Jumat, 23 Agustus 2019

Waktu Ayah Pergi

Seharian aku tak tenang, dia hilang seharian tanpa memberi kabar setelah semalam mengabarkan kepadaku bahwa dia akan pulang ke kampung halaman. Mendadak memang. Dia bilang tiba-tiba ingin pulang. Padahal sebelumnya dia bilang beberapa waktu ini akan sibuk karena pekerjaannya.

"Malem beb"

"Malem beb. Kok berisik si, lagi di jalan ya?" tanyaku

"Iya nih, lagi buru-buru"

"Mau kemana beb?"

"Aku mau pulang"

"Pulang ke kosan?"

"Pulang ke rumah bunda dong sayang"

"Lhoh kok tiba-tiba si beb. Katamu kemarin bakal sibuk?"

"Iya nih. Tiba-tiba pengen pulang, bunda kangen katanya"

"Dasar. Tapi beneran cuma gara-gara itu beb?"

"Iya sayang. Udah dulu ya. Pesawatku udah mau take off nih. Besok ku telfon lagi"

"Terus kerjaanmu?"

"Bunda lebih dari segalanya. Rejeki ga akan lari kemana kan beb? Kalaupun aku kena pecat, aku akan cari yang lain"

"Iya bener. Ya udah hati-hati ya beb. Titip salam buat Bunda. Kabarin kalau udah sampai"

Begitu kira-kira percakapan singkatku semalam sebelum kepulangannya. Sebenarnya tidurku semalam tidak begitu nyenyak. Seperti ada sesuatu yang ramai di kepalaku, tapi aku sendiri kurang tahu apa itu. Pikirku tak jauh dari Tuan yang tiba-tiba berpamitan pulang secara tiba-tiba. "Sebenarnya ada apa? Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku?" kataku membatin.

Dan sekarang, pandangku tak lepas dari layar ponsel yang setia digenggamanku sedari tadi. Entah sudah berapa kali panggilan keluar terhitung di log panggilan ponselku. Aku bahkan tidak sempat mengeceknya. Kalutku membesar setelah pagi tadi sebuah panggilan masuk mengabarkan kepadaku bahwa ayah telah tiada. Teman karibnya menelponku, mengabarkan tentang ini juga tentang Tuan yang hatinya sangat sedih karena ini.

Picture by : Google
Ayah? Lelaki itu, lelaki yang akan jadi ayahku juga. Lelaki yang diceritakan tuan beberapa kali kepadaku itu telah tiada. Lelaki yang terdengar begitu hebat kepribadiannya. Lelaki yang diceritakan sangat mencintai istrinya, anak-anaknya, juga keluarganya. Lelaki yang sempat membuatku iri karena banyak hal baik yang ada pada dirinya. Lelaki yang akhir-akhir ini aku idam-idamkan sebagai calon ayah mertuaku, kakek dari anak-anakku. Lelaki itu telah begitu cepat pergi. Padahal aku belum sempat benar-benar berkenalan, atau sekedar berdialog, atau mewujudkan mimpi-mimpi baru dengan beliau.

"Hai ayah, sampaikan salamku kepada Allah, kepada Rasulullah, juga kepada orang-orang yang kau temui di surga sana. Aku mencintaimu meski kita belum benar-benar bertemu. Semoga surga menjadi ujung dari ini semua. Selamat jalan ayah, sampai jumpa"

Aku terkejut, tapi rasa itu terlalu kecil dibandingkan dengan kalutku yang tak kunjung menemukan arti. Panggilanku belum juga berhasil terjawab. Padahal sudah hampir adzan magrib. Aku pikir, prosesi pemakaman ayah sudah seharusnya selesai. Tapi tuan, dia kemana? Dia bagaimana? Dia sedang apa? Kenapa panggilanku tidak kunjung dijawabnya? Tuan, apa dia baik-baik saja?

Entahlah, sepertinya aku butuh mengadu kepada-Nya untuk mencari ketenangan diri. Ponselku ku letakkan begitu saja di atas tempat tidurku dan kemudian aku bergegas menuju tempat ambil air wudhu. Aku berniat sambil mencuci kedua tanganku, kemudian membasuh wajahku dan menyelesaikan proses wudluku. Adzan magrib telah selesai bertepatan dengan selesainya wudluku.

Dan aku menunaikan kewajibanku. Menyelesaikan 3 rekaat di pergantian antara terang dan petang yang telah datang. Aku panjatkan banyak doa panjang di setiap sujudku, memohon agar bisa mendengar kabar perihal tuan yang seharian menghilang. Aku juga ingin sekali mendengar kabar ayah sampai akhirnya tiada.

Tangisku mereda, persis setelah kata Aamiin terucap olehku di doa terakhirku. Aku berpasrah diri kepada-Nya dan meyakini bahwa apa yang terjadi adalah kehendak yang terbaik dari-Nya.
Masih berkemul dengan mukena berwarna biru terang pemberian mamak, aku beranjak menuju arah ponselku. Aku meraih ponselku kembali dan kemudian mencoba melakukan panggilan keluar lagi kepada tuan.

"Assalamualaikum beb" sapaku dengan girang.

Tapi hening, tidak ada suara. Dia diam, padahal layar ponselku menandakan bahwa panggilanku sudah masuk. "Hai tuan, adakah kau disana? Kenapa tidak menjawab salamku? Apakah ternyata itu bukan kau?" kataku tak henti menerka.

"Beb, assalamualaikum. Beb..... mas...... hallo......" kataku mencoba lagi.

Sedetik, dua detik, tiga detik, dan aku geram. Pikiranku semakin kalut entah mengkhawatirkan apa. Lelaki itu, sedang apa dia? Kenapa tak juga menjawab sapaku?

"Ya udah deh, kamu tenangin diri dulu. Nanti kalau udah lega, kabari aku ya. Maaf sudah mengganggu" kataku menyerah.

Tapi tiba-tiba terdengar suara isakan tangis. Seperti ada yang ingin disampaikan tapi belum bisa. Aku belum benar-benar menutup panggilanku. Mendengar suaranya hatiku menjadi sedikit lega. Setidaknya aku masih bisa memastikan bahwa yang mengangkat panggilanku adalah benar-benar dia.

"Waalaikumusalam........ beb" katanya menjawab.

"Alhamdulillah" sambil mengelus dada.

"Beb" sambil menahan isak tangis.

"Dalem"

"Maaf ya, lama"

"Iya nggak papa. Aku ngerti kok"

Isak tangis itu terdengar lagi. Aku tiba-tiba panik, bingung akan mengambil langkah apa. Sebenarnya aku ingin sekali mendatanginya, tapi belum bisa. Ada yang harus aku selesaikan. Oh ayah, kenapa tidak menungguku saja si? Kenapa tidak melakukan nego dengan malaikat yang mendatangimu? Harusnya kita bertemu dulu. Ah bicara apa aku? Ngawur.

"Beb, are you okay?" kataku memastikan.

"He em. Sedikit" katanya singkat.

"Ada yang mau diceritain ke aku nggak beb?" kataku mencoba mencairkan suasana.

"Belum ada"

"Ya udah, istirahat dulu gih. Aku tutup telponnya ya. Jangan lupa makan. Oh iya, sekalian titip salam buat Bunda ya. Bilangin, maaf belum bisa dateng ke sana"

"Beb"

"Iya"

"Jangan ditutup ya telponnya"

"Abis kamu cueknya kambuh si"

"Takut ketahuan kamu si"

"Ketahuan apa?"

"Ketahuan kalo aku abis nangis"

"Ya Allah, cah lucu"

Seketika aku tertawa kecil. "Cah Lucu". Biasanya dua kata itu sering dilontarkannya kepadaku, apalagi ketika aku sedang kacau-kacaunya dan salah menduga sesuatu.

"Masih sedih tha beb?" kataku

"Sedikit"

"Ya udah kelarin dulu sana gih"

Sekedip, dua kedip, sekian kedip, kenapa tidak ada suara lagi? Aku diam dan menyibukkan diri dengan menerka-nerka sesuatu yang terjadi kepadanya.

"Beb......... beb .......... mas ........... hallo ........ beneran mau ngelarin kesedihan nih?" kataku menebak

Tapi tidak ada suara. Lelaki itu kemana? Sedang apa dia? Kenapa tidak ada suara? Apa dia ketiduran? Apa dia sedang sholat? Apa dia sedang mengerjaiku dan tertawa puas melihatku bertanya-tanya begini? Ah apa-apaan aku ini.

"Beb ..... hallo...... ngomong kali ih. Beb ........"

Tiba-tiba ada suara.

"Hallo beb"

"Hmm"

"Maaf ya lama"

"Hmmm"

"Abis dari kamar mandi soalnya. Perutku tiba-tiba mules"

"Astagfirullahaladzim Ya Rabb. Pantesan dipanggil-panggil enggak respon. Kesel"

Dia memang sering begitu. Tiba-tiba hilang dan kembali dengan alasan yang menurutku lucu tapi tetap membuatku kesal. Aku sering dibuatnya kesal sekaligus tertawa membayangkan tingkahnya yang menyebalkan.

"Iya maaf, mau pamit ga sempet beb"

Aku diam, menikmati kesal dan lucu yang berbaur menjadi satu. Rasanya ingin sekali ku cubit lengannya dan kemudian memukulinya dengan penuh cinta. Lelaki itu, kenapa membuatku random begini?

"Mata empat"

"Ya"

"Mata empat"

"Apa?"

"Mata empat"

"Dalem"

"Mata empat"

"Iya mas"

"Mata empat"

"Apa sih beb?"

"Ya udah"

"Dasar annoying"

"Cuma kangen"

"Apaan?"

"Beneran"

Lagi, aku dibuatnya kesal lagi. Tapi ya gitu, aku tak pernah berhasil mengendalikan diri. Aku selalu ingin menjadi jawaban atas apa yang menjadi pertanyaannya, aku selalu ingin menjadi sesuatu yang melengkapinya.

"Udah ga sedih lagi nih ceritanya"

"Enggak. Kan udah berhasil bikin kamu kesel"

"Mas....."

"Enggak sayang, bercanda kok"

"Alhamdulillah. Emang kudu begitu. Cowok emang kudu tegar, nggak boleh cengeng. Jangan sedih lagi ya beb. Ntar kalo kamu sedih, aku, bunda, dan semuanya ikutan sedih gimana dong? Ikhlasin aja, insyaallah ayah udah tenang di alam sana"

"Sendiko dawuh nyai"

"Aku ngomong beneran tau beb"

"Iya paham. Insyaallah, abis ini aku ga akan sedih lagi"

"Aku cuma bisa ngingetin beb, maaf belum bisa lebih"

"Udah kok beb, udah lebih dari cukup. Makasi ya"

"Bunda lagi apa beb?" kataku menggeser topik

"Lagi kruntelan di ruang sebelah sama adek. Tadi udah seharian kruntelan sama aku, sekarang gantian"

"Ihh pengen ikutan"

"Sini sama aku aja. Kalo sama mereka engap, kan mereka berbanyak"

"Nonononono"

"Wkwkwkwk"

Suasana rumahnya sudah agak sepi, mungkin karena baru saja magrib. Jadi para tamu mungkin menunggu waktu untuk datang setelahnya. Atau memang kebiasaan di tempat kami yang berbeda.

"Beb"

"Apa sayang?"

"Udah ga sedih kan?"

"Insyaallah"

"Kamu ga mau cerita ke aku tentang ayah beb?"

"Cerita apa?"

"Ayah sakit apa beb?"

"Ayah pergi abis subuhan berjamaah pagi tadi. Ayah yang imamin, pas tahajudan juga. Sebenernya ayah sakit parah, udah lama, dan ga ada yang ngasih tahu aku. Ayah juga kelihatan baik-baik aja setiap ketemu sama aku. Kaya biasa gitu, aku ga nyangka ayah sepintar ini biar buat aku ga khawatir. Aku sempet marah ke bunda dan ke semuanya. Kenapa harus ditutupin dari aku coba?" katanya panjang.

"Masyaallah ayah. Mereka ga mau kamu khawatir beb. Udah ah marahnya. Ya?" kataku menenangkan.

Lagi lagi aku tersentuh. Entah energi apa yang baru sampai kepadaku, di tempatku merebah sekarang aku hanya membayangkan sosok ayah yang begitu hangat. Ah lelaki itu, kenapa harus pergi secepat ini. Aku juga menjadi menggebu-nggebu membayangkan berada diantara keluarga tuan. Bersamanya, bersama bunda, saudara-saudaranya. Hei, kapan kita benar akan bertemu?

"Tapi kan?"

"Tapi kan kamu juga sering kaya gitu. Enggak jujur ke bunda sama ayah. Kemarin kamu jatuh diem aja kan? Banyak juga kan yang kamu tutupin ke beliau?"

"I iya hehe"

"Adil kan? Udah ah. Aku ga mau denger kamu kesel lagi. Jelek taukk"

"Iya, insyaallah"

"Jadi telpon semalem pas kamu pamit pulang itu gara-gara ini?" kataku menebak

"Sebenernya enggak si. Bunda beneran cuma bilang kangen dan minta aku pulang. Bahkan bunda ga bilang apapun ke aku, termasuk soal ayah. Sebenernya aku cuma ngikutin kata hati aja si, tapi ternyata ya begini kenyataan yang harus aku hadapi"

"Allahu akbar beb. Kebetulan yang sangat indah. Ya udah, kamu istirahat gih. Aku tutup telponnya ya" kataku pamit

"Lhah, udahan nih kangennya?"

"Hah, aku cuma khawatir ya. Seharian ga ada kabar ih" kataku terheran

"Hehe, ntar aku beliin burger kesukaanmu deh, biar aku dimaafin kamu"

"Wegah. Tapi kalau kamu beliin tiket umroh bisa ku pertimbangkan si. Hehe"

"Insyaallah, doain aku terus ya sayang"

Adzan isya' berkumandangan. Aku memutuskan akan menutup panggilanku dan menyelesaikan kewajibanku kepada Rabb-ku. Mukena yang masih hangat menyelimutiku dari semenjak magrib tadi aku lepas dan kemudian aku bergegas menuju sebuah keran di sisi kanan kamarku. Rasanya baru sebentar berdialog dengannya, padahal sudah lebih dari setengah jam. Mungkin memang benar kata orang-orang, cinta selalu membawa suasana yang berbeda. Haha.

"Insyaallah. Isyaan dulu yuk, disini udah adzan" kataku

"Doain ayah ya beb. Doain biar bisa ketemu kita di surga"

"Bentar deh, emang kamu bakal masuk surga beb? PeDe sekali anda?"

"Tergantung"

"Kok?"

"Tergantung gimana kamu jadi istri lah. Kalau kamu banyak dosa ya nasib" katanya meledek.

"Naudzubillah. Enggak. No. Jangan" kataku ketakutan

"Wkwkwk makanya, jangan nakal"

"Insyaallah beb. Ya udah tutup telponnya. Udah di tunggu ayah tuh"

"Ayah? Nunggu? Nunggu siapa beb?"

"Nunggu doa dari anak lelakinya yang sholeh. Buruan sholat"

"Hahaha cah lucu. Ya udah, assalamualaikum mata empat"

"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh (Tuan)"

Dan setidaknya malam ini aku sudah mendengar suara Tuan. Setidaknya apa yang seharian menjadi tanda tanyaku sudah terjawab. Lega rasanya, aku pikir tidurku malam ini akan nyenyak.
Aku tidak tahu bagaimana skenario hidup yang dibuat-Nya untuk Tuan. Tapi setiap aku ulangi cerita ini dari apa yang sudah terjadi mulai dari semalam, rasanya begitu indah. Seperti sebuah kebetulan, tapi benar inilah takdir-Nya.

Ayah, ayahku yang sudah lebih dulu berpulang kepada-Nya. Selamat malam ayah, terimakasih sudah pernah menjadi bumbu-bumbu sedap disela-sela percakapanku dengan anak lelaki ayah. Anak ayah lucu, tapi biasa aja. Enggak seganteng Kenny Austin di sinetron "Cahaya Terindah" yang hampir tak pernah ku lewatkan setiap sore. Tapi ayah, dia selalu bisa membuatku senyum-senyum sendiri meski harus kesal juga. Ayah, apa ayah selucu anak ayah itu? Ah ayah, harusnya ayah bercanda dulu denganku barang sekali atau sekian kali. Tapi ya sudahlah, sepertinya ayah lebih sayang ayah.

Sampai jumpa di surganya Allah ayah. Semoga Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa ayah, menerima amal ibadah ayah, mengindahkan alam kubur ayah, dan menempatkan ayah disisi terbaik-Nya. Aku sayang ayah.

--------------------------------------------------------

Salam Literasi

Sabtu, 17 Agustus 2019

Diantara Makkah dan Paris

Malamku dingin, ditemani dengan gelap yang menerangi. Ku tatap bulan purnama malam ini, sambil ku sampaikan beberapa sajak kerinduanku untuknya. Kekasihku yang sedang dalam perjalanan menujuku. Kedua mataku sejenak terpejam. Ku rasakan dekap yang semakin menghangatkanku.
Dia datang, kekasihku datang. Dia ada dihadapanku. Membelaiku dan memelukku dengan cinta dan kasih sayang yang dimilikinya untukku.

"Hai mata empatku" katanya berbisik

Dan aku mulai membuka kedua mataku. Tanganku seperti merengkuh. Tapi kosong, kekasihku pergi barang sekedipan mata.

"Ah harusnya tadi aku tidak berkedip" kataku menyesal.

Kemudian aku kembali menatap langit yang dihiasi oleh cahaya bulan purnama. Malam itu dia terlihat sangat cantik. Aku sampai takut tersaingi.

......intro sebuah lagu tiba-tiba berbunyi..... 
"lekuk indah hadirkan pesona, kemulyaan bagi yang memandang............ " sebuah panggilan masuk yang sengaja ku atur menggunakan  mode getar lengkap dengan nada dering lagu "Karena Wanita" karya Ada Band membuyarkan lamunanku.

Senyumku melebar. Mataku berbinar dan hatiku seketika bahagia. Ponselku berdering, sebuah nama terlihat dilayar gelap yang tiba-tiba menjadi terang seketika.

"Assalamualaikum....... beb" kataku setelah menggeser simbol hijau dilayar ponselku.

"Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh mata empatku" katanya membalas.

Rasanya seperti mimpi. Sekian detik sebelum ini aku tak pernah berpikiran ponselku akan seberguna ini. Dia apalagi, aku sudah merelakan menjadi yang kedua setelah pekerjaannya. Tapi tidak begitu dengannya, setiap aku bilang begitu dia selalu memarahiku.
Oh tidak, dia lembut. Semarah apapun dia, ucapnya selalu menenangkanku. Dan setiap begitu, aku selalu bicara dengan diriku sendiri bahwa aku adalah wanita yang paling beruntung yang diijinkan memilikinya, aku harus menjaganya, dan aku harus jadi terbaik untuknya. Iya, semoga saja aku bisa.

"Beb, kok lagi nelpon si? Sibuk banget ya hari ini? Kamu udah makan kan? Udah sholat belum? Bunda udah ditelpon?" kataku tak henti.

"Hei, aku tahu kalau kamu kangen, tapi tanyanya satu-satu dong sayang. Aku kan bingung jawabnya" katanya membalas.

Aku selalu begitu. Ditakdirkan tumbuh menjadi pribadi yang cerewet membuatku sering keblabasan dalam bertanya. Bukan bermaksud posesif kepadanya, aku hanya ingin memastikan keadaanya saja. Walapun akhirnya aku jadi tidak enak hati karena sudah membuatnya tidak nyaman di awal percakapan yang sudah seharian aku tunggu.

"Iya, maaf beb" kataku menyesal.

"Iya sayang. Aku sibuk, baru aja kelar makan, isyaan udah, subuhan belum. Abis adzannya ku tunggu-tunggu ga nyampe-nyampe si. Hehe" katanya melucu.

Dia selalu berhasil mengalihkan penyesalanku. Aku tertaw kecil mendengar ocehannya. Aku tahu dia selalu berusaha menjadikanku baik-baik saja dan juga selalu nyaman berada di dekatnya. Oh Allah, aku ingin selamanya begini.

"Bunda?" tanyaku

"Bunda sehat kok" jawabnya

"Bukan itu. Kamu udah nelpon Bunda kan?"

"Udah dong. Baru aja kelar, makanya aku telat nelpon kamu"

"Iyalah, tau diri aja akutuu" kataku minder.

"Bundaku tetep akan jadi nomer satu, meskipun kita udah nikah kan beb?"

"Iya beb, kamu bener. Dan jangan lupa aku yang kedua, anak perempuan kita akan jadi yang ketiga, saudara perempuanmu urutan setelahnya, dan cukup. Aku tidak ingin ada yang lainnya. Aku ingin jadi istri satu-satunya. Ingat ya" kataku panjang.

"Insyaallah. Semoga Allah kasih istiqomah ya" katanya.

"Harus. Harus beb" kataku dengan nada memaksa.

Aku sering ketakutan membicarakan ini. Berulang kali aku mencoba menepis, berulang kali aku coba membuang ketakutan ini dan berulang kali pula aku menangis, memeluk ketakutanku sendiri.
Besar dengan rasa trauma menjadikanku lemah dalam hal ini. Aku takut menjadi yang menciptakan kekalutan di diri anak-anakku kelak. Aku tidak mau apa yang aku alami terjadi pula di anak-anak ku. Sakit ini biar aku yang rasa, anak-anakku biar tinggal bahagianya saja.

Aku selalu meronta kepada Allah, agar kelak aku bisa dipertemukan dengan orang terbaik yang bisa mengobati luka masa laluku dan kemudian menjadi sumber bahagiaku juga anak-anak ku kelak. Aku ingin apa yang aku impikan dimasa kecilku bisa terwujud, meskipun bukan aku lagi yang menjalani, melainkan anak-anakku. Aku ingin memberikan kebahagiaan yang penuh kepada mereka, termasuk melihat ayah ibunya bahagia bersama. Ya, semoga kekasihku akan benar-benar menjadi orang yang tepat untuk membantuku mewujudkan itu.

"Bunda bilang titip salam buat calon mantu" katanya kepadaku.

"Beneran apa boongan neh?" kataku memastikan.

"Apapun yang berkaitan sama Bunda insyaallah bener sayang"

Bunda. Wanita itu, calon ibuku. Aku selalu berharap kelak ketika waktu itu benar-benar tiba, aku ingin sekali menjadi dekat dengannya, menjadi putri kesayangannya dan bersama-sama menjadi sumber bahagia untuk putranya, lelaki yang telah menjadi kekasihku.

"Mata empat"

"Iya mas"

"Bulannya bulet banget, kek mukamu pasti kan?"

"Apaan sih mas? Nggak lucu tauk"

"Masih badmood nih ceritanya?"

Aku selalu begini. Memanggilnya dengan sebutan mas ketika suasana hatiku sedang kacau. Dia juga, hanya memanggil namaku ketika suasana hatinya sedang kacau. Perubahan itu seperti menjadi tanda bahwa kami sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Tapi kami akan kembali menggunakan panggilan sayang ketika suasana hati kami sudah sama-sama kembali membaik. Kami tak keberatan, setidaknya tidak ada kata kasar yang terucap diantara kami.

---------------------

Dan sementara itu, aku masih diam, masih bingung dengan perasaanku sendiri. Rasanya tidak enak hati, aku yang berfikiran begini, tapi dia yang harus menerima kekacauanku ini. Oh tuan maafkan aku.

"Mata empat"

"Iya beb"

"Alhamdulillah"

"Apa? Bentuk bulannya beneran sama kek mukaku ya?"

"Bukan sayang, alhamdulillah karena kamu udah manggil beb lagi. Aku kangen"

Aku hanya tersenyum sambil terus mengucap syukur. Malam ini, ada bunga yang mekar begitu indahnya di dadaku. Lelaki itu, bisakah selamanya begini? Dan sebenarnya aku selalu menanyakan ini kepada diriku sendiri, meskipun akhirnya tak pernah ada jawaban yang pasti. Meskipun akhirnya hanya ada sekian kalimat penenang yang sebenarnya ku buat sendiri untuk kegundahanku ini.

"Mata empat"

"Dalem"

Wong jowo, kejawennya kumat. Sebenarnya aku dan kekasihku ini sangat lancar berbahasa jawa, tapi entah kenapa setiap kami berdialog selalu bahasa persatuan yang kami pakai. Mungkin akan jadi berbeda ketika kami sudah memiliki anak. Bagaimanapun juga mereka harus familiar dengan bahasa asal ayah ibunya. Kakek dan neneknya dan semua saudara-saudaranya tidak boleh kerepotan ketika berdialog dengan mereka.

"Kalau Allah kasih kesempatan, kamu mau aku ajak kemana beb?" katanya mencoba mengalihkan.


Picture by : Pinterest
"Aku ingin ke Paris. 'The City of Lights'. Aku ingin berjalan berdua denganmu, menikmati segelas greentea hangat, menyaksikan sunrise dan senja yang berganti peran, lalu menari bersamamu di bawah menara eiffel. Aku juga ingin menikmati pameran karya seni, dan merapalkan banyak ingin di jembatan harapan. Aku ingin merasakan romantisme kota itu. Pasti menyenangkan, ya kan beb?" kataku menjawab.

Ya benar, Paris adalah kota impianku. Sejak dulu, sejak umurku masih abege, sejak seragam sekolahku masih putih biru. Romansa romantisme yang aku saksikan setelah membaca dan menyaksikan kisah orang-orang, membuatku menaruh banyak harapan untuk bisa sampai ke sana.

"Tapi aku tidak ingin mengajakmu kesana sayang" katanya.

"Tapi kan......." kataku memotong

Picture by : Pinterest
"Kita ke Makkah dulu ya. Kita ibadah bareng di sana. Berjalan berdua mengelilingi kakbah, merapalkan banyak doa untuk kita dan keluarga, dan melakukan apa saja berdua.
Aku tidak punya hal-hal romantis seperti yang barusan kamu sebutin. Tapi beb, insyaallah kita akan tetep bahagia bersama di sana" katanya melanjutkan.

Malamku tiba-tiba hening. Aku diam. Menimbang antara Paris dan Makkah.  Dia benar, rukun islamku sudah seharusnya dilengkapi lebih dulu. Oh Allah setiap bersamanya rasanya surga-Mu semakin dekat. Mungkinkah dia benar-benar jawaban atas doa-doa panjang yang tak pernah henti ku panjatkan kepada-Mu?

Dan entah kapan akan benar-benar sampai ke sana, tapi semenjak itu Paris telah menjadi kota impian urutan kedua setelah Makkah.

"Aamiin Ya Rabb" kataku mendukung.

"Kamu mau kan?" katanya memastikan.

"Insyaallah beb" kataku mengiyakan.

"Semoga Allah mengijabah ya"

"Aamiin ya Rabbal Alamiin. Tapi beb........"

"Iya, tapi apa?"

"Aku ingin juga ke Paris. Kita akan kesana juga kan?" kataku agak memaksa.

"Iya, insyaallah. Setelah selesai ke Makkah ya sayang. Semoga Allah kasih rezeki ke kita" katanya.

"Keliling Indonesia juga kan beb" kataku menambahkan.

"Iya calon istriku yang ternyata banyak sekali mimpinya. Semoga aku akan jadi yang beruntung yang bisa bantu kamu mewujudkan mimpi-mimpimu ya"

"Haha maaf ya beb"

"Nggak papa, biar aku tambah semangat kerja juga. Makasih ya"

Dan malamku berakhir dengan dialog indahku bersamanya, kekasihku, calon imamku, calon penanggung jawabku, ayah dari anak-anakku. Semoga Allah mendengarkan cita-cita luhur kita.

Dan aku mengucapkan selamat malam kepadanya diujung malam itu, lengkap dengan terimakasih atas impian besar yang sebelumnya tak pernah terpikir olehku.
Dia membalas ucapanku dan menambahkan beberapa kecup jauh yang berhasil menidurkanku malam itu. Dan aku terlelap bersama dengan sisa kenanganku dengannya.

-------------------------

Malam ini aku bertemu kembali dengannya, lewat dialog lama yang kembali singgah diingatanku.  Satu per satu layar berganti dan menyajikan chat lamaku dengannya. Aku tersenyum, kemudian bersedih, dan beberapa kali menangis. Beberapa doa juga aku titipkan untuknya, untuk bunda, juga untuk mimpi-mimpi yang sempat terabaikan. Lantunan Al-Fatihah yang ku ucapkan dengan cukup lantang ini, semoga akan sampai kepada mereka semua yang aku sayangi.

Malam ini aku merindukannya. Dan sembari mulai memejamkan kedua mataku, tanpa sadar aku mulai berbisik lirih.

"Tuan, jadi kapan kita berdua anak benar-benar kesana?" kataku entah kepada siapa.


__________________

Salam literasi


Minggu, 14 Juli 2019

Hai, Kenapa Belum Juga Menjadi Baik?

Perjalanan ini begitu sulit. Begitu banyak persimpangan yang menjadikanku lelah memilih dan berniat ingin berhenti. Berulang kali aku salah memilih dan menjadikan diriku terpuruk. Berulang kali pula aku menguatkan diri, mencoba berdiri, dan kemudian pulih kembali seperti yang kau saksikan sekarang ini.

Perjalanan hidup begitu membingungkan. Menebak adalah cara terpasrah bagi pribadi yang mempunyai banyak cita-cita. Dibangunnya mimpi-mimpi dengan indahnya, diajaknya diri untuk bersedia berusaha, dan ditemukan jawab atas sekian banyak pertanyaan yang telah lama ada di hidupnya. Jika beruntung, senyumnya merekah dan menjadi pribadi yang bahagia. Tapi jika ternyata sebaliknya, bisa jadi terpuruk, putus asa, marah, sedih, atau terserah itu. Yang penting satu, jangan sampai hilang arah. Semua sudah ada jalannya. Jika gagal, coba lagi.

Termasuk perjalanan untuk sampai ke sana, ke tempat bahagia yang sangat kekal. Atau tidak, jangan kesana dulu. Aku pikir itu terlalu jauh. Berhenti, disini. Dihadapan diri sendiri.

Hai, kenapa belum juga menjadi baik?

Minimal bisa menjadikan orang-orang tersayang nyaman. Atau membuat mereka bahagia ketika sedang bersama. Atau membuat diri mereka menjadi berharga. Oke baiklah, lupakan saja.

Hai, kenapa masih banyak hal-hal menyebalkan di dalam diri?

Stop. Berhenti dan jangan bertanya perihal ini lagi. Jangankan kau, akupun tidak begitu paham dengan ini. Dan jangan berfikir aku tidak berusaha mencoba.
Kau bahkan tidak tau betapa terjal medan yang harus ku tempuh untuk sampai dititik ini. Tapi hai, apa yang kau lakukan untukku untuk bisa menghindari atau bahkan membuang jauh hal-hal yang kau anggap menyebalkan dariku?

Tidak ada bukan. Oh tidak seharusnya aku bertanya seperti ini. Maaf, telah lancang berbicara seperti ini. Baik apapun itu, terimakasih untukmu Setidaknya dengan pertanyaanmu itu, aku bisa kembali memikirkan jalanan yang harus ku pilih kembali untuk sampai kepada sesuatu yang lebih baik.

Aku sadar, semakin ke sini akan semakin banyak yang akan terlibat di hidupku. Aku sadar, akan semakin banyak yang menilaiku atau bahkan menjadikan diriku cermin diri. Aku sadar, di dunia ini aku tidak hidup sendiri. Aku sadar, letak bahagiaku bukan hanya melibatkan diriku sendiri. Anak-anakku? Ah jangan pikir lajang yang belum punya calon suami ini tidak pernah berfikir sejauh ini. Justru, justru sangat menjadi di dalam pikiranku hal-hal seperti ini.

Takut? Sangat.

Khawatir? Iya.

Kenapa? Akan terlalu banyak penjelasan. Aku tidak ingin membicarakan ini. Aku pikir aku sudah cukup berhasil mebalut lukaku. Luka yang sama sekali tak pernah aku inginkan. Luka yang menjadikanku merasa menjadi korban bertahun-tahun dan mungkin sampai aku menemukan waktuku. Luka yang menciptakan banyak ketakutan dihidupku. Luka yang, ah sudahlah. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tidak ingin membicarakan ini? Ya, benar.

Lalu?

Aku hanya sedang berusaha menenangkan dan meyakinkan diri. Bahwa baik atau buruknya sesuatu selalu disertai penilaian.

Mereka? Kau? Silakan menilai.

Aku? Aku akan dengan senang hati menikmati. Satu yang ku tahu. Satu yang selalu berhasil membuatku utuh. Bahwa aku tidak pernah menjadi diam seperti yang kau kira. Setidaknya aku sudah berusaha mencoba dan tidak abai. Dengan atau tanpa kau tahu.

Kalau ternyata masih belum baik? Biar. Biar ini menjadi urusanku dengan diriku sendiri. Aku percaya bahwa orang-orang terbaik di hidupku akan selalu punya cara untuk menjadikanku bernilai baik di hidup mereka.

Kau juga, ku doakan semoga ada.

Anak-anak? Pribadi yang akan menjadi cerminanku kelak. Wajah-wajah yang akan ku jaga dengan baik senyumnya, bahagianya (insyaallah). Jiwa dan raga yang akan menjadi tempatku pulang di masa tua kelak. Alasan-alasan yang selalu bisa membuatku berusaha lebih keras, lebih baik, dan lebih terarah. Persimpangan yang mungkin akan selalu aku lewati bersama suami dengan banyak tanda tanya dan jawaban terbaik.

Hei nak, dititik ami berdiri ini, dititik ketika ami belum menjadi apa-apa, dititik ketika ami masih sendiri, mencari jati diri, dan memperbaiki diri, dititik tunggu yang disertai rasa resah ini. Nak, ami ada sedikit pesan untukmu.

"Nak, ami tak bisa berjanji selalu jadi baik, yang selalu bisa buat kamu nyaman, dan selalu jadi yang kamu mau. Ami juga tak bisa berjanji akan selalu ada untukmu. Semesta kadang membutuhkan ami tanpa permisi. Dan ayahmu, semoga akan selalu mengerti. 
Tapi percayalah, ami tak akan pernah berhenti berusaha untuk menjadi baik. Kalau suatu saat ami salah, atau berbuat yang sekiranya kurang sesuai dengan apa yang kamu pikirkan, tolong tegur ami. Bilang ke ami bagaimana cara yang lebih sesuai. Ami juga tidak bisa berjanji akan melakukan seperti yang kamu mau, tapi insyaallah ami akan menjadikannya pertimbangan berharga. Terlalu mendengarkan orang lain memang tidak terlalu baik. Tapi ami pikir, kita butuh ini untuk menjadi saling mengerti."

Salam sayang untukmu anak manis. Ami berharap, kamu bisa membaca ini dan menjadi mengerti. Ami juga berharap, kelak kita bisa berteman dan menjadi lebih baik bersama. Kita bahagiakan orang-orang terbaik di hidup kita dengan cara terbaik yang kita punya ya nak. Ayahmu? Ya, semoga dia juga sepakat dengan ini. Semoga kita semua satu frekuensi dan bahagia dengan cara yang kita ingini.

Tapi nak, ami lupa satu hal. Bahwa ami tak bisa berjanji akan kau panggil dengan sebutan "Ami". Ami butuh bersepakat dengan dia yang menjadi ayahmu kelak. Dan sekarang? Ayah masih dalam perjalanan. Doakan ayah cepat sampai ke ami ya nak.

Sampai jumpa di perjumpaan itu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Salam Literasi

Selasa, 09 Juli 2019

Beri Kami Contoh, Bukan Perbandingan

Tidak ada yang bahagia, hidupnya disamakan dengan yang lainnya. Termasuk aku, dia, atau bahkan mereka yang gemar membandingkan sekalipun. Sebuah ketidakadilan yang kerap tidak disadari oleh banyak hati. Kita mungkin sering mengalami ini.

Sore itu mendung. Udara masih agak dingin seperti beberapa hari terakhir. Beberapa tetanggaku berkumpul, mengupas kacang tanah yang akan digunakan sebagai bibit di sawah. Aku baru saja menyusul, usai membersihkan diri dan menyelesaikan urusanku dengan Rabb-ku.
Ibu-ibu di pelataran rumah tetanggaku masih sibuk mengupas kacang tanah yang ada dihadapan mereka. Seperti biasa, wanita selalu bisa fokus dengan banyak hal. Dan yang paling identik dari mereka adalah curhat yang mengarah kepada nggibah. Jangan dihujat, ini manusiawi, meski sebenarnya ini sangat tidak baik untuk diri sendiri.

Aku masih diam sambil tetap membantu mengupas kacang tanah. Sekedar memperhatikan fokus bahasan mereka dan menelaah mana yang bisa ku ambil hikmah dan mana yang harus ku abaikan begitu saja. Aku tidak mau terlalu masuk ke dalam bahasan mereka. Repot, aku tidak suka. Haha

Tapi tiba-tiba seorang ibu mengeluh. Mengeluarkan sambatan atas anak laki-laki pertamanya.

"Capek emang apa-apa sendiri. Aku pengennya juga si Nanda ngebantuin aku gitu di rumah. Kan dia udah gedhe juga" katanya

"Aku juga. Kadang aku bilang sama enang, si Acap aja rajin njemurin baju, nyapu. Tapi ya gitu, tetep main terus" kata mamak menambahkan

Satu per satu ibu-ibu mengeluhkan hal yang sama. Aku? Masih diam mencari celah bicara.

"Makanya nggak usah mbanding-mbandingin sama anak orang" kataku menyela

Mereka diam. Aku? Ikut diam. Harusnya aku memang diam saja. Tapi tidak jadi. Aku sudah terlanjur geram menyaksikan ambisi mereka supaya anak-anak menuruti keinginan mereka tapi dengan cara yang sangat salah. Aku pikir mereka harus tahu isi hati anak-anak mereka. Dan aku harus mewakili mereka. Aku ada untuk berbicara sebagai anak. Ah harusnya tidak perlu. Aku pikir mereka harus lebih tahu, karena mereka lebih dulu menjadi anak-anak daripada aku dan mereka yang suka mereka banding-bandingkan.

"Bukan begitu mbak, aku cuma pengen Nanda bantuin aku, entah nyapu, entah nyuci baju" katanya menambahkan

"Aku ngerti, tapi nggak dengan cara mbanding-mbandingin. Sakit woiii" kataku

"Halah cucu-cucuku kok dengan suka rela ngebantuin ibunya di rumah" kata seorang nenek di sudut agak kiri perkumpulan itu

"Mbah, cucumu hidup dimana? Kita hidup dimana? Jangan disamain lah. Lagian nggak semua anak berhati besar menerima perbandingan." kataku lagi

"Enggak, mereka emang penurut" katanya menambahkan

"Berarti embah beruntung" kataku

Mamakku diam. Mungkin sudah terlalu muak dengan pembelaanku atas ini. Sudah berulang kali aku membahas ini dengan mamak di rumah, apalagi setiap mamak merasa penat dengan rutinitasnya atau mengeluhkan adikku yang sekarang sedang menikmati masa mudanya. Aku pernah diposisi ini. Dan aku pikir, aku harus tahu bagaimana diantara mamak dan enang.

"Seneng ya Nan, ada yang ngebelain" kata embahnya Nanda

"Siapa yang belain coba. Aku ngomong sebagai seorang anak mbah" kataku

"Aku bahkan nggak nyangka, enang bisa nyuci sendiri setelah pulang dari liburannya kemarin. Waktu itu di rumah memang lagi sepi. Cuma dia yang di rumah" kata mamak

"Nah itu. Jangan dikata kita yang kalian anggap nggak bisa apa-apa ini beneran nggak bisa apa-apa ya. Cara kalian tuh yang salah. Dengerin ya mamak-mamak yang terhormat (ceilahhh), bukan gitu caranya minta bantuan ke anak. Kasih mereka contoh. Kasih pengertian tentang kehidupan ke depan, tentang pentingnya hidup mandiri, atau tentang apapun yang bantu mereka ngerti. Jangan malah sibuk mbandingin sama anak orang. Bayangin kalian jadi anak-anak kalian, dibanding-bandingin sana sini. Sakit. Aku yakkinlah, kalian nggak bakalan mau.
Anak orang dibanggain, anak sendiri? Apa? Ya gini nih yang bikin mereka suka masa bodoh sama kalian. Rasanya nggak pernah ada yang berharga dari apa yang sudah mereka lakukan. Lagian nih ya, anak orang yang kalian bangga-banggain itu juga nggak bakal bisa kaya anak-anak kalian yang begini dan begitu. Setiap orang punya porsinya masing-masing." kataku panjang

Semua diam. Entah fokus dengan kacang tanah yang sedang mereka kupas atau dengan apa yang barusan aku sampaikan, aku tidak peduli. Mereka sudah sangat menyebalkan sore ini. Tapi semoga dari sekian hal yang ku sampaikan, bisa lebih membuka pemikiran mereka.

Akhirnya adzan magrib berkumandang dan satu per satu dari kami kembali ke rumah masing-masing. Mendung yang selama itu kami nikmati telah menyatu bersama gelap malam yang datang. Kami kembali dengan rentetan hal yang masih sibuk mengelabuhi diri.
Dan aku sangat paham banyak hal yang orang tua khawatirkan kepada anak-anaknya. Tapi mereka juga harus tahu bahwa tidak semua hal yang mereka anggap benar, sepenuhnya menjadi benar. Ada beberapa hal yang mesti mereka sesuaikan dengan anak-anak mereka. Karena tidak semua hal bisa ditakar dengan ukuran yang sama. Semua ada porsinya.

Aku sama sekali tidak bermaksud kurang ajar. Tidak juga bermaksud merasa pintar dan menyombongkan diri. Aku hanya ingin menjadi wakil dari anak-anak yang berani mengutarakan dan kemudian didengarkan oleh orang-orang yang mereka hormati. Orang tua perlu menjadi manis untuk mendapatkan perlakuan yang manis dari anak-anaknya. Bukankah seseorang akan memetik apa yang telah mereka tanam? Aku pikir itu benar. Aku banyak membuktikan sendiri. Aku banyak menjumpai orang tua yang manis kepada anak-anaknya menjadikan anak-anak mereka menjadi manis, lembut, dan membuat orang tuanya bahagia juga. Begitupun sebaliknya. Memang tidak semuanya, tapi kebanyakan iya. Selebihnya anggap saja keberuntungan.

Aku juga masih belajar menata diri menjadi sebaik-baiknya pribadi. Menjadi anak-anak sudah kulalui. Sekarang waktunya mempersiapkan diri menjadi ibu yang baik untuk anak-anak ku nanti. Aku ingin mereka menjadi pribadi yang manis, selalu bahagia, dan menjadi sebaik-baiknya jalan surga.

Sudah, itu dulu saja.

Salam literasi.

Selasa, 18 Juni 2019

Kehidupan Pasca Wisuda

Picture by : Google
Tidak ada yang bisa menduga bagaimana akhir dari sebuah usaha atau dengan perjalanan hidup seseorang. Termasuk dengan kehidupan setelah menjadi seorang wisudawan wisudawati. Tidak begitu sulit, hanya butuh penerimaan dan usaha yang sungguh-sungguh agar bisa mencapai sesuatu yang kita inginkan.

Aku adalah seorang akuntan. 1 tahun 4 bulan lalu aku resmi menjadi karyawan di sebuah perusahaan swasta di Kota Kudus. 5 bulan sebelum itu, aku resmi menjadi wisudawati di salah satu Politeknik Negeri di Semarang. Sebenarnya ini bukan pekerjaan pertama yang aku terima. Perjalanan yang ku lalui cukup panjang. Berkali-kali jatuh aku lakoni begitupun dengan cara untuk bangkit kembali. Ternyata hal-hal manis yang sempat terbayang olehku berbanding terbalik dengan apa yang aku hadapi setelahnya. Ekspektasi memang tak selalu berakhir nyata.

Dulu menjelang semester akhir, bayanganku tentang masa depan begitu apik dan menggembirakan. Aku menyusun target, menuliskannya di sticky note juga di buku diary yang aku punya. Satu per satu aku rinci dari mulai detail target lengkap dengan waktu yang aku rencanakan. Harapku hanya satu, semoga semuanya bisa terlampaui dengan baik dan berakhir dengan sesuatu yang aku mau. Alhamdulillah sampai wisuda berlangsung semua target terlampaui dengan hasil yang baik. Ya meskipun aku tidak mendapat predikat cumlaud, tapi setidaknya aku bisa wisuda dengan tepat waktu. Ini adalah sebuah cara menghargai diri sendiri. Menerima dan tak lupa aku mengucapkan selamat kepada diriku sendiri atas pencapaian yang sudah aku terima.

Untuk sampai ke titik menjadi seorang wisudawati sebenarnya juga sulit. Tapi aku masih sangat beruntung, karena di semester akhir sudah tidak harus bergelut dengan mata kuliah. Aku dan teman-teman seprodiku hanya perlu fokus ke laporan magang dan penyelesaian tugas akhir. Begini saja sudah banyak mengeluh. Dosen pembimbing ya beginilah, objek TA beginilah, revisi beginilah, dan beginilah yang lain tak henti menyerbu secara bergantian. Aku bersyukur bisa menemukan mereka yang sudi saling menguatkan ditengah-tengah kebingungan yang sedang kita hadapi bersama. Dan aku beruntung diberikan dosen pembimbing yang baik hati dan tidak rewel ketika bimbingan berlangsung. Ini poin penting selain objek TA yang lebih dulu harus dipastikan kesediaannya untuk menjadi objek penelitian kami, para mahasiswa tingkat akhir. Untuk mahasiswa tingkat akhir, dosen pembimbing menjadi seperti pengendali mood. Dan kalian tahu kan dampak dari sebuah mood. Oke cukup.

Dulu setelah wisuda aku bercita-cita ingin hijrah ke tempat perantauan yang lebih jauh. Yang ku bayangkan akan lebih menjanjikan masa depanku dan dekat dengan kampus-kampus terbaik di negeri ini. Selain keinginan bekerja, aku juga ingin melanjutkan pendidikanku lagi. Terlalu muluk memang, tapi bukankah harapan itu harus selalu ada? Aku juga ingin menikah dan memiliki putra putri yang sholeh dan sholehah. Aku ingin punya jalan menuju surga lewat mereka. Hehe

Tapi ternyata tak semudah itu. Di sela-sela pelaksanaan jadwal sidang tugas akhir, aku dan teman-teman seangkatanku mengikuti seleksi menjadi pegawai di salah satu BUMN ternama di Indonesia. Kami menjadi terpaksa menjadi rival, meski terus saling menguatkan dan saling mendukung. Satu per satu gugur di proses seleksi yang begitu panjang. Termasuk aku. Langkahku terhenti di 2 tahap terakhir. Aku gugur dan tentu saja bersedih.

Kemudian aku mengikuti seleksi menjadi pegawai di salah satu kementrian di Indonesia. Aku pergi ke Jakarta guna menyelesaikan seleksi dan numpang di rumah budeku sampai proses seleksi ini selesai. Semuanya berjalan begitu lancar sampai waktu pengumuman itu tiba. Ternyata aku gagal lagi dan sedihku bertambah lagi. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Tapi ini tidak berlangsung lama. Ya, tentu saja aku tidak akan membuat orang-orang tersayangku bersedih karena melihatku bersedih. Lets move on gaes!

Setelahnya aku pulang. Kembali ke kota yang membesarkanku. Aku mengevaluasi diriku sendiri. Aku mencari apa yang salah dengan proses yang ku lalui. Aku menangis seorang diri, meronta meminta-minta kepada Yang Maha Kuasa. Sambil menilai, sambil ku cari lowongan kerja yang lain. Dan kali ini aku tidak mengambil di luar kotaku. Mamak memintaku bekerja di dalam kota. Katanya biar mamak bisa lihat aku tiap hari. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya mau memenuhi keinginan mamak dengan pertimbangan yang banyak. Karena kalau kembali ke dalam kota, aku berfikir aku akan sulit berkembang baik dalam hal pekerjaan maupun pendidikan. Tapi aku mencoba menuruti keinginan mamak.

Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan pertamaku setelah mengikuti wawancara kerja di salah satu perusahaan konstruksi di perbatasan kotaku. Tempatnya sangat jauh, aku harus menempuh kurang lebih 45 menit untuk sampai ke sana. Tapi cuma 3 hari. Aku resign dan menyerah dengan segala sambatan yang ada. Mulai dari jarak, cara kerja, jam kerja, gaji, dan tentu saja gengsi yang dulu ku punyai. Dan baiklah, lupakan.

Kemudian aku mencoba lagi. Kali ini aku mengikuti seleksi di salah satu badan usaha milik pemerintahan yang ada di kotaku. Tapi lagi-lagi aku gagal di tahap akhir. Kemudian aku mengikuti seleksi di salah satu bank syariah di kotaku. Aku gagal lagi, dan kali ini aku gagal dari awal proses seleksi.
Tidak berhenti sampai di situ, sambil menunggu jadwal seleksi masuk kerja dari beberapa tempat yang aku lamar, aku mengirimkan banyak sekali CV lamaran ke banyak perusahaan lain baik secara online atau mengantarkan sendiri sampai ke lobi perusahaan yang bisa ku jangkau dengan jarak.

Akhirnya tidak lama setelah itu, aku diterima kerja di salah satu toko yang lumayan besar di kotaku. Toko itu memiliki cabang dimana-mana. Tapi belum ada yang mengurus laporan secara administratif. Semua pekerjaan dikerjakan oleh owner toko sendiri. Aku menerima pekerjaan pertamaku sebagai seorang akuntan yang bekerja seorang diri dengan proses yang benar-benar dari awal. Aku ditantang untuk membuat laporan keuangan yang mudah dipahami dan tentu saja terstruktur. Aku tidak punya partner kerja kecuali si bos.
Tapi penawaran gaji pertamaku sangat minim, hampir sama dengan karyawan toko. Hampir saja aku mundur gara-gara ini. Seorang diploma sepertiku hanya akan digaji sama seperti mereka yang porsi kerjanya jauh lebih ringan? Oh no. Bukan bermaksud meremehkan, tapi sudah semestinya tanggung jawab yang lebih besar diiringi dengan imbalan yang lebih juga bukan? Akhirnya aku melakukan negosiasi dan percobaan pertama aku akan digaji sesuai dengan UMR/bulan. Katanya setelah itu, kalau aku berhasil di masa percobaan aku akan mendapatkan lebih dari apa yang sudah ku dapatkan di bulan pertama. Akhirnya kami sepakat. Waktu itu hari sabtu, dan hari senin aku boleh langsung bekerja.

Tapi tidak lama. Baru sekitar 25 hari aku bekerja, aku memutuskan resign. 2 hari sebelum itu, aku sudah diterima kerja di sebuah perusahaan swasta di kotaku. Kali ini aku hanya butuh 5 menit untuk sampai ke kantor. Lebih dekat dengan rumah, lebih terstruktur, lebih nyaman dengan jam kerja, lebih termanusiakan dengan gaji yang aku kerjakan, dan tentu saja aku lebih menemukan orang-orang yang sepemikiran denganku dalam hal bekerja. Dulu setiap hari aku di kantor sendiri, tidak punya teman bicara, dan tentu saja terpaksa menerima pemikiran yang tak sejalan denganku. Mereka bilang jadi aku enak, enggak capek dan lebih bisa leha-leha. Padahal mereka sama sekali tidak tahu bagaimana capek yang aku rasakan di psikisku karena beban kerja dan cemoohan mereka. Bukankah setiap orang diuji dengan daya uji masing-masing? Sebenarnya aku ingin sekali membantu mereka untuk lebih bisa membuka pemikiran mereka, tapi tidak jadi. Aku lebih memilih pergi dan kembali menyelesaikan pekerjaanku sendiri.

Sekarang sudah 1 tahun 4 bulan aku bekerja di tempat terakhir yang aku lamar. Aku mulai menikmati ini semua. Berangkat kantor 10 menit sebelum bel masuk kantor, bekerja sesuai dengan job desk, bersosialisasi dengan tetangga dan teman-teman kantor, jalan-jalan ke kota 2-3 kali sebulan, juga bersapa kabar lewat sosial media dengan teman-teman lama dan saudara jauh. Dan satu yang utaam, alhamdulillah mamak senang dengan keadaanku yang sekarang. Minimal aku punya cara membaktikan diri kepada mamak sebelum menjadi seorang istri. Hehe

Pesan untuk kalian yang masih berjuang dari orang yang berpengalaman minim sepertiku:
  1. Jangan mudah menyerah, sesulit apapun medan yang sedang ada dihadapanmu. Kalau gagal, coba lagi sampai berhasil.
  2. Jangan terlalu mengedepankan gengsi. Minimal kita akan pengalaman dari apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang kecil di hidup kita.
  3. Ijazah itu penting. Tapi jauh lebih penting attitude. Ijaah hanya membantu kita di tahap administrasi, sedangkan softskill akan membawa kita melewati sisa tahapan yang ada. Yang jelas lebih panjang, dan tentu saja lebih menjadikan kita berhati-hati.
  4. Bekerja tidak selalu soal passion, meski aku sendiripun mencari kenyamanan dari ini. Aku bersyukur karena akhirnya pekerjaanku sesuai dengan apa yang sebelumnya aku pelajari. Aku tidak perlu belajar dari awal dan hanya tinggal mendalami. Tapi percayalah jalan rejeki tidak hanya dari sesuatu yang kamu yakini. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita semua.
  5. Doa kedua orang tua itu mujarab. Sangat sangat mujarab. Mintalah dengan sungguh-sungguh dan niatkan semuanya untuk mereka karena Allah.


Insyaallah ada jalan. Sekian.

Salam Literasi




Sabtu, 15 Juni 2019

Perantara Juru Damai

Udara pagi ini begitu segar. Jalanan yang ku lalui lengang. Aku sedang ada di perjalanan menuju kantor menggunakan sepeda motor idamanku ditemani tas gendong yang ku beli sebelum supermarket itu kebakaran. Nasib memang tidak ada yang tahu. Roda kehidupan sebegitu nyamannya berputar melintasi apa saja yang dilaluinya. Sama sepertimu, aku juga pernah merasakan apa yang kau rasakan. Meskipun berbeda, tapi aku katakan kita ini sekisah, senasib, seperjuangan.

Motor yang ku kendarai ku pacu dengan kecepatan sedang. Aku tidak ingin cepat sampai kantor. Tapi aku juga tidak ingin berlama-lama di jalanan. Aku hanya ingin menikmati apa saja yang sedang membersamaiku. Motor yang setengah tahun lagi akan lunas, tas gendong yang agak memberatkan, pakaian kantor yang bebas di hari minggu, jalanan yang lengang, udara pagi yang sejuk, hamparan padi yang mulai menguning, bunga yang sedang bermekaran, langit yang membiru, dan rasa syukur dan juga harapan baru yang tak henti ku rapalkan sejak kedua mataku kembali terbuka seiusai menikmati tidur nyenyakku malam tadi. Hari ini aku akan melalui banyak hal yang membahagiakan. Ini harapanku hari ini. Hehe

Tapi di tengah-tengah perjalanan aku teringat dialog singkatku bersama seseorang yang belakangan ini sering ku sapa dengan sebutan "Tante". Dia perempuan, seumuran denganku, cantik, tapi agak apa seh. Aku susah mendiskripsikan tentangnya. Jadi aku cukupkan saja ya.

Semalam kami tidak sengaja bertemu di acara rutinan mingguan yang diadakan pemudi kampung kami. Kami duduk bersebelahan di sisi agak depan berurutan dengan pintu masuk dan menghadap ke selatan. Sudah beberapa hari kami tidak bertemu. Kesibukan telah memangkas waktu temu kami. Akhirnya moment pertemuan seperti ini kami manfaatkan untuk menceritakan apa saja yang belakangan sudah menyeruak di pikiran kami masing-masing.

"Drama baru muncul di rumahku" katanya memulai cerita

Aku setengah terkejut dan setengah memaklumi apa yang dialaminya. Kami memang sering melakukan curhat colongan setiap bertemu. Membagi apa saja yang belakangan membuat kami resah.

"Apa meneh tee?" tanyaku melanjutkan

Dia bercerita cukup panjang. Tentang lelaki tua yang sering diceritakannya dengan sebutan "beliau" (sopan sekali memang dia), tentang ibunya, tentang kekasihnya, dan tentang dia sendiri. Katanya keadaan di rumahnya memanas.

"Beliau mulai lagi. Terus terus mencari kesalahanku. Ibu. Ibu hampir selalu memihak kepada beliau. Ikut berfikiran yang tidak-tidak tentangku. Tapi kadang aku dengar ibu membelaku. Ibu bilang ke beliau kalau aku tak seburuk yang beliau fikirkan. Tapi apa? Beliau malah marah. Menilai apa yang dikatakan ibuku dan penjelasan dariku salah. Aku dan ibu tidak pernah benar dihadapannya. Aku capek diginiin terus. Memangnya siapa dia?" katanya berbisik panjang.

Aku menyimak ceritanya sambil terus melafalkan tembang sholawat yang terus berlangsung. Multitasking yang agak diselewengkan sebenarnya.

"Sabar cakep. Terus?" kataku mencoba menenangkan

"Terus aku bilang ke ibu 'doain aku cepet wisuda ya bu, biar aku saja yang mengalah dan keluar dari rumah ini'. Rasanya aku pengen cepet pergi, biar nggak kesakitan lagi" katanya melanjutkan

Aku memalingkan wajahku ke arahnya. Aku menutup mulutku dengan tangan kananku dan kemudian memulai ujaranku. Aku agak marah sebenarnya, kenapa bisa dia selemah itu. Ingin menyerah di tengah-tengah peperangan begitu saja. Kenapa tidak memilih mati sekalian? Ah dia, apa kata-kata bijakku selama ini tidak cukup untuk menguatkannya?

"Sadar tee ngomong gitu?" kataku meyakinkan

"Lhah iya, emang kenapa?"

"Apa kamu nggak malah nambah pikiran ibumu?"

Dia diam. Memikirkan apa entah. Tapi raut wajahnya berubah. Aku sengaja tidak menanyakan kenapa dan malah melanjutkan perkataanku selanjutnya.

"Beneran pengen pergi dan ninggalin ibumu sendiri di rumah dengan beliau yang sudah mulai bernilai buruk dipikiranku juga? Pikirin lagi deh" kataku berbisik

"Sebenernya nggak tega juga si bong. Tapi gimana lagi?"

"Ibu cuma punya kamu dan kamu malah pengen pergi? Tee, kenapa kamu nggak pengen jadi penengah aja si?" kataku memberikan penawaran

"Penengah gimana si bong?"

"Aku tahu berat banget jadi kamu yang sekarang. Disalahin terus, mau ngomong nggak dikasih celah, akhirnya menyerah menjadi pikiran satu-satunya. Aku pernah berada di posisimu yang sekarang. Ya meskipun kasus kita berbeda"

Dia terus mendengarkanku sambil tetap menutup mulut dengan salah satu tangannya dan mengarahkan pandangan ke depan. Kami harus terlihat seperti tingkah orang-orang disekitar kami. Meskipun sebenarnya tidak sama sekali. Haha

"Aku pernah berada diantara mamak dan bapak. Mendengar ocehan yang sama-sama membuatku seperti menerima sayatan perlahan. Aku tahulah kamu paham dengan apa yang aku maksud. Aku bahkan sempat berada di puncak kegelisahan. Merasa menjadi manusia yang sama sekali tidak punya keberuntungan. Dan juga berniat ingin pergi jauh seperti yang kau pikirkan sekarang ini" kataku

"Nah kan" katanya menyela

"Tapi ternyata aku salah. Sejauh dari apa yang telah aku lalui, aku telah berhasil bertemu dengan ladang penerimaan atas apa yang di takdirkan untukku. Sekarang aku sudah berhasil berdamai dengan semua. Apa saja yang dulu membuatku berujar yang tidak-tidak sampai menangis tanpa sebab. Tee, aku nggak bener-bener paham gimana jadi kamu. Tapi aku berharap, kamu bisa menjadi pemenang atas apa yang sedang kamu hadapi sekarang"

"Tapi bong?"

"Setiap orang punya daya uji masing-masing. Aku dan kamu termasuk diantaranya. Tee, dulu setiap drama dihidupku datang lagi aku diam tee. Saking capeknya ngladenin gerutuan mamak dan bapak yang saling menyelahkan. Capek bener, sampai nggak ada lagi yang ingin aku respon. Tiap mereka ngomong, aku dengarkan tapi aku diam. Dalam hati aku berdoa semoga mamak sama bapak bisa terbuka hatinya. Aku juga minta sama Allah semoga dikasih kemampuan untuk bisa melewati apa saja yang menjadi takdirku. Ini yang terpenting.
Waktu itu aku benar-benar tidak punya pilihan, selain memaksakan diri untuk tetap berada diantara keduanya. Meskipun akhirnya aku kesakitan setiap hari, tapi minimal aku tetap bisa memastikan bahwa mereka tetap baik-baik saja. Dan sekarang alhamdulillah, Maha Besar Allah yang telah menjadikan semuanya menjadi lebih baik".

Dan suasana kembali hening, kecuali dengan lantunan sholawat yang hendak digantikan dengan lantunan surat Al-Waqiah. Kami bahkan tidak sempat saling peluk. Hanya sekedar saling memandang sekilas. Dan aku memberikan sebuah senyuman untuknya. Harapku, semoga dia tidak terus keras kepala dan sudi mencari cara untuk bisa berdamai dengan apa yang sedang dihadapinya sekarang.

Baiklah, aku sudah sampai di ruang kerjaku dan sepertinya aku harus memulai pekerjaanku sekarang. Jadi, sampai jumpa dicerita selanjutnya. Happy weekend pembaca kisah usangku.

Salam Literasi.

Rabu, 12 Juni 2019

Walau Jauh, Tentangmu Tetap Menjadi Seluruh

Siang ini aku memandang langit, berbicara kepada awan, dan kemudian menceritakan apa saja tentangnya. Tapi aku tak berbicara, hanya menggerutu di dalam hati saja. Lelaki itu. Ah kenapa enggan pergi dari ingatanku? Padahal jelas-jelas, jarak sudah begitu jauh memisahkan kami. Dia sudah lama pergi. Maksudku kami sama-sama pergi sesuai dengan garis takdir yang kami miliki. Entah akan bertemu atau tidak, aku sudah cukup senang akhirnya ilmu yang belakangan membuat kami didera kebingungan akhirnya sampai kepada hasil yang kami mau. Tapi ternyata tidak sepenuhnya begitu. Aku malah berada diantaranya. Bahagia sekaligus merana.

"Duhai hati,
kenapa semudah ini berbolak-balik si?"

Sebenarnya aku tidak suka perpisahan. Akhir yang kebanyakan menyedihkan. Termasuk dengan apa yang masih bergemuruh di ruang pikirku ini. Tentang apa saja yang sangat ingin ku sampaikan kepadanya, tapi belum jadi suka sampai sekarang. 

Tidak ada yang tahu tentang ini. Kecuali aku, Allah dan doa-doa yang berlarian kearahnya. Sampai sekarang, aku masih berhasil bersembunyi di balik kata yang sengaja tak banyak ku sampaikan. Aku berhasil berlarian di antara lorong-lorong ruang kagumku kepadanya. Aku berhasil menatap dengan lembut ke arahnya dari dekat di antara riuh keramaian yang ada. Aku berhasil menyayanginya dengan caraku dan tanpa dia atau orang lain mengetahui itu. Aku berhasil bertahan dalam diamku. Tapi aku belum berhasil berdiri dihadapannya dan kemudian mengatakan "Aku Menyayangimu Sejak dari Dulu".

Dan jari-jariku tiba-tiba bergetar setelahnya. Jantungku berdegup semakin kencang. Tepat setelah menuliskan itu. Setelah 5 kata di akhir paragraf kedua itu bisa terbaca. Senyumku mengembang dengan sendirinya. Aku ingin lari. Jauh. Sampai benar-benar tak ada yang tahu keberadaanku. Rasanya aku malu membayangkan kalimat itu benar-benar terucap dari bibirku. Ah apa? Aku bukan tipikal orang yang berani melakukan hal-hal semacam itu. Sejak dari dulu. Bahkan sejak aku mulai berani mengagumi orang-orang sebelum dia. Tapi aku bisa jadi berani, kalau dalam keadaan terpaksa. Ah tapi jangan sampai, aku berharap dia saja yang datang kepadaku dan aku hanya tinggal menjawab "Ya". Menyenangkan (mungkin).

"Cupu banget si ven. Bilang gitu aja nggak punya nyali" kataku menghujat diriku sendiri.

Baiklah, terserah. Bahkan kalau kau tak setuju dengan apa yang sudah sejak lama ku lakukan, aku terima dengan lapang dada. Aku belum  memiliki cukup nyali untuk bisa melakukan ini. Aku tidak terlalu berani mengambil resiko. Aku takut patah hati, takut kecewa dan menyesal di kemudian hari. Tapi apapun itu, aku berharap gayungku ini akan bersambut. Semoga Allah segera memberikan jawaban atas ini semua.

Lama tak bertemu, tak membuat ingatanku menjadi lumpuh. Bahkan setiap hal yang ada padanya tak pernah hilang meski sudah lama dia tak ada dihadapan. Meskipun aku hanya menyaksikan ini itu di diri orang lain. Rasanya, lagi-lagi aku ingin berlari jauh sampai ke tempat yang bisa membantuku untuk bisa melupakan semua ini. Tapi semakin menjauh, aku semakin merasa tak mampu. Pandangan pertama itu, membekas dan enggan pergi. Apakah ini yang orang-orang katakan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama?

Baiklah. Apapun itu, biarkan saja. Biar aku lanjutkan kagumku ini. Toh jika ini jalannya, Allah akan memudahkan semuanya. Tapi jika ternyata tidak, Allah bakal kasih yang lebih baik daripada dia bukan? Ya, ini memang cara terapik untuk menenangkan diri.

Semenjak wisuda berakhir, komunikasi kami menjadi berakhir. Oh bukan, maksudku kami hanya bertanya seperlunya saja. Ah tapi daridulu juga begini. Iya benar, aku dan dia hanya bicara seperlunya saja. Pernah beberapa kali bercanda, tapi bareng-bareng sama yang lain. Padahal aku ingin hanya berdua saja. Tapi belum sampai terjadi, jarak sudah lebih dulu membentang. Sekarang aku dan dia sudah tidak ada kepentingan, jadi komunikasi kami sangat minim. Tapi tidak begitu menjadi masalah. Aku tetap bisa mendengar kabarnya lewat cerita orang-orang, atau lewat update media sosialnya, atau bahkan lewat mimpi yang berkisah di tidurku semalaman. Aku juga tetap bisa menikmati suara indahnya lewat rekaman lantunan ayat Allah yang sengaja aku jadikan alarm tiap tengah malam. Aku juga tetap bisa memandangnya lewat foto-foto lama yang aku punyai. Dan aku tetap bisa memutar kisah-kisah lama yang masih jelas sekali di ingatan.

Terlalu banyak hal yang bahkan aku sendiri masih enggan melupakan ini. Terlalu indah dan sayang untuk dibiarkan begitu saja. Pernah waktu itu hujan. Kami sedang dalam perjalanan pulang dan kebetulan berboncengan. Kau tahu? Entah bagaimana awalnya, tapi aku merasa senang sekali. Rintik hujan waktu itu menjadi saksinya. Aku mengatakan banyak hal ke diri sendiri. Tapi aku tetap diam, meminimalisir perkataan seperti biasa. Jalanan yang kami lewati berkelok dan agak licin karena terkena hujan. Tapi dia asyik sekali dengan kaca spion. Orang ini memang fanatik sekali dengan kaca. Di jalanan, di ruangan, di mall, di rumah siapa entah, pokoknya dimana saja. Sukanya membenarkan ujung rambut, atau sekedar memandang wajahnya sendiri, atau mungkin dia bermaksud lain. Ahh aku  bahkan belum semapt menanyakan ini benar-benar kepadanya. Saking senangnya (hehe). Jarang sekali aku bisa mendapatkan hal semenyenangkan ini. Biar saja, tapi aku ketakutan. Takut dia hilang kendali dan kemudian kami sama-sama terjatuh dan merepotkan semua rombongan.

"Bisa enggak, enggak ngaca tiap lihat kaca?" kataku

"Bisa enggak, enggak merhatiin aku terus?" katanya membalik

Aku diam, tapi menahan senyum. Baper si, tapi aku nggak cerita sama siapa-siapa. Biar, biar cuma dikatain baper diri sendiri. Biar nggak malu-maluin. Wkwkwk

Terakhir, aku dengar dia pindah tugas ke luar pulau. Kata teman-temanku deket si, tapi naik pesawat. Bisa banget emang mereka memangkas jarak. Tapi apapun itu, semoga Allah kasih yang terbaik buat kita semua. Semoga Allah jagain Mamak Bapak kita ketika kita lagi nggak sama mereka. Semoga Allah memberikan berkah, nikmat, rahmat, hidayah, dan inayah-Nya untuk kita semua. Semoga Allah kasih kita kesempatan untuk bisa bersilaturrahmi kembali dengan keadaan yang tertunya lebih baik lagi. Terlepas dari akan berakhir bersama atau tidak, biarkan cerita ini tetap ku rangkum menjadi beberapa paragraf yang mengisahkan bagaimana aku kepadanya. 

Sebenarnya tentangnya sudah banyak ku sampaikan. Lewat sajak-sajak yang terangkai menjadi puisi. Lewat cerita pendek yang ku posting di media sosialku. Atau lewat doa yang banyak kupanjatkan. Sering juga ku ikutkan lomba. Pernah sesekali menang. Aku senang sekali. Setidaknya kekagumanku ini tidak berakhir sia-sia. Meskipun belum benar-benar sampai kepadanya.

Tapi biarkan waktu menjawabnya. Aku sudah lama berhenti memperhatikannya. Tidak sepenuhnya berhasil, tapi aku tetap berusaha. Aku ingin menjadi seperti Fatimah yang mencintai Ali dalam diam, yang kemudian semua doa-doanya terjawab dan berhasil menuju kepada orang yang dituju dalam doanya. Aku ingin seperti Aisyah yang muncul 3 kali dimimpi Rasulullah dan kemudian dipersunting menjadi seorang istri. Tapi kalau Allah mengijinkan, aku tak menolak jika menjadi seperti Khadijah yang malah menyatakan perasaannya lebih dulu kepada Rasulullah.

Sebenarnya dari awal aku memang tidak banyak mencari tahu tentangnya. Aku juga tidak tahu hobbynya (selain fanatik dengan kaca), aku tidak tahu siapa teman baiknya, aku tidak tahu apa-apa yang disukainya, aku tidak tahu apa cita-citanya, aku tidak tahu apa yang menjadi masalahnya, pokoknya aku tidak banyak tahu tentangnya. Aku hanya tahu sedikit. Aneh kadang rasanya. Kebanyakan orang-orang yang menyukai seseorang selalu mencari tahu ini itu tentang orang yang disukainya. Tapi aku? Tidak. Nanti juga tahu sendiri. Yang penting, pas lihat dia rasanya tenang. Wehehehe

Tapi aku tak ingin berangan terlalu jauh. Aku cukup sadar diri dengan banyak kekurangan yang aku miliki. Aku takut terjatuh dan menelan banyak kecewa. Ya meskipun sebenarnya aku ingin sekali dia tahu. Tapi bukankah sebaik-baiknya harapan hanya kepada Allah?

Yash, that's right. Sekarang, aku hanya perlu menjadi lebih baik. Doakan aku teman-teman. Semoga yang terbaik selalu memeluk diri ini. Semoga doa kalian melangit dan berbalik ke kalian semua.

Salam Literasi,


Veni Veronika 

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....