Minggu, 29 Agustus 2021

M(asih)elaju

Masa demi masa, semua berlalu dan aku? Sebisaku, aku berusaha menjadi biasa saja. Tidak bahagia, tidak bersedih, tidak juga di antara keduanya. Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku pikir dengan begini saja aku...... cukup. Waw, rasanya aku akan butuh waktu yang lebih banyak untuk sekedar melamun dan melerai pikiran-pikiran yang lagi-lagi kacau balau.

Aku memandang sekitaran. Di atas sana langit sedang biru-birunya. Dan orang-orang sedang sibuk-sibuknya berlalu lalang. Satu per satu dari mereka melaju bersama kereta yang mereka tumpangi. Rasanya cepat sekali sampainya. Aku melihat satu per satu dari mereka turun dari kereta mereka masing-masing. Aku terdiam, bergumam saja dengan sebab-sebab yang kupaksa ada sebagai jawaban dari tanya-tanya yang berkerumun di dalam isi kepala.

"Mungkin begitulah dia ada sebagai bahan uji." kataku asal.

Dan di tempatku berdiri kini, aku sedang memandang iri lengkap dengan jenuh kenyataan-kenyataan yang ada. Orang-orang dan kota baru itu, kereta-kereta sedang menuju dan telah sampai di tempat tujuan. Dan aku? Aku dan kota entah yang mana yang akan mejadi tempatku berlabuh, keretaku masih dan terus saja melaju. Terasa lambat jalannya, tapi mungkin begitulah akhirnya dia menjadi tepat. Oh ya tentu saja. Tentu saja aku juga akan sampai. Tentu saja aku akan melewati ini, apapun itu. Aku hanya harus mengeluh tentang ini lebih dulu. Jadi beri aku ruang yang penuh. Sekalipun lagi-lagi aku merasa sedang terjebak di antara harus terus berjalan atau kenapa aku harus repot-repot melakoni ini. Oh aku merasa seperti sedang menjadi racun untuk diriku sendiri. Aku meminta maaf berulang kali kepada diriku sendiri atas ini, tapi aku tidak juga kunjung menghentikannya. Tapi sungguh, aku hanya berharap bisa menikmati omong kosong ini dengan seseorang tanpa pernah merasa mengganggunya kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun.

Orang-orang datang dan pergi. Hari ini mereka datang mengetuk pintu, lalu singgah, dan bergegas pergi dikemudian hari. Seperti terburu-buru mengejar sesuatu, tapi apa? Oh bukan, aku bukan tidak bahagia menyaksikan panggung mereka begitu megah. Aku hanya sedikit bingung, kenapa rasanya waktu semua orang berjalan, tapi tidak denganku? Waktuku kadang serasa berhenti, kadang berjalan lambat, kadang malah terasa begitu berat. Rasanya sulit sekali mengejar orang-orang itu. Aku takut, aku takut hanya aku yang masih berdiri di sini, tertinggal, dan sendiri.

Oh Allah, mohon jauhkan aku dari hati yang akan menjadi rusak lalu menjadi terlalu membenci. Bawa aku pergi jauh dari perasaan yang sulit menerima.

Tapi tidakkah sama? Tidakkah memang begitu sesuatu-sesuatu yang belum berhasil sampai kepada kita? Jalanan yang lebih panjang dan berliku itu, oh haruskah? Hei, tapi bagaimana bisa aku merasakan seperti aku saja yang paling menderita? Padahal disana, entah dimana, pasti selalu ada mereka yang lebih lelah, lebih pusing, dan lebih segalanya dariku.

Sering setiap iri itu datang, aku berkali-kali bertanya dengan diriku sendiri,

"Jadi bagian pahit mana lagi yang belum aku tahu dari lika-liku kehidupan mereka?".

Sesekali seperti itu berhasil menghentikanku bertanya, sesekali aku mengulang tanya, sesekali sisanya aku tidak tahu harus bagaimana. Begitukah cara hidup bertaruh? Diantara untung dan buntung, diantara menang dan kalah, diantara itu semua, aku hanya ingin menjadi yang tidak menyerah dan tetap bertahan, meski aku hanya akan menjadi yang paling fasih membaca kesedihan dan kemudian hilang dengan kata-kata. 

Aku benci mengulangnya, tapi bagaimana bisa aku lupa bahwa aku pernah sampai disuatu tujuan yang tentu saja orang lain lebih cepat sampai tujuan dan aku tidak? Jalanan yang lebih panjang dan berliku itu, ah aku ingat betul bagaimana aku selalu merasa terluka karena tidak kunjung sampai. Putus asa demi putus asa mengetuk. Hampir saja aku membukakan pintu itu. Untung saja sesuatu itu lebih cepat sampai kugenggam daripada kedua tangan yang mulai dijabat keputus-asaan. Ujung itu, ya sebelum ujung itu, hampir saja aku menyerah. Memang benar, keajaiban demi keajaiban selalu ada ketika kita benar-benar berpasrah setelah menempuh perjalanan panjang atas sesuatu.

Ketakutan-ketakutan menjelma seperti kutukan. Perjalanan-perjalanan seperti semakin habis dimakan waktu. Dia terus berjalan, terus saja tanpa peduli diri kita siap atau tidak, lelah atau tidak, kuat atau tidak, atau bahkan sudah sembuh atau belum. Oh atau aku saja yang terlalu keras meraba bahagia? Atau aku terlalu naif memandang dunia? Oh aku, kenapa selalu ada dari dirimu yang belum bisa kutaklukkan? Oh aku, tidak bisakah kita tenang sebentar saja? Lalu mari kita lakukan hal-hal kecil terlebih dulu, jalan kaki saja. Atau kita bisa naik mobil. Kita bahkan tidak perlu naik kereta cepat seperti orang-orang itu. Kita ciptakan ritme kita sendiri. Kita nikmati setiap kemacetan atau apapun yang terjadi di depan sana.

Tidak lupa bersyukur. Sungguh kita tidak perlu lagi merawat sakit kepala karena kecepatan kereta orang-orang. Sungguh kita hanya perlu terus maju dan tentu saja lakukan itu, sampai selesai, sampai kita sendiri tidak sadar kita sudah mendapatkan yang lebih dari apa yang sebelumnya kita ingin. Sungguh kita hanya perlu menerima bahwa tidak semua hal itu baik dan membahagiakan. Mari lebih bersiap-siap menyambut baik hari-hari yang berkemungkinan jadi buruk, menyambut diri kita yang berbuat kesalahan, menyambut kita yang gagal. Sepasang kaki ini semoga semakin kuat berpijak di jalanan yang mungkin lebih berliku dan memutar dan terjal. Tubuh yang semakin rapuh ini semoga semakin gagah berkelahi demi sanggup berdiri untuk menghadapi hari yang baru.

Sungguh semua hal tidak harus sesuai dan itu tidak apa-apa.




Sabtu, 24 Juli 2021

Selamat Pagi Kekasih

"Selamat pagi, kekasih".

Bunga-bungaku yang mekar mewangi di taman hatiku. Pelipur lara bagi setiap sakit yang gemar hilang bentuknya.

"Selamat pagi, kekasih".

Selamat menyambut hari yang berkemungkinan babak belur. Selamat berjalan lebih jauh. Selamat saja pagi ini dariku. Aku harap begini saja kamu sudah senang. Sebab kita masih jauh, bahkan untuk sekedar berebut menu sarapan pagi. Jadi apa rasa kopi favoritmu? Hitam, luwak, atau americano? Katakan saja kepadaku jika kamu sudah sampai.

Jadi, apa kabarmu? Dijawab apa adanya saja. Sebab hari-hari sudah terbayang lelah daripada harus kamu tambah dengan sandiwara. Ya aku pikir daripada repot begitu, lebih baik kita menyibukkan diri dengan menulis takdir-takdir yang kita ingini. Bukan, ini bukan untuk menuntut Yang Maha Cinta. Tapi ya siapa tahu, kemauan kita adalah juga kemauan-Nya. Tanganku juga tanganmu ini kan bisa jadi ajaib. Ya, kenapa kita tidak yakin atas itu?

Hidup ini adalah sebuah kesempurnaan yang tidak sempurna. Begitulah kita menjalaninya. Begitulah kamu datang menjelma. Dan begitulah aku datang menjelma. Kita adalah musik-musik yang tidak sempurna. Tapi tenang saja, kita tetap bisa menari-nari di atas segalanya. Ya tentu saja dengan bahagia yang mungkin harus kita paksakan ada. Hei sepertinya kita harus segera memulainya, kekasih. Maksudku cerita kita sebagai sepasang kekasih. Sebagai sebuah ruang yang berisi segalanya untuk selama-lamanya.

Ide bagus bukan?

Aku tahu kamu bukan orang yang gemar jail. Kamu mungkin adalah sebuah perkampungan padat penduduk yang sangat sunyi. Tapi tolong sudahi, sebab aku ingin kamu yang jail meski hanya denganku saja. Humor ini harus kita yang menciptakan, biar kita juga bisa jauh menikmati badai-badai yang datang. Dan kita akan bersama menikmati sapa-sapa mesra setelah membuka mata di pagi hari, menikmati kopi hitam favoritmu dan matcha ala-ala favoritku, lalu kita bersiap legowo mengurai mimpi-mimpi yang akan kita pijaki sehari penuh setiap hari. Jangan lupa kita bersulang untuk satu hari penuh yang rahasia itu. Sebab kita adalah kekasih. Ya, aku pikir sepasang kekasih sudah selayaknya merayakan apapun berdua, termasuk kesedihan, termasuk kebingungan, termasuk tumbuh kembang bersama dan apa-apa yang bahkan belum kita tahu benar-benar lakonnya.

Aku ini mungkin hanya sesuatu yang seorang manusia, perempuan, kecil, dan jauh dari kata ideal. Kamu mungkin sama, hanya saja aku belum melihat celahnya. Tapi aku dan kamu adalah rumah. Dan sungguh perkara-perkara yang tidak sederhana itu harus kita selesaikan. Maka dari itu, mari saling sudi untuk pulang dan mari kita rayakan hingar bingar rumah tangga yang suka meletus tiba-tiba berdua. Waw aku benar-benar sudah ingin banyak berbicara kepadamu tanpa perlu merasa bahwa aku telah mengganggumu sepanjang waktu kekasih. Bagaimana menurutmu?

Hei, kekasih. Ini bahkan hari minggu. Waktunya rekreasi. Mari wisata ke tempat kerjaku saja kekasih. Hari ini aku sedang tidak WFH, jadi mari ikut denganku agar aku dan kamu tetap bisa berdua. Tapi harusnya....harusnya kita sudah menikmati perburuan kecil itu ya kekasih? Atau boleh juga kita rencanakan pemotretan pastwed ala-ala monocrom. Atau kamu mau kita berbaur dengan tradisi kental jawa? Atau kita bisa bergaya apa saja di tepi pantai atau di antara pemandangan alam? Atau kita bisa mengambil konsep berkebun bersama. Atau kita ke pasar malam saja? Atau dua-duaan di studio potho milik siapa? Ya yang penting kita berdua. Yang penting kamu bersedia dulu untuk kujaga kekasih. Begitupun dengan aku kepadamu. Dan kita tidak akan jadi yang pernah selesai sekalipun telah lewat tenggang waktunya.

Langit tampak semakin membiru kekasih. Tidakkah diantara gulungan awan-awan itu aku dan kamu telah lebih dulu bertemu? Dan begitulah Yang Maha Mempertemukan menciptakan kita. Dan pada apa saja kita telah menjelma, tiap-tiap langkah, tiap-tiap puisi, dan tiap-tiap kicau burung adalah sesuatu yang tidak harus kita mengerti. Seperti itu, seperti omong kosongku ini. Mengalir , menyentuhmu bahkan jika ternyata kamu tidak menyadari semua itu dan aku tidak menyadari telah melakukan itu.

Jangan terbuai kekasih. Aku bahkan bukan seorang pecinta yang mahir. Kamu bahkan tidak enak hati kepada siapa saja yang menaruh hati padamu. Tidak apa-apa kekasih, yang penting masing-masing dari kita tetap waras. Kamu tidak harus berjanji, tapi berhati-hatilah di perjalananmu yang panjang itu. Sebab di tempat kerja itu aku menunggu. Sebab mulai pagi ini dan pagi-pagi setelah ini,  kamu sudah harus menyapaku. Atau tidak usah saja. Biar aku saja yang menyapamu.

"Selamat pagi, kekasih"

Selamat lagi dari kekasihmu ini.

Salam sayang.

Sabtu, 10 Juli 2021

Dear, Bulan Sabit...

Tuan
Tuan...
Orang-orang bisa begitu saja tampak dan benar-benar membosankan. Menari-nari mereka dengan omong kosong yang meriah. Dan begitulah musik yang tidak sempurna itu menggelar pestanya. Jadi, mari gemuruhkan tepuk tangan demi siapapun. Setidaknya mereka sudah bekerja keras dan tentu bersusah payah, bahkan untuk sesuatu yang menurut kita berantakan atau malah tidak berguna. Termasuk ini, termasuk aku, termasuk kamu, termasuk kita yang tidak sadar ketagihan jatuh berkali-kali.

Tuan
Tuan...
Kadang kita perlu menyelam, lebih dalam, sampai tenggelam, dan bahkan berkarat. Isyarat-isyarat kadang datang dalam wujud yang tidak kita suka. Dan kita rentan menyambutnya dengan sesuatu yang kekanak-kanakan. Sepenggal makna, aku pikir aku juga sama sepertimu. Jabat erat tanganku tuan. Kita sama-sama tidak mahir dalam hal ini.

Tuan
Tuan...
Hari demi hari berlalu. Dan tepat sedetik yang lalu, aku telah mendidih. Berteriak aku, berlari aku menujumu, berbisik sesuatu aku kepadamu. Menurutmu, apakah aku berhasil sampai kepadamu?

Tuan
Tuan...
Terlihatkah ini di kedua matamu? Adalah aku yang sedang berdandan dihadapanmu. Cerminku adalah kau. Tempat segala kata-kata terlahir. Tempat segala cukup mahir memeluk. Tempat asing yang tiba-tiba saja jadi rumah.

Tuan
Tuan...
Bagaimana kalau besok kita bertemu? Lalu dalam keyakinan itu, mari kita bersulang. Pakai air putih saja tidak apa-apa. Asal salah satu tanganmu menggenggam tanganku. Aku tidak perlu matcha favoritku. Sudah kukatakan kepadamu bahwa kau adalah segala cukup untukku.

Tuan
Tuan...
Barangkali kita butuh detik yang menjelma jadi lebih banyak untuk sekedar mengosongkan ruang yang riuhnya merongrong. Barangkali kita butuh saling melihat, kemudian jadi sembuh dari pura-pura yang gemar kehilangan logika. Maka dari itu, lekaslah sampai kepadaku tuan. Dan jangan lagi lari. Menderitalah bersamaku sampai aku sembuh, sampai kau sembuh, sampai kita berdua jadi obat satu-satu.

Tuan
Tuan...
Besok atau nanti kupanggil lagi namamu. Lirih, tapi semoga kau mendengarnya. Sebab begitulah cara cinta mulai bekerja. Sebab begitulah aku memulai berani lagi. Sampai jumpa obat kalutku. Sayang kamu dari jauh, bulan sabitku.

Sabtu, 17 April 2021

Ancak

Cepat sekali. Dikejar apa entah. Waktu lari-lari. Melompat kesana-kemari. Tanpa pernah memberi arti. Oh atau hanya aku saja yang belum mengerti? Ah, dunia ini. Tak bisa aku meraba jalan-jalan yang akan dilaluinya.

Di balik jendela, aku hanya melihat sepasang mataku yang sayu. Melukis aku akan banyak hal pada langit yang biru. Luka kuurai. Senyum kusemai. Meski layu, bunga hati kupaksa mekar. Perasaaan-perasaan penuh ingin, terus datang mengetuk. Sepanjang waktu, aku mencoba membuka pintu untuknya. Semuanya, tanpa terkecuali. Aku ingin jadi tuan rumah yang baik.

Egoku kududukkan manis di beranda rumahku. Lumayan, hujan seharian menyuguhkan pelangi yang berlatar belakang senja yang tidak begitu jingga. Bincang yang sepertinya basi kusuguhkan untuknya. Tentu saja lengkap dengan tanda tanya-tanda tanya yang semakin lama semakin mahal jawabnya. Sudah lama ia merasa sendiri. Tenangnya pergi entah kemana. Hanya ada air mata yang ia tinggalkan sebagai jaminan.

"Pelan-pelan saja, bisa tidak? Satu per satu. Nafas dulu yang panjang. Jangan buru-buru hilang"

Dia mulai menggerutu. Dan aku mulai tertawa. Lalu angin-angin malam mulai menemaninya duduk memangku senja.

"Tidak usah jadi yang istimewa. Sederhana juga bisa jadi mulia" katanya.

Saben hari aku menatap harap. Membayangkan tiap detik yang berjalan menjadi saksi betapa baiknya aku menjalani hari-hari. Saben hari aku melambungkan dan membisikkan banyak doa, berharap bisa dengan baik menjaga diri. Saben hari aku berjalan dengan teka-teki yang kadang ingin kutertawakan setelahnya. Setelah sampai di ujung yang tetap menjadikanku baik-baik saja. Meskipun diiringi banyak bualan. Meskipun didekap erat ketakutan. Meskipun aku, sempat tak baik-baik saja.

"Hari ini adalah hari ini. Besok belum tentu ada hari seperti ini. Jadi, mari jalani. Apapun yang terjadi, jalani. Kalau senang, berbahagialah. Kalau sedih, berbahagialah. Sebab setidaknya, kita semua masih terbukti ada"

Begitulah mantra yang sering mengunci tekadku setiap sepasang mataku membalas senyum matahari pagi. Meski kadang hilang fungsi, setidaknya niat dari hati sudah pernah ada dalam diri. Toh hidup ini hanya perkara beruntung dan tidak beruntung. Juga perkara cara menyelami sudut pandang. Karena tiada beda bagi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mereka adalah perjalanan dan kita semua adalah pejalan yang melintasinya.

Dan begitulah waktu memberikan perjalanan kepada kita. Dan begitulah waktu mengantarkan kita kepada realita. Dan begitulah waktu mengetuk ruang terdalam dari jiwa kita yang kadang hilang bentuk, bahkan untuk sekedar menjadi rumah untuk diri sendiri.

Semua hal akan berakhir menjadi biasa. Semua hari dan apapun yang terjadi akan baik-baik saja. Ya, tentu saja terjemahkan sendiri arti "baik" untukmu. Jadi jangan lupa bersulang dengan kesempatan-kesempatan yang masih ada. Sesekali menarilah bersamanya. Sekian kali kuingatkan lagi, jangan lupa jadi bahagia meski hanya karena hal-hal sederhana.

Sedih itu biasa. Yang luar biasa itu sedih tapi dinikmati jadi bahagia. Sebab setiap hal berjalan. Sebab setiap kita adalah pejalan. Sebab setiap kita dalam perjalanan. Sebab setiap perjalanan adalah kesempatan. Dan setiap kesempatan adalah penmbelajaran.

Ya hanya begitu. Hanya itu. Jalani saja sampai waktu menemukan ujungnya dan kita selesai.

Jumat, 12 Februari 2021

Review Buku : "Segala-galanya Ambyar"

Akhirnya, selesai juga membaca buku kedua karya Mark Manson. "Segala-galanya Ambyar (Everything is Fuck)", begitulah judulnya. Lagi-lagi Mark Manson mengingatkan kepada pembacanya bahwa penderitaan dan kesedihan datang untuk dihadapi, bukan untuk ditinggal lari. Buku ini berisi tentang bagaimana menyikapi sebuah harapan dan sekaligus menjadi peringatan agar kita tidak tenggelam dalam pengaruh narsisisme manusia.

Seperti di judul buku sebelumnya, Mark Manson banyak menyuguhkan contoh real atas pemikiran-pemikiran yang dimiliknya. Wiotld Pilecki, seorang perwira perang Polandia yang akhirnya dijatuhi hukuman mati karena keahliannya jadi mata-mata terendus lawan menjadi cerita pembuka di buku ini. Dia berani, memiliki harapan tinggi, dan sekaligus harus mati karena membela negaranya sendiri. Dia tidak pernah menyesali perbuatannya dan malah menutup pidatonya dengan kalimat heroik "Aku telah mencoba untuk menjalani hidupku sebaik mungkin, maka menjelang ajalku kini yang kurasakan justru kegembiraan, bukan ketakutan". Waw, dahsyat. Begitulah harapan bekerja. Dia bermakna, setidaknya untuk terus menjalani kehidupan. Setidaknya ada 3 hal yang dibutuhkan untuk membangun dan merawat sebuah harapan, yaitu kesadaran akan kendali, kepercayaan akan nilai, dan sebuah komunitas.

Cerita kedua datang dari seorang Elliot. Seorang eksekutif di sebuah perusahaan besar yang jenaka dan disayangi istri, anak-anak, teman-teman, dan semua orang yang ada disekitarnya. Tapi belakangan dia didiagnosa terkena tumor otak. Dokter bedah telah mengambil tumornya, dia sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa, tapi situasi malah bertambah buruk. Kinerjanya turun, dia dipecat, diceraikan istrinya, dan ditinggalkan anak-anaknya. Ya, semua kekacauan ini berangkat dari operasi pegangkatan tumor yang dijalaninya. Kendali diri seorang Elliot hilang. Dia tidak lagi bisa berempati dan merasa. Frontal lobotomy yang dijalaninya telah mengubah orang yang sakit jiwa menjadi idiot. Karena itulah maka Tom Waits lebih memilih menyukai hobby minum daripada tidak memiliki gairah sama sekali,. Dia merasa lebih baik menemukan harapan di tempat sederhana daripada tidak sama sekali. Karena menurutnya tanpa gejolak hati yang liar, kita menjadi hampa.

Disinilah pentingnya menyelaraskan antara otak pemikir dan otak perasa. Kamu sudah tahu tentang ini? Bahwa diri kita adalah ibarat mobil badut. Otak perasa adalah sopir kita dan otak pemikir adalah navigatornya. Otak perasa menghasilkan emosi-emosi yang membuat kita tergerak untuk bertindak dan otak pemikirlah yang menyarankan tindakan itu harus dilakukan. Ya benar, hanya menyarankan. Sebab tidak selamanya otak pemikir bisa mengendalikan otak perasa. Lalu bagaimana caranya? Penulis ini bilang kita bisa memulainya melalui empati dan perasaan-perasaan. Dan jangan pernah berkelahi dengan otak perasa atau dia akan menjadi semakin kusut dan menjadi-jadi. Dan tentu saja kita tidak akan menang melawannya.

Oh ya, memang hidup ini sulit dan tidak bisa ditebak. Begitupun dengan pejalan dan perjalanannya yang semakin memuakkan. Sadar atau tidak, kita telah ditakdirkan untuk selalu bertikai hanya karena perbedaan-perbedaan kecil. Lalu kita (sering) tidak membenahi masalah sendiri dan malah menyalahkan orang lain. Kita selalu butuh menganggap bahwa diri kita ini penting. Ya, kenapa tidak? Beginilah awal mula moralitas tuan dan moralitas budak merebak.

"Amorfati" (mencintai nasib) adalah formula milik Nietzsche untuk bisa menjadi manusia yang besar. Dia menerima dan mencintai apapun yang ada di hidupnya dengan tanpa syarat. Katanya "Aku mencintai mereka yang tidak tahu cara untuk hidup. Karena merekalah orang-orang yang sukses menyeberang."

Manusia tumbuh dengan urutan kesadaran. Urutan kesadaran pertama adalah fase anak. Fase dimana eksplorasi sedang gencar-gencarnya dilakukan. Tidak peduli dengan pandangan orang lain, inginnya hanya senang dan senang. Lalu lanjut ke fase remaja. Fase yang menjunjung tinggi nilai transaksional. Fase dimana kita mengerti bahwa rasa sakit merupakan pertukaran yang harus diterima demi meraih sebuah tujuan. Lalu berlanjut ke tingkatan terakhir dan paling penting, yaitu fase dewasa. Sebuah fase dimana kita hanya perlu melakukan apa yang benar dengan sebaik-baiknya untuk sebuah alasan sederhana tanpa mencari imbalan dan tanpa mempedulikan apapun konsekuensinya. Beginilah seharusnya pandangan tentang kemanusiaan berjalan. Bukan sebagai sarana, tapi sebagai tujuan yang berdiri sendiri. Disinilah sarana belajar kita untuk menjadi lebih bijaksana membawa diri kita menuju kedewasaan yang sesungguhnya.

Penderitaan akan selalu ada. Penderitaan adalah pengalaman. Dan menjadi kebal karenanya adalah sebuah pilihan. Karena hidup dengan baik bukan berarti menolak penderitaan, tapi menderita untuk alasan-alasan yang benar supaya kita bisa belajar menderita secara tepat.

"Anda diminta untuk terus berlatih sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu. Cintailah kebosanan itu."

Kualitas kehidupan tergantung dengan kualitas karakter. Dan kualitas karakter tergantung dengan hubungan tuan bersama deritanya. Itulah kenapa kita tidak boleh lari penderitaan dan malah harus bersentuhan dengannya lalu menemukan makna dan nilai didalamnya.

"Penderitaan itu mungkin menjadi semakin mendingan, barangkali berubah bentuk, barangkali semakin bisa dihadapi hari demi hari. Namun, dia selalu ada. Penderitaan adalah bagian dari kita. Penderitaan adalah kita."

Paradoks kemajuan telah memperlihatkan kepada kita semua bahwa semakin baik kondisi yang kita dapatkan, semakin cemas dan putus asa diri kita. Orang-orang banyak mengenal ini sebagai Efek Titik Biru. Sejatinya setiap kita bersifat emosional, hanya saja banyak diantara kita yang lihai menyembunyikannya. Jangan pernah menertawakan ini, atau ini akan semakin memperjelas bahwa anda termasuk salah satunya. Ah dunia ini, selalu saja digerakkan oleh "perasaan". Dan perasaan senang, tidak akan mengenal kata cukup. Padahal bentuk merdeka yang sejati adalah pembatasan diri. Tapi ya apapun itu, "Tidak perlu mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Cukup hiduplah dengan baik. Jadilah lebih murah hati, lebih tabah, lebih rendah hati, lebih disiplin. Jadilah manusia. Tapi tidak. Jadilah manusia yang lebih baik. Dan barangkali, jika kita mujur, suatu saat kita akan menjadi lebih baik dari sekedar manusia."

Akhirnya sampai juga di paragraf akhir ini. Sampai jumpa di review selanjutnya. Selamat menikmati bacaan berat ini. Aku membutuhkan (mungkin) 6 bulan menyelesaikan 346 halaman buku ini. Agak malas atau memang aku yang lelet memahaminya. Tapi apapun itu, semoga bermanfaat untuk kalian semua.

Salam sayang.

Jumat, 16 Oktober 2020

"Pukul 10 Malam"

/1/
Langit-langit kamar serasa berbintang
dipenuhi cahaya-cahaya temaram
yang menepi perlahan,
menuju tengah malam

Saatnya menjelma,
menjadi nona berwujud puisi
yang mahir, merajam rasa
menjadi bait-bait kata

/2/
Pertikaian baru saja dimulai
logika, nurani, dan
persimpangan jalan
yang memaksa berhenti ; hari-hari ku akhiri
dengan meniup lilin-lilin,
redup; kunikmati teguk demi teguk
syukur, tanda sebagai hamba yang terukur

/3/
Barangkali tak pernah ada sunyi,
barangkali sunyi hanya gemuruh
yang menjelma sebagai sosok-sosok
yang gagu
ayam-ayam sibuk menggembara,
katak-katak bersembunyi di balik cerita, dan
aku masih sibuk membaca mantra

"Jadilah esok lebih bahagia"

/4/
Denting jam terus berjalan
memikul rapuh rahasia tuannya
dalam, kubenamkan sejenak kata hatiku
yang berantakan
kutimang luka-luka tak berwujud itu
bergumam aku tak mampu,
berserah aku bertumbuh

"Tak ada yang tak baik-baik saja. Terimakasih cinta"

/5/
Kereta puisiku berhenti,
memungut puing-puing rumit
yang menggunung

Pulang,
pada dentingan detik terakhir
aku kembali ; melerai
tanda tanya dan realita

Terbukalah,
pintu-pintu maaf
dekaplah aku,
ruang kosong
yang kadang berair, dan
sering berapi

Aku ingin lelap
aku ingin selesai
sebagai puisi
yang tak lagi resah
.
.
(Kudus, Sep 21'20)

Minggu, 27 September 2020

Tanda Tanya Di Meja Kerja

Kemarin, panggung cerita ala kadarnya menggelar pestanya. Dibuka dengan pertanyaan "ada cerita apa selama kita tidak bertemu?" 3 perempuan amatiran memulai perannya. Mengurai dan mendongeng satu per satu kebahagiaan, kekecewaan, air mata, dan segala sambatan yang menyertainya sampai habis kata-kata. Bukan, bukan karena habis ceritanya. Tapi karena sadar betapa terlalu terbatasnya waktu yang kita punya, padahal satu yang lainnya juga butuh panggung untuk bercerita. Bagian demi bagian terlewati dan kami selesai dengan makan sushi di warung sushi langganan kami. Lumayanlah untuk buang-buang waktu, mengusulkan makan disana dan disono dengan menu yang ini yang itu yang akhirnya berakhir lagi di tempat sushi itu.

Satu bagian yang masih tersisa di kepalaku. Pertanyaan itu, pertanyaan yang kubuat sendiri. Pertanyaan yang rasanya berat kujawab sendiri.
"Kalau kalian dikasih kesempatan bisa balik ke masa lalu, kalian pengen balik ke umur berapa dan kenapa?"
Pertanyaan itu, entah kapan berhenti menari-nari di kepalaku. Ingin sekali aku menjawabnya, tapi rasanya hampir setiap bagian dari hidupku ingin kembali kuselami. Mengulang dan memperbaiki satu per satu kesalahan yang hampir tidak kusadari. Tapi kalau memang benar aku dikasih kesempatan bisa balik ke masa lalu, aku ingin kembali ke masa, emmhh mungkin saat umurku masih 5 atau 6 tahun. Bukan, bukan untuk menjadi dewasa. Aku hanya ingin menjadi yang paling bisa menerima dan berdamai dengan semuanya. Aku ingin juga menjadi yang diterima dan senantiasa menjadi hangat. Ahhh rasanya aku ingin menangis mengingat perjalanan 20 tahun terakhir ini. Pahit sekali dan parahnya aku sendiri belum mahir membuat beberapa bagiannya menjadi "manis".

Lelah juga ya ternyata. Membenci apa yang semakin menjadikan diri sendiri malah semakin mencintai. Begitulah yang kusadari akhir-akhir ini. Sadar kecewa tapi tak sanggup marah-marah. Sadar ingin lari tapi nyatanya tetap saja berada dititik yang awal sekali. Terlepas dari penjelasan yang masih sesekali kunanti, juga salah yang terpaksa kuterima tanpa pernah kudengar permisi dan atau sekian kata maaf (mungkin), juga dari kebencian yang diselimuti dengan sekian cinta. Marahku tak bisa sepenuhnya tumpah. Marahku begitu saja, padam, dalam diam. 

Pagi ini di meja kerja, aku berdua dengan cerita orang-orang yang kubaca di berbagai media. Di meja kerja aku merana, mengingat apa saja yang tiba-tiba terlintas di kepala. Di meja kerja aku sigap menyeka air mata, bertahan menjadi lebih kuat demi tidak menjadi perhatian rekan-rekan kerja. Di meja kerja aku tidak boleh bersuara, kecuali karena gembira. Di meja kerja aku  menata hati, berharap apapun yang dianugerahkan untukku ini bisa kuterima dengan selapang-lapangnya.

Empat tujuh delapan, kuulang perlahan dan berulang. Empat tujuh delapan, kuhitung dan sesekali menahan. Rasanya aku sudah hampir berhasil masuk. Bukan ke alam bawah sadar, hanya kepada ingatan lama yang enggan pudar. Di persimpangan jalan itu, di antara pintu-pintu yang terbuka, di antara remang cahaya yang masuk melalui bilik-bilik jendela, di antara apa yang tidak membuatku mengerti dan akhirnya hanya bertahan dengan tanda tanya tanpa jawabnya. Terduduk aku disana , bersama pangeran kecil. Di siang terik yang bertambah terik karena dingin yang tak kusadari ternyata perlahan telah membakarku, aku terpana. Lebih kebertanya kenapa. Tapi aku hanya bisa bisu melakoninya.

Sepasang yang pernah begitu saling mencintai, tak mempedulikan sekitarnya lagi. Sepasang itu terus saja menari-nari di atas panggung megah. Panggung yang tak pernah mereka sadari mewah gelaran pestanya. Dan aku masih terduduk disana, masih juga bersama bayangan pangeran kecil dan wajah datar yang basah oleh air mata.

Hanya ada sisa kerja yang seadanya dan semampu yang mereka ingin dan tentu yang mereka bisa. Merasa baik-baik saja, menyayangi anak-anaknya dan juga menyenangkan jiwa raganya. Ahh rasanya aku ingin merajam isi kepala mereka dan mencabik-cabik hati mereka, sampai kutemukan maksud dan tujuan ini terjadi. Rasanya ini tidak adil, tapi itu adalah hidup mereka. Aku tidak berhak sama sekali. Mereka sama sepertiku, berhak salah, berhak marah, dan tentu berhak berdarah. Mereka berhak mengukir luka dihati siapa saja dan semoga cerita bijaksana dan satu pelukan bisa membayar apa saja yang sepertinya tidak bisa dibayar dengan itu semua.

Aku sudah merasa, aku telah mencoba, rela. Tapi ya rasanya aku belum berhasil menerima semuanya dengan sempurna. Ada bagian darinya, yang sepertinya tidak akan pernah menjadikanku kembali utuh. 

Setiap hari, setiap waktu aku mengetuk. Aku mengetuk pintu hatiku sendiri. Memohon untuk bisa menyayangi siapa saja yang menyayangiku selayaknya mereka menyayangiku. Setiap hari aku mengetuk. Aku mengetuk pintu langit. Memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk bisa melembutkan hatiku dan memampukanku berdamai dengan segala hal yang menjadi ketentuan-Nya.

"Hidup ini kepalang bajingannya ya ma?"

Haha kalau aku menanyakan itu kepada mamaku, pasti dahinya langsung mengeryit dan tentu saja diakhiri dengan mengiyakan pertanyaanku. Mungkin juga mama akan berkata "sangat, apalagi siapa, siapu, siapi, dan sia-sia lain yang sudah menjadikannya kokoh berdiri seperti sekarang. Mamaku kuat, meskipun keras. Mamaku sayang, meskipun hidupnya kepalang malang. Mamaku hebat, meskipun sering mengeluhkan asam urat.

Di dekatku puluhan pasang kaki berdiri tegap, menapaki hidup yang kadang tak masuk dicerna akal. Di dekatku puluhan pasang mata memandang, berkedip anggun seolah bicara bahwa semua akan baik-baik saja. Di dekatku puluhan hati merah muda penuh cinta, menebar bahagia kepada siapa saja yang dirangkulnya. Di dekatku puluhan bibir tersenyum, meramu rayu pada sedih yang singgah di hati. Di dekatku puluhan jiwa hilang, seolah di tempatku berdiri hanya ada aku dan aku seorang. Di dekatku aku bertanya, apa tandanya bahagia pada isi kepala yang enggan berhenti mempertanyakan apa saja?

Kadang aku bertanya, bagaimana cara menemukan bahasa cinta  seorang laki-laki? Aku belum bisa menemukannya. Mencari ditubuh bapak aku buta, mencari ditubuh anak lanang mama aku kebingungan, mencari ditubuh seorang pria aku ketakutan.

Kadang aku juga bertanya, bagaimana cara menemukan bahasa cinta seorang perempuan? Aku merasa belum juga bisa menemukannya. Mencari ditubuh mama aku melihat banyak luka, mencari ditubuh teman-teman aku merasa rumit, mencari ditubuh sendiri aku seperti terperangkap dalam sebuah labirin.

Tidak tersentuh, tapi bekasnya terasa menyeluruh. Berlari jauh sampai ke antah berantah, aku hilang diantara kabut amarah. Terjatuh begitu dalam, aku tergilas putaran waktu. Bahagiaku direnggut, diganti dengan luka yang akhirnya menjadikanku tersudut.

Aku terluka oleh wajah-wajah itu. Ingin sekali bertanya, tapi aku tak mampu. Aku tidak mau, aku tidak mampu menjadikan mereka lawan bicaraku untuk banyak pertanyaan dan kebingunganku. Aku takut menambah luka. Aku takut menguras deras air mata. Akhirnya kepada hati sendiri aku berpulang, meramu pelipur lara, sendirian.

Tidak apa-apa, esok aku akan berhenti. Tidak apa-apa, esok aku akan berhasil menaklukkan diriku sendiri. Tidak apa -apa, esok aku akan berhasil merelakan ini. Tidak apa-apa, esok aku akan menyelesaikan ini. Tidak apa-apa juga kalau ternyaa akhirnya aku menangis (lagi). Sebab menangis bukan tidak mungkin karena sesuatu yang menyedihkan. Hanya saja ada beberapa hal yang bahkan tidak diketahui sebabnya pun bisa menyebabkan patah hati, dan basah di kedua pipi, juga rintihan di hati. Semua bisa jadi ada secara tiba-tiba ada, tanpa pernah benar-benar diketahui penyebabnya. Sebab jika akhirnya ada air mata yang jatuh di meja kerja, itu bukan berarti apa-apa kecuali karena alasan cinta yang entah kemana arahnya.

Tapi ma, apa kabar rambut panjangku? Aku lucu sekali ya kepangan dikuncir satu? Baju warna warni, tas gendong, dan botol minum. Ah tapi mama tetep juara satu menjagaku. Makasi ya ma.

Dan bapak, apa kabar motor bututmu pak? Aku kangen tahu pak dibonceng di depan. Sepatu ilang sebelah, baju basah berhias lebah, dan tiup lilin diperayaan ulang tahunku bersamamu. Ahh ternyata moment kita tidak sebanyak itu pak. Mau tidak pak, kita mengulangnya lagi, dari awal? Aku masih pak, aku masih sama, menjadi putri kecilmu selamanya.

Di meja kerja ini, aku merasa sepi. Berulang kali kupanggil banyak nama, tapi nyatanya aku tak mampu bersuara. Lalu kutulis sajak, tapi aku terhenti di bait pertama.

Di meja kerja ini, aku merasa gelap. Gelap sekali. Lorong perjalananku tak bercahaya, tak ada kilau bintang-bintang, tak ada bulan sabit serupa senyumku, tak ada apapun. Kecuali, aku. Dan sisa-sisa harapanku. Tentang apapun dan tanpa pengecualian apapun.

Di meja kerja ini, aku merasa dingin. Tak ada bentangan tangan siapapun, tak ada belai lembut penuh sayang di kepalaku, tak ada yang bisa menghentikanku berkata tak ada. Tak ada. Ya, aku telah mengulangnya. Sengaja.

Di meja kerja ini, aku ingin sementara berhenti bertanya. Rasanya sesak sekali. Mengulang duka, mengobati luka, dan merana lagi dan lagi sambil bertanya-tanya.

Di meja kerja ini, bolehkan aku mendapatkan salah satu?


Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....