Minggu, 14 Juli 2019

Hai, Kenapa Belum Juga Menjadi Baik?

Perjalanan ini begitu sulit. Begitu banyak persimpangan yang menjadikanku lelah memilih dan berniat ingin berhenti. Berulang kali aku salah memilih dan menjadikan diriku terpuruk. Berulang kali pula aku menguatkan diri, mencoba berdiri, dan kemudian pulih kembali seperti yang kau saksikan sekarang ini.

Perjalanan hidup begitu membingungkan. Menebak adalah cara terpasrah bagi pribadi yang mempunyai banyak cita-cita. Dibangunnya mimpi-mimpi dengan indahnya, diajaknya diri untuk bersedia berusaha, dan ditemukan jawab atas sekian banyak pertanyaan yang telah lama ada di hidupnya. Jika beruntung, senyumnya merekah dan menjadi pribadi yang bahagia. Tapi jika ternyata sebaliknya, bisa jadi terpuruk, putus asa, marah, sedih, atau terserah itu. Yang penting satu, jangan sampai hilang arah. Semua sudah ada jalannya. Jika gagal, coba lagi.

Termasuk perjalanan untuk sampai ke sana, ke tempat bahagia yang sangat kekal. Atau tidak, jangan kesana dulu. Aku pikir itu terlalu jauh. Berhenti, disini. Dihadapan diri sendiri.

Hai, kenapa belum juga menjadi baik?

Minimal bisa menjadikan orang-orang tersayang nyaman. Atau membuat mereka bahagia ketika sedang bersama. Atau membuat diri mereka menjadi berharga. Oke baiklah, lupakan saja.

Hai, kenapa masih banyak hal-hal menyebalkan di dalam diri?

Stop. Berhenti dan jangan bertanya perihal ini lagi. Jangankan kau, akupun tidak begitu paham dengan ini. Dan jangan berfikir aku tidak berusaha mencoba.
Kau bahkan tidak tau betapa terjal medan yang harus ku tempuh untuk sampai dititik ini. Tapi hai, apa yang kau lakukan untukku untuk bisa menghindari atau bahkan membuang jauh hal-hal yang kau anggap menyebalkan dariku?

Tidak ada bukan. Oh tidak seharusnya aku bertanya seperti ini. Maaf, telah lancang berbicara seperti ini. Baik apapun itu, terimakasih untukmu Setidaknya dengan pertanyaanmu itu, aku bisa kembali memikirkan jalanan yang harus ku pilih kembali untuk sampai kepada sesuatu yang lebih baik.

Aku sadar, semakin ke sini akan semakin banyak yang akan terlibat di hidupku. Aku sadar, akan semakin banyak yang menilaiku atau bahkan menjadikan diriku cermin diri. Aku sadar, di dunia ini aku tidak hidup sendiri. Aku sadar, letak bahagiaku bukan hanya melibatkan diriku sendiri. Anak-anakku? Ah jangan pikir lajang yang belum punya calon suami ini tidak pernah berfikir sejauh ini. Justru, justru sangat menjadi di dalam pikiranku hal-hal seperti ini.

Takut? Sangat.

Khawatir? Iya.

Kenapa? Akan terlalu banyak penjelasan. Aku tidak ingin membicarakan ini. Aku pikir aku sudah cukup berhasil mebalut lukaku. Luka yang sama sekali tak pernah aku inginkan. Luka yang menjadikanku merasa menjadi korban bertahun-tahun dan mungkin sampai aku menemukan waktuku. Luka yang menciptakan banyak ketakutan dihidupku. Luka yang, ah sudahlah. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tidak ingin membicarakan ini? Ya, benar.

Lalu?

Aku hanya sedang berusaha menenangkan dan meyakinkan diri. Bahwa baik atau buruknya sesuatu selalu disertai penilaian.

Mereka? Kau? Silakan menilai.

Aku? Aku akan dengan senang hati menikmati. Satu yang ku tahu. Satu yang selalu berhasil membuatku utuh. Bahwa aku tidak pernah menjadi diam seperti yang kau kira. Setidaknya aku sudah berusaha mencoba dan tidak abai. Dengan atau tanpa kau tahu.

Kalau ternyata masih belum baik? Biar. Biar ini menjadi urusanku dengan diriku sendiri. Aku percaya bahwa orang-orang terbaik di hidupku akan selalu punya cara untuk menjadikanku bernilai baik di hidup mereka.

Kau juga, ku doakan semoga ada.

Anak-anak? Pribadi yang akan menjadi cerminanku kelak. Wajah-wajah yang akan ku jaga dengan baik senyumnya, bahagianya (insyaallah). Jiwa dan raga yang akan menjadi tempatku pulang di masa tua kelak. Alasan-alasan yang selalu bisa membuatku berusaha lebih keras, lebih baik, dan lebih terarah. Persimpangan yang mungkin akan selalu aku lewati bersama suami dengan banyak tanda tanya dan jawaban terbaik.

Hei nak, dititik ami berdiri ini, dititik ketika ami belum menjadi apa-apa, dititik ketika ami masih sendiri, mencari jati diri, dan memperbaiki diri, dititik tunggu yang disertai rasa resah ini. Nak, ami ada sedikit pesan untukmu.

"Nak, ami tak bisa berjanji selalu jadi baik, yang selalu bisa buat kamu nyaman, dan selalu jadi yang kamu mau. Ami juga tak bisa berjanji akan selalu ada untukmu. Semesta kadang membutuhkan ami tanpa permisi. Dan ayahmu, semoga akan selalu mengerti. 
Tapi percayalah, ami tak akan pernah berhenti berusaha untuk menjadi baik. Kalau suatu saat ami salah, atau berbuat yang sekiranya kurang sesuai dengan apa yang kamu pikirkan, tolong tegur ami. Bilang ke ami bagaimana cara yang lebih sesuai. Ami juga tidak bisa berjanji akan melakukan seperti yang kamu mau, tapi insyaallah ami akan menjadikannya pertimbangan berharga. Terlalu mendengarkan orang lain memang tidak terlalu baik. Tapi ami pikir, kita butuh ini untuk menjadi saling mengerti."

Salam sayang untukmu anak manis. Ami berharap, kamu bisa membaca ini dan menjadi mengerti. Ami juga berharap, kelak kita bisa berteman dan menjadi lebih baik bersama. Kita bahagiakan orang-orang terbaik di hidup kita dengan cara terbaik yang kita punya ya nak. Ayahmu? Ya, semoga dia juga sepakat dengan ini. Semoga kita semua satu frekuensi dan bahagia dengan cara yang kita ingini.

Tapi nak, ami lupa satu hal. Bahwa ami tak bisa berjanji akan kau panggil dengan sebutan "Ami". Ami butuh bersepakat dengan dia yang menjadi ayahmu kelak. Dan sekarang? Ayah masih dalam perjalanan. Doakan ayah cepat sampai ke ami ya nak.

Sampai jumpa di perjumpaan itu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Salam Literasi

Selasa, 09 Juli 2019

Beri Kami Contoh, Bukan Perbandingan

Tidak ada yang bahagia, hidupnya disamakan dengan yang lainnya. Termasuk aku, dia, atau bahkan mereka yang gemar membandingkan sekalipun. Sebuah ketidakadilan yang kerap tidak disadari oleh banyak hati. Kita mungkin sering mengalami ini.

Sore itu mendung. Udara masih agak dingin seperti beberapa hari terakhir. Beberapa tetanggaku berkumpul, mengupas kacang tanah yang akan digunakan sebagai bibit di sawah. Aku baru saja menyusul, usai membersihkan diri dan menyelesaikan urusanku dengan Rabb-ku.
Ibu-ibu di pelataran rumah tetanggaku masih sibuk mengupas kacang tanah yang ada dihadapan mereka. Seperti biasa, wanita selalu bisa fokus dengan banyak hal. Dan yang paling identik dari mereka adalah curhat yang mengarah kepada nggibah. Jangan dihujat, ini manusiawi, meski sebenarnya ini sangat tidak baik untuk diri sendiri.

Aku masih diam sambil tetap membantu mengupas kacang tanah. Sekedar memperhatikan fokus bahasan mereka dan menelaah mana yang bisa ku ambil hikmah dan mana yang harus ku abaikan begitu saja. Aku tidak mau terlalu masuk ke dalam bahasan mereka. Repot, aku tidak suka. Haha

Tapi tiba-tiba seorang ibu mengeluh. Mengeluarkan sambatan atas anak laki-laki pertamanya.

"Capek emang apa-apa sendiri. Aku pengennya juga si Nanda ngebantuin aku gitu di rumah. Kan dia udah gedhe juga" katanya

"Aku juga. Kadang aku bilang sama enang, si Acap aja rajin njemurin baju, nyapu. Tapi ya gitu, tetep main terus" kata mamak menambahkan

Satu per satu ibu-ibu mengeluhkan hal yang sama. Aku? Masih diam mencari celah bicara.

"Makanya nggak usah mbanding-mbandingin sama anak orang" kataku menyela

Mereka diam. Aku? Ikut diam. Harusnya aku memang diam saja. Tapi tidak jadi. Aku sudah terlanjur geram menyaksikan ambisi mereka supaya anak-anak menuruti keinginan mereka tapi dengan cara yang sangat salah. Aku pikir mereka harus tahu isi hati anak-anak mereka. Dan aku harus mewakili mereka. Aku ada untuk berbicara sebagai anak. Ah harusnya tidak perlu. Aku pikir mereka harus lebih tahu, karena mereka lebih dulu menjadi anak-anak daripada aku dan mereka yang suka mereka banding-bandingkan.

"Bukan begitu mbak, aku cuma pengen Nanda bantuin aku, entah nyapu, entah nyuci baju" katanya menambahkan

"Aku ngerti, tapi nggak dengan cara mbanding-mbandingin. Sakit woiii" kataku

"Halah cucu-cucuku kok dengan suka rela ngebantuin ibunya di rumah" kata seorang nenek di sudut agak kiri perkumpulan itu

"Mbah, cucumu hidup dimana? Kita hidup dimana? Jangan disamain lah. Lagian nggak semua anak berhati besar menerima perbandingan." kataku lagi

"Enggak, mereka emang penurut" katanya menambahkan

"Berarti embah beruntung" kataku

Mamakku diam. Mungkin sudah terlalu muak dengan pembelaanku atas ini. Sudah berulang kali aku membahas ini dengan mamak di rumah, apalagi setiap mamak merasa penat dengan rutinitasnya atau mengeluhkan adikku yang sekarang sedang menikmati masa mudanya. Aku pernah diposisi ini. Dan aku pikir, aku harus tahu bagaimana diantara mamak dan enang.

"Seneng ya Nan, ada yang ngebelain" kata embahnya Nanda

"Siapa yang belain coba. Aku ngomong sebagai seorang anak mbah" kataku

"Aku bahkan nggak nyangka, enang bisa nyuci sendiri setelah pulang dari liburannya kemarin. Waktu itu di rumah memang lagi sepi. Cuma dia yang di rumah" kata mamak

"Nah itu. Jangan dikata kita yang kalian anggap nggak bisa apa-apa ini beneran nggak bisa apa-apa ya. Cara kalian tuh yang salah. Dengerin ya mamak-mamak yang terhormat (ceilahhh), bukan gitu caranya minta bantuan ke anak. Kasih mereka contoh. Kasih pengertian tentang kehidupan ke depan, tentang pentingnya hidup mandiri, atau tentang apapun yang bantu mereka ngerti. Jangan malah sibuk mbandingin sama anak orang. Bayangin kalian jadi anak-anak kalian, dibanding-bandingin sana sini. Sakit. Aku yakkinlah, kalian nggak bakalan mau.
Anak orang dibanggain, anak sendiri? Apa? Ya gini nih yang bikin mereka suka masa bodoh sama kalian. Rasanya nggak pernah ada yang berharga dari apa yang sudah mereka lakukan. Lagian nih ya, anak orang yang kalian bangga-banggain itu juga nggak bakal bisa kaya anak-anak kalian yang begini dan begitu. Setiap orang punya porsinya masing-masing." kataku panjang

Semua diam. Entah fokus dengan kacang tanah yang sedang mereka kupas atau dengan apa yang barusan aku sampaikan, aku tidak peduli. Mereka sudah sangat menyebalkan sore ini. Tapi semoga dari sekian hal yang ku sampaikan, bisa lebih membuka pemikiran mereka.

Akhirnya adzan magrib berkumandang dan satu per satu dari kami kembali ke rumah masing-masing. Mendung yang selama itu kami nikmati telah menyatu bersama gelap malam yang datang. Kami kembali dengan rentetan hal yang masih sibuk mengelabuhi diri.
Dan aku sangat paham banyak hal yang orang tua khawatirkan kepada anak-anaknya. Tapi mereka juga harus tahu bahwa tidak semua hal yang mereka anggap benar, sepenuhnya menjadi benar. Ada beberapa hal yang mesti mereka sesuaikan dengan anak-anak mereka. Karena tidak semua hal bisa ditakar dengan ukuran yang sama. Semua ada porsinya.

Aku sama sekali tidak bermaksud kurang ajar. Tidak juga bermaksud merasa pintar dan menyombongkan diri. Aku hanya ingin menjadi wakil dari anak-anak yang berani mengutarakan dan kemudian didengarkan oleh orang-orang yang mereka hormati. Orang tua perlu menjadi manis untuk mendapatkan perlakuan yang manis dari anak-anaknya. Bukankah seseorang akan memetik apa yang telah mereka tanam? Aku pikir itu benar. Aku banyak membuktikan sendiri. Aku banyak menjumpai orang tua yang manis kepada anak-anaknya menjadikan anak-anak mereka menjadi manis, lembut, dan membuat orang tuanya bahagia juga. Begitupun sebaliknya. Memang tidak semuanya, tapi kebanyakan iya. Selebihnya anggap saja keberuntungan.

Aku juga masih belajar menata diri menjadi sebaik-baiknya pribadi. Menjadi anak-anak sudah kulalui. Sekarang waktunya mempersiapkan diri menjadi ibu yang baik untuk anak-anak ku nanti. Aku ingin mereka menjadi pribadi yang manis, selalu bahagia, dan menjadi sebaik-baiknya jalan surga.

Sudah, itu dulu saja.

Salam literasi.

Selasa, 18 Juni 2019

Kehidupan Pasca Wisuda

Picture by : Google
Tidak ada yang bisa menduga bagaimana akhir dari sebuah usaha atau dengan perjalanan hidup seseorang. Termasuk dengan kehidupan setelah menjadi seorang wisudawan wisudawati. Tidak begitu sulit, hanya butuh penerimaan dan usaha yang sungguh-sungguh agar bisa mencapai sesuatu yang kita inginkan.

Aku adalah seorang akuntan. 1 tahun 4 bulan lalu aku resmi menjadi karyawan di sebuah perusahaan swasta di Kota Kudus. 5 bulan sebelum itu, aku resmi menjadi wisudawati di salah satu Politeknik Negeri di Semarang. Sebenarnya ini bukan pekerjaan pertama yang aku terima. Perjalanan yang ku lalui cukup panjang. Berkali-kali jatuh aku lakoni begitupun dengan cara untuk bangkit kembali. Ternyata hal-hal manis yang sempat terbayang olehku berbanding terbalik dengan apa yang aku hadapi setelahnya. Ekspektasi memang tak selalu berakhir nyata.

Dulu menjelang semester akhir, bayanganku tentang masa depan begitu apik dan menggembirakan. Aku menyusun target, menuliskannya di sticky note juga di buku diary yang aku punya. Satu per satu aku rinci dari mulai detail target lengkap dengan waktu yang aku rencanakan. Harapku hanya satu, semoga semuanya bisa terlampaui dengan baik dan berakhir dengan sesuatu yang aku mau. Alhamdulillah sampai wisuda berlangsung semua target terlampaui dengan hasil yang baik. Ya meskipun aku tidak mendapat predikat cumlaud, tapi setidaknya aku bisa wisuda dengan tepat waktu. Ini adalah sebuah cara menghargai diri sendiri. Menerima dan tak lupa aku mengucapkan selamat kepada diriku sendiri atas pencapaian yang sudah aku terima.

Untuk sampai ke titik menjadi seorang wisudawati sebenarnya juga sulit. Tapi aku masih sangat beruntung, karena di semester akhir sudah tidak harus bergelut dengan mata kuliah. Aku dan teman-teman seprodiku hanya perlu fokus ke laporan magang dan penyelesaian tugas akhir. Begini saja sudah banyak mengeluh. Dosen pembimbing ya beginilah, objek TA beginilah, revisi beginilah, dan beginilah yang lain tak henti menyerbu secara bergantian. Aku bersyukur bisa menemukan mereka yang sudi saling menguatkan ditengah-tengah kebingungan yang sedang kita hadapi bersama. Dan aku beruntung diberikan dosen pembimbing yang baik hati dan tidak rewel ketika bimbingan berlangsung. Ini poin penting selain objek TA yang lebih dulu harus dipastikan kesediaannya untuk menjadi objek penelitian kami, para mahasiswa tingkat akhir. Untuk mahasiswa tingkat akhir, dosen pembimbing menjadi seperti pengendali mood. Dan kalian tahu kan dampak dari sebuah mood. Oke cukup.

Dulu setelah wisuda aku bercita-cita ingin hijrah ke tempat perantauan yang lebih jauh. Yang ku bayangkan akan lebih menjanjikan masa depanku dan dekat dengan kampus-kampus terbaik di negeri ini. Selain keinginan bekerja, aku juga ingin melanjutkan pendidikanku lagi. Terlalu muluk memang, tapi bukankah harapan itu harus selalu ada? Aku juga ingin menikah dan memiliki putra putri yang sholeh dan sholehah. Aku ingin punya jalan menuju surga lewat mereka. Hehe

Tapi ternyata tak semudah itu. Di sela-sela pelaksanaan jadwal sidang tugas akhir, aku dan teman-teman seangkatanku mengikuti seleksi menjadi pegawai di salah satu BUMN ternama di Indonesia. Kami menjadi terpaksa menjadi rival, meski terus saling menguatkan dan saling mendukung. Satu per satu gugur di proses seleksi yang begitu panjang. Termasuk aku. Langkahku terhenti di 2 tahap terakhir. Aku gugur dan tentu saja bersedih.

Kemudian aku mengikuti seleksi menjadi pegawai di salah satu kementrian di Indonesia. Aku pergi ke Jakarta guna menyelesaikan seleksi dan numpang di rumah budeku sampai proses seleksi ini selesai. Semuanya berjalan begitu lancar sampai waktu pengumuman itu tiba. Ternyata aku gagal lagi dan sedihku bertambah lagi. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Tapi ini tidak berlangsung lama. Ya, tentu saja aku tidak akan membuat orang-orang tersayangku bersedih karena melihatku bersedih. Lets move on gaes!

Setelahnya aku pulang. Kembali ke kota yang membesarkanku. Aku mengevaluasi diriku sendiri. Aku mencari apa yang salah dengan proses yang ku lalui. Aku menangis seorang diri, meronta meminta-minta kepada Yang Maha Kuasa. Sambil menilai, sambil ku cari lowongan kerja yang lain. Dan kali ini aku tidak mengambil di luar kotaku. Mamak memintaku bekerja di dalam kota. Katanya biar mamak bisa lihat aku tiap hari. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya mau memenuhi keinginan mamak dengan pertimbangan yang banyak. Karena kalau kembali ke dalam kota, aku berfikir aku akan sulit berkembang baik dalam hal pekerjaan maupun pendidikan. Tapi aku mencoba menuruti keinginan mamak.

Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan pertamaku setelah mengikuti wawancara kerja di salah satu perusahaan konstruksi di perbatasan kotaku. Tempatnya sangat jauh, aku harus menempuh kurang lebih 45 menit untuk sampai ke sana. Tapi cuma 3 hari. Aku resign dan menyerah dengan segala sambatan yang ada. Mulai dari jarak, cara kerja, jam kerja, gaji, dan tentu saja gengsi yang dulu ku punyai. Dan baiklah, lupakan.

Kemudian aku mencoba lagi. Kali ini aku mengikuti seleksi di salah satu badan usaha milik pemerintahan yang ada di kotaku. Tapi lagi-lagi aku gagal di tahap akhir. Kemudian aku mengikuti seleksi di salah satu bank syariah di kotaku. Aku gagal lagi, dan kali ini aku gagal dari awal proses seleksi.
Tidak berhenti sampai di situ, sambil menunggu jadwal seleksi masuk kerja dari beberapa tempat yang aku lamar, aku mengirimkan banyak sekali CV lamaran ke banyak perusahaan lain baik secara online atau mengantarkan sendiri sampai ke lobi perusahaan yang bisa ku jangkau dengan jarak.

Akhirnya tidak lama setelah itu, aku diterima kerja di salah satu toko yang lumayan besar di kotaku. Toko itu memiliki cabang dimana-mana. Tapi belum ada yang mengurus laporan secara administratif. Semua pekerjaan dikerjakan oleh owner toko sendiri. Aku menerima pekerjaan pertamaku sebagai seorang akuntan yang bekerja seorang diri dengan proses yang benar-benar dari awal. Aku ditantang untuk membuat laporan keuangan yang mudah dipahami dan tentu saja terstruktur. Aku tidak punya partner kerja kecuali si bos.
Tapi penawaran gaji pertamaku sangat minim, hampir sama dengan karyawan toko. Hampir saja aku mundur gara-gara ini. Seorang diploma sepertiku hanya akan digaji sama seperti mereka yang porsi kerjanya jauh lebih ringan? Oh no. Bukan bermaksud meremehkan, tapi sudah semestinya tanggung jawab yang lebih besar diiringi dengan imbalan yang lebih juga bukan? Akhirnya aku melakukan negosiasi dan percobaan pertama aku akan digaji sesuai dengan UMR/bulan. Katanya setelah itu, kalau aku berhasil di masa percobaan aku akan mendapatkan lebih dari apa yang sudah ku dapatkan di bulan pertama. Akhirnya kami sepakat. Waktu itu hari sabtu, dan hari senin aku boleh langsung bekerja.

Tapi tidak lama. Baru sekitar 25 hari aku bekerja, aku memutuskan resign. 2 hari sebelum itu, aku sudah diterima kerja di sebuah perusahaan swasta di kotaku. Kali ini aku hanya butuh 5 menit untuk sampai ke kantor. Lebih dekat dengan rumah, lebih terstruktur, lebih nyaman dengan jam kerja, lebih termanusiakan dengan gaji yang aku kerjakan, dan tentu saja aku lebih menemukan orang-orang yang sepemikiran denganku dalam hal bekerja. Dulu setiap hari aku di kantor sendiri, tidak punya teman bicara, dan tentu saja terpaksa menerima pemikiran yang tak sejalan denganku. Mereka bilang jadi aku enak, enggak capek dan lebih bisa leha-leha. Padahal mereka sama sekali tidak tahu bagaimana capek yang aku rasakan di psikisku karena beban kerja dan cemoohan mereka. Bukankah setiap orang diuji dengan daya uji masing-masing? Sebenarnya aku ingin sekali membantu mereka untuk lebih bisa membuka pemikiran mereka, tapi tidak jadi. Aku lebih memilih pergi dan kembali menyelesaikan pekerjaanku sendiri.

Sekarang sudah 1 tahun 4 bulan aku bekerja di tempat terakhir yang aku lamar. Aku mulai menikmati ini semua. Berangkat kantor 10 menit sebelum bel masuk kantor, bekerja sesuai dengan job desk, bersosialisasi dengan tetangga dan teman-teman kantor, jalan-jalan ke kota 2-3 kali sebulan, juga bersapa kabar lewat sosial media dengan teman-teman lama dan saudara jauh. Dan satu yang utaam, alhamdulillah mamak senang dengan keadaanku yang sekarang. Minimal aku punya cara membaktikan diri kepada mamak sebelum menjadi seorang istri. Hehe

Pesan untuk kalian yang masih berjuang dari orang yang berpengalaman minim sepertiku:
  1. Jangan mudah menyerah, sesulit apapun medan yang sedang ada dihadapanmu. Kalau gagal, coba lagi sampai berhasil.
  2. Jangan terlalu mengedepankan gengsi. Minimal kita akan pengalaman dari apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang kecil di hidup kita.
  3. Ijazah itu penting. Tapi jauh lebih penting attitude. Ijaah hanya membantu kita di tahap administrasi, sedangkan softskill akan membawa kita melewati sisa tahapan yang ada. Yang jelas lebih panjang, dan tentu saja lebih menjadikan kita berhati-hati.
  4. Bekerja tidak selalu soal passion, meski aku sendiripun mencari kenyamanan dari ini. Aku bersyukur karena akhirnya pekerjaanku sesuai dengan apa yang sebelumnya aku pelajari. Aku tidak perlu belajar dari awal dan hanya tinggal mendalami. Tapi percayalah jalan rejeki tidak hanya dari sesuatu yang kamu yakini. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita semua.
  5. Doa kedua orang tua itu mujarab. Sangat sangat mujarab. Mintalah dengan sungguh-sungguh dan niatkan semuanya untuk mereka karena Allah.


Insyaallah ada jalan. Sekian.

Salam Literasi




Sabtu, 15 Juni 2019

Perantara Juru Damai

Udara pagi ini begitu segar. Jalanan yang ku lalui lengang. Aku sedang ada di perjalanan menuju kantor menggunakan sepeda motor idamanku ditemani tas gendong yang ku beli sebelum supermarket itu kebakaran. Nasib memang tidak ada yang tahu. Roda kehidupan sebegitu nyamannya berputar melintasi apa saja yang dilaluinya. Sama sepertimu, aku juga pernah merasakan apa yang kau rasakan. Meskipun berbeda, tapi aku katakan kita ini sekisah, senasib, seperjuangan.

Motor yang ku kendarai ku pacu dengan kecepatan sedang. Aku tidak ingin cepat sampai kantor. Tapi aku juga tidak ingin berlama-lama di jalanan. Aku hanya ingin menikmati apa saja yang sedang membersamaiku. Motor yang setengah tahun lagi akan lunas, tas gendong yang agak memberatkan, pakaian kantor yang bebas di hari minggu, jalanan yang lengang, udara pagi yang sejuk, hamparan padi yang mulai menguning, bunga yang sedang bermekaran, langit yang membiru, dan rasa syukur dan juga harapan baru yang tak henti ku rapalkan sejak kedua mataku kembali terbuka seiusai menikmati tidur nyenyakku malam tadi. Hari ini aku akan melalui banyak hal yang membahagiakan. Ini harapanku hari ini. Hehe

Tapi di tengah-tengah perjalanan aku teringat dialog singkatku bersama seseorang yang belakangan ini sering ku sapa dengan sebutan "Tante". Dia perempuan, seumuran denganku, cantik, tapi agak apa seh. Aku susah mendiskripsikan tentangnya. Jadi aku cukupkan saja ya.

Semalam kami tidak sengaja bertemu di acara rutinan mingguan yang diadakan pemudi kampung kami. Kami duduk bersebelahan di sisi agak depan berurutan dengan pintu masuk dan menghadap ke selatan. Sudah beberapa hari kami tidak bertemu. Kesibukan telah memangkas waktu temu kami. Akhirnya moment pertemuan seperti ini kami manfaatkan untuk menceritakan apa saja yang belakangan sudah menyeruak di pikiran kami masing-masing.

"Drama baru muncul di rumahku" katanya memulai cerita

Aku setengah terkejut dan setengah memaklumi apa yang dialaminya. Kami memang sering melakukan curhat colongan setiap bertemu. Membagi apa saja yang belakangan membuat kami resah.

"Apa meneh tee?" tanyaku melanjutkan

Dia bercerita cukup panjang. Tentang lelaki tua yang sering diceritakannya dengan sebutan "beliau" (sopan sekali memang dia), tentang ibunya, tentang kekasihnya, dan tentang dia sendiri. Katanya keadaan di rumahnya memanas.

"Beliau mulai lagi. Terus terus mencari kesalahanku. Ibu. Ibu hampir selalu memihak kepada beliau. Ikut berfikiran yang tidak-tidak tentangku. Tapi kadang aku dengar ibu membelaku. Ibu bilang ke beliau kalau aku tak seburuk yang beliau fikirkan. Tapi apa? Beliau malah marah. Menilai apa yang dikatakan ibuku dan penjelasan dariku salah. Aku dan ibu tidak pernah benar dihadapannya. Aku capek diginiin terus. Memangnya siapa dia?" katanya berbisik panjang.

Aku menyimak ceritanya sambil terus melafalkan tembang sholawat yang terus berlangsung. Multitasking yang agak diselewengkan sebenarnya.

"Sabar cakep. Terus?" kataku mencoba menenangkan

"Terus aku bilang ke ibu 'doain aku cepet wisuda ya bu, biar aku saja yang mengalah dan keluar dari rumah ini'. Rasanya aku pengen cepet pergi, biar nggak kesakitan lagi" katanya melanjutkan

Aku memalingkan wajahku ke arahnya. Aku menutup mulutku dengan tangan kananku dan kemudian memulai ujaranku. Aku agak marah sebenarnya, kenapa bisa dia selemah itu. Ingin menyerah di tengah-tengah peperangan begitu saja. Kenapa tidak memilih mati sekalian? Ah dia, apa kata-kata bijakku selama ini tidak cukup untuk menguatkannya?

"Sadar tee ngomong gitu?" kataku meyakinkan

"Lhah iya, emang kenapa?"

"Apa kamu nggak malah nambah pikiran ibumu?"

Dia diam. Memikirkan apa entah. Tapi raut wajahnya berubah. Aku sengaja tidak menanyakan kenapa dan malah melanjutkan perkataanku selanjutnya.

"Beneran pengen pergi dan ninggalin ibumu sendiri di rumah dengan beliau yang sudah mulai bernilai buruk dipikiranku juga? Pikirin lagi deh" kataku berbisik

"Sebenernya nggak tega juga si bong. Tapi gimana lagi?"

"Ibu cuma punya kamu dan kamu malah pengen pergi? Tee, kenapa kamu nggak pengen jadi penengah aja si?" kataku memberikan penawaran

"Penengah gimana si bong?"

"Aku tahu berat banget jadi kamu yang sekarang. Disalahin terus, mau ngomong nggak dikasih celah, akhirnya menyerah menjadi pikiran satu-satunya. Aku pernah berada di posisimu yang sekarang. Ya meskipun kasus kita berbeda"

Dia terus mendengarkanku sambil tetap menutup mulut dengan salah satu tangannya dan mengarahkan pandangan ke depan. Kami harus terlihat seperti tingkah orang-orang disekitar kami. Meskipun sebenarnya tidak sama sekali. Haha

"Aku pernah berada diantara mamak dan bapak. Mendengar ocehan yang sama-sama membuatku seperti menerima sayatan perlahan. Aku tahulah kamu paham dengan apa yang aku maksud. Aku bahkan sempat berada di puncak kegelisahan. Merasa menjadi manusia yang sama sekali tidak punya keberuntungan. Dan juga berniat ingin pergi jauh seperti yang kau pikirkan sekarang ini" kataku

"Nah kan" katanya menyela

"Tapi ternyata aku salah. Sejauh dari apa yang telah aku lalui, aku telah berhasil bertemu dengan ladang penerimaan atas apa yang di takdirkan untukku. Sekarang aku sudah berhasil berdamai dengan semua. Apa saja yang dulu membuatku berujar yang tidak-tidak sampai menangis tanpa sebab. Tee, aku nggak bener-bener paham gimana jadi kamu. Tapi aku berharap, kamu bisa menjadi pemenang atas apa yang sedang kamu hadapi sekarang"

"Tapi bong?"

"Setiap orang punya daya uji masing-masing. Aku dan kamu termasuk diantaranya. Tee, dulu setiap drama dihidupku datang lagi aku diam tee. Saking capeknya ngladenin gerutuan mamak dan bapak yang saling menyelahkan. Capek bener, sampai nggak ada lagi yang ingin aku respon. Tiap mereka ngomong, aku dengarkan tapi aku diam. Dalam hati aku berdoa semoga mamak sama bapak bisa terbuka hatinya. Aku juga minta sama Allah semoga dikasih kemampuan untuk bisa melewati apa saja yang menjadi takdirku. Ini yang terpenting.
Waktu itu aku benar-benar tidak punya pilihan, selain memaksakan diri untuk tetap berada diantara keduanya. Meskipun akhirnya aku kesakitan setiap hari, tapi minimal aku tetap bisa memastikan bahwa mereka tetap baik-baik saja. Dan sekarang alhamdulillah, Maha Besar Allah yang telah menjadikan semuanya menjadi lebih baik".

Dan suasana kembali hening, kecuali dengan lantunan sholawat yang hendak digantikan dengan lantunan surat Al-Waqiah. Kami bahkan tidak sempat saling peluk. Hanya sekedar saling memandang sekilas. Dan aku memberikan sebuah senyuman untuknya. Harapku, semoga dia tidak terus keras kepala dan sudi mencari cara untuk bisa berdamai dengan apa yang sedang dihadapinya sekarang.

Baiklah, aku sudah sampai di ruang kerjaku dan sepertinya aku harus memulai pekerjaanku sekarang. Jadi, sampai jumpa dicerita selanjutnya. Happy weekend pembaca kisah usangku.

Salam Literasi.

Rabu, 12 Juni 2019

Walau Jauh, Tentangmu Tetap Menjadi Seluruh

Siang ini aku memandang langit, berbicara kepada awan, dan kemudian menceritakan apa saja tentangnya. Tapi aku tak berbicara, hanya menggerutu di dalam hati saja. Lelaki itu. Ah kenapa enggan pergi dari ingatanku? Padahal jelas-jelas, jarak sudah begitu jauh memisahkan kami. Dia sudah lama pergi. Maksudku kami sama-sama pergi sesuai dengan garis takdir yang kami miliki. Entah akan bertemu atau tidak, aku sudah cukup senang akhirnya ilmu yang belakangan membuat kami didera kebingungan akhirnya sampai kepada hasil yang kami mau. Tapi ternyata tidak sepenuhnya begitu. Aku malah berada diantaranya. Bahagia sekaligus merana.

"Duhai hati,
kenapa semudah ini berbolak-balik si?"

Sebenarnya aku tidak suka perpisahan. Akhir yang kebanyakan menyedihkan. Termasuk dengan apa yang masih bergemuruh di ruang pikirku ini. Tentang apa saja yang sangat ingin ku sampaikan kepadanya, tapi belum jadi suka sampai sekarang. 

Tidak ada yang tahu tentang ini. Kecuali aku, Allah dan doa-doa yang berlarian kearahnya. Sampai sekarang, aku masih berhasil bersembunyi di balik kata yang sengaja tak banyak ku sampaikan. Aku berhasil berlarian di antara lorong-lorong ruang kagumku kepadanya. Aku berhasil menatap dengan lembut ke arahnya dari dekat di antara riuh keramaian yang ada. Aku berhasil menyayanginya dengan caraku dan tanpa dia atau orang lain mengetahui itu. Aku berhasil bertahan dalam diamku. Tapi aku belum berhasil berdiri dihadapannya dan kemudian mengatakan "Aku Menyayangimu Sejak dari Dulu".

Dan jari-jariku tiba-tiba bergetar setelahnya. Jantungku berdegup semakin kencang. Tepat setelah menuliskan itu. Setelah 5 kata di akhir paragraf kedua itu bisa terbaca. Senyumku mengembang dengan sendirinya. Aku ingin lari. Jauh. Sampai benar-benar tak ada yang tahu keberadaanku. Rasanya aku malu membayangkan kalimat itu benar-benar terucap dari bibirku. Ah apa? Aku bukan tipikal orang yang berani melakukan hal-hal semacam itu. Sejak dari dulu. Bahkan sejak aku mulai berani mengagumi orang-orang sebelum dia. Tapi aku bisa jadi berani, kalau dalam keadaan terpaksa. Ah tapi jangan sampai, aku berharap dia saja yang datang kepadaku dan aku hanya tinggal menjawab "Ya". Menyenangkan (mungkin).

"Cupu banget si ven. Bilang gitu aja nggak punya nyali" kataku menghujat diriku sendiri.

Baiklah, terserah. Bahkan kalau kau tak setuju dengan apa yang sudah sejak lama ku lakukan, aku terima dengan lapang dada. Aku belum  memiliki cukup nyali untuk bisa melakukan ini. Aku tidak terlalu berani mengambil resiko. Aku takut patah hati, takut kecewa dan menyesal di kemudian hari. Tapi apapun itu, aku berharap gayungku ini akan bersambut. Semoga Allah segera memberikan jawaban atas ini semua.

Lama tak bertemu, tak membuat ingatanku menjadi lumpuh. Bahkan setiap hal yang ada padanya tak pernah hilang meski sudah lama dia tak ada dihadapan. Meskipun aku hanya menyaksikan ini itu di diri orang lain. Rasanya, lagi-lagi aku ingin berlari jauh sampai ke tempat yang bisa membantuku untuk bisa melupakan semua ini. Tapi semakin menjauh, aku semakin merasa tak mampu. Pandangan pertama itu, membekas dan enggan pergi. Apakah ini yang orang-orang katakan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama?

Baiklah. Apapun itu, biarkan saja. Biar aku lanjutkan kagumku ini. Toh jika ini jalannya, Allah akan memudahkan semuanya. Tapi jika ternyata tidak, Allah bakal kasih yang lebih baik daripada dia bukan? Ya, ini memang cara terapik untuk menenangkan diri.

Semenjak wisuda berakhir, komunikasi kami menjadi berakhir. Oh bukan, maksudku kami hanya bertanya seperlunya saja. Ah tapi daridulu juga begini. Iya benar, aku dan dia hanya bicara seperlunya saja. Pernah beberapa kali bercanda, tapi bareng-bareng sama yang lain. Padahal aku ingin hanya berdua saja. Tapi belum sampai terjadi, jarak sudah lebih dulu membentang. Sekarang aku dan dia sudah tidak ada kepentingan, jadi komunikasi kami sangat minim. Tapi tidak begitu menjadi masalah. Aku tetap bisa mendengar kabarnya lewat cerita orang-orang, atau lewat update media sosialnya, atau bahkan lewat mimpi yang berkisah di tidurku semalaman. Aku juga tetap bisa menikmati suara indahnya lewat rekaman lantunan ayat Allah yang sengaja aku jadikan alarm tiap tengah malam. Aku juga tetap bisa memandangnya lewat foto-foto lama yang aku punyai. Dan aku tetap bisa memutar kisah-kisah lama yang masih jelas sekali di ingatan.

Terlalu banyak hal yang bahkan aku sendiri masih enggan melupakan ini. Terlalu indah dan sayang untuk dibiarkan begitu saja. Pernah waktu itu hujan. Kami sedang dalam perjalanan pulang dan kebetulan berboncengan. Kau tahu? Entah bagaimana awalnya, tapi aku merasa senang sekali. Rintik hujan waktu itu menjadi saksinya. Aku mengatakan banyak hal ke diri sendiri. Tapi aku tetap diam, meminimalisir perkataan seperti biasa. Jalanan yang kami lewati berkelok dan agak licin karena terkena hujan. Tapi dia asyik sekali dengan kaca spion. Orang ini memang fanatik sekali dengan kaca. Di jalanan, di ruangan, di mall, di rumah siapa entah, pokoknya dimana saja. Sukanya membenarkan ujung rambut, atau sekedar memandang wajahnya sendiri, atau mungkin dia bermaksud lain. Ahh aku  bahkan belum semapt menanyakan ini benar-benar kepadanya. Saking senangnya (hehe). Jarang sekali aku bisa mendapatkan hal semenyenangkan ini. Biar saja, tapi aku ketakutan. Takut dia hilang kendali dan kemudian kami sama-sama terjatuh dan merepotkan semua rombongan.

"Bisa enggak, enggak ngaca tiap lihat kaca?" kataku

"Bisa enggak, enggak merhatiin aku terus?" katanya membalik

Aku diam, tapi menahan senyum. Baper si, tapi aku nggak cerita sama siapa-siapa. Biar, biar cuma dikatain baper diri sendiri. Biar nggak malu-maluin. Wkwkwk

Terakhir, aku dengar dia pindah tugas ke luar pulau. Kata teman-temanku deket si, tapi naik pesawat. Bisa banget emang mereka memangkas jarak. Tapi apapun itu, semoga Allah kasih yang terbaik buat kita semua. Semoga Allah jagain Mamak Bapak kita ketika kita lagi nggak sama mereka. Semoga Allah memberikan berkah, nikmat, rahmat, hidayah, dan inayah-Nya untuk kita semua. Semoga Allah kasih kita kesempatan untuk bisa bersilaturrahmi kembali dengan keadaan yang tertunya lebih baik lagi. Terlepas dari akan berakhir bersama atau tidak, biarkan cerita ini tetap ku rangkum menjadi beberapa paragraf yang mengisahkan bagaimana aku kepadanya. 

Sebenarnya tentangnya sudah banyak ku sampaikan. Lewat sajak-sajak yang terangkai menjadi puisi. Lewat cerita pendek yang ku posting di media sosialku. Atau lewat doa yang banyak kupanjatkan. Sering juga ku ikutkan lomba. Pernah sesekali menang. Aku senang sekali. Setidaknya kekagumanku ini tidak berakhir sia-sia. Meskipun belum benar-benar sampai kepadanya.

Tapi biarkan waktu menjawabnya. Aku sudah lama berhenti memperhatikannya. Tidak sepenuhnya berhasil, tapi aku tetap berusaha. Aku ingin menjadi seperti Fatimah yang mencintai Ali dalam diam, yang kemudian semua doa-doanya terjawab dan berhasil menuju kepada orang yang dituju dalam doanya. Aku ingin seperti Aisyah yang muncul 3 kali dimimpi Rasulullah dan kemudian dipersunting menjadi seorang istri. Tapi kalau Allah mengijinkan, aku tak menolak jika menjadi seperti Khadijah yang malah menyatakan perasaannya lebih dulu kepada Rasulullah.

Sebenarnya dari awal aku memang tidak banyak mencari tahu tentangnya. Aku juga tidak tahu hobbynya (selain fanatik dengan kaca), aku tidak tahu siapa teman baiknya, aku tidak tahu apa-apa yang disukainya, aku tidak tahu apa cita-citanya, aku tidak tahu apa yang menjadi masalahnya, pokoknya aku tidak banyak tahu tentangnya. Aku hanya tahu sedikit. Aneh kadang rasanya. Kebanyakan orang-orang yang menyukai seseorang selalu mencari tahu ini itu tentang orang yang disukainya. Tapi aku? Tidak. Nanti juga tahu sendiri. Yang penting, pas lihat dia rasanya tenang. Wehehehe

Tapi aku tak ingin berangan terlalu jauh. Aku cukup sadar diri dengan banyak kekurangan yang aku miliki. Aku takut terjatuh dan menelan banyak kecewa. Ya meskipun sebenarnya aku ingin sekali dia tahu. Tapi bukankah sebaik-baiknya harapan hanya kepada Allah?

Yash, that's right. Sekarang, aku hanya perlu menjadi lebih baik. Doakan aku teman-teman. Semoga yang terbaik selalu memeluk diri ini. Semoga doa kalian melangit dan berbalik ke kalian semua.

Salam Literasi,


Veni Veronika 

Minggu, 09 Juni 2019

"Blora Mustika" Waktu Itu

Semalam binar bintang memancar menemani sinar rembulan yang menyerupai sebuah senyuman. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, lalu menggerakkan tanganku ke arah langit. Seperti akan meraih sesuatu. Dengan segala imaginasiku, aku raih bintang  dan bulan di atas sana. Perlahan aku mulai terpejam, dan kemudian mengucap banyak syukur dan juga doa. Semalam aku bahagia menatap wajah-wajah lama yang semakin renta. Yang hanya aku sapa setahun sekali, itupun kalau aku sempat. Bukan karena sombong. Hanya saja setelah berhasil sampai diumur segini, prioritas semakin bertambah dan waktu semakin terbatas.

Meskipun jalanan untuk sampai kepadanya tak serusak yang ku kira. Bahkan semakin parah, berliku, bergelombang, dan beberapa kali membuatku hampir terjatuh. Tapi belum jadi, peganganku terlalu erat. Meski beberapa kali lambaianku melayang ke bahu enang. Pembalap handal yang membawaku sampai ke tempat tujuan. Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa melimpahkan berkahnya kepada kita semua. Semoga Allah memberikan kami kesempatan untuk bisa kembali pulang ke tempat berdebu ini. Secepatnya dan dengan keadaan sebaik-baiknya. Setidaknya sebagai obat untuk menawar tebaran rindu-rindu yang telah lama tersimpan.

Dapur
Seharian kemarin aku seperti orang linglung. Merasa lapar tapi enggan makan. Merasa ngantuk tapi enggan tidur. Apalagi? Entah. Lupa. Terlalu banyak. Membaca buku berakhir ngantuk. Menikmati gerah tapi terus-terusan sambat. Ngupil jagung, jempol tangan kesakitan. Memasak sayur bayam juga menggoreng bumbu untuk sambal. Padahal di rumah boro-boro. Padahal disini banyak asap karena bahan bakarnya masih memakai kayu. Sebenarnya embah sempat punya kompor gas. Tapi karena takut gasnya meledak, embah memberikannya begitu saja ke orang lain. Ya, akhirnya begini. Setiap keluar dari dapur jadi mendadak kumel dan bau asap. Baiklah tidak apa-apa. Mau tidak mau, semua aku lakukan. Saking bingungnya diri karena tidak tahu harus melakukan apa.

Kemarin sekitar setengah 6 pagi, aku sekeluarga berangkat mudik ke Blora. Aku boncengan dengan enang dan mamak berdua bersama bapak. Jalanan begitu lengang. Tapi karena kondisi jalan yang tidak cukup baik, aku jadi berulang kali mengeryitkan dahi sebagai cara menunjukkan keterkejutanku. Bapak dan enang tidak pernah naik motor pelan, kecuali pas macet. Dan alhamdulillah, itu hanya sebentar ketika melewati semacam pasar tumpah. Mereka hampir tidak mau peduli bagaimana nasib kami yang dibonceng di belakang.

"Nang Nang Nang Nang Nang" kataku

Aku mendadak menjadi cerewet ketika jadi penumpang. Lebih banyak khawatirnya daripada nyetir sendiri. Apalagi dengan kondisi jalanan yang kelihatannya bagus tapi ternyata begelombang. Aku bahkan memegang pundak adikku dengan sangat erat di sepanjang jalan. Begitu juga mamak. Tapi meskipun begitu, kami tetap saling menertawakan.

"Mak, duduk di tepi amat mak?" kataku

"Lhah mamak kan bawa tas ndok. Malah bapakmu ga pernah mau pelan. Mamak hampir jatuh tadi" kata mamak

"Pelan-pelan nggak cepet nyampe kali mak" kata enang

"Nah, bener tuh" kata bapak

Lumayanlah untuk hiburan. Sekedar melupakan lelah akibat perjalanan. Kami sampai dalam kurun waktu kurang lebih 2,5 jam. Lebih cepat setengah jam dari perjalanan yang ku tempuh ketika menyetir sendiri. Dahsyat memang, tapi ya bersyukur bisa lebih sampai ke tempat embah.

Halaman Depan Rumah
Rumah embah ada di pelosok kampung. Pengkol nama kampungnya, Bacem nama kelurahannya, dan Banjarejo nama kecamatannya. Butuh hampir 1 jam untuk sampai ke pusat kota dengan kecepatan yang minim karena kondisi jalan yang rusak. Aku hampir tidak kemana-mana setiap disana, kecuali ke rumah saudara mamak. Aku malas melewati jalanan yang rusak. Melelahkan.

Rumah-rumah warga disana kebanyakan tidak menggunakan tumpukan batu bata seperti di derah rumahku. Katanya disini struktur tanahnya bergerak, jadi kalau mendirikan rumah dengan batu bata terlalu beresiko. Tapi jangan salah, sebenarnya warga-warga disini kaya raya. Tanahnya, ternaknya banyak. Ah tapi aku tetap enggan tinggal disini.

Selain debu, keminiman air, panas yang menyengat, banyak nyamuk, jalanan yang rusak, dan jaringan internet yang susah. Disini juga tidak ada toilet. Perlu ke sungai atau ke tempat pembuangan hajat umum jika perut mendadak melilit. Ah pokoknya hidup disini serba susah. Bersyukur sekali aku tidak dibesarkan disini. Cukup numpang lahir saja. Haha

Tapi aku suka disini. Setelah sampai disini maksudku, tapi tetap saja enggan dengan perjalanannya. Kata mamak, disini aku dilahirkan. Diurus mamak dan embah sampai akhirnya aku pindah ke tempat tinggalku yang sekarang ini. Tetangga embah yang notabennya tetangga dan teman kecil mamak, bergantian mendatangi kami ketika kami tiba. Ada yang menanyakan kabar, membandingkan warna rambut juga kehidupan, menanyakan aku enang dan juga bapak, atau sekedar menikmati jajanan yang dibawa mamak dari rumah sambil lanjut ngomongin ini itu. Embah juga sering menanyakan ini itu kepadaku. Tapi kadang aku sedih, ada beberapa bahasa yang aku tidak mengerti. Apalagi kalau sedang tidak ada mamak atau bapak. Menjawab "iya" menjadi jawaban teraman daripada berkata tidak tahu. Jangan ditiru, nanti kamu jadi terus begitu.

Dan waktu berjalan begitu cepat. Sekarang aku sudah di rumah. Menonton TV dan menikmati sosial media yang aku punyai. Aku juga sudah mandi dan berdua dengan toilet di kamar mandi. Masker wajah sudah terpasang dan aku sedang ingin tidur. Terlalu lama terpapar sinar matahari dan terbasuh debu membuat kulit wajahku kusam. Sekalian untuk membayar jam tidur yang lumayan kacau malam tadi. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Salam Literasi.

Selasa, 04 Juni 2019

The Goal of 30 Days Writing Challenge

Selamat pagi semesta dan apa saja yang mendiaminya.

Alhamdulillah ramadhan sudah sampai di penghujung. Hari ini adalah puasa terakhir di tahun ini. Semoga apa yang telah terbangun selama ini bisa bertahan dan bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di ramadhan tahun depan dengan keadaan yang lebih baik lagi.

Picture by : Google
Berakhirnya ramadhan menandakan berakhirnya juga 30 Days Writing Challenge yang aku ikuti. Alhamdulillah genap 30 hari aku menulis dan menghidupkan kembali blog milikku yang tatanannya masih apa adanya. Memegang komitmen tidaklah mudah. Berulang kali malas menghampiri dan hampir membuatku lari dari ini. Tapi tidak jadi, aku kembali dan memutar pikiranku lagi. Berulang kali juga pikiran rasanya ingin mati, buntu, dan tidak ada ide sama sekali. Padahal sebenarnya kalau aku mau membuka mata lebih jauh, ada banyak sekali hal yang bisa aku jadikan bahan cerita.

Ini adalah tantangan. Sebenarnya aku sering mengikuti event-event seperti ini. Tapi bukan ngeblog, melainkan menulis cerpen dan berpuisi. Tidak selalu menang memang, tapi minimal dengan mengikuti ini aku bisa melatih diri untuk lebih percaya diri dan memegang komitmen diri. Beberapa kali juga, hasil postinganku di instagram berhasil kena repost. Rasanya senang sekali, tulisanku jadi lebih banyak yang menikmati.

Dipertemukan dengan event ini, membuatku merasakan banyak hal. Aku bertemu dengan penggiat-penggiat literasi yang hampir setiap hari saling belajar dan memotivasi satu sama lain. Banyak hal yang aku kagumi dari mereka, apalagi kaum mamak-mamak muda. Sudah sibuk dengan rumah tangga, tapi tetap saja bisa berkarya. Masyaallah, semoga Allah kasih keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah, Wal Barakah untuk mereka semua.

Postingan teman-teman juga bagus-bagus. Kadang aku merasa minder karena hasil tulisanku yang masih amatiran. Selain bahasannya yang sudah terlalu umum, kata-kata yang aku gunakan juga masih tergolong rumit. Kadang aku juga ketakutan, kalau-kalau yang membaca tulisanku malah kebingungan setelah membaca tulisanku. Tapi bismillah , aku niatkan ini untuk belajar. Semoga bisa membawa berkah untuk kita semua ya.

Yang paling terpenting adalah kemampuan untuk bisa menyelesaikan komitmen menulis di event ini. Ramadhan ini begitu berkesan untukku. Menjelang tidur mulai menulis. Subuh lanjut lagi. Kadang malah juga rebutan dengan kerjaan kantor. Saking nggak bisa mikir tuh haha.
Kadang pas lagi nulis, baru beberapa baris ada yang manggil. Entah mamak, entah orang-orang kantor, atau malah panggilan via ponsel. Ada saja yang mengganggu dan membuat ide jadi buyar dan berakhir hilang. Akhirnya setelah kembali dari tugas, mau tidak mau harus membaca ulang tulisan yang sudah ada kemudian berpikir ulang setelahnya. Ini benar-benar melelahkan.

Menulis juga sangat membutuhkan kesabaran. Karena sabar akan membawa kepada ketenangan dan tenang akan membawa kepada pikiran yang jernih. Dengan pikiran yang seperti ini, maka menulis akan jadi lebih mudah. Sedikit tips dari seorang amatir. Hehe

Terimakasih juga untuk mbak Yusnia. Perantara Allah yang diutus untuk membuka event ini. Kunjungi saja yusniaagussaputri.blogspot.com dan kenali beliau lebih dalam. Kapan-kapan minta diadain lagi event seperti ya mbak. Biar aku bisa sering-sering belajar memaksa diri. Hehe

Tak lupa juga aku sampaikan maaf kepada para pembaca dan semua anggota WA grup "Writing Challenge #HRDC" untuk kesalahan yang sengaja atau tidak sengaja aku lakukan. Sampai jumpa dievent selanjutnya. Jangan lepas meski waktu telah menemui batas.

Desain by : Canva
Salam Literasi.

#Day30
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....