Selasa, 19 Mei 2020

Review Buku : "Bicara Itu Ada Seninya"

Komunikasi adalah salah satu hal dasar yang sangat penting dalam menjalin dan menjaga hubungan dengan orang lain. Memperbaiki dan mengasah kemampuan berkomuikasi adalah sebuah langkah awal yang baik untuk membuka peluang yang besar untuk kita semua baik dalam hal berhubungan dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Oh Su Hyang, seorang Dosen dan pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan dalam bukunya yang berjudul "Bicara Itu Ada Seninya" mengulas banyak hal tentang teknik berbicara yang baik. Beliau memberikan beberapa rahasia tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan menghadirkan banyak pengalaman-pengalaman yang sudah beliau jalani dan beberapa cerita menarik yang tentunya menginspirasi kita semua ketika selesai membaca buku ini.

Dalam buku ini beliau menjelaskan tentang bagaimana membentuk kesan awal yang baik ketika kita bertemu lawan bicara untuk pertama kalinya. "Ucapan menentukan kesan pertama" begitulah ucapnya. Ya, kita memang tidak seharusnya terus membicarakan diri sendiri dan tidak memikirkan lawan bicara. Kita seharusnya hanya perlu berbicara secukupnya dan lebih banyak mendengar penuturan lawan bicara.

Beliau juga menjelaskan bagaimana cara membangun kepercayaan diri, melatih logika bicara, berbicara dengan cara bercerita (story telling), mengatasi trauma dalam berbicara, memperhatikan olah suara dan gerak tubuh, cara bernegosiasi, trik berdebat, mempersiapkan presentasi, membangun obrolan yang menguntungkan, menghadirkan irama dalam berbicara, juga cara berbicara untuk mewujudkan impian.

Ada satu kutipan yang menjadi favoritku:
"Bila ingin sukses, berbicaralah seperti orang sukses. Berbicaralah seperti orang yang Anda impikan. Berbicaralah dengan antusias dan bertingkah seolah Anda telah sukses. Mulai sekarang, berbicara sambil membayangkan bahwa Anda akan segera sukses, maka tak lama lagi impian Anda akan terwujud."
(Bicara Itu Ada Seninya, Hal : 46)

Kemudian beliau juga menjelaskan rumus terapi komunikasi yang bisa kita terapkan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.



 C = Q x P x R 
Communication = Question x Praise x Reaction 
Komunikasi = Pertanyaan x Pujian x Reaksi


Beliau menjelaskan bahwa dalam dialog, ada "aturan 1-2-3". Sekali berbicara, 2 kali mendengar, 3 kali memberi umpan balik.


Kemudian membahas juga tentang humor dalam berbicara. Bahwa humor adalah tentang timing. Bahwa kita bisa melatih rasa humor kita sendiri dengan menonton banyak drama atau pertunjukan komedi.


Beliau juga menjelaskan bagaimana trik untuk mengakhiri presentasi yang bisa menggerakkan hati audiens. Selain menggunakan ucapan persuasif, simpati, dan kalimat pembuka yang orisinil, beliau memberikan rumus mengenai pokok bujukan, yaitu:



 P = P x S x T 

Persuasion = Punch x Sympathize x Touch
Bujukan = Pukulan x Simpati x Sentuhan


Hal mendasar lain yang harus kita tahu, bahwa tidak bisa bicara dengan baik adalah masalah besar. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengubah keadaan, karena bisa bicara dengan baik bukan bawaan dari lahir. Kita bisa memulainya dengan latihan berbicara dengan memotong suku kata, kemudian latihan olah suara, dan kemudian kita bisa menjadikan suara kita menjadi suara bariton yang menggema, indah,

Sering-seringlah berbicara, sebab aktif berbicara justru lebih baik. Karena hidup akan berubah dengan mengubah cara bicara. Tidak perlu takut menjadi bahan tertawaan. Tampillah secara sempurna sebagai diri kita yang apa adanya. Karena kita istimewa dengan apa yang kita punya dan kita tata. 


Selamat membaca. Selamat berlatih menjadi pembicara yang hebat.


Salam Literasi.


Sabtu, 02 Mei 2020

Di Mana Tempat Pulang Ternyaman?

"Aku benci malam sepi, bimbang diri datang lagi, apa memang........... "

Aku tidak sedang bernyanyi, aku hanya sedang membaca sebait lirik lagu. Ya lumayan, sebagai teman. Daripada benar-benar sendirian.

Aku benci malam sepi. Ruang-ruang ingatanku  seketika menjadi penuh, ramai sekali. Aku ingat kisah-kisah itu, tempat-tempat itu, orang-orang itu, semuanya tentang itu. Tentang masa lalu yang sempat membuatku pilu. Tentang sekian banyak tawa yang seketika dipaksa sudah. Tentang mimpi yang begitu saja dipaksa berhenti. Tentang cinta yang sering kalah dengan ego. Tentang aku yang sendiri bertanya-tanya "sebenarnya apa yang aku ingini?".

Malam semakin larut, tapi riuh ini tak kunjung usai. Aku bertanya "kenapa?". Tapi mereka hanya menyuguhkan tawa. Mereka? Siapa mereka? Aku bahkan tidak tahu siapa mereka. Karena hanya ada aku dan bayanganku sendiri di antara remang lampu yang menerangi ruang kamarku yang sengaja kujadikan setengah gelap ini.

"Aku ingin jadi baik, aku hanya ingin jadi baik. Tapi bagaimana bisa benar-benar jadi baik?" kataku.

Kedua mataku mulai basah. Begitu terus. Setiap bertanya, setiap itu juga aku menemukan pembanding. Rasanya menjadi baik saja belum cukup. Aku merasa butuh warna yang lain di hidupku. Aku mencari apa, tapi belum juga kutemukan jawabnya.

Pernah aku terluka, tidak sengaja (mungkin), tapi benar-benar sakit rasanya. Dan kemudian aku meratap sendirian juga melakukan sesuatu yang sama seperti yang sebelumnya. Aku bertanya-tanya "kenapa harus aku?". Tapi hening, aku ditertawakan bayangku sendiri. Oh tidak, lebih tepatnya aku menertawakan diriku sendiri.

Lalu kemudian aku mengajak diriku sendiri berlari di ruang imajinasi, menari-nari dengan mimpi-mimpi yang mulai ku tata lagi. Hatiku sepakat menyediakan ruang lagi untuk sesuatu yang baru. Sesuatu yang bisa menjadikan diriku tersenyum lagi. Aku bahagia, mencoba pulih dengan rangkaian kata-kata.

Berdiri di hadapan cermin, aku menatap diri sendiri, mengucapkan banyak terimakasih untuk apa yang telah terlalui hari ini, dan tak lupa memberikan motivasi untuk hari esok.

"Terimakasih duhai diri, kamu hebat" kataku kepada bayanganku di cermin.

Seharian aku berlarian mengejar deadline kerja yang membosankan. Berulang kali aku mencoba bersembunyi dari riuh sekitaran yang menyebalkan. Dan sesekali aku diam menatap kagum sesuatu yang ku anggap agung.

Sebenarnya aku lelah, memaksakan diriku melakukan dan menjadi apa saja. Padahal kadang aku melakukannya dengan terpaksa dan malah membuatku menjadi bukan diriku sendiri. Menyiksa diri sendiri malah bisa jadi. Dan penat ini, membuatku ingin pulang.

Ya, malam ini aku pulang. Aku pulang kepada diriku sendiri. Tempat ternyaman memanjakan diri. Membicarakan apa saja yang telah ku lalui hari ini, kemudian meminta maaf atas apa saja yang mungkin tidak seharusnya aku perbuat kepada diriku sendiri. Dia menerima, memaafkan dan memelukku dengan hangat di antara dingin malam yang menyeruak. Meski belum lepas sepenuhnya, setidaknya aku pernah ingin mencoba. Meski belum sadar sepernuhnya, aku sudah lebih tahu bahwa ternyata aku hanya sempat kehilangan diriku saja.

Akhir kata aku berjanji akan menjaga diri dengan lebih baik lagi dan berusaha untuk tidak lagi menjadi apa yang bukan aku sebelum akhirnya aku pulas tertidur dan tenggelam dengan segala gerutuan juga janji-janji manisku.

Semoga hari esok akan jadi hari yang lebih baik. Semoga berhasil. Semoga beruntung.

------------------------------------------

Salam Literasi

#Day (9)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Jumat, 01 Mei 2020

Welcome, Wonderful Mei

Hai, selamat pagi semesta, jum'at, langit-langit kamar, kerlip lampu tidur, foto-foto lama di dinding kamar, boneka hadiah wisuda, tumpukan buku yang belum semuanya terbaca, dan sekian banyak notes di mading kamar.

Selamat pagi, ka....mu. Siapapun kamu yang membaca tulisan amatiran ini. Selamat pagi ka....mu (yang jadi idamanku). Aduh kaku amat pagi-pagi.

Oh hai mei, selamat pagi dan selamat datang di 2020 yang penuh dengan kejutan ini. Seneng deh rasanya, bangun-bangun udah sampai di bulan mei. Mei ke berapa ini? Oh yang ke 2020. Baiklah, panjang umur kehidupan. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah, puasa masih hari ke-8 dan anak-anak di kampungku sudah syahdu takbiran. Masyaallah masyaallah masyaallah nak, kita masih butuh 22 hari lagi untuk berlebaran. Takbirannya diganti dzikiran sama sholawatan dulu bisa kali ya?

Mei mei mei, Mei Mel....... apa kabar? Ulang tahunmu tanggal berapa mee? Sudah tahun ke berapa mei mu kali ini? Aku.... aku ucapkan selamat ulang tahun, selamat tambah tuek sekarang ya? Takut meinya keburu jadi juni. Hehe.
Kamu apa kabar mee? Sudah bahagia belum? Tapi belumpun aku tidak akan banyak membantu. Ah sudah lah mee, sesungguhnya aku hanya ingin mengucapkan selamat hari buruh wahai Mei si karyawan teladan yang sukanya tetap lembur di hari libur. Lekaslah hamil, agar supaya cuti 3 bulan bisa benar kamu dapatkan. Tapi ya jangan lupa.... hmm.... maksudku, menikah dulu. Kamu tidak lupa kan mee? Bahwa kita hidup di dunia ini tidak hanya untuk selalu bekerja. Kita perlu menikmati sisa usia kita, bersenang-senang dengan semesta, memperbanyak ibadah kepada-Nya dan memperbanyak bercinta. Eh bukan, aku bercanda sayang. Tapi aku bicara kebenaran. Haha.

Satu hal mee, panjang umur perjuangan. Tetaplah tegar menjadi urat nadi bagi bossmu. Semoga kita akan semakin menjadi seorang akuntan yang tangguh, handal, dan profesional, serta segera menjadi boss untuk para urat nadi kita kelak. Haha.


Pimpin aku bersyukur, sekarang, oh tidak, maksudku setelah kamu membaca celotehan tak berfaedahku ini. Bahwa kita masih beruntung bisa berdiri tegak mengemban amanah sebagai karyawan muda di tengah-tengah pandemi yang sudah menjadikan banyak karyawan kena PHK.
Jangan lupa misuh secukupnya dan beristigfar serta bersyukur sebanyak-banyaknya setelahnya ya. Karena misuh emang bikin kita lega, ya kan? Ya Allah, kenapa selalu ada yang bisa kita halalkan dari sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak halal untuk kita? Nggak papa, yang penting kita tetap tetep berusaha seimbang di tengah-tengah kebimbangan. Wkwkwk.
Semoga kesabaranmu mendekatkanmu dengan jodoh dunia dan akhiratmu, dan menjadikan kamu berbahagia lahir dan batin. Aamiin Ya Allah.
Ah aku mulai ngelantur. Maaf ya mee, aku terlalu bahagia bisa sampai di bulan mei yang penuh harap ini.


Mei mei mei, di 31 hari milikmu yang tidak bisa ku tebak itu, akan terjadi apa? Aku akan menangis (lagi) tidak? Atau aku akan selalu menjadi riang? Atau aku akan berada diantaranya? Ahh untuk apa aku bertanya? Toh kamu katakan atau tidak, aku harus selalu bersiap-siap menerima bukan? Termasuk pandemi yang entah kapan pergi, bapak dan saudara yang tidak pulang di hari lebaran ini, dan apalagi? Hei, kebayang banget sepinya lebaran tahun ini. Nggakpapa, nggakpapa, panjang umur kesabaran.

Mei mei mei, hari ini tanggal satu dan saatnya gajian. Yeeee dapet duit yee dapet duit yeee. Yeee tapi besok mulai bayar ini itu yeee. Dah deh bakal abis juga akhirnya, tapi semoga tidak lupa beramal. Senyum misalnya. Wkwkwk.

Mei mei mei, selalu ada harapan baik untuk sesuatu yang baru. Tak terkecuali untukmu di tahun 2020 ini. Ya benar, mei, jumat, puasa, betapa kita selalu dipertemukan dengan waktu-waktu mujarab untuk berdoa. Mari menengadah bersama dan kita terbangkan harapan-harapan kita kepada-Nya.
Tentang segala harapan, kedekatan dengan-Nya, kewarasan, kesembuhan, kemampuan menerima segalanya, kebaikan, keselamatan, kebahagiaan, kelancaran dalam segala hal, kenikmatan dan keberkahan dalam hidup ini, semoga akan menjadi semakin dekat dan menjadi milik kita semua.
Semoga pandemi ini lekas hilang, yang sedang sakit lekas sembuh (lahir batin), yang berjarak lekas bertemu, yang berharap/bermimpi lekas menjadi kenyataan, yang takut bicara jadi berani mengungkapkan, yang hilang lekas menemukan ganti, yang patah hati lekas jatuh cinta lagi, yang masih sendiri lekas bertemu pujaan hati, yang masih pas-pasan lekas menjadi kaya, yang gelap jadi terang, yang benci jadi cinta, yang sedih jadi bahagia, yang kecewa jadi rela menerima, yang sulit jadi mudah, yang apapun itu baik semoga mendekat dan mendekap diri kita semua.


Mei mei mei, bekerjasamalah dengan semesta, jadilah baik untuk kita semua. Aku sedang berusaha mei, aku sedang berusaha menerima. Apapun, termasuk terhadap apa yang tidak pernah atau yang belum pernah kubayangkan sebelumnya.

Mei mei mei, tak apa menjadi tidak terlalu sempurna. Tapi aku mohon, sudilah berusaha sebaik-baiknya. Kita berjuang bersama dengan porsi masing-masing yang kita punya. Mau ya mei ya?
____________________________

Salam Literasi

#Day (8)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Rabu, 29 April 2020

Tentang "Menunggu"

Menunggu? Kata orang-orang ini hal yang menyebalkan. Kataku juga, tapi tidak dengan sekarang ini. Membiarkan waktu berlalu begitu saja memang membuat sebagian orang kesal. Kecuali untuk orang-orang yang menganggap ini tidak penting.

Aku pernah. Pernah sengaja melakukannya. Pernah juga karena tidak sengaja, tapi akhirnya jadi terbiasa. Pernah kesal pada akhirnya. Pernah menyesal setelahnya. Tapi semua tetap sama. Tidak ada yang berubah, kecuali keadaan hati setelahnya. 
Siapa si di dunia ini yang benar-benar tahu bagaimana nasib hidup ke depan? Sedetik bahkan setahun atau berapapun panjang waktu yang ada. Tidak ada, kita adalah manusia. Hanya bisa berencana dan hanya bisa menjadikan diri sebagai pelaksana. Lebih dari itu, kuasa Allah adalah segalanya.

Mengertilah, menunggu bukan hanya soal berapa waktu yang kita habiskan. Tapi bagaimana kita bisa menikmati semua itu, meskipun apa kita tunggu belum tentu menjadi akhir yang kita tuju.

Sebenarnya aku belum begitu ahli dalam hal ini. Langkah demi langkah masih ku jajaki untuk bisa memahami benar perihal hakikat menunggu. Ada begitu banyak kemungkinan. Ya begitu banyak. Yang baik, yang buruk, yang terduga, atau bahkan yang tidak pernah disangka-sangka.

Tapi kenapa masih saja sekian kali berpikir "ahhh mana mungkin"?

Bukankah tugas kita hanya menunggu? Bukankah semua hal memiliki waktu? Dan dia akan datang dengan begitu menakjubkan di kehidupan kita yang mungkin, ya mungkin bisa jadi sudah hampir menjadikan diri kita sebagai seorang pecundang. Aku tahu ini bukan sesuatu yang mudah. Aku tahu butuh usaha keras untuk bisa menyadari semua bahwa ini akan menjadi sesuatu yang baik-baik saja.

"Capek banget nggak si nunggu terus?" kata siapa diluaran sana.

Sebuah tanya, sejuta jawabnya, tapi ya mungkin sama saja. Paling kita sepakat bilang "iya (banget)" haha.

Tapi lama ku cerna, bilang iya tidak selamanya benar. Aku pikir kita dan waktu itu seimbang. Kita pikir kita saja yang menunggu waktu, tapi ternyata waktu juga melakukan hal yang sama dengan kita. Kita sama-sama berusaha saling menemukan. Semoga kita selalu menyadarinya.

Waktu juga suka ngeluh. Sama sambatnya dengan kita. Katanya "Mereka kapan sampenya si? Cape tau nunggu terus. Aku kan pengen ngerasa plong gitu. Nggak kaya gini, bertanya-tanya terus.". Tapi mereka diam, lebih ke manjaga (mungkin). Menjaga diri biar nggak salah jalan (lagi).

Udah kebayang belum, gimana waktu sama galaunya sama kita? Kebayang juga enggak gimana waktu cuma bisa muter, sedangkan kita bisa ini itu. Enakan kita tau. Kita bebas, penuh rencana, meskipun hasilnya ya tidak selamanya bikin bangga. Tapi minimal kita sudah mempersembahkan yang terbaik untuk semuanya.

Kalian sadar nggak? Kita sudah lebih dari berhasil sampai tahap ini. Pertama, kita sudah sampai di detik ini. Kedua, kita sudah bisa menerima semuanya sampai sejauh ini. Ketiga, kita tidak lupa bersyukur atas semuanya. Keempat, kita masih sudi menunggu sesuatu yang selanjutnya, yang belum kita tahu seperti apa tentunya. Kelima, keenam, dan ke-selanjutnya cari sendiri saja ya.

Kalian bertemu denganku karena  menunggu, aku menemukan kalian juga karena menunggu, waktu yang telah sampai kepada kita juga menunggu. Kita telah sama-sama sudi menunggu dan kita sudah sama-sama berhasil sampai di detik itu. Detik pertama saat kita berjabat tangan, saling berkenalan, dan lanjut berteman, meski kadang sering beradu argumen. Ya, hampir sempurna.

Dan jika ternyata ini tidak berlangsung lama, semoga kita tidak akan lama merasakan kecewanya. Susah ya? Sedih ya? Pasti, tapi ingat poin satu dan seterusnya. Kita cuma butuh terbiasa. Kita sudah berhasil sebelumnya dan akan berhasil juga setelahnya.

Aku sayang kalian, kalian juga harus sayang sama aku. Aku tidak bermaksud memaksa, tapi aku mengharuskannya.

Paham ya cah?

-------------------------------

Salam Literasi

#Day (10)
#OneDayOnePOst30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

(Masih) Tentang Pertemuan dan Perpisahan


-------------------------------------------
Salam Literasi
#Day (7)
x

Masih siang dan kebetulan sedang sendirian. Keadaan sekitaran sedang hening, hanya ada suaraku dan dentingan lagu milik Alya Zurrayya. Ya "Ruang Tanpa Rencana", sebuah lagu yang menyentilku. Menyedarkanku tentang sebuah cara memahami sesuatu ketika sedang terjebak dalam situasi yang tidak terduga, termasuk pertemuan dan perpisahan.

Tidak banyak, tapi aku bilang aku sedang... hmmmm.. kangen. Haha. Belibet sekali aku ini.

Kedua mataku terpejam. Bernyanyilah aku bersamanya, menyelami satu per satu lirik yang disuguhkannya untuk semesta. Indah, semua rasa ada di dalamnya. Dia memelukku. Dia memeluk setiap hati yang sempat dan sedang merasakan kehilangan, entah sementara atau bahkan untuk selamanya.

Tidak ada kehilangan yang terasa mudah bukan? Akan selalu ada yang terluka, entah karena belum bersedia rela atau karena alasan lainnya.

"Kamu kangen juga enggak? Eh ngapain aku nanya beginian? Sorry sorry" kataku pada seorang teman.

"Lhah apaan deh. Kangen dong. Pastilah. Berteman itu kaya ada fase-fasenya gitu ya? Iya nggak sih? Haha ya, meskipun rasanya pengen tetep barengan, tapi hidup kan nggak bisa stagnan. Iya kan?" katanya membalas.

"Ya gitu deh. Bener. Sedih. Tapi gimana si? Tiap orang punya masanya sendiri-sendiri. Sekarang kita dipaksa jadi baru lagi, setelah dulu kelar SMA, masuk kuliah. Terus kelar kuliah, sekarang kerja. Alhamdulillah udah kerja ya kan? Yah, tapi kan tetep aja kita kepaksa menjalin sesuatu yang baru lagi. Entar nikah, juga jadi baru lagi. Entar jadi ibu, juga jadi baru lagi. Entar mati, ehhhh udah dulu deh. Wkwkwk" 

"Ya kembali lagi kita hidup bukan cuma untuk bersenang-senang. Ya kan? Ya semua fase itu harus kita lewatin dengan baik. Ya bener katamu, 'Jadilah baik disetiap fase yang kita lewati', biar kita bisa dikenang baik di fase setelah itu".

"Yang pasti hidup itu harus berjuang. Ya dipaksa lagi kita. Wehehehe"

Aku menggambarkannya satu per satu, menuliskannya ada sajak-sajakku yang kadang tak berarah itu. Memandang foto-foto lama, aku mengenangnya sebagai sesuatu yang sempat membahagiakan dan juga menyedihkan. Tapi ternyata benar ya, semua yang ada di semesta ini selalu berpasangan. Laki-laki dan perempuan, buku dan pembacanya, musik dan penikmatnya, sendok dan garpu, kancing dan baju, pertemuan dan perpisahan, juga aku dan dia yang masih ku pertanyakan itu.

Tapi meskipun begitu, tidak ada yang salah dengan adanya banyak rencana. Kita hanya perlu bersiap meninggalkan dan ditinggalkan. Sebab kehilangan, tidak pernah menyuguhkan permisi dan tidak pernah bertanya kapan kita siap. Sebab kita memang dilahirkan untuk memaknai kepergian. Tapi tidak apa-apa, pada saatnya nanti, kita akan menjadi terbiasa dan baik-baik saja menjalaninya. Kita akan tersenyum, karena kita sudah mampu menerima semuanya. 

Takdir dari-Nya adalah yang terbaik. Selalu lebih baik daripada yang sekedar kita mau dan kita anggap baik. Tidak ada satupun yang luput dari cinta dari-Nya. Termasuk sesuatu yang tidak kita sadari baik sebelumnya. Selalu ada alasan atas segala yang terjadi. Itu pasti dan kita harus mau memahami ini.

Satu yang pasti, tugas kita hanyalah menyelesaikan cerita kita sendiri dengan sebaik-baiknya. Mungkin kita bisa jadi teman bicara, jadi pendengar setia, jadi penutur ulung, juga jadi rumah, atau terserah apa maumu. Entah untuk mereka yang kita cinta, atau bahkan hanya untuk diri kita sendiri. Setidaknya kita pernah menjadi berguna ada di semesta.

Tapi ya meskipun jauh, setidaknya aku masih bisa melihatmu ada di dunia ini. Daripada hanya sekedar mengenangmu sebagai sesuatu yang telah pergi tanpa pernah bisa kembali. Aku terlalu takut, aku takut kehilangan senyum-senyum yang tulus dan penuh kasih sayang itu.
Tidak apa-apa, selama nafas kita masih membersamai jiwa kita, kita masih bisa saling menyapa dari jauh, dari bisik doa yang mungkin tidak sadar kita ucapkan. Hubungi aku dikontak yang lalu itu. Aku ada, akan selalu ada menantikanmu tiba.

Terimakasih, sudah pernah hadir sebagai titipan. Terimakasih sudah berhasil jadi cerita. Terimakasih untuk semuanya.

---------------------------

Salam Literasi

#Day (7)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah


Senin, 27 April 2020

Awesome Mood

"Ada kalanya diri ini sadar bahwa mengucap rindu itu......... tidak penting"
Ada beberapa bagian dari mereka yang menjadikanku kesal sendiri. Bagaimana bisa mereka lebih asyik membicarakan bahasan "entut" daripada merespon ungkapan kangenku? Hah karena ini aku jadi merasa hidupku tidak terlalu penting daripada sekedar ........ ah aku tidak mau mengatakannya.

"Kamu pasti merasa ada yang berbeda. Tapi bagiku itu sangat wajar. Dengan perbedaan itu aku tetap bahagia" kata seorang teman lama di sebuah chat what'sapp.

Aku terdiam, membaca kalimat itu berulang, tapi semakin membaca berulang, semakin aku merasa hilang. Rasanya aku ingin terbang bersama guguran daun yang terbawa angin. Bebas, pasrah, dan menyerah. Dulu aku pikir semua akan sama. Ramai, akrab, dan bersama. Tapi ternyata benar, persis seperti kata seorang senior "Nikmatin yang sekarang ada. Nanti kalo udah jauh, bakal kerasa beda. Mereka, aku, ya kita sudah terlalu sibuk mengurusi kehidupan yang baru."

Waktu itu aku hanya manggut-manggut mencerna sekian kalimat yang baru akhir-akhir ini benar ku rasakan adanya. Terlambat, harusnya aku sudah lebih dulu bersiap-siap.

"Ya, rasanya memang berbeda. Akupun bahagia, tapi pikiranku berkerumun banyak sekali tanda tanya. Haha sungguh kewajaran yang ambigu." kataku membalas.

"Kita terbatas waktu, yang kemarin itu terlalu sebentar. Biasanya kita jadi apa adanya dan berulang-ulang hingga nyaman dengan pengulangan itu. Tapi kemarin kita terkumpul dari lingkungan yang berbeda kembali, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, dalam kondisi yang secapek-capeknya (kalo aku)."

Sebuah kesan dan pesan diutarakannya. Sederhana dan cukup untuk menggambarkan pertemuan singkat terakhir itu.

"Aku, aku susah menjelaskannya. Tapi seperti ada hilang. Enggak tahu apa, tapi aku merasakannya. Ahh sedih." kataku menjelaskan.

Pertemuan dan perpisahan adalah awal dari perbedaan. Pernah merasakan? Ya aku sedang berusaha terbiasa merasakannya.

"Karena enggak full team juga kan ya?"

"No, bukan itu."

"Apapun itu aku tetap suka. Haha"

"Sudah semestinya. Memang harus selalu ada yang disyukuri dari apapun. Ya, sekalipun banyak tapinya."

Tidak lama sebenarnya, tapi entahlah mereka terlalu menjadi segalanya. Mungkin karena mereka sudah berhasil menjadi rumah, atau memang aku saja yang enggan keluar dari zona nyaman bersama mereka. Tapi ya meskipun begitu, akan selalu ada yang menjadikanku tersenyum geli mengingat kebersamaan bersama mereka.

Aku kangen deh jadi mahasiswa. Oh bukan kangen kuliah, tapi kangen jadi anak organisasi. Eh bukan deng, maksudku aku kangen sama 38awesome. Hehe.

Dulu tengah malam masih aja di depan gerbang, rundingan nyari makan sambil evaluasi kegiatan, kadang juga masih melingkar ber-20. Sampe lupa nugas, padahal udah dibilang kuliah yang pertama, ukm yang utama. Tapi ya gimana, saking cintanya ye kannn.

Kalau lagi siang menjelang sore datang, aku suka kangen ngangkat kaki 90 derajat, turun ke 45 derajat, turun lagi ke 35 derajat, angkat lagi ke 90 derajat gitu lagi, gitu terus sambil rebahan, pegangan tangan, panas-panasan evaluasi dan ndengerin sekian banyak wejangan siapapun di lapangan yang ijonya royo-royo bareng mereka.

Kalau tiba malam, apalagi dijam-jam menjelang tidur, aku suka kangen gandengan bareng nyusuri lapangan hijau sambil jadi kodok kungkong. Dan kita hangat dipeluk dingin usai berenang di kubangan air tepat di bawah tiang gawang demi sebiji tempelan di lengan sebelah kiri/kanan. Haha inget banget kemarin di grup rame banget mbahas masa lalu. Moodku yang semula kaku, seketika luruh gitu aja tahu. Ahhh kalian.

Nah kalau lagi main sosial media dan lihat yang lagi jingkrak-jingkrak karena yel-yel, suka kangen joged sandal swallow bareng mereka pas kelar binsik buat ngilangin capek. Gini nih liriknya:

Check sound:
Sandal jepit, sandal swallow Mata sipit, mata komando Korps kita rajanya disko
Baret kita baret komando
Digesek-gesek asyik, nggak digesek nggak asyik
Digosok-gosok enak, nggak digosok nggak enak
Sekali lagi

Lhah aku ngetik sambil nyanyi dan goyang sendiri dong. Wkwkwk.

Terus kalau lagi silaturrahmi jauh kaya gini, suka kangen melingkar ber-20 sampe tengah malem. Kadang rapat, nugas (padahal beda jurusan), makan, maenan kartu, atau pernah juga diem2 prepare muncak tanpa pamit sama empok. Ya Allah kangen jadi seliar itu bareng mereka.

Sekarang bercandanya jahuan dong. Kadang ada yang sambil makan, sambil weefha, sambil kerja, sambil rebahan, sambil maskeran, sambil apalagi si, banyak. Iya banyak sekedar yang bikin hati tiba-tiba ambyar tiap keinget kebersamaan bareng mereka semua. Aaa peluk jauh cah.

Dan tidak selamanya semua hal terasa sama. Juga tidak selamanya semua hal terasa berbeda. Semua hanya soal "rasa". Ya, aku mengerti sekarang.

Searah dengan itu setiap orang berkemungkinan merasa tidak cocok satu sama lain. Setiap orang berkemungkinan mencari celah menerima. Setiap orang berkemungkinan berakhir dengan merasa cocok. Entah untuk bertahan atau untuk pergi meninggalkan. Dan terimakasih sudah pernah berkenan bertahan, meskipun akhirnya jarak benar-benar menjadikan kita semua berjahuan.

Sayonara 38awesome yang ku cinta. Baik-baik di manapun kalian berada ya. Tetap jadi baik jangan lupa. Biar entar di akhirat kalau ada yang masuk surga bisa saling rangkul kek kita biasanya pas masih sama-sama.

Allah Yuftah Alaikum cinta. Semoga berkah segalanya ya.

--------------------------------------------------

Salam Literasi

#Day (6)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Romantika Orang Dewasa (3)

"Manusia banget sih kamu, sedih melulu" kataku kepadanya.

Dia perempuan, seumuran denganku, agak nyablak tapi baik, masih jomlo, dan sedang sama meratapnya denganku. Sebenarnya sudah lama aku dan dia tidak bertemu. Mungkin selepas wisuda sekitar 2 setengah tahun yang lalu. Tapi meski begitu, kita tetap saling mengganggu via chat WA.

"Sesungguhnya aku tidak terlalu bahagia seperti postinganku. Tapi ya syudahlaa, ahh aku jadi pengen ketawa haha" sahutnya.

Aku tertawa membaca chat terakhirnya. Membacanya menjadikanku berfikir bahwa memang selain banyak yang harus digapapain, hidup juga banyak yang harus diketawain. Bukan, bukan karena lucu. Tapi karena memang udah nggak habis pikir aja sama apa yang sudah-sudah. "Kok bisa? Lhah bagimane ceritanye? Lhah nggak jelas. Lhah yaudahlahhya terserah." gerutuku setiap merasakannya.

"Lhah sama, aku juga tidak sebijaksana postinganku. Serius, aku pengen jadi cah cilik lagi. Sakit akutuu jadi dewasa haha" kataku mencoba menyamai perasaannya.

"Aku pengen mainan masak-masakan aja nih. Jadi dewasa ribetnya nggak ketulungan. Ngorbanin perasaan nggak ada abisnya hihhhh" katanya kesal.

Aku tertawa (lagi). Kali ini lebih kepada merasa tidak tahu diri. Dulu masih kecil, aku meratap minta jadi kaya orang-orang tua yang kelihatannya dewasa itu. Tapi setelah sampai ditahap yang pernah ku mau itu, aku ketakutan dan mulai merengek minta kembali saja ke masa lalu. Waktu masih imut, masih lucu, masih lugu tanpa risau memikirkan ini itu. 

Kata orang-orang dewasa adalah pilihan. Kata orang-orang dewasa adalah tuntutan. Kata orang-orang dewasa adalah keharusan. Tidak ada jawaban yang mutlak. Setiap orang punya versi terbaiknya masing-masing.

Dulu aku membayangkan bahwa dewasa adalah sebuah pilihan. Aku bisa memilih menjadi apapun, pergi kemanapun, berhubungan dengan siapapun, dan dengan cara bagaimanapun. Aku bebas, merdeka sebagai seorang hamba. Tapi ternyata aku tidak sampai kepada bayanganku itu. Sepanjang perjalanan hidup yang aku lalui, dewasa bukan lagi sebagai pilihan. Dewasa adalah sebuah keharusan, juga tuntutan. Ya tentu saja ini membosankan. Banyak yang menjadikan diri sendiri menjadi terpaksa tanpa ada sebuah opsi pilihan. Padahal sebenarnya, sama saja. Karena sesungguhnya orang-orang dewasa itu hanyalah anak-anak kecil yang terpaksa menua. Yang usianya mau tidak mau bertambah dan kemudian memaksa orang-orang itu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada.

"Aku juga, sama. Tapi kita masih bisa main masak-masakan kok, tapi ya kudu jaga perasaan. Wkwkwk"

"Bercandamu.......... tidak lucu hah" katanya kesal.

"Jadi, beginilah rasanya setelah menjadi dewasa." kataku melanjutkan.

"Apa?"

"Oh tidak, maksudku menua."

"Ahh ya, itu...... lebih tepat"

Menua? Ya, ini memang istilah yang lebih tepat daripada menamakan diri dewasa tapi ternyata tidak dengan kenyataan yang ada. Kalau kita sedang ingin sesuatu dan tidak berkesempatan mendapatkan kemudian ingin menangis, menangis saja. Kalau kita sedang lelah kemudian mencari ibu, ayah atau siapa saja yang kita mau, datang saja. Ceritakan apa yang sedang kita rasakan juga yang kita inginkan. Yang membuat kita jatuh, yang bahkan ingin membuat kita menjadi gila. Lakukan saja apa yang kita mau. Bebaskan diri, jangan terlalu melawan masa bodoh.

Tapi satu yang harus selalu kita ingat. Datanglah kepada orang yang tepat. Yang bisa mengerti, yang tidak enggan menjadikan dirinya pendengar setia, yang bisa menemani, yang bisa membalut luka hati dan kemudian akan lebih bisa menjadikan kita bahagia setelahnya.
Atau kalau tidak, kita akan tahu siapa yang lebih tidak dewasa daripada apa yang telah kita lakukan dihadapannya. Haha

Karena sesungguhnya, dewasa itu hanyalah perkara tahu diri. Mengerti mana yang harus jadi prioritas. Mengerti bagaimana cara menyesuaikan dan membawa diri. Mengerti tanggung jawab terhadap resiko hidup. Mengerti bagaimana cara menghadapi apa saja yang datang dikehidupan ini.

Dewasa itu bukan soal umur. Pun bukan soal menilai. Dewasa itu bukan hanya pilihan. Dewasa itu keharusan dan tuntutan. Dewasa itu soal berfikir juga penerimaan terhadap diri sendiri atau bahkan kepada apa saja yang sedang dihadapi. Dewasa itu menghargai. Dewasa  itu menjaga. Dewasa itu, apa yang sedang kita lalui.

Jadi mari bergandengan tangan. Mari menua bersama dan menuju puncak dewasa itu. Semoga berhasil. Allah Yuftah Alaikum.

---------------------------

Salam Literasi

#Day (5)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....