Sabtu, 17 April 2021

Ancak

Cepat sekali. Dikejar apa entah. Waktu lari-lari. Melompat kesana-kemari. Tanpa pernah memberi arti. Oh atau hanya aku saja yang belum mengerti? Ah, dunia ini. Tak bisa aku meraba jalan-jalan yang akan dilaluinya.

Di balik jendela, aku hanya melihat sepasang mataku yang sayu. Melukis aku akan banyak hal pada langit yang biru. Luka kuurai. Senyum kusemai. Meski layu, bunga hati kupaksa mekar. Perasaaan-perasaan penuh ingin, terus datang mengetuk. Sepanjang waktu, aku mencoba membuka pintu untuknya. Semuanya, tanpa terkecuali. Aku ingin jadi tuan rumah yang baik.

Egoku kududukkan manis di beranda rumahku. Lumayan, hujan seharian menyuguhkan pelangi yang berlatar belakang senja yang tidak begitu jingga. Bincang yang sepertinya basi kusuguhkan untuknya. Tentu saja lengkap dengan tanda tanya-tanda tanya yang semakin lama semakin mahal jawabnya. Sudah lama ia merasa sendiri. Tenangnya pergi entah kemana. Hanya ada air mata yang ia tinggalkan sebagai jaminan.

"Pelan-pelan saja, bisa tidak? Satu per satu. Nafas dulu yang panjang. Jangan buru-buru hilang"

Dia mulai menggerutu. Dan aku mulai tertawa. Lalu angin-angin malam mulai menemaninya duduk memangku senja.

"Tidak usah jadi yang istimewa. Sederhana juga bisa jadi mulia" katanya.

Saben hari aku menatap harap. Membayangkan tiap detik yang berjalan menjadi saksi betapa baiknya aku menjalani hari-hari. Saben hari aku melambungkan dan membisikkan banyak doa, berharap bisa dengan baik menjaga diri. Saben hari aku berjalan dengan teka-teki yang kadang ingin kutertawakan setelahnya. Setelah sampai di ujung yang tetap menjadikanku baik-baik saja. Meskipun diiringi banyak bualan. Meskipun didekap erat ketakutan. Meskipun aku, sempat tak baik-baik saja.

"Hari ini adalah hari ini. Besok belum tentu ada hari seperti ini. Jadi, mari jalani. Apapun yang terjadi, jalani. Kalau senang, berbahagialah. Kalau sedih, berbahagialah. Sebab setidaknya, kita semua masih terbukti ada"

Begitulah mantra yang sering mengunci tekadku setiap sepasang mataku membalas senyum matahari pagi. Meski kadang hilang fungsi, setidaknya niat dari hati sudah pernah ada dalam diri. Toh hidup ini hanya perkara beruntung dan tidak beruntung. Juga perkara cara menyelami sudut pandang. Karena tiada beda bagi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mereka adalah perjalanan dan kita semua adalah pejalan yang melintasinya.

Dan begitulah waktu memberikan perjalanan kepada kita. Dan begitulah waktu mengantarkan kita kepada realita. Dan begitulah waktu mengetuk ruang terdalam dari jiwa kita yang kadang hilang bentuk, bahkan untuk sekedar menjadi rumah untuk diri sendiri.

Semua hal akan berakhir menjadi biasa. Semua hari dan apapun yang terjadi akan baik-baik saja. Ya, tentu saja terjemahkan sendiri arti "baik" untukmu. Jadi jangan lupa bersulang dengan kesempatan-kesempatan yang masih ada. Sesekali menarilah bersamanya. Sekian kali kuingatkan lagi, jangan lupa jadi bahagia meski hanya karena hal-hal sederhana.

Sedih itu biasa. Yang luar biasa itu sedih tapi dinikmati jadi bahagia. Sebab setiap hal berjalan. Sebab setiap kita adalah pejalan. Sebab setiap kita dalam perjalanan. Sebab setiap perjalanan adalah kesempatan. Dan setiap kesempatan adalah penmbelajaran.

Ya hanya begitu. Hanya itu. Jalani saja sampai waktu menemukan ujungnya dan kita selesai.

Jumat, 12 Februari 2021

Review Buku : "Segala-galanya Ambyar"

Akhirnya, selesai juga membaca buku kedua karya Mark Manson. "Segala-galanya Ambyar (Everything is Fuck)", begitulah judulnya. Lagi-lagi Mark Manson mengingatkan kepada pembacanya bahwa penderitaan dan kesedihan datang untuk dihadapi, bukan untuk ditinggal lari. Buku ini berisi tentang bagaimana menyikapi sebuah harapan dan sekaligus menjadi peringatan agar kita tidak tenggelam dalam pengaruh narsisisme manusia.

Seperti di judul buku sebelumnya, Mark Manson banyak menyuguhkan contoh real atas pemikiran-pemikiran yang dimiliknya. Wiotld Pilecki, seorang perwira perang Polandia yang akhirnya dijatuhi hukuman mati karena keahliannya jadi mata-mata terendus lawan menjadi cerita pembuka di buku ini. Dia berani, memiliki harapan tinggi, dan sekaligus harus mati karena membela negaranya sendiri. Dia tidak pernah menyesali perbuatannya dan malah menutup pidatonya dengan kalimat heroik "Aku telah mencoba untuk menjalani hidupku sebaik mungkin, maka menjelang ajalku kini yang kurasakan justru kegembiraan, bukan ketakutan". Waw, dahsyat. Begitulah harapan bekerja. Dia bermakna, setidaknya untuk terus menjalani kehidupan. Setidaknya ada 3 hal yang dibutuhkan untuk membangun dan merawat sebuah harapan, yaitu kesadaran akan kendali, kepercayaan akan nilai, dan sebuah komunitas.

Cerita kedua datang dari seorang Elliot. Seorang eksekutif di sebuah perusahaan besar yang jenaka dan disayangi istri, anak-anak, teman-teman, dan semua orang yang ada disekitarnya. Tapi belakangan dia didiagnosa terkena tumor otak. Dokter bedah telah mengambil tumornya, dia sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa, tapi situasi malah bertambah buruk. Kinerjanya turun, dia dipecat, diceraikan istrinya, dan ditinggalkan anak-anaknya. Ya, semua kekacauan ini berangkat dari operasi pegangkatan tumor yang dijalaninya. Kendali diri seorang Elliot hilang. Dia tidak lagi bisa berempati dan merasa. Frontal lobotomy yang dijalaninya telah mengubah orang yang sakit jiwa menjadi idiot. Karena itulah maka Tom Waits lebih memilih menyukai hobby minum daripada tidak memiliki gairah sama sekali,. Dia merasa lebih baik menemukan harapan di tempat sederhana daripada tidak sama sekali. Karena menurutnya tanpa gejolak hati yang liar, kita menjadi hampa.

Disinilah pentingnya menyelaraskan antara otak pemikir dan otak perasa. Kamu sudah tahu tentang ini? Bahwa diri kita adalah ibarat mobil badut. Otak perasa adalah sopir kita dan otak pemikir adalah navigatornya. Otak perasa menghasilkan emosi-emosi yang membuat kita tergerak untuk bertindak dan otak pemikirlah yang menyarankan tindakan itu harus dilakukan. Ya benar, hanya menyarankan. Sebab tidak selamanya otak pemikir bisa mengendalikan otak perasa. Lalu bagaimana caranya? Penulis ini bilang kita bisa memulainya melalui empati dan perasaan-perasaan. Dan jangan pernah berkelahi dengan otak perasa atau dia akan menjadi semakin kusut dan menjadi-jadi. Dan tentu saja kita tidak akan menang melawannya.

Oh ya, memang hidup ini sulit dan tidak bisa ditebak. Begitupun dengan pejalan dan perjalanannya yang semakin memuakkan. Sadar atau tidak, kita telah ditakdirkan untuk selalu bertikai hanya karena perbedaan-perbedaan kecil. Lalu kita (sering) tidak membenahi masalah sendiri dan malah menyalahkan orang lain. Kita selalu butuh menganggap bahwa diri kita ini penting. Ya, kenapa tidak? Beginilah awal mula moralitas tuan dan moralitas budak merebak.

"Amorfati" (mencintai nasib) adalah formula milik Nietzsche untuk bisa menjadi manusia yang besar. Dia menerima dan mencintai apapun yang ada di hidupnya dengan tanpa syarat. Katanya "Aku mencintai mereka yang tidak tahu cara untuk hidup. Karena merekalah orang-orang yang sukses menyeberang."

Manusia tumbuh dengan urutan kesadaran. Urutan kesadaran pertama adalah fase anak. Fase dimana eksplorasi sedang gencar-gencarnya dilakukan. Tidak peduli dengan pandangan orang lain, inginnya hanya senang dan senang. Lalu lanjut ke fase remaja. Fase yang menjunjung tinggi nilai transaksional. Fase dimana kita mengerti bahwa rasa sakit merupakan pertukaran yang harus diterima demi meraih sebuah tujuan. Lalu berlanjut ke tingkatan terakhir dan paling penting, yaitu fase dewasa. Sebuah fase dimana kita hanya perlu melakukan apa yang benar dengan sebaik-baiknya untuk sebuah alasan sederhana tanpa mencari imbalan dan tanpa mempedulikan apapun konsekuensinya. Beginilah seharusnya pandangan tentang kemanusiaan berjalan. Bukan sebagai sarana, tapi sebagai tujuan yang berdiri sendiri. Disinilah sarana belajar kita untuk menjadi lebih bijaksana membawa diri kita menuju kedewasaan yang sesungguhnya.

Penderitaan akan selalu ada. Penderitaan adalah pengalaman. Dan menjadi kebal karenanya adalah sebuah pilihan. Karena hidup dengan baik bukan berarti menolak penderitaan, tapi menderita untuk alasan-alasan yang benar supaya kita bisa belajar menderita secara tepat.

"Anda diminta untuk terus berlatih sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu. Cintailah kebosanan itu."

Kualitas kehidupan tergantung dengan kualitas karakter. Dan kualitas karakter tergantung dengan hubungan tuan bersama deritanya. Itulah kenapa kita tidak boleh lari penderitaan dan malah harus bersentuhan dengannya lalu menemukan makna dan nilai didalamnya.

"Penderitaan itu mungkin menjadi semakin mendingan, barangkali berubah bentuk, barangkali semakin bisa dihadapi hari demi hari. Namun, dia selalu ada. Penderitaan adalah bagian dari kita. Penderitaan adalah kita."

Paradoks kemajuan telah memperlihatkan kepada kita semua bahwa semakin baik kondisi yang kita dapatkan, semakin cemas dan putus asa diri kita. Orang-orang banyak mengenal ini sebagai Efek Titik Biru. Sejatinya setiap kita bersifat emosional, hanya saja banyak diantara kita yang lihai menyembunyikannya. Jangan pernah menertawakan ini, atau ini akan semakin memperjelas bahwa anda termasuk salah satunya. Ah dunia ini, selalu saja digerakkan oleh "perasaan". Dan perasaan senang, tidak akan mengenal kata cukup. Padahal bentuk merdeka yang sejati adalah pembatasan diri. Tapi ya apapun itu, "Tidak perlu mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Cukup hiduplah dengan baik. Jadilah lebih murah hati, lebih tabah, lebih rendah hati, lebih disiplin. Jadilah manusia. Tapi tidak. Jadilah manusia yang lebih baik. Dan barangkali, jika kita mujur, suatu saat kita akan menjadi lebih baik dari sekedar manusia."

Akhirnya sampai juga di paragraf akhir ini. Sampai jumpa di review selanjutnya. Selamat menikmati bacaan berat ini. Aku membutuhkan (mungkin) 6 bulan menyelesaikan 346 halaman buku ini. Agak malas atau memang aku yang lelet memahaminya. Tapi apapun itu, semoga bermanfaat untuk kalian semua.

Salam sayang.

Jumat, 16 Oktober 2020

"Pukul 10 Malam"

/1/
Langit-langit kamar serasa berbintang
dipenuhi cahaya-cahaya temaram
yang menepi perlahan,
menuju tengah malam

Saatnya menjelma,
menjadi nona berwujud puisi
yang mahir, merajam rasa
menjadi bait-bait kata

/2/
Pertikaian baru saja dimulai
logika, nurani, dan
persimpangan jalan
yang memaksa berhenti ; hari-hari ku akhiri
dengan meniup lilin-lilin,
redup; kunikmati teguk demi teguk
syukur, tanda sebagai hamba yang terukur

/3/
Barangkali tak pernah ada sunyi,
barangkali sunyi hanya gemuruh
yang menjelma sebagai sosok-sosok
yang gagu
ayam-ayam sibuk menggembara,
katak-katak bersembunyi di balik cerita, dan
aku masih sibuk membaca mantra

"Jadilah esok lebih bahagia"

/4/
Denting jam terus berjalan
memikul rapuh rahasia tuannya
dalam, kubenamkan sejenak kata hatiku
yang berantakan
kutimang luka-luka tak berwujud itu
bergumam aku tak mampu,
berserah aku bertumbuh

"Tak ada yang tak baik-baik saja. Terimakasih cinta"

/5/
Kereta puisiku berhenti,
memungut puing-puing rumit
yang menggunung

Pulang,
pada dentingan detik terakhir
aku kembali ; melerai
tanda tanya dan realita

Terbukalah,
pintu-pintu maaf
dekaplah aku,
ruang kosong
yang kadang berair, dan
sering berapi

Aku ingin lelap
aku ingin selesai
sebagai puisi
yang tak lagi resah
.
.
(Kudus, Sep 21'20)

Minggu, 27 September 2020

Tanda Tanya Di Meja Kerja

Kemarin, panggung cerita ala kadarnya menggelar pestanya. Dibuka dengan pertanyaan "ada cerita apa selama kita tidak bertemu?" 3 perempuan amatiran memulai perannya. Mengurai dan mendongeng satu per satu kebahagiaan, kekecewaan, air mata, dan segala sambatan yang menyertainya sampai habis kata-kata. Bukan, bukan karena habis ceritanya. Tapi karena sadar betapa terlalu terbatasnya waktu yang kita punya, padahal satu yang lainnya juga butuh panggung untuk bercerita. Bagian demi bagian terlewati dan kami selesai dengan makan sushi di warung sushi langganan kami. Lumayanlah untuk buang-buang waktu, mengusulkan makan disana dan disono dengan menu yang ini yang itu yang akhirnya berakhir lagi di tempat sushi itu.

Satu bagian yang masih tersisa di kepalaku. Pertanyaan itu, pertanyaan yang kubuat sendiri. Pertanyaan yang rasanya berat kujawab sendiri.
"Kalau kalian dikasih kesempatan bisa balik ke masa lalu, kalian pengen balik ke umur berapa dan kenapa?"
Pertanyaan itu, entah kapan berhenti menari-nari di kepalaku. Ingin sekali aku menjawabnya, tapi rasanya hampir setiap bagian dari hidupku ingin kembali kuselami. Mengulang dan memperbaiki satu per satu kesalahan yang hampir tidak kusadari. Tapi kalau memang benar aku dikasih kesempatan bisa balik ke masa lalu, aku ingin kembali ke masa, emmhh mungkin saat umurku masih 5 atau 6 tahun. Bukan, bukan untuk menjadi dewasa. Aku hanya ingin menjadi yang paling bisa menerima dan berdamai dengan semuanya. Aku ingin juga menjadi yang diterima dan senantiasa menjadi hangat. Ahhh rasanya aku ingin menangis mengingat perjalanan 20 tahun terakhir ini. Pahit sekali dan parahnya aku sendiri belum mahir membuat beberapa bagiannya menjadi "manis".

Lelah juga ya ternyata. Membenci apa yang semakin menjadikan diri sendiri malah semakin mencintai. Begitulah yang kusadari akhir-akhir ini. Sadar kecewa tapi tak sanggup marah-marah. Sadar ingin lari tapi nyatanya tetap saja berada dititik yang awal sekali. Terlepas dari penjelasan yang masih sesekali kunanti, juga salah yang terpaksa kuterima tanpa pernah kudengar permisi dan atau sekian kata maaf (mungkin), juga dari kebencian yang diselimuti dengan sekian cinta. Marahku tak bisa sepenuhnya tumpah. Marahku begitu saja, padam, dalam diam. 

Pagi ini di meja kerja, aku berdua dengan cerita orang-orang yang kubaca di berbagai media. Di meja kerja aku merana, mengingat apa saja yang tiba-tiba terlintas di kepala. Di meja kerja aku sigap menyeka air mata, bertahan menjadi lebih kuat demi tidak menjadi perhatian rekan-rekan kerja. Di meja kerja aku tidak boleh bersuara, kecuali karena gembira. Di meja kerja aku  menata hati, berharap apapun yang dianugerahkan untukku ini bisa kuterima dengan selapang-lapangnya.

Empat tujuh delapan, kuulang perlahan dan berulang. Empat tujuh delapan, kuhitung dan sesekali menahan. Rasanya aku sudah hampir berhasil masuk. Bukan ke alam bawah sadar, hanya kepada ingatan lama yang enggan pudar. Di persimpangan jalan itu, di antara pintu-pintu yang terbuka, di antara remang cahaya yang masuk melalui bilik-bilik jendela, di antara apa yang tidak membuatku mengerti dan akhirnya hanya bertahan dengan tanda tanya tanpa jawabnya. Terduduk aku disana , bersama pangeran kecil. Di siang terik yang bertambah terik karena dingin yang tak kusadari ternyata perlahan telah membakarku, aku terpana. Lebih kebertanya kenapa. Tapi aku hanya bisa bisu melakoninya.

Sepasang yang pernah begitu saling mencintai, tak mempedulikan sekitarnya lagi. Sepasang itu terus saja menari-nari di atas panggung megah. Panggung yang tak pernah mereka sadari mewah gelaran pestanya. Dan aku masih terduduk disana, masih juga bersama bayangan pangeran kecil dan wajah datar yang basah oleh air mata.

Hanya ada sisa kerja yang seadanya dan semampu yang mereka ingin dan tentu yang mereka bisa. Merasa baik-baik saja, menyayangi anak-anaknya dan juga menyenangkan jiwa raganya. Ahh rasanya aku ingin merajam isi kepala mereka dan mencabik-cabik hati mereka, sampai kutemukan maksud dan tujuan ini terjadi. Rasanya ini tidak adil, tapi itu adalah hidup mereka. Aku tidak berhak sama sekali. Mereka sama sepertiku, berhak salah, berhak marah, dan tentu berhak berdarah. Mereka berhak mengukir luka dihati siapa saja dan semoga cerita bijaksana dan satu pelukan bisa membayar apa saja yang sepertinya tidak bisa dibayar dengan itu semua.

Aku sudah merasa, aku telah mencoba, rela. Tapi ya rasanya aku belum berhasil menerima semuanya dengan sempurna. Ada bagian darinya, yang sepertinya tidak akan pernah menjadikanku kembali utuh. 

Setiap hari, setiap waktu aku mengetuk. Aku mengetuk pintu hatiku sendiri. Memohon untuk bisa menyayangi siapa saja yang menyayangiku selayaknya mereka menyayangiku. Setiap hari aku mengetuk. Aku mengetuk pintu langit. Memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk bisa melembutkan hatiku dan memampukanku berdamai dengan segala hal yang menjadi ketentuan-Nya.

"Hidup ini kepalang bajingannya ya ma?"

Haha kalau aku menanyakan itu kepada mamaku, pasti dahinya langsung mengeryit dan tentu saja diakhiri dengan mengiyakan pertanyaanku. Mungkin juga mama akan berkata "sangat, apalagi siapa, siapu, siapi, dan sia-sia lain yang sudah menjadikannya kokoh berdiri seperti sekarang. Mamaku kuat, meskipun keras. Mamaku sayang, meskipun hidupnya kepalang malang. Mamaku hebat, meskipun sering mengeluhkan asam urat.

Di dekatku puluhan pasang kaki berdiri tegap, menapaki hidup yang kadang tak masuk dicerna akal. Di dekatku puluhan pasang mata memandang, berkedip anggun seolah bicara bahwa semua akan baik-baik saja. Di dekatku puluhan hati merah muda penuh cinta, menebar bahagia kepada siapa saja yang dirangkulnya. Di dekatku puluhan bibir tersenyum, meramu rayu pada sedih yang singgah di hati. Di dekatku puluhan jiwa hilang, seolah di tempatku berdiri hanya ada aku dan aku seorang. Di dekatku aku bertanya, apa tandanya bahagia pada isi kepala yang enggan berhenti mempertanyakan apa saja?

Kadang aku bertanya, bagaimana cara menemukan bahasa cinta  seorang laki-laki? Aku belum bisa menemukannya. Mencari ditubuh bapak aku buta, mencari ditubuh anak lanang mama aku kebingungan, mencari ditubuh seorang pria aku ketakutan.

Kadang aku juga bertanya, bagaimana cara menemukan bahasa cinta seorang perempuan? Aku merasa belum juga bisa menemukannya. Mencari ditubuh mama aku melihat banyak luka, mencari ditubuh teman-teman aku merasa rumit, mencari ditubuh sendiri aku seperti terperangkap dalam sebuah labirin.

Tidak tersentuh, tapi bekasnya terasa menyeluruh. Berlari jauh sampai ke antah berantah, aku hilang diantara kabut amarah. Terjatuh begitu dalam, aku tergilas putaran waktu. Bahagiaku direnggut, diganti dengan luka yang akhirnya menjadikanku tersudut.

Aku terluka oleh wajah-wajah itu. Ingin sekali bertanya, tapi aku tak mampu. Aku tidak mau, aku tidak mampu menjadikan mereka lawan bicaraku untuk banyak pertanyaan dan kebingunganku. Aku takut menambah luka. Aku takut menguras deras air mata. Akhirnya kepada hati sendiri aku berpulang, meramu pelipur lara, sendirian.

Tidak apa-apa, esok aku akan berhenti. Tidak apa-apa, esok aku akan berhasil menaklukkan diriku sendiri. Tidak apa -apa, esok aku akan berhasil merelakan ini. Tidak apa-apa, esok aku akan menyelesaikan ini. Tidak apa-apa juga kalau ternyaa akhirnya aku menangis (lagi). Sebab menangis bukan tidak mungkin karena sesuatu yang menyedihkan. Hanya saja ada beberapa hal yang bahkan tidak diketahui sebabnya pun bisa menyebabkan patah hati, dan basah di kedua pipi, juga rintihan di hati. Semua bisa jadi ada secara tiba-tiba ada, tanpa pernah benar-benar diketahui penyebabnya. Sebab jika akhirnya ada air mata yang jatuh di meja kerja, itu bukan berarti apa-apa kecuali karena alasan cinta yang entah kemana arahnya.

Tapi ma, apa kabar rambut panjangku? Aku lucu sekali ya kepangan dikuncir satu? Baju warna warni, tas gendong, dan botol minum. Ah tapi mama tetep juara satu menjagaku. Makasi ya ma.

Dan bapak, apa kabar motor bututmu pak? Aku kangen tahu pak dibonceng di depan. Sepatu ilang sebelah, baju basah berhias lebah, dan tiup lilin diperayaan ulang tahunku bersamamu. Ahh ternyata moment kita tidak sebanyak itu pak. Mau tidak pak, kita mengulangnya lagi, dari awal? Aku masih pak, aku masih sama, menjadi putri kecilmu selamanya.

Di meja kerja ini, aku merasa sepi. Berulang kali kupanggil banyak nama, tapi nyatanya aku tak mampu bersuara. Lalu kutulis sajak, tapi aku terhenti di bait pertama.

Di meja kerja ini, aku merasa gelap. Gelap sekali. Lorong perjalananku tak bercahaya, tak ada kilau bintang-bintang, tak ada bulan sabit serupa senyumku, tak ada apapun. Kecuali, aku. Dan sisa-sisa harapanku. Tentang apapun dan tanpa pengecualian apapun.

Di meja kerja ini, aku merasa dingin. Tak ada bentangan tangan siapapun, tak ada belai lembut penuh sayang di kepalaku, tak ada yang bisa menghentikanku berkata tak ada. Tak ada. Ya, aku telah mengulangnya. Sengaja.

Di meja kerja ini, aku ingin sementara berhenti bertanya. Rasanya sesak sekali. Mengulang duka, mengobati luka, dan merana lagi dan lagi sambil bertanya-tanya.

Di meja kerja ini, bolehkan aku mendapatkan salah satu?


Selasa, 04 Agustus 2020

Hadiah Kebenaran Yang Tidak Kusuarakan

"Bodo amat moo nulis gini doang nggak kelar kelar hiksss"

Begitulah judul draft terakhir yang kubuat untuknya. Sebuah draft yang akhirnya kuubah lagi isinya menjadi lebih, emhhh aku berharap itu bisa jadi lebih sederhana. Tapi kelihatannya tidak juga, aku pikir aku hanya membuatnya lebih cepat selesai terbaca. Ya, begini lebih baik.

Harusnya ini bisa sampai kepadanya lebih cepat. Tapi ya dipikir-pikir, sebenarnya aku hanya berusaha menjadikan semua ini menjadi tepat. Semoga saja besok pas aku berani, aku tidak terlambat. Sebenarnya aku sudah mulai lelah, sudah hampir gila, tapi masih bisa sumringah.

Aku tidak tahu bagaimana cara memulai. Aku tidak tahu ini akan menjadi pantas atau tidak. Aku tidak tahu apa ini, tapi aku pikir sudah seharusnya dia tahu. Aku tidak bisa mengatakannya sebagai apa, tapi aku punya kebenaran yang tidak kusuarakan kepadanya. Oh bukan tidak, aku hanya belum berani mengatakannya. Aku tidak bisa memastikan ini akan menjadikan aku dan dia baik-baik saja setelahnya. Tapi aku pikir, aku perlu begini untuk menjadikan diriku menjadi apa adanya. Akhir-akhir ini suara hatiku berisik sekali, isi kepalaku jadi penuh, aku jadi susah tenang.

Sudah lama aku tidak menyapanya. Sekedar menanyakan kabarnya.  Padahal aku ingin sekali tahu bagaimana kabarnya. Aku ingin tahu cerita-ceritanya selama tidak denganku. Aku ingin tahu semua tentangnya. Apa yang dia suka, apa yang tidak dia suka, apa yang masih menjadi cita-cita, apa yang sudah menjadi nyata. Apapun itu, aku ingin tahu. Tapi ya sengaja tidak kulakukan. Mana mungkin aku sepercaya diri itu? Tapi ya sudahlah, sebenarnya aku hanya sedang mencari celah. Tapi kalau ternyata ini akan menjadi sesuatu yang salah, aku tidak akan menyesalinya. Tapi ya kenapa tidak kulakukan saja? Namanya juga usaha. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bukan? Ya aku tidak terlalu percaya diri, tapi kan tidak ada salahnya mencoba. Maksudku memupuk percaya. Iya kan? Ya, begitu. Aku hanya ingin memberitahunya saja. Soal bagaimana setelahnya, aku belum terlalu memikirkannya. Aku hanya ingin bebas, aku hanya ingin jadi berani, aku hanya ingin merdeka, aku hanya ingin tetap menjadi aku yang banyak bicaranya, aku hanya ingin mengatakan segalanya, sejujur-jujurnya. Aku sungguh tidak bermaksud membuatnya menjadi terbeban. Aku juga tidak bermaksud membuatnya terkejut. Aku sungguh sudah mengupayakan datang kepadanya dengan hati-hati. Aku hanya mulai merasa kelelahan dan aku sudah ingin dia tahu tentang perasaan sialan ini. Sialan? Haha aku tidak menyangka akhirnya aku mengatakannya.

Tentang kebenaran itu, sebenarnya aku tidak tahu persis semenjak kapan. Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku tidak tahu dimana tepatnya. Aku tidak tahu akan mengatakannya sebagai apa. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, tidak dengan bertanya, tidak juga dengan mencari jawabnya.  Sudah lama tidak bersua, tapi rasanya masih sama. Aneh, tapi ya gimana? Suka tiba-tiba ada. Aku sungguh tidak sengaja merasakannya. Aku sungguh tidak berniat memulai ini semua. Tapi ya tahu-tahu jadi terlanjur. Aku jadi bingung harus bagaimana. Sejauh ini aku tangguh diam sendirian. Tapi akhir-akhir ini aku mulai kuwalahan. Aku pikir memang sudah saatnya aku mengakui sesuatu kepadanya. Mumpung aku dan dia masih sama-sama ada di bumi.

Aku ingat bincang malam setelah seleksi waktu itu. Gelap, dingin, ketakutan, terburu-buru, teledor, dan pincang sampai seminggu setelahnya. Haha sekarang sudah pulih, aku sudah bisa berjalan dengan normal lagi. Aku bahkan bisa lari-lari, melompat-lompat, dan melakukan apa saja yang aku mau. Tapi belum dengan datang ke arahnya. Wkwk pengecualian yang payah.

Malam itu aku tidak sengaja menoleh ke belakang, melihatnya, tersenyum, tapi tidak lama. Buru-buru kukembalikan pandanganku ke posisi awal lagi. Rasanya langsung aneh, entah apa yang tidak beres denganku. Awalnya aku pikir ini hanya kebetulan, tapi ternyata tidak. Tapi bukankah segala hal yang terjadi di semesta ini sudah digariskan-Nya? Sejak malam itu, setiap berada disekitarnya irama degup jantungku jadi berantakan. Aku sudah bilang, rasanya aneh. Tapi aku kenapa? Ya mana kutahu. Segalanya begitu saja terasa tanpa pernah memberikanku kesempatan bertanya “kenapa?”. Tega ya? Malam itu kupikir aku baru saja jatuh. Rasanya luar biasa. Tidak sakit, tapi peningnya berhari-hari dan tentu berkali-kali. Ya menyebalkan sekali terjebak dikondisi begini.

Bertanya "apa, kenapa"? Tanda tanyaku sia-sia. Tidak ada jawaban yang berhasil menenangkanku. Akhirnya sejak malam itu, semua berjalan begitu saja. Tapi rasanya ketakutanku jadi 2x lipat lebih banyak. Isi kepalaku selalu sibuk menerka-nerka. Seperti itu ceritaku. Sudah bertahun-tahun aku berusaha lari, tapi aku pikir aku tidak ditakdirkan ahli dibagian ini.

Aku tidak bisa menjelaskan dibagian mananya, ganteng sudah pasti. Siapa yang tidak tahu ini? Ya, ini poin yang tidak berpoin. Mapan? Aku bahkan sudah lebih dulu jatuh ketika seragam hitam putih masih sama-sama mengiringi perjuanganku dan perjuangannya di rumah yang nyaman tapi banyak ricuhnya itu. Mungkin dari suaranya atau mungkin hanya itu. Aku suka warna suaranya. Aku suka cara bicaranya. Aku suka mendengarnya mengaji. Aku suka sekali. Dibeberapa kesempatan aku mencoba menjadikan diriku biasa saja. Tapi tidak lagi bisa setelah malam itu. Adakah yang tahu rasanya dibelai angin malam disepanjang perjalanan menuju sabana Merbabu? Adakah yang tahu ketika tiba-tiba kau dengar seseorang melantunkan beberapa ayat di bawah tarian bintang dan sinar rembulan dimalam yang sedang lelah-lelahnya itu? Adakah yang tahu betapa segala penat dan lelahku seketika hilang karena tiba-tiba mendengar suara itu? Adakah yang tahu betapa aku pernah ingin membawanya pulang dan menjadikannya tempat pulang? Adakah yang tahu siapa saja yang menyadari semua itu? Aku pikir dia sendiri tidak menyadarinya. Sebenarnya, aku juga tidak, tapi entahlah. Aku benar-benar tidak tahu ada apa denganku. Tiba-tiba sesuatu muncul dibenakku. Kataku 

“Mungkin suara ini yang akan selalu jadi obat dari segala kekalutanku. Iya tidak si? Tidak apa iya si? Iya apa iya si? Nggak tahu. Lihat nanti deh. Astagfirullah Astagfirullah Astagfirullah, aku kenapa?”

Lucu? Tidak sama sekali. Suaranya biasa saja, tapi ya istimewa. Aku sering menirukan gayanya. Kadang berhasil, tapi ya banyak tidaknya. Susah juga ternyata. 

Aku tidak bisa menyebut ini apa. Mungkin aku terkagum, atau entahlah. Sebenarnya aku juga tidak ingin mengatakan apapun kepadanya. Ya, tentu saja aku malu. Tentu saja aku tidak percaya diri. Tentu saja aku takut. Aku cantik tapi tidak terlalu. Aku keras tapi cepat layu. Aku berisik tapi sepi. Aku utuh tapi terbelah. Aku masih kuwalahan dengan egoku sendiri. Aku paham itu. Aku tahu aku jauh dari apa yang menjadi impiannya. Aku tahu bisa saja dia mengidamkan yang lebih dariku. Aku tahu aku mungkin masih jauh dari kata layak untuk bisa membersamainya. Ya aku tahu, tidak seharusnya aku berpikir begitu. Aku pikir dia sudah jauh lebih tahu semua itu. Tapi ya sudahlah.

Sebenarnya sudah sejak lama, semacam berpuisi dan menulis sajak tentangnya. Tapi ya belum juga ada yang sampai kepadanya. Entah aku yang kurang berusaha atau memang dia belum diijinkan untuk tahu. Entahlah, yang aku tahu sekarang jarak sudah sebegitu teganya membentang. Aku dan dia sudah sama-sama jauh dan sama-sama hampir hilang. Aku tenggelam dalam beberapa ketakutan, dan dia? Aku bahkan tidak tahu dan sengaja tidak mencari tahu tentang itu. Sejak awal aku tidak pernah mencari tahu tentangnya. Aku tidak pernah tahu hobbynya, makanan favoritnya, cita-citanya, dan apapun tentangnya. Memang sengaja tidak kulakukan. Biar saja, biar aku tidak semakin jatuh. Biar aku jatuh pada apapun yang menjadi sebatas kutahu. Biar berjalan secukupnya saja. Seperti ini kadang membuatku bertanya "jatuh macam apa yang kulakoni dengan begini?"

Kau tahu? Bahwa jatuh selalu membuat kita lebih baik dari sebelumnya. Jatuhnya jatuh yang sebebas-bebasnya. Terlepas dari akhir yang akan bersambut atau malah sebaliknya. Seperti itu aku menikmati jatuhku. Seperti itu yang kulakukan demi merasa dekat dengannya. Menjadikan suaranya sebagai nada alarm, menari dengan kata-kata, mengingat malam itu, memanggil-manggil namanya dalam bincang sendiriku, berdialog dengannya dengan puisi dan sajak-sajak itu, juga melangitkan doa-doa. Sementara ini cukup kulakoni. Setidaknya aku tidak harus datang kepadanya dulu. Setidaknya rahasia ini tetap aman digenggamanku. Setidaknya dia akan jadi abadi menjadi sajak-sajak amatirku.

Aku jadi ingin meminta banyak maaf kepadanya. Maaf karena sudah sering tidak sengaja mengandaikannya disela-sela lamunanku. Aku suka sekali mempertanyakan sekian kemungkinan setelahnya, lalu menjawabnya dengan pemisalan-pemisalan yang kuandaikan sendiri. Hanya sebentar, tapi berkali-kali terjadi. Kadang aku berusaha menghindari ini. Tapi semakin pikiranku kuajak lari, malah semakin jelas rasanya. Aneh ya, kubuka mata dia tidak ada, kututup mata bayangnya serasa nyata. Haha. Semesta memang sering sebercanda itu ya. Sudah ada yang mendekat juga kepikirannya masih dia. Jahatnya aku. Sedih.

Sekarang 2020 sudah datang lebih dari separuh. Kita hampir genap lagi untuk sampai ditahun yang baru. Jadi, sudah berapa lama aku mengaguminya? Jadi, sudah berapa lama aku terjebak dikondisi semenyebalkan ini? Jadi, sudah berapa lama aku menjadi bisu dan berharap dia tahu tanpa perlu kuberi tahu? Jadi, sudah berapa draft yang kubuat sampai akhirnya jadilah ini? Jadi, sudah berapa pendapat yang kutimbang sampai akhirnya jadi berani begini? Jadi, kalau aku terlanjur mengungkapkannya lebih dulu waktu itu, kira-kira akan secanggung apa ya aku dan dia setelahnya? Haha aku benar-benar tidak berani membayangkan resiko berat yang akan kutanggung setelahnya.

Aku hanya perlu dia tahu apa yang pernah dan masih sesekali aku rasakan. Siapa tahu ada juga yang perlu kutahu darinya. Aku hanya ingin membebaskan diriku dari kekacauan yang telah dengan baik kurawat selama ini. Aku hanya ingin jujur kepadanya dan tentu kepada diriku sendiri. Aku hanya ingin menyelesaikan ini. Aku tidak ingin menjadikan ini hal kedua yang tidak bisa kuselesaikan. Aku hanya tidak ingin menyesal karena tidak berhasil mengatakan ini kepadanya. Ini tidak mudah, tapi sejauh ini aku telah berhasil melakukannya. Sudah lama sekali aku menahan diri dan melaluinya dengan segala kegelisahan yang kurahasiakan sendiri. Aku senang karena akhirnya aku bisa menjaga rahasia ini sendiri. Aku senang karena aku dan dia baik-baik saja sampai saat ini. Aku senang karena sempat melihatnya senang. Aku senang karena sempat setenang itu meskipun hanya bisa melihatnya atau mendengar suaranya dari jauh. Aku senang akhirnya dia tahu apa yang selama ini kurasakan. Aku senang akhirnya aku berhasil mengutarakan. Tapi besok ya, kalau aku tidak kehilangan nyali dan kepercayaan diri. Haha.

Segala awal akan menemukan akhir dan segala akhir akan menjadi sebuah awal. Begitulah kehidupan. Aku tidak ingin menebak akan seperti apa setelah menjadikannya tahu ini semua. Bagiku diam atau bicara, berjalan atau berlari, menujunya tetap akan menjadi yang beresiko bagiku. Pun kupendam atau kusampaikan, keadaan tidak akan bisa merubah kapasitasku menjadi seorang perempuan. Aku tidak pernah takut kehilangan dirinya sebagai apapun. Toh, semua hal punya masing-masing fasenya. Aku hanya takut tidak berhasil membuatnya tahu tentang ini semua. Karena jika setelah ini aku harus hilang dari dunianya, aku sudah lebih dulu melakukannya.

Ternyata seperti ini ya rasanya menjadi pemendam yang lihai? Sebenarnya aku tidak rela, tapi aku kan bukan siapa-siapa dan tidak berhak melakukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin dia jauh. Aku tidak ingin menjadikannya berbeda. Aku juga tidak ingin membatasinya. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak kapanpun. Dia berhak dan memang seharusnya menjadi merdeka dengan cara terbaik yang dia punya. Aku tidak ingin merebutnya dari siapapun. Tidak dari mereka, tidak dari siapapun, tidak juga dari dirinya sendiri.

Tidak apa-apa kalau ternyata dia tidak sama jatuhnya denganku. Bebas, yang penting dia sudah tahu. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan tidak menerima. Tidak ada yang salah dengan tidak diterima. Semua orang berpeluang menemukan dan ditemukan. Tidak harus dia, tidak harus aku, tidak harus. Ya, tidak harus. 

"Puncak kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Kita memang merdeka terhadap rasa, tapi terbatas dalam mengharap balas.” Kata siapa, aku lupa. Aku tidak bisa mengatakan ini semua telah mati. Aku hanya sudah berhasil menjadi terbiasa melihatnya dari jauh. Aku tidak tahu apakah aku harus lari atau malah menyelami ini lebih jauh lagi. Sejauh ini aku menikmati berada diantara yang kunikmati sendiri. Aku tidak bisa mengatakannya sebagai apa. Kadang aku bahagia, kadang juga tidak. Aku takut, entahlah. Aku sendiri tidak tahu takut karena apa.

Sudah sejauh ini. Sudah sepanjang ini. Kata-kata bisa jadi tidak pernah berkata-kata. Tapi  ketika berani itu mendekapku, semoga saja sudah tidak ada lagi rahasia. Aku tidak akan keberatan kalau ternyata dia tidak lagi menghiraukanku setelah ini. Aku sudah bilang, aku hanya ingin memberitahunya. Aku sudah bilang, dia berhak jadi apa yang dia mau. Aku sudah bilang bahwa aku dan dia harus selalu bahagia, entah bagaimanapun caranya.

Aku tidak akan menyesal pernah merasakan ini. Aku harap nantinya dia juga tidak menyesal pernah membaca dan akhirnya tahu mengenai ini. Aku akan menjadi lega, meski aslinya masih bingung harus bersikap bagaimana setelahnya. Aku tidak akan melupakan ini. Aku tidak berani mencobanya karena aku tahu itu tidak akan berhasil. Karena tidak akan pernah ada lupa yang benar-benar lupa. Begitukan?

Sekarang masih belum jam 03.00 WIB. Tapi seperti biasa, suaranya sudah berhasil membangunkanku. Rekaman  13 ayat pertama surat Ar-Rahman kirimannya sekian tahun yang lalu itu, sudah jadi nada alarm di sepertiga malamku sejak dia mengirimkannya untukku. Selancang itu aku. Tapi terimakasih banyak untuknya karena  sudah setiap hari membangunkan. Berkatnya malamku tidak pernah sepi. Aku senang sekali bisa berdua dengan Yang Maha Mempertemukan. Meski sesekali, belum usai meratap aku sudah lebih ketiduran lagi. Haha.

Sampai jumpa keberanian. Sampai jumpa lakon utama rahasiaku. Sampai jumpa kalian yang sudah membaca. Sampai jumpa semua.

Selasa, 19 Mei 2020

Review Buku : "Bicara Itu Ada Seninya"

Komunikasi adalah salah satu hal dasar yang sangat penting dalam menjalin dan menjaga hubungan dengan orang lain. Memperbaiki dan mengasah kemampuan berkomuikasi adalah sebuah langkah awal yang baik untuk membuka peluang yang besar untuk kita semua baik dalam hal berhubungan dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Oh Su Hyang, seorang Dosen dan pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan dalam bukunya yang berjudul "Bicara Itu Ada Seninya" mengulas banyak hal tentang teknik berbicara yang baik. Beliau memberikan beberapa rahasia tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan menghadirkan banyak pengalaman-pengalaman yang sudah beliau jalani dan beberapa cerita menarik yang tentunya menginspirasi kita semua ketika selesai membaca buku ini.

Dalam buku ini beliau menjelaskan tentang bagaimana membentuk kesan awal yang baik ketika kita bertemu lawan bicara untuk pertama kalinya. "Ucapan menentukan kesan pertama" begitulah ucapnya. Ya, kita memang tidak seharusnya terus membicarakan diri sendiri dan tidak memikirkan lawan bicara. Kita seharusnya hanya perlu berbicara secukupnya dan lebih banyak mendengar penuturan lawan bicara.

Beliau juga menjelaskan bagaimana cara membangun kepercayaan diri, melatih logika bicara, berbicara dengan cara bercerita (story telling), mengatasi trauma dalam berbicara, memperhatikan olah suara dan gerak tubuh, cara bernegosiasi, trik berdebat, mempersiapkan presentasi, membangun obrolan yang menguntungkan, menghadirkan irama dalam berbicara, juga cara berbicara untuk mewujudkan impian.

Ada satu kutipan yang menjadi favoritku:
"Bila ingin sukses, berbicaralah seperti orang sukses. Berbicaralah seperti orang yang Anda impikan. Berbicaralah dengan antusias dan bertingkah seolah Anda telah sukses. Mulai sekarang, berbicara sambil membayangkan bahwa Anda akan segera sukses, maka tak lama lagi impian Anda akan terwujud."
(Bicara Itu Ada Seninya, Hal : 46)

Kemudian beliau juga menjelaskan rumus terapi komunikasi yang bisa kita terapkan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.



 C = Q x P x R 
Communication = Question x Praise x Reaction 
Komunikasi = Pertanyaan x Pujian x Reaksi


Beliau menjelaskan bahwa dalam dialog, ada "aturan 1-2-3". Sekali berbicara, 2 kali mendengar, 3 kali memberi umpan balik.


Kemudian membahas juga tentang humor dalam berbicara. Bahwa humor adalah tentang timing. Bahwa kita bisa melatih rasa humor kita sendiri dengan menonton banyak drama atau pertunjukan komedi.


Beliau juga menjelaskan bagaimana trik untuk mengakhiri presentasi yang bisa menggerakkan hati audiens. Selain menggunakan ucapan persuasif, simpati, dan kalimat pembuka yang orisinil, beliau memberikan rumus mengenai pokok bujukan, yaitu:



 P = P x S x T 

Persuasion = Punch x Sympathize x Touch
Bujukan = Pukulan x Simpati x Sentuhan


Hal mendasar lain yang harus kita tahu, bahwa tidak bisa bicara dengan baik adalah masalah besar. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengubah keadaan, karena bisa bicara dengan baik bukan bawaan dari lahir. Kita bisa memulainya dengan latihan berbicara dengan memotong suku kata, kemudian latihan olah suara, dan kemudian kita bisa menjadikan suara kita menjadi suara bariton yang menggema, indah,

Sering-seringlah berbicara, sebab aktif berbicara justru lebih baik. Karena hidup akan berubah dengan mengubah cara bicara. Tidak perlu takut menjadi bahan tertawaan. Tampillah secara sempurna sebagai diri kita yang apa adanya. Karena kita istimewa dengan apa yang kita punya dan kita tata. 


Selamat membaca. Selamat berlatih menjadi pembicara yang hebat.


Salam Literasi.


Sabtu, 02 Mei 2020

Di Mana Tempat Pulang Ternyaman?

"Aku benci malam sepi, bimbang diri datang lagi, apa memang........... "

Aku tidak sedang bernyanyi, aku hanya sedang membaca sebait lirik lagu. Ya lumayan, sebagai teman. Daripada benar-benar sendirian.

Aku benci malam sepi. Ruang-ruang ingatanku  seketika menjadi penuh, ramai sekali. Aku ingat kisah-kisah itu, tempat-tempat itu, orang-orang itu, semuanya tentang itu. Tentang masa lalu yang sempat membuatku pilu. Tentang sekian banyak tawa yang seketika dipaksa sudah. Tentang mimpi yang begitu saja dipaksa berhenti. Tentang cinta yang sering kalah dengan ego. Tentang aku yang sendiri bertanya-tanya "sebenarnya apa yang aku ingini?".

Malam semakin larut, tapi riuh ini tak kunjung usai. Aku bertanya "kenapa?". Tapi mereka hanya menyuguhkan tawa. Mereka? Siapa mereka? Aku bahkan tidak tahu siapa mereka. Karena hanya ada aku dan bayanganku sendiri di antara remang lampu yang menerangi ruang kamarku yang sengaja kujadikan setengah gelap ini.

"Aku ingin jadi baik, aku hanya ingin jadi baik. Tapi bagaimana bisa benar-benar jadi baik?" kataku.

Kedua mataku mulai basah. Begitu terus. Setiap bertanya, setiap itu juga aku menemukan pembanding. Rasanya menjadi baik saja belum cukup. Aku merasa butuh warna yang lain di hidupku. Aku mencari apa, tapi belum juga kutemukan jawabnya.

Pernah aku terluka, tidak sengaja (mungkin), tapi benar-benar sakit rasanya. Dan kemudian aku meratap sendirian juga melakukan sesuatu yang sama seperti yang sebelumnya. Aku bertanya-tanya "kenapa harus aku?". Tapi hening, aku ditertawakan bayangku sendiri. Oh tidak, lebih tepatnya aku menertawakan diriku sendiri.

Lalu kemudian aku mengajak diriku sendiri berlari di ruang imajinasi, menari-nari dengan mimpi-mimpi yang mulai ku tata lagi. Hatiku sepakat menyediakan ruang lagi untuk sesuatu yang baru. Sesuatu yang bisa menjadikan diriku tersenyum lagi. Aku bahagia, mencoba pulih dengan rangkaian kata-kata.

Berdiri di hadapan cermin, aku menatap diri sendiri, mengucapkan banyak terimakasih untuk apa yang telah terlalui hari ini, dan tak lupa memberikan motivasi untuk hari esok.

"Terimakasih duhai diri, kamu hebat" kataku kepada bayanganku di cermin.

Seharian aku berlarian mengejar deadline kerja yang membosankan. Berulang kali aku mencoba bersembunyi dari riuh sekitaran yang menyebalkan. Dan sesekali aku diam menatap kagum sesuatu yang ku anggap agung.

Sebenarnya aku lelah, memaksakan diriku melakukan dan menjadi apa saja. Padahal kadang aku melakukannya dengan terpaksa dan malah membuatku menjadi bukan diriku sendiri. Menyiksa diri sendiri malah bisa jadi. Dan penat ini, membuatku ingin pulang.

Ya, malam ini aku pulang. Aku pulang kepada diriku sendiri. Tempat ternyaman memanjakan diri. Membicarakan apa saja yang telah ku lalui hari ini, kemudian meminta maaf atas apa saja yang mungkin tidak seharusnya aku perbuat kepada diriku sendiri. Dia menerima, memaafkan dan memelukku dengan hangat di antara dingin malam yang menyeruak. Meski belum lepas sepenuhnya, setidaknya aku pernah ingin mencoba. Meski belum sadar sepernuhnya, aku sudah lebih tahu bahwa ternyata aku hanya sempat kehilangan diriku saja.

Akhir kata aku berjanji akan menjaga diri dengan lebih baik lagi dan berusaha untuk tidak lagi menjadi apa yang bukan aku sebelum akhirnya aku pulas tertidur dan tenggelam dengan segala gerutuan juga janji-janji manisku.

Semoga hari esok akan jadi hari yang lebih baik. Semoga berhasil. Semoga beruntung.

------------------------------------------

Salam Literasi

#Day (9)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....