![]() |
| Picture by : Google |
Tak lupa yang ku ingat selalu, panjatan rasa syukur yang begitu besar kepada Rabb-ku, Dzat Yang Maha Segalanya. Kepada-Nya aku tak henti berharap, memupuk banyak kata semoga meski memaksa diri pasrah terhadap takdir yang dipilihkan-Nya untukku yang hanya sebatang kara.
Burung-burung ramai menari. Di atas langit, atap duniaku yang begitu luas itu. Di luas alas sebuah pandang yang silau membiru, mereka berbondong-bondong, bersuara gaduh seperti ingin mengabarkan sesuatu. Pandangku rancu, kosong, jiwaku seolah pergi meninggalkan raga yang melemah ditinggalkan kekasihnya. Senyumku hilang, terbawa terbang burung-burung yang tak ku ketahui jenisnya itu.
"Ada apa gerangan?" kataku berbisik pilu.
Kepalaku terasa berat. Ku rebahkan perlahan. Ku pejamkan kedua mataku sekejap, tapi tiba-tiba basah. Air mataku luruh tanpa terasa. Tanganku bergegas menyeka, aku tak ingin ada siapapun mempertanyakan penyebabnya.
Sebuah lagu mengalun indah menemani lamunanku di siang yang sepertinya terik ini. Aku bahkan tak benar-benar merasakannya. Suasana ruang kerjaku terlalu nyaman untuk ku tinggalkan demi sekedar memastikan ini. Aku melanjutkan rebahku.
Air mataku kembali luruh, kali ini tak hanya kedua mataku yang basah karenanya, bagian wajah sebelah kiri juga meja kerjaku ikut larut menikmatinya. Aku menangis kecil, meratapi apa entah. Bibirku tak henti bergumam. Lafadz Lahaulaawalaaquwwataillabillahil'aliyiladzim tak berhenti ku ucap semenjak kedua mataku ku pejamkan paksa. Setidaknya ini adalah bentuk pasrahku kepada Yang Maha Kuasa, Dzat Yang Maha Mengetahui Segalanya.
Seorang perempuan seumuran denganku melintasiku dengan sumringah.
"Aku sedang rindu, tapi aku tak tahu untuk siapa itu" kataku spontan.
"Hah, gimana?" katanya tersedak. Air putih dimulutnya tumpah, aku hampir saja ikut menikmatinya.
"Aku sedang rindu, tapi aku tak tahu untuk siapa itu" kataku mengulang. Aku bahkan tak berganti posisi sama sekali dari posisiku sebelumnya.
"Dihh aneh" katanya heran.
"Hahhhaa" sahutku sambil tertawa kecil.
"Ada tuh kalo kangen ya tahu siapa yang dituju kali pen" katanya menjelaskan.
"Kata siapa? Aku enggak tuh" kataku ngeyel. Kali ini aku mengangkat kepalaku dan mulai membenahi posisi dudukku.
"Lhah terus?"
"Ya aku nggak tahu. Gini aja, ngalir kek air" kataku bingung.
Lalu perempuan itu pergi, kembali ke meja kerjanya dengan membawa segelas air putih yang baru saja diambilnya dari dapur kantor. Raut wajahnya mengundang sejuta tanya, sedang aku berlaku sebaliknya. Isi kepalaku mengundang sejuta jawab.
"Akan kepada siapa rinduku ini akan pulang?" kataku berbisik.
Dan aku sedang tidak ingin melakukan atau menginginkan apapun juga siapapun. Pekerjaan yang berbaris rapi dihadapanku sama sekali tak membangunkan gairahku untuk segera menyelesaikannya. Teh hangat di pojok kiri meja kerjaku apalagi, semut-semut mungil itu telah lebih dulu menikmatinya. Bahkan langit biru tak berhasil membujukku agar aku segera mengeluarkan ponsel kesayanganku, dan kemudian membuka fitur kamera lalu melakukan posting di sosial media. Untuk apa? Tak berguna.
Langit biru itu, ahh biar dia memandangiku dari jauh. Biar aku memandangnya lebih jauh, biar kami saling pandang dan saling bertemu diantara apa-apa yang mempertemukan kami. Karena jiwa yang satu akan saling bertemu. Begitupun aku dan langit biru itu. Tapi aku, apakah dia adalah jiwaku? Apakah dia adalah jawaban atas tanyaku? Atau apakah dia adalah saksi atas kerinduanku? Atau apakah, ahh harus berapa apakah lagi yang harus aku utarakan untuk menjawab ini semua?
Dan tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bisa menjawab, juga tidak ada yang perlu menjawab.
Semua membisu.
Rinduku membeku.
Aku pilu.
Semua membisu.
Rinduku membeku.
Aku pilu.
.
.
.
(Kudus, Oktober 2019)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar