Jumat, 07 Februari 2020

Ketika Kita Tidak Saling Menemukan (Lagi)

Kata kata telah rusak, tidak lagi berbentuk, dan tidak ada lagi yang sudi menjamah. Sebab perannya sudah berubah. Jelmanya telah berubah menjadi api yang saling membakar satu sama lain. Rasanya tidak ada lagi makna dari dialog yang mulai kehilangan rumahnya. Tembok-tembok telah meninggi. Aku merasakan sekat ini semakin ada dan menjadikan kita semakin jauh. Dadaku rasanya penuh, kepalaku pening, aku berjalan pasrah ke tempat biasanya aku merebah.

"Aku benci begini, aku benci jarak, aku benci diam, aku benci kehilangan, aku benci kamu yang tega melakukan, aku benci kita yang tidak bisa saling menemukan" kataku menggerutu.

Pintu-pintu semakin tertutup. Kita mulai kehilangan kewarasan, berteman dengan keheningan, dan mulai mencari pelampiasan lain agar tidak merasa kesepian. Tak ada lagi yang tersisa, meski hanya sekedar menyelesaikan ujung pembicaraan. Jiwa-jiwa kita mulai mati. Dan ya aku pikir kita layak disebut sekarat. Kita telah lebih dulu jatuh pada apa yang masing-masing menjadikan kita angkuh. Kita terjerat, kita tenggelam dalam lautan emosi yang berat.

Oh tidak adakah celah untuk kita duduk melingkar bersama, mengurai sekian tanda tanya, dan kemudian saling memperebutkan sesi untuk menjawabnya?
Tidak adakah lagi ruang di masing-masing hati kita yang sempat larut dalam satu kasih sayang yang sama ini?
Tidak adakah?
Hei.
Jawablah.
Aku mohon jawablah
Aku bertanya kepadamu.
Atau ya kepada siapa saja kalian yang telah sudi membaca ini.

Terlampau kering air mataku meratapi kehilangan ini. Kehilangan yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa kembali menemukan. Sudah lebih dari sekali, aku takut kita tidak bisa kembali lagi. Dan ternyata, masing-masing dari kita sudah lama pergi. Kita bahkan telah meninggalkan apa yang belum selesai di antara kita. Aku yang salah (ya mungkin), tapi kau juga (ya tentu saja), atau malah kita yang sama-sama tak mengakui itu? Ya, begini mungkin lebih tepat. Tapi apapun itu, harusnya kita tetap harus saling menemukan.

Setiap kita adalah petarung. Setiap kita adalah pemenang. Tapi seiring dengan itu, begitulah setiap kita, terlampau bahagia sebagai seorang pecundang yang tidak pernah mengakui kebenarannya. Aku begitu. Aku tidak pernah malu mengakui itu. Aku melakukan itu demi kebahagiaanku. Atau, hei, apa kau juga seperti itu? Haha dasar pecundang.


Hei, kenapa menjadi sesulit ini? Kataku ingin terus melaju, tapi melihatmu tidak lagi menjadikanku begitu. Aku tidak bisa begini. Bertahan dengan diam dan sekian banyak tanda tanya yang tergantung di kepala. Oh aku tidak sekuat itu. Aku tidak setuju dengan kemauanmu yang bersikap seolah-olah seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Bukan begini jiwa seorang pemenang. Pemenang sejati tidak pernah lari dari apa yang menjadikannya tidak enak hati. Dia bertanggung jawab. Dia rela melakukan apa saja bahkan ketika dia tahu bahwa dia harus terluka.

Aku menyadari ketidaknyamananmu. Aku menghargai caramu melindungi dirimu. Aku menghargai keputusanmu. Aku sadar kau berhak penuh atas hidupmu. Tapi aku tidak selalu suka caramu membungkus lika-liku yang datang di kehidupanmu.

Kita sama, berkemungkinan membahagiakan dan ya tentu saja sebaliknya. Kita sama, sudah sepatutnya saling mengingatkan. Kita sama, kita berhak atas apa saja. Kita sama, harusnya kita bisa duduk bersama, menceritakan semuanya, dan menikmati apa saja bersama.

Aku ingin kembali, menghidupkan rumah kita lagi dengan cahaya yang masing-masing kita punya. Aku ingin melihat air mata bahagia, senyum yang apa adanya, caci maki yang menjadikan masing-masing dari kita saling terbuka, juga rencana yang beberapa kali hanya jadi rencana. Aku ingin kembali dekat. Aku ingin segera pulang. 

Terbukalah, terbukalah duhai pintu-pintu rapuh yang sempat kehilangan kunci untuk membukanya.
Terbukalah, terbukalah duhai hati-hati yang sempat mati tanpa meninggalkan arti.
Terbukalah, terbukalah duhai ruang berfikir yang menjadikan jiwa-jiwa tuannya hangat dipeluk gengsi.
Terbukalah, terbukalah pintu surgaku.

Mendekatlah. Kembalilah. Cukupkanlah segala lelah yang sempat singgah di antara kita. Kita harus kembali. Kita harus memperbaiki jiwa kita. Kita harus mengulangnya. Ya tentu saja menjadikan setelahnya lebih baik dari sebelumnya. Lalu kemungkinan aku akan menjatuhkanmu dan kamu akan menjatuhkanku. Ya tentu saja, kita terpaksa harus menikmatinya (jika ternyata harus ada).
Kita harus saling menemukan.
Kita harus bahagia.


Minggu, 02 Februari 2020

Appreciation Post

Tema yang bagus. Apresiasi? Hei ya aku tentu saja aku bingung harus memberikan ini kepada siapa. Orang-orang banyak menyampaikannya kepada bapak, ibu, teman, kekasih, tombol spasi, barang-barang kesayangan, sosial media, debu, udara, dan ya masih banyak lagi pastinya. Tapi aku tidak. Aku pikir akan lebih baik jika kuberikan itu kepada diriku sendiri. Hal-hal lain sudah terlalu sering, diri sendiri malah jarang, atau lebih tepatnya memang sengaja abai. Ahh tapi ya memang sedikit orang menyadari ini. Sering kali niat hati menenangkan diri, tapi sesering mencoba, sesering itu juga gagal menyapa dan malah berakhir memaki. Akhirnya bukannya menerima malah semakin benci. Lucu ya? Ya, aku benci mengakuinya.

Orang-orang benar, bahwa tidak ada yang benar-benar sembuh dari sebuah luka. Orang-orang benar bahwa tidak perlu ada yang dilupakan dari sebuah luka. Semua hanya perlu direlakan. Bukankah jatah dari-Nya selalu menjadi hal terbaik untuk hamba-Nya? Ya, tentu saja aku telah mendapatkannya. Yang aku mau, yang tak pernah aku mau, telah berhasil menjadikanku mau. Sekalipun aku pernah marah, sekalipun aku pernah mencoba lari, tapi akhirnya aku kembali. Aku kembali memeluk diriku sendiri. Aku kembali mengingat apa saja yang sudah ku punya.

"Ini sudah lebih cukup. Harusnya aku bisa lebih menerima setelahnya."kataku menyadari sesuatu.

Ya tentu saja, aku kembali mencintai diriku sendiri. Aku mengingat untuk lebih mencintai-Nya, juga mencintai apa saja yang menjadi pilihan-Nya. Aku bahagia dan aku mulai rela.

Terimakasih duhai diriku. Kamu hebat, sekalipun banyak hal menyebalkan yang kau punya. Kamu sangat hebat, aku juga, kita sama. Nggak papa sesekali sedih, ngomel, nyesel, lemah. Nggak papa. Kadang memang kita butuh itu untuk menjadi seimbang dan juga untuk belajar. Nggak papa. Kita berhak atas itu. Tapi secukupnya saja ya. Nggak perlu lama-lama. Hidup di dunia tuh bentar doang. Sayang kalo nggak dibikin seneng. Ya meskipun di surga sana kita akan selalu bahagia. Ya, semoga kita beruntung sampai ke sana.

Udah ya, nangisnya besok lagi. Kacamatamu udah ngembun tuh, ntar kamu nggak bisa nikmatin semesta raya yang indahnya tiada tara ini lhoh ya.

Udah ya, yuk pasang mantra aja yuk.
"Kita kalo lagi bahagia, ingat pernah sedih. Kita kalo lagi sedih, ingat pernah bahagia. Hidup ini bak lotre. Kalo beruntung kita bakal dapet apa yang kita mau. Tapi kalo ternyata sebaliknya, ya terima aja. Allah selalu tahu apa yang terbaik yang kita butuh. Nggak perlu khawatir berlebih, semua sudah sesuai porsi. Nikmatilah, nikmatilah apa saja yang ada.Ini tidak akan lama. Berbahagialah."
Pelukan dulu yuk. Aku mencintaimu lebih-lebih duhai jiwa raga yang membersamaiku. Aku beruntung memilikimu dan tentu berlaku sebaliknya untukmu. Kita patut bersyukur atas itu. Tenangkan hati, kita pasti akan bahagia, kita berhak bahagia, ya kita akan selalu bahagia. Karena bahagia kita yang punya dan tentu saja kita yang buat itu ada. 
.
.
.
Salam Literasi

Jumat, 31 Januari 2020

G A M A M

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi aku pikir aku bisa membuatmu sedikit mengerti tentang apa yang belakangan ini menjadi kemelut yang hampir membakar diriku sendiri. Ada beda diantara yang sudah ada. Tapi aku tak mengerti, aku susah memahaminya. Ya, mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi entahlah. Aku benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda.

Kemarin aku pulang ke rumah lamaku dan pergi sementara dari rumah yang aku tempati sekarang. Aku berangkat melewati jalanan ramai nan panjang dengan penuh ambisi. Sambil mengendalikan scoopy, aku sibuk merangkai mimpi, juga merapal doa demi kesuksekan pertemuan kali ini. Sesampainya disana, aku disambut sebuah senyuman pada langkah pertama menuju pintu rumah lamaku. Riuh teriakan bahagia hasil perjumpaan terdengar bersahut-sahutan. Aku meraihnya, satu per satu dari kedua tangan yang membentang tanda penantian sebuah pelukan. Lepas, sebagian dari rinduku terhempas. Akhirnya, setelah sekian lama, kami bertemu pada sebuah temu yang nyata. Kami (tampak) bahagia.

Di hari itu aku mencoba menikmati semuanya. Hujan, obrolan, permainan, makanan, dan apapun yang aku usahakan untuk jadi sesuatu yang berkesan. Ah, tapi aku pikir, aku tidak benar-benar melakukannya. Aku tidak benar-benar menikmatinya. Aku tidak benar-benar menemukan sebuah kenyamanan.

Berjalan aku menuju sebuah ruang, tapi kosong. Aku tak menemukan sesuatu yang berkesan. Lalu aku keluar menuju sebuah ruang lain, tapi gelap. Aku hanya menemukan kerumunan sepi. Lalu aku keluar menuju sebuah ruang yang lain. Di sana ramai. Tapi aku malah bingung menjawab kerumunan tanya yang ada di kepalaku. Lalu aku diam. Aku memaksa diri menikmati semua yang ada. Sampai akhirnya lelap, sampai akhirnya aku benar-benar melalui semuanya tanpa pernah lagi bertanya apa dan bagaimana seharusnya.

"Aku merasa ada yang berbeda" kataku di perjalanan pulang.

"Apa?" kata seseorang.

"Aku tidak tahu" kataku memandang lurus.

"Sebenarnya aku juga merasakan" katanya menyahut.

"Apa?" tanyaku.

"Rasanya beda" katanya.

"Kita sama" kataku menyerah.

"Kita tak pernah tahu itu apa" katanya lelah.

Dulu rumah lamaku itu hangat. Dulu pada setiap mereka adalah apa yang aku cari, juga apa yang aku tuju. Dulu ruang-ruang di dalam rumah itu terasa penuh, terang, juga menjadikanku bergairah. Dulu, tapi itu dulu. Dulu, ya aku masih merindukan yang dulu dulu.

Mungkin karena sebab waktu, atau lingkungan, atau bahkan karena sebab yang tidak pernah menjadikan kita sendiri mengerti tentang itu. Beberapa hal memang bisa menjadi sangat rumit tiba-tiba. Padahal harusnya tidak. Padahal harusnya semua sederhana. Padahal seharusnya kita tahu yang sebenarnya.

Aku dingin, aku kosong, aku tidak lagi menemukan apa yang aku mau di rumah lamaku itu. Aku limbung, aku sekarat, tapi aku tak benar-benar tahu apa penyebabnya. Aku ingin lari, aku ingin memantau dari jauh dan mendapatkan kesimpulan atas ini. Tapi diam, aku tak bergerak sama sekali. Sampai saatnya tiba. Sampai akhirnya waktu itu habis bersama dengan pertanyaan yang belum juga ku temukan jawabnya. Sampai di situ aku berhenti bertanya. Sampai akhirnya aku pasrah berkata "setidaknya aku tahu ada beda di antara kita semua".

Ya, kita tidak pernah sampai kepada yang seharusnya.


Salam rindu dariku,
Nona manis yang merindukanmu.

Jumat, 20 Desember 2019

Sudut Ruang Milik Ibuku

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku berpelukan dengannya, menceritakan hari-hari paling menyenangkan dan sekaligus melelahkan atau bahkan menyebalkan yang aku lalui di keseharianku. Tapi meski tidak ada pelukan, hari-hariku dengannya tetap penuh dengan cerita-cerita yang kadang menjadikan gaduh diantara kami. Aku kadang tertawa mendengarkan ceritanya, dia kadang marah mendengar ceritaku. Aku hampir tidak pernah benar dihadapannya, dan dia hampir tidak pernah dihadapanku. Beginilah ceritaku bersama ibuku. Ibu yang tak mau ku panggil "ibu" karena dia bukan pegawai kantoran katanya. Ibu yang tak mau ku panggil "mamah" karena dirasa terlalu wah untuknya yang hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Ibuku hanya mau dipanggil "mamak" oleh anak-anaknya, tapi tidak dengan suaminya. Bapakku sering memanggilnya dengan sebutan "mamah". Ya, terakhir kali aku mempermasalahkan ini, ibuku hanya terdiam dan berkata "Bapakmu udah manggil gitu sejak dari sebelum nikah sama mamak tahu?". Oke baiklah, aku menyerah.

Ibuku berbeda dengan ibu-ibu di seluruh dunia. Ibuku dingin luar biasa, saking dinginnya sampai hatiku jadi hangat setiap berhadapan dengannya. Ibuku tak pernah berkata halus, suaranya keras, sudah terlanjur katanya. Ibuku cerewet, bicaranya tak pernah bisa berhenti sebelum kemauannya dipenuhi. Ibuku minim pelukan, aku menangispun ibuku hanya menyuruhku bersabar. Ibuku seorang pembenci, aku pernah mendengarnya menggerutu begitu hebat dan berkata tidak akan memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Jalan hidupnya begitu pelik, aku sangat mengerti ini. Tapi aku takut, aku tak ingin menyaksikannya pergi dengan hati yang penuh benci. Aku takut tidak bisa bertemu dengannya lagi di surga-Nya Allah kelak. Ibuku aneh, aku sampai tak habis pikir dengan apa yang menjadi keputusanya atau mungkin dengan sesuatu yang sedang dipikirkannya. Kadang aku lama diam hanya karena terpaksa mengiyakan kemauannya.

Tapi ibuku rajin luar biasa, sebelum subuh dapur dan kamar mandi sudah menjadi peraduannya. Ibuku juga mandiri, tak pernah mencoba merepotkan orang lain termasuk aku sebagai anaknya, kecuali dia sedang benar kerepotan dan terhalang sesuatu. Ibuku juga pekerja keras, meski akhir-akhir ini sering mengeluh capek dan sakit. Aku ingat betul waktu bapak pergi entah kemana, mamak bekerja seorang diri menghidupi aku dan adik kecilku yang gendut waktu itu. Tak pernah peduli kotor, tak pernah peduli cuaca, tak pernah peduli capek, tak pernah peduli malu. Ibuku sanggup melakukannya sendiri, tanpa aku perlu membantu. Ibuku juga perempuan yang kuat, dia tak pernah merasa keberatan meski orang-orang banyak menaruh ketidaksukaan dengannya. Ibuku teramat penyayang, setiap hari selalu ada menu-menu makanan penuh cinta dihidangkannya di atas meja makan. Ibuku lihai mengurai sedih menjadi sesuatu yang menjadikannya kuat, aku tak ingat kapan terakhir kali dia menangis setelah sakit hati yang tidak bisa ditahannya lagi waktu itu. Ibuku sangat ramah, teman-temannya mungkin lebih banyak daripada teman-teman yang aku punya. Setiap pergi mengantarkannya, orang-orang begitu akrab dengannya. Aku merasa beruntung memilikinya.

Picture by : G o o g l e
Aku ingat waktu itu, ketika aku masih menjadi gadis kecilnya. Dia ajak aku kemana dia pergi. Dia gendong aku kemanapun kakinya melangkah. Katanya, aku tidak pernah punya siapa-siapa kecuali dia, bapak, juga seorang perempuan paruh baya lebih tua darinya yang selalu membantu menenangkanku ketika aku menangis. Eyangku atau saudara-saudara ayahku tak perduli denganku, tertawa malah menjadi jalan untuk menganggap aku dan ibuku ada. Mereka lucu, aku berharap besar bisa berhubungan akrab dengan mereka semua. Pagi sekali ibu sering mengajakku naik bis trayek ke daerah dekat kecamatan. Aku begitu hangat digendongnya menuju sebuah wartel untuk mencari atau menyampaikan sesuatu kepada bapak. Aku ingat betul bagaimana segarnya udara pagi itu. Sudah tidak seperti sekarang, sudah terkontaminasi.

Rambutku bagus, panjang sekali, tapi agak mengombak. Ibuku mengepangnya begitu rapi. Dibisikannya doa-doa terbaik yang dimilikinya untukku. Aku begitu merindukan semua ini. Sekedar duduk di depannya dan kemudian menikmati sisir yang digerakkan oleh tangan yang mulai keriput itu. Menjadi anak gadisnya membuatku harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan moment itu lagi. Aku bahkan rela tidak memotongkan rambutku ke salon hanya demi mendapatkan belaian lembut darinya di kepalaku yang kadang menjadi sekeras batu ini. Oh aku ingin kembali menjadi gadis kecil itu lagi.

Dan hari ini adalah peringatan hari ibu. Tapi entah kapan aku bisa dengan lantang mengucapkannya kepada ibuku. Mengucapkan selamat ulang tahunpun aku tak pernah. Ibuku bilang tanggal lahirnya yang tertera di KTPnya audah dimanipulasi oleh kakek dan nenekku sewaktu pembuatan akte. Zaman dulu tidak ada pencatatan seperti sekarang ini, bahkan menuliskan apapun oleh mereka adalah dengan cara mengira-ngira.
Ibuku tidak suka sesuatu yang manis. Dia tidak suka sesuatu yang romantis, apalagi diperlakukan dengan begitu istimewa. Ibuku berbeda, aku sudah menjelaskan begitu awal tentang ini kepadamu. Ibuku adalah jiwa yang penuh dengan cinta. Cinta milik ibuku adalah cinta yang berbeda. Berbeda adalah ciri khas ibuku. Ibuku adalah rumah. Rumah bagi jiwa-jiwa yang kadang kosong dan hilang arah.
Walau ibuku adalah rumah yang dingin. Tapi ibuku begitu menghangatkan. Dia adalah sumber dari segala cinta. Cintanya begitu luas dan tak mengenal batas. Sampai jauh aku ingin jatuh begitu dalam kepadanya. Sampai jauh aku ingin terbang begitu tinggi ke arahnya. Sampai jauh aku ingin lari menujunya. Sampai jauh aku ingin selesai dipangkuannya. Sampai jauh, sampai jauh, sampai semua tanda tanya berhenti berseru. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu, IBU. Ijinkan aku memanggilmu "ibu".
Disini, di ruang rahasiaku ini, aku memujamu dengan sungguh.

Selamat hari ibu "Ibu"

Terimakasih untuk apapun yang telah ada. Maaf belum bisa mendengarmu dengan sungguh. Maaf belum bisa memahamimu dengan penuh. Maaf belum bisa jadi yang sepenuhnya kau harapkan. Maaf masih merepotkanmu. Maaf untuk segala salah yang mungkin belum ku sertakan dengan kata maaf yang ku haturkan kepadamu. Satu yang akan menjadi selamanya, kau adalah ibuku dan aku adalah gadis kecilmu. Aku tak akan pernah menjadi dewasa dihadapanmu, aku tahu itu, dan aku yakin kau tak pernah menyadari perlakuanmu padaku atas itu.

You are everything to me mom.
You are my best mother.
I love you so much.

Salam hangat dariku,
Endok

-----------------------------

Salam Literasi


Minggu, 17 November 2019

Tentang Aku dan Sebuah Cermin

Aku termenung menatap bayangan diri. Di depan cerminku aku berdiri, menilai satu per satu kualitas diri. Sesekali terlontar kata-kata penguat diri, tangisku pecah, aku memeluk bayangku sendiri.

"Aku bukan orang yang hobby selingkuh" kataku menjaga jarak. Aku mundur kira-kira 2 langkah dan kemudian kembali menatapnya. "Aku bukan orang yang hobby selingkuh"

"Ya, aku tahu. Kamu bahkan belum pernah memilikinya sebelum aku" katanya mengingatkanku.

"Aku takut meneguk kecewa"

"Dan aku tidak akan pernah melakukan itu"

"Jangan berjanji. Berusahalah"

Aku tak pernah percaya dengan sebuah janji. Rasanya lebih tenang mendengar seseorang mengatakan dirinya akan berusaha, dari pada menebar janji-janji diri yang kebanyakan malah banyak dinodai. Terlalu basi atau lebih tepatnya janji bukan sesuatu yang bernilai spesial lagi. Terlalu banyak yang melakoninya dengan buruk. Aku benci menyaksikan ini.

"Sungguh"

"Aku takut"

"Tidak ada yang menyakitimu"

"Ya, sudah tidak lagi. Dan, semoga tidak akan ada lagi"

"Hei......"

"Tidak ada yang akan benar-benar tahu"

"Lalu?"

"Tidak jadi. Hanya takut sesuatu terulang lagi"

"Tidak akan"

"Ya, semoga kau benar"

Ya, dan aku hampir tidak percaya dengan masa depan. Orang-orang itu? Aku bahkan terlampau egois dan menganggap mereka semua sama. Tidak adil memang, tapi untuk orang-orang yang setipe denganku akan sangat sulit untuk tidak melakukan itu. Kejadian itu begitu menakutkan. Kau yang tidak pernah melakoninya tidak akan tahu benar bagaimana rasanya.

"Percayalah"

"Dan kau?"

"Dan aku?"

"Berjanjilah untuk tidak melakukan itu kepadaku"

Bicara apa aku? Bahkan aku telah secara tidak langsung memintanya berjanji? Padahal, aku sendiri saja sudah tidak percaya janji. Racunku ku teguk sendiri, aku bunuh diri.

"Maksudmu?"

"Bukankah kau adalah cerminan diriku?"

"Tentu saja"

"Bukankah sosok asli dengan sosok yang ada dipantulan cermin itu sama?"

"Tidak ada beda"

"Jadi, kita sepakat?" kataku sambil mengulurkan jabat tangan.

"Untuk?" katanya menyambut uluran jabat tanganku.

"Untuk tetap menjadi bayangan satu sama lain" kataku lirih.

Bagus. Aku telah mengatakannya, tepat di hadapannya. Aku berhasil, aku telah berhasil mengatakannya.

"Aku mendengarnya"

"Harusnya, tidak" kataku menyesal.

"Tapi"

"Apa?"

"Aku tidak akan berjanji. Tapi percayalah, aku akan berusaha"

Ya dia paling tahu apa yang aku mau. Termasuk dengan tidak berjanji perihal apapun. Bukti pertama darinya, dia tidak mengecewakanku. Yang telah ku sampaikan, terpatri benar diingatannya.

"Aku suka itu"

"Aku tahu"

"Dan sekarang?"

"Sekarang? Ada apa?"

"Aku bahagia"

"Aku? Tidak begitu"

"Tapi?"

"Lebih dari apa yang kamu rasakan. Aku beruntung"

Senyumnya begitu manis. Aku terpaut, tenggelam dalam romansa jatuh cinta yang begitu indah. Kalau aku benar berhasil memilikinya, tidak ku biarkan apapun meniadakannya. Senyuman itu, biar jadi alasanku jatuh cinta kepadanya. Kepada dia yang telah berjanji tidak akan pernah berjanji lagi.

"Aku tahu"

"Tapi kamu ragu"

"Sudah tidak lagi. Aku sudah menemukan apa yang aku mau"

Tidak sesempurna yang ku mau, tapi sepertinya dia cukup untuk menjadi apa yang aku butuh. Bukankah ini lebih dari cukup? Tentu saja.

"Kau percaya padaku?"

"Aku berusaha. Dan semoga kau tidak mengecewakanku"

Aku mendekat, dia juga. Kami sama-sama mendekat. Dan peluknya ku rasakan begitu hangat. Aku nyaman merebah ke dada bidangnya.

"Aku butuh doamu"

"Pasti"

"Juga percayamu"

"Itu juga"

"Akankah aku berhasil?"

"Apa?"

"Membahagiakanmu"

"Dan ayah bundamu"

"Tentu"

"Jika kau mau. Allah tahu apa yang menjadi inginmu"

"Terimakasih bidadariku"

"Kembali kasih tuanku"

"Aku mencintaimu"

"Aku lebih mencintaimu karena-Nya"

"Aku tahu aku tidak akan pernah menjadi yang pertama"

"Tak apa, kau tetap yang utama setelah-Nya"

Pelukan itu selesai, tepat setelah kecup lembutnya mendarat di keningku. Tangisku mereda. Lalu aku meringankan langkah. Aku pergi, jauh, semakin jauh dari cerminku. Aku takut, setakut ini untuk membuka lagi ruang percaya. Aku sulit, sesulit itu menutup luka lama, bahkan atas apa saja yang aku sendiri belum pernah melakukannya.

Tapi usai, aku selesai dan berakhir dengan kata rela. Meski ragu, perlahan ruangku terbuka. Aku telah mencoba, aku berlari, aku menyusuri lorong-lorong kehidupan ini, aku mencari bayangku, aku mencarinya, siapa saja yang akan menjadi cintaku.

Oh Tuan, dimanakah kau?

Aku mencarimu.

---------------------------------------------------------

Salam Literasi

Jumat, 25 Oktober 2019

Si Cantik, Penghuni Balkon Lantai Atas

Aku baru saja sampai di depan gerbang kosku. Seseorang memanggilku "Hai phen".

Seorang perempuan sebayaku melambaikan tangan dari balkon lantai paling atas. Dia berdua dengan teman sekamarku. Mereka tersenyum kepadaku.

"Oh hai mak" kataku.

"Tunggu, aku butuh bantuanmu. Sebentar, aku turun" katanya tergesa.

Elma (begini aku memanggilnya akrab) berjalan setengah lari menuruni anak tangga menujuku. Rahma (teman sekamarku) masih memandangiku sambil tersenyum dari atas balkon.

"Rapi sekali. Mau kemana dia?" kataku membatin.

Elma baru saja membuka gerbang kos dan berlari ke arahku "Antarkan aku ke Tembalang Stationary ya phen. Ada yg ingin ku beli disana".

"Oke, ayo cuss" kataku.

"Sebentar, aku kunci gerbang dulu" katanya.

Aku memutar arah motor dan kami berdua berangkat. Waktu itu sudah sore, bahkan menjelang magrib. Kebetulan hari itu kuliahku masuk siang, jadi sore baru selesai. Maklum, kuliah di Politeknik jauh berbeda di Universitas. Jam kuliah sama saja seperti jam sekolah anak SMA. Aku hampir tidak menemukan perbedaanya, kecuali statusku yang semula siswa menjadi mahasiswa. Haha.

"Rahma mau kemana mak?" kataku kepo.

"Rahma? Dia belajar di kamar. Besok ada kuis katanya" jawabnya.

"Bercanda kamu mak. Tadi dia di balkon bareng kamu. Rapi banget, ku kira mau kemana" kataku heran.

"Ada tuh kamu yg ngelawak. Aku di balkon sendirian yo, Rahma belajar di kamar. Aku dari sana sebelum meneriakimu" katanya panjang.

"Enggak yo, tadi dia di sampingmu tauk mak. Senyum-senyum gitu ke aku, mana cantik banget lagi" kataku ngeyel.

"Ya Allah phen, ngapain aku boong si" katanya menyerah.

"Lhah terus tadi yang aku lihat siapa dong mak?" kataku bertanya-tanya.

"Jangan-jangan.........." katanya menggoda.

"Stop, diam kau" kataku ketakutan.

"Hahaha enggak enggak phen, bercanda tauk"

Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat yang Elma maksud. Dia masuk sendiri ke Tembalang Stationary, sedangkan aku memutuskan menunggu di parkiran sambil terus mencari jawaban atas pertanyaanku tadi.

"Dihh, kalau bukan Rahma jadi siapa tadi yang ku lihat?" kataku sebal.

Elma kembali setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan. Beberapa lembar kertas berwarna, spidol, dan alat tulis apa entah. Dia memang suka sekali berkreasi dengan kertas-kertas berwarna kesayangannya. Kamarnya ramai sekali, madingnya apalagi. Andai kamarku adalah kamar yang ku tempati sendiri, akan ku buta kamarku lebih ramai dari kamarnya.

Dari Tembalang Stationary, kami langsung pulang. Dia membuka gerbang setelah kami sampai di depan kos dan aku memakirkan motorku. Setelah terparkir, aku langsung naik menuju lantai paling atas. Kamarku ada di lantai 4 paling pojok, di dekat dapur. Kamar paling luas yang menjadi kamar satu-satunya di kosku yang dihuni sekamar berdua.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam, tumben udah pulang phen?" tanyanya.

"Semprul lu. Eh bear, kamu tadi di balkon rapi amat mau kemana emang?"

"Di balkon? Enggak. Aku di kamar dari sejak pulang kuliah"

"Seriusan? Gak boong kan?" kataku ketakutan.

"Yoi, pusing tauk besok ada kuis" katanya sambat.

"Terus tadi yg aku lihat siapa dong bear? Perawakannya cantik, rapi, lemu, senyumnya duh, mirip kek kamu. Seriusan" kataku menjelaskan.

"Halu kamu phen"

"Asemm ya, seriusan tauk bear, kamu gak percaya?"

"Bukannya enggak percaya pear, tapi emang aku dari tadi di kamar dan enggak kemana-kemana"

"Ahh tauk ahh"

Dia tersenyum, dan aku pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Jadi siapa yg ku lihat tadi?" kataku menggerutu. Bulu kudukku berdiri mempertanyakan ini.

"Kenapa tho dek?" tanya seseorang.

Aku akrab memanggilnya dengan nama Mbak Vio. Mahasiswa jurusan sipil universitas sebelah yang lebih tua 2 tingkat diatasku. Kamarnya disebelah kamarku persis, aku sering berbagi cerita sama dia, tapi sepertinya belum tentang ini.

"Masak nih ya, tadi pas aku baru sampe depan kos kan Elma manggil aku dari balkon ya mbak ya. Nah aku tuh liat Rahma juga disampingnya dia. Mereka berdua senyum tuh ke aku. Terus aku nganter Elma ke Tembalang Stationary. Pas diperjalanan aku tanyalah ke Elma, "Rahma mau ke mana mak, kok rapi banget?" Eh kata Elma malah Rahma di kamar lagi belajar. Padahal nih jelas-jelas aku tuh liat Rahma disampingnya Elma, mana dia cantik banget tauk mbak." kataku panjang.

Mbak Vio ketawa sambil meniriskan tempe goreng buatannya. Aku masih kebingungan dengan semua yang terjadi. Ahhh ada apa dengan hari itu?

"Kok kamu malah ketawa si Mbak?" tanyaku kesal.

"Enggak papa, lanjutin ceritanya"

"Iya gitu, terus kan aku kepo ya mbak. Sampe kamar aku tanya ke Rahma, eh dia bilang dia emang dari pulang kuliah di kamar, belajar. Lhah, terus yang aku lihat tadi siapa dong mbak? Masak iya aku halu?" kataku merendah.

"Wkwkwk kamu ada-ada aja dek."

"Ihh merinding tauk mbak"

"Udah biasa aja. Embaknya emang lagi pengen ngelihatin wujudnya ke kamu paling" katanya memulai cerita.

"Ih seriusan mbak? Nggak usah nakut-nakutin deh ah. Nggak lucu taukk" kataku sebal.

Dia tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah panikku. Kemudian Mbak Vio mulai menjawab semua pertanyaanku.

"Di lantai atas emang ada semacam penunggunya dek, lebih disekitaran tempat jemuran tapi." katanya singkat.

"Mbak Vio emang bisa lihat kaya gituan?"

"Cuma bisa ngerasain hawanya aja si, enggak mau juga lah ngelihat yang begituan. Mending nggak usah. Haha"

"Bentar-bentar, di jemuran mbak? Jadi kalo aku nyuci malem-malem? Kalo aku pas pulang tengah malem? Ihhh serem" kataku sambil membayangkan.

"Iya, kamu ditemenin embaknya (mungkin)."

"Ihh mbak Vio rese ih" kataku sambil mencubit lengannya.

"Enggak-enggak dek, embaknya baik kok. Emang lagi pengen nongol aja kali tuh. Haha" katanya tertawa.

"Udah ah mau mandi. Mbak Vio jangan kemana-mana ya, tungguin aku sampe kelar." kataku sambil menuju kamar mandi.

Tidak ada cerita lanjutan tentang siapa sosok yang menampakkan dirinya mirip Rahma tapi lebih cantik itu. Mbak Vio tidak tahu dan tidak mau menanyakan tentang siapa sosok itu kepada teman ngobrolnya di kos, sebelum aku dan Rahma ada disana. Tapi dia bilang, embaknya baik hati, selagi kita enggak ngganggu. Sebenarnya sebelum kejadian itu memang tidak pernah ada kejadian apa-apa.

Mungkin hanya kebetulan atau mungkin memang benar kata mbak Vio, sosok itu sedang ingin menampakkan dirinya ke hadapanku. Untungnya pas nampak pas lagi cantik pake banget. Nggak kebayang gimana rasanya ngelihat yang wujudnya absurd kaya yang kebanyakan orang ceriatin.

Tapi ya kenapa harus aku? Entahlah.
.
.
(Sebuah cerita pendek yang terjadi sekitar tahun 2015 di sebuah kos kelas menengah yang berlokasi di belakang Stove Sindicate, Ngesrep Timur, Tembalang, Semarang)

Senin, 21 Oktober 2019

Kepada Entah yang Gemar Menjelma

Picture by : Google
Hari ini secerah hari-hari lalu. Langit menyapa dengan sangat biru. Udara sejuk suasana pegunungan menyegarkan jiwa-jiwa yang terbangun dari mimpi semalam. Kupu-kupu berbalut mahkota berwarna biru terbang menuju kembang mawar merah yang mekar di halaman kantor. Seunting senyum terlukis indah di bibir mungil seorang perempuan berwujud aku.

Tak lupa yang ku ingat selalu, panjatan rasa syukur yang begitu besar kepada Rabb-ku, Dzat Yang Maha Segalanya. Kepada-Nya aku tak henti berharap, memupuk banyak kata semoga meski memaksa diri pasrah terhadap takdir yang dipilihkan-Nya untukku yang hanya sebatang kara.

Burung-burung ramai menari. Di atas langit, atap duniaku yang begitu luas itu. Di luas alas sebuah pandang yang silau membiru, mereka berbondong-bondong, bersuara gaduh seperti ingin mengabarkan sesuatu. Pandangku rancu, kosong, jiwaku seolah pergi meninggalkan raga yang melemah ditinggalkan kekasihnya. Senyumku hilang, terbawa terbang burung-burung yang tak ku ketahui jenisnya itu.

"Ada apa gerangan?" kataku berbisik pilu.

Kepalaku terasa berat. Ku rebahkan perlahan. Ku pejamkan kedua mataku sekejap, tapi tiba-tiba basah. Air mataku luruh tanpa terasa. Tanganku bergegas menyeka, aku tak ingin ada siapapun mempertanyakan penyebabnya.

Sebuah lagu mengalun indah menemani lamunanku di siang yang sepertinya terik ini. Aku bahkan tak benar-benar merasakannya. Suasana ruang kerjaku terlalu nyaman untuk ku tinggalkan demi sekedar memastikan ini. Aku melanjutkan rebahku.

Air mataku kembali luruh, kali ini tak hanya kedua mataku yang basah karenanya, bagian wajah sebelah kiri juga meja kerjaku ikut larut menikmatinya. Aku menangis kecil, meratapi apa entah. Bibirku tak henti bergumam. Lafadz Lahaulaawalaaquwwataillabillahil'aliyiladzim tak berhenti ku ucap semenjak kedua mataku ku pejamkan paksa. Setidaknya ini adalah bentuk pasrahku kepada Yang Maha Kuasa, Dzat Yang Maha Mengetahui Segalanya.

Seorang perempuan seumuran denganku melintasiku dengan sumringah.

"Aku sedang rindu, tapi aku tak tahu untuk siapa itu" kataku spontan.

"Hah, gimana?" katanya tersedak. Air putih dimulutnya tumpah, aku hampir saja ikut menikmatinya.

"Aku sedang rindu, tapi aku tak tahu untuk siapa itu" kataku mengulang. Aku bahkan tak berganti posisi sama sekali dari posisiku sebelumnya.

"Dihh aneh" katanya heran.

"Hahhhaa" sahutku sambil tertawa kecil.

"Ada tuh kalo kangen ya tahu siapa yang dituju kali pen" katanya menjelaskan.

"Kata siapa? Aku enggak tuh" kataku ngeyel. Kali ini aku mengangkat kepalaku dan mulai membenahi posisi dudukku.

"Lhah terus?"

"Ya aku nggak tahu. Gini aja, ngalir kek air" kataku bingung.

Lalu perempuan itu pergi, kembali ke meja kerjanya dengan membawa segelas air putih yang baru saja diambilnya dari dapur kantor. Raut wajahnya mengundang sejuta tanya, sedang aku berlaku sebaliknya. Isi kepalaku mengundang sejuta jawab.

"Akan kepada siapa rinduku ini akan pulang?" kataku berbisik.

Dan aku sedang tidak ingin melakukan atau menginginkan apapun juga siapapun. Pekerjaan yang berbaris rapi dihadapanku sama sekali tak membangunkan gairahku untuk segera menyelesaikannya. Teh hangat di pojok kiri meja kerjaku apalagi, semut-semut mungil itu telah lebih dulu menikmatinya. Bahkan langit biru tak berhasil membujukku agar aku segera mengeluarkan ponsel kesayanganku, dan kemudian membuka fitur kamera lalu melakukan posting di sosial media. Untuk apa? Tak berguna.

Langit biru itu, ahh biar dia memandangiku dari jauh. Biar aku memandangnya lebih jauh, biar kami saling pandang dan saling bertemu diantara apa-apa yang mempertemukan kami. Karena jiwa yang satu akan saling bertemu. Begitupun aku dan langit biru itu. Tapi aku, apakah dia adalah jiwaku? Apakah dia adalah jawaban atas tanyaku? Atau apakah dia adalah saksi atas kerinduanku? Atau apakah, ahh harus berapa apakah lagi yang harus aku utarakan untuk menjawab ini semua?

Dan tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bisa menjawab, juga tidak ada yang perlu menjawab.
Semua membisu.
Rinduku membeku.
Aku pilu.
.
.
.
(Kudus, Oktober 2019)

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....