Selasa, 15 Agustus 2023

Review Buku "Tempat Paling Liar di Muka Bumi"

“Ada banyak perbuatan yang sia-sia, melawan cinta itu sia-sia” (Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Hal: 79).

Sebuah buku yang sangat dan sangat romantis. Kumpulan puisi-puisi yang cocok sekali untuk sepasang kekasih yang sedang saling kasmaran. Tentang bagaimana mereka saling jatuh cinta dan mencintai dengan cara yang ajaib. Saling bersahut-sahutan, begitu manis dan menggoda.

Buku ini seperti sebuah diary dan bentuk komunikasi yang apik milik Theor dan Welly. Sepasang kekasih yang saling menceritakan tentang bagaimana rindu, jarak, dan cinta-cinta bermekaran dan tidak pernah padam. Juga tentang bagaimana untuk bisa saling menjadi tempat pulang. Gambaran perasaan yang apik tersaji dengan menggunakan simbol tubuh dan alam di Indonesia bagian timur. Begitu meriah, sampai-sampai deburan ombak, hutan, laut, pasir putih, laut, dan semua perkakasnya ikut menjadi saksinya.

Akhirnya, mari tersesat dalam puisi-puisi romantis ini. Mari saling melempar kata-kata cinta. Mari kita nikmati ini. Karena

“yang berdosa itu ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya”

 juga tentu saja

 “aku ingin menjadi tenang dan mencintaimu tanpa banyak kekhawatiran” (Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Hal: 61).

Selasa, 25 Juli 2023

Review Novel "Pasta Kacang Merah"

“Kehidupan tidak hanya memiliki satu warna. Terkadang warnanya berubah pada saat yang tak kita duga” (Pasta Kacang Merah, Hal: 187).

Begitulah seorang nenek tua bernama Tokue menuliskan suratnya untuk Sentaro, seorang pria yang ingin menjadi penulis tapi akhirnya beralih menjadi seorang penjual Dorayaki di sebuah kedai bernama Dora Haru.

Novel slice of life yang heartwarming sekali ini merupakan novel terjemahan berjudul “Sweet Bean Paste” dari Jepang yang ditulis oleh Durian Sukegawa pada tahun 2006. Covernya cantik sekali. Alur ceritanya ringan dan mudah diikuti. Beberapa bagian akan membuat kita merasa kesal, simpati, sedih, tapi tetap tersenyum dan merasa hangat. Narasi cerita yang sederhana tapi mampu menyampaikan emosi pada pembaca.

Novel ini menceritakan tentang persahabatan antara Sentaro dan Tokue (seorang nenek tua penyitas penyakit Lepra yang ternyata ahli membuat pasta kacang merah) yang menampilkan harapan baru dan kesempatan bagi mereka berdua untuk saling mengisi kekosongan hidup dengan cara saling bertukar pengalaman hidup dan merangkai harapan baru. Mereka telah saling menguatkan dan bertahan melewati masa-masa sulit yang ada. Surat menyurat adalah cara terapik mereka dalam berkomunikasi. Ini adalah bagian paling favorit dari novel ini.

Novel ini mengingatkan kita tentang pentingnya memiliki semangat hidup di tengah gempuran orang-orang yang ingin menyerah menjalani hidup. Novel ini mengingatkan kita tentang bagaimana manusia bisa memanusiakan manusia yang lain. Seperti Tokue yang keras dan kasar hidupnya, seperti itu juga Tokue membuat sekitaranya tetap merasa hangat dan terinspirasi.

Akhirnya....

 “Kau sudah berhasil Toshi Tokue. Kau sudah berjuang dengan sangat baik.” (Pasta Kacang Merah, Hal: 38).

Selasa, 20 Juni 2023

Review Buku "Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih"

"Halah, Lis. Dengan kamu mau nikah sama aku saja, bapakmu harusnya sudah paham, mana yang pinter dan mana yang goblok." (Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih, Hal: 76)

Benar kata orang-orang, awal mula mengira buku ini berisi tips-tips bagaimana cara memahami kekasih atau bagaimana menjaga hubungan dengan kekasih supaya langgeng adalah hal yang sia-sia belaka.

Buku ini ternyata buku yang berisi tentang kisah cinta dan romantisme sehari-hari sepasang kekasih. Buku ini adalah definisi "another level of bucin" seorang Agus Mulyadi kepada kekasihnya yang sekarang berhasil menjadi istrinya yakni Kalis Mardiasih. Banyak tawanya, sering apesnya, tapi begitulah kisah mereka berjalan. 

Membaca buku ini aku jadi tahu sisi seorang Kalis yang lain. Tetap terkesan tangguh, tapi seperti manusia kebanyakan, seorang Kalis ternyata juga banyak alfanya, banyak konyolnya, banyak menyebalkannya. Hampir putus asa perkara nggak bisa buka jok motor, keseringan ketinggalan pesawat, dan perkara baju gambar Sunan Giri? Haha, Agus memang pintar sekali menceritakan detail tentang istrinya. Mereka berdua adalah panutan rumah tangga yang realistis. Semoga banyak kebaikan menyertai mereka.

"Hidup memang soal kompromi" (Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih, Hal: 70)

Hanya 94 halaman, tapi aku berhasil senyum-senyum. Agal kesel, tapi mereka lucu. Jadi pengen juga nulis beginian kaya Agus. Judulnya mungkin "Sebuah Seni Menyaingi Romantisme Agus dan Kalis". Tapi entar dulu ya, mau nyari seseorangnya dulu nih biar ada ceritanya. Semoga bisa lebih romantis kisahku bersamanya. Hihi.

Selasa, 16 Mei 2023

Review Buku "Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah"

Mungkin kita tidak sempurna, belum dewasa, dan sering melakukan kesalahan, tetapi kita tetap harus bahagia” (Hal: 231).

Aku suka sekali bunga matahari yang tumbuh di cover buku ini. Rasanya sudah seperti disambut dengan hangat, padahal aku belum mulai membuka bukunya, apalagi membaca isinya.

Buku ini sangat-sangat heartwarming. Pertama aku menjadi berterimakasih kepada diriku sendiri yang sudah kuat berjalan sampai sejauh ini. Kedua aku meminta maaf kepada diriku atas ragu-ragu dan putus asa yang sudah-sudah. Ketiga aku memutar lagi memori-memori perihal perjalanan panjang yang sudah-sudah. Ternyata memang banyak sekali lelahnya. Ternyata memang banyak sekali senangnya. Ternyata hidup memang sedinamis itu. Tidak lama senangnya. Tidak lama sedihnya. Sangat-sangat sementara.

“Kau hanya perlu menjadi orang yang bisa melanjutkan sesuatu yang sudah kau mulai sampai kau melihat akhirnya” (Hal: 78)

Begitulah Geulbaewoo mengingatkan kita untuk menjadi baik dan lebih peduli dengan diri sendiri, beristirahat ketika merasa lelah, meluangkan waktu untuk sendiri, dan bersemangat lagi untuk melanjutkan perjalanan yang sempat berhenti. Geulbaewoo merangkul kita lewat pengalaman jatuh bangun yang diceritakannya lewat esai-esai di buku ini. Rasanya sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Apalagi untuk kita yang sempat atau sedang mengalami quarter life crisis, untuk kita yang sedang kehilangan gairah melanjutkan sebuah perjalanan, untuk kita yang sedang cemas, takut, kosong, dan ingin menyerah.

Buku ini terbagi menjadi 3 bagian. Pertama tentang impian dan pencapaian. Kedua tentang bagaimana berhubungan dengan manusia khususnya bab asmara. Dan terakhir tentang bagaimana mencintai diri sendiri. Isinya berupa esai singkat tapi padat makna. Aku suka buku ini karena Goelbaewoo berhasil menerbangkan semangat-semangatnya tanpa pernah menjanjikan sebuah harapan dan keberhasilan.

“Apapun masalahnya, kau akan mampu melewatinya” (Hal: 238)

Akhirnya, selamat melakukan yang terbaik sepanjang hari, jangan lupa istirahat, jangan lupa jalan lagi. Semoga beruntung menemukan hal-hal yang kita sukai teman-teman.

Selasa, 18 April 2023

Review Novel "Please Look After Mom"

"Menurut Anda, apakah ibu Anda bahagia?" (Please Look After Mom, Hal: 78).

Siapa yang tahu berapa kali kita telah menghancurkan hati ibu? Siapa yang hari ini sudah memeluk ibu? Siapa yang hari ini sudah bilang "aku sayang kepadamu ibu"? Siapa yang benar-benar tahu tentang rahasia-rahasia ibu? Siapa yang sudah benar-benar mengenal ibu?

Dan begitulah novel ini mengajak kita untuk selalu tertarik kepada seorang ibu. Seorang ibu yang bukan hanya menjadi seorang ibu. Tapi juga seorang ibu yang juga masih kecil, ibu yang juga menjadi manusia pemula, ibu yang juga menua bersama kita, juga ibu yang tetap menjalani hidup, menahan sekian banyak keinginannya, menyerah terhadap mimpinya, dan menyerahkan keseluruhan hidupnya kepada suami dan anak-anaknya.

Novel ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang kehilangan seorang ibu di sebuah stasiun di Seoul. Si ibu yang sedang bepergian dengan suaminya dan entah bagaimana terpisah begitu saja dikeramaian. Suami dan anak-anak si ibu mencarinya sambil merefleksikan hubungan mereka dengan si ibu. Mereka hanya begitu, tidak tahu apa-apa tentang si ibu yang telah membersamai mereka. 

"Bukankah menyenangkan tinggal di rumah yg di dalamnya banyak tempat bersembunyi untuk anak-anak?" (Please Look After Mom, Hal: 206).

Begitulah seorang ibu. Dia selalu saja tidak bisa membaca dirinya sendiri dan menjadikan anak-anaknya mengerti tentang itu. Dia hanya tetap bekerja keras sampai akhir untuk anak-anaknya supaya menjadi nyaman dan cukup. Dia hanya tetap menjadi yang selalu ada.

Memang agak bingung membaca novel ini. Alurnya maju mundur dan sudut pandangnya campuran. Agak bingung membayangkan akan menjadi siapa aku di setiap pergantian bab nya. Tapi aku berhasil memahami setelah membacanya lebih jauh lagi. Aku telah tidak sengaja menyelami hampir dua puluh tujuh tahun kisahku bersama ibuku. Bahwa sedikit banyak aku telah mengambil sesuatu dari hidupnya. Bahwa aku selalu membutuhkan ibu. Bahwa aku juga sangat ingin memeluknya dan membisikkan kepadanya "aku sayang kepadamu ibu". Semoga hari itu akan datang. Semoga aku bisa selalu menjadi anak yg baik untuk ibu.


Terimakasih sudah melakukan banyak hal untukku ibu.

Selasa, 14 Maret 2023

Review Buku "Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa"

Membaca buku ini, membaca juga macam-macam keresahan di diri sendiri. Yang sudah, yang sedang, atau bahkan yang mungkin belum terfikirkan sebelumnya. Sesuatu entah apa di dalam isi kepala, selalu saja memainkan suara-suara. Waktu seperti memburu-buru dan parahnya kita seperti tidak keberatan diburu-buru olehnya.

"...kita semua punya kekhawatiran masing-masing. Tentang akan ke mana. Nanti menjadi apa. Karena kita memang tak pernah tahu kemana masa depan akan membawa kita." (Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Hal: 72).

Orang-orang memang seperti cepat sekali berjalan, sedangkan kita tidak, atau bahkan malah diam di tempat. Jangkauan demi jangkauan rasanya jadi semakin jauh, sampai-sampai kadang kita lupa bagaimana melanjutkan perjalanan. Dangkal sekali memang kita memandang kehidupan. Padahal rasa-rasanya kita sama-sama tahu bahwa akan menjadi sia-sia jika terlalu lama mendongak ke atas. Sampai-sampai kadang kita tidak tahu bahwa sekeliling telah mengijinkan kita jadi sesuatu. Ya, mungkin bukan kita yang tidak tahu, tapi kita yang tidak mau tahu karena itu bukan yang kita mau. Begitulah kita yang tidak pernah benar-benar jadi dewasa dan melihat sesuatu dengan jelas. Kita selalu menginginkan sesuatu yang tidak kita miliki. Kita selalu ingin tahu rasanya. Padahal kesenangan itu semu. Padahal segala sesuatu ya begitu, tidak ada yang menjanjikan. Dunia seisinya, hanya titipan.

"...Namun, sebenarnya apa kesuksesan itu jika pada akhirnya, kita semua mati?" (Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Hal: 6).

Hidup, begitulah jalannya. Hari ini menjelma jadi masalah, besok menjelma jadi solusi, besoknya lagi begitu saja, bertukar peran, dan berakhir. Kita sungguh hanya perlu percaya dengan diri sendiri. Bahwa kita bisa jadi sesuatu suatu saat nanti. Bahwa jikapun kita tidak pernah jadi apa-apa, itu tidak apa-apa. Atau jikapun ternyata kita pernah diizinkan jadi sesuatu, suatu saat kita akan menyadari bahwa ternyata kita tidak pernah benar-benar ingin jadi sesuatu. Kita sungguh hanya perlu melakukan apa yang ingin kita lakukan, yang baik, yang bermanfaat. Mari kita benar-benar menikmati, mengambil manfaat dari sesuatu, dan menjadi sesuatu di hari itu. Jangan lupa merasa cukup, sebab begitulah definisi kesuksesan yang sesungguhnya.

"Everybody's struggling, hardly. So, let's make it casier for one and another." (Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Hal: 144).

Itu menakjubkan. Bahwa perjalanan setiap orang memang tidak sama panjangnya, tidak sama likunya, tidak sama dewasanya. Bahwa dari itu semua, kita mungkin akan jadi sesuatu, mungkin juga tidak, tapi semua proses akan jadi bermakna. Karena masing-masing dari kita punya peran. Karena masing-masing dari kita punya tujuan. Karena kita bisa jadi sesuatu tanpa perlu kita menginginkan itu. Karena kita bisa jadi sesuatu tanpa perlu standar yang bertebaran di kehidupan masyarakat maupun sosial media.

"Dan, pada akhirnya, kita berjalan di zona masing-masing dengan sepatu yang paling pas dengan kaki kita. Paling, paling pas." (Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Hal: 176).


Jumat, 17 Februari 2023

Review Buku "Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman"

Selamat datang di kisah "Anak Gembala yang Tertidur Panjang diakhir Zaman". Selamat menikmati kilas balik dari kisah nyata seorang Rara Wilis alias Suko Djatmoko. Kisah yang sangat panjang tentang bagaimana awal sampai berakhirnya seorang Pak Wo dalam menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Dia adalah seorang PSK waria yang telah bertaubat dan kemudian memutuskan untuk menjadi seorang ahmadiyah. Begitu berkelok, begitu berjungkir dan berbalik, begitu banyak pelajaran, begitulah seharusnya bahwa seorang manusia hendaknya belajar dari kisah seorang manusia yang lainnya.

"Mau tahu bukan berarti setuju. Mau tahu berarti kamu mau belajar" (Anak Gembala yang Tertidur Panjang diakhir Zaman, Hal: 149).

Ya begitulah, kisah ini sangat ramai dengan isu. Ada tentang agama, diskriminasi transgender, stigma masyarakat, juga seks dan lengkap diselingi dengan cerita tentang seekor babi lumpur dan kisah tentang mahabaratha. Itu menarik, aku senang bisa membaca pemikiran dan perasaan dari banyak orang. Kadang mereka toleran, kadang mereka liar, kadang-kadang tidak keduanya. Tapi apapun itu, kita memang tidak seharusnya mengadili pilihan hidup dari seseorang.

Karena memang

"manusia...... ragam macamnya, banyak ceritanya" (Anak Gembala yang Tertidur Panjang diakhir Zaman, Hal: 116).

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....