Selasa, 05 Desember 2023

Tentang "Roman(tika)"

Kiranya aku ini hanya ingin melapangkan nasib. Berusaha tetap senang juga tenang meski waktu rasanya berjalan begitu lambat.

Sebenarnya aku lebih suka "roman" tanpa "tika". Tapi tidak apa-apa. Karena hidup ini adalah serangkaian lika-liku, jadi aku pikir "Roman(tika)" bisa jadi nama yang apik untuk memanggil anak sulung ini.

"Roman(tika)" ini adalah bentuk dari sebuah perayaan, tempat dimana banyak mata begitu sembab, tempat kata maaf diada-ada, dan tempat dimana begitu banyak persimpangan.

Dia adalah penggalan-penggalan dari aku yang (masih berusaha waras). Dia adalah kumpulan dari kusut-kusut yang berhasil kuurai. Dia adalah marah-marah yang berhasil kuredam. Dia adalah tanya-tanya yang datang jawabnya. Dia adalah perayaan yang nananana. Dia adalah aku yang (mungkin) sama denganmu (siapapun kamu) yang begitu sederhana tapi kadang berharap jadi mulia.

Dia adalah aku yang sempat menangis, meringis, dan kebingungan menyelesaikan setiap malam yang baik. Dia adalah aku yang telah berjalan begitu jauh, tapi lupa bahwa ternyata diri sendiri telah lunglai mencintai kehilangan dan sesuatu yang bukan untukku. Dia adalah definisi dari serangkaian kesabaran dan alur yang lambat.

Dia adalah aku yang setiap pagi membuka mata seperti biasa, lalu bingung akan melakukan apa juga bagaimana menyelesaikannya. Tapi anehnya aku nyaman mengulang itu dan kadang sembrono mengklaim bahwa diri ini bahagia melakukannya. Kadang aku bisa bilang bahwa aku baik-baik saja, tapi semoga aku benar-benar telah terkendali. Karena singkatnya ini hanya tentang bagaimana seseorang akhirnya berhasil melapangkan nasib.

Dan sungguh setiap emosi dan pengalaman hidup berhak dirasakan dan berhak diceritakan. Begitulah akhirnya seseorang berhasil menikmati sesuatu. Begitulah akhirnya aku memberanikan diri meracau. Memang tidak begitu banyak, tapi setidaknya ada satu dan itu akan menjadikanku (juga kamu) merasa cukup. Lebih dari cukup.

Merangkai ini dengan maksud berbicara sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa banyak "ya" yang tidak melulu jadi "ya" dan banyak "tidak" yang tidak melulu jadi "tidak".

Barangkali ini adalah pencapaian terbaikku di tahun 2022. Draf-draf lama yang mangkrak di buku-buku catatan yang sudah mulai kusut itu akhirnya lahir menjadi anak cantik bernama "Roman(tika)". Itu hanya sesuatu yang kecil. Itu adalah tentang perjalanan menjadi manusia berwujud aku. Itu bisa jadi berwujud kamu juga. Itu bisa jadi berwujud kita.

Membaca ini mungkin bisa dilakukan sekali jalan. Itu memang tidak banyak, jadi aku pikir itu akan menjadi cepat selesai. Tapi bagaimanapun itu, semoga setelah membaca (satu judul saja), seseorang bisa terketuk hatinya.

Banyak hal yang terjadi tahun ini, juga di tahun-tahun sebelumnya. Aku pikir itu akan berlaku juga di tahun-tahun selanjutnya. Segala senang, segala sedih, segala yang terjadi biarkan terjadi. Bisa jadi itu akan menjadi semakin, tapi yang penting, semoga kita selalu jadi yang bisa melalui itu dengan senang hati.

Jadi, sudilah seseorang berkenalan dengan anak sulungku dan mendekapnya dengan penuh.

Selamat membaca, dan
mari tumbuh dan sembuh bersama.

Senin, 20 November 2023

Review Buku "Terima Kasih Sudah Mengatakannya"

"Penting untuk mendengarkan cerita orang lain. Ketika kita sudah mendengar semua ceritanya, tolong segera katakan 'Terima kasih atas ceritanya'." (Terima Kasih Sudah Mengatakannya, Hal: 235).

Waw, ini bagian di mana aku seketika berfikir betapa berharganya mereka yang sudi membicarakan sesuatu kepadaku. Sebab memang, rasanya menjadi dipercaya lebih punya nilai lebih daripada percaya kepada seseorang. Sebab rasanya, manusia hanya cenderung senang dan selalu mengupayakan diri untuk disukai dan diterima lawan bicaranya.

"Terima Kasih Sudah Mengatakannya" adalah buku terjemahan dari Korea. Bergenre self improvement yang sangat relate dengan kehidupan kita. Cara penulisannya tidak kaku dan banyak dilengkapi dengan kutipan-kutipan dari beberapa film dan buku. Covernya cantik. Ilustrasi di dalamnya juga. Itu cukup menyegarkan pandangan yang sesekali lelah karena memang huruf-huruf didalamnya begitu kecil, meskipun masih bisa terbaca.

Buku ini berisi tentang bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan seseorang, tentang bagaimana kita menggunakan kata-kata, juga tentang bagaimana mengendalikannya. Sebab memang kata-kata punya kekuatan yang berdampak baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Buku ini akan sedikit banyak menyadarkan kita tentang betapa pentingnya melindungi hubungan dengan siapapun, tentang bagaimana menemukan kata-kata yang tidak melukai, tentang bagaimana menyikapi pujian dan kritikan, juga tentang bagaimana hidup dengan penuh keberanian dengan kata-kata kita sendiri.

"Waktu hingga menjadi dewasa adalah proses memiliki "logika komunikasi". (Terima Kasih Sudah Mengatakannya, Hal: 31).

Akhirnya, untuk kalian yang telah selalu mengucapkan kata-kata yang baik kepada siapapun dan khususnya untuk diri sendiri, terima kasih sudah mengatakannya.

Dear Mas (2)

Dear mas,

Aku mendongak ke atas dan mencoba mencari kedua matamu yang berbinar di depan pandangku. Tapi alih-alih mendapatkan binar di kedua matamu, aku malah menemukan langit yang biru. Haha, sungguh perburuan yang seru.

Aku berjalan ke arahmu, mencari sebuah celah untuk masuk ke rumahmu yang belum kutemukan pintunya itu. Tapi mas, sepertinya aku telah tersesat. Tapi senangnya, aku masih tersesat di situ-situ saja. Di sebuah tempat dimana aku bisa tetap memandangmu meski itu kulakukan dengan malu-malu dan agak takut. Aku takut Yang Maha Cinta cemburu kepadamu. Haha, lucu bukan?

Padahal dari awal aku sudah mengatakan kepada-Nya

"Ya Allah, jangan khawatir aku akan lebih cinta kepadanya daripada kepada Engkau. Kalaupun aku khilaf melakukannya, maka Engkau jadikanlah aku lebih mencintai-Mu. Engkau punya caranya Ya Allah. Engkau satu-satunya yang paham baik tentang itu".

Ya, aku harap kamu juga tidak cemburu kepada-Nya. Sebab kamu tetap menjadi yang pertama dan Allah akan menjadi yang utama.

Selasa, 17 Oktober 2023

Part of Being an Adult (Bagian dari Menjadi Dewasa)

Siapa yang semakin dekat dengan menjadi dewasa malah semakin tidak berkeinginan untuk menjadi dewasa? Siapa yang merasa aneh melihat orang lain seperti itu dan diri sendiri seperti ini? Siapa yang tiba-tiba kangen masa kecil?

This adult life is so fucking complicated, right? Kita mengucap "hadehh/haiyahhh/ bjirrr/syibal se.....k.i..ya", tapi akhirnya tetap melakukannya. Kita berdebat hebat, tapi berakhir damai juga. Pokoknya kudu pusing dulu, meski ujungnya juga bisa ngerjain. Haha.

Tapi aku senang berada difase dewasa ini. Aku bisa duduk sendirian di sebuah restoran dan membeli matcha dan coklat favoritku tanpa ada yang bisa menghentikanku. Itu juga tentang bersantai ria di rumah, tidur lebih awal, dan merasa itu baik-baik saja. Rasa-rasanya memang tidak ada yang namanya menjadi dewasa. Bukankah kita semua hanya anak-anak yang terjebak di dalam tubuh orang dewasa saja? Atau bukankah itu terlalu susah untuk terus berpura-pura?

Jadi, bolehkah kita berhenti membual tentang hal-hal yang dengan atau tidak semestinya di lakukan? Karena "kedewasaan" tidak melulu ditandai dengan bertambahnya usia, tapi juga tentang pengalaman dan pertumbuhan. Jadi jangan pernah mengharapkan kedewasaan dari siapapun. Hidup ini sudah sulit. Hanya saja semoga semua orang tetap terkendali dalam menjaga energinya sepanjang hari.

Lagi pula dewasa adalah tentang bagaimana diri sendiri bisa mengajak hatinya jatuh cinta lagi dan lagi. Dia tahu bagaimana harus merasa senang dan bahagia. Dia tahu bagaimana menjadi yang terkendali atas semua-muanya. Karena baiknya, semua memang harus seimbang. Supaya akhirnya dia berhasil merasa dicintai sebanyak-banyaknya, juga sepenuh-penuhnya. Ya, mungkin ada lebih banyak hal dalam hidup ini daripada menjadi seorang remaja dan menjadi dewasa bukan berarti kita harus meninggalkan itu. Akhirnya, dari semua hal yang ada, semoga kita bisa semakin paham bagaimana cara kerja semesta.

So, happy growing into adulthood. I hope we don't become annoying adults. May us always be the winner. Hopefully everyone will support us to always be calm.

Good luck 🤘

Selasa, 19 September 2023

Review Buku "The Things You Can See Only When You Slow Down"

"Ketika segala sesuatu disekitar saya bergerak begitu cepat, saya berhenti sejenak dan bertanya “Apakah memang dunia yang terlalu sibuk, atau malah batin saya?”"(TTYCSOWSD, Hal: 9).

Memulai tahun baru dengan membaca buku self improvment yang meaningful, begitu ringan tapi tetap mengajak kita untuk berfikir dan merefleksi diri. Buku ini ditulis oleh Haemin Sunim, seorang guru agama Buddha Zen sekaligus penulis paling berpengaruh di Korea Selatan.

Berisi sekumpulan kalimat singkat berupa kutipan-kutipan bijak tentang semua aspek kehidupan manusia mulai dari relationship, cinta, spiritual, juga pekerjaan. Buku yang mengingatkan kita untuk lebih aware lagi dalam memahami pentingnya bersikap, bertutur kata, dan mengistirahatkan diri. Itu adalah tentang hal-hal yang hanya dapat kita lihat dan rasakan ketika kita melambat dan bagaimana menjadi tenang di dunia yang sibuk. Karena beberapa hal justru dapat kita nikmati saat kita tidak terburu-buru.

“..............bahwa yang mengusik kita bukanlah keadaan dunia, melainkan cara pandang kita. (TTYCSOWSD, Hal: 15)

Ilustrasi gambarnya cantik dan kalimat-kalimatnya begitu relate dengan kehidupan sehari-hari. Buku ini membantu ketika pikiran sedang tidak stabil. Itu cukup untuk membantu menenangkan pikiran kita, tentu saja dengan membacanya perlahan untuk memahami lebih dalam tentang apa-apa yang sebenarnya penulis maksudkan. Buku ini juga akan cukup membantu kita untuk mendapatkan kekuatan dan meraih sebuah kepuasan ketika hidup sedang terasa begitu sulit. Itu seperti sebuah resep untuk menjalani hidup ini dengan cara yang lebih ringan dan bahagia.

Tapi memang semua hal selalu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Jadi tidak melulu itu akan mengubah hidup. Ya, selamat menemukan kutipan-kutipan apik sesuai kondisi yang kita alami. Selamat mengembangkannya dengan caramu sendiri.

Jadi, ini tidak apa-apa menjadi hari kita untuk melambat sedikit bukan?

Sabtu, 09 September 2023

Dear Mas

Dear mas,

Nanti aku akan menulis sesuatu tentangmu. Nanti saja, setelah kamu datang dan bernafas lega.

Nanti aku buatkan kopi hitam favoritmu dan aku akan membuat matcha favoritku. Kita bisa menikmatinya sambil memandang langit dan (menemukan sesuatu?). Aku sungguh ingin menemukan bintang sirius bersamamu sambil menjatuhkan satu per satu puisi buatanku ke telingamu.

Oh ya tenang saja, sebab kamu tidak perlu mengerti apapun setelah itu. Kamu hanya perlu mendengarkanku dan menikmati kopimu (juga suasana bersamaku).

Tapi jangan juga jadi bisu.

Sebab, kamu boleh juga banyak bicara sebanyak atau boleh lebih banyak dariku. Kamu boleh menceritakan apa saja, termasuk jok motormu yang sudah lama kedinginan itu.

Aku bisa mendengarkanmu lebih banyak, dan juga lebih lama.

Waw, aku pikir malam-malam pasti akan menjadi terasa begitu panjang ketika isi kepalaku dan isi kepalamu bercumbu mas.

Aku berharap, aku dan kamu tidak akan menyesali banyak hal atas apa-apa yang sudah berlalu. Dan aku berharap atas apapun itu, aku bisa selalu memenangkan isi kepalamu (dan aku pikir, aku juga harus begitu kepadaku).

Aku berharap segala hal baik diantara kita berdua bisa selalu meluas dan meluap-luap. Aku berharap kamu akan sependapat denganku. Sebab itu adalah rencanaku dan mohon lekas dibantu.

Deal?

Selasa, 15 Agustus 2023

Review Buku "Tempat Paling Liar di Muka Bumi"

“Ada banyak perbuatan yang sia-sia, melawan cinta itu sia-sia” (Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Hal: 79).

Sebuah buku yang sangat dan sangat romantis. Kumpulan puisi-puisi yang cocok sekali untuk sepasang kekasih yang sedang saling kasmaran. Tentang bagaimana mereka saling jatuh cinta dan mencintai dengan cara yang ajaib. Saling bersahut-sahutan, begitu manis dan menggoda.

Buku ini seperti sebuah diary dan bentuk komunikasi yang apik milik Theor dan Welly. Sepasang kekasih yang saling menceritakan tentang bagaimana rindu, jarak, dan cinta-cinta bermekaran dan tidak pernah padam. Juga tentang bagaimana untuk bisa saling menjadi tempat pulang. Gambaran perasaan yang apik tersaji dengan menggunakan simbol tubuh dan alam di Indonesia bagian timur. Begitu meriah, sampai-sampai deburan ombak, hutan, laut, pasir putih, laut, dan semua perkakasnya ikut menjadi saksinya.

Akhirnya, mari tersesat dalam puisi-puisi romantis ini. Mari saling melempar kata-kata cinta. Mari kita nikmati ini. Karena

“yang berdosa itu ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya”

 juga tentu saja

 “aku ingin menjadi tenang dan mencintaimu tanpa banyak kekhawatiran” (Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Hal: 61).

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....