Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Januari 2024

Dear Mas (3)

Dear mas,

Bisa dikatakan, sekarang aku tidak sedang bersembunyi, tapi kamu bisa (sementara) menganggapnya begitu.

Kamu tidak perlu mencariku. Sebab aku ada di mana-mana. Aku di sisi yang jauh darimu. Aku di sisi yang dekat denganmu. Aku juga ada di antara itu.

Aku tidak perlu memberitahumu di mana aku. Sebab kamu bisa saja menemukan aku di dalam hatimu, di dalam isi kepalamu, di langit yang biru, di jiwamu yang sedang kamu timang-timang, di antara bintang-bintang, di antara puisi-puisi yang tidak semua orang tahu, di mimpimu, di anak-anak tangga yang kamu kenal, juga di setiap hal kecil yang kamu nikmati. Aku ada di mana-mana. Mengakar, merayap di setiap malam, berisik, dan kadang menjelma jadi cemburu.

Aku membawa rasaku ke mana-mana. Aku melakukannya, seperti kamu juga melakukannya. Sejak saat itu, aku berhasil menjadi seseorang yang ahli. Aku membuat segala sesuatu di setiap waktu menjadi menyenangkan dan (mungkin) sebentar lagi aku juga akan berhasil menjadikanmu memanggilku "kekasihku".

Waw, haruskah aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?


Kamis, 11 Januari 2024

~HAPPY BIRTHDAY TO YOU CUY~

Tidak kusangka bayi kecil yang disayangi banyak orang ini telah tumbuh menjadi dia yang seperti ini. Menyenangkan bisa membersamai setiap proses yang sudah dilaluinya (meskipun sekarang sudah tidak terlalu). Sebenarnya aku cemburu (meskipun sekarang sudah tidak terlalu). Sebenarnya aku masih melakukan itu sesekali. Tapi ya begitu saja. Toh ditemani atau tidak, langit masih tetap biru dan lampu-lampu jalanan masih tetap menyala. Sebenarnya masih ada satu. Adalah aku yang (sepertinya) masih menyayanginya. Alah, tapi bukan itu intinya (kecuali perkara kecemburuanku). Susah sekali memang menjelma menjadi seseorang yang... emhhh apakah aku harus menyebutnya "sweet"? Hahaha, sial. Bayi kecil yang sedang berulang tahun ini pasti sedang terpingkal-terpingkal membaca omong kosong ini.

Hahaha, it's okay. Tertawalah wahai penghuni semesta yang hidupnya dihujani dengan banyak hal yang ajaib. Sekarang, bantu aku mengirim banyak doa untuk bayi kecil ini.

Seperti Pancasila, bagaimana kalau doa untuknya kita buat jadi 5 poin utama?

1. Semoga bayi kecil ini semakin mekar mewangi..
2. Semoga semakin banyak jatuh cintanya kepada hal-hal baik.
3. Semoga semakin baik hati dan tidak keberatan menoleransi (semoga yang ditoleransi juga tahu diri).
4. Semoga dewasanya menjadi dewasa yang sebenar-benarnya dewasa dan tangguh.
5. Semoga meskipun sudah ada yang pertama dihatinya tapi aku tetap dia jadikan yang utama (tapi boong) >Ya jangan mimpi indah kamu pen>😬

Akhirnya sekian dan terimakasih tuan dan puan yang telah bersedia turut mengamini. Sebenarnya masih ada lagi, tapi... ya aku pikir perkara hamil bersama dan cita-cita mewariskan pertemanan yang sebenarnya diwariskan kepada kami ini juga patut diaminkan. Jadi..... sekali lagi mari ucap

"Selamat ulang tahun cuy, semoga 5 poin ditambah 1 poin lagi juga poin-poin rahasiamu akan berhasil mendekat satu per satu dengan cara yang menakjubkan dan seru. Semoga keberuntungan selalu menyertaimu."

¤ Diabadikan disaat-saat paling kesusu. Karena kepepet ijin pak su(aminya dia). Jadilah begitu. Agak absurd, tapi (haruskah aku bilang) itu seru.?.?.?

Senin, 20 November 2023

Dear Mas (2)

Dear mas,

Aku mendongak ke atas dan mencoba mencari kedua matamu yang berbinar di depan pandangku. Tapi alih-alih mendapatkan binar di kedua matamu, aku malah menemukan langit yang biru. Haha, sungguh perburuan yang seru.

Aku berjalan ke arahmu, mencari sebuah celah untuk masuk ke rumahmu yang belum kutemukan pintunya itu. Tapi mas, sepertinya aku telah tersesat. Tapi senangnya, aku masih tersesat di situ-situ saja. Di sebuah tempat dimana aku bisa tetap memandangmu meski itu kulakukan dengan malu-malu dan agak takut. Aku takut Yang Maha Cinta cemburu kepadamu. Haha, lucu bukan?

Padahal dari awal aku sudah mengatakan kepada-Nya

"Ya Allah, jangan khawatir aku akan lebih cinta kepadanya daripada kepada Engkau. Kalaupun aku khilaf melakukannya, maka Engkau jadikanlah aku lebih mencintai-Mu. Engkau punya caranya Ya Allah. Engkau satu-satunya yang paham baik tentang itu".

Ya, aku harap kamu juga tidak cemburu kepada-Nya. Sebab kamu tetap menjadi yang pertama dan Allah akan menjadi yang utama.

Sabtu, 09 September 2023

Dear Mas

Dear mas,

Nanti aku akan menulis sesuatu tentangmu. Nanti saja, setelah kamu datang dan bernafas lega.

Nanti aku buatkan kopi hitam favoritmu dan aku akan membuat matcha favoritku. Kita bisa menikmatinya sambil memandang langit dan (menemukan sesuatu?). Aku sungguh ingin menemukan bintang sirius bersamamu sambil menjatuhkan satu per satu puisi buatanku ke telingamu.

Oh ya tenang saja, sebab kamu tidak perlu mengerti apapun setelah itu. Kamu hanya perlu mendengarkanku dan menikmati kopimu (juga suasana bersamaku).

Tapi jangan juga jadi bisu.

Sebab, kamu boleh juga banyak bicara sebanyak atau boleh lebih banyak dariku. Kamu boleh menceritakan apa saja, termasuk jok motormu yang sudah lama kedinginan itu.

Aku bisa mendengarkanmu lebih banyak, dan juga lebih lama.

Waw, aku pikir malam-malam pasti akan menjadi terasa begitu panjang ketika isi kepalaku dan isi kepalamu bercumbu mas.

Aku berharap, aku dan kamu tidak akan menyesali banyak hal atas apa-apa yang sudah berlalu. Dan aku berharap atas apapun itu, aku bisa selalu memenangkan isi kepalamu (dan aku pikir, aku juga harus begitu kepadaku).

Aku berharap segala hal baik diantara kita berdua bisa selalu meluas dan meluap-luap. Aku berharap kamu akan sependapat denganku. Sebab itu adalah rencanaku dan mohon lekas dibantu.

Deal?

Jumat, 27 Januari 2023

Roman(tika)


Merangkai ini dengan maksud berbicara sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa banyak "ya" yang tidak melulu jadi "ya" dan banyak "tidak" yang tidak melulu jadi "tidak". Itu hanyalah sesuatu yang kecil. Itu adalah tentang perjalanan menjadi manusia berwujud aku. Itu bisa jadi berwujud kamu juga. Itu bisa jadi berwujud kita.

Membaca ini mungkin bisa dilakukan sekali jalan. Itu memang tidak banyak, jadi aku pikir itu akan menjadi cepat selesai. Tapi bagaimanapun itu, semoga setelah membaca (satu judul saja), seseorang bisa terketuk hatinya.

Banyak hal yang terjadi tahun ini, juga di tahun-tahun sebelumnya. Aku pikir itu akan berlaku juga di tahun-tahun selanjutnya. Segala senang, segala sedih, segala yang terjadi biarkan terjadi. Bisa jadi itu akan menjadi semakin, tapi yang penting, semoga kita selalu jadi yang bisa melalui itu dengan senang hati.

Barangkali ini adalah pencapaian terbaikku di tahun 2022. Draf-draf lama yang mangkrak di buku-buku catatan yang sudah mulai kusut itu akhirnya lahir menjadi anak cantik bernama "Roman(tika)".

"Roman(tika)".

Sebenarnya aku lebih suka "roman" tanpa "tika". Tapi tidak apa-apa. Karena hidup ini adalah serangkaian lika-liku, jadi aku pikir "Roman(tika)" bisa jadi nama yang apik untuk memanggil anak sulung ini.

"Roman(tika)" ini adalah bentuk dari sebuah perayaan, tempat dimana banyak mata begitu sembab, tempat kata maaf diada-ada, dan tempat dimana begitu banyak persimpangan.

Dia adalah penggalan-penggalan dari aku yang (masih berusaha waras). Dia adalah aku yang sempat menangis, meringis, dan kebingungan menyelesaikan setiap malam yang baik.

Dia adalah definisi dari serangkaian kesabaran dan alur yang lambat. Dia adalah kumpulan dari kusut-kusut yang berhasil kuurai. Dia adalah marah-marah yang berhasil kuredam. Dia adalah tanya-tanya yang datang jawabnya.

Dia adalah aku yang telah berjalan begitu jauh, tapi lupa bahwa ternyata diri sendiri telah lunglai mencintai kehilangan dan sesuatu yang bukan untukku. Dia adalah aku yang (mungkin) sama denganmu (siapapun kamu) yang begitu sederhana tapi kadang berharap jadi mulia.

Dia adalah aku yang setiap pagi membuka mata seperti biasa, lalu bingung akan melakukan apa juga bagaimana menyelesaikannya. Tapi anehnya aku nyaman mengulang itu dan kadang sembrono mengklaim bahwa diri ini bahagia melakukannya.

Kadang aku bisa bilang bahwa aku baik-baik saja, tapi semoga aku benar-benar telah terkendali. Karena singkatnya ini hanya tentang bagaimana seseorang akhirnya berhasil melapangkan nasib.

Dan sungguh setiap emosi dan pengalaman hidup berhak dirasakan dan berhak diceritakan. Begitulah akhirnya seseorang berhasil menikmati sesuatu.

Begitulah akhirnya aku memberanikan diri meracau. Memang tidak begitu banyak, tapi setidaknya ada satu dan itu akan menjadikanku (juga kamu) merasa cukup. Lebih dari cukup.

Akhirnya, sudilah seseorang berkenalan dengan anak sulungku dan mendekapnya dengan penuh.

Selamat membaca, dan
mari tumbuh dan sembuh bersama.

Selasa, 20 Desember 2022

Kamis Bersama Bapak

Hari ini aku membawakannya kembang warna-warni. Lebih dominan warna pink, tapi sebenarnya aku lebih suka menaburkan yang warna putih atau kuning. Tapi belakangan aku malah lebih sering membawakannya yang warna merah. Halah tapi siapa juga yang peduli, yang penting tiruan taman surga buatanku bisa kelihatan apik. Bapak juga tidak pernah komplain tentang ini. Dia memang selalu tahu bagaimana menyenangkan satu-satunya anak wedok yang dia punya.

Ahh aku membayangkan betapa candu senyum canggungnya. Bunga-bunga itu bahkan tidak mau menceritakannya kepadaku. Tapi aku pikir mereka terlalu sibuk bertasbih untuk bapak sekaligus bermain-main dengan terik matahari dan kemudian berakhir kering. Waw ternyata tidak hanya manusia yang kembali ke tanah.

November sudah dua kali berlalu semenjak itu. Jarak itu terbentang menjadi semakin jauh, sangat-sangat jauh. Aku di sini dan apakah Bapak sudah di surga?

Haha, aku tidak tahu apakah aku harus senang atau sedih karena kehilangan seorang paman tua. Aku pikir aku hanya menyimpan perasaan terlalu banyak sampai akhirnya aku kehabisan waktu. Atau waktu untuk itu memang tidak pernah ada untukku? Waktu memang sebuah jarak yang menjaga.

Aku hanya senang bahwa akhirnya aku bisa menulis ini. Bahwa aku telah sadar tidak ada yang salah dengan sebuah kepergian, kecuali atas apa-apa yang tidak bisa lagi dibawa. Tapi betapa manusia sangat-sangat beruntung karena mereka punya surat-surat terbang bernama doa. Itu lumayan, daripada hanya merasa gelap, mengerikan, dan sendirian. Lagi pula itu mendekatkan, entah kita menyadarinya atau tidak. Setidaknya kita sudah mendekat, setidaknya kita sudah punya waktu untuk membungkam perasaan bernama rindu.

Senin, 28 November 2022

Review Buku "Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau"

Ini deadline buku bacaan pertama yang aku selesaikan sebagai pembuka tahun baru ini. Sengaja ngide begini karena sengaja mau nge-challenge diri sendiri biar rajin baca lagi. Haha.

Niatnya mau baca tiap pagi satu judul. Eh tapi ternyata aku lengah dan tiba-tiba nyampe di halaman terakhir. Baca buku ini bikin hati ketagihan berbunga-bunga.

"Katakan 'aku mencintaimu', agar tampangku kian menawan
sebab tanpa cintamu aku tidak bisa tampan
katakan 'aku mencintaimu' agar jemariku
menjelma emas dan keningku menjadi lentera
katakan 'aku mencintaimu', agar tuntas aku berubah menjadi gandum atau kurma
sekarang katakanlah, jangan ragu
beberapa cinta tak suka menunda"
(Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau, Hal : 72).
Itu seperti seseorang benar-benar memujaku. Seperti seseorang benar-benar punya cinta yang begitu besar untukku. Seperti itulah aku bersaksi tiada lelaki selain dia, selain dia, selain dia. Ya, tentu saja aku tidak sedang meracau.

Buku ini bukan novel, tapi kumpulan puisi karya penyair arab bernama "Nizar Qabbani" yang diterjemahkan "Musyfiqur Rahman". Judul aslinya adalah "Asyhadu An La Imraata Illa Anti". Di dalamnya tertulis teks bahasa arab asli lengkap dengan terjemahannya. Tiap lariknya mengistimewakan perempuan. Sajak demi sajaknya penuh cinta. Kalian tentu harus membaca ini wahai pecinta sastra romance.

Selamat membaca.

Jumat, 18 November 2022

Review Buku "Seribu Kisah, Sebuah Kasih"

"Mencintai dan dicintai adalah kesedihan yang sama...Kita mencintai bukan sekedar untuk dicintai-kita mencintai oleh sebab kita ingin dan sanggup untuk mencintai orang tersebut.... Meskipun tidak melulu hal indah yang datang, semoga kita bisa kerap jatuh cinta, berulang-ulang.... (Seribu Kisah, Sebuah Kasih, Hal: 136).

Ini adalah halaman favoritku. Halaman pembuka bagian akhir dari buku ini. Buku yang berisi banyak cerita pendek tentang hubungan antar manusia. Buku yang menyimpan banyak kisah cinta. Yang diam-diam, yang terang-terangan, yang hati-hati, yang sembrono, yang tidak sengaja, yang bertepuk sebelah tangan, yang tidak menyadari, yang bahagia, yang tidak bahagia, yang diantara itu semua, aku tidak peduli bagaimana. Karena perjalanan-perjalanan telah banyak tertulis juga terbaca, dan aku telah berhasil menjadi salah satunya. Ah senangnya menjadi manusia. Agak aneh, tapi aku menikmatinya. Ya meskipun itu berjalan sedikit demi sedikit.

Hubungan antar manusia memang tidak ada yang pasti. Tidak akan ada rumusnya. Tidak juga bisa diterka-terka. Kalau endingnya bahagia, ya selamat. Kalau ternyata tidak, ya selamat juga. Setidaknya semuanya pernah ada, bahkan dititik dimana orang lain tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Kita semua sudah sama-sama tahu, baik saja tidak cukup untuk menjadikan sesuatu jadi pas. Dan begitulah hari-hari berjalan. Selalu mengalir ke segala arah. Kita hanya perlu tahu bagaimana arah arusnya, juga bagaimana cara menikmatinya.

Megah bukan?

Sabtu, 24 Juli 2021

Selamat Pagi Kekasih

"Selamat pagi, kekasih".

Bunga-bungaku yang mekar mewangi di taman hatiku. Pelipur lara bagi setiap sakit yang gemar hilang bentuknya.

"Selamat pagi, kekasih".

Selamat menyambut hari yang berkemungkinan babak belur. Selamat berjalan lebih jauh. Selamat saja pagi ini dariku. Aku harap begini saja kamu sudah senang. Sebab kita masih jauh, bahkan untuk sekedar berebut menu sarapan pagi. Jadi apa rasa kopi favoritmu? Hitam, luwak, atau americano? Katakan saja kepadaku jika kamu sudah sampai.

Jadi, apa kabarmu? Dijawab apa adanya saja. Sebab hari-hari sudah terbayang lelah daripada harus kamu tambah dengan sandiwara. Ya aku pikir daripada repot begitu, lebih baik kita menyibukkan diri dengan menulis takdir-takdir yang kita ingini. Bukan, ini bukan untuk menuntut Yang Maha Cinta. Tapi ya siapa tahu, kemauan kita adalah juga kemauan-Nya. Tanganku juga tanganmu ini kan bisa jadi ajaib. Ya, kenapa kita tidak yakin atas itu?

Hidup ini adalah sebuah kesempurnaan yang tidak sempurna. Begitulah kita menjalaninya. Begitulah kamu datang menjelma. Dan begitulah aku datang menjelma. Kita adalah musik-musik yang tidak sempurna. Tapi tenang saja, kita tetap bisa menari-nari di atas segalanya. Ya tentu saja dengan bahagia yang mungkin harus kita paksakan ada. Hei sepertinya kita harus segera memulainya, kekasih. Maksudku cerita kita sebagai sepasang kekasih. Sebagai sebuah ruang yang berisi segalanya untuk selama-lamanya.

Ide bagus bukan?

Aku tahu kamu bukan orang yang gemar jail. Kamu mungkin adalah sebuah perkampungan padat penduduk yang sangat sunyi. Tapi tolong sudahi, sebab aku ingin kamu yang jail meski hanya denganku saja. Humor ini harus kita yang menciptakan, biar kita juga bisa jauh menikmati badai-badai yang datang. Dan kita akan bersama menikmati sapa-sapa mesra setelah membuka mata di pagi hari, menikmati kopi hitam favoritmu dan matcha ala-ala favoritku, lalu kita bersiap legowo mengurai mimpi-mimpi yang akan kita pijaki sehari penuh setiap hari. Jangan lupa kita bersulang untuk satu hari penuh yang rahasia itu. Sebab kita adalah kekasih. Ya, aku pikir sepasang kekasih sudah selayaknya merayakan apapun berdua, termasuk kesedihan, termasuk kebingungan, termasuk tumbuh kembang bersama dan apa-apa yang bahkan belum kita tahu benar-benar lakonnya.

Aku ini mungkin hanya sesuatu yang seorang manusia, perempuan, kecil, dan jauh dari kata ideal. Kamu mungkin sama, hanya saja aku belum melihat celahnya. Tapi aku dan kamu adalah rumah. Dan sungguh perkara-perkara yang tidak sederhana itu harus kita selesaikan. Maka dari itu, mari saling sudi untuk pulang dan mari kita rayakan hingar bingar rumah tangga yang suka meletus tiba-tiba berdua. Waw aku benar-benar sudah ingin banyak berbicara kepadamu tanpa perlu merasa bahwa aku telah mengganggumu sepanjang waktu kekasih. Bagaimana menurutmu?

Hei, kekasih. Ini bahkan hari minggu. Waktunya rekreasi. Mari wisata ke tempat kerjaku saja kekasih. Hari ini aku sedang tidak WFH, jadi mari ikut denganku agar aku dan kamu tetap bisa berdua. Tapi harusnya....harusnya kita sudah menikmati perburuan kecil itu ya kekasih? Atau boleh juga kita rencanakan pemotretan pastwed ala-ala monocrom. Atau kamu mau kita berbaur dengan tradisi kental jawa? Atau kita bisa bergaya apa saja di tepi pantai atau di antara pemandangan alam? Atau kita bisa mengambil konsep berkebun bersama. Atau kita ke pasar malam saja? Atau dua-duaan di studio potho milik siapa? Ya yang penting kita berdua. Yang penting kamu bersedia dulu untuk kujaga kekasih. Begitupun dengan aku kepadamu. Dan kita tidak akan jadi yang pernah selesai sekalipun telah lewat tenggang waktunya.

Langit tampak semakin membiru kekasih. Tidakkah diantara gulungan awan-awan itu aku dan kamu telah lebih dulu bertemu? Dan begitulah Yang Maha Mempertemukan menciptakan kita. Dan pada apa saja kita telah menjelma, tiap-tiap langkah, tiap-tiap puisi, dan tiap-tiap kicau burung adalah sesuatu yang tidak harus kita mengerti. Seperti itu, seperti omong kosongku ini. Mengalir , menyentuhmu bahkan jika ternyata kamu tidak menyadari semua itu dan aku tidak menyadari telah melakukan itu.

Jangan terbuai kekasih. Aku bahkan bukan seorang pecinta yang mahir. Kamu bahkan tidak enak hati kepada siapa saja yang menaruh hati padamu. Tidak apa-apa kekasih, yang penting masing-masing dari kita tetap waras. Kamu tidak harus berjanji, tapi berhati-hatilah di perjalananmu yang panjang itu. Sebab di tempat kerja itu aku menunggu. Sebab mulai pagi ini dan pagi-pagi setelah ini,  kamu sudah harus menyapaku. Atau tidak usah saja. Biar aku saja yang menyapamu.

"Selamat pagi, kekasih"

Selamat lagi dari kekasihmu ini.

Salam sayang.

Sabtu, 10 Juli 2021

Dear, Bulan Sabit...

Tuan
Tuan...
Orang-orang bisa begitu saja tampak dan benar-benar membosankan. Menari-nari mereka dengan omong kosong yang meriah. Dan begitulah musik yang tidak sempurna itu menggelar pestanya. Jadi, mari gemuruhkan tepuk tangan demi siapapun. Setidaknya mereka sudah bekerja keras dan tentu bersusah payah, bahkan untuk sesuatu yang menurut kita berantakan atau malah tidak berguna. Termasuk ini, termasuk aku, termasuk kamu, termasuk kita yang tidak sadar ketagihan jatuh berkali-kali.

Tuan
Tuan...
Kadang kita perlu menyelam, lebih dalam, sampai tenggelam, dan bahkan berkarat. Isyarat-isyarat kadang datang dalam wujud yang tidak kita suka. Dan kita rentan menyambutnya dengan sesuatu yang kekanak-kanakan. Sepenggal makna, aku pikir aku juga sama sepertimu. Jabat erat tanganku tuan. Kita sama-sama tidak mahir dalam hal ini.

Tuan
Tuan...
Hari demi hari berlalu. Dan tepat sedetik yang lalu, aku telah mendidih. Berteriak aku, berlari aku menujumu, berbisik sesuatu aku kepadamu. Menurutmu, apakah aku berhasil sampai kepadamu?

Tuan
Tuan...
Terlihatkah ini di kedua matamu? Adalah aku yang sedang berdandan dihadapanmu. Cerminku adalah kau. Tempat segala kata-kata terlahir. Tempat segala cukup mahir memeluk. Tempat asing yang tiba-tiba saja jadi rumah.

Tuan
Tuan...
Bagaimana kalau besok kita bertemu? Lalu dalam keyakinan itu, mari kita bersulang. Pakai air putih saja tidak apa-apa. Asal salah satu tanganmu menggenggam tanganku. Aku tidak perlu matcha favoritku. Sudah kukatakan kepadamu bahwa kau adalah segala cukup untukku.

Tuan
Tuan...
Barangkali kita butuh detik yang menjelma jadi lebih banyak untuk sekedar mengosongkan ruang yang riuhnya merongrong. Barangkali kita butuh saling melihat, kemudian jadi sembuh dari pura-pura yang gemar kehilangan logika. Maka dari itu, lekaslah sampai kepadaku tuan. Dan jangan lagi lari. Menderitalah bersamaku sampai aku sembuh, sampai kau sembuh, sampai kita berdua jadi obat satu-satu.

Tuan
Tuan...
Besok atau nanti kupanggil lagi namamu. Lirih, tapi semoga kau mendengarnya. Sebab begitulah cara cinta mulai bekerja. Sebab begitulah aku memulai berani lagi. Sampai jumpa obat kalutku. Sayang kamu dari jauh, bulan sabitku.

Selasa, 04 Agustus 2020

Hadiah Kebenaran Yang Tidak Kusuarakan

"Bodo amat moo nulis gini doang nggak kelar kelar hiksss"

Begitulah judul draft terakhir yang kubuat untuknya. Sebuah draft yang akhirnya kuubah lagi isinya menjadi lebih, emhhh aku berharap itu bisa jadi lebih sederhana. Tapi kelihatannya tidak juga, aku pikir aku hanya membuatnya lebih cepat selesai terbaca. Ya, begini lebih baik.

Harusnya ini bisa sampai kepadanya lebih cepat. Tapi ya dipikir-pikir, sebenarnya aku hanya berusaha menjadikan semua ini menjadi tepat. Semoga saja besok pas aku berani, aku tidak terlambat. Sebenarnya aku sudah mulai lelah, sudah hampir gila, tapi masih bisa sumringah.

Aku tidak tahu bagaimana cara memulai. Aku tidak tahu ini akan menjadi pantas atau tidak. Aku tidak tahu apa ini, tapi aku pikir sudah seharusnya dia tahu. Aku tidak bisa mengatakannya sebagai apa, tapi aku punya kebenaran yang tidak kusuarakan kepadanya. Oh bukan tidak, aku hanya belum berani mengatakannya. Aku tidak bisa memastikan ini akan menjadikan aku dan dia baik-baik saja setelahnya. Tapi aku pikir, aku perlu begini untuk menjadikan diriku menjadi apa adanya. Akhir-akhir ini suara hatiku berisik sekali, isi kepalaku jadi penuh, aku jadi susah tenang.

Sudah lama aku tidak menyapanya. Sekedar menanyakan kabarnya.  Padahal aku ingin sekali tahu bagaimana kabarnya. Aku ingin tahu cerita-ceritanya selama tidak denganku. Aku ingin tahu semua tentangnya. Apa yang dia suka, apa yang tidak dia suka, apa yang masih menjadi cita-cita, apa yang sudah menjadi nyata. Apapun itu, aku ingin tahu. Tapi ya sengaja tidak kulakukan. Mana mungkin aku sepercaya diri itu? Tapi ya sudahlah, sebenarnya aku hanya sedang mencari celah. Tapi kalau ternyata ini akan menjadi sesuatu yang salah, aku tidak akan menyesalinya. Tapi ya kenapa tidak kulakukan saja? Namanya juga usaha. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bukan? Ya aku tidak terlalu percaya diri, tapi kan tidak ada salahnya mencoba. Maksudku memupuk percaya. Iya kan? Ya, begitu. Aku hanya ingin memberitahunya saja. Soal bagaimana setelahnya, aku belum terlalu memikirkannya. Aku hanya ingin bebas, aku hanya ingin jadi berani, aku hanya ingin merdeka, aku hanya ingin tetap menjadi aku yang banyak bicaranya, aku hanya ingin mengatakan segalanya, sejujur-jujurnya. Aku sungguh tidak bermaksud membuatnya menjadi terbeban. Aku juga tidak bermaksud membuatnya terkejut. Aku sungguh sudah mengupayakan datang kepadanya dengan hati-hati. Aku hanya mulai merasa kelelahan dan aku sudah ingin dia tahu tentang perasaan sialan ini. Sialan? Haha aku tidak menyangka akhirnya aku mengatakannya.

Tentang kebenaran itu, sebenarnya aku tidak tahu persis semenjak kapan. Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku tidak tahu dimana tepatnya. Aku tidak tahu akan mengatakannya sebagai apa. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, tidak dengan bertanya, tidak juga dengan mencari jawabnya.  Sudah lama tidak bersua, tapi rasanya masih sama. Aneh, tapi ya gimana? Suka tiba-tiba ada. Aku sungguh tidak sengaja merasakannya. Aku sungguh tidak berniat memulai ini semua. Tapi ya tahu-tahu jadi terlanjur. Aku jadi bingung harus bagaimana. Sejauh ini aku tangguh diam sendirian. Tapi akhir-akhir ini aku mulai kuwalahan. Aku pikir memang sudah saatnya aku mengakui sesuatu kepadanya. Mumpung aku dan dia masih sama-sama ada di bumi.

Aku ingat bincang malam setelah seleksi waktu itu. Gelap, dingin, ketakutan, terburu-buru, teledor, dan pincang sampai seminggu setelahnya. Haha sekarang sudah pulih, aku sudah bisa berjalan dengan normal lagi. Aku bahkan bisa lari-lari, melompat-lompat, dan melakukan apa saja yang aku mau. Tapi belum dengan datang ke arahnya. Wkwk pengecualian yang payah.

Malam itu aku tidak sengaja menoleh ke belakang, melihatnya, tersenyum, tapi tidak lama. Buru-buru kukembalikan pandanganku ke posisi awal lagi. Rasanya langsung aneh, entah apa yang tidak beres denganku. Awalnya aku pikir ini hanya kebetulan, tapi ternyata tidak. Tapi bukankah segala hal yang terjadi di semesta ini sudah digariskan-Nya? Sejak malam itu, setiap berada disekitarnya irama degup jantungku jadi berantakan. Aku sudah bilang, rasanya aneh. Tapi aku kenapa? Ya mana kutahu. Segalanya begitu saja terasa tanpa pernah memberikanku kesempatan bertanya “kenapa?”. Tega ya? Malam itu kupikir aku baru saja jatuh. Rasanya luar biasa. Tidak sakit, tapi peningnya berhari-hari dan tentu berkali-kali. Ya menyebalkan sekali terjebak dikondisi begini.

Bertanya "apa, kenapa"? Tanda tanyaku sia-sia. Tidak ada jawaban yang berhasil menenangkanku. Akhirnya sejak malam itu, semua berjalan begitu saja. Tapi rasanya ketakutanku jadi 2x lipat lebih banyak. Isi kepalaku selalu sibuk menerka-nerka. Seperti itu ceritaku. Sudah bertahun-tahun aku berusaha lari, tapi aku pikir aku tidak ditakdirkan ahli dibagian ini.

Aku tidak bisa menjelaskan dibagian mananya, ganteng sudah pasti. Siapa yang tidak tahu ini? Ya, ini poin yang tidak berpoin. Mapan? Aku bahkan sudah lebih dulu jatuh ketika seragam hitam putih masih sama-sama mengiringi perjuanganku dan perjuangannya di rumah yang nyaman tapi banyak ricuhnya itu. Mungkin dari suaranya atau mungkin hanya itu. Aku suka warna suaranya. Aku suka cara bicaranya. Aku suka mendengarnya mengaji. Aku suka sekali. Dibeberapa kesempatan aku mencoba menjadikan diriku biasa saja. Tapi tidak lagi bisa setelah malam itu. Adakah yang tahu rasanya dibelai angin malam disepanjang perjalanan menuju sabana Merbabu? Adakah yang tahu ketika tiba-tiba kau dengar seseorang melantunkan beberapa ayat di bawah tarian bintang dan sinar rembulan dimalam yang sedang lelah-lelahnya itu? Adakah yang tahu betapa segala penat dan lelahku seketika hilang karena tiba-tiba mendengar suara itu? Adakah yang tahu betapa aku pernah ingin membawanya pulang dan menjadikannya tempat pulang? Adakah yang tahu siapa saja yang menyadari semua itu? Aku pikir dia sendiri tidak menyadarinya. Sebenarnya, aku juga tidak, tapi entahlah. Aku benar-benar tidak tahu ada apa denganku. Tiba-tiba sesuatu muncul dibenakku. Kataku 

“Mungkin suara ini yang akan selalu jadi obat dari segala kekalutanku. Iya tidak si? Tidak apa iya si? Iya apa iya si? Nggak tahu. Lihat nanti deh. Astagfirullah Astagfirullah Astagfirullah, aku kenapa?”

Lucu? Tidak sama sekali. Suaranya biasa saja, tapi ya istimewa. Aku sering menirukan gayanya. Kadang berhasil, tapi ya banyak tidaknya. Susah juga ternyata. 

Aku tidak bisa menyebut ini apa. Mungkin aku terkagum, atau entahlah. Sebenarnya aku juga tidak ingin mengatakan apapun kepadanya. Ya, tentu saja aku malu. Tentu saja aku tidak percaya diri. Tentu saja aku takut. Aku cantik tapi tidak terlalu. Aku keras tapi cepat layu. Aku berisik tapi sepi. Aku utuh tapi terbelah. Aku masih kuwalahan dengan egoku sendiri. Aku paham itu. Aku tahu aku jauh dari apa yang menjadi impiannya. Aku tahu bisa saja dia mengidamkan yang lebih dariku. Aku tahu aku mungkin masih jauh dari kata layak untuk bisa membersamainya. Ya aku tahu, tidak seharusnya aku berpikir begitu. Aku pikir dia sudah jauh lebih tahu semua itu. Tapi ya sudahlah.

Sebenarnya sudah sejak lama, semacam berpuisi dan menulis sajak tentangnya. Tapi ya belum juga ada yang sampai kepadanya. Entah aku yang kurang berusaha atau memang dia belum diijinkan untuk tahu. Entahlah, yang aku tahu sekarang jarak sudah sebegitu teganya membentang. Aku dan dia sudah sama-sama jauh dan sama-sama hampir hilang. Aku tenggelam dalam beberapa ketakutan, dan dia? Aku bahkan tidak tahu dan sengaja tidak mencari tahu tentang itu. Sejak awal aku tidak pernah mencari tahu tentangnya. Aku tidak pernah tahu hobbynya, makanan favoritnya, cita-citanya, dan apapun tentangnya. Memang sengaja tidak kulakukan. Biar saja, biar aku tidak semakin jatuh. Biar aku jatuh pada apapun yang menjadi sebatas kutahu. Biar berjalan secukupnya saja. Seperti ini kadang membuatku bertanya "jatuh macam apa yang kulakoni dengan begini?"

Kau tahu? Bahwa jatuh selalu membuat kita lebih baik dari sebelumnya. Jatuhnya jatuh yang sebebas-bebasnya. Terlepas dari akhir yang akan bersambut atau malah sebaliknya. Seperti itu aku menikmati jatuhku. Seperti itu yang kulakukan demi merasa dekat dengannya. Menjadikan suaranya sebagai nada alarm, menari dengan kata-kata, mengingat malam itu, memanggil-manggil namanya dalam bincang sendiriku, berdialog dengannya dengan puisi dan sajak-sajak itu, juga melangitkan doa-doa. Sementara ini cukup kulakoni. Setidaknya aku tidak harus datang kepadanya dulu. Setidaknya rahasia ini tetap aman digenggamanku. Setidaknya dia akan jadi abadi menjadi sajak-sajak amatirku.

Aku jadi ingin meminta banyak maaf kepadanya. Maaf karena sudah sering tidak sengaja mengandaikannya disela-sela lamunanku. Aku suka sekali mempertanyakan sekian kemungkinan setelahnya, lalu menjawabnya dengan pemisalan-pemisalan yang kuandaikan sendiri. Hanya sebentar, tapi berkali-kali terjadi. Kadang aku berusaha menghindari ini. Tapi semakin pikiranku kuajak lari, malah semakin jelas rasanya. Aneh ya, kubuka mata dia tidak ada, kututup mata bayangnya serasa nyata. Haha. Semesta memang sering sebercanda itu ya. Sudah ada yang mendekat juga kepikirannya masih dia. Jahatnya aku. Sedih.

Sekarang 2020 sudah datang lebih dari separuh. Kita hampir genap lagi untuk sampai ditahun yang baru. Jadi, sudah berapa lama aku mengaguminya? Jadi, sudah berapa lama aku terjebak dikondisi semenyebalkan ini? Jadi, sudah berapa lama aku menjadi bisu dan berharap dia tahu tanpa perlu kuberi tahu? Jadi, sudah berapa draft yang kubuat sampai akhirnya jadilah ini? Jadi, sudah berapa pendapat yang kutimbang sampai akhirnya jadi berani begini? Jadi, kalau aku terlanjur mengungkapkannya lebih dulu waktu itu, kira-kira akan secanggung apa ya aku dan dia setelahnya? Haha aku benar-benar tidak berani membayangkan resiko berat yang akan kutanggung setelahnya.

Aku hanya perlu dia tahu apa yang pernah dan masih sesekali aku rasakan. Siapa tahu ada juga yang perlu kutahu darinya. Aku hanya ingin membebaskan diriku dari kekacauan yang telah dengan baik kurawat selama ini. Aku hanya ingin jujur kepadanya dan tentu kepada diriku sendiri. Aku hanya ingin menyelesaikan ini. Aku tidak ingin menjadikan ini hal kedua yang tidak bisa kuselesaikan. Aku hanya tidak ingin menyesal karena tidak berhasil mengatakan ini kepadanya. Ini tidak mudah, tapi sejauh ini aku telah berhasil melakukannya. Sudah lama sekali aku menahan diri dan melaluinya dengan segala kegelisahan yang kurahasiakan sendiri. Aku senang karena akhirnya aku bisa menjaga rahasia ini sendiri. Aku senang karena aku dan dia baik-baik saja sampai saat ini. Aku senang karena sempat melihatnya senang. Aku senang karena sempat setenang itu meskipun hanya bisa melihatnya atau mendengar suaranya dari jauh. Aku senang akhirnya dia tahu apa yang selama ini kurasakan. Aku senang akhirnya aku berhasil mengutarakan. Tapi besok ya, kalau aku tidak kehilangan nyali dan kepercayaan diri. Haha.

Segala awal akan menemukan akhir dan segala akhir akan menjadi sebuah awal. Begitulah kehidupan. Aku tidak ingin menebak akan seperti apa setelah menjadikannya tahu ini semua. Bagiku diam atau bicara, berjalan atau berlari, menujunya tetap akan menjadi yang beresiko bagiku. Pun kupendam atau kusampaikan, keadaan tidak akan bisa merubah kapasitasku menjadi seorang perempuan. Aku tidak pernah takut kehilangan dirinya sebagai apapun. Toh, semua hal punya masing-masing fasenya. Aku hanya takut tidak berhasil membuatnya tahu tentang ini semua. Karena jika setelah ini aku harus hilang dari dunianya, aku sudah lebih dulu melakukannya.

Ternyata seperti ini ya rasanya menjadi pemendam yang lihai? Sebenarnya aku tidak rela, tapi aku kan bukan siapa-siapa dan tidak berhak melakukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin dia jauh. Aku tidak ingin menjadikannya berbeda. Aku juga tidak ingin membatasinya. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak kapanpun. Dia berhak dan memang seharusnya menjadi merdeka dengan cara terbaik yang dia punya. Aku tidak ingin merebutnya dari siapapun. Tidak dari mereka, tidak dari siapapun, tidak juga dari dirinya sendiri.

Tidak apa-apa kalau ternyata dia tidak sama jatuhnya denganku. Bebas, yang penting dia sudah tahu. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan tidak menerima. Tidak ada yang salah dengan tidak diterima. Semua orang berpeluang menemukan dan ditemukan. Tidak harus dia, tidak harus aku, tidak harus. Ya, tidak harus. 

"Puncak kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Kita memang merdeka terhadap rasa, tapi terbatas dalam mengharap balas.” Kata siapa, aku lupa. Aku tidak bisa mengatakan ini semua telah mati. Aku hanya sudah berhasil menjadi terbiasa melihatnya dari jauh. Aku tidak tahu apakah aku harus lari atau malah menyelami ini lebih jauh lagi. Sejauh ini aku menikmati berada diantara yang kunikmati sendiri. Aku tidak bisa mengatakannya sebagai apa. Kadang aku bahagia, kadang juga tidak. Aku takut, entahlah. Aku sendiri tidak tahu takut karena apa.

Sudah sejauh ini. Sudah sepanjang ini. Kata-kata bisa jadi tidak pernah berkata-kata. Tapi  ketika berani itu mendekapku, semoga saja sudah tidak ada lagi rahasia. Aku tidak akan keberatan kalau ternyata dia tidak lagi menghiraukanku setelah ini. Aku sudah bilang, aku hanya ingin memberitahunya. Aku sudah bilang, dia berhak jadi apa yang dia mau. Aku sudah bilang bahwa aku dan dia harus selalu bahagia, entah bagaimanapun caranya.

Aku tidak akan menyesal pernah merasakan ini. Aku harap nantinya dia juga tidak menyesal pernah membaca dan akhirnya tahu mengenai ini. Aku akan menjadi lega, meski aslinya masih bingung harus bersikap bagaimana setelahnya. Aku tidak akan melupakan ini. Aku tidak berani mencobanya karena aku tahu itu tidak akan berhasil. Karena tidak akan pernah ada lupa yang benar-benar lupa. Begitukan?

Sekarang masih belum jam 03.00 WIB. Tapi seperti biasa, suaranya sudah berhasil membangunkanku. Rekaman  13 ayat pertama surat Ar-Rahman kirimannya sekian tahun yang lalu itu, sudah jadi nada alarm di sepertiga malamku sejak dia mengirimkannya untukku. Selancang itu aku. Tapi terimakasih banyak untuknya karena  sudah setiap hari membangunkan. Berkatnya malamku tidak pernah sepi. Aku senang sekali bisa berdua dengan Yang Maha Mempertemukan. Meski sesekali, belum usai meratap aku sudah lebih ketiduran lagi. Haha.

Sampai jumpa keberanian. Sampai jumpa lakon utama rahasiaku. Sampai jumpa kalian yang sudah membaca. Sampai jumpa semua.

Sabtu, 25 April 2020

Romantika Puan Yang Sedang Jatuh Cinta (1)

Aku tidak tahu bagaimana harus memulai. Aku juga tidak tahu apa dulu yang harus aku mulai. Aku bahkan tidak tahu apakah ini bisa benar ku mulai atau sebaiknya tidak usah. Ya, aku terlalu banyak bertanya kepada diriku yang tidak mahir menjawabnya.

Malam ini aku ingin terbang ke atas langit. Aku ingin menari-nari dengan riang bersama bintang-bintang. Dan kemudian beristirahat sejenak di tubuh bulan sabit yang ku pandang indah serupa senyummu. Nyaman sekali sepertinya, aku tersenyum memandangmu dari jauh.

Oh hai, bersediakah kau genggam tanganku? Sebentar saja. Dan kita mainkan lagu romantis milik siapa saja untuk mengiringi dansa perdana kita. Lalu kita akan menjadi sepasang yang bahagia. Berdua seperti cerita romansa orang-orang yang sedang jatuh cinta. Oh kau, sungguh aku tak bisa berhenti mendambamu.

Semesta kepalang baiknya ya? Dipertemukannya aku denganmu, ya meski pada kenyataannya kau masih sekedar seseorang yang hanya bisa ku damba. Tidak apa-apa, setidaknya aku pernah bahagia bisa menemukanmu diluasnya semesta ini. Aku beruntung bukan? Ya, tentu saja. Kau juga, seharusnya. Kita sama, dalam hal yang berbeda.

Sekarang kita sudah saling jauh. Padahal aku belum sempat mengatakannya atau mungkin sekedar menanyakan tentang ini semua. Sampai didetik aku menuliskan ini, aku bahkan belum mengerti apa ini. Suka, kagum, atau malah cinta. Cinta yang apa adanya atau yang hanya sebatas ekspektasi belaka. Haha memangnya apa itu cinta, ahhh aku hampir putus asa menjawabnya sendirian.

Jauh di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak ingin menyesal karena tidak menjadikan kamu tahu ini semua. Tapi aku butuh cara untuk bisa menjadikanmu baik-baik saja setelah mendengarnya. Kau tau, aku bukan tipe wanita idamanmu. Dan aku tahu, aku belum cukup pantas untuk bisa membersamaimu. Aku cukup tahu diri untuk menyadari ini semua. Aku cupu ya? Belum berjuang, tapi sudah terkesan menyerah. Ahh aku memang payah berurusan dengan cinta.

"Bagaimana rasanya" tanyanya singkat.

"Biasa saja (tapi agak lain setiap mengingatnya)" kataku menjawab.

"Apa susahnya si menyatakan cinta?" katanya.

Kataku takut berkata-kata. Aku membisu seketika sambil bertanya-tanya mengenai apa saja.

"Apa yang akan terjadi setelahnya?"

Ya, siapa yang tahu akhirnya? Aku bahkan belum dan entah kapan akan siap menerima segala kemungkinan yang ada. Kau tahu bukan, membicarakan ini tidak akan menjadi sesederhana yang semestinya.

Kau tahu? Sepanjang waktu ku ketuk hatimu. Ku bisikkan lembut di kedua telingamu dari jauh, sebuah tanya yang entah kapan akan ku dapatkan jawabnya.

Kau tahu? Sejauh apapun kau, kedua mataku tak pernah bisa meninggalkanmu. Ku pandang apa saja yang bisa ku pandang tentangmu. Sesuatu yang lama ku tahu, yang mulai ku tahu, dan tentu saja yang belum ku tahu.

Kau tahu? Kedua mataku basah mengingatmu. Mengingat ketidakberanianku untuk bicara jujur kepadamu. Kau, andai kau tahu bagaimana rasanya. Seperti memaksa menggenggam sebuah pisau tanpa penghalau, tanganku berdarah, tapi aku tidak bisa begitu saja melepaskannya. Aku terjebak, kau telah menjadikanku terjebak.

Kau mungkin tahu bahwa aku suka menulis. Tapi aku tidak tahu, mungkin kau juga suka membaca. Tapi aku tidak yakin kau singgah untuk membacanya sebentar. Atau pernahkah kau membaca sajak amatirku? Aku sering menyampaikan beberapa hal untukmu. Mungkin kau pernah merasakan itu untukmu, atau baiklah lupakan saja. Aku hanya sedang menerka-nerka saja.
Tapi ada yang perlu ku sampaikan. Bisa minta waktumu sebentar? Sebentar saja. Atau  baiklah, tidak jadi, maaf mengganggumu.

Ahh tapi baru saja aku mengingat itu. Aku harus menyampaikannya padamu sekarang. Atau mungkin besok. Kau ada waktu? Oh ya tentu saja, aku membuang waktumu sekarang. Maafkan aku.

Hei, sebentar. Tapi aku sungguhan. Ada yang perlu kau tahu dariku. Sesuatu yang ku sembunyikan dari dulu. Kau mungkin sudah tahu, atau kau sengaja menghindar dariku, atau sebentar, sepertinya aku terlalu pandai menyembunyikan itu. Aku bahkan tidak berhasil menjawab pertanyaanku sendiri. Maaf, tapi aku pikir, aku mengganggumu lagi.

Tapi ini penting, bertahun-tahun ku rawat siksaan ini. Tidak apa-apa, akan ku lakukan apapun demi membuatmu tetap menjadi baik-baik saja. Bukankah kau adalah pusat dunia? Dunia milik orang-orang yang menaruh cinta dan sayangnya untukmu. Rekah senyummu adalah satu yang menjadikanku hidup. Oh ya, tentu baru saja aku mengakui itu kepadamu.

Hei, aku bingung harus memulainya dari mana. Aku takut, aku takut membuatmu terluka atau tidak nyaman. Tapi ketahuilah, aku tak pernah berniat melakukan itu kepadamu. Aku hanya ingin itu, sesuatu yang tak pernah kau beritahukan kepadaku.

Setiap hari, setiap detik yang terpaksa ku nikmati, setiap itupun pertanyaan itu muncul dibenakku. Tak berhenti disitu, aku menjadi semakin pilu, tanya itu menuntut jawab, sedang jawabnya ada padamu.

Dan katakanlah kepadaku apa yang harus ku lakukan untuk itu? Aku harus tetap baik-baik saja bukan? Ya, sama dengan yang ku upayakan untukmu. Tidakkah kau bersedia membantu? Aku menunggu jawabmu.

Tapi biar, aku tak akan menuntut lagi. Setidaknya sudah pernah sampai kehadapanmu puan malang yang mencintaimu. Sesuatu itu, biar berlalu. Biar tetap akan menjadi rahasia. Karena kita sama, kita adalah dua pemuja rahasia yang berkemungkinan berbeda.

--------------------------------------

#Day (3)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Senin, 29 Oktober 2018

Tidak Ada Niat Lain, Selain Beruntung Memilikimu


Aku ingin menjadi tempatmu kembali

Meskipun hanya akan kau temui di penghujung hari

Aku ingin menjadi tempatmu kembali

Mendengar cerita dan rencanamu perihal apapun yang terjadi setiap hari


Aku ingin menjadi tempamu kembali

Sekedar menyeka air mata yang kau tahan selama sehari

Aku ingin menjadi tempatmu kembali

Ingin ku nikmati senyummu sepanjang hari


Aku akan selalu menunggu

Di balik pintu berwarna biru

Dengan mengenakan piyama berwarna abu-abu

Sambil membaca buku-buku


Aku akan selalu menunggu

Sampai waktu itu benar datang kepadaku

Dan kita benar bertemu

Selanjutnya kita habiskan bersama di banyak waktu


Aku ingin menjadi seperti itu

Menjadikanmu bahagia sepanjang waktu

Aku ingin menjadi seperti itu

Selalu bersamamu sepanjang waktu


Aku ingin menjadi seperti itu

Tertawa denganmu karena sesuatu yang mungkin saja lucu

Aku ingin menjadi seperti itu

Menjadi wanita yang paling bahagia karena telah berhasil memilikimu


Dariku, seseorang yang bercerita sebagai aku

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....