Sabtu, 11 Mei 2019

Perihal Kehilangan



Beberapa perpisahan ada tanpa adanya kesepakatan. Satu pihak merencanakan, satu pihak tiba-tiba terkejut. Satu pihak tahu, tapi tidak dengan yang lain. Atau malah bisa jadi kedua-duanya sama-sama tidak mengetahui. Kodrat manusia adalah saling meninggalkan. Entah menjadi yang ditinggal atau malah menjadi yang meninggalkan, aku pikir ini sama-sama berkaitan dengan kepergian. Dan kepergian paling menyedihkan adalah kematian.

Kematian adalah ujung waktu yang sama-sama kita tunggu tanpa bisa kita tau kapan datangnya. Kematian adalah ujung yang benar akan kita jumpai tanpa benar-benar kita siapkan bekal menuju ke sana. Kematian adalah perpisahan yang abadi.

Seperti ini, seperti yang sedang aku takutkan. Yang sehat tiba-tiba hilang nyawa, yang sakit lama masih bertahan. Baiklah, kejutan hidup memang tidak ada yang tahu. Kita hanya perlu mempersiapkan diri untuk sampai di garis finish dengan selamat. Semoga surga firdaus senantiasa menjadi rumah abadi kita di akhirat kelak. Aamiin ya Rabb.

Ingin menolak, tapi sama sekali tak punya daya. Satu melihat dari sisi kebahagiaan . Satu lainnya melihat dari sisi kesedihan. Ya sudut pandang, memang menuntut kita untuk bisa menerima apa yang sedang ada dihadapan.
Seperti hidup, seperti mati, seperti hujaman lara yang tiada henti. Begitu matang direncanakan oleh Yang Maha Kuasa, tapi sulit dipahami oleh kaum awam seperti kita ini.

Tapi kenapa kita harus sedih berkepanjangan? Sedangkan yang terbaik selalu dihadiahkan-Nya untuk kita. Toh kelak kita harus bisa berdiri dengan jiwa raga sendiri. Toh kelak kita akan kembali menghadap Sang Ilahi sendiri. Jadi tidak masalah bukan, ketika yang sengaja atau malah sengaja kau cintai meninggalkanmu sendiri?

Apapun yang berada di jagat raya ini mempunyai masanya sendiri bukan? Kau, aku, dan kalian semua sama. Kita sama. Sama-sama harus menguatkan diri. Sama-sama harus mempersiapkan diri.
Bersedihlah. Sebentar saja ya. Secukupnya saja. Kalau dirasa sudah cukup, kembangan lagi senyuman. Jangan mau kalah dengan belenggu kesedihan. Kehidupan ini harus berlanjut dengan atau tanpa adanya orang-orang yang sudah tidak lagi ditakdirkan untuk bersama dengan kita.

Dan jika nanti aku pergi, jangan ditahan. Dilepaskan saja. Aku ini sementara dan memang akan tiada. Jika kau beruntung, kau akan menemukan yang lebih dariku. Atau jika yang terjadi malah sebaliknya, maka tetaplah anggap dia sebagai dia dan tanpa sedikitpun mengharap yang sama sepertiku. Beberapa hal memang datang sebagai ujian. Kau harus menerima ini.

Dan aku akan melakukan hal yang sama dengan apa yang ku mohonkan kepadamu. Semampuku. Sebisaku. Tapi jangan memaksa, aku butuh waktu untuk itu.

Ini mudah, tapi susah ternyata. Sambil berusaha, jangan lupa diiringi dengan doa. Semoga beruntung.


From me, 
Veni Veronika


-------------------------

#Day6
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave



Jumat, 10 Mei 2019

Mamak dan Sejuta Keegoisannya



Kudus, Mei'19

Malam ini hujan begitu deras mengguyur kotaku. Juga seluruh jiwaku. Malam ini aku diselimuti dingin sekujur tubuhku. Mengeringkan basah yang nyatanya semakin membuatku semakin kuyup. Aku berserah, membiarkan kedua mataku basah.

Malam ini, mamak dan sejuta keegoisannya telah terlelap diantara rintik hujan yang berlomba turun demi membasahi bumi. Aku memandangnya penuh kasih sambil menuliskan sedikit kisahku bersamanya sampai sejauh ini. Tak banyak yang benar-benar aku tahu, kecuali darinya disampaikan penuh cinta kepadaku.

Ini adalah kisah seorang putri yang linglung menyikapi sikap mamak tercintanya. Inginnya terbentur, sama sekali tak dipertimbangkan oleh mamaknya. Anggapnya, mamaknya keras dan tak sedikitpun mempedulikan inginnya. Bahkan sampai sebesar ini, percakapan panjang harus dilaluinya, demi meraih ingin yang dia mau. Ambisi menuntutnya untuk bisa berhasil mewujudkan mimpinya. Dia mulai hilang arah.

Terakhir, pikirnya terbuka. Sedikit celah ia dapat dan senyumnya mulai merekah. Ternyata inilah hidup yang sebenarnya. Putri mamak telah seperti yang mamak harapkan. Insyaallah tak ada lagi riuh ambisi yang berakhir dengan debat yang teramat panjang. Mamak bahagia, meski kadang hal kecil tetap menjadi sasaran gerutuannya. Manusiawi, cerewet memang kodrat seorang wanita. Aku memaklumi, dan lebih memberi tahu diri sendiri untuk tidak melebihi mamak. Aku belajar diam dan tidak mempedulikan apa yang tidak menjadi urusanku. Belum sempurna, tapi aku berjanji akan terus berusaha.

Semenjak aku di luar kota menyelesaikan tugasku sebagai seorang mahasiswi di kota sebelah, aku lebih sering membiarkan mamak sendiri. Terlalu menikmati dunia rantau, membuatku jarang pulang, kecuali ketika waktu benar-benar kosong. Aku bukan tipikal orang yang gemar menyapa orang lebih dulu. Aku lebih suka menjawab daripada mengajukan pertanyaan. Aku terlalu takut diabaikan daripada menyadari diri sendiri bahwa ternyata aku sendiri yang malah sering mengabaikan. Tapi itu dulu, sekarang tidak terlalu begitu. Sekali, dua kali atau pernah berkali-kali aku melakukannya. Menyapa lebih dulu, memberi kabar lebih dulu tanpa harus menerima lebih dulu sebuah permintaan agung. Peka harus tertanam di diri calon seorang ibu bukan? Baiklah, aku mulai belajar tentang ini.

Di akhir masa kuliahku, aku bimbang memilih pekerjaan yang sesuai dengan passionku sebagai seorang calon akuntan muda. Berbagai rekruitmen perusahaan aku ikuti dan gagal ditahap paling akhir adalah nasibku. BUMN, CPNS, bahkan diswasta sekalipun. Semua sama, tidak menjadi rejekiku. Jangan ditanya seberapa sedihnya aku. Atau sudah berapa bulir air mataku yang tumpah. Atau sekian sumpah serapah yang sempat ada. Aku hanya berakhir kepada satu pertanyaan.

"Apa yang salah denganku?"

Setelahnya aku melakukan instrospeksi diri. Mencari bacaan ini itu, demi mencari jawaban atas pertanyaan ku. Dan ternyata kuncinya hanya satu. Ialah restu mamak tercintaku. Entah apa yang dikhawatirkan mamak, aku tidak ingin terlalu membahas ini. Tapi mamak tidak mengijinkanku bekerja di luar kota. Padahal masih ada sederet mimpi yang ingin aku raih. Tapi ya sudahlah, mungkin setelah ini ada jalan lain yang menuntunku untuk sampai kepada mimpi-mimpi lamaku. Aku pasrah, menyerahkan semua kepada Allah yang Maha Kuasa. Kepada-Nya aku tak henti memohon juga meminta.

Allahu Akbar. Betapa aku sangat bersyukur menemukan jawaban ini. Tidak sulit, pun tidak mudah. Karena ternyata inginku benar-benar berbanding terbalik dengan keinginan mamak. Aku harus menyediakan lebih banyak hati untuk bisa menerima ini. Demi mamak dan demi kebahagiaanku untuk mencapai ridhoNya.

Sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kotaku. Tidak jauh, hanya butuh 5 menit dengan menggunakan sepeda motor untuk bisa sampai ke sana. Menjadi seorang akuntan muda berbakat yang handal dan menyenangkan. Restu mamak telah sampai. Insyaallah ridho Allah menyertaiku. Aku bahagia, melihat mamak bahagia.

"Mamak seneng bisa lihat endok tiap hari lagi. Sedikit banyak yang endok dapet diterima aja ya. Endok pulang tiap hari ke rumah juga mamak udah bungah kok. Pas endok ga ada tuh rumah sepi. Mamak sendirian ga ada temen."

Huaaaaaa. Nangis kejer (tapi gua tahan. gengsi kali mewek depan mamak haha). Dan ini lebih dari cukup. Aku hanya ingin membaktikan diriku kepadanya juga kepada bapak sebelum calon suami datang untuk meminangku. Waktuku terbatas, sangat sangat terbatas.

"And, this time for me to do it"

Baiklah, inilah sederet cerita colonganku bersama mamak. Lain kali aku ceritakan lagi hal lain yang lebih seru dan lebih bikin haru. Dan berakhirnya cerita ini beriringan dengan alunan suara rintik hujan yang mulai reda sereda tangisanku yang berganti dengan tawa kecil yang kusembunyian sejak lama dengan harapan tidak ketahuan oleh mamak.

Setelah ini biarkan aku berpura-pura terlelap dan benar-benar terbangun dengan senyum yang lebih merekah. Selamat malam dan semoga hari-harimu menyenangkan.


Dariku,
Putri Mamakku



Veni Veronika

-------------------------

#Day5
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Kamis, 09 Mei 2019

Tentang Surga


Surga adalah tempat kebahagiaan berada. Menurutku surga adalah tempat yang tumbuh banyak kebaikan dan kebahagiaan. Tempat yang banyak sekali orang-orang inginkan. Aku termasuk yang menginginkan.

Bagaimana denganmu? Apa kabar dengan surga yang kau inginkan? Masih ada atau pernahkah kau merasa surgamu hilang? Aku pernah. Tidak hanya sekali, tidak hanya dua kali, tapi berkali-kali. Aku kehilangannya, tepat sekali setelah aku banyak menolak kenyataan yang telah terjadi di kehidupanku. Tentang kegagalan yang aku alami, tentang kesedihan yang gemar memeluk, tentang kecewa yang berbaris ke belakang, juga tentang apa saja yang tidak sesuai dengan keinginanku. Aku marah entah kepada siapa. Kepada diriku sendiri yang tidak bisa lebih banyak mengusahakan, atau kepada dia yang tidak mau lebih mempertimbangkan, atau kepada mereka yang berhasil menorehkan luka, atau bahkan kepada siapa lagi. Entahlah. Lama kelamaan aku lelah sendiri dengan kebingunganku ini. Padahal, harusnya dari awal aku sadar diri. Bahwa nyatanya aku hanya seorang hamba yang hanya bisa merangkai banyak ingin dan harus menerima dengan lapang dada apapun yang menjadi kehendak-Nya.

Sekarang bagiku surga adalah diriku sendiri. Berdamai dan berkawan dengan apa saja yang telah digariskan Sang Ilahi untukku. Sepanjang yang telah ku lalui, kehidupan telah mengajarkanku banyak hal. Bahwa apa yang aku mau, tidak selamanya bisa menjadi milikku. Bahwa apa yang Allah berikan untukku adalah bukan sekedar yang aku mau. Lebih dari itu, Allah memberikan apa yang aku butuh. Maha Baik Allah dengan segala kebaikan-Nya. Harusnya aku menyadari itu.

Aku pernah terus mengejar sesuatu yang aku mau. Satu hal, dua hal, dan bahkan banyak hal. Mempersiapkan dan berupaya dengan sangat sungguh-sungguh dan dengan sebaik-baiknya. Tapi langkahku seketika berhenti. Aku telah gagal dan akhirnya harus rela berbalik arah. Mencari jalan lain dipersimpangan. Lambat laun pintu hatiku terketuk. Pikiran kolotku perlahan terbuka dan aku menyadari, mungkin yang sangat ku ingini malah tak baik untukku, mungkin aku belum membutuhkannya, atau bahkan mungkin itu memang bukan ditakdirkan untukku. Allah tahu yang terbaik untuk kita, tapi kita tidak tahu bukan?

Bukan putus asa, sama sekali bukan. Ini hanyalah bentuk penerimaan diri. Tentang bagaimana caraku memeluk kekalahan dan berdamai dengan kenyataan. Tidak ada yang buruk, semua sudah memiliki jatah masing-masing. Aku dan kamu hanya perlu tahu tentang ini. Senyumku tetap harus bersaing dengan warna pelangi yang berhasil menghiasi langit setelah hujan. Aku tidak lagi mau menjadi lemah, Allah telah menunjukkan jalan untukku. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih kuat lagi.

Dan satu lagi yang bisa mendekatkan kita kepada surga yang penuh ketenangan itu. Ialah hati yang penuh dengan ladang maaf yang kita punya. Mari belajar untuk mudah memaafkan kesalahan orang lain. Kita butuh jiwa yang tenang untuk bisa menuju ketenangan yang membahagiakan. Sedewasa ini, banyak hal yang perlu kita sadari. Bahwa tak semua ingin bisa kita raih. Jangankan terhadap orang lain, kepada diri sendiripun terkadang kita sendiri susah memaafkan.

Hati adalah awal dari segalanya. Benar yang dikatakan kebanyakan orang, bahwa hati adalah hal pertama yang harus dibenarkan. Jika hatimu sedang dalam kondisi baik, maka mood dan pembawaan diri akan selalu menjadi baik. Dan begitu sebaliknya. Beberapa hal yang menyebalkan datang untuk mengajarkan kepada kita cara bersabar dan kemudian ikhlas menerima. Sedangkan beberapa hal yang lain, datang untuk menjadi hal yang membahagiakan agar mengajarkan kepada kita cara bersyukur.

Aku pernah, selalu memandang buruk sesuatu. Sama sekali tak ingin mengubah pandangan yang aku punya terhadapnya. Sampai-sampai hatiku mati. Tak bisa sedikitpun melihat dan merasakan kebaikan yang dibawanya untukku. Hatiku dipenuhi penyakit hati, menjalar ke seluruh tubuh dan menyakiti seluruh ragaku. Aku sakit, akibat kebodohanku sendiri. Hawa nafsu terlalu erat memelukku. Sampai aku terbuai dan buta akan ini.

Akhirnya setelah beberapa waktu berdiam diri, sekedar menenangkan diri dan mencari cara untuk lebih baik lagi. Aku berjalan perlahan ke arah yang lebih terang. Aku menemukan cahaya yang menghidupkanku kembali. Hatiku bertemu dengan obat yang sangat ampuh. Aku bersimpuh, merendah, memohon ampun kepada Allah yang Maha Memiliki segalanya. Aku telah jauh dari-Nya selama ini. Aku hilang, tenggelam di kegelapan hati. Semenjak itu, bibir ini bergeming tak henti menyebut asma-Nya yang begitu agung. Harapku tak kenal henti kepada-Nya. Semoga hidayah-Nya senantiasa mengiringi kita hingga ke jannah-Nya.

Dan aku katakan, aku sudah lebih baik dari sebelumnya. Semenjak itu, ada sedikit ruang yang terbuka dan membuatku lebih lega. Terkesan baik dihadapanmu begitulah kuasa-Nya. Tapi jika ternyata masih belum cukup bagimu, biarlah ini menjadi urusanku dengan-Nya. Aku tidak tahu bagaimana dari proses yang sedang aku lalui. Baik atau buruknya, selalu ku percayai sebagai sesuatu yang baik. Ini tidak cukup waktu sebentar. Barangkali prosesku akan berlangsung sangat lama. Ya baiklah, akan aku nikmati dengan sepenuh hati. Doakan aku semoga mampu dan semoga doa baik kembali kepadamu.

Dan beginilah. Surga memang susah diraih. Maka dari itu, kenapa tidak kita sendiri saja yang menciptakannya sendiri? Siapa tau setelah itu, kita bisa menjadi surga untuk orang lain?

Benar kan?


_Kudus, Mei'19_


#Day4
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30RamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Rabu, 08 Mei 2019

Wanita dan Karier


Hari itu kantor hanya masuk setengah hari. Sisa waktu yang ada kami gunakan untuk menyelesaikan santunan kepada karyawan dan buruh kantor yang sedang sakit. Kunjungan dari rumah ke rumah juga ke rumah sakit berhasil kami selesaikan menjelang waktu magrib. Kami singgah di sebuah tempat makan cukup elit di kotaku. Jujur, aku belum pernah kesana sendiri sebelum ini. Setiap pergi dengan teman-temanku, kami lebih suka makanan pinggir jalan atau sesekali ke cafe tapi yang tidak terlalu mahal juga. Pokoknya budget menjadi pertimbangan kami dalam masalah makan. Calon mamak, perhitungan ekonomisnya mengikuti sampai ke berbagai hal.

Bis mini yang membawa kami berkeliling seharian sudah selesai terparkir di halaman tempat kami makan. Kami berada di sebuah meja makan yang panjang. Aku berada di sisi sebelah timur hampir pojok. Berhadapan dengan seorang ibu muda yang berhasil membuka pikiranku perihal menjadi wanita karier dengan tidak mengorbankan waktu untuk keluarga. Salut ku dengarkan cerita si ibu sembari manyantap hidangan yang satu per satu tersaji di hadapan.

"Buk, udah lama di kantor?" celetukku memulai obrolan.

Waktu itu aku masih tergolong karyawan baru. Tahun pertamaku bergabung di perusahaan tempatku bekerja sekarang. Diikutkan dalam kepanitiaan seperti ini bagiku sangat menyenangkan. Selain bisa lebih tahu cara menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang baru, aku juga bisa lebih tahu cerita-cerita pribadi dari orang-orang yang ku temui. Bagiku pengalaman benar-benar menjadi guru terbaik untuk kehidupan daripada dengan ilmu yang sekedar kita pelajari tapi belum benar-benar kita aplikasikan di dunia kerja yang sesungguhnya. Kendati begitu, aku sangat bersyukur. Di posisi ku yang sekarang, alhamdulillah sesuai dengan ilmu yang ku dalami mulai dari SMK sampai menjadi Ahli Madya. Setidaknya, aku tidak harus belajar semua dari awal.

Dan pertanyaanku disambut hangat olehnya.

"Baru wok, belum lama" kata si ibuk

"Masak buk? Berapa lama emang?"

"Baru sekitar 8 bulanan"

"Sebelum disini, kerja dimana buk?"

"Di bank. Udah jadi manajer pula"

"Masak si mbak?" seorang ibu ibu memotong pembicaraan dengan lumayan seru

Bukan hanya aku, hampir semua yang mendengar pembicaraan kami terlihat shock. Mungkin kebanyakan dari kita berpikir "Kok bisa resign? Atau kenapa nih?". Bagaimana tidak? Sebuah jabatan yang cukup diperhitungkan dilepas begitu saja. Kalian pasti akan menanyakan hal yang sama seperti kami.

"Tanya aja ke tempat kerjaku yang dulu"

"Kenapa bisa resign buk?"

"Enak memang di bank. Gajinya besar. Tapi ya gitu, sibuk banget"

"Terus buk?"

"Dulu setiap pagi aku berangkat ke kantor. Dulu kantorku di rembang. Jam 6 berangkat, pulang jam 9 malam. Sampai rumah masih nyuci, masih ini masih itu. Pagi, bangun lagi. Gitu lagi terus. Akhirnya aku mikir, aku ga bisa begini terus. Apalagi setelah punya anak, aku tidak mau tiba-tiba anakku udah gedhe, tapi aku nggak tau gimana perkembangannya. Menjadi betambah tua hanya terjadi sekali, dan aku tidak ingin melewatkan ini"

"Uhgggg sweet, mulia sekali ibuk"

"Ya, sebenarnya aku merasa berat. Untuk sampai ke posisi manajer, bukanlah proses yang gampang. Diskusi juga sama bapakku gimana baiknya. Akhirnya aku sadar, rumahku adalah keluargaku. Aku bersyukur dengan pekerjaanku yang sekarang. Jauh membuatku lebih baik daripada sebelum ini. Aku jadi lebih sering punya waktu untuk keluarga meskipun jadi wanita karir. Tidak seperti dulu. Aku berangkat ketika anakku masih tertidur dan kemudian pulang setelah anakku tidur pulas. Sama sekali tidak ada waktu untuknya."

Singkat, tapi bermakna. Menu makan waktu itu jadi tambah nikmat. Saking nikmatnya, seorang ketua rombongan tersenyum sambil menegurku.

"Mbak, ayo makannya dipercepat. Ibu ada janji sama anak-anak setelah ini. Nggak enak kalau lama ditunggu"

"Duh maaf buk, siap siap"

Masih ada tempe dan ayam lengkap dengan sambal. Tapi harus rela ku tinggalkan demi mempersingkat waktu. Ada kerinduan yang menyelinap di hati ibu-ibu kepada rumahnya. Kepada anak-anak, suami, dan siapa saja yang ada dihatinya.

Aku mempercepat lumatan di mulutku. 5 menit selesai. Aku segera menuju ke sebuah wastafel dan membersihkan tanganku. Kami bergegas menuju ke parkiran. Masuk satu per satu ke bis mini dan kemudian pulang ke rumah kami masing-masing.

Dan lagi, aku belajar dari kisah yang lain. Dimana meskipun kelak aku tetap menjadi wanita karier, tapi fitrahku yang sesungguhnya adalah sebagai seorang ratu dikeluargaku. Istri dari suamiku, mamak dari anak-anakku, menantu dari mertuaku, putri dari kedua orang tuaku, teman untuk yang menganggapku sebagai teman, juga saudara dari saudara-saudaraku.

Aku pernah membaca buku. Cerita seorang ibu yang juga menginspirasi. Seorang wanita karier yang hebat dengan dobel perannya sebagai seorang ibu juga. Kata beliau, bekerja bukan hanya untuk mencari uang. Melainkan lebih dari sekedar mengaplikasikan ilmu. Menjadi berguna untuk khalayak ramai juga menjadi alasan utamanya. Lama waktu yang digunakannya untuk menuntut ilmu membutuhkan ruang untuk diaplikasikan ke kehidupan nyata. Dan bekerja adalah salah satu caranya.

Aku paham, bahwa karier seorang istri yang sesungguhnya adalah di rumah. Membantu suami mengurus rumah tangga dan tentu menjadi madrasah pertama untuk anak-anak. Tapi aku pikir, selama semua masih bisa diseimbangkan, semua akan menjadi baik-baik saja. Ini hanya soal pembagian waktu, jangan jadi masalah yang besar. Obrolan dan pemikiran yang hangat bisa disampaikan kepada suami. Tapi tak apa jika yang dikehendaki suami adalah menantikannya pulang bekerja sambil memastikan rumah dan anak-anak terurus. Ridhonya ada untuk menggantikan ridho kedua orang tua kita seelah kita menikah. Ridhonya ada untuk mencapai ridho Allah.

Aku belum menikah. Tapi aku pikir aku harus punya pemikiran ini mulai dari sekarang. Bagaimana merancang kehidupan setelah menikah. Juga bagaimana menjadi yang seharusnya aku lakukan. Wanita itu terikat. Ketika belum menikah ia diikat dengan restu kedua orang tua. Setelah menikah ia diikat dengan restu suaminya. Allahu Akbar. Betapa Allah menyayangi kita sebagai wanita. Disediakannya penanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Semoga Allah senantiasa menggugah hati kita untuk selalu menyadari ini.

Dan hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan, hatiku dan pemikiranku menjadi sangat berisi dengan rentetan cerita orang-orang sebelumku.

Terimakasih ibu-ibu. Terimakasih untuk pilihan terbaikmu. Sebentar lagi adalah jamanku, semoga aku juga punya hati sebijak kalian semua.

Selamat pagi dan semoga hari-hari yang kita lewati selalu diberkahi oleh-Nya.



_Kudus, Mei'19_

#Day3
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave





Senin, 06 Mei 2019

Menjadi Bermanfaat Dengan Ilmu dan Pengalaman


Sekian banyak mamak-mamak mendatangiku dan inginku melaju menjadi lebih kuat. Ini bukan sebuah perlombaan, bukan pula pertunjukan, atau malah sebuah pelarian. Aku tak bisa melakukan banyak hal untuk bisa menjadi lebih hebat. Bagiku, berniat mengubah diri menjadi yang lebih baik saja sudah lebih dari cukup. Yang terpenting aku tidak mencurangi dan menyusahkan orang lain. Syukur-syukur malah bisa menjadi yang bermanfaat. Aku banyak bermimpi tentang ini, menyenangkan banyak hati dengan usaha yang tak begitu sulit dilakoni. Menyenangkan bukan?

Semenjak aku meninggalkan kota rantau dan memutuskan untuk kembali ke rumah, aku dimintai tolong menemani anak-anak tetanggaku belajar. Mereka meminta ibu-ibu mereka agar bisa menyampaikan keinginan belajar mereka kepadaku. Aku bilang menemani, karena aku tidak mau disebut mengajari. Aku bukan guru, bukan pula ahli di bidang itu. Aku hanya seorang akuntan yang punya impian lebih di bidang yang lain untuk mengembangkan potensi diri. 

Seperti ini sekalian menjadi media pembelajaran untukku. Bagaimana mengikuti kurikulum pendidikan yang sekarang, juga mencari cara asyik supaya menumbuhkan minat belajar dan mencari cara terbaik untuk memudahkan mereka memahami bab pelajaran yang mereka bingungi. Ini adalah sebuah tantangan. Aku tak pernah punya ilmu bagaimana menjadi seorang guru, kecuali bekal ilmu dan juga kesabaran serta keikhlasan hati. Aku pikir ini modal terminim yang aku punya. Tapi aku pikir, setiap orang adalah seorang guru. Entah dinilai dari hal pengalaman atau benar-benar menjadi seorang guru.

Berbagi sedikit mengenai kurikulum terbaru. Aku pikir orang tua yang harus mengambil langkah lebih ekstra untuk meringankan anak-anaknya belajar. Kurikulum yang sekarang lebih banyak soal-soal dibandingkan materi. Materi pengantar di buku yang dipakai hanya sedikit dan tidak cukup untuk menjawab semua soal yang harus dikerjakan anak-anak. Bagi orang tua yang tidak mengikuti perkembangan zaman pasti akan susah meringankan beban anak-anaknya pada saat belajar. Ya benar, memang tidak semua orang tua dianugerahi pemikiran yang lebih di bidang ini. Dan untuk menggantikan perannya, banyak orang tua yang mencarikan orang-orang yang berpotensi lebih untuk menemani anak-anaknya belajar.

Sebenarnya banyak tawaran rupiah yang datang kepadaku. Tapi tidak ku terima. Sekali lagi, aku bukan seorang guru dan tidak berniat menjadi seorang guru. Bisa menyaksikan mereka mau belajar dengan niat sendiri saja, aku sudah bahagia. Ini pintu pertamaku menyalurkan ilmu. Aku pikir sesuatu yang dilakukan dengan kesadaran sendiri, akan lebih bisa diterima dibandingkan dengan sesuatu yang dipaksakan. Aku hanya ingin membantu dan mengamalkan ilmu yang ku punya. Biarkan ini menjadi jalan surgaku. Semoga ilmu yang aku punyai menjadi bermanfaat dan menjadi berkah untuk kami semua.

Baiklah, memang tidak semua materi ku kuasai. Tidak jarang juga aku membaca terlebih dahulu ketika mengajari, bahkan sesekali bertanya dengan google. Apalagi ketika menghadapi mata pelajaran sejarah ataupun IPA. Sejak SMK pelajaran seperti sejarah dan IPA hanya menjadi pelajaran sampingan, sedangkan pelajaran pokok yang aku pelajari adalah perihal akuntansi. Oleh karena itu, setiap menghadapi mata pelajaran seperti sejarah dan IPA, aku memahaminya lebih dulu, baru setelah itu aku jelaskan kepada mereka semua dengan pemahamanku. Ini tidak mudah, bahkan aku lebih menyebut ini sebagai belajar kelompok. Bagaimana tidak, bukan hanya mereka saja yang belajar. Yang dipasrahi mengajari juga belajar dulu. Kadang aku merasa lucu mengenang ini. Tapi beginilah jalannya. Setidaknya mereka terbantu.

Dan alasan kedua setelah itu, aku tetap ingin menjadi bebas tanpa terikat sesuatu selain tuntutan sebagai karyawan kantor. Ketika kadang ada acara mendadak di kantor atau ada acara keluar bersama teman-teman, aku memilih pergi bersama mereka. Anak-anak belajar sendiri dan di kemudian hari kita lanjutkan belajar lagi. Aku ingin memerdekakan diri sejenak. Berhenti melompat dari kelompok kelas 1 ke kelompok kelas lain sampai tugas mereka benar-benar selesai. Tidak capek, aku hanya ingin membebaskan diri dari ini semua, meskipun hanya sebentar.

Dan bagiku menjadi seorang guru harus memiliki persiapan lebih. Sekalipun dia hanya berlabel seorang guru les. Sebelum ini, aku pernah menjadi guru les. Waktu itu aku masih SMK dan muridku adalah siswa TK. Lumayan, dari ini aku bisa menambah uang jajanku sendiri. Aku bangga sekali bisa melakukan ini. Setidaknya aku bisa belajar mencari penghasilan, meski tidak begitu banyak.

Kurang lebih 2 tahun berlalu dan kemudian aku terpaksa berhenti karena harus pindah keluar kota untuk melanjutkan sekolah. Dulu aku punya target. Setiap pertemuan aku menyiapkan materi dan target yang harus terlaksana hari itu. Kurang lebih 2 jam waktu belajar dan aku harus benar-benar memanfaatkannya. Kadang kalau dia sudah lelah, kami berhenti sejenak dan melanjutkan kembali setelahnya.


Karena dia masih TK aku memulai pelajaran dengan menulis. Aku perkenalkan satu per satu huruf dan angka lengkap dengan cara penulisannya. Tangannya ku genggam dengan lembut, ku ajari membuat huuf demi huruf sampai dia benar-benar bisa. Sehari minimal ada 3-5 huruf. Kemudian berulang sampai semua benar-benar tekuasai. Setelah target benar tecapai, aku berpikir ulang tentang pelajaran selanjutnya. Merangkai kata, membaca cerita, menghitung, dan semacamnya. Dan begitu seterusnya.

Ya, itu alasan utamaku tidak ingin menjadi guru les. Aku pikir dengan penghasilanku yang sekarang, insyaallah sudah cukup memenuhi kebutuhanku. Menemani anak-anak belajar, aku pikir biarlah ini menjadi jalan ibadah untukku. Aku sudah cukup senang menerima ucapan terimakasih dan cerita bahagia dari ibu-ibu anak-anak.

"Terimakasih ya Mbak. Semoga Allah membalas kebaikan Embak"

Dan bagiku, doa dari mereka melebihi segala-galanya. Ada yang lebih menguatkan daripada sekedar keinginan, ialah doa apalagi dari mereka yang kita tolong. Aku merasakannya betul setelahnya. Banyak kemudahan yang ku temui di kehidupanku dan mungkin karena Allah mendengar doa-doa dari mereka semua. Semoga banyak kebaikan selalu mengiringi kita semua.

Aku juga senang karena aku dan ibuku jadi bisa lebih banyak bersosialisasi dengan banyak tetangga. Jujur saja, sebelum ini aku tidak terlalu mengenal anak-anak di kampungku. Terlalu lama di kota rantau dengan jadwal pulang yang tidak terlalu sering, membuatku tidak terlalu banyak mengenal lingkungan kampungku. Setiap pulang, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Baru sebentar bercerita dengan mamak, tiba-tiba sudah waktunya balik ke perantauan.

Dan inilah ceritaku, semoga kita bisa tumbuh menjadi hamba-hamba Allah yang lebih bisa membawa banyak manfaat untuk khalayak ramai. Sekian cerita hari ini dan terimakasih sudah sudi meluangkan waktu untuk membaca cerita usang ini.

_Kudus, Mei'19_

#Day2
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave


Minggu, 05 Mei 2019

Ramadhan Bagiku adalah Sebuah Awal


Esok ramadhan akan datang. Sudahkah jiwa kita siap menjamu setiap ketukan yang dihadiahkan kepada masing-masing dari kita? Belakangan ini banyak ku dengar diluaran, siapa saja gemar sekali tersenyum membicarakan kedatangannya. Anak-anak tak henti bertanya kepada Ayah Bundanya perihal kedatangan ramadhan. Ada yang beberapa sudah janjian tarawih bersama atau malah subuhan dan lanjut jalan-jalan pagi bersama. Belum juga yang janjian ikut keliling membangunkan sahur. Ada yang menyiapkan kentongan, botol kaca, ember kecil, dan alat semacamnya untuk digunakan latihan bersama. Orang-orang dewasa juga tidak kalah heboh menyambut ramadhan. Tawaran buka bersama ada dari kalangan mana saja. Selain itu juga mereka sibuk memilah menu buka dan sahur sampai 30 hari ke depan. Seperti akan bertemu sesuatu yang dirindukan, mereka bersiap menyambut dengan penuh senyuman.

Tapi kenapa tidak denganku? Aku malah merunduk pilu dan bergeliat dengan ketakutanku. Banyak yang menggebu diingatanku yang lalu. Ketika apa yang sudah lebih baik menjadi hilang begitu saja. Dan sekarang, menjelang kedatangannya seakan-akan aku melupa dan ingin memulainya dari awal? Tidak. Aku tidak ingin lagi. 

Lalu bagaimana dengan yang kau rasakan? Senang menantikan kedatangannya atau malah seperti diriku yang lalai ini? Menyesali yang sudah terjadi padahal membiarkannya pergi tanpa sedikitpun dihargai. Padahal sebelumnya ramadhan ku kejar dan berharap menjaga dengan keistiqomahan diri. Ternyata sesulit ini menjaga hati. Tanpa kontrol diri, semua hilang tanpa arti.

Lalu bagaimana jika ternyata ini adalah kedatangannya yang terakhir? Sejujurnya aku teramat takut membicarakan ini. Takut jika akhirnya aku yang mendahului pergi atau malah waktu yang menemui akhir. Garis takdir selalu menjadi seperti sebuah kejutan bagi siapa saja. Yang diharapkan tak kunjung di hadapan. Tapi yang sama sekali tak pernah dilirik sekalipun datang menemui diri. Dan menebak menjadi satu-satunya cara untuk menelusuri garis takdir.

Semalam usai adzan isya berkumandang, aku bersama teman dan tetanggaku berbondong-bondong ke masjid. Melangkahkan kaki menuju tempat suci yang sudah lama sekali tidak kami singgahi, kecuali pada pengajian tanda peringatan hari-hari besar islam. Kesibukan telah melalaikan sebagian dari kami. Hingga rumah menjadi satu-satunya tempat untuk beribadah. Tidak apa-apa, setidaknya masih bisa beribadah.

Setelah ini, mungkin sampai 30 malam nanti, masjid di kampungku tidak akan gelap lagi setelah sholat isya dilakukan. Ramadhan membuat kami lebih lama di masjid. Di mulai dari semalam, lantunan ayat-ayat suci-Nya menggema sampai ke hati siapa saja yang mendengar. Suasananya tenang, seperti berada di pelataran surga. Anak-anak di kampungku gemar sekali mengaji setelah selesai sholat tarawih. Ya meskipun niat utama adalah bisa mengisi hasil bacaan ke dalam buku agenda yang diberi oleh Bapak/Ibu Gurunya. Kegiatan rutin yang positif, aku seperti kembali ke masa ketika masih MI. Berebut tanda tangan embak-embak yang membimbingku mengaji setelah usai tadarus sambil makan gorengan dan minum teh anget.

Sekarang, sudah tidak lagi. Waktu berputar begitu cepat. Usia semakin bertambah dan sekarang aku bersama teman-teman seusiaku gantian menjadi pembimbing ngaji buat adik-adik. Menyimak dan kemudian membenarkan satu persatu dari bacaan yang mereka baca. Hukum waktu selalu membawa keadilan. Tanpa disadari, Allah memberikan cara untuk kita agar sama-sama bisa merasakan diberi dan memberi, ditolong dan menolong, disayang dan menyayangi, dan masih banyak lagi.

Ramadhan sudah benar-benar tiba. Bulan istimewa nan penuh berkah benar-benar sudah ada dihadapan. Rutinitas di bulan baik ini hadir kembali satu per satu. Puasa wajib, sholat sunnah tarawih berjamaah di masjid, tadarus Al-Quran, silaturrahmi di moment buka bersama dan banyak hal lain telah kembali dilaksanakan. Sebagian orang hanya melakukannya setiap ramadhan datang. Sebagian lagi menganggapnya sebagai sebuah awal dan sebagian lagi menemuinya sebagai akhir. Ketika ajal menemui waktunya dan raga sudah tak lagi berdaya tertimbun dikedalaman tanah.

Aku ada dibarisan yang menganggap ini sebagai awal. Ramadhan, adalah awal bagiku. Awal diri ini menuju kepada Allah. Ramadhan adalah jalan hijrahku. Jalan yang mendekatkanku kepada sesuatu yang lebih baik. Kebiasaan terbaik di bulan ini, semoga selalu istiqomah terbawa sampai akhir hayat. Semoga lalai tak lagi membawa diri ini. Menuruti hawa nafsu yang kapan menemui akhir. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat, nikmat, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Semoga Allah perkenankan kita untuk istiqomah menjaga diri untuk bisa menjadi hamba yang Allah cintai dan mencintai Allah. Semoga ladang ibadah selalu terbaca oleh kita dan semoga Allah perlihatkan kepada kita kebaikan-kebaikan yang tiada habisnya.

Semua ada pro dan tentu ada kontra. Ramadhan bisa jadi yang menyenangkan atau malah untuk beberapa orang malah menganggap yang sebaliknya. Tapi bagaimanapun keadaannya, mari sama-sama bersyukur karena kita semua masih dijinkan untuk bertemu di ramadhan tahun ini. Semoga Allah melancarkan semuanya sampai akhir.


Aku suka bertemu dengan bulan ramadhan. Tapi sayang datangnya hanya setahun sekali. Andai semua bulan diperlakukan seperti bulan ramadhan. Aku pikir, dunia akan benar-benar menjadi seperti surga. Sejuk, indah dipandangan, bahagia. Dan tentu saja akan menenangkan dan menyenangkan.
Awal tak seharusnya selalu bertemu akhir. Istiqomah adalah penjaganya. Dan diri sendiri adalah penentunya. Semoga niat diri diijabah oleh Sang Ilahi.

Selamat pagi dan selamat menjalankan ibadah puasa pembaca.

_Kudus, Mei'19_

#Day1
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Senin, 25 Maret 2019

Segalanya untuk Mamak

Tidak ada sesuatu yang lebih menyakitkan kecuali membiarkan air matamu menetes membasahi kedua pipi yang mulai keriput itu. Ketahuilah, hatiku ikut hancur menyaksikan kekecewaanmu. Ingin sekali aku berlari jauh, jauh sekali sampai tak terlihat dihadapanmu. Begitu setiap aku melihatmu menangis karena ketidaksanggupanmu menahan apapun yang menurutmu telah membuatmu kecewa. Aku menangis dengan suara yang sunyi. Aku mencari tempat yang tidak ada seorangpun bisa menemukanku. Aku hanya ingin sendiri setiap ditimpa perasaan seperti itu. Aku hanya ingin tenang agar setelah itu aku bisa menenangkanmu.

Aku rapuh, aku lemah, aku merasa tidak berguna untukmu. Jangankan mendekat, melihat tangismu dari jauh saja rasanya tak mampu. Aku terlalu takut menambah kekecewaanmu dengan ego-ego kerasku yang kadang membuatmu jengkel. Aku terlalu takut berucap, takut menambah daftar sebab sakit di hatimu.

Tidak ada yang bisa menandingi apapun yang ada padamu. Mamak hebat, telah bertahan sampai di umur yang hampir setengah abad ini. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana berada diposisi mamak. Menghabiskan sisa usia dengan hati yang penuh tatu. Bekerja sepenuh hati untukku dan enang dengan hati yang berkali-kali tersakiti. Percayalah mak, surga firdaus menantikanmu di hari akhir kelak.

Aku ingat benar bagaimana air mata mamak mengalir begitu deras. Menangisi bapak yang tega mendua dan pulang ke hati yang lain. Mungkin mamak tidak menangisi bapak, tapi lebih tepatnya menangisi garis takdir yang begitu pelik. Mamak membicarakan ini berkali-kali kepadaku, apalagi semenjak aku bekepala 2. Batinku memberontak hebat membicarakan tentang ini, aku benar tak rela mamak menjelek-jelekkan bapak. Dulu aku selalu bersikap acuh dan sedikit marah, tapi tidak dengan akhir-akhir ini. Aku memilih diam. Tidak ada yang harus ku bela dari bapak. Dan aku pikir memang sudah hak mamak mengutarakan semua. Aku mengerti, tidak semua hati bisa menerima nasib yang sudah digariskan Ilahi. Bicara saja mak, aku berjanji akan mendengarkanmu dengan baik, menyediakan bahu jika kau butuh, atau mengusap air matamu yang bisa saja menetes. Lakukan saja mak, aku sudah benar mengupayakan diri untuk sanggup melakukan semua itu.

Entah ingin apa yang belum kau sampaikan kepadaku. Aku merasa masih ada yang janggal. Mamak selalu begini, memendam dan meledak sewaktu waktu. Kadang aku menjadi takut dengan keadaan seperti ini. Tapi untuk bisa bertanya, ada yang harus aku jaga. Perasaan mamak sangat sensitif semenjak gerbang deritanya terbuka. Aku jadi tidak punya nyali membicarakan ini kepadanya.

Terakhir kali aku pamit merantau, muram menyelimuti wajah mamak. Entah apa yang disembunyikannya, aku rasa mamak mengkhawatirkan sesuatu. Aku sengaja tidak bertanya dan hanya diam menatap wajah harunya. Aku pergi dengan setengah rela yang dimiliki mamak. Benar saja, seleksi CPNS yang aku ikuti gagal di tahap paling akhir sebelum pemberkasan. Perasaanku hancur, kecewa dan tak berarah. Aku pulang dengan hasil yang buruk. Tapi tidak menurut mamak. Wanita hebat itu menyambutku dengan bahagia sesampainya aku di rumah. Agak terheran, tapi aku pikir mamak sangat menghargai usahaku yang akhirnya gagal.

“Mamak seneng bukan main endok pulang. Beberapa hari setelah keberangkatan endok mamak sakit, badan meriang tapi nggak sembuh-sembuh” kata mamak memulai bercerita

“Alhamdulillah. Lhah sekarang masih sakit mak?” tanyaku kepada mamak

“Udah sembuh semenjak lihat endok pulang. Pikiran jadi ayem gitu” kata mamak sambil senyum

“Alhamdulillah. Bentar deh mak, maksud mamak, mamak sakit gara-gara aku gitu?” tanyaku keheranan

Mamak hanya tersenyum. Aku pikir pertanyaan terakhirku sudah terjawab. Juga dengan beberapa pertanyaan yang ada dibenakku sebelum ini. Ridho mamak tidak sampai kepadaku untuk bekerja di luar kota. Mamak ingin melihatku setiap hari setelah aku resmi di wisuda. Aku sempat menolak, terus merengek agar diijinkan bekerja di luar kota dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Keadaan di kotaku tidak begitu mendukung dengan cita-cita yang aku punya.

Setelah itu aku melamar di beberapa perusahaan swasta di kotaku. Alhamdulillah setelah menunggu cukup lama, aku resmi diterima sebagai karyawan kontrak di salah satu perusahaan rokok. Aku pulang dengan membawa kabar gembira untuk mamak. Mamak senang sekali.

“Mamak senang endok udah diterima kerja. Di deket rumah lagi. Jadi mamak ayem bisa lihat endok tiap hari”

“Iya ya mak, alhamdulillah”

Oke baiklah, aku mengalah dengan keadaan. Tidak selalu buruk ketika kita mencoba menurunkan ego demi kebaikan bersama. Keinginanku masih sama, tapi entah kapan terwujud aku percaya Allah akan menunjukkan jalan untukku. Hatiku sudah sangat bahagia melihat mamak merasa ayem. Aku harap setelah ini mamak bisa sehat terus. Setidaknya keberadaanku di dekat mamak bisa meringankan pikiran mamak.

Tapi mamak begitu lagi, murung lagi. Apalagi setiap aku berpamitan main ke luar kota. Padahal Cuma pergi sehari doang, membayar rindu bersama teman-teman. Tapi sumringah kembali setiap kali aku menyampaikan bahwa rencanaku ke luar kota gagal.

“Mamak seneng banget endok nggak jadi pergi ke luar kota. Pikiran mamak jadi ayem. Mamak kepikiran endok, diluar kan hujan. Takut ada apa-apa”.

Aku diam terperangah. Harusnya aku bisa mengerti bagaimana cara menenangkan mamak. Sederhana tapi ya begitu. Masih kurang sesuai seperti yang aku mau. Ya, memang setiap orang memiliki cara untuk menyampaikan rasa sayangnya. Kadang diterima dengan baik, kadang diterima dengan terpaksa, atau bahkan kadang ditolak mentah-mentah. Percayalah, tidak ada hati yang benar-benar dalam keadaan baik.

Satu lagi yang membuatku haru setiap berbincang dengan mamak. Belajar dari pengalaman, ada banyak trauma yang menghantui mamak. Apalagi menyaksikan anak perawannya tumbuh dengan umur yang semakin bertambah. Ada beberapa pesan dari mamak untukku.

“Nggak usah buru-buru ndok. Jodoh nggak akan kemana. Mamak doakan semoga kelak jodohmu adalah seseorang yang benar-benar sayang sama endok. Biar penderitaan seperti ini cukup berhenti di mamak aja”

Rasanya ingin ku peluk mamak dengan erat. Tapi lagi-lagi mamak bukanlah sosok yang menyukai sebuah pelukan. Rasa inginku menjadi sebatas angan. Setiap aku menginginkannya aku memejamkan mata dan membayangkan mamak memelukku dengan erat sambil senyum. Aku rasa ini lebih baik, daripada aku harus mengabaikan rasa inginku begitu saja.

Mamak selalu kuat setiap memeberikan wejangan kepada anak-anaknya. Aku juga. Tidak menangis sama sekali. Keberatan gengsi, takut malu ketahuan nangis di depan mamak. Mamak tidak tahu, ada banyak air mata yang aku habiskan untuk meratap. Dan ini adalah salah sekian alasan kenapa aku lebih memilih pergi jauh ketimbang harus berada di dekat mamak. Dulu waktu masih kuliah di luar kota, setiap sedih aku menangis sesenggukan sendiri di dalam kamar. Tidak ada yang tahu, kecuali setelah keluar kamar dan teman-temanku melihat mata sembabku. Tidak apa-apa, setidaknya tidak ada lagi yang aku pendam. Sekarang tidak lagi, keberadaanku di dekat mamak telah menuntutku untuk menjadi lebih kuat. Aku jadi jarang menangis, kecuali ketika rumah sedang kosong dan hanya ada aku di dalamnya.

Mamak adalah wanita terhebat kepunyaanku. Mamak adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal. Mendekat mak, akan ku temani menuju taman surgawi. Aku tak punya cara lain untuk berbakti kepadamu selain menuruti keinginan-keinginan sederhanamu sebelum lelakiku datang dan memintaku darimu dan juga Bapak. Termasuk mau terlihat setiap hari dihadapan mamak.

Tidak banyak yang bisa aku perbuat. Bahkan bahagia yang sekarang masih ku upayakan untukmu tak akan mempu membayar pengorbanan mamak. Satu yang ku mintakan selalu kepada Allah untukmu mak, semoga berkah hidup selalu terlimpah untukmu dan surga firdaus menjadi istana terakhirmu kelak. Beribu terimakasih ku persembahkan untukmu. Jadilah kuat selalu, mamak hebat.

Terimakasih untuk usahamu menjadi tabah. Terimakasih untuk semua doa terbaik yang pernah kau harturkan untukku. Semoga Allah selalu membukakan pintu-pintu surga-Nya untukmu mak.

Salam sayang dari endok

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....