Selasa, 20 Desember 2022

Kamis Bersama Bapak

Hari ini aku membawakannya kembang warna-warni. Lebih dominan warna pink, tapi sebenarnya aku lebih suka menaburkan yang warna putih atau kuning. Tapi belakangan aku malah lebih sering membawakannya yang warna merah. Halah tapi siapa juga yang peduli, yang penting tiruan taman surga buatanku bisa kelihatan apik. Bapak juga tidak pernah komplain tentang ini. Dia memang selalu tahu bagaimana menyenangkan satu-satunya anak wedok yang dia punya.

Ahh aku membayangkan betapa candu senyum canggungnya. Bunga-bunga itu bahkan tidak mau menceritakannya kepadaku. Tapi aku pikir mereka terlalu sibuk bertasbih untuk bapak sekaligus bermain-main dengan terik matahari dan kemudian berakhir kering. Waw ternyata tidak hanya manusia yang kembali ke tanah.

November sudah dua kali berlalu semenjak itu. Jarak itu terbentang menjadi semakin jauh, sangat-sangat jauh. Aku di sini dan apakah Bapak sudah di surga?

Haha, aku tidak tahu apakah aku harus senang atau sedih karena kehilangan seorang paman tua. Aku pikir aku hanya menyimpan perasaan terlalu banyak sampai akhirnya aku kehabisan waktu. Atau waktu untuk itu memang tidak pernah ada untukku? Waktu memang sebuah jarak yang menjaga.

Aku hanya senang bahwa akhirnya aku bisa menulis ini. Bahwa aku telah sadar tidak ada yang salah dengan sebuah kepergian, kecuali atas apa-apa yang tidak bisa lagi dibawa. Tapi betapa manusia sangat-sangat beruntung karena mereka punya surat-surat terbang bernama doa. Itu lumayan, daripada hanya merasa gelap, mengerikan, dan sendirian. Lagi pula itu mendekatkan, entah kita menyadarinya atau tidak. Setidaknya kita sudah mendekat, setidaknya kita sudah punya waktu untuk membungkam perasaan bernama rindu.

Senin, 28 November 2022

Review Buku "Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau"

Ini deadline buku bacaan pertama yang aku selesaikan sebagai pembuka tahun baru ini. Sengaja ngide begini karena sengaja mau nge-challenge diri sendiri biar rajin baca lagi. Haha.

Niatnya mau baca tiap pagi satu judul. Eh tapi ternyata aku lengah dan tiba-tiba nyampe di halaman terakhir. Baca buku ini bikin hati ketagihan berbunga-bunga.

"Katakan 'aku mencintaimu', agar tampangku kian menawan
sebab tanpa cintamu aku tidak bisa tampan
katakan 'aku mencintaimu' agar jemariku
menjelma emas dan keningku menjadi lentera
katakan 'aku mencintaimu', agar tuntas aku berubah menjadi gandum atau kurma
sekarang katakanlah, jangan ragu
beberapa cinta tak suka menunda"
(Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau, Hal : 72).
Itu seperti seseorang benar-benar memujaku. Seperti seseorang benar-benar punya cinta yang begitu besar untukku. Seperti itulah aku bersaksi tiada lelaki selain dia, selain dia, selain dia. Ya, tentu saja aku tidak sedang meracau.

Buku ini bukan novel, tapi kumpulan puisi karya penyair arab bernama "Nizar Qabbani" yang diterjemahkan "Musyfiqur Rahman". Judul aslinya adalah "Asyhadu An La Imraata Illa Anti". Di dalamnya tertulis teks bahasa arab asli lengkap dengan terjemahannya. Tiap lariknya mengistimewakan perempuan. Sajak demi sajaknya penuh cinta. Kalian tentu harus membaca ini wahai pecinta sastra romance.

Selamat membaca.

Jumat, 18 November 2022

Review Buku "Seribu Kisah, Sebuah Kasih"

"Mencintai dan dicintai adalah kesedihan yang sama...Kita mencintai bukan sekedar untuk dicintai-kita mencintai oleh sebab kita ingin dan sanggup untuk mencintai orang tersebut.... Meskipun tidak melulu hal indah yang datang, semoga kita bisa kerap jatuh cinta, berulang-ulang.... (Seribu Kisah, Sebuah Kasih, Hal: 136).

Ini adalah halaman favoritku. Halaman pembuka bagian akhir dari buku ini. Buku yang berisi banyak cerita pendek tentang hubungan antar manusia. Buku yang menyimpan banyak kisah cinta. Yang diam-diam, yang terang-terangan, yang hati-hati, yang sembrono, yang tidak sengaja, yang bertepuk sebelah tangan, yang tidak menyadari, yang bahagia, yang tidak bahagia, yang diantara itu semua, aku tidak peduli bagaimana. Karena perjalanan-perjalanan telah banyak tertulis juga terbaca, dan aku telah berhasil menjadi salah satunya. Ah senangnya menjadi manusia. Agak aneh, tapi aku menikmatinya. Ya meskipun itu berjalan sedikit demi sedikit.

Hubungan antar manusia memang tidak ada yang pasti. Tidak akan ada rumusnya. Tidak juga bisa diterka-terka. Kalau endingnya bahagia, ya selamat. Kalau ternyata tidak, ya selamat juga. Setidaknya semuanya pernah ada, bahkan dititik dimana orang lain tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Kita semua sudah sama-sama tahu, baik saja tidak cukup untuk menjadikan sesuatu jadi pas. Dan begitulah hari-hari berjalan. Selalu mengalir ke segala arah. Kita hanya perlu tahu bagaimana arah arusnya, juga bagaimana cara menikmatinya.

Megah bukan?

Sabtu, 29 Oktober 2022

Review Novel "Di Tanah Lada"

"Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi," katanya. "Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut." (Di Tanah Lada, Hal:197).

Buku ini mengisahkan tentang seorang Ava. Gadis kecil umur 6 tahun yang bertemu dengan P (anak kecil berumur 10 tahun) setelah kepindahannya ke rusun nero bersama kedua orang tuanya. Ava dan P, mereka senasib tapi tidak sama. Keluarganya sama-sama berantakan, tapi mereka tumbuh di lingkungan yang sangat berbeda sebelum akhirnya mereka bertemu di rusun nero. Dari sinilah perjalanan mereka bermula. Tragis, tapi penuh warna. Lucu, tapi memprihatinkan. Sederhana, tapi mengaduk-aduk. Pahit, tapi begitulah realita.

Itu adalah tentang bagaimana mereka menatap dunia dengan cara yang berbeda. Tentang bagaimana mereka  menerjemahkan diri menjadi orang dewasa dengan cara berfikir khas anak kecil. Tentang bagaimana mereka tumbuh menjadi anak-anak yang skeptis dan berhenti percaya pada hal-hal baik. Tentang bentuk emosional anak kecil yang tumbuh di dalam rasa sedih dan lelahnya mental. Mereka sedih, marah, bimbang, bingung, sendirian, tapi sesungguhnya mereka tidak membenci. Mereka hanya merindukan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orang tua mereka.

"Karena belajar jadi mama yang baik itu sulit, Ava," kata Mas Alri. "Jadi mama, jadi papa... dua-duanya susah." (Di Tanah Lada, Hal:197).

Ya, jadi manusia memang susah. Jadi lumba-lumba juga susah. Jadi bintang di langit juga. Apalagi jadi laut. Dingin, hitam, dan menelan Ava juga P.

Seseorang sungguh perlu membaca ini, untuk belajar lebih lagi tentang bagaimana menjadi seorang dewasa yang benar-benar dewasa dan bisa jadi rumah untuk anak-anak terutama untuk anak kecil di dalam dirinya.

Itu memang susah, tapi mari terus kita coba.

Rabu, 05 Oktober 2022

Review Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"

"Jangan tergila-gila dalam mencintai. Jangan tergila-gila dalam membenci. Jangan tergila-gila dalam mengagumi. Jangan tergila-gila pada apapun di dunia ini. Dunia fana. (Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, Hal : 210).

Memang tidak ada yang lebih menjaga dari pada mencukupkan semuanya. Tidak hanya tentang mencintai, tapi juga tentang bagaimana menerima cinta dan tidak melakukannya. Tidak hanya tentang asmara, tapi juga tentang harapan, bunga yang mekar, pohon yang layu, dan sesuatu yang abu-abu. Tidak hanya tentang kita yang seharusnya sudah dewasa, tapi juga tentang anak kecil yang masih dan akan terus tumbuh di masing-masing diri kita.

"Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta" adalah sebuah buku tentang orang-orang yang jatuh cinta, bermasalah, patah hati, menyesal, bangkit lagi, dan banyak kemungkinan lagi.

Buku ini berisikan sesuatu tentang cinta. Yang tidak direstui, yang diam-diam, yang terhalang jarak, yang hilang kendali, juga yang kehilangan diri sendiri.

Buku ini mengingatkan kepada kita semua bahwa tidak ada yang lebih penting dari cinta selain bagaimana cara menemukan konsekuensi dari cinta itu sendiri. Bahwa segala sesuatu selalu tampak lebih indah dari kejahuan, saat kita belum memilikinya. Bahwa dalam kondisi yang demikian, semakin banyak yang kita beri, maka semakin banyak pula kita merugi. Bahwa keselamatan hati adalah poin pentingnya. Bahwa dia adalah lelaki yang baik dan kau adalah gadis yang tahu batasnya.

"We're better than love. Jangan biarkan cinta menginjak-injak kita." (Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, Hal : 59).

Rabu, 07 September 2022

Review "Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan"

"Begitulah arti kehilangan seorang wanita. Dan ada kalanya kehilangan seorang wanita berarti kehilangan segala wanita. Dengan demikian kami menjadi-jadi lelaki-lelaki tanpa perempuan." (Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan, Hal 261).

Begitulah seorang Murakami menggambarkan sekian banyak emosi dan perasaan yang begitu nelangsa dari beberapa lelaki yang ditinggalkan perempuannya.

"Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan" adalah sebuah novel yang terdiri dari 7 cerita pendek tentang seorang lelaki yang ditinggalkan perempuannya. Seseorang ditinggalkan karena relasi yang menggantung. Seseorang lainnya ditinggalkan karena pengkhianatan. Seseorang lainnya ditinggalkan karena terputus maut. Seseorang lainnya ditinggalkan karena permainan. Seseorang lainnya tidak sadar dirinya telah jatuh cinta. Seseorang lainnya menjalin hubungan tanpa status. Seseorang lainnya memilih mati. Seseorang... hanya bernasib serupa tapi tak sama. Mereka berhubungan, kesepian, kehilangan, kebingungan, tapi seperti hanya begitu. Menerima segala sakit hati dan kesendirian.

"Begituan susah ya?" tanyanya

"Begituan bagaimana?"

"Maksudku, tiba-tiba harus seorang diri padahal sebelumnya selalu berdua"

"Kadang-kadang" kataku jujur.

(Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan, Hal 66)

Tapi itu tidak seberapa daripada kata Pak Kafuku, bahwa...

"Yang paling sulit bagiku daripada apapun" ujar Kafuku, "adalah kenyataan bahwa aku sebenarnya tidak pernah bisa memahaminya-atau setidaknya bagian yang barangkali penting dari dirinya. Dan, kini ia sudah tiada, mungkin takkan kupahami selama-lamanya. Ibarat lemari besi kecil keras yang ditenggelamkan ke dasar laut dalam. berpikir begitu, dadaku terasa sesak" (Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan, Hal 34).

Waw, agak sakit. Tapi Takatsuki juga sangat mewakiliku.

"Tapi Pak Kafuku, apakah mungkin bagi kita untuk sepenuhnya memahami seseorang? Walaupun kita mencintai orang itu dalam-dalam?" (Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan, Hal 34).

Sebuah titik buta. Sebuah bukti kehidupan. Ya, setidaknya semua (pernah) ada.

Selasa, 02 Agustus 2022

Review Novel "Tuhan Maha Asyik"

Buku ini adalah kumpulan dialog bocah yang diperuntukan untuk orang-orang yang mau lebih mengenal lagi siapa Tuhan-Nya. Di setiap babnya ada saja bahasan yang seperti tidak disadari tapi sengaja menyentil. Ya, menjadi mitra kerja Tuhan memang susah-susah gampang.

Mengenal berarti menyatu. Menyatu dengan Tuhan berarti melakukan kebaikan dalam hidup. Dan percaya kepada-Nya adalah meliputi segalanya. Begitulah Tuhan hadir pada setiap ruang dan waktu. Begitulah kita kembali merasa dekat kepada-Nya, dengan cara selalu mengingat-Nya. Begitulah kita harus selalu mengenali diri sendiri agar akhirnya bisa mengenal-Nya. Ini bukan lagi rahasia, tapi Tuhan dan kita memang ada untuk mencintai dan dicintai.

Agama itu hening. Begitulah perjalanan asyik itu sudah dan masih kita lalui. Agama adalah sebuah ruang, tempat segala kebaikan mengalir. Tapi akhir-akhir ini, orang-orang seperti mengubahnya sebagai paguyuban tempat darah-darah tumpah. Aku tidak berfikir aku tidak pernah melakukan ini, tapi memandang diri sendiri baik juga kadang menyakiti orang lain. Padahal ukuran iman bukan hanya dari itu.

"Tuhan hanya menginginkan manusia selalu mencintai dengan kesadaran dan manghilangkan kecurigaan dan kebencian" (Tuhan Maha Asyik, Hal : 234).

Yang penting kita jujur kepada diri sendiri. Yang penting kita beribadah dengan hati yang tulus. Sebab beragama baru dikatakan benar, jika kita mampu mengendalikan diri agar tidak menyakiti orang lain.

Ya begitulah kira-kira. Hidup ini adalah sebuah panggung. Kehidupan adalah sebuah drama. Dan kita adalah lakon yang melengkapinya. Jadi santai saja, karena hidup ini memang tempatnya peran-peran serius dan kepura-puraan dilakonkan.

Selamat mencintai Tuhan lebih dalam, para co-worker Tuhan.

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....