Rabu, 12 Juni 2019

Walau Jauh, Tentangmu Tetap Menjadi Seluruh

Siang ini aku memandang langit, berbicara kepada awan, dan kemudian menceritakan apa saja tentangnya. Tapi aku tak berbicara, hanya menggerutu di dalam hati saja. Lelaki itu. Ah kenapa enggan pergi dari ingatanku? Padahal jelas-jelas, jarak sudah begitu jauh memisahkan kami. Dia sudah lama pergi. Maksudku kami sama-sama pergi sesuai dengan garis takdir yang kami miliki. Entah akan bertemu atau tidak, aku sudah cukup senang akhirnya ilmu yang belakangan membuat kami didera kebingungan akhirnya sampai kepada hasil yang kami mau. Tapi ternyata tidak sepenuhnya begitu. Aku malah berada diantaranya. Bahagia sekaligus merana.

"Duhai hati,
kenapa semudah ini berbolak-balik si?"

Sebenarnya aku tidak suka perpisahan. Akhir yang kebanyakan menyedihkan. Termasuk dengan apa yang masih bergemuruh di ruang pikirku ini. Tentang apa saja yang sangat ingin ku sampaikan kepadanya, tapi belum jadi suka sampai sekarang. 

Tidak ada yang tahu tentang ini. Kecuali aku, Allah dan doa-doa yang berlarian kearahnya. Sampai sekarang, aku masih berhasil bersembunyi di balik kata yang sengaja tak banyak ku sampaikan. Aku berhasil berlarian di antara lorong-lorong ruang kagumku kepadanya. Aku berhasil menatap dengan lembut ke arahnya dari dekat di antara riuh keramaian yang ada. Aku berhasil menyayanginya dengan caraku dan tanpa dia atau orang lain mengetahui itu. Aku berhasil bertahan dalam diamku. Tapi aku belum berhasil berdiri dihadapannya dan kemudian mengatakan "Aku Menyayangimu Sejak dari Dulu".

Dan jari-jariku tiba-tiba bergetar setelahnya. Jantungku berdegup semakin kencang. Tepat setelah menuliskan itu. Setelah 5 kata di akhir paragraf kedua itu bisa terbaca. Senyumku mengembang dengan sendirinya. Aku ingin lari. Jauh. Sampai benar-benar tak ada yang tahu keberadaanku. Rasanya aku malu membayangkan kalimat itu benar-benar terucap dari bibirku. Ah apa? Aku bukan tipikal orang yang berani melakukan hal-hal semacam itu. Sejak dari dulu. Bahkan sejak aku mulai berani mengagumi orang-orang sebelum dia. Tapi aku bisa jadi berani, kalau dalam keadaan terpaksa. Ah tapi jangan sampai, aku berharap dia saja yang datang kepadaku dan aku hanya tinggal menjawab "Ya". Menyenangkan (mungkin).

"Cupu banget si ven. Bilang gitu aja nggak punya nyali" kataku menghujat diriku sendiri.

Baiklah, terserah. Bahkan kalau kau tak setuju dengan apa yang sudah sejak lama ku lakukan, aku terima dengan lapang dada. Aku belum  memiliki cukup nyali untuk bisa melakukan ini. Aku tidak terlalu berani mengambil resiko. Aku takut patah hati, takut kecewa dan menyesal di kemudian hari. Tapi apapun itu, aku berharap gayungku ini akan bersambut. Semoga Allah segera memberikan jawaban atas ini semua.

Lama tak bertemu, tak membuat ingatanku menjadi lumpuh. Bahkan setiap hal yang ada padanya tak pernah hilang meski sudah lama dia tak ada dihadapan. Meskipun aku hanya menyaksikan ini itu di diri orang lain. Rasanya, lagi-lagi aku ingin berlari jauh sampai ke tempat yang bisa membantuku untuk bisa melupakan semua ini. Tapi semakin menjauh, aku semakin merasa tak mampu. Pandangan pertama itu, membekas dan enggan pergi. Apakah ini yang orang-orang katakan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama?

Baiklah. Apapun itu, biarkan saja. Biar aku lanjutkan kagumku ini. Toh jika ini jalannya, Allah akan memudahkan semuanya. Tapi jika ternyata tidak, Allah bakal kasih yang lebih baik daripada dia bukan? Ya, ini memang cara terapik untuk menenangkan diri.

Semenjak wisuda berakhir, komunikasi kami menjadi berakhir. Oh bukan, maksudku kami hanya bertanya seperlunya saja. Ah tapi daridulu juga begini. Iya benar, aku dan dia hanya bicara seperlunya saja. Pernah beberapa kali bercanda, tapi bareng-bareng sama yang lain. Padahal aku ingin hanya berdua saja. Tapi belum sampai terjadi, jarak sudah lebih dulu membentang. Sekarang aku dan dia sudah tidak ada kepentingan, jadi komunikasi kami sangat minim. Tapi tidak begitu menjadi masalah. Aku tetap bisa mendengar kabarnya lewat cerita orang-orang, atau lewat update media sosialnya, atau bahkan lewat mimpi yang berkisah di tidurku semalaman. Aku juga tetap bisa menikmati suara indahnya lewat rekaman lantunan ayat Allah yang sengaja aku jadikan alarm tiap tengah malam. Aku juga tetap bisa memandangnya lewat foto-foto lama yang aku punyai. Dan aku tetap bisa memutar kisah-kisah lama yang masih jelas sekali di ingatan.

Terlalu banyak hal yang bahkan aku sendiri masih enggan melupakan ini. Terlalu indah dan sayang untuk dibiarkan begitu saja. Pernah waktu itu hujan. Kami sedang dalam perjalanan pulang dan kebetulan berboncengan. Kau tahu? Entah bagaimana awalnya, tapi aku merasa senang sekali. Rintik hujan waktu itu menjadi saksinya. Aku mengatakan banyak hal ke diri sendiri. Tapi aku tetap diam, meminimalisir perkataan seperti biasa. Jalanan yang kami lewati berkelok dan agak licin karena terkena hujan. Tapi dia asyik sekali dengan kaca spion. Orang ini memang fanatik sekali dengan kaca. Di jalanan, di ruangan, di mall, di rumah siapa entah, pokoknya dimana saja. Sukanya membenarkan ujung rambut, atau sekedar memandang wajahnya sendiri, atau mungkin dia bermaksud lain. Ahh aku  bahkan belum semapt menanyakan ini benar-benar kepadanya. Saking senangnya (hehe). Jarang sekali aku bisa mendapatkan hal semenyenangkan ini. Biar saja, tapi aku ketakutan. Takut dia hilang kendali dan kemudian kami sama-sama terjatuh dan merepotkan semua rombongan.

"Bisa enggak, enggak ngaca tiap lihat kaca?" kataku

"Bisa enggak, enggak merhatiin aku terus?" katanya membalik

Aku diam, tapi menahan senyum. Baper si, tapi aku nggak cerita sama siapa-siapa. Biar, biar cuma dikatain baper diri sendiri. Biar nggak malu-maluin. Wkwkwk

Terakhir, aku dengar dia pindah tugas ke luar pulau. Kata teman-temanku deket si, tapi naik pesawat. Bisa banget emang mereka memangkas jarak. Tapi apapun itu, semoga Allah kasih yang terbaik buat kita semua. Semoga Allah jagain Mamak Bapak kita ketika kita lagi nggak sama mereka. Semoga Allah memberikan berkah, nikmat, rahmat, hidayah, dan inayah-Nya untuk kita semua. Semoga Allah kasih kita kesempatan untuk bisa bersilaturrahmi kembali dengan keadaan yang tertunya lebih baik lagi. Terlepas dari akan berakhir bersama atau tidak, biarkan cerita ini tetap ku rangkum menjadi beberapa paragraf yang mengisahkan bagaimana aku kepadanya. 

Sebenarnya tentangnya sudah banyak ku sampaikan. Lewat sajak-sajak yang terangkai menjadi puisi. Lewat cerita pendek yang ku posting di media sosialku. Atau lewat doa yang banyak kupanjatkan. Sering juga ku ikutkan lomba. Pernah sesekali menang. Aku senang sekali. Setidaknya kekagumanku ini tidak berakhir sia-sia. Meskipun belum benar-benar sampai kepadanya.

Tapi biarkan waktu menjawabnya. Aku sudah lama berhenti memperhatikannya. Tidak sepenuhnya berhasil, tapi aku tetap berusaha. Aku ingin menjadi seperti Fatimah yang mencintai Ali dalam diam, yang kemudian semua doa-doanya terjawab dan berhasil menuju kepada orang yang dituju dalam doanya. Aku ingin seperti Aisyah yang muncul 3 kali dimimpi Rasulullah dan kemudian dipersunting menjadi seorang istri. Tapi kalau Allah mengijinkan, aku tak menolak jika menjadi seperti Khadijah yang malah menyatakan perasaannya lebih dulu kepada Rasulullah.

Sebenarnya dari awal aku memang tidak banyak mencari tahu tentangnya. Aku juga tidak tahu hobbynya (selain fanatik dengan kaca), aku tidak tahu siapa teman baiknya, aku tidak tahu apa-apa yang disukainya, aku tidak tahu apa cita-citanya, aku tidak tahu apa yang menjadi masalahnya, pokoknya aku tidak banyak tahu tentangnya. Aku hanya tahu sedikit. Aneh kadang rasanya. Kebanyakan orang-orang yang menyukai seseorang selalu mencari tahu ini itu tentang orang yang disukainya. Tapi aku? Tidak. Nanti juga tahu sendiri. Yang penting, pas lihat dia rasanya tenang. Wehehehe

Tapi aku tak ingin berangan terlalu jauh. Aku cukup sadar diri dengan banyak kekurangan yang aku miliki. Aku takut terjatuh dan menelan banyak kecewa. Ya meskipun sebenarnya aku ingin sekali dia tahu. Tapi bukankah sebaik-baiknya harapan hanya kepada Allah?

Yash, that's right. Sekarang, aku hanya perlu menjadi lebih baik. Doakan aku teman-teman. Semoga yang terbaik selalu memeluk diri ini. Semoga doa kalian melangit dan berbalik ke kalian semua.

Salam Literasi,


Veni Veronika 

3 komentar:

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....