mencuat tiba-tiba. Tentang mimpi yang mau tidak mau terkubur begitu saja. Dan kita yang tetap dipaksa bertahan meski sekedar untuk melanjutkan peran sebagai manusia.

Ya, begitulah. Memilih menikah atau tidak, menikah cepat atau nanti, resiko hidup tetap akan membuntuti. Menuju pernikahan itu tidak mudah. Menghabiskan perjalanan menujunya juga lebih tidak mudah. Beberapa orang berhasil melakoninya sampai garis akhir. Beberapa lagi terpaksa bertahan. Beberapa sisanya saling melepaskan. Satu ke persimpangan sebelah kanan, satu ke sebelah kiri, satu lainnya tersesat diantaranya. Beberapa meratap menyesali yang sudah-sudah. Beberapa lagi melamun membayangkan yang (belum tentu) indah. Tapi persetan dengan apa saja yang menjadikan hati menjadi sempit, sekali lagi kita hanya perlu ingat lagi bahwa saling mencintai memang tidak pernah sesederhana itu. Kita perlu jadi beruntung untuk ada di waktu dan di ruang yang tepat.

Dan untukku dan siapapun yang belum menemukan tempat untuk berlabuh:
"Segala kemungkinan bisa terjadi. Asal kau tahu, kehidupan rumah tangga lebih berat jutaan kali lipat. Kau harusnya menghemat air matamu." (Waktu untuk Tidak Menikah, Hal: 126)

Sabtu, 24 Juli 2021

Selamat Pagi Kekasih

"Selamat pagi, kekasih".

Bunga-bungaku yang mekar mewangi di taman hatiku. Pelipur lara bagi setiap sakit yang gemar hilang bentuknya.

"Selamat pagi, kekasih".

Selamat menyambut hari yang berkemungkinan babak belur. Selamat berjalan lebih jauh. Selamat saja pagi ini dariku. Aku harap begini saja kamu sudah senang. Sebab kita masih jauh, bahkan untuk sekedar berebut menu sarapan pagi. Jadi apa rasa kopi favoritmu? Hitam, luwak, atau americano? Katakan saja kepadaku jika kamu sudah sampai.

Jadi, apa kabarmu? Dijawab apa adanya saja. Sebab hari-hari sudah terbayang lelah daripada harus kamu tambah dengan sandiwara. Ya aku pikir daripada repot begitu, lebih baik kita menyibukkan diri dengan menulis takdir-takdir yang kita ingini. Bukan, ini bukan untuk menuntut Yang Maha Cinta. Tapi ya siapa tahu, kemauan kita adalah juga kemauan-Nya. Tanganku juga tanganmu ini kan bisa jadi ajaib. Ya, kenapa kita tidak yakin atas itu?

Hidup ini adalah sebuah kesempurnaan yang tidak sempurna. Begitulah kita menjalaninya. Begitulah kamu datang menjelma. Dan begitulah aku datang menjelma. Kita adalah musik-musik yang tidak sempurna. Tapi tenang saja, kita tetap bisa menari-nari di atas segalanya. Ya tentu saja dengan bahagia yang mungkin harus kita paksakan ada. Hei sepertinya kita harus segera memulainya, kekasih. Maksudku cerita kita sebagai sepasang kekasih. Sebagai sebuah ruang yang berisi segalanya untuk selama-lamanya.

Ide bagus bukan?

Aku tahu kamu bukan orang yang gemar jail. Kamu mungkin adalah sebuah perkampungan padat penduduk yang sangat sunyi. Tapi tolong sudahi, sebab aku ingin kamu yang jail meski hanya denganku saja. Humor ini harus kita yang menciptakan, biar kita juga bisa jauh menikmati badai-badai yang datang. Dan kita akan bersama menikmati sapa-sapa mesra setelah membuka mata di pagi hari, menikmati kopi hitam favoritmu dan matcha ala-ala favoritku, lalu kita bersiap legowo mengurai mimpi-mimpi yang akan kita pijaki sehari penuh setiap hari. Jangan lupa kita bersulang untuk satu hari penuh yang rahasia itu. Sebab kita adalah kekasih. Ya, aku pikir sepasang kekasih sudah selayaknya merayakan apapun berdua, termasuk kesedihan, termasuk kebingungan, termasuk tumbuh kembang bersama dan apa-apa yang bahkan belum kita tahu benar-benar lakonnya.

Aku ini mungkin hanya sesuatu yang seorang manusia, perempuan, kecil, dan jauh dari kata ideal. Kamu mungkin sama, hanya saja aku belum melihat celahnya. Tapi aku dan kamu adalah rumah. Dan sungguh perkara-perkara yang tidak sederhana itu harus kita selesaikan. Maka dari itu, mari saling sudi untuk pulang dan mari kita rayakan hingar bingar rumah tangga yang suka meletus tiba-tiba berdua. Waw aku benar-benar sudah ingin banyak berbicara kepadamu tanpa perlu merasa bahwa aku telah mengganggumu sepanjang waktu kekasih. Bagaimana menurutmu?

Hei, kekasih. Ini bahkan hari minggu. Waktunya rekreasi. Mari wisata ke tempat kerjaku saja kekasih. Hari ini aku sedang tidak WFH, jadi mari ikut denganku agar aku dan kamu tetap bisa berdua. Tapi harusnya....harusnya kita sudah menikmati perburuan kecil itu ya kekasih? Atau boleh juga kita rencanakan pemotretan pastwed ala-ala monocrom. Atau kamu mau kita berbaur dengan tradisi kental jawa? Atau kita bisa bergaya apa saja di tepi pantai atau di antara pemandangan alam? Atau kita bisa mengambil konsep berkebun bersama. Atau kita ke pasar malam saja? Atau dua-duaan di studio potho milik siapa? Ya yang penting kita berdua. Yang penting kamu bersedia dulu untuk kujaga kekasih. Begitupun dengan aku kepadamu. Dan kita tidak akan jadi yang pernah selesai sekalipun telah lewat tenggang waktunya.

Langit tampak semakin membiru kekasih. Tidakkah diantara gulungan awan-awan itu aku dan kamu telah lebih dulu bertemu? Dan begitulah Yang Maha Mempertemukan menciptakan kita. Dan pada apa saja kita telah menjelma, tiap-tiap langkah, tiap-tiap puisi, dan tiap-tiap kicau burung adalah sesuatu yang tidak harus kita mengerti. Seperti itu, seperti omong kosongku ini. Mengalir , menyentuhmu bahkan jika ternyata kamu tidak menyadari semua itu dan aku tidak menyadari telah melakukan itu.

Jangan terbuai kekasih. Aku bahkan bukan seorang pecinta yang mahir. Kamu bahkan tidak enak hati kepada siapa saja yang menaruh hati padamu. Tidak apa-apa kekasih, yang penting masing-masing dari kita tetap waras. Kamu tidak harus berjanji, tapi berhati-hatilah di perjalananmu yang panjang itu. Sebab di tempat kerja itu aku menunggu. Sebab mulai pagi ini dan pagi-pagi setelah ini,  kamu sudah harus menyapaku. Atau tidak usah saja. Biar aku saja yang menyapamu.

"Selamat pagi, kekasih"

Selamat lagi dari kekasihmu ini.

Salam sayang.

Sabtu, 10 Juli 2021

Dear, Bulan Sabit...

Tuan
Tuan...
Orang-orang bisa begitu saja tampak dan benar-benar membosankan. Menari-nari mereka dengan omong kosong yang meriah. Dan begitulah musik yang tidak sempurna itu menggelar pestanya. Jadi, mari gemuruhkan tepuk tangan demi siapapun. Setidaknya mereka sudah bekerja keras dan tentu bersusah payah, bahkan untuk sesuatu yang menurut kita berantakan atau malah tidak berguna. Termasuk ini, termasuk aku, termasuk kamu, termasuk kita yang tidak sadar ketagihan jatuh berkali-kali.

Tuan
Tuan...
Kadang kita perlu menyelam, lebih dalam, sampai tenggelam, dan bahkan berkarat. Isyarat-isyarat kadang datang dalam wujud yang tidak kita suka. Dan kita rentan menyambutnya dengan sesuatu yang kekanak-kanakan. Sepenggal makna, aku pikir aku juga sama sepertimu. Jabat erat tanganku tuan. Kita sama-sama tidak mahir dalam hal ini.

Tuan
Tuan...
Hari demi hari berlalu. Dan tepat sedetik yang lalu, aku telah mendidih. Berteriak aku, berlari aku menujumu, berbisik sesuatu aku kepadamu. Menurutmu, apakah aku berhasil sampai kepadamu?

Tuan
Tuan...
Terlihatkah ini di kedua matamu? Adalah aku yang sedang berdandan dihadapanmu. Cerminku adalah kau. Tempat segala kata-kata terlahir. Tempat segala cukup mahir memeluk. Tempat asing yang tiba-tiba saja jadi rumah.

Tuan
Tuan...
Bagaimana kalau besok kita bertemu? Lalu dalam keyakinan itu, mari kita bersulang. Pakai air putih saja tidak apa-apa. Asal salah satu tanganmu menggenggam tanganku. Aku tidak perlu matcha favoritku. Sudah kukatakan kepadamu bahwa kau adalah segala cukup untukku.

Tuan
Tuan...
Barangkali kita butuh detik yang menjelma jadi lebih banyak untuk sekedar mengosongkan ruang yang riuhnya merongrong. Barangkali kita butuh saling melihat, kemudian jadi sembuh dari pura-pura yang gemar kehilangan logika. Maka dari itu, lekaslah sampai kepadaku tuan. Dan jangan lagi lari. Menderitalah bersamaku sampai aku sembuh, sampai kau sembuh, sampai kita berdua jadi obat satu-satu.

Tuan
Tuan...
Besok atau nanti kupanggil lagi namamu. Lirih, tapi semoga kau mendengarnya. Sebab begitulah cara cinta mulai bekerja. Sebab begitulah aku memulai berani lagi. Sampai jumpa obat kalutku. Sayang kamu dari jauh, bulan sabitku.

Selasa, 04 Agustus 2020

Hadiah Kebenaran Yang Tidak Kusuarakan

"Bodo amat moo nulis gini doang nggak kelar kelar hiksss"

Begitulah judul draft terakhir yang kubuat untuknya. Sebuah draft yang akhirnya kuubah lagi isinya menjadi lebih, emhhh aku berharap itu bisa jadi lebih sederhana. Tapi kelihatannya tidak juga, aku pikir aku hanya membuatnya lebih cepat selesai terbaca. Ya, begini lebih baik.

Harusnya ini bisa sampai kepadanya lebih cepat. Tapi ya dipikir-pikir, sebenarnya aku hanya berusaha menjadikan semua ini menjadi tepat. Semoga saja besok pas aku berani, aku tidak terlambat. Sebenarnya aku sudah mulai lelah, sudah hampir gila, tapi masih bisa sumringah.

Aku tidak tahu bagaimana cara memulai. Aku tidak tahu ini akan menjadi pantas atau tidak. Aku tidak tahu apa ini, tapi aku pikir sudah seharusnya dia tahu. Aku tidak bisa mengatakannya sebagai apa, tapi aku punya kebenaran yang tidak kusuarakan kepadanya. Oh bukan tidak, aku hanya belum berani mengatakannya. Aku tidak bisa memastikan ini akan menjadikan aku dan dia baik-baik saja setelahnya. Tapi aku pikir, aku perlu begini untuk menjadikan diriku menjadi apa adanya. Akhir-akhir ini suara hatiku berisik sekali, isi kepalaku jadi penuh, aku jadi susah tenang.

Sudah lama aku tidak menyapanya. Sekedar menanyakan kabarnya.  Padahal aku ingin sekali tahu bagaimana kabarnya. Aku ingin tahu cerita-ceritanya selama tidak denganku. Aku ingin tahu semua tentangnya. Apa yang dia suka, apa yang tidak dia suka, apa yang masih menjadi cita-cita, apa yang sudah menjadi nyata. Apapun itu, aku ingin tahu. Tapi ya sengaja tidak kulakukan. Mana mungkin aku sepercaya diri itu? Tapi ya sudahlah, sebenarnya aku hanya sedang mencari celah. Tapi kalau ternyata ini akan menjadi sesuatu yang salah, aku tidak akan menyesalinya. Tapi ya kenapa tidak kulakukan saja? Namanya juga usaha. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bukan? Ya aku tidak terlalu percaya diri, tapi kan tidak ada salahnya mencoba. Maksudku memupuk percaya. Iya kan? Ya, begitu. Aku hanya ingin memberitahunya saja. Soal bagaimana setelahnya, aku belum terlalu memikirkannya. Aku hanya ingin bebas, aku hanya ingin jadi berani, aku hanya ingin merdeka, aku hanya ingin tetap menjadi aku yang banyak bicaranya, aku hanya ingin mengatakan segalanya, sejujur-jujurnya. Aku sungguh tidak bermaksud membuatnya menjadi terbeban. Aku juga tidak bermaksud membuatnya terkejut. Aku sungguh sudah mengupayakan datang kepadanya dengan hati-hati. Aku hanya mulai merasa kelelahan dan aku sudah ingin dia tahu tentang perasaan sialan ini. Sialan? Haha aku tidak menyangka akhirnya aku mengatakannya.

Tentang kebenaran itu, sebenarnya aku tidak tahu persis semenjak kapan. Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku tidak tahu dimana tepatnya. Aku tidak tahu akan mengatakannya sebagai apa. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, tidak dengan bertanya, tidak juga dengan mencari jawabnya.  Sudah lama tidak bersua, tapi rasanya masih sama. Aneh, tapi ya gimana? Suka tiba-tiba ada. Aku sungguh tidak sengaja merasakannya. Aku sungguh tidak berniat memulai ini semua. Tapi ya tahu-tahu jadi terlanjur. Aku jadi bingung harus bagaimana. Sejauh ini aku tangguh diam sendirian. Tapi akhir-akhir ini aku mulai kuwalahan. Aku pikir memang sudah saatnya aku mengakui sesuatu kepadanya. Mumpung aku dan dia masih sama-sama ada di bumi.

Aku ingat bincang malam setelah seleksi waktu itu. Gelap, dingin, ketakutan, terburu-buru, teledor, dan pincang sampai seminggu setelahnya. Haha sekarang sudah pulih, aku sudah bisa berjalan dengan normal lagi. Aku bahkan bisa lari-lari, melompat-lompat, dan melakukan apa saja yang aku mau. Tapi belum dengan datang ke arahnya. Wkwk pengecualian yang payah.

Malam itu aku tidak sengaja menoleh ke belakang, melihatnya, tersenyum, tapi tidak lama. Buru-buru kukembalikan pandanganku ke posisi awal lagi. Rasanya langsung aneh, entah apa yang tidak beres denganku. Awalnya aku pikir ini hanya kebetulan, tapi ternyata tidak. Tapi bukankah segala hal yang terjadi di semesta ini sudah digariskan-Nya? Sejak malam itu, setiap berada disekitarnya irama degup jantungku jadi berantakan. Aku sudah bilang, rasanya aneh. Tapi aku kenapa? Ya mana kutahu. Segalanya begitu saja terasa tanpa pernah memberikanku kesempatan bertanya “kenapa?”. Tega ya? Malam itu kupikir aku baru saja jatuh. Rasanya luar biasa. Tidak sakit, tapi peningnya berhari-hari dan tentu berkali-kali. Ya menyebalkan sekali terjebak dikondisi begini.

Bertanya "apa, kenapa"? Tanda tanyaku sia-sia. Tidak ada jawaban yang berhasil menenangkanku. Akhirnya sejak malam itu, semua berjalan begitu saja. Tapi rasanya ketakutanku jadi 2x lipat lebih banyak. Isi kepalaku selalu sibuk menerka-nerka. Seperti itu ceritaku. Sudah bertahun-tahun aku berusaha lari, tapi aku pikir aku tidak ditakdirkan ahli dibagian ini.

Aku tidak bisa menjelaskan dibagian mananya, ganteng sudah pasti. Siapa yang tidak tahu ini? Ya, ini poin yang tidak berpoin. Mapan? Aku bahkan sudah lebih dulu jatuh ketika seragam hitam putih masih sama-sama mengiringi perjuanganku dan perjuangannya di rumah yang nyaman tapi banyak ricuhnya itu. Mungkin dari suaranya atau mungkin hanya itu. Aku suka warna suaranya. Aku suka cara bicaranya. Aku suka mendengarnya mengaji. Aku suka sekali. Dibeberapa kesempatan aku mencoba menjadikan diriku biasa saja. Tapi tidak lagi bisa setelah malam itu. Adakah yang tahu rasanya dibelai angin malam disepanjang perjalanan menuju sabana Merbabu? Adakah yang tahu ketika tiba-tiba kau dengar seseorang melantunkan beberapa ayat di bawah tarian bintang dan sinar rembulan dimalam yang sedang lelah-lelahnya itu? Adakah yang tahu betapa segala penat dan lelahku seketika hilang karena tiba-tiba mendengar suara itu? Adakah yang tahu betapa aku pernah ingin membawanya pulang dan menjadikannya tempat pulang? Adakah yang tahu siapa saja yang menyadari semua itu? Aku pikir dia sendiri tidak menyadarinya. Sebenarnya, aku juga tidak, tapi entahlah. Aku benar-benar tidak tahu ada apa denganku. Tiba-tiba sesuatu muncul dibenakku. Kataku 

“Mungkin suara ini yang akan selalu jadi obat dari segala kekalutanku. Iya tidak si? Tidak apa iya si? Iya apa iya si? Nggak tahu. Lihat nanti deh. Astagfirullah Astagfirullah Astagfirullah, aku kenapa?”

Lucu? Tidak sama sekali. Suaranya biasa saja, tapi ya istimewa. Aku sering menirukan gayanya. Kadang berhasil, tapi ya banyak tidaknya. Susah juga ternyata. 

Aku tidak bisa menyebut ini apa. Mungkin aku terkagum, atau entahlah. Sebenarnya aku juga tidak ingin mengatakan apapun kepadanya. Ya, tentu saja aku malu. Tentu saja aku tidak percaya diri. Tentu saja aku takut. Aku cantik tapi tidak terlalu. Aku keras tapi cepat layu. Aku berisik tapi sepi. Aku utuh tapi terbelah. Aku masih kuwalahan dengan egoku sendiri. Aku paham itu. Aku tahu aku jauh dari apa yang menjadi impiannya. Aku tahu bisa saja dia mengidamkan yang lebih dariku. Aku tahu aku mungkin masih jauh dari kata layak untuk bisa membersamainya. Ya aku tahu, tidak seharusnya aku berpikir begitu. Aku pikir dia sudah jauh lebih tahu semua itu. Tapi ya sudahlah.

Sebenarnya sudah sejak lama, semacam berpuisi dan menulis sajak tentangnya. Tapi ya belum juga ada yang sampai kepadanya. Entah aku yang kurang berusaha atau memang dia belum diijinkan untuk tahu. Entahlah, yang aku tahu sekarang jarak sudah sebegitu teganya membentang. Aku dan dia sudah sama-sama jauh dan sama-sama hampir hilang. Aku tenggelam dalam beberapa ketakutan, dan dia? Aku bahkan tidak tahu dan sengaja tidak mencari tahu tentang itu. Sejak awal aku tidak pernah mencari tahu tentangnya. Aku tidak pernah tahu hobbynya, makanan favoritnya, cita-citanya, dan apapun tentangnya. Memang sengaja tidak kulakukan. Biar saja, biar aku tidak semakin jatuh. Biar aku jatuh pada apapun yang menjadi sebatas kutahu. Biar berjalan secukupnya saja. Seperti ini kadang membuatku bertanya "jatuh macam apa yang kulakoni dengan begini?"

Kau tahu? Bahwa jatuh selalu membuat kita lebih baik dari sebelumnya. Jatuhnya jatuh yang sebebas-bebasnya. Terlepas dari akhir yang akan bersambut atau malah sebaliknya. Seperti itu aku menikmati jatuhku. Seperti itu yang kulakukan demi merasa dekat dengannya. Menjadikan suaranya sebagai nada alarm, menari dengan kata-kata, mengingat malam itu, memanggil-manggil namanya dalam bincang sendiriku, berdialog dengannya dengan puisi dan sajak-sajak itu, juga melangitkan doa-doa. Sementara ini cukup kulakoni. Setidaknya aku tidak harus datang kepadanya dulu. Setidaknya rahasia ini tetap aman digenggamanku. Setidaknya dia akan jadi abadi menjadi sajak-sajak amatirku.

Aku jadi ingin meminta banyak maaf kepadanya. Maaf karena sudah sering tidak sengaja mengandaikannya disela-sela lamunanku. Aku suka sekali mempertanyakan sekian kemungkinan setelahnya, lalu menjawabnya dengan pemisalan-pemisalan yang kuandaikan sendiri. Hanya sebentar, tapi berkali-kali terjadi. Kadang aku berusaha menghindari ini. Tapi semakin pikiranku kuajak lari, malah semakin jelas rasanya. Aneh ya, kubuka mata dia tidak ada, kututup mata bayangnya serasa nyata. Haha. Semesta memang sering sebercanda itu ya. Sudah ada yang mendekat juga kepikirannya masih dia. Jahatnya aku. Sedih.

Sekarang 2020 sudah datang lebih dari separuh. Kita hampir genap lagi untuk sampai ditahun yang baru. Jadi, sudah berapa lama aku mengaguminya? Jadi, sudah berapa lama aku terjebak dikondisi semenyebalkan ini? Jadi, sudah berapa lama aku menjadi bisu dan berharap dia tahu tanpa perlu kuberi tahu? Jadi, sudah berapa draft yang kubuat sampai akhirnya jadilah ini? Jadi, sudah berapa pendapat yang kutimbang sampai akhirnya jadi berani begini? Jadi, kalau aku terlanjur mengungkapkannya lebih dulu waktu itu, kira-kira akan secanggung apa ya aku dan dia setelahnya? Haha aku benar-benar tidak berani membayangkan resiko berat yang akan kutanggung setelahnya.

Aku hanya perlu dia tahu apa yang pernah dan masih sesekali aku rasakan. Siapa tahu ada juga yang perlu kutahu darinya. Aku hanya ingin membebaskan diriku dari kekacauan yang telah dengan baik kurawat selama ini. Aku hanya ingin jujur kepadanya dan tentu kepada diriku sendiri. Aku hanya ingin menyelesaikan ini. Aku tidak ingin menjadikan ini hal kedua yang tidak bisa kuselesaikan. Aku hanya tidak ingin menyesal karena tidak berhasil mengatakan ini kepadanya. Ini tidak mudah, tapi sejauh ini aku telah berhasil melakukannya. Sudah lama sekali aku menahan diri dan melaluinya dengan segala kegelisahan yang kurahasiakan sendiri. Aku senang karena akhirnya aku bisa menjaga rahasia ini sendiri. Aku senang karena aku dan dia baik-baik saja sampai saat ini. Aku senang karena sempat melihatnya senang. Aku senang karena sempat setenang itu meskipun hanya bisa melihatnya atau mendengar suaranya dari jauh. Aku senang akhirnya dia tahu apa yang selama ini kurasakan. Aku senang akhirnya aku berhasil mengutarakan. Tapi besok ya, kalau aku tidak kehilangan nyali dan kepercayaan diri. Haha.

Segala awal akan menemukan akhir dan segala akhir akan menjadi sebuah awal. Begitulah kehidupan. Aku tidak ingin menebak akan seperti apa setelah menjadikannya tahu ini semua. Bagiku diam atau bicara, berjalan atau berlari, menujunya tetap akan menjadi yang beresiko bagiku. Pun kupendam atau kusampaikan, keadaan tidak akan bisa merubah kapasitasku menjadi seorang perempuan. Aku tidak pernah takut kehilangan dirinya sebagai apapun. Toh, semua hal punya masing-masing fasenya. Aku hanya takut tidak berhasil membuatnya tahu tentang ini semua. Karena jika setelah ini aku harus hilang dari dunianya, aku sudah lebih dulu melakukannya.

Ternyata seperti ini ya rasanya menjadi pemendam yang lihai? Sebenarnya aku tidak rela, tapi aku kan bukan siapa-siapa dan tidak berhak melakukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin dia jauh. Aku tidak ingin menjadikannya berbeda. Aku juga tidak ingin membatasinya. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak kapanpun. Dia berhak dan memang seharusnya menjadi merdeka dengan cara terbaik yang dia punya. Aku tidak ingin merebutnya dari siapapun. Tidak dari mereka, tidak dari siapapun, tidak juga dari dirinya sendiri.

Tidak apa-apa kalau ternyata dia tidak sama jatuhnya denganku. Bebas, yang penting dia sudah tahu. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan tidak menerima. Tidak ada yang salah dengan tidak diterima. Semua orang berpeluang menemukan dan ditemukan. Tidak harus dia, tidak harus aku, tidak harus. Ya, tidak harus. 

"Puncak kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Kita memang merdeka terhadap rasa, tapi terbatas dalam mengharap balas.” Kata siapa, aku lupa. Aku tidak bisa mengatakan ini semua telah mati. Aku hanya sudah berhasil menjadi terbiasa melihatnya dari jauh. Aku tidak tahu apakah aku harus lari atau malah menyelami ini lebih jauh lagi. Sejauh ini aku menikmati berada diantara yang kunikmati sendiri. Aku tidak bisa mengatakannya sebagai apa. Kadang aku bahagia, kadang juga tidak. Aku takut, entahlah. Aku sendiri tidak tahu takut karena apa.

Sudah sejauh ini. Sudah sepanjang ini. Kata-kata bisa jadi tidak pernah berkata-kata. Tapi  ketika berani itu mendekapku, semoga saja sudah tidak ada lagi rahasia. Aku tidak akan keberatan kalau ternyata dia tidak lagi menghiraukanku setelah ini. Aku sudah bilang, aku hanya ingin memberitahunya. Aku sudah bilang, dia berhak jadi apa yang dia mau. Aku sudah bilang bahwa aku dan dia harus selalu bahagia, entah bagaimanapun caranya.

Aku tidak akan menyesal pernah merasakan ini. Aku harap nantinya dia juga tidak menyesal pernah membaca dan akhirnya tahu mengenai ini. Aku akan menjadi lega, meski aslinya masih bingung harus bersikap bagaimana setelahnya. Aku tidak akan melupakan ini. Aku tidak berani mencobanya karena aku tahu itu tidak akan berhasil. Karena tidak akan pernah ada lupa yang benar-benar lupa. Begitukan?

Sekarang masih belum jam 03.00 WIB. Tapi seperti biasa, suaranya sudah berhasil membangunkanku. Rekaman  13 ayat pertama surat Ar-Rahman kirimannya sekian tahun yang lalu itu, sudah jadi nada alarm di sepertiga malamku sejak dia mengirimkannya untukku. Selancang itu aku. Tapi terimakasih banyak untuknya karena  sudah setiap hari membangunkan. Berkatnya malamku tidak pernah sepi. Aku senang sekali bisa berdua dengan Yang Maha Mempertemukan. Meski sesekali, belum usai meratap aku sudah lebih ketiduran lagi. Haha.

Sampai jumpa keberanian. Sampai jumpa lakon utama rahasiaku. Sampai jumpa kalian yang sudah membaca. Sampai jumpa semua.

Sabtu, 25 April 2020

Romantika Puan Yang Sedang Jatuh Cinta (1)

Aku tidak tahu bagaimana harus memulai. Aku juga tidak tahu apa dulu yang harus aku mulai. Aku bahkan tidak tahu apakah ini bisa benar ku mulai atau sebaiknya tidak usah. Ya, aku terlalu banyak bertanya kepada diriku yang tidak mahir menjawabnya.

Malam ini aku ingin terbang ke atas langit. Aku ingin menari-nari dengan riang bersama bintang-bintang. Dan kemudian beristirahat sejenak di tubuh bulan sabit yang ku pandang indah serupa senyummu. Nyaman sekali sepertinya, aku tersenyum memandangmu dari jauh.

Oh hai, bersediakah kau genggam tanganku? Sebentar saja. Dan kita mainkan lagu romantis milik siapa saja untuk mengiringi dansa perdana kita. Lalu kita akan menjadi sepasang yang bahagia. Berdua seperti cerita romansa orang-orang yang sedang jatuh cinta. Oh kau, sungguh aku tak bisa berhenti mendambamu.

Semesta kepalang baiknya ya? Dipertemukannya aku denganmu, ya meski pada kenyataannya kau masih sekedar seseorang yang hanya bisa ku damba. Tidak apa-apa, setidaknya aku pernah bahagia bisa menemukanmu diluasnya semesta ini. Aku beruntung bukan? Ya, tentu saja. Kau juga, seharusnya. Kita sama, dalam hal yang berbeda.

Sekarang kita sudah saling jauh. Padahal aku belum sempat mengatakannya atau mungkin sekedar menanyakan tentang ini semua. Sampai didetik aku menuliskan ini, aku bahkan belum mengerti apa ini. Suka, kagum, atau malah cinta. Cinta yang apa adanya atau yang hanya sebatas ekspektasi belaka. Haha memangnya apa itu cinta, ahhh aku hampir putus asa menjawabnya sendirian.

Jauh di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak ingin menyesal karena tidak menjadikan kamu tahu ini semua. Tapi aku butuh cara untuk bisa menjadikanmu baik-baik saja setelah mendengarnya. Kau tau, aku bukan tipe wanita idamanmu. Dan aku tahu, aku belum cukup pantas untuk bisa membersamaimu. Aku cukup tahu diri untuk menyadari ini semua. Aku cupu ya? Belum berjuang, tapi sudah terkesan menyerah. Ahh aku memang payah berurusan dengan cinta.

"Bagaimana rasanya" tanyanya singkat.

"Biasa saja (tapi agak lain setiap mengingatnya)" kataku menjawab.

"Apa susahnya si menyatakan cinta?" katanya.

Kataku takut berkata-kata. Aku membisu seketika sambil bertanya-tanya mengenai apa saja.

"Apa yang akan terjadi setelahnya?"

Ya, siapa yang tahu akhirnya? Aku bahkan belum dan entah kapan akan siap menerima segala kemungkinan yang ada. Kau tahu bukan, membicarakan ini tidak akan menjadi sesederhana yang semestinya.

Kau tahu? Sepanjang waktu ku ketuk hatimu. Ku bisikkan lembut di kedua telingamu dari jauh, sebuah tanya yang entah kapan akan ku dapatkan jawabnya.

Kau tahu? Sejauh apapun kau, kedua mataku tak pernah bisa meninggalkanmu. Ku pandang apa saja yang bisa ku pandang tentangmu. Sesuatu yang lama ku tahu, yang mulai ku tahu, dan tentu saja yang belum ku tahu.

Kau tahu? Kedua mataku basah mengingatmu. Mengingat ketidakberanianku untuk bicara jujur kepadamu. Kau, andai kau tahu bagaimana rasanya. Seperti memaksa menggenggam sebuah pisau tanpa penghalau, tanganku berdarah, tapi aku tidak bisa begitu saja melepaskannya. Aku terjebak, kau telah menjadikanku terjebak.

Kau mungkin tahu bahwa aku suka menulis. Tapi aku tidak tahu, mungkin kau juga suka membaca. Tapi aku tidak yakin kau singgah untuk membacanya sebentar. Atau pernahkah kau membaca sajak amatirku? Aku sering menyampaikan beberapa hal untukmu. Mungkin kau pernah merasakan itu untukmu, atau baiklah lupakan saja. Aku hanya sedang menerka-nerka saja.
Tapi ada yang perlu ku sampaikan. Bisa minta waktumu sebentar? Sebentar saja. Atau  baiklah, tidak jadi, maaf mengganggumu.

Ahh tapi baru saja aku mengingat itu. Aku harus menyampaikannya padamu sekarang. Atau mungkin besok. Kau ada waktu? Oh ya tentu saja, aku membuang waktumu sekarang. Maafkan aku.

Hei, sebentar. Tapi aku sungguhan. Ada yang perlu kau tahu dariku. Sesuatu yang ku sembunyikan dari dulu. Kau mungkin sudah tahu, atau kau sengaja menghindar dariku, atau sebentar, sepertinya aku terlalu pandai menyembunyikan itu. Aku bahkan tidak berhasil menjawab pertanyaanku sendiri. Maaf, tapi aku pikir, aku mengganggumu lagi.

Tapi ini penting, bertahun-tahun ku rawat siksaan ini. Tidak apa-apa, akan ku lakukan apapun demi membuatmu tetap menjadi baik-baik saja. Bukankah kau adalah pusat dunia? Dunia milik orang-orang yang menaruh cinta dan sayangnya untukmu. Rekah senyummu adalah satu yang menjadikanku hidup. Oh ya, tentu baru saja aku mengakui itu kepadamu.

Hei, aku bingung harus memulainya dari mana. Aku takut, aku takut membuatmu terluka atau tidak nyaman. Tapi ketahuilah, aku tak pernah berniat melakukan itu kepadamu. Aku hanya ingin itu, sesuatu yang tak pernah kau beritahukan kepadaku.

Setiap hari, setiap detik yang terpaksa ku nikmati, setiap itupun pertanyaan itu muncul dibenakku. Tak berhenti disitu, aku menjadi semakin pilu, tanya itu menuntut jawab, sedang jawabnya ada padamu.

Dan katakanlah kepadaku apa yang harus ku lakukan untuk itu? Aku harus tetap baik-baik saja bukan? Ya, sama dengan yang ku upayakan untukmu. Tidakkah kau bersedia membantu? Aku menunggu jawabmu.

Tapi biar, aku tak akan menuntut lagi. Setidaknya sudah pernah sampai kehadapanmu puan malang yang mencintaimu. Sesuatu itu, biar berlalu. Biar tetap akan menjadi rahasia. Karena kita sama, kita adalah dua pemuja rahasia yang berkemungkinan berbeda.

--------------------------------------

#Day (3)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Selasa, 31 Maret 2020

Sudah Pukul 2 dan Aku Belum Berdua

Diketuk, pintu keheningan terjaga. Suara tuan tampan menggema di kedua telinga. Membuka ruang-ruang bicara, tempat segala tanya berkelebat tanpa berkemungkinan menemukan jawabnya. Entah siapa gerangan, aku remang memandang dan tidak berhasil menemukan.

Pukul 2 dini hari aku bertanya-tanya. "Ada apa?"

Menatap foto-foto lama, dijawabnya. "Tidak ada siapa-siapa"

Mencoba hilang kembali, aku tenggelam. "Sudah pukul 2 dan aku belum berdua"

Sekotak harapan muncul dari ruang-ruang diri yang mulai enggan membuka pintu. Senyumku mengembang, mengiringi rapal doa sambil mengusahakan menangis. Semoga Yang Maha Mempertemukan segera mengijinkan.

Sepanjang waktu ku ketuk hatinya. Ku bisikkan lembut di kedua telinganya dari jauh. Sebuah tanya yang entah kapan akan ku dapatkan jawabnya. "Akankah benar kau orangnya?"

Merubah posisi tidurku, aku menatap jelas gambar dirinya di antara foto yang berjajar di dinding kamar. Tidak ada suara. ku tekan tombol kipas angin di nomor 2. Agak dingin, tapi aku menikmatinya. Aku baik-baik saja.

"Tidak apa-apa. Kau masih bisa menatap bulan sabit di kejahuan sana" kata pikiranku meraung dibenak yang enggan terbaca maksudnya.

Langit begitu biru, berbaur dengan gelap. Muram, membentuk keindahan bagi yang menganggapnya indah. Aku mencoba melupakan dengan memutuskan menghitung bintang-bintang. Satu, lima, seratus, tiga ribu, delapan puluh rib.... mataku berkedip. Aku hilang ingatan, angka terakhir tidak lagi terbaca. Akhirnya aku berhasil melupakan, tapi tidak dengan kemelut perasaan.

"Sejauh apapun kau, kedua mataku tak pernah bisa meninggalkanmu. Ku pandang apa saja yang ku pandang tentangmu. Sesuatu yang lama ku tahu, yang mulai ku tahu, dan tentu saja yang belum ku tahu." kataku kepada langit. Paras tampannya begitu hangat ku pandang. Aku suka memandang langit malam-malam.

"Sama seperti biasa, kau begitu tampan Tuan" imbuhku.

Satu rekaman setia menggema di kedua telingaku. Setiap malam suara nyaringnya membangunkanku. Berdering begitu syahdu di waktu malas seperti ini. Sering ku ulang, sampai habis replaynya. Dia begitu dekat, mendekapku didingin malam yang kadang menjadikanku enggan membuka mata. Kita dekat, tidak terhalang lagi oleh sekat.

"Andai kau benar ada di sini" kataku menyerah.

Kedua mataku hampir selalu basah setiap mengingatnya. Mengingat ketidakberanianku untuk bicara jujur kepadanya. Segalanya tentang cinta, tidak pernah menjadi mudah untukku. Andai dia tahu bagaimana rasanya, seperti memaksa menggenggam sebuah pisau tanpa penghalau. Tanganku berdarah, tapi aku tidak bisa begitu saja melepaskannya. Aku terjebak, dia telah menjadikanku terjebak. Bagaimana bisa? Dia bahkan tidak pernah melakukan apa-apa kepadaku. Aku ingin lupa, aku ingin lari dari ini semua. Menjaganya dengan cinta yang entah sampai kapan akan menjadi rahasia.

"Bagaimana caranya?" tanyaku.

Sajak-sajak usangku adalah teman setiaku. Rumah ternyaman untuk membicarakan apa saja tentangnya. Meski terlalu sering berantakan, membacanya berulang seperti sedang melalui jalanan panjang menujunya. Aku tak ingin berhenti. Aku ingin selalu merangkai aksara menjadi sekian banyak kata yang bahkan aku sendiri kadang tidak bisa memahami artinya. Sudah ku bilang sebelumnya, segalanya tentang cinta tidak pernah menjadi mudah untukku.

"Sudah hampir pukul 3 dan aku masih belum berdua" kataku mengingat yang tadi.

Putus asa ke berapa entah. Aku tersesat, berkerumun dengan ekspektasi yang semakin membumbung. Memupuk percaya terhadap apa-apa yang belum tentu nyata, aku malah semakin tidak percaya diri. Dingin sekali, aku keluar dari kamar mandi. 5 menit yang lalu aku memaksa diri beranjak dari tempat tidurku. Ketidakkaruan di dini hari selalu membawaku menghadap kepada-Nya, Dzat Yang Maha Memiliki. 2 rekaat sudah lebih cukup daripada hanya sekedar rebahan sambil mempertanyakan ketidakpastian. Oh tidak, aku ingin selalu datang dalam keadaan apa saja. Bahagia, sebaliknya, diantaranya, aku ingin selalu datang kepada-Nya. Aku ingin menjadi hamba yang tahu diri. Hanya itu, ya tentu.

"Sudah lebih dari pukul 3. Tak apa aku belum berdua, asal tidak berhadapan dengan corona" kataku diakhir doa.

Virus tak beradab. Menerobos ketahanan tubuh juga kecongkahan dan kecerobohan orang-orang yang dengan percaya diri bersikap abai terhadapnya. Datang tidak pernah permisi, menyakiti, dan tidak pernah merasa salah sampai sejauh ini. Entah sudah hari ke berapa. Sengaja, aku tidak menghitung waktu untuk sesuatu yang berhasil menjadikanku ketakutan akhir-akhir ini. Orang-orang sibuk mencari perlindungan diri. Beberapa saling melindungi, beberapa sibuk saling memaki, beberapa sibuk menuruti ego sendiri. Aku tidak tahu harus bagaimana, selain mawas diri. Tidak ada yang tahu akan menjadi seperti akhirnya. Kita harus melakukan yang terbaik demi bisa melewati ini semua. Kita bisa, kita akan bisa. Semuanya akan baik-baik saja.

Doa-doa terapal begitu riuh. Harap demi harap menemukan gilirannya untuk terucap. Mohon ampunan atas segala dosa, mohon kebaikan dunia dan akhirat, mohon sampai di surga dunia dan akhirat, mohon pertemuan dengan-Nya, dan mohon-mohon yang lainnya termasuk tentang cinta terpanjat begitu sungguh. Aku selalu merasa lega setiap berhasil melakukan ini. Seperti ruang-ruang di hati bersih kembali. Aku tenang sekali menjalani hari-hari.

"Cukup untuk malam ini. Besok kita ketemu lagi ya?" kataku sembari membereskan sajadah dan mukena.

"Sepakat, tidurlah sejenak. Ku temukan kau dengan bahagia" kata siapa entah. Seperti ada yang berbisik, aku merasakannya beberapa detik.

"Tapi aku belum ingin mati" kataku terakhir.

Lelap kembali, aku tertidur lagi setelahnya. Rasanya nyenyak sekali. Aku terbangun, tepat setelah alarm subuh di ponselku berdering. Senyumku mengembang, pertemuan terakhirku dengannya begitu membahagiakan. Tuan baru saja melambaikan tangan kepadaku. Tidur singkatku begitu terasa sempurna. Aku ingin sekali mengulangnya lagi.

"Sampai jumpa Tuan. Sampai jumpa di jam-jam rawan seperti yang barusan ini" kataku senyum-senyum.

Pukul 2 sudah 3 jam yang lalu berlalu. Pukul 2 telah menjadi saksi bisu. Pukul 2 menjadi waktu pencarianku. Pukul 2 adalah waktu pertemuanku dengan-Nya, juga denganmu. Adalah kau, sebuah hal yang menyadarkanku bahwa ternyata aku belum berdua.

Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja.

Jumat, 14 Februari 2020

Sekedarnya Untukmu

Melihat senyummu, rekam otakku abadi mengalun. Bunyi-bunyi kerinduan berdenting. Suara-suara yang menyebut namamu kembali mengeja. Derap langkah kaki seakan mendekat. Kau begitu erat terdekap. Oh hari yang indah. Seindah kalimat pertama yang telah kau baca.

Liar, kau begitu bebas, menari-nari di dalam isi kepalaku. Membuka mata, menjalani hari, istirahat sejenak, melanjutkan lagi, sampai terlelap kembali, kamu selalu ada. Aku tak bisa lari dari semua hal yang berhubungan denganmu.

Takut, setiap malam aku bersembunyi di kolong imajinasiku. Remang-remang ku curi waktu, ku bingkai kisah impianku bersamamu. Indah, ah sepertinya aku akan benar bahagia.

Tapi seketika terhenti, aku membiarkanmu menunggu. Sengaja, aku menarik dalam-dalam nafasku, dan menghembuskannya sambil membisikkan sesuatu kepadamu. Sengaja, aku memainkan cincin di jari kelingkingku. Sengaja aku berjalan pelan dan kemudian mengambil waktu. Sengaja ku uji kebaikanmu, berharap tak menemukan keberatanmu.

Bertanya, akankah benar bisa bersama? Sungguh aku tak ingin berakhir kecewa.

Terpejam, aku mencoba membayangkan cerita kita yang begitu indah. Persis seperti yang ku mau, atau tentu saja yang sama-sama kita berdua mau. Tapi seperti berakhir, jarak dan waktu menjadi tak seperti yang aku mau. Kau juga (mungkin). Hei, kita berkemungkinan sama bukan? Ya, aku hanya takut benar-benar jatuh hati kepadamu dan kemudian tak bisa melupakanmu. Keseluruhan tentangmu tepatnya.

Bertemu, berbulan-bulan lamanya aku menunggumu tapi datangnya selalu sosok yang lain. Kami  bersama, berdua, berjalan begitu baik, dan ya tentu saja kau begitu pas menjelma di dalam dirinya. Setiap ku memandangnya, setiap itu pula ku pandang kau. Terlalu manis. Aku merasa sangat jahat telah melakukan ini. Tapi ini sungguh menyakitkan. Kenapa begitu sulit menghilangkan bayangmu? Kenapa melupakanmu aku tak pernah bisa? Sesak hatiku dipenuhi harapku tentangmu. Kau benar-benar jahat. Tapi aku masih ingin mencintaimu.

Pudar, rahasiaku bukan menjadi rahasia lagi. Semua orang tahu, ya orang-orang itu tahu. Kecuali aku. Aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana isi hatiku. Aku tersesat, sekaligus terjebak, ya tentu saja. Dalam kagum aku memujamu, dalam hati aku mempertanyakanmu. Hai kau, katakanlah sesuatu kepadaku.

"Hai kau, kagumkah atau cintakah aku kepadamu?"

Ingin, aku ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan. Tentang senyummu yang semalam, tentang yang ku rasa entah, tentang suara yang menjadikanku candu, tentang cinta yang entah kapan ku ketahui artinya, tentang apa saja, tentang apa saja, tentang apa saja.

Terkunci, terhenti aku pada sesuatu yang tak bisa ku artikan.

"Aku mencintaimu" kataku pilu sendiri.

Cermin-cermin berisi gambar diriku menertawakanku.

"Jangan sampai tak terucap" kata mereka riang.

"Ya tentu saja. Akan ku lakukan. Secepatnya. Sampai setidaknya aku tak berada di alam yang berbeda dengannya" kataku merendah.

Berpikir, apakah aku sempat terlintas dibenakmu? Apakah kau merasakan sesuatu yang sama sepertiku? Apakah dikejahuan sana kau menatap bulan yang sama seperti yang malam ini ku lakukan? Apakah hati kita akan sama-sama terpaut? Apakah aku akan bisa berhenti meananyakan apakah dan apakah lagi? Oh aku bahkan belum pernah berhasil menemukan alasan mencintaimu. Aku ingin sekali menyampaikannya kepadamu. Tapi sayangnya tidak akan terjadi, atau mungkin belum, atau ya tentu saja aku tidak benar-benar mencari tahu kebenarannya.

Terbayang, akankah benar kau adalah sesuatu yang akan ku temukan? Atau akankah benar aku adalah sesuatu yang akan kau temukan? Atau apakah kita akan saling menemukan? Dan kita akan menjaadi pelengkap yang saling membuka ruang berfikir masing-masing dari kita, lebih luas, lebih jauh, dan juga lebih banyak cinta.

Berniat, jika kau benar datang, aku tak akan memikirkannya 2 kali. Karena kau adalah satu, kau adalah satu-satunya, dan tentu aja kita akan bersatu. Kau ibarat jiwa, sedang aku adalah raga yang bernyawa karenamu.

Oh tapi tunggu dulu.

Tak bisakah semua ini berhenti?

Sungguh aku ingin jatuh cinta selain kepada kau, tuan tampanku.

Minggu, 17 November 2019

Tentang Aku dan Sebuah Cermin

Aku termenung menatap bayangan diri. Di depan cerminku aku berdiri, menilai satu per satu kualitas diri. Sesekali terlontar kata-kata penguat diri, tangisku pecah, aku memeluk bayangku sendiri.

"Aku bukan orang yang hobby selingkuh" kataku menjaga jarak. Aku mundur kira-kira 2 langkah dan kemudian kembali menatapnya. "Aku bukan orang yang hobby selingkuh"

"Ya, aku tahu. Kamu bahkan belum pernah memilikinya sebelum aku" katanya mengingatkanku.

"Aku takut meneguk kecewa"

"Dan aku tidak akan pernah melakukan itu"

"Jangan berjanji. Berusahalah"

Aku tak pernah percaya dengan sebuah janji. Rasanya lebih tenang mendengar seseorang mengatakan dirinya akan berusaha, dari pada menebar janji-janji diri yang kebanyakan malah banyak dinodai. Terlalu basi atau lebih tepatnya janji bukan sesuatu yang bernilai spesial lagi. Terlalu banyak yang melakoninya dengan buruk. Aku benci menyaksikan ini.

"Sungguh"

"Aku takut"

"Tidak ada yang menyakitimu"

"Ya, sudah tidak lagi. Dan, semoga tidak akan ada lagi"

"Hei......"

"Tidak ada yang akan benar-benar tahu"

"Lalu?"

"Tidak jadi. Hanya takut sesuatu terulang lagi"

"Tidak akan"

"Ya, semoga kau benar"

Ya, dan aku hampir tidak percaya dengan masa depan. Orang-orang itu? Aku bahkan terlampau egois dan menganggap mereka semua sama. Tidak adil memang, tapi untuk orang-orang yang setipe denganku akan sangat sulit untuk tidak melakukan itu. Kejadian itu begitu menakutkan. Kau yang tidak pernah melakoninya tidak akan tahu benar bagaimana rasanya.

"Percayalah"

"Dan kau?"

"Dan aku?"

"Berjanjilah untuk tidak melakukan itu kepadaku"

Bicara apa aku? Bahkan aku telah secara tidak langsung memintanya berjanji? Padahal, aku sendiri saja sudah tidak percaya janji. Racunku ku teguk sendiri, aku bunuh diri.

"Maksudmu?"

"Bukankah kau adalah cerminan diriku?"

"Tentu saja"

"Bukankah sosok asli dengan sosok yang ada dipantulan cermin itu sama?"

"Tidak ada beda"

"Jadi, kita sepakat?" kataku sambil mengulurkan jabat tangan.

"Untuk?" katanya menyambut uluran jabat tanganku.

"Untuk tetap menjadi bayangan satu sama lain" kataku lirih.

Bagus. Aku telah mengatakannya, tepat di hadapannya. Aku berhasil, aku telah berhasil mengatakannya.

"Aku mendengarnya"

"Harusnya, tidak" kataku menyesal.

"Tapi"

"Apa?"

"Aku tidak akan berjanji. Tapi percayalah, aku akan berusaha"

Ya dia paling tahu apa yang aku mau. Termasuk dengan tidak berjanji perihal apapun. Bukti pertama darinya, dia tidak mengecewakanku. Yang telah ku sampaikan, terpatri benar diingatannya.

"Aku suka itu"

"Aku tahu"

"Dan sekarang?"

"Sekarang? Ada apa?"

"Aku bahagia"

"Aku? Tidak begitu"

"Tapi?"

"Lebih dari apa yang kamu rasakan. Aku beruntung"

Senyumnya begitu manis. Aku terpaut, tenggelam dalam romansa jatuh cinta yang begitu indah. Kalau aku benar berhasil memilikinya, tidak ku biarkan apapun meniadakannya. Senyuman itu, biar jadi alasanku jatuh cinta kepadanya. Kepada dia yang telah berjanji tidak akan pernah berjanji lagi.

"Aku tahu"

"Tapi kamu ragu"

"Sudah tidak lagi. Aku sudah menemukan apa yang aku mau"

Tidak sesempurna yang ku mau, tapi sepertinya dia cukup untuk menjadi apa yang aku butuh. Bukankah ini lebih dari cukup? Tentu saja.

"Kau percaya padaku?"

"Aku berusaha. Dan semoga kau tidak mengecewakanku"

Aku mendekat, dia juga. Kami sama-sama mendekat. Dan peluknya ku rasakan begitu hangat. Aku nyaman merebah ke dada bidangnya.

"Aku butuh doamu"

"Pasti"

"Juga percayamu"

"Itu juga"

"Akankah aku berhasil?"

"Apa?"

"Membahagiakanmu"

"Dan ayah bundamu"

"Tentu"

"Jika kau mau. Allah tahu apa yang menjadi inginmu"

"Terimakasih bidadariku"

"Kembali kasih tuanku"

"Aku mencintaimu"

"Aku lebih mencintaimu karena-Nya"

"Aku tahu aku tidak akan pernah menjadi yang pertama"

"Tak apa, kau tetap yang utama setelah-Nya"

Pelukan itu selesai, tepat setelah kecup lembutnya mendarat di keningku. Tangisku mereda. Lalu aku meringankan langkah. Aku pergi, jauh, semakin jauh dari cerminku. Aku takut, setakut ini untuk membuka lagi ruang percaya. Aku sulit, sesulit itu menutup luka lama, bahkan atas apa saja yang aku sendiri belum pernah melakukannya.

Tapi usai, aku selesai dan berakhir dengan kata rela. Meski ragu, perlahan ruangku terbuka. Aku telah mencoba, aku berlari, aku menyusuri lorong-lorong kehidupan ini, aku mencari bayangku, aku mencarinya, siapa saja yang akan menjadi cintaku.

Oh Tuan, dimanakah kau?

Aku mencarimu.

---------------------------------------------------------

Salam Literasi

Jumat, 23 Agustus 2019

Waktu Ayah Pergi

Seharian aku tak tenang, dia hilang seharian tanpa memberi kabar setelah semalam mengabarkan kepadaku bahwa dia akan pulang ke kampung halaman. Mendadak memang. Dia bilang tiba-tiba ingin pulang. Padahal sebelumnya dia bilang beberapa waktu ini akan sibuk karena pekerjaannya.

"Malem beb"

"Malem beb. Kok berisik si, lagi di jalan ya?" tanyaku

"Iya nih, lagi buru-buru"

"Mau kemana beb?"

"Aku mau pulang"

"Pulang ke kosan?"

"Pulang ke rumah bunda dong sayang"

"Lhoh kok tiba-tiba si beb. Katamu kemarin bakal sibuk?"

"Iya nih. Tiba-tiba pengen pulang, bunda kangen katanya"

"Dasar. Tapi beneran cuma gara-gara itu beb?"

"Iya sayang. Udah dulu ya. Pesawatku udah mau take off nih. Besok ku telfon lagi"

"Terus kerjaanmu?"

"Bunda lebih dari segalanya. Rejeki ga akan lari kemana kan beb? Kalaupun aku kena pecat, aku akan cari yang lain"

"Iya bener. Ya udah hati-hati ya beb. Titip salam buat Bunda. Kabarin kalau udah sampai"

Begitu kira-kira percakapan singkatku semalam sebelum kepulangannya. Sebenarnya tidurku semalam tidak begitu nyenyak. Seperti ada sesuatu yang ramai di kepalaku, tapi aku sendiri kurang tahu apa itu. Pikirku tak jauh dari Tuan yang tiba-tiba berpamitan pulang secara tiba-tiba. "Sebenarnya ada apa? Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku?" kataku membatin.

Dan sekarang, pandangku tak lepas dari layar ponsel yang setia digenggamanku sedari tadi. Entah sudah berapa kali panggilan keluar terhitung di log panggilan ponselku. Aku bahkan tidak sempat mengeceknya. Kalutku membesar setelah pagi tadi sebuah panggilan masuk mengabarkan kepadaku bahwa ayah telah tiada. Teman karibnya menelponku, mengabarkan tentang ini juga tentang Tuan yang hatinya sangat sedih karena ini.

Picture by : Google
Ayah? Lelaki itu, lelaki yang akan jadi ayahku juga. Lelaki yang diceritakan tuan beberapa kali kepadaku itu telah tiada. Lelaki yang terdengar begitu hebat kepribadiannya. Lelaki yang diceritakan sangat mencintai istrinya, anak-anaknya, juga keluarganya. Lelaki yang sempat membuatku iri karena banyak hal baik yang ada pada dirinya. Lelaki yang akhir-akhir ini aku idam-idamkan sebagai calon ayah mertuaku, kakek dari anak-anakku. Lelaki itu telah begitu cepat pergi. Padahal aku belum sempat benar-benar berkenalan, atau sekedar berdialog, atau mewujudkan mimpi-mimpi baru dengan beliau.

"Hai ayah, sampaikan salamku kepada Allah, kepada Rasulullah, juga kepada orang-orang yang kau temui di surga sana. Aku mencintaimu meski kita belum benar-benar bertemu. Semoga surga menjadi ujung dari ini semua. Selamat jalan ayah, sampai jumpa"

Aku terkejut, tapi rasa itu terlalu kecil dibandingkan dengan kalutku yang tak kunjung menemukan arti. Panggilanku belum juga berhasil terjawab. Padahal sudah hampir adzan magrib. Aku pikir, prosesi pemakaman ayah sudah seharusnya selesai. Tapi tuan, dia kemana? Dia bagaimana? Dia sedang apa? Kenapa panggilanku tidak kunjung dijawabnya? Tuan, apa dia baik-baik saja?

Entahlah, sepertinya aku butuh mengadu kepada-Nya untuk mencari ketenangan diri. Ponselku ku letakkan begitu saja di atas tempat tidurku dan kemudian aku bergegas menuju tempat ambil air wudhu. Aku berniat sambil mencuci kedua tanganku, kemudian membasuh wajahku dan menyelesaikan proses wudluku. Adzan magrib telah selesai bertepatan dengan selesainya wudluku.

Dan aku menunaikan kewajibanku. Menyelesaikan 3 rekaat di pergantian antara terang dan petang yang telah datang. Aku panjatkan banyak doa panjang di setiap sujudku, memohon agar bisa mendengar kabar perihal tuan yang seharian menghilang. Aku juga ingin sekali mendengar kabar ayah sampai akhirnya tiada.

Tangisku mereda, persis setelah kata Aamiin terucap olehku di doa terakhirku. Aku berpasrah diri kepada-Nya dan meyakini bahwa apa yang terjadi adalah kehendak yang terbaik dari-Nya.
Masih berkemul dengan mukena berwarna biru terang pemberian mamak, aku beranjak menuju arah ponselku. Aku meraih ponselku kembali dan kemudian mencoba melakukan panggilan keluar lagi kepada tuan.

"Assalamualaikum beb" sapaku dengan girang.

Tapi hening, tidak ada suara. Dia diam, padahal layar ponselku menandakan bahwa panggilanku sudah masuk. "Hai tuan, adakah kau disana? Kenapa tidak menjawab salamku? Apakah ternyata itu bukan kau?" kataku tak henti menerka.

"Beb, assalamualaikum. Beb..... mas...... hallo......" kataku mencoba lagi.

Sedetik, dua detik, tiga detik, dan aku geram. Pikiranku semakin kalut entah mengkhawatirkan apa. Lelaki itu, sedang apa dia? Kenapa tak juga menjawab sapaku?

"Ya udah deh, kamu tenangin diri dulu. Nanti kalau udah lega, kabari aku ya. Maaf sudah mengganggu" kataku menyerah.

Tapi tiba-tiba terdengar suara isakan tangis. Seperti ada yang ingin disampaikan tapi belum bisa. Aku belum benar-benar menutup panggilanku. Mendengar suaranya hatiku menjadi sedikit lega. Setidaknya aku masih bisa memastikan bahwa yang mengangkat panggilanku adalah benar-benar dia.

"Waalaikumusalam........ beb" katanya menjawab.

"Alhamdulillah" sambil mengelus dada.

"Beb" sambil menahan isak tangis.

"Dalem"

"Maaf ya, lama"

"Iya nggak papa. Aku ngerti kok"

Isak tangis itu terdengar lagi. Aku tiba-tiba panik, bingung akan mengambil langkah apa. Sebenarnya aku ingin sekali mendatanginya, tapi belum bisa. Ada yang harus aku selesaikan. Oh ayah, kenapa tidak menungguku saja si? Kenapa tidak melakukan nego dengan malaikat yang mendatangimu? Harusnya kita bertemu dulu. Ah bicara apa aku? Ngawur.

"Beb, are you okay?" kataku memastikan.

"He em. Sedikit" katanya singkat.

"Ada yang mau diceritain ke aku nggak beb?" kataku mencoba mencairkan suasana.

"Belum ada"

"Ya udah, istirahat dulu gih. Aku tutup telponnya ya. Jangan lupa makan. Oh iya, sekalian titip salam buat Bunda ya. Bilangin, maaf belum bisa dateng ke sana"

"Beb"

"Iya"

"Jangan ditutup ya telponnya"

"Abis kamu cueknya kambuh si"

"Takut ketahuan kamu si"

"Ketahuan apa?"

"Ketahuan kalo aku abis nangis"

"Ya Allah, cah lucu"

Seketika aku tertawa kecil. "Cah Lucu". Biasanya dua kata itu sering dilontarkannya kepadaku, apalagi ketika aku sedang kacau-kacaunya dan salah menduga sesuatu.

"Masih sedih tha beb?" kataku

"Sedikit"

"Ya udah kelarin dulu sana gih"

Sekedip, dua kedip, sekian kedip, kenapa tidak ada suara lagi? Aku diam dan menyibukkan diri dengan menerka-nerka sesuatu yang terjadi kepadanya.

"Beb......... beb .......... mas ........... hallo ........ beneran mau ngelarin kesedihan nih?" kataku menebak

Tapi tidak ada suara. Lelaki itu kemana? Sedang apa dia? Kenapa tidak ada suara? Apa dia ketiduran? Apa dia sedang sholat? Apa dia sedang mengerjaiku dan tertawa puas melihatku bertanya-tanya begini? Ah apa-apaan aku ini.

"Beb ..... hallo...... ngomong kali ih. Beb ........"

Tiba-tiba ada suara.

"Hallo beb"

"Hmm"

"Maaf ya lama"

"Hmmm"

"Abis dari kamar mandi soalnya. Perutku tiba-tiba mules"

"Astagfirullahaladzim Ya Rabb. Pantesan dipanggil-panggil enggak respon. Kesel"

Dia memang sering begitu. Tiba-tiba hilang dan kembali dengan alasan yang menurutku lucu tapi tetap membuatku kesal. Aku sering dibuatnya kesal sekaligus tertawa membayangkan tingkahnya yang menyebalkan.

"Iya maaf, mau pamit ga sempet beb"

Aku diam, menikmati kesal dan lucu yang berbaur menjadi satu. Rasanya ingin sekali ku cubit lengannya dan kemudian memukulinya dengan penuh cinta. Lelaki itu, kenapa membuatku random begini?

"Mata empat"

"Ya"

"Mata empat"

"Apa?"

"Mata empat"

"Dalem"

"Mata empat"

"Iya mas"

"Mata empat"

"Apa sih beb?"

"Ya udah"

"Dasar annoying"

"Cuma kangen"

"Apaan?"

"Beneran"

Lagi, aku dibuatnya kesal lagi. Tapi ya gitu, aku tak pernah berhasil mengendalikan diri. Aku selalu ingin menjadi jawaban atas apa yang menjadi pertanyaannya, aku selalu ingin menjadi sesuatu yang melengkapinya.

"Udah ga sedih lagi nih ceritanya"

"Enggak. Kan udah berhasil bikin kamu kesel"

"Mas....."

"Enggak sayang, bercanda kok"

"Alhamdulillah. Emang kudu begitu. Cowok emang kudu tegar, nggak boleh cengeng. Jangan sedih lagi ya beb. Ntar kalo kamu sedih, aku, bunda, dan semuanya ikutan sedih gimana dong? Ikhlasin aja, insyaallah ayah udah tenang di alam sana"

"Sendiko dawuh nyai"

"Aku ngomong beneran tau beb"

"Iya paham. Insyaallah, abis ini aku ga akan sedih lagi"

"Aku cuma bisa ngingetin beb, maaf belum bisa lebih"

"Udah kok beb, udah lebih dari cukup. Makasi ya"

"Bunda lagi apa beb?" kataku menggeser topik

"Lagi kruntelan di ruang sebelah sama adek. Tadi udah seharian kruntelan sama aku, sekarang gantian"

"Ihh pengen ikutan"

"Sini sama aku aja. Kalo sama mereka engap, kan mereka berbanyak"

"Nonononono"

"Wkwkwkwk"

Suasana rumahnya sudah agak sepi, mungkin karena baru saja magrib. Jadi para tamu mungkin menunggu waktu untuk datang setelahnya. Atau memang kebiasaan di tempat kami yang berbeda.

"Beb"

"Apa sayang?"

"Udah ga sedih kan?"

"Insyaallah"

"Kamu ga mau cerita ke aku tentang ayah beb?"

"Cerita apa?"

"Ayah sakit apa beb?"

"Ayah pergi abis subuhan berjamaah pagi tadi. Ayah yang imamin, pas tahajudan juga. Sebenernya ayah sakit parah, udah lama, dan ga ada yang ngasih tahu aku. Ayah juga kelihatan baik-baik aja setiap ketemu sama aku. Kaya biasa gitu, aku ga nyangka ayah sepintar ini biar buat aku ga khawatir. Aku sempet marah ke bunda dan ke semuanya. Kenapa harus ditutupin dari aku coba?" katanya panjang.

"Masyaallah ayah. Mereka ga mau kamu khawatir beb. Udah ah marahnya. Ya?" kataku menenangkan.

Lagi lagi aku tersentuh. Entah energi apa yang baru sampai kepadaku, di tempatku merebah sekarang aku hanya membayangkan sosok ayah yang begitu hangat. Ah lelaki itu, kenapa harus pergi secepat ini. Aku juga menjadi menggebu-nggebu membayangkan berada diantara keluarga tuan. Bersamanya, bersama bunda, saudara-saudaranya. Hei, kapan kita benar akan bertemu?

"Tapi kan?"

"Tapi kan kamu juga sering kaya gitu. Enggak jujur ke bunda sama ayah. Kemarin kamu jatuh diem aja kan? Banyak juga kan yang kamu tutupin ke beliau?"

"I iya hehe"

"Adil kan? Udah ah. Aku ga mau denger kamu kesel lagi. Jelek taukk"

"Iya, insyaallah"

"Jadi telpon semalem pas kamu pamit pulang itu gara-gara ini?" kataku menebak

"Sebenernya enggak si. Bunda beneran cuma bilang kangen dan minta aku pulang. Bahkan bunda ga bilang apapun ke aku, termasuk soal ayah. Sebenernya aku cuma ngikutin kata hati aja si, tapi ternyata ya begini kenyataan yang harus aku hadapi"

"Allahu akbar beb. Kebetulan yang sangat indah. Ya udah, kamu istirahat gih. Aku tutup telponnya ya" kataku pamit

"Lhah, udahan nih kangennya?"

"Hah, aku cuma khawatir ya. Seharian ga ada kabar ih" kataku terheran

"Hehe, ntar aku beliin burger kesukaanmu deh, biar aku dimaafin kamu"

"Wegah. Tapi kalau kamu beliin tiket umroh bisa ku pertimbangkan si. Hehe"

"Insyaallah, doain aku terus ya sayang"

Adzan isya' berkumandangan. Aku memutuskan akan menutup panggilanku dan menyelesaikan kewajibanku kepada Rabb-ku. Mukena yang masih hangat menyelimutiku dari semenjak magrib tadi aku lepas dan kemudian aku bergegas menuju sebuah keran di sisi kanan kamarku. Rasanya baru sebentar berdialog dengannya, padahal sudah lebih dari setengah jam. Mungkin memang benar kata orang-orang, cinta selalu membawa suasana yang berbeda. Haha.

"Insyaallah. Isyaan dulu yuk, disini udah adzan" kataku

"Doain ayah ya beb. Doain biar bisa ketemu kita di surga"

"Bentar deh, emang kamu bakal masuk surga beb? PeDe sekali anda?"

"Tergantung"

"Kok?"

"Tergantung gimana kamu jadi istri lah. Kalau kamu banyak dosa ya nasib" katanya meledek.

"Naudzubillah. Enggak. No. Jangan" kataku ketakutan

"Wkwkwk makanya, jangan nakal"

"Insyaallah beb. Ya udah tutup telponnya. Udah di tunggu ayah tuh"

"Ayah? Nunggu? Nunggu siapa beb?"

"Nunggu doa dari anak lelakinya yang sholeh. Buruan sholat"

"Hahaha cah lucu. Ya udah, assalamualaikum mata empat"

"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh (Tuan)"

Dan setidaknya malam ini aku sudah mendengar suara Tuan. Setidaknya apa yang seharian menjadi tanda tanyaku sudah terjawab. Lega rasanya, aku pikir tidurku malam ini akan nyenyak.
Aku tidak tahu bagaimana skenario hidup yang dibuat-Nya untuk Tuan. Tapi setiap aku ulangi cerita ini dari apa yang sudah terjadi mulai dari semalam, rasanya begitu indah. Seperti sebuah kebetulan, tapi benar inilah takdir-Nya.

Ayah, ayahku yang sudah lebih dulu berpulang kepada-Nya. Selamat malam ayah, terimakasih sudah pernah menjadi bumbu-bumbu sedap disela-sela percakapanku dengan anak lelaki ayah. Anak ayah lucu, tapi biasa aja. Enggak seganteng Kenny Austin di sinetron "Cahaya Terindah" yang hampir tak pernah ku lewatkan setiap sore. Tapi ayah, dia selalu bisa membuatku senyum-senyum sendiri meski harus kesal juga. Ayah, apa ayah selucu anak ayah itu? Ah ayah, harusnya ayah bercanda dulu denganku barang sekali atau sekian kali. Tapi ya sudahlah, sepertinya ayah lebih sayang ayah.

Sampai jumpa di surganya Allah ayah. Semoga Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa ayah, menerima amal ibadah ayah, mengindahkan alam kubur ayah, dan menempatkan ayah disisi terbaik-Nya. Aku sayang ayah.

--------------------------------------------------------

Salam Literasi

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....