Sabtu, 22 Februari 2020

Review Buku : "The Subtle Art Of Not Giving a F*ck (Sebuah Cara Untuk Bersikap Bodo Amat)"

Aku suka Mark Manson. Maksudku aku suka karyanya Mark Manson. "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" adalah karya pertama Mark Manson yang ku baca. Buku ini menjadi Best Seller dibeberapa negara.

Aku merasa tertampar berkali-kali setiap membaca per-babnya. Humornya cadas bung, bahasanya juga ringan, tapi inti sari pembahasannya tetep serius. Mark Manson berhasil bikin pembacanya ngaku kalau hidup ini memang menyebalkan dan ya tentu saja dengan beberapa tips menikmati semua itu. Aku belum sempat menanyakan ini ke pembaca lain, tapi aku yakin mereka berpikiran sama dengan ini.

Buku ini mengingatkan kita untuk bisa self-love, lebih bahagia, dan lebih juga memaknai hidup dengan cara membatasi kepedulian kita terhadap apa yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk kita. Bukan jadi acuh tak acuh, tapi lebih ke nyaman jadi sesuatu yang beda dari kebanyakan orang. Intinya kita harus bisa memilah mana yang penting dan mana yang enggak penting buat diri kita.

Buku ini mengingatkan kita bahwa hidup itu penderitaan. Hidup itu rentetan masalah. Hidup itu bikin kita sakit dan itu semua nggak bisa kita hindari apalagi sampai kita tinggal lari. Tapi justru disinilah istimewanya. Bahagia bisa ada saat kita menemukan, menikmati, dan berhasil memecahkan masalah. Proses memang lebih penting daripada sekedar hasil. Dan siapa diri kita yang sebenarnya ditentukan dari apapun yang ingin kita perjuangkan. Pokoknya emosi negatif itu ada bukan untuk disangkal, ditolak, dihindari apalagi ditinggal lari. Marah terkadang juga menyehatkan. Tapi ya tidak berlaku selamanya.

Buku ini juga mengingatkan kita untuk tidak lagi merasa seolah-olah diri kita ini paling menderita. Diluaran sana orang-orang bahkan berpeluang merasakan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan, ya atau bisa saja dengan porsi yang lebih sedikit atau bahkan lebih. Tapi kita juga tidak boleh merasa sok wah, karena diluaran sana orang-orang juga berkemungkinan punya hal yang sama dengan kita atau bahkan lebih dari apa yang kita punya dan juga yang kita bisa.

Buku ini mengingatkan betapa pentingnya menentukan standar untuk mengukur diri  kita sendiri. Buatlah nilai yang bisa menjadikan kita ke arah yang lebih baik. Yang penting kita berani menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas itu. Ya karena tidak akan ada yang bertanggung jawab atas keadaan kita kecuali diri kita sendiri dan begitupun dengan kita yang tidak wajib bertanggung jawab atas keadaan orang lain. Ya meskipun dibeberapa hal kita harus terpaksa bertanggung jawab atas apa yang sama sekali tidak berhubungan dengan diri kita sebelumnya. Jangan takut mengakui kesalahan dan jangan pernah menyalahkan orang lain atau apapun. Jangan takut sakit, kita butuh perubahan untuk bisa jadi yang lebih baik, lebih nyaman, dan lebih bahagia.

Buku ini juga mengingatkan kita untuk menjadi orang yang jujur. Ini poin utama dalam membangun kepercayaan. Jangan takut bilang "tidak" kepada sesuatu yang memang kurang srek sama kita. Karena untuk mengapresiasi sesuatu , kita butuh membatasi diri untuk bisa merasakan semuanya lebih bermakna dan menjadikan batin kita lebih sehat.

Dan ini bagian yang paling jadi favoritku. Bab 9 dengan judul "....Dan Kemudian Anda Mati". Dan kemudian kita akan mati? Ya tentu saja. Bagian penutup buku ini mengingatkan kita tentang kematian, tentang bagaimana cara agar kita lebih bisa memaknai hidup dan menyadari betapa sementaranya kita di dunia ini. Ya mati itu pasti, dan seperti masalah, datangnya tidak akan bisa kita hindari. Satu-satunya cara biar kita nyaman dengan semua ini adalah dengan memahami dan melihat diri kita sebagai sesuatu yang lebih besar dari pada diri kita sendiri. Dan bahwa kebahagiaan bisa datang dari kepedulian kita terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Dan kemudian percaya bahwa kita ini berharga, dan bahwa hidup ini adalah secuil proses yang sangat menjadi misteri.

Dan akhirnya, menjadi positiflah dengan mengerti batasan diri dan menerimanya. Menjadi kuatlah dengan ini. Tepat, ketika kita mampu akrab dengan segala ketakutan, kegagalan, dan juga ketidakpastian. Tepat, ketika kita berhenti melarikan diri dari segala macam masalah dan mulai menghadapi kenyataan kemudian menemukan kebahagiaan.

Sekian dan terimakasih.
Selamat membaca.

Jumat, 14 Februari 2020

Sekedarnya Untukmu

Melihat senyummu, rekam otakku abadi mengalun. Bunyi-bunyi kerinduan berdenting. Suara-suara yang menyebut namamu kembali mengeja. Derap langkah kaki seakan mendekat. Kau begitu erat terdekap. Oh hari yang indah. Seindah kalimat pertama yang telah kau baca.

Liar, kau begitu bebas, menari-nari di dalam isi kepalaku. Membuka mata, menjalani hari, istirahat sejenak, melanjutkan lagi, sampai terlelap kembali, kamu selalu ada. Aku tak bisa lari dari semua hal yang berhubungan denganmu.

Takut, setiap malam aku bersembunyi di kolong imajinasiku. Remang-remang ku curi waktu, ku bingkai kisah impianku bersamamu. Indah, ah sepertinya aku akan benar bahagia.

Tapi seketika terhenti, aku membiarkanmu menunggu. Sengaja, aku menarik dalam-dalam nafasku, dan menghembuskannya sambil membisikkan sesuatu kepadamu. Sengaja, aku memainkan cincin di jari kelingkingku. Sengaja aku berjalan pelan dan kemudian mengambil waktu. Sengaja ku uji kebaikanmu, berharap tak menemukan keberatanmu.

Bertanya, akankah benar bisa bersama? Sungguh aku tak ingin berakhir kecewa.

Terpejam, aku mencoba membayangkan cerita kita yang begitu indah. Persis seperti yang ku mau, atau tentu saja yang sama-sama kita berdua mau. Tapi seperti berakhir, jarak dan waktu menjadi tak seperti yang aku mau. Kau juga (mungkin). Hei, kita berkemungkinan sama bukan? Ya, aku hanya takut benar-benar jatuh hati kepadamu dan kemudian tak bisa melupakanmu. Keseluruhan tentangmu tepatnya.

Bertemu, berbulan-bulan lamanya aku menunggumu tapi datangnya selalu sosok yang lain. Kami  bersama, berdua, berjalan begitu baik, dan ya tentu saja kau begitu pas menjelma di dalam dirinya. Setiap ku memandangnya, setiap itu pula ku pandang kau. Terlalu manis. Aku merasa sangat jahat telah melakukan ini. Tapi ini sungguh menyakitkan. Kenapa begitu sulit menghilangkan bayangmu? Kenapa melupakanmu aku tak pernah bisa? Sesak hatiku dipenuhi harapku tentangmu. Kau benar-benar jahat. Tapi aku masih ingin mencintaimu.

Pudar, rahasiaku bukan menjadi rahasia lagi. Semua orang tahu, ya orang-orang itu tahu. Kecuali aku. Aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana isi hatiku. Aku tersesat, sekaligus terjebak, ya tentu saja. Dalam kagum aku memujamu, dalam hati aku mempertanyakanmu. Hai kau, katakanlah sesuatu kepadaku.

"Hai kau, kagumkah atau cintakah aku kepadamu?"

Ingin, aku ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan. Tentang senyummu yang semalam, tentang yang ku rasa entah, tentang suara yang menjadikanku candu, tentang cinta yang entah kapan ku ketahui artinya, tentang apa saja, tentang apa saja, tentang apa saja.

Terkunci, terhenti aku pada sesuatu yang tak bisa ku artikan.

"Aku mencintaimu" kataku pilu sendiri.

Cermin-cermin berisi gambar diriku menertawakanku.

"Jangan sampai tak terucap" kata mereka riang.

"Ya tentu saja. Akan ku lakukan. Secepatnya. Sampai setidaknya aku tak berada di alam yang berbeda dengannya" kataku merendah.

Berpikir, apakah aku sempat terlintas dibenakmu? Apakah kau merasakan sesuatu yang sama sepertiku? Apakah dikejahuan sana kau menatap bulan yang sama seperti yang malam ini ku lakukan? Apakah hati kita akan sama-sama terpaut? Apakah aku akan bisa berhenti meananyakan apakah dan apakah lagi? Oh aku bahkan belum pernah berhasil menemukan alasan mencintaimu. Aku ingin sekali menyampaikannya kepadamu. Tapi sayangnya tidak akan terjadi, atau mungkin belum, atau ya tentu saja aku tidak benar-benar mencari tahu kebenarannya.

Terbayang, akankah benar kau adalah sesuatu yang akan ku temukan? Atau akankah benar aku adalah sesuatu yang akan kau temukan? Atau apakah kita akan saling menemukan? Dan kita akan menjaadi pelengkap yang saling membuka ruang berfikir masing-masing dari kita, lebih luas, lebih jauh, dan juga lebih banyak cinta.

Berniat, jika kau benar datang, aku tak akan memikirkannya 2 kali. Karena kau adalah satu, kau adalah satu-satunya, dan tentu aja kita akan bersatu. Kau ibarat jiwa, sedang aku adalah raga yang bernyawa karenamu.

Oh tapi tunggu dulu.

Tak bisakah semua ini berhenti?

Sungguh aku ingin jatuh cinta selain kepada kau, tuan tampanku.

Jumat, 07 Februari 2020

Ketika Kita Tidak Saling Menemukan (Lagi)

Kata kata telah rusak, tidak lagi berbentuk, dan tidak ada lagi yang sudi menjamah. Sebab perannya sudah berubah. Jelmanya telah berubah menjadi api yang saling membakar satu sama lain. Rasanya tidak ada lagi makna dari dialog yang mulai kehilangan rumahnya. Tembok-tembok telah meninggi. Aku merasakan sekat ini semakin ada dan menjadikan kita semakin jauh. Dadaku rasanya penuh, kepalaku pening, aku berjalan pasrah ke tempat biasanya aku merebah.

"Aku benci begini, aku benci jarak, aku benci diam, aku benci kehilangan, aku benci kamu yang tega melakukan, aku benci kita yang tidak bisa saling menemukan" kataku menggerutu.

Pintu-pintu semakin tertutup. Kita mulai kehilangan kewarasan, berteman dengan keheningan, dan mulai mencari pelampiasan lain agar tidak merasa kesepian. Tak ada lagi yang tersisa, meski hanya sekedar menyelesaikan ujung pembicaraan. Jiwa-jiwa kita mulai mati. Dan ya aku pikir kita layak disebut sekarat. Kita telah lebih dulu jatuh pada apa yang masing-masing menjadikan kita angkuh. Kita terjerat, kita tenggelam dalam lautan emosi yang berat.

Oh tidak adakah celah untuk kita duduk melingkar bersama, mengurai sekian tanda tanya, dan kemudian saling memperebutkan sesi untuk menjawabnya?
Tidak adakah lagi ruang di masing-masing hati kita yang sempat larut dalam satu kasih sayang yang sama ini?
Tidak adakah?
Hei.
Jawablah.
Aku mohon jawablah
Aku bertanya kepadamu.
Atau ya kepada siapa saja kalian yang telah sudi membaca ini.

Terlampau kering air mataku meratapi kehilangan ini. Kehilangan yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa kembali menemukan. Sudah lebih dari sekali, aku takut kita tidak bisa kembali lagi. Dan ternyata, masing-masing dari kita sudah lama pergi. Kita bahkan telah meninggalkan apa yang belum selesai di antara kita. Aku yang salah (ya mungkin), tapi kau juga (ya tentu saja), atau malah kita yang sama-sama tak mengakui itu? Ya, begini mungkin lebih tepat. Tapi apapun itu, harusnya kita tetap harus saling menemukan.

Setiap kita adalah petarung. Setiap kita adalah pemenang. Tapi seiring dengan itu, begitulah setiap kita, terlampau bahagia sebagai seorang pecundang yang tidak pernah mengakui kebenarannya. Aku begitu. Aku tidak pernah malu mengakui itu. Aku melakukan itu demi kebahagiaanku. Atau, hei, apa kau juga seperti itu? Haha dasar pecundang.


Hei, kenapa menjadi sesulit ini? Kataku ingin terus melaju, tapi melihatmu tidak lagi menjadikanku begitu. Aku tidak bisa begini. Bertahan dengan diam dan sekian banyak tanda tanya yang tergantung di kepala. Oh aku tidak sekuat itu. Aku tidak setuju dengan kemauanmu yang bersikap seolah-olah seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Bukan begini jiwa seorang pemenang. Pemenang sejati tidak pernah lari dari apa yang menjadikannya tidak enak hati. Dia bertanggung jawab. Dia rela melakukan apa saja bahkan ketika dia tahu bahwa dia harus terluka.

Aku menyadari ketidaknyamananmu. Aku menghargai caramu melindungi dirimu. Aku menghargai keputusanmu. Aku sadar kau berhak penuh atas hidupmu. Tapi aku tidak selalu suka caramu membungkus lika-liku yang datang di kehidupanmu.

Kita sama, berkemungkinan membahagiakan dan ya tentu saja sebaliknya. Kita sama, sudah sepatutnya saling mengingatkan. Kita sama, kita berhak atas apa saja. Kita sama, harusnya kita bisa duduk bersama, menceritakan semuanya, dan menikmati apa saja bersama.

Aku ingin kembali, menghidupkan rumah kita lagi dengan cahaya yang masing-masing kita punya. Aku ingin melihat air mata bahagia, senyum yang apa adanya, caci maki yang menjadikan masing-masing dari kita saling terbuka, juga rencana yang beberapa kali hanya jadi rencana. Aku ingin kembali dekat. Aku ingin segera pulang. 

Terbukalah, terbukalah duhai pintu-pintu rapuh yang sempat kehilangan kunci untuk membukanya.
Terbukalah, terbukalah duhai hati-hati yang sempat mati tanpa meninggalkan arti.
Terbukalah, terbukalah duhai ruang berfikir yang menjadikan jiwa-jiwa tuannya hangat dipeluk gengsi.
Terbukalah, terbukalah pintu surgaku.

Mendekatlah. Kembalilah. Cukupkanlah segala lelah yang sempat singgah di antara kita. Kita harus kembali. Kita harus memperbaiki jiwa kita. Kita harus mengulangnya. Ya tentu saja menjadikan setelahnya lebih baik dari sebelumnya. Lalu kemungkinan aku akan menjatuhkanmu dan kamu akan menjatuhkanku. Ya tentu saja, kita terpaksa harus menikmatinya (jika ternyata harus ada).
Kita harus saling menemukan.
Kita harus bahagia.


Minggu, 02 Februari 2020

Appreciation Post

Tema yang bagus. Apresiasi? Hei ya aku tentu saja aku bingung harus memberikan ini kepada siapa. Orang-orang banyak menyampaikannya kepada bapak, ibu, teman, kekasih, tombol spasi, barang-barang kesayangan, sosial media, debu, udara, dan ya masih banyak lagi pastinya. Tapi aku tidak. Aku pikir akan lebih baik jika kuberikan itu kepada diriku sendiri. Hal-hal lain sudah terlalu sering, diri sendiri malah jarang, atau lebih tepatnya memang sengaja abai. Ahh tapi ya memang sedikit orang menyadari ini. Sering kali niat hati menenangkan diri, tapi sesering mencoba, sesering itu juga gagal menyapa dan malah berakhir memaki. Akhirnya bukannya menerima malah semakin benci. Lucu ya? Ya, aku benci mengakuinya.

Orang-orang benar, bahwa tidak ada yang benar-benar sembuh dari sebuah luka. Orang-orang benar bahwa tidak perlu ada yang dilupakan dari sebuah luka. Semua hanya perlu direlakan. Bukankah jatah dari-Nya selalu menjadi hal terbaik untuk hamba-Nya? Ya, tentu saja aku telah mendapatkannya. Yang aku mau, yang tak pernah aku mau, telah berhasil menjadikanku mau. Sekalipun aku pernah marah, sekalipun aku pernah mencoba lari, tapi akhirnya aku kembali. Aku kembali memeluk diriku sendiri. Aku kembali mengingat apa saja yang sudah ku punya.

"Ini sudah lebih cukup. Harusnya aku bisa lebih menerima setelahnya."kataku menyadari sesuatu.

Ya tentu saja, aku kembali mencintai diriku sendiri. Aku mengingat untuk lebih mencintai-Nya, juga mencintai apa saja yang menjadi pilihan-Nya. Aku bahagia dan aku mulai rela.

Terimakasih duhai diriku. Kamu hebat, sekalipun banyak hal menyebalkan yang kau punya. Kamu sangat hebat, aku juga, kita sama. Nggak papa sesekali sedih, ngomel, nyesel, lemah. Nggak papa. Kadang memang kita butuh itu untuk menjadi seimbang dan juga untuk belajar. Nggak papa. Kita berhak atas itu. Tapi secukupnya saja ya. Nggak perlu lama-lama. Hidup di dunia tuh bentar doang. Sayang kalo nggak dibikin seneng. Ya meskipun di surga sana kita akan selalu bahagia. Ya, semoga kita beruntung sampai ke sana.

Udah ya, nangisnya besok lagi. Kacamatamu udah ngembun tuh, ntar kamu nggak bisa nikmatin semesta raya yang indahnya tiada tara ini lhoh ya.

Udah ya, yuk pasang mantra aja yuk.
"Kita kalo lagi bahagia, ingat pernah sedih. Kita kalo lagi sedih, ingat pernah bahagia. Hidup ini bak lotre. Kalo beruntung kita bakal dapet apa yang kita mau. Tapi kalo ternyata sebaliknya, ya terima aja. Allah selalu tahu apa yang terbaik yang kita butuh. Nggak perlu khawatir berlebih, semua sudah sesuai porsi. Nikmatilah, nikmatilah apa saja yang ada.Ini tidak akan lama. Berbahagialah."
Pelukan dulu yuk. Aku mencintaimu lebih-lebih duhai jiwa raga yang membersamaiku. Aku beruntung memilikimu dan tentu berlaku sebaliknya untukmu. Kita patut bersyukur atas itu. Tenangkan hati, kita pasti akan bahagia, kita berhak bahagia, ya kita akan selalu bahagia. Karena bahagia kita yang punya dan tentu saja kita yang buat itu ada. 
.
.
.
Salam Literasi

Jumat, 31 Januari 2020

G A M A M

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi aku pikir aku bisa membuatmu sedikit mengerti tentang apa yang belakangan ini menjadi kemelut yang hampir membakar diriku sendiri. Ada beda diantara yang sudah ada. Tapi aku tak mengerti, aku susah memahaminya. Ya, mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi entahlah. Aku benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda.

Kemarin aku pulang ke rumah lamaku dan pergi sementara dari rumah yang aku tempati sekarang. Aku berangkat melewati jalanan ramai nan panjang dengan penuh ambisi. Sambil mengendalikan scoopy, aku sibuk merangkai mimpi, juga merapal doa demi kesuksekan pertemuan kali ini. Sesampainya disana, aku disambut sebuah senyuman pada langkah pertama menuju pintu rumah lamaku. Riuh teriakan bahagia hasil perjumpaan terdengar bersahut-sahutan. Aku meraihnya, satu per satu dari kedua tangan yang membentang tanda penantian sebuah pelukan. Lepas, sebagian dari rinduku terhempas. Akhirnya, setelah sekian lama, kami bertemu pada sebuah temu yang nyata. Kami (tampak) bahagia.

Di hari itu aku mencoba menikmati semuanya. Hujan, obrolan, permainan, makanan, dan apapun yang aku usahakan untuk jadi sesuatu yang berkesan. Ah, tapi aku pikir, aku tidak benar-benar melakukannya. Aku tidak benar-benar menikmatinya. Aku tidak benar-benar menemukan sebuah kenyamanan.

Berjalan aku menuju sebuah ruang, tapi kosong. Aku tak menemukan sesuatu yang berkesan. Lalu aku keluar menuju sebuah ruang lain, tapi gelap. Aku hanya menemukan kerumunan sepi. Lalu aku keluar menuju sebuah ruang yang lain. Di sana ramai. Tapi aku malah bingung menjawab kerumunan tanya yang ada di kepalaku. Lalu aku diam. Aku memaksa diri menikmati semua yang ada. Sampai akhirnya lelap, sampai akhirnya aku benar-benar melalui semuanya tanpa pernah lagi bertanya apa dan bagaimana seharusnya.

"Aku merasa ada yang berbeda" kataku di perjalanan pulang.

"Apa?" kata seseorang.

"Aku tidak tahu" kataku memandang lurus.

"Sebenarnya aku juga merasakan" katanya menyahut.

"Apa?" tanyaku.

"Rasanya beda" katanya.

"Kita sama" kataku menyerah.

"Kita tak pernah tahu itu apa" katanya lelah.

Dulu rumah lamaku itu hangat. Dulu pada setiap mereka adalah apa yang aku cari, juga apa yang aku tuju. Dulu ruang-ruang di dalam rumah itu terasa penuh, terang, juga menjadikanku bergairah. Dulu, tapi itu dulu. Dulu, ya aku masih merindukan yang dulu dulu.

Mungkin karena sebab waktu, atau lingkungan, atau bahkan karena sebab yang tidak pernah menjadikan kita sendiri mengerti tentang itu. Beberapa hal memang bisa menjadi sangat rumit tiba-tiba. Padahal harusnya tidak. Padahal harusnya semua sederhana. Padahal seharusnya kita tahu yang sebenarnya.

Aku dingin, aku kosong, aku tidak lagi menemukan apa yang aku mau di rumah lamaku itu. Aku limbung, aku sekarat, tapi aku tak benar-benar tahu apa penyebabnya. Aku ingin lari, aku ingin memantau dari jauh dan mendapatkan kesimpulan atas ini. Tapi diam, aku tak bergerak sama sekali. Sampai saatnya tiba. Sampai akhirnya waktu itu habis bersama dengan pertanyaan yang belum juga ku temukan jawabnya. Sampai di situ aku berhenti bertanya. Sampai akhirnya aku pasrah berkata "setidaknya aku tahu ada beda di antara kita semua".

Ya, kita tidak pernah sampai kepada yang seharusnya.


Salam rindu dariku,
Nona manis yang merindukanmu.

Jumat, 20 Desember 2019

Sudut Ruang Milik Ibuku

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku berpelukan dengannya, menceritakan hari-hari paling menyenangkan dan sekaligus melelahkan atau bahkan menyebalkan yang aku lalui di keseharianku. Tapi meski tidak ada pelukan, hari-hariku dengannya tetap penuh dengan cerita-cerita yang kadang menjadikan gaduh diantara kami. Aku kadang tertawa mendengarkan ceritanya, dia kadang marah mendengar ceritaku. Aku hampir tidak pernah benar dihadapannya, dan dia hampir tidak pernah dihadapanku. Beginilah ceritaku bersama ibuku. Ibu yang tak mau ku panggil "ibu" karena dia bukan pegawai kantoran katanya. Ibu yang tak mau ku panggil "mamah" karena dirasa terlalu wah untuknya yang hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Ibuku hanya mau dipanggil "mamak" oleh anak-anaknya, tapi tidak dengan suaminya. Bapakku sering memanggilnya dengan sebutan "mamah". Ya, terakhir kali aku mempermasalahkan ini, ibuku hanya terdiam dan berkata "Bapakmu udah manggil gitu sejak dari sebelum nikah sama mamak tahu?". Oke baiklah, aku menyerah.

Ibuku berbeda dengan ibu-ibu di seluruh dunia. Ibuku dingin luar biasa, saking dinginnya sampai hatiku jadi hangat setiap berhadapan dengannya. Ibuku tak pernah berkata halus, suaranya keras, sudah terlanjur katanya. Ibuku cerewet, bicaranya tak pernah bisa berhenti sebelum kemauannya dipenuhi. Ibuku minim pelukan, aku menangispun ibuku hanya menyuruhku bersabar. Ibuku seorang pembenci, aku pernah mendengarnya menggerutu begitu hebat dan berkata tidak akan memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Jalan hidupnya begitu pelik, aku sangat mengerti ini. Tapi aku takut, aku tak ingin menyaksikannya pergi dengan hati yang penuh benci. Aku takut tidak bisa bertemu dengannya lagi di surga-Nya Allah kelak. Ibuku aneh, aku sampai tak habis pikir dengan apa yang menjadi keputusanya atau mungkin dengan sesuatu yang sedang dipikirkannya. Kadang aku lama diam hanya karena terpaksa mengiyakan kemauannya.

Tapi ibuku rajin luar biasa, sebelum subuh dapur dan kamar mandi sudah menjadi peraduannya. Ibuku juga mandiri, tak pernah mencoba merepotkan orang lain termasuk aku sebagai anaknya, kecuali dia sedang benar kerepotan dan terhalang sesuatu. Ibuku juga pekerja keras, meski akhir-akhir ini sering mengeluh capek dan sakit. Aku ingat betul waktu bapak pergi entah kemana, mamak bekerja seorang diri menghidupi aku dan adik kecilku yang gendut waktu itu. Tak pernah peduli kotor, tak pernah peduli cuaca, tak pernah peduli capek, tak pernah peduli malu. Ibuku sanggup melakukannya sendiri, tanpa aku perlu membantu. Ibuku juga perempuan yang kuat, dia tak pernah merasa keberatan meski orang-orang banyak menaruh ketidaksukaan dengannya. Ibuku teramat penyayang, setiap hari selalu ada menu-menu makanan penuh cinta dihidangkannya di atas meja makan. Ibuku lihai mengurai sedih menjadi sesuatu yang menjadikannya kuat, aku tak ingat kapan terakhir kali dia menangis setelah sakit hati yang tidak bisa ditahannya lagi waktu itu. Ibuku sangat ramah, teman-temannya mungkin lebih banyak daripada teman-teman yang aku punya. Setiap pergi mengantarkannya, orang-orang begitu akrab dengannya. Aku merasa beruntung memilikinya.

Picture by : G o o g l e
Aku ingat waktu itu, ketika aku masih menjadi gadis kecilnya. Dia ajak aku kemana dia pergi. Dia gendong aku kemanapun kakinya melangkah. Katanya, aku tidak pernah punya siapa-siapa kecuali dia, bapak, juga seorang perempuan paruh baya lebih tua darinya yang selalu membantu menenangkanku ketika aku menangis. Eyangku atau saudara-saudara ayahku tak perduli denganku, tertawa malah menjadi jalan untuk menganggap aku dan ibuku ada. Mereka lucu, aku berharap besar bisa berhubungan akrab dengan mereka semua. Pagi sekali ibu sering mengajakku naik bis trayek ke daerah dekat kecamatan. Aku begitu hangat digendongnya menuju sebuah wartel untuk mencari atau menyampaikan sesuatu kepada bapak. Aku ingat betul bagaimana segarnya udara pagi itu. Sudah tidak seperti sekarang, sudah terkontaminasi.

Rambutku bagus, panjang sekali, tapi agak mengombak. Ibuku mengepangnya begitu rapi. Dibisikannya doa-doa terbaik yang dimilikinya untukku. Aku begitu merindukan semua ini. Sekedar duduk di depannya dan kemudian menikmati sisir yang digerakkan oleh tangan yang mulai keriput itu. Menjadi anak gadisnya membuatku harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan moment itu lagi. Aku bahkan rela tidak memotongkan rambutku ke salon hanya demi mendapatkan belaian lembut darinya di kepalaku yang kadang menjadi sekeras batu ini. Oh aku ingin kembali menjadi gadis kecil itu lagi.

Dan hari ini adalah peringatan hari ibu. Tapi entah kapan aku bisa dengan lantang mengucapkannya kepada ibuku. Mengucapkan selamat ulang tahunpun aku tak pernah. Ibuku bilang tanggal lahirnya yang tertera di KTPnya audah dimanipulasi oleh kakek dan nenekku sewaktu pembuatan akte. Zaman dulu tidak ada pencatatan seperti sekarang ini, bahkan menuliskan apapun oleh mereka adalah dengan cara mengira-ngira.
Ibuku tidak suka sesuatu yang manis. Dia tidak suka sesuatu yang romantis, apalagi diperlakukan dengan begitu istimewa. Ibuku berbeda, aku sudah menjelaskan begitu awal tentang ini kepadamu. Ibuku adalah jiwa yang penuh dengan cinta. Cinta milik ibuku adalah cinta yang berbeda. Berbeda adalah ciri khas ibuku. Ibuku adalah rumah. Rumah bagi jiwa-jiwa yang kadang kosong dan hilang arah.
Walau ibuku adalah rumah yang dingin. Tapi ibuku begitu menghangatkan. Dia adalah sumber dari segala cinta. Cintanya begitu luas dan tak mengenal batas. Sampai jauh aku ingin jatuh begitu dalam kepadanya. Sampai jauh aku ingin terbang begitu tinggi ke arahnya. Sampai jauh aku ingin lari menujunya. Sampai jauh aku ingin selesai dipangkuannya. Sampai jauh, sampai jauh, sampai semua tanda tanya berhenti berseru. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu, IBU. Ijinkan aku memanggilmu "ibu".
Disini, di ruang rahasiaku ini, aku memujamu dengan sungguh.

Selamat hari ibu "Ibu"

Terimakasih untuk apapun yang telah ada. Maaf belum bisa mendengarmu dengan sungguh. Maaf belum bisa memahamimu dengan penuh. Maaf belum bisa jadi yang sepenuhnya kau harapkan. Maaf masih merepotkanmu. Maaf untuk segala salah yang mungkin belum ku sertakan dengan kata maaf yang ku haturkan kepadamu. Satu yang akan menjadi selamanya, kau adalah ibuku dan aku adalah gadis kecilmu. Aku tak akan pernah menjadi dewasa dihadapanmu, aku tahu itu, dan aku yakin kau tak pernah menyadari perlakuanmu padaku atas itu.

You are everything to me mom.
You are my best mother.
I love you so much.

Salam hangat dariku,
Endok

-----------------------------

Salam Literasi


Minggu, 17 November 2019

Tentang Aku dan Sebuah Cermin

Aku termenung menatap bayangan diri. Di depan cerminku aku berdiri, menilai satu per satu kualitas diri. Sesekali terlontar kata-kata penguat diri, tangisku pecah, aku memeluk bayangku sendiri.

"Aku bukan orang yang hobby selingkuh" kataku menjaga jarak. Aku mundur kira-kira 2 langkah dan kemudian kembali menatapnya. "Aku bukan orang yang hobby selingkuh"

"Ya, aku tahu. Kamu bahkan belum pernah memilikinya sebelum aku" katanya mengingatkanku.

"Aku takut meneguk kecewa"

"Dan aku tidak akan pernah melakukan itu"

"Jangan berjanji. Berusahalah"

Aku tak pernah percaya dengan sebuah janji. Rasanya lebih tenang mendengar seseorang mengatakan dirinya akan berusaha, dari pada menebar janji-janji diri yang kebanyakan malah banyak dinodai. Terlalu basi atau lebih tepatnya janji bukan sesuatu yang bernilai spesial lagi. Terlalu banyak yang melakoninya dengan buruk. Aku benci menyaksikan ini.

"Sungguh"

"Aku takut"

"Tidak ada yang menyakitimu"

"Ya, sudah tidak lagi. Dan, semoga tidak akan ada lagi"

"Hei......"

"Tidak ada yang akan benar-benar tahu"

"Lalu?"

"Tidak jadi. Hanya takut sesuatu terulang lagi"

"Tidak akan"

"Ya, semoga kau benar"

Ya, dan aku hampir tidak percaya dengan masa depan. Orang-orang itu? Aku bahkan terlampau egois dan menganggap mereka semua sama. Tidak adil memang, tapi untuk orang-orang yang setipe denganku akan sangat sulit untuk tidak melakukan itu. Kejadian itu begitu menakutkan. Kau yang tidak pernah melakoninya tidak akan tahu benar bagaimana rasanya.

"Percayalah"

"Dan kau?"

"Dan aku?"

"Berjanjilah untuk tidak melakukan itu kepadaku"

Bicara apa aku? Bahkan aku telah secara tidak langsung memintanya berjanji? Padahal, aku sendiri saja sudah tidak percaya janji. Racunku ku teguk sendiri, aku bunuh diri.

"Maksudmu?"

"Bukankah kau adalah cerminan diriku?"

"Tentu saja"

"Bukankah sosok asli dengan sosok yang ada dipantulan cermin itu sama?"

"Tidak ada beda"

"Jadi, kita sepakat?" kataku sambil mengulurkan jabat tangan.

"Untuk?" katanya menyambut uluran jabat tanganku.

"Untuk tetap menjadi bayangan satu sama lain" kataku lirih.

Bagus. Aku telah mengatakannya, tepat di hadapannya. Aku berhasil, aku telah berhasil mengatakannya.

"Aku mendengarnya"

"Harusnya, tidak" kataku menyesal.

"Tapi"

"Apa?"

"Aku tidak akan berjanji. Tapi percayalah, aku akan berusaha"

Ya dia paling tahu apa yang aku mau. Termasuk dengan tidak berjanji perihal apapun. Bukti pertama darinya, dia tidak mengecewakanku. Yang telah ku sampaikan, terpatri benar diingatannya.

"Aku suka itu"

"Aku tahu"

"Dan sekarang?"

"Sekarang? Ada apa?"

"Aku bahagia"

"Aku? Tidak begitu"

"Tapi?"

"Lebih dari apa yang kamu rasakan. Aku beruntung"

Senyumnya begitu manis. Aku terpaut, tenggelam dalam romansa jatuh cinta yang begitu indah. Kalau aku benar berhasil memilikinya, tidak ku biarkan apapun meniadakannya. Senyuman itu, biar jadi alasanku jatuh cinta kepadanya. Kepada dia yang telah berjanji tidak akan pernah berjanji lagi.

"Aku tahu"

"Tapi kamu ragu"

"Sudah tidak lagi. Aku sudah menemukan apa yang aku mau"

Tidak sesempurna yang ku mau, tapi sepertinya dia cukup untuk menjadi apa yang aku butuh. Bukankah ini lebih dari cukup? Tentu saja.

"Kau percaya padaku?"

"Aku berusaha. Dan semoga kau tidak mengecewakanku"

Aku mendekat, dia juga. Kami sama-sama mendekat. Dan peluknya ku rasakan begitu hangat. Aku nyaman merebah ke dada bidangnya.

"Aku butuh doamu"

"Pasti"

"Juga percayamu"

"Itu juga"

"Akankah aku berhasil?"

"Apa?"

"Membahagiakanmu"

"Dan ayah bundamu"

"Tentu"

"Jika kau mau. Allah tahu apa yang menjadi inginmu"

"Terimakasih bidadariku"

"Kembali kasih tuanku"

"Aku mencintaimu"

"Aku lebih mencintaimu karena-Nya"

"Aku tahu aku tidak akan pernah menjadi yang pertama"

"Tak apa, kau tetap yang utama setelah-Nya"

Pelukan itu selesai, tepat setelah kecup lembutnya mendarat di keningku. Tangisku mereda. Lalu aku meringankan langkah. Aku pergi, jauh, semakin jauh dari cerminku. Aku takut, setakut ini untuk membuka lagi ruang percaya. Aku sulit, sesulit itu menutup luka lama, bahkan atas apa saja yang aku sendiri belum pernah melakukannya.

Tapi usai, aku selesai dan berakhir dengan kata rela. Meski ragu, perlahan ruangku terbuka. Aku telah mencoba, aku berlari, aku menyusuri lorong-lorong kehidupan ini, aku mencari bayangku, aku mencarinya, siapa saja yang akan menjadi cintaku.

Oh Tuan, dimanakah kau?

Aku mencarimu.

---------------------------------------------------------

Salam Literasi

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....