Minggu, 05 Mei 2019

Ramadhan Bagiku adalah Sebuah Awal


Esok ramadhan akan datang. Sudahkah jiwa kita siap menjamu setiap ketukan yang dihadiahkan kepada masing-masing dari kita? Belakangan ini banyak ku dengar diluaran, siapa saja gemar sekali tersenyum membicarakan kedatangannya. Anak-anak tak henti bertanya kepada Ayah Bundanya perihal kedatangan ramadhan. Ada yang beberapa sudah janjian tarawih bersama atau malah subuhan dan lanjut jalan-jalan pagi bersama. Belum juga yang janjian ikut keliling membangunkan sahur. Ada yang menyiapkan kentongan, botol kaca, ember kecil, dan alat semacamnya untuk digunakan latihan bersama. Orang-orang dewasa juga tidak kalah heboh menyambut ramadhan. Tawaran buka bersama ada dari kalangan mana saja. Selain itu juga mereka sibuk memilah menu buka dan sahur sampai 30 hari ke depan. Seperti akan bertemu sesuatu yang dirindukan, mereka bersiap menyambut dengan penuh senyuman.

Tapi kenapa tidak denganku? Aku malah merunduk pilu dan bergeliat dengan ketakutanku. Banyak yang menggebu diingatanku yang lalu. Ketika apa yang sudah lebih baik menjadi hilang begitu saja. Dan sekarang, menjelang kedatangannya seakan-akan aku melupa dan ingin memulainya dari awal? Tidak. Aku tidak ingin lagi. 

Lalu bagaimana dengan yang kau rasakan? Senang menantikan kedatangannya atau malah seperti diriku yang lalai ini? Menyesali yang sudah terjadi padahal membiarkannya pergi tanpa sedikitpun dihargai. Padahal sebelumnya ramadhan ku kejar dan berharap menjaga dengan keistiqomahan diri. Ternyata sesulit ini menjaga hati. Tanpa kontrol diri, semua hilang tanpa arti.

Lalu bagaimana jika ternyata ini adalah kedatangannya yang terakhir? Sejujurnya aku teramat takut membicarakan ini. Takut jika akhirnya aku yang mendahului pergi atau malah waktu yang menemui akhir. Garis takdir selalu menjadi seperti sebuah kejutan bagi siapa saja. Yang diharapkan tak kunjung di hadapan. Tapi yang sama sekali tak pernah dilirik sekalipun datang menemui diri. Dan menebak menjadi satu-satunya cara untuk menelusuri garis takdir.

Semalam usai adzan isya berkumandang, aku bersama teman dan tetanggaku berbondong-bondong ke masjid. Melangkahkan kaki menuju tempat suci yang sudah lama sekali tidak kami singgahi, kecuali pada pengajian tanda peringatan hari-hari besar islam. Kesibukan telah melalaikan sebagian dari kami. Hingga rumah menjadi satu-satunya tempat untuk beribadah. Tidak apa-apa, setidaknya masih bisa beribadah.

Setelah ini, mungkin sampai 30 malam nanti, masjid di kampungku tidak akan gelap lagi setelah sholat isya dilakukan. Ramadhan membuat kami lebih lama di masjid. Di mulai dari semalam, lantunan ayat-ayat suci-Nya menggema sampai ke hati siapa saja yang mendengar. Suasananya tenang, seperti berada di pelataran surga. Anak-anak di kampungku gemar sekali mengaji setelah selesai sholat tarawih. Ya meskipun niat utama adalah bisa mengisi hasil bacaan ke dalam buku agenda yang diberi oleh Bapak/Ibu Gurunya. Kegiatan rutin yang positif, aku seperti kembali ke masa ketika masih MI. Berebut tanda tangan embak-embak yang membimbingku mengaji setelah usai tadarus sambil makan gorengan dan minum teh anget.

Sekarang, sudah tidak lagi. Waktu berputar begitu cepat. Usia semakin bertambah dan sekarang aku bersama teman-teman seusiaku gantian menjadi pembimbing ngaji buat adik-adik. Menyimak dan kemudian membenarkan satu persatu dari bacaan yang mereka baca. Hukum waktu selalu membawa keadilan. Tanpa disadari, Allah memberikan cara untuk kita agar sama-sama bisa merasakan diberi dan memberi, ditolong dan menolong, disayang dan menyayangi, dan masih banyak lagi.

Ramadhan sudah benar-benar tiba. Bulan istimewa nan penuh berkah benar-benar sudah ada dihadapan. Rutinitas di bulan baik ini hadir kembali satu per satu. Puasa wajib, sholat sunnah tarawih berjamaah di masjid, tadarus Al-Quran, silaturrahmi di moment buka bersama dan banyak hal lain telah kembali dilaksanakan. Sebagian orang hanya melakukannya setiap ramadhan datang. Sebagian lagi menganggapnya sebagai sebuah awal dan sebagian lagi menemuinya sebagai akhir. Ketika ajal menemui waktunya dan raga sudah tak lagi berdaya tertimbun dikedalaman tanah.

Aku ada dibarisan yang menganggap ini sebagai awal. Ramadhan, adalah awal bagiku. Awal diri ini menuju kepada Allah. Ramadhan adalah jalan hijrahku. Jalan yang mendekatkanku kepada sesuatu yang lebih baik. Kebiasaan terbaik di bulan ini, semoga selalu istiqomah terbawa sampai akhir hayat. Semoga lalai tak lagi membawa diri ini. Menuruti hawa nafsu yang kapan menemui akhir. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat, nikmat, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Semoga Allah perkenankan kita untuk istiqomah menjaga diri untuk bisa menjadi hamba yang Allah cintai dan mencintai Allah. Semoga ladang ibadah selalu terbaca oleh kita dan semoga Allah perlihatkan kepada kita kebaikan-kebaikan yang tiada habisnya.

Semua ada pro dan tentu ada kontra. Ramadhan bisa jadi yang menyenangkan atau malah untuk beberapa orang malah menganggap yang sebaliknya. Tapi bagaimanapun keadaannya, mari sama-sama bersyukur karena kita semua masih dijinkan untuk bertemu di ramadhan tahun ini. Semoga Allah melancarkan semuanya sampai akhir.


Aku suka bertemu dengan bulan ramadhan. Tapi sayang datangnya hanya setahun sekali. Andai semua bulan diperlakukan seperti bulan ramadhan. Aku pikir, dunia akan benar-benar menjadi seperti surga. Sejuk, indah dipandangan, bahagia. Dan tentu saja akan menenangkan dan menyenangkan.
Awal tak seharusnya selalu bertemu akhir. Istiqomah adalah penjaganya. Dan diri sendiri adalah penentunya. Semoga niat diri diijabah oleh Sang Ilahi.

Selamat pagi dan selamat menjalankan ibadah puasa pembaca.

_Kudus, Mei'19_

#Day1
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Senin, 25 Maret 2019

Segalanya untuk Mamak

Tidak ada sesuatu yang lebih menyakitkan kecuali membiarkan air matamu menetes membasahi kedua pipi yang mulai keriput itu. Ketahuilah, hatiku ikut hancur menyaksikan kekecewaanmu. Ingin sekali aku berlari jauh, jauh sekali sampai tak terlihat dihadapanmu. Begitu setiap aku melihatmu menangis karena ketidaksanggupanmu menahan apapun yang menurutmu telah membuatmu kecewa. Aku menangis dengan suara yang sunyi. Aku mencari tempat yang tidak ada seorangpun bisa menemukanku. Aku hanya ingin sendiri setiap ditimpa perasaan seperti itu. Aku hanya ingin tenang agar setelah itu aku bisa menenangkanmu.

Aku rapuh, aku lemah, aku merasa tidak berguna untukmu. Jangankan mendekat, melihat tangismu dari jauh saja rasanya tak mampu. Aku terlalu takut menambah kekecewaanmu dengan ego-ego kerasku yang kadang membuatmu jengkel. Aku terlalu takut berucap, takut menambah daftar sebab sakit di hatimu.

Tidak ada yang bisa menandingi apapun yang ada padamu. Mamak hebat, telah bertahan sampai di umur yang hampir setengah abad ini. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana berada diposisi mamak. Menghabiskan sisa usia dengan hati yang penuh tatu. Bekerja sepenuh hati untukku dan enang dengan hati yang berkali-kali tersakiti. Percayalah mak, surga firdaus menantikanmu di hari akhir kelak.

Aku ingat benar bagaimana air mata mamak mengalir begitu deras. Menangisi bapak yang tega mendua dan pulang ke hati yang lain. Mungkin mamak tidak menangisi bapak, tapi lebih tepatnya menangisi garis takdir yang begitu pelik. Mamak membicarakan ini berkali-kali kepadaku, apalagi semenjak aku bekepala 2. Batinku memberontak hebat membicarakan tentang ini, aku benar tak rela mamak menjelek-jelekkan bapak. Dulu aku selalu bersikap acuh dan sedikit marah, tapi tidak dengan akhir-akhir ini. Aku memilih diam. Tidak ada yang harus ku bela dari bapak. Dan aku pikir memang sudah hak mamak mengutarakan semua. Aku mengerti, tidak semua hati bisa menerima nasib yang sudah digariskan Ilahi. Bicara saja mak, aku berjanji akan mendengarkanmu dengan baik, menyediakan bahu jika kau butuh, atau mengusap air matamu yang bisa saja menetes. Lakukan saja mak, aku sudah benar mengupayakan diri untuk sanggup melakukan semua itu.

Entah ingin apa yang belum kau sampaikan kepadaku. Aku merasa masih ada yang janggal. Mamak selalu begini, memendam dan meledak sewaktu waktu. Kadang aku menjadi takut dengan keadaan seperti ini. Tapi untuk bisa bertanya, ada yang harus aku jaga. Perasaan mamak sangat sensitif semenjak gerbang deritanya terbuka. Aku jadi tidak punya nyali membicarakan ini kepadanya.

Terakhir kali aku pamit merantau, muram menyelimuti wajah mamak. Entah apa yang disembunyikannya, aku rasa mamak mengkhawatirkan sesuatu. Aku sengaja tidak bertanya dan hanya diam menatap wajah harunya. Aku pergi dengan setengah rela yang dimiliki mamak. Benar saja, seleksi CPNS yang aku ikuti gagal di tahap paling akhir sebelum pemberkasan. Perasaanku hancur, kecewa dan tak berarah. Aku pulang dengan hasil yang buruk. Tapi tidak menurut mamak. Wanita hebat itu menyambutku dengan bahagia sesampainya aku di rumah. Agak terheran, tapi aku pikir mamak sangat menghargai usahaku yang akhirnya gagal.

“Mamak seneng bukan main endok pulang. Beberapa hari setelah keberangkatan endok mamak sakit, badan meriang tapi nggak sembuh-sembuh” kata mamak memulai bercerita

“Alhamdulillah. Lhah sekarang masih sakit mak?” tanyaku kepada mamak

“Udah sembuh semenjak lihat endok pulang. Pikiran jadi ayem gitu” kata mamak sambil senyum

“Alhamdulillah. Bentar deh mak, maksud mamak, mamak sakit gara-gara aku gitu?” tanyaku keheranan

Mamak hanya tersenyum. Aku pikir pertanyaan terakhirku sudah terjawab. Juga dengan beberapa pertanyaan yang ada dibenakku sebelum ini. Ridho mamak tidak sampai kepadaku untuk bekerja di luar kota. Mamak ingin melihatku setiap hari setelah aku resmi di wisuda. Aku sempat menolak, terus merengek agar diijinkan bekerja di luar kota dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Keadaan di kotaku tidak begitu mendukung dengan cita-cita yang aku punya.

Setelah itu aku melamar di beberapa perusahaan swasta di kotaku. Alhamdulillah setelah menunggu cukup lama, aku resmi diterima sebagai karyawan kontrak di salah satu perusahaan rokok. Aku pulang dengan membawa kabar gembira untuk mamak. Mamak senang sekali.

“Mamak senang endok udah diterima kerja. Di deket rumah lagi. Jadi mamak ayem bisa lihat endok tiap hari”

“Iya ya mak, alhamdulillah”

Oke baiklah, aku mengalah dengan keadaan. Tidak selalu buruk ketika kita mencoba menurunkan ego demi kebaikan bersama. Keinginanku masih sama, tapi entah kapan terwujud aku percaya Allah akan menunjukkan jalan untukku. Hatiku sudah sangat bahagia melihat mamak merasa ayem. Aku harap setelah ini mamak bisa sehat terus. Setidaknya keberadaanku di dekat mamak bisa meringankan pikiran mamak.

Tapi mamak begitu lagi, murung lagi. Apalagi setiap aku berpamitan main ke luar kota. Padahal Cuma pergi sehari doang, membayar rindu bersama teman-teman. Tapi sumringah kembali setiap kali aku menyampaikan bahwa rencanaku ke luar kota gagal.

“Mamak seneng banget endok nggak jadi pergi ke luar kota. Pikiran mamak jadi ayem. Mamak kepikiran endok, diluar kan hujan. Takut ada apa-apa”.

Aku diam terperangah. Harusnya aku bisa mengerti bagaimana cara menenangkan mamak. Sederhana tapi ya begitu. Masih kurang sesuai seperti yang aku mau. Ya, memang setiap orang memiliki cara untuk menyampaikan rasa sayangnya. Kadang diterima dengan baik, kadang diterima dengan terpaksa, atau bahkan kadang ditolak mentah-mentah. Percayalah, tidak ada hati yang benar-benar dalam keadaan baik.

Satu lagi yang membuatku haru setiap berbincang dengan mamak. Belajar dari pengalaman, ada banyak trauma yang menghantui mamak. Apalagi menyaksikan anak perawannya tumbuh dengan umur yang semakin bertambah. Ada beberapa pesan dari mamak untukku.

“Nggak usah buru-buru ndok. Jodoh nggak akan kemana. Mamak doakan semoga kelak jodohmu adalah seseorang yang benar-benar sayang sama endok. Biar penderitaan seperti ini cukup berhenti di mamak aja”

Rasanya ingin ku peluk mamak dengan erat. Tapi lagi-lagi mamak bukanlah sosok yang menyukai sebuah pelukan. Rasa inginku menjadi sebatas angan. Setiap aku menginginkannya aku memejamkan mata dan membayangkan mamak memelukku dengan erat sambil senyum. Aku rasa ini lebih baik, daripada aku harus mengabaikan rasa inginku begitu saja.

Mamak selalu kuat setiap memeberikan wejangan kepada anak-anaknya. Aku juga. Tidak menangis sama sekali. Keberatan gengsi, takut malu ketahuan nangis di depan mamak. Mamak tidak tahu, ada banyak air mata yang aku habiskan untuk meratap. Dan ini adalah salah sekian alasan kenapa aku lebih memilih pergi jauh ketimbang harus berada di dekat mamak. Dulu waktu masih kuliah di luar kota, setiap sedih aku menangis sesenggukan sendiri di dalam kamar. Tidak ada yang tahu, kecuali setelah keluar kamar dan teman-temanku melihat mata sembabku. Tidak apa-apa, setidaknya tidak ada lagi yang aku pendam. Sekarang tidak lagi, keberadaanku di dekat mamak telah menuntutku untuk menjadi lebih kuat. Aku jadi jarang menangis, kecuali ketika rumah sedang kosong dan hanya ada aku di dalamnya.

Mamak adalah wanita terhebat kepunyaanku. Mamak adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal. Mendekat mak, akan ku temani menuju taman surgawi. Aku tak punya cara lain untuk berbakti kepadamu selain menuruti keinginan-keinginan sederhanamu sebelum lelakiku datang dan memintaku darimu dan juga Bapak. Termasuk mau terlihat setiap hari dihadapan mamak.

Tidak banyak yang bisa aku perbuat. Bahkan bahagia yang sekarang masih ku upayakan untukmu tak akan mempu membayar pengorbanan mamak. Satu yang ku mintakan selalu kepada Allah untukmu mak, semoga berkah hidup selalu terlimpah untukmu dan surga firdaus menjadi istana terakhirmu kelak. Beribu terimakasih ku persembahkan untukmu. Jadilah kuat selalu, mamak hebat.

Terimakasih untuk usahamu menjadi tabah. Terimakasih untuk semua doa terbaik yang pernah kau harturkan untukku. Semoga Allah selalu membukakan pintu-pintu surga-Nya untukmu mak.

Salam sayang dari endok

Senin, 03 Desember 2018

Klinik Kecantikan

Beberapa orang menganggapnya biasa, beberapa lagi menggapnya luar biasa. Beberapa orang menikmatinya, beberapa lagi ingin cepat meninggalkannya. Ya, klinik kecantikan, sebuah bengkel tempat wajah dan beberapa bagian tubuh di manjakan, diperbaharui, dan dijadikan lebih baik. Aku sependapat, tapi tidak selamanya begitu.
Sebulan yang lalu, aku kesana, membuang bercak-bercak kecil di wajahku. Ini kali kedua bagiku ke sana. 9 bulan sebelum ini, aku memberanikan diri dan merelakan sebagian tabunganku untuk terpakai disana.

Jerawat di wajahku cukup parah. Hampir setiap hari orang-orang tersayangku menyayangkan keadaanku. Sebenanya aku sendiri juga, tapi waktu itu aku belum terlalu menganggap itu serius. Sampai pada akhirnya aku merasakan puncak dari rasa ketidaknyamanan di bagian wajah. Jerawat di wajahku semakin parah, sedang tanganku semakin tak terkendali untuk tidak memegangnya.

Aku datang ke salah satu klinik kecantikan yang ada di kotaku. Lumayan jauh, sekitar 30 menit dari rumahku. Aku berangkat dengan temanku. Dia sudah lebih dulu merasakan perawatan disana.
Setengah jam menunggu, akhirnya aku masuk ruang tindakan. Menyampaikan banyak keluhan ke pada dokter dan kemudian wajahku di masukkan ke dalam sebuah mesin. Aku kurang paham nama mesinnya, tapi setelah wajahku masuk, semua masalah terdeteksi. Wajahku sangat berminyak dan pori-poriku besar, jadi banyakk tumbuh jerawat. Kata dokter ini bukan faktor genetik, tapi hanya karena hormon.

Mamakku sering mengeluhkan keadaan wajahku. Mamak bilang Mamak dan Bapak dulu waktu muda tidak pernah berjerawat. Aku pasrah saja kalo sudah begini. Ternyata memang bukan karena faktor genetik, tapi karena hormon. Asupan makanku memang kacau sekali. Apa saja ku makan, termasuk gorengan, kacang-kacangan, coklat, makanan bersantan, dan banyak lagi. Semuanya ternyata menjadi pantangan, dan sekarang aku harus mempertimbangkan untuk memakan itu semua.

Aku sudah merebahkan badan di atas tempat tindakan. Dokter sudah mempersiapkan segala alat dan bahan untuk melakukan eksekusi. Proses yang dijalankan adalah Couter, dokter bilang jerawatku tidak akan sembuh jika hanya diberi tindakan peeling apalagi sekedar facial. Jenis jerawat yang ku punya adalah jerawat batu. Tidak begitu besar, tapi untuk menghilangkannya butuh proses yang lebih.
Pisau kecil bertenaga listrik sudah dihadapkan di atas wajahku. Perlahan pisau diarahkan ke jerawatku, kemudian jerawat itu dipaksa keluar dengan menggunakan satu alat untuk mengeluarkan jerawat. Rasanya sakit, seperti disetrum pake raket listrik. Dokter bilang aku tidak boleh banyak gerakan, supaya bekas lukanya tidak melebar. Aku manut saja, tidak bergerak tapi agak teriak. Mataku basah, aku menangis menahan sakit sedangkan temanku menertawakan ku. Dia sama sekali tidak bercerita tentang ini, tentang sakit yang bertubi-tubi. 

Bersyukurlah wahai pembaca, bersyukurlah wahai kalian yang memiliki kulit wajah mulus bebas jerawat. Bersyukurlah karena kalian tidak harus datang dan menikmati proses di klinik kecantikan. Percayalah, masuk ke klinik kecantikan bukanlah sebuah pencapaian yang membahagiakan. Selain isi dompetmu terkuras, kalian akan merasakan kesakitan yang hanya kalian saja yang merasakan. Orang lain tidak akan mengerti bagaimana rasanya. Mereka hanya akan menertawakanmu dan menghiburmu sejenak. Selebihnya hanya keberuntunganmu.

Jangan melulu menyinggung persoalan jerawat, kalian tidak paham bagaimana mereka yang berjerawat begitu ingin memiliki wajah seperti apa yang kalian inginkan. Ada banyak diantara mereka yang begitu berkeinginan bebas dari jerawat tapi masih bergelut dengan keluhan masing-masing, bisa jadi masalah ekonomi, atau bahkan karena takut sakit. Aku juga, dulu pas belum kerja bermasalah sama ekonomi, setelah bekerja masalah ku berubah. Aku berulang kali ketakutan merasakan sakit, tapi karena keinginanku yang menguat, aku jadi mau kesana dan masuk ruang tindakan.

Sekarang sudah setahun, wajahku sudah tidak berjerawat lagi, kecuali karena datang bulan. Akan ada jerawat yang muncul, tapi kata dokter itu sesuatu yang wajar. Terakhir aku datang ke klinik, dokter merekomendasikan kepadaku untuk pindah menggunakan cream whitening. Sekarang alhamdulillah semuanya membaik.

Sekian cerita hari ini. Semoga senyum mengembang tetap bisa menghiasimu wajahmu. Aku menyayangimu dari jauh.

Senin, 29 Oktober 2018

Tidak Ada Niat Lain, Selain Beruntung Memilikimu


Aku ingin menjadi tempatmu kembali

Meskipun hanya akan kau temui di penghujung hari

Aku ingin menjadi tempatmu kembali

Mendengar cerita dan rencanamu perihal apapun yang terjadi setiap hari


Aku ingin menjadi tempamu kembali

Sekedar menyeka air mata yang kau tahan selama sehari

Aku ingin menjadi tempatmu kembali

Ingin ku nikmati senyummu sepanjang hari


Aku akan selalu menunggu

Di balik pintu berwarna biru

Dengan mengenakan piyama berwarna abu-abu

Sambil membaca buku-buku


Aku akan selalu menunggu

Sampai waktu itu benar datang kepadaku

Dan kita benar bertemu

Selanjutnya kita habiskan bersama di banyak waktu


Aku ingin menjadi seperti itu

Menjadikanmu bahagia sepanjang waktu

Aku ingin menjadi seperti itu

Selalu bersamamu sepanjang waktu


Aku ingin menjadi seperti itu

Tertawa denganmu karena sesuatu yang mungkin saja lucu

Aku ingin menjadi seperti itu

Menjadi wanita yang paling bahagia karena telah berhasil memilikimu


Dariku, seseorang yang bercerita sebagai aku

CERITA TENTANG GAGANG SAPU


Picture by : Google

AKU PUNYA NIAT TERSELUBUNG
Gagang sapu pernah melayang ke punggung
Gara-gara qira’ah mendengung, sedang aku asyik saja mengurung diri disalah satu ruangan sebuah gedung
Pura-pura saja aku tidur, padahal aku punya maksud terselubung
Seseorang di luar tempatku terdengar memanggilku dengan merdu, indah sekali seperti kidung
Suaranya khas, membuatku seketika menjadi murung
Tapi aku masih saja diam mematung
Tapi perlahan aku mulai terusik, mulai terbangun dan mulai merasa bingung

AKU MULAI TIDAK BAHAGIA
Pintu kamarku mulai terbuka
Terdengar harmonis penuh dengan estetika
Aku mulai menutup telinga
Mulai takut menerima murka
Suara langkah kaki itu terdengar mulai mendekat saja
Aku semakin kehilangan rasa bahagia
Segera saja ku mulai sandiwara
Naas saja semuanya menjadi malapetaka

AKU MERASAKAN SAKIT DI PUNGGUNG
Pria itu bilang aku harus mau berangkat ke perbatasan kampung
Katanya, biar aku bisa belajar jadi orang yang agung
Juga supaya menjadi orang yang beruntung
Tapi pikirku langit sedang mendung
Aku jadi malas bertarung dengan sampah jalanan yang mengapung
Tapi dia sama sekali tak menghiraukan alasan yang telah ku buat sampai menggunung
Pria itu mulai memposisikan tangannya di kayu bagian ujung
Kayu itu mulai melayang ke arakhku, tepat sekali di bagian punggung
Aku merasakan itu, aku dipentung
Dan bodohnya aku hanya bisa mematung
Hanya merengek sambil melindungi punggung
Ahh rasanya sakit sekali di punggung
Membuatku merasa seperti menerima hukuman pancung
Aku mencari tempat berlindung sambil menangis bersenandung
Bukan pop apalagi dangdut, hanya seperti mendendangkan tembang pocung
Bahkan wanita itu hanya diam termenung
Benar-benar tidak ada lagi tempatku bernaung
Apalagi sekedar menemukan orang yang bersedia mendengarku berteriak tulung

KARENAMU, AKU MENJADI PEMENANG ULUNG
Luka di punggung masih terlihat saja
Rapat tersimpan dalam balutan kaos lengan panjang berwarna biru tua
Sakitnya telah hilang entah kemana
Tinggal bekasnya yang enggan sirna
Sekarang aku sedang sibuk termenung
Ditemani seduhan kopi di sebuah warung
Juga seorang pria yang datang tanpa rasa canggung
Dengan membawa  tumis pedas berbahan dasar kangkung
Luka dipunggung telah membuatku beruntung
Selalu membuat merasa menang menjadi seorang petarung
Membuatku selalu ingin menjadi seorang pelindung
Kenal saja, akulah sang pemenang ulung

Aku adalah Aku

Aku adalah aku. Aku adalah diriku. Cantik, jelek, baik, buruk, pendek, tinggi, lembut atau kasar sekalipun aku tetaplah aku. Itu aku, itu diriku, dan itu kepunyaanku. Aku sering menolak menjadi aku, tapi aku tetaplah harus menerima keadaan bahwa ternyata memang aku adalah aku. Allah menciptakan aku untuk menjadi aku. Aku harus bersyukur atas itu. Aku hanya perlu mencintai kelebihan dan kelemahanku untuk mau menjadi aku. Aku hanya perlu bersedia berkawan dengan segala macam keadaan yang menghampiriku. Aku hanya perlu belajar beberapa sesuatu dari dirimu untuk tetap menjadi aku. Aku tak akan mau menjadi sepertimu, karena kau bukan aku. Aku tahu berat menjadi kau, itu bukan porsiku. Kau juga akan mengatakan hal yang sama sepertiku. Aku hanya perlu menjadi diriku untuk menjadi aku. Aku tetaplah akan menjadi aku dan kau harus tau itu.

Aku adalah motivasiku. Aku adalah semangatku. Aku senang bergantung kepada diriku sendiri dan kepada Rabb-Ku. Semuanya tergantung kepadaku dan persetujuan Rabb-ku pastinya. Akulah aktor utama dalam kisahku. Terimakasih untuk segala hal yang pernah kau utarakan padaku, sangat berharga, aku menyukainya. Jangan menganggapku tak pernah mempertimbangkan nasehatmu. Aku mendengarkanmu, mempertimbangan masukanmu, dan mengambil keputusan atas pemikiranku. Aku yang menjalani kehidupanku, aku tahu bagaimana aku harus menuju, dan terimakasih telah sudi memberikan sedikit perhatianmu kepadaku. Jangan lelah menyampaikan apapun kepadaku, percaya saja entah kapan, dalam keadaan yang bagaimana, dan untuk siapa saja, sepatah sekian patah katamu akan menjadi sesuatu yang berguna.

Aku mengagumi beberapa hal dari dirimu dan beberapa dari orang-orang yang aku kagumi, tapi aku tak akan berpaling untuk tetap menjadi aku. Sayangnya aku akan tetap sayang menjadi sepertiku, kapanpun dan dimanapun. Ingat-ingat itu. Aku rasa di luar sana banyak yang menginginkan menjadi sepertiku dan mungkin salah satunya adalah kau pembaca kisah usangku. Cintai dirimu dan akan kau dapati makna dari kata syukur lengkap dengan keberuntungan yang  sudah kau dapat.

Aku ini satu dan tak akan ada yang lain daripada aku. Salah satu ciptaan Allah yang sempurna, karena aku termasuk golongan manusia. Pemilik kisah usang yang sedang berusaha berhasil menuliskan kisahnya dalam salah satu kutipan yang berjudul “Aku adalah Aku”. Sebuah cara meyakinkan diri untuk mencintai diri sendiri di tengah-tengah kehampaan diri. Akulah sang pemilik cerita itu dan kali ini kau boleh tau tentang itu. Kisah usangku akan ku mulai dan aku akan mempersilahkanmu membaca dan sekaligus menilai. Nilai saja, jangan kau hakimi biar suatu saat nanti bisa aku perbaiki menjadi lebih baik lagi.

Aku mencintai karyaku karena itu buatanku. Aku mencoba mencintainya seperti aku mencoba mencintai diriku yang akan tetap menjadi aku. Aku akan terus berusaha berkarya, biar semuanya tau bahwa aku  adalah aku di beberapa penggalan kisah usang itu. Jangan sibuk memikirkan bagaimana aku. Nikmati hidupmu dengan menjadi dirimu sendiri dan aku akan menikmati hidupku sebagai diriku sendiri.

Temui aku dalam diriku, tegur aku sebagai aku, dan tolong mengerti saja, setelah kau utarakan harus bagaimana seharusnya aku menjadi aku. Aku adalah diri yang menobatkan diri sebagai penanti nasehat hangat darimu. Aku senang bila kau mau, aku senang bila akhirnya kau bersedia. Biar aku tau, ada yang kurang pas dari diriku saat aku menjadi aku yang dulu. Biar aku bisa mencerna segala pemikiranmu, dan biar aku bisa menjadi aku yang baru, yang lebih terasa pas di kehidupan ini. Tapi satu yang perlu kau ingat, terus dan terus. Aku adalah aku. 

Rabu, 24 Oktober 2018

Dimana Saja, Asal Sama Dia, Semua Berujung Sama, Masih Saja Tentangnya

Angin malam masih sama, berhembus kemana-mana dengan kondisi yang sama. Dingin, begitulah rasanya semenjak sore tadi. Sekarang aku sedang berada di tepi jalan, sedang menikmati sushi dan segelas green tea bersama gadis cantik teman masa kecilku. Dibatas kota kretek tercinta kami, kami sering berbagi apa saja yang kami punya. Uang, sepotong roti, isi novel, kisah, dan apa saja. Dia masih sama, perempuan, agak tinggi daripada aku, dan tidak lebih tua daripada aku. Hampir mirip, kami sama-sama memakai kacamata dan sering foto berdua dengan pose yang sama. Gaya bicara dan style baju juga hampir sama. Ya beginilah, gayaku sering ditirunya dan kadang aku juga melakukannya.

Malam ini adalah malam minggu pertama di bulan oktober. Seperti biasa, kami pergi bersama menuju salah satu sudut kota untuk sekedar menikmati makan bersama. Tidak ada yang istimewa, hanya makan saja. Tidak lama, hanya beberapa jam saja. Pun tidak jauh, hanya di dalam kota saja.

Sekarang giliran aku yang mentraktir dia. Minggu lalu sudah dia, aku pikir aku harus tau diri, jadi kali ini aku tidak mau merepotkannya. Kebetulan beberapa waktu yang lalu gaji bulanan sudah masuk ke kantongku. Kebetulan jalan-jalan kali ini juga sudah masuk agenda, jadi anggaran dana sudah terancang dengan baik. Semoga keadaan tak membuatku khilaf berlebih.

Seperti biasa, kami beradu argumen sebelum akhirnya memilih tempat mana yang akan kami kunjungi.

"Jadi kita jadi kemana nih?" tanyaku memulai percakapan

"Terserah, aku manut laa" katanya pasrah

"Pilih gih, aku sedang ingin memberikan pilihan kepadamu" kataku menegaskan

"Hmmm ke sushi, ke ikki, ke jank-jank, kfc, sumur apa kemana ya?" katanya

"Terserah, kang ojeknya sekarang kan kamu. Pokoknya sekarang aku sedang tidak ingin memilih. Titikk"" kataku lagi

"Ya udah deh, ayo naik" katanya

"Jadi kemana emang?" tanyaku

"Naik aja dulu, nanti juga tau

Akhirnya kami berangkat tanpa tau tujuan. Tidak hanya sekali, kami seperti ini berkali-kali dan tetap pulang dengan kondisi yang menyenangkan hati. Ada saja yang menyatukan kami, padahal sangat banyak perbedaan diantara kami. Keluarga, teman, pendidikan, kerjaan, masa depan dambaan dan apa saja. Aku banyak merasa beruntung daripada dia dalam beberapa hal, tapi kadang aku juga merasa tak seberuntung dia. Dia sama, merasakan yang sama sepertiku, tapi dalam hal yang lain.

Kadang kami saling menertawakan keluhan kami masing-masing. Dia mengeluh aku ketawa, aku ketawa dia mengeluh. Ya begini ini, harus ada yang mempu menampung keluh. Aku bersyukur, masih diamanahi untuk bisa memilikinya. Dia hanya satu di dunia, tidak ada duplikat dan tidak bisa diduplikat. Tapi dia bisa bekembang biak. Kelak akan ada ponakan-ponakan sholeh sholehah yang akan dia persembahkan untukku. Anak-anaknya akan menjadi keponakanku dan aku akan memiliki peran sebagai bibi.

 Terlalu banyak yang aku anggap bukan apa-apa dari ceritanya daripada apa saja yang pernah aku alami. Setelah melewati garis takdir sampai detik ini, aku merasa menjadi sangat kuat apalagi hanya sekedar menghadapi ini itu. Allah telah mengajarkanku sesuatu, bahwa tidak ada yang tidak bisa dilewati hamba-Nya selagi hamba itu mau berjuang dan menyerahkan segalanya kepada-Nya tanpa bertanya kenapa. Aku masih belajar bagaimana menjadi baik, menjadi pribadi yang lembut, berhati peri, dan menjadi hamba yang taat. Aku masih mencari pintu surgaku, aku selalu meminta kepada Rabbi supaya aku dimampukan menemukan beberapa cara untuk  bisa berhasil ke surga firdaus. Jalan menuju surga tak terhitung banyaknya, aku ingin satu saja untuk bisa menuju sana. Ya, satu untukku, satu untuk Bapak, satu untuk Mamak, satu untuk Enang, satu untuk Suami, beberapa untuk putra putriku, dan beberapa lagi untuk sahabat surgaku.

Tidak banyak bahasan berfaedah yang kami bicarakan sembari mendengarkan keluhan masing-masing. Tapi selalu ada satu bahasan yang entah kenapa selalu kami bicarakan. Tidak sengaja, tapi selalu berjaya.

"Mereka kemarin piknik ke Bandung ya, rame banget, jadi pengen deh"

"Istigfar ehhh"

"Pengen ke Bandung lhoh, bagus, seger, ijo, adem, bagus deh pokoknya. Kamu si belum pernah hmmm"

"Ohhh kirain hahaha"

"Kirain apa? Bilang ke aku cepet"

"Nggak ah, takut kamu seneng"

"Woooo" (sambil nonyor helm dia)

Awal bahasan yang seru bukan? Bahkan tanpa menyebut inisial nama, kami sudah sangat mengerti dengan semua itu. Aneh, tapi ya begitu adanya.

Sekarang kami sudah sampai di Eijitai, tempat makan bermenu sushi kesukaan kami. Tidak mewah, tidak mahal, pun tidak mengecewakan. Tepi jalan menuju batas kota sangat memanjakan kami menikmati apapun yang ada.

"Bong"

"Oeeyyy"

"Gantengnya bong, lihat dong lihat"

"Paan seh? (belum noleh, masih asyik ngegame)

"Lihat dulu dong, keburu nyesel cepet"

"Nggak penting awas ya"

"Ketagihan awas ya"

Aku memalingkan pandanganku ke layar HP nya. Aku mulai tidak kuat menahan malu, aku mulai tertawa dan mulai melihat wajah illfellnya.

"Senyum-senyum wooooo"

"Rame cuy, pengen nyusul. Lihatin lagi dong akakak"

"Tuuu kan ketagihan kan hmmm"

"Ya Allah, aku tuu nggak kuat tahu. Nggak kuat buka sendiri, kuota ada tapi signalnya subhanallah"

"Alesan ya alesan"

"Kagak boss, beneran"

Aku butuh merayunya lagi, lebih dari sekali, dan harus bekali-kali. Tapi aku berhasil, aku menang, dan aku melihat postingan itu lagi. Ya, aku sudah lihai mengatasi ini semua dan dia sudah terlalu luluh dengan rayuanku.

"Cuy"

"Oeyyyy"

"Cuy"

"Hmmmm"

"Cuy"

"Apaan si bong?"

"Kamu ga kangen sesuatu?"

(Dia senyum-senyum sampe mringis) "Hmmmm"

"Oke stop, kesimpulan sudah ku ambil. Fiks kamu kangen"

"Idihhh kalau ngomong suka kebeneran sii"

"Ya dong. Aku gitu. Pengamat ulungmu"

"Ahhh i-bong sweet deh. Peluk dulu, sini peluk"

"No thanks, kamu bau polusi, jauh jauh luuu"

"Ya udah, aku meluk yang lain aja deh"

"Mau meluk siapa coba. Meluk tiang, apa meluk pohon? Haaaa?"

"Meluk kenangan terindah dong hahaha"

Kami tertawa bersama tanpa mempedulikan sesama dan mengkhayalkan sesuatu yang sama. Kalau ada kata-kata yang sering terkesan mempermalukan diri sendiri, itulah kami. Saling merendah diantara sesuatu yang rendah.

"Biasanya jam segini dia nelpon ya kan? Sambat capek terus minta di elus-elus jauh gitu"

"Biasanya jam segini dia cerita sama nanya seharian ngapain aja"

"Biasanya jam segini dia ngomongin masa depan sambil ngayal yang bukan-bukan gitu"

"Yang bukan-bukan katamu. Hmmm bener-bener-bener"

"Aku suka kangen diceritain tentang ayah bundanya, mereka lucu, sweett dan hmmm pokoknya buat aku jatuh cinta gitu deh. Sangat menginspirasi sekali. Andaiiiiiiii"

"Stopp aku tau yang ada di isi kepalamu. Stopp aku bilang stopp"

"Idih belum kelar mblo"

"Biarin mblo. Aku kangen ditenangin, dia dewasa, aku suka"

"Aku pernah kali ditelpon jam 3 pagi, dikecup-kecup keningku sampe aku bangun. Katanya "bangun beb, tahajuddan dulu gih". Aku udah melek padahal tapi aku belagak masih merem gitu, katanya lagi "besok nii ya, kalau dah beneran jadi istri, kamu aku bangunin nggak bangun-bangun, bakalan aku kecup sampe kamu bangun, terus kita tahajud bareng deh". Dan aku cuma senyum-senyum hmmmm. Baper uee baper"

"Udah bong, nggak kuat ngakak, udah"

"Akakak suka kebayang lagi, tapi suka sadar diri kalau ini cuma sebuah ilusi. Perih cuy perih"

"Masa lalu biarlah masa lalu"

"Bad voice. Diem luuu"

"Idihh jujur amat si"

"Biarin. Udah, abisin cepet"

"Kenyang bong. Bantuin"

"Segini kagak abis, hmmm sini deh aku bantuin. Tapi lain kali abisin sendiri ya, kecuali kalo kamu kekenyangan boleh minta bantuanku lagi"

"Yeeee maunya hmmm"

Akan ada bahasan yang sama. Seperti yang ku ceritakan, entah awal membahas apa, hembusan angin tetap mengarah kearah yang sama. Sudah mencoba menghindar, tapi rasanya berat, kami masih saja terjebak di kisah yang lama.

Hidangan pesanan kami sudah tinggal piring, sumpit dan gelas kosong. Kami beranjak pergi dari sana dan kemudian memutuskan untuk pulang. Angin tetap begini, berhembus kemana saja dan mendinginkan suasana.

"Ngomong-ngomong nih ya, kok kita jadi ngebahas ini lagi si?"

"Tau tuu, kamu si suka kangen hhhmm"

"Kamu tuu suka pasang umpan, kan aku jadi kepancing akakak"

"Bakal ada kisah lanjutan nggak ya kira-kira?"

"Insyaallah, aku bantu deh. Bantu doa akakak"

Kami saling memandang, saling menenangkan, saling menertawakan dan saling mendoakan. Sambil saling bully, sambil saling usil-usilan, sambil saling berpelukan. Ahhhhhh

"Kira-kira aku sama Mas itu bakal ketemu nggak ya cuy?"

"Insyaallah bong. Aku selalu doain kamu biar Allah ngasih kesempatan kalian ketemu. Kan kalau kalian ketemu, aku juga bakal ketemu sama Mas hmmm"

"Aamiin Ya Allah. Makasih lhoh cuy, kamu baik hati deh"

"Ya dong, siapa dulu dong temennya?"

"Akulah, siapa lagi coba"

"Kamu, iya kamu. Tapi bukan kamu"

"Bukan kamu tapi dia"

"Dah stop, mamakku dah di depan rumah tuu. Turun gih"

"Lhoh udah sampe ternyata, padahal baru aja merem"

"Merem sambil senyum-senyum"

"Sambil ngayal yang indah-indah. Masyallah nikmatnya"

"Udah stop, pulang dulu ya. Kapan-kapan ngayal bareng lagi"

"Oke deh, ati-ati temen ngayal"

"Assalamualaikum bong"

"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh cuy"

Kami melanjutkan khayalan kami masing-masing. Di ruang sendiri dan dengan diri sendiri sambil beteman amunisi pribadi. Sebotol minuman (air putih kadang, atau sirup, atau teh, atau apa saja yang ada di rumah) dengan ditemani ragam cemilan dan seduhan air mata sebagai simbol kepasrahan dan harapan.

"Ya Allah, ijabahlah doa hambaMu yang cantik ini Ya Allah, yang masih berlumur dosa dan mengharap dengan sangat penerimaan maaf dari-Mu"

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....