Sabtu, 21 Maret 2020

Romantika Orang Dewasa (2)

Gelap, sambaran kilat, dan cahaya lilin yang mulai goyah tertiup angin. Ya malam ini begitu lengkap. Aku sangat menikmatinya dengan sebuah percakapan singkat bersama sosok sebaya di kejahuan sana. Masih sama-sama di bumi. Kami hanya berjarak beberapa kilometer saja. Teman lama, tapi agak spesial. Tentu saja, tidak semua orang bisa jadi temanku. Aku kan juga spesial. Haha.

"Emang paling enak tuh jadi anak kecil" gumam Dara.

Ya, kenal saja dia Dara. Perempuan, cantik, agak tinggi daripada aku (mungkin), setipe denganku. Tapi sudah tidak jomlo, hanya saja belum menikah, juga tidak suka jadi dewasa, kecuali terpaksa.

"Ya, emang enak jadi kamu" kataku.

"Hah, kok aku?" tanya Dara bingung.

"Aku juga si. Kita sama".

"Kamu aneh".

"Setiap kita adalah anak kecil" terangku.

Aku dan dia sedang curhat-curhatan seperti biasa. Menceritakan segala kerumitan hidup yang akhir-akhir ini terjadi. Sebentar tertawa, sebentar menggerutu, sebentar menangis, sebentar mengandai-andai, sebentar lagi jadi gila bisa-bisa. Wkwkwk.
Diujung pergantian hari yang tak kunjung nyala listrik itu, kami saling bercerita dan saling menertawakan.


"Tapi kita sudah tua" sesal Dara.

"Ya, kamu benar"

"Secepat ini ya rasanya?"

"Sudahlah. Biar tambah tua asal kita tetap menjadi muda" kataku membela.

"Maksudmu?" katanya bingung.

"Raga boleh menua buk, tapi tidak dengan jiwa muda. Paham kan?" kataku menjelaskan.

"Ya, aku mencoba" katanya pendek.

Tidak semua hal harus dimengerti saat itu juga. Kadang kami hanya bilang "ya, aku mencoba" sebagai tanda lampu hijau atas apa yang sedang kami bahas. Tidak masalah kalau ternyata ditengah-tengah percakapan, kami kembali lagi ke topik lawas yang sebelumnya masih berusaha kami mengerti. Tidak terlalu buruk, kami terbiasa melakoninya begitu.

"Kamu pernah marah karena sesuatu yang nggak kamu suka?" tanyaku.

"Kenapa? Itu hakku"

"Dan aku tidak sedang membahas itu. Bapak/ibumu pernah marah karena menyuruhmu ini itu tapi kamu tidak sempurna menurutinya?" tanyaku lagi.

Berfikir lama, Dara mencoba memahami pertanyaanku. Menjadi dewasa memang sesusah itu. Perlu lebih banyak mikir dan nimbang perasaan banyak orang, demi tetap membuat keadaan tetap baik-baik saja. Padahal kadang diri sendiri malah jadi korban. Haha, lucu. Aku benci melakoninya.

"Sering" katanya hati-hati.

"Tepat. Begitulah anak kecil"

"Maksudmu?"

"Tidak dewasa"

"Harusnya?"

"Harusnya tidak usah marah. Harusnya sadar lah, apa-apa diluar diri nggak bisa terus-terusan jadi apa yang benar-benar mereka mau. Kamu juga, aku juga, kita sama. Kita harus sadar itu" jelasku.

"Ya, aku setuju denganmu"

"Dan setiap kita adalah anak kecil yang....."

"Yang bertumbuh dewasa"

"Yang terpaksa tumbuh dalam diri yang dituntut dewasa"

"Aku tidak percaya, tapi aku pikir kamu benar"

"Hahaha" kami tertawa bersama.

Sadar diri bahwa kami dan juga kita tentunya akan selamanya jadi anak kecil yang ternyata harus terjebak dalam tubuh orang-orang dewasa.
Terjebak? Baiklah ini tidak terlalu buruk. Kita pasti bisa melewati babak ini dengan sebaik-baiknya, meski dengan sambatan yang sejadi-jadinya. Tidak apa-apa. Kita memang membutuhkannya.

"Woo dasar cah cilik" kataku mengejek.

"Tos dulu lah kita" katanya mencari bala.

"Jadi besok kalo aku nesu-nesu, kamu udah paham apa alasannya ya?" kataku mencari celah.

"Pinter amat buk nyari pembelaan" katanya memojokkanku.

Ahhh modusku gagal. Ternyata dia tahu apa maksudku.

"Woo ya jelas, CAH CILIK gitu haha"

"Kamu sadar sesuatu?"

"Hidup ini terlalu sayang untuk tidak ditertawakan"

"Kamu lucu"

"Kamu juga"

"Dia, mereka juga"

"Kita sama"

"Manusia"

"Hahaha"

Berakhirlah malam itu dengan akhir percakapan yang tak pernah berujung. Gelap sering kali mengundang kantuk. Aku mulai lelap, ditemani dengan segala mimpi dan juga harapan yang masih berlaku dibenakku. Begitu juga Dara. Tapi mungkin juga tidak, dia tidak juga merasa pening meski harus terjaga sampai pagi. Aku tidak bisa, aku belum bisa menjadi dewasa. Dia juga, tapi dalam hal yang lainnya. Kamu juga, kita hanya perlu rela mengakui saja.

Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Aku pamit dulu ya. Sampai jumpa di cerita romantika orang dewasa selanjutnya.
Salam Literasi.

Selasa, 10 Maret 2020

Romantika Orang Dewasa (1)

Apa kabar masa kecilmu? Adakah yang kau ingat darinya? Sebuah masa dimana kita begitu bebas, lepas, tak terbeban, dan menangis dengan lebih beralasan. Tidak ada ketakutan, tidak ada kekhawatiran yang benar-benar berarti. Kita nyaman sekali menikmati sebuah pelukan.

Semalam seorang teman menghubungiku via whatsapp. Teman lama, tapi masih sering bareng, ya alhamdulillah. Disampaikanlah kepadaku sekian banyak sambatan-sambatan wajar yang aku pikir setiap manusia berkemungkinan merasakannya. Tentang usia, cita-cita, dan apa saja yang berhubungan dengan proses mendewasa.
Rasanya berat sekali membahas ini. Aku pikir aku tidak menyukai bab ini. Sebenarnya sejauh ini aku hanya menikmati babak ini sebagai sesuatu yang terpaksa aku lakoni. Selebihnya aku lebih suka menjalani hidup sebagai anak kecil yang manja. Ya tentu saja.

Dulu kecil aku tak tak pernah benar-benar merasakan luka. Jatuhku menjadi sesuatu yang biasa. Aku tidak pernah malu menangis juga merengek begitu hebat karena kesakitan, padahal hanya buset sedikit di kedua lutut, atau goresan kecil di tangan, atau luka jahit sebanyak 5 buah di kepala karena tertimpa pembatas bambu yang besar berikut penumpangnya. Aku ingat benar bagaimana kejadiannya. Aku juga bisa menceritakannya. Tapi rasanya biasa saja. Aku sudah tidak lagi mempedulikannya.

Sekarang sudah tidak bisa lagi begitu. Dulu kecil aku bermain api, tersulut lelehan plastik, melepuh, dan terluka, aku tetap mengenang bekas luka itu sebagai kebahagiaan. Tapi setelah beranjak dewasa, apa-apa yang terjadi malah menjadikanku merasakan beragam luka. Yang nyata berbekas, yang tidak terlihat mata, yang orang-orang pedulikan, yang orang-orang acuhkan, yang sudah terjadi atau yang bahkan belum terjadi. Semuanya terasa menakutkan. Semuanya terasa menyakitkan. Kamu merasakan juga tidak?

Sama sepertiku, temanku juga merasakan hal serupa. Orang-orang seumuranku mungkin juga memikirkan hal yang sama. Kita sadar berbeda, tapi seketika ketakutan menyadarinya. Kita yakin akan bahagia, tapi tidak pernah mau menikmati proses harunya. Kita merasakan banyak luka, tapi malah abai mengobatinya. Kita sempat membayangkan bahagia menjadi dewasa, tapi tidak dengan kenyataannya. Selalu ada hal yang menjadikan kita tidak tahu, sekalipun percaya diri telah membumbung sebegitu jauh.

"Udah aku bilang, aku tidak seperti yang lainnya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa." katanya dipesan whatsapp yang baru saja dikirimkan kepadaku. Aku tersenyum, menebak ada apa dibalik pesan itu.

"Ya, teruskan" kataku mencoba mendengarkan.

"Bukan aku tidak bersyukur. Tapi...... aku ingin dimengerti setelah aku menjelaskan ini" katanya melanjutkan.

"Masih ada lagi?"

"Sebenarnya aku malas menjelaskan ini. Tapi kalau nggak dijelasin, nggak bakal ada yang tahu juga apa yang tak rasain" katanya menyudahi.

Siapa yang tahu akan seperti apa kita di detik-detik yang terus berjalan ini? Aku selalu menanyakan hal serupa setiap mencoba mengerti seseorang yang sudi menjadikanku pendengar atas kisah-kisah yang telah dialaminya. Aku tidak butuh jawaban atas itu, aku hanya perlu tahu bahwa setiap orang berhak merasa dan melakukan apapun yang dia suka. Aku tidak selalu menerima semuanya, aku hanya sedang mencoba menjadi pribadi yang lebih dewasa meski sebenarnya aku sama sekali tidak ingin melakukannya.

"Ternyata serepot ini ya jadi dewasa? Dulu mau bahagia gampang banget. Sekarang semuanya jadi susah dan mahal (ya tentu saja)." kataku membalas.

"Kenapa baru kerasa sekarang si?" katanya kesal.

"Dipikir-pikir kita dulu sombong banget ya tee jadi anak kecil?"

"Gaya banget pengen cepet gedhe, ngerasa bisa jadi apapun, padahal realitanya nggak semanis itu buk."

"Dulu kecil aku sering berkhayal jadi orang dewasa. Enak kali ya? Cantik, punya duit sendiri, bisa pergi kesana kemari, bisa beli ini itu, jadi sarjana, kencan bersama kekasih hati, dan apalagi? Aku sedih mengingat mimpiku ini. Aku tidak menyadari bahwa semakin banyak yang kita inginkan akan semakin besar tanggung jawab yang harus kita emban." kataku panjang.

"Sedih banget aku ingat khayalanmu"

"Ngenes banget aku tahu sambatanmu"

"Pelukan jauh aja yukk yukk"

Mungkin waktu itu kami sedang sama-sama merebah, terpejam, dan tentu saja meratapi semua-muanya di tempat yang berbeda. Ditemani hujan gerimis yang tak kunjung berhenti, kami saling memeluk diri sendiri.

"Misuh dong misuh. Wkwkwk" kataku menggoda.

"Yukkkkk" ajaknya.

"Astagfirullahaladzim" seru kami bersamaan"

Dan kami tertawa bersama. Menertawakan apa entah. Tapi kami sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Kami memang pintar sekali mengada-ada.

"Kamu ingat tee?"

"Apa bong?"

"Dulu pas masih krucil-krucil, kita manjat pohon jambu punya tetangga aja udah seneng banget. Kamu di ranting sebelah sana, aku di ranting sebelah sini, si siapa aja si yang ada di tengah-tengah? Siapa juga yang tinggal nangkepin hasil petikan di bawah? Seasyik itu ternyata kita dulu."

"Belajar kelompok. Mainan kursi puter. Ke sawah. Sepedahan keliling kampung buat nyari daun menjari, menyirip, mengapalah itu. Sesederhana itu kita dulu. Ayo dong kita ulang. Aku kangen tauk."

"Tida sopan kamu ya"

"Apa si?"

"Make sepeda nggak bilang-bilang. Untung dulu aku masih kecil, nangis bombai begitu juga nggak kerasa malu"

"Wwkwkwk maafkan aku. Aku khilaf dan terburu-buru waktu itu"

"Dengan senang hati tuan putri"

Sudah hampir tengah malam, dan kami menutupnya dengan sambatan seseru itu. Sekalian menemaninya begadang, padahal sebenarnya kepalaku sudah nyut-nyutan karena ngantuk tak tertahankan.

"Jadi dewasa ternyata nggak semenarik itu ya tee?"

"Nyesel pernah pengen cepet-cepet nyampe di titik ini"

"Betewe tee, ayo kita jadikan jurnal saja"

"Apa?"

"Buat warning buat anak cucu kita nanti"

"Good idea. Cuss"

"Jadi dewasa itu menyebalkan. Dulu pas kecil aku rajin nyusun cita-cita, sekarang kenyataannya beda. Aku dipaksa rela menerima, padahal jelas-jelas aku ingin lari dari semua itu"

"Aku? Aku ingin jadi anak kecil lagi. Enak, tanpa beban. Kenapa si dulu pas jamannya kita belum ada ponsel? Harusnya sekarang kita bisa mandangin masa lalu kita di foto-foto jadul itu"

"Aku capek memulai terus. Aku ingin ketemu teman-teman lamaku, tapi semakin hari orang-orang baru malah masuk gitu aja ke kehidupanku. Kecuali kamu, dan si A, si R, si siapa lagi sih? Bentar aku itung dulu."

"Haha. Kenyataan pahit. Kita akan ada dimasa yang ketika kita punya banyak waktu luang, kita tidak punya uang. Tapi ketika kita punya uang, kita tidak punya waktu luang."

"Orang-orang dewasa suka banget menilai. Tapi setengah mati menolak ketika dinilai. Ya, kita adalah hakim yang egois di semesta raya."

"Mereka suka salah menilai diri mereka. Maksud hati bijaksana, tapi malah kenanya menghakimi. Menyakitkan sekali."

"Kita harus berhati-hati atas itu."

"Kadang aku khawatir berlebihan. Mempertanyakan akan berujung seperti apa kelak. Tentang karier, keluarga, pasangan, kehidupan sosial, dan apa saja yang tiba-tiba melintas di kepala"

"Kita rentan sekali diperbudak perasaan. Mari kita lawannnnnn"

"Hahaha manusiawi bong"

"Dewasa menjadikanku terbatas dalam berbicara. Termasuk bilang suka ke dia. Ah andai"

"Mon maap, ada yang perlu saya bantu bong?"

"No thanks, aku punya banyak cara untuk tetap mengatakannya meski tidak langsung kepadanya."

"Aku bangga punya teman sepertimu"

"Harus, tapi aku sedang tidak punya cukup uang untuk bisa membelikanmu ice cream glico"

"Haha dasar orang dewasa. Apa-apa mesti kepikirannya ke isi dompet."

"Aku juga semakin malu ketika sadar kemampuan masakku terbatas di bhan masakan telur, mie, tepung, dan sossis. Aku butuh bisa melakukan hal yang lebih dari itu, demi memanjakan diriku di hari libur."

"Dewasa memaksa kita keluar dari zona nyaman. Tapi ya bagaimana lagi, dewasa juga bagian dari siklus hidup."

"Tambah umur, tambah bikin takut mati. Aku suka mikir aja gitu "Kalau tiba-tiba aku pergi, bakal ada yang nangis enggak ya? Nangis yang beneran karena kehilangan, bukan yang dipaksain keluar air mata." "

"Jadi orang dewasa butuh berkali-kali llipat rela. Rela menerima, rela memaafkan, rela menjalankan apa yang menjadi jatah dari-Nya"

"Besok anak-anak kita jangan disuruh cepet-cepet jadi dewasa ya tee. Ingetin kalau aku lupa."

"Iya, biar kita aja yang banyak tagihan, mereka ntar-ntar aja deh ya."

"Janji ya tee?"

"Apa bong?"

"Kita selalu berhak dan sudah semestinya akan menjadi diri kita sendiri, meskipun kelak hidup kita bukan hanya tentang kita lagi."

"Tapi bong........."

"Ya tee...."

"Kita perlu waktu belajar itu sepanjang waktu"

"Nggak papa. Sekarang kita istirahat aja dulu."

Kedua mataku sudah menggelayut. Kepalaku semakin pening. Bukan karena memikirkan bagaimana menjadi dewasa yang berhasil lagi, aku benar-benar butuh tidur. Tapi aku belum menemukan celah bagaimana menghentikan dialog berat ini.

"Kamu udah ngantuk ya bong?"

"Pening banget kepalaku tee"

"Ya udah lanjut besok lagi deh, atau pas kita ketemu. Bahas beginian sambil mamam glico enak kali ya bong?"

Aku tidak kuat lagi. Chat terakhirnya ku balas pagi setelah aku terbangun.

"Baiqqq, insyaallah nyonyah (emot senyum)" kataku.

Menjadi tua memang pasti, menjadi dewasa juga memang pilihan. Tapi meskipun begitu, jangan pernah melepaskan jiwa mudamu wahai orang-orang dewasa. Jangan melupakan hal-hal sederhana di balik tekanan hidup yang semakin menjadi-jadi. Jangan pernah menghentikan jiwa liarmu untuk tetap terus berpetualang. Tetaplah terus bertanya, tentang apa saja. Teruslah mencari tahu jawabannya.

Karena kita tidak tahu ada banyak misteri lagi yang ada di kehidupan setiap orang dewasa. Kita juga tidak tahu lagi akan seperti apa kita akan menjalani dan memilih siapapun sebagai dia yang akan kita ajak berbagi. Tapi semoga setiap orang dewasa bisa benar-benar dewasa membawa dirinya dimanapun, kapanpun, dengan siapapun, dan dalam keadaan apapun.

Bicara tentang dewasa, bicara tentang cara memaknai hidup, juga mengembangkan diri, dan menyiapkan diri supaya siap jatuh bangun menjalani apa saja yang menjadi ketentuan-Nya. Jangan lagi berfikir menyerah, jangan lagi berfikir tidak bisa menyelesaikannya, jangan lagi berhenti, berjalanlah terus sampai kepada apa yang dimaksudkan-Nya untuk kita. Kita bisa, kita pasti bisa jadi dewasa, kita pasti bisa melewati semuanya.


Salam Literasi.

Sabtu, 29 Februari 2020

Kau Ingin Bagaimana Untuk Menjadi Abadi?

Picture by : Google
"Aku ingin bagaimana untuk menjadi abadi?" kata isi kepalaku tak berhenti.

Semalaman aku terpejam, mencoba menjawab, tapi tak kunjung berhasil juga. Sebuah tanya, sebuah mimpi, sebuah jawaban, juga sebuah pilihan. Entahlah, rasanya aku hanya ingin pasrah kepada apa yang telah mereka katakan sebagai sesuatu yang fana. Menikmati apa saja yang datang kepadaku dan merasakan bahagia yang kadang malah sering ku paksakan. Rasanya aku hanya ingin berdiri di bawah sinar terik matahari, terbakar, kemudian hangus, menjadi abu dan hilang bersama hembus angin.

Tapi tunggu dulu. Ini tidak harus sepenuhnya berlaku begitu. Aku ingin menjadikan angin lebih berguna. Aku tidak ingin hanya sekedar terbang dan kemudian hilang. Aku ingin juga menemukan tempat singgah. Aku ingin juga pulang ke rumahku, rumah yang ku pilih untuk ku jadikan sebagai akhir dari segala akhir. Aku ingin juga mengetuk pintu hati orang-orang. Aku ingin masuk ke dalam jiwa-jiwa yang mereka miliki. Aku ingin menjadi abadi, meski kelak aku harus kembali.

Aku ingin menjelma sebagai kata-kata sumbang yang kadang mungkin tak sengaja ku rangkai dengan cukup berantakan. Aku ingin menjadi apa yang orang-orang rasakan. Aku ingin menjadi bahagianya, sedihnya, kebingungannya, kekalutannya, cintanya, kebenciannya dan apa saja yang mereka mau. Aku ingin menjadi apa yang tertahan di hati mereka. Yang sebenarnya ingin sekali disampaikan tapi tidak jadi, atau tak kunjung punya keberanian, atau bahkan malah terlanjur ditelan habis sendiri. Aku ingin menjadi sebuah penjelasan. Meski masih banyak yang tersembunyi, meski masih banyak yang harus menjadi teka-teki.

Aku ingin menjadi seorang wanita yang sedang jatuh cinta, yang hanya berani mengagumi pria yang dikaguminya dari kejahuan, atau malah yang berhasil berdua dengan kebahagiaannya. Aku ingin menjadi seorang anak yang berbicara kepada ayah ibu yang dicintainya, meski dengan diam, meski berkawan dengan pemberontakan, meski akhirnya menerima semuanya dengan penuh keterpaksaan. Aku ingin menjadi seorang wanita karier yang banyak mimpinya. Aku ingin menjadi hujan, bunga, atau bahkan senja yang dikagumi orang-orang. Aku ingin menjadi apa saja. Aku ingin menjadi siapa saja. Aku ingin bisa melakukan apa saja. Aku ingin bebas, merdeka sepenuhnya sebagai sebuah jiwa.

Aku ingin hilang, tapi tidak sepenuhnya hilang. Aku ingin pergi, tapi tidak benar-benar pergi. Kelak, aku hanya ingin berdua saja dengan kata-kata. Biar, biar ragaku ini kembali kepada awal yang membuatku sampai dititik ini asal tidak dengan ceritaku. Biar, biar ragaku bersatu padu dengan tanah, asal tidak dengan jiwaku. Dia harus tetap hidup, bersemayam, dan abadi di kehidupan yang terus berjalan. Tarian aksara amatir buatanku ini, biarlah menjadi satu yang abadi di ruang bacamu. Yang hidup membersamaimu hingga kita kembali bertemu di gerbang  alam keabadian yang sesungguhnya.

Aku hanya ingin menjadi gadis kecil yang terus menari-nari dengan kata-kata dan abadi sebagai sebuah cerita. Aku bahkan tak keberatan menjadi sebuah puisi, atau sebuah pantun, atau apa saja yang berhubungan dengan aksara. Aku ingin menjadi yang orang-orang baca. Aku ingin selalu hidup, aku tidak ingin mati, aku tidak ingin benar-benar mati. Aku ingin menjadi abadi, meski harus tetap menjadi teka-teki.

Ya, itu cukup.
Selamat membaca.
Dan sampai jumpa.


Sabtu, 22 Februari 2020

Review Buku : "The Subtle Art Of Not Giving a F*ck (Sebuah Cara Untuk Bersikap Bodo Amat)"

Aku suka Mark Manson. Maksudku aku suka karyanya Mark Manson. "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" adalah karya pertama Mark Manson yang ku baca. Buku ini menjadi Best Seller dibeberapa negara.

Aku merasa tertampar berkali-kali setiap membaca per-babnya. Humornya cadas bung, bahasanya juga ringan, tapi inti sari pembahasannya tetep serius. Mark Manson berhasil bikin pembacanya ngaku kalau hidup ini memang menyebalkan dan ya tentu saja dengan beberapa tips menikmati semua itu. Aku belum sempat menanyakan ini ke pembaca lain, tapi aku yakin mereka berpikiran sama dengan ini.

Buku ini mengingatkan kita untuk bisa self-love, lebih bahagia, dan lebih juga memaknai hidup dengan cara membatasi kepedulian kita terhadap apa yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk kita. Bukan jadi acuh tak acuh, tapi lebih ke nyaman jadi sesuatu yang beda dari kebanyakan orang. Intinya kita harus bisa memilah mana yang penting dan mana yang enggak penting buat diri kita.

Buku ini mengingatkan kita bahwa hidup itu penderitaan. Hidup itu rentetan masalah. Hidup itu bikin kita sakit dan itu semua nggak bisa kita hindari apalagi sampai kita tinggal lari. Tapi justru disinilah istimewanya. Bahagia bisa ada saat kita menemukan, menikmati, dan berhasil memecahkan masalah. Proses memang lebih penting daripada sekedar hasil. Dan siapa diri kita yang sebenarnya ditentukan dari apapun yang ingin kita perjuangkan. Pokoknya emosi negatif itu ada bukan untuk disangkal, ditolak, dihindari apalagi ditinggal lari. Marah terkadang juga menyehatkan. Tapi ya tidak berlaku selamanya.

Buku ini juga mengingatkan kita untuk tidak lagi merasa seolah-olah diri kita ini paling menderita. Diluaran sana orang-orang bahkan berpeluang merasakan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan, ya atau bisa saja dengan porsi yang lebih sedikit atau bahkan lebih. Tapi kita juga tidak boleh merasa sok wah, karena diluaran sana orang-orang juga berkemungkinan punya hal yang sama dengan kita atau bahkan lebih dari apa yang kita punya dan juga yang kita bisa.

Buku ini mengingatkan betapa pentingnya menentukan standar untuk mengukur diri  kita sendiri. Buatlah nilai yang bisa menjadikan kita ke arah yang lebih baik. Yang penting kita berani menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas itu. Ya karena tidak akan ada yang bertanggung jawab atas keadaan kita kecuali diri kita sendiri dan begitupun dengan kita yang tidak wajib bertanggung jawab atas keadaan orang lain. Ya meskipun dibeberapa hal kita harus terpaksa bertanggung jawab atas apa yang sama sekali tidak berhubungan dengan diri kita sebelumnya. Jangan takut mengakui kesalahan dan jangan pernah menyalahkan orang lain atau apapun. Jangan takut sakit, kita butuh perubahan untuk bisa jadi yang lebih baik, lebih nyaman, dan lebih bahagia.

Buku ini juga mengingatkan kita untuk menjadi orang yang jujur. Ini poin utama dalam membangun kepercayaan. Jangan takut bilang "tidak" kepada sesuatu yang memang kurang srek sama kita. Karena untuk mengapresiasi sesuatu , kita butuh membatasi diri untuk bisa merasakan semuanya lebih bermakna dan menjadikan batin kita lebih sehat.

Dan ini bagian yang paling jadi favoritku. Bab 9 dengan judul "....Dan Kemudian Anda Mati". Dan kemudian kita akan mati? Ya tentu saja. Bagian penutup buku ini mengingatkan kita tentang kematian, tentang bagaimana cara agar kita lebih bisa memaknai hidup dan menyadari betapa sementaranya kita di dunia ini. Ya mati itu pasti, dan seperti masalah, datangnya tidak akan bisa kita hindari. Satu-satunya cara biar kita nyaman dengan semua ini adalah dengan memahami dan melihat diri kita sebagai sesuatu yang lebih besar dari pada diri kita sendiri. Dan bahwa kebahagiaan bisa datang dari kepedulian kita terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Dan kemudian percaya bahwa kita ini berharga, dan bahwa hidup ini adalah secuil proses yang sangat menjadi misteri.

Dan akhirnya, menjadi positiflah dengan mengerti batasan diri dan menerimanya. Menjadi kuatlah dengan ini. Tepat, ketika kita mampu akrab dengan segala ketakutan, kegagalan, dan juga ketidakpastian. Tepat, ketika kita berhenti melarikan diri dari segala macam masalah dan mulai menghadapi kenyataan kemudian menemukan kebahagiaan.

Sekian dan terimakasih.
Selamat membaca.

Jumat, 14 Februari 2020

Sekedarnya Untukmu

Melihat senyummu, rekam otakku abadi mengalun. Bunyi-bunyi kerinduan berdenting. Suara-suara yang menyebut namamu kembali mengeja. Derap langkah kaki seakan mendekat. Kau begitu erat terdekap. Oh hari yang indah. Seindah kalimat pertama yang telah kau baca.

Liar, kau begitu bebas, menari-nari di dalam isi kepalaku. Membuka mata, menjalani hari, istirahat sejenak, melanjutkan lagi, sampai terlelap kembali, kamu selalu ada. Aku tak bisa lari dari semua hal yang berhubungan denganmu.

Takut, setiap malam aku bersembunyi di kolong imajinasiku. Remang-remang ku curi waktu, ku bingkai kisah impianku bersamamu. Indah, ah sepertinya aku akan benar bahagia.

Tapi seketika terhenti, aku membiarkanmu menunggu. Sengaja, aku menarik dalam-dalam nafasku, dan menghembuskannya sambil membisikkan sesuatu kepadamu. Sengaja, aku memainkan cincin di jari kelingkingku. Sengaja aku berjalan pelan dan kemudian mengambil waktu. Sengaja ku uji kebaikanmu, berharap tak menemukan keberatanmu.

Bertanya, akankah benar bisa bersama? Sungguh aku tak ingin berakhir kecewa.

Terpejam, aku mencoba membayangkan cerita kita yang begitu indah. Persis seperti yang ku mau, atau tentu saja yang sama-sama kita berdua mau. Tapi seperti berakhir, jarak dan waktu menjadi tak seperti yang aku mau. Kau juga (mungkin). Hei, kita berkemungkinan sama bukan? Ya, aku hanya takut benar-benar jatuh hati kepadamu dan kemudian tak bisa melupakanmu. Keseluruhan tentangmu tepatnya.

Bertemu, berbulan-bulan lamanya aku menunggumu tapi datangnya selalu sosok yang lain. Kami  bersama, berdua, berjalan begitu baik, dan ya tentu saja kau begitu pas menjelma di dalam dirinya. Setiap ku memandangnya, setiap itu pula ku pandang kau. Terlalu manis. Aku merasa sangat jahat telah melakukan ini. Tapi ini sungguh menyakitkan. Kenapa begitu sulit menghilangkan bayangmu? Kenapa melupakanmu aku tak pernah bisa? Sesak hatiku dipenuhi harapku tentangmu. Kau benar-benar jahat. Tapi aku masih ingin mencintaimu.

Pudar, rahasiaku bukan menjadi rahasia lagi. Semua orang tahu, ya orang-orang itu tahu. Kecuali aku. Aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana isi hatiku. Aku tersesat, sekaligus terjebak, ya tentu saja. Dalam kagum aku memujamu, dalam hati aku mempertanyakanmu. Hai kau, katakanlah sesuatu kepadaku.

"Hai kau, kagumkah atau cintakah aku kepadamu?"

Ingin, aku ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan. Tentang senyummu yang semalam, tentang yang ku rasa entah, tentang suara yang menjadikanku candu, tentang cinta yang entah kapan ku ketahui artinya, tentang apa saja, tentang apa saja, tentang apa saja.

Terkunci, terhenti aku pada sesuatu yang tak bisa ku artikan.

"Aku mencintaimu" kataku pilu sendiri.

Cermin-cermin berisi gambar diriku menertawakanku.

"Jangan sampai tak terucap" kata mereka riang.

"Ya tentu saja. Akan ku lakukan. Secepatnya. Sampai setidaknya aku tak berada di alam yang berbeda dengannya" kataku merendah.

Berpikir, apakah aku sempat terlintas dibenakmu? Apakah kau merasakan sesuatu yang sama sepertiku? Apakah dikejahuan sana kau menatap bulan yang sama seperti yang malam ini ku lakukan? Apakah hati kita akan sama-sama terpaut? Apakah aku akan bisa berhenti meananyakan apakah dan apakah lagi? Oh aku bahkan belum pernah berhasil menemukan alasan mencintaimu. Aku ingin sekali menyampaikannya kepadamu. Tapi sayangnya tidak akan terjadi, atau mungkin belum, atau ya tentu saja aku tidak benar-benar mencari tahu kebenarannya.

Terbayang, akankah benar kau adalah sesuatu yang akan ku temukan? Atau akankah benar aku adalah sesuatu yang akan kau temukan? Atau apakah kita akan saling menemukan? Dan kita akan menjaadi pelengkap yang saling membuka ruang berfikir masing-masing dari kita, lebih luas, lebih jauh, dan juga lebih banyak cinta.

Berniat, jika kau benar datang, aku tak akan memikirkannya 2 kali. Karena kau adalah satu, kau adalah satu-satunya, dan tentu aja kita akan bersatu. Kau ibarat jiwa, sedang aku adalah raga yang bernyawa karenamu.

Oh tapi tunggu dulu.

Tak bisakah semua ini berhenti?

Sungguh aku ingin jatuh cinta selain kepada kau, tuan tampanku.

Jumat, 07 Februari 2020

Ketika Kita Tidak Saling Menemukan (Lagi)

Kata kata telah rusak, tidak lagi berbentuk, dan tidak ada lagi yang sudi menjamah. Sebab perannya sudah berubah. Jelmanya telah berubah menjadi api yang saling membakar satu sama lain. Rasanya tidak ada lagi makna dari dialog yang mulai kehilangan rumahnya. Tembok-tembok telah meninggi. Aku merasakan sekat ini semakin ada dan menjadikan kita semakin jauh. Dadaku rasanya penuh, kepalaku pening, aku berjalan pasrah ke tempat biasanya aku merebah.

"Aku benci begini, aku benci jarak, aku benci diam, aku benci kehilangan, aku benci kamu yang tega melakukan, aku benci kita yang tidak bisa saling menemukan" kataku menggerutu.

Pintu-pintu semakin tertutup. Kita mulai kehilangan kewarasan, berteman dengan keheningan, dan mulai mencari pelampiasan lain agar tidak merasa kesepian. Tak ada lagi yang tersisa, meski hanya sekedar menyelesaikan ujung pembicaraan. Jiwa-jiwa kita mulai mati. Dan ya aku pikir kita layak disebut sekarat. Kita telah lebih dulu jatuh pada apa yang masing-masing menjadikan kita angkuh. Kita terjerat, kita tenggelam dalam lautan emosi yang berat.

Oh tidak adakah celah untuk kita duduk melingkar bersama, mengurai sekian tanda tanya, dan kemudian saling memperebutkan sesi untuk menjawabnya?
Tidak adakah lagi ruang di masing-masing hati kita yang sempat larut dalam satu kasih sayang yang sama ini?
Tidak adakah?
Hei.
Jawablah.
Aku mohon jawablah
Aku bertanya kepadamu.
Atau ya kepada siapa saja kalian yang telah sudi membaca ini.

Terlampau kering air mataku meratapi kehilangan ini. Kehilangan yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa kembali menemukan. Sudah lebih dari sekali, aku takut kita tidak bisa kembali lagi. Dan ternyata, masing-masing dari kita sudah lama pergi. Kita bahkan telah meninggalkan apa yang belum selesai di antara kita. Aku yang salah (ya mungkin), tapi kau juga (ya tentu saja), atau malah kita yang sama-sama tak mengakui itu? Ya, begini mungkin lebih tepat. Tapi apapun itu, harusnya kita tetap harus saling menemukan.

Setiap kita adalah petarung. Setiap kita adalah pemenang. Tapi seiring dengan itu, begitulah setiap kita, terlampau bahagia sebagai seorang pecundang yang tidak pernah mengakui kebenarannya. Aku begitu. Aku tidak pernah malu mengakui itu. Aku melakukan itu demi kebahagiaanku. Atau, hei, apa kau juga seperti itu? Haha dasar pecundang.


Hei, kenapa menjadi sesulit ini? Kataku ingin terus melaju, tapi melihatmu tidak lagi menjadikanku begitu. Aku tidak bisa begini. Bertahan dengan diam dan sekian banyak tanda tanya yang tergantung di kepala. Oh aku tidak sekuat itu. Aku tidak setuju dengan kemauanmu yang bersikap seolah-olah seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Bukan begini jiwa seorang pemenang. Pemenang sejati tidak pernah lari dari apa yang menjadikannya tidak enak hati. Dia bertanggung jawab. Dia rela melakukan apa saja bahkan ketika dia tahu bahwa dia harus terluka.

Aku menyadari ketidaknyamananmu. Aku menghargai caramu melindungi dirimu. Aku menghargai keputusanmu. Aku sadar kau berhak penuh atas hidupmu. Tapi aku tidak selalu suka caramu membungkus lika-liku yang datang di kehidupanmu.

Kita sama, berkemungkinan membahagiakan dan ya tentu saja sebaliknya. Kita sama, sudah sepatutnya saling mengingatkan. Kita sama, kita berhak atas apa saja. Kita sama, harusnya kita bisa duduk bersama, menceritakan semuanya, dan menikmati apa saja bersama.

Aku ingin kembali, menghidupkan rumah kita lagi dengan cahaya yang masing-masing kita punya. Aku ingin melihat air mata bahagia, senyum yang apa adanya, caci maki yang menjadikan masing-masing dari kita saling terbuka, juga rencana yang beberapa kali hanya jadi rencana. Aku ingin kembali dekat. Aku ingin segera pulang. 

Terbukalah, terbukalah duhai pintu-pintu rapuh yang sempat kehilangan kunci untuk membukanya.
Terbukalah, terbukalah duhai hati-hati yang sempat mati tanpa meninggalkan arti.
Terbukalah, terbukalah duhai ruang berfikir yang menjadikan jiwa-jiwa tuannya hangat dipeluk gengsi.
Terbukalah, terbukalah pintu surgaku.

Mendekatlah. Kembalilah. Cukupkanlah segala lelah yang sempat singgah di antara kita. Kita harus kembali. Kita harus memperbaiki jiwa kita. Kita harus mengulangnya. Ya tentu saja menjadikan setelahnya lebih baik dari sebelumnya. Lalu kemungkinan aku akan menjatuhkanmu dan kamu akan menjatuhkanku. Ya tentu saja, kita terpaksa harus menikmatinya (jika ternyata harus ada).
Kita harus saling menemukan.
Kita harus bahagia.


Minggu, 02 Februari 2020

Appreciation Post

Tema yang bagus. Apresiasi? Hei ya aku tentu saja aku bingung harus memberikan ini kepada siapa. Orang-orang banyak menyampaikannya kepada bapak, ibu, teman, kekasih, tombol spasi, barang-barang kesayangan, sosial media, debu, udara, dan ya masih banyak lagi pastinya. Tapi aku tidak. Aku pikir akan lebih baik jika kuberikan itu kepada diriku sendiri. Hal-hal lain sudah terlalu sering, diri sendiri malah jarang, atau lebih tepatnya memang sengaja abai. Ahh tapi ya memang sedikit orang menyadari ini. Sering kali niat hati menenangkan diri, tapi sesering mencoba, sesering itu juga gagal menyapa dan malah berakhir memaki. Akhirnya bukannya menerima malah semakin benci. Lucu ya? Ya, aku benci mengakuinya.

Orang-orang benar, bahwa tidak ada yang benar-benar sembuh dari sebuah luka. Orang-orang benar bahwa tidak perlu ada yang dilupakan dari sebuah luka. Semua hanya perlu direlakan. Bukankah jatah dari-Nya selalu menjadi hal terbaik untuk hamba-Nya? Ya, tentu saja aku telah mendapatkannya. Yang aku mau, yang tak pernah aku mau, telah berhasil menjadikanku mau. Sekalipun aku pernah marah, sekalipun aku pernah mencoba lari, tapi akhirnya aku kembali. Aku kembali memeluk diriku sendiri. Aku kembali mengingat apa saja yang sudah ku punya.

"Ini sudah lebih cukup. Harusnya aku bisa lebih menerima setelahnya."kataku menyadari sesuatu.

Ya tentu saja, aku kembali mencintai diriku sendiri. Aku mengingat untuk lebih mencintai-Nya, juga mencintai apa saja yang menjadi pilihan-Nya. Aku bahagia dan aku mulai rela.

Terimakasih duhai diriku. Kamu hebat, sekalipun banyak hal menyebalkan yang kau punya. Kamu sangat hebat, aku juga, kita sama. Nggak papa sesekali sedih, ngomel, nyesel, lemah. Nggak papa. Kadang memang kita butuh itu untuk menjadi seimbang dan juga untuk belajar. Nggak papa. Kita berhak atas itu. Tapi secukupnya saja ya. Nggak perlu lama-lama. Hidup di dunia tuh bentar doang. Sayang kalo nggak dibikin seneng. Ya meskipun di surga sana kita akan selalu bahagia. Ya, semoga kita beruntung sampai ke sana.

Udah ya, nangisnya besok lagi. Kacamatamu udah ngembun tuh, ntar kamu nggak bisa nikmatin semesta raya yang indahnya tiada tara ini lhoh ya.

Udah ya, yuk pasang mantra aja yuk.
"Kita kalo lagi bahagia, ingat pernah sedih. Kita kalo lagi sedih, ingat pernah bahagia. Hidup ini bak lotre. Kalo beruntung kita bakal dapet apa yang kita mau. Tapi kalo ternyata sebaliknya, ya terima aja. Allah selalu tahu apa yang terbaik yang kita butuh. Nggak perlu khawatir berlebih, semua sudah sesuai porsi. Nikmatilah, nikmatilah apa saja yang ada.Ini tidak akan lama. Berbahagialah."
Pelukan dulu yuk. Aku mencintaimu lebih-lebih duhai jiwa raga yang membersamaiku. Aku beruntung memilikimu dan tentu berlaku sebaliknya untukmu. Kita patut bersyukur atas itu. Tenangkan hati, kita pasti akan bahagia, kita berhak bahagia, ya kita akan selalu bahagia. Karena bahagia kita yang punya dan tentu saja kita yang buat itu ada. 
.
.
.
Salam Literasi

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....