Sabtu, 18 Mei 2019

Ku Anggap Apa Kau Di Hidupku?


Sayu pandangku mengeja satu per satu rasa. Memilah kata demi kata yang tersambung menjadi sebuah cerita. Setitik bahagia yang aku punya, ku bentangkan lagi di penghujung kisahku ini.

Siapapun kau, sampai kapanpun tak akan ku anggap sebagai apa. Aku terlalu sulit menggolongkan dirimu ke dalam jenis apa. Terlalu baik tidak, sebaliknya juga malah bisa jadi. Hati manusia sungguh berbolak-balik. Aku takut salah mengartikan pandang dari sisi penglihatanku sendiri. Sedangkan aku kepadamu sudah tertutup rasa canggung yang berlebih, sehingga setiap ingin mencari celah pandangmu menjadi sesuatu yang mustahil. Akhirnya tetap bertahan dengan sudut pandang sendiri adalah keputusan terakhir.

Tapi bagaimanapun juga, biarlah kau tetap menganggapku sebagai apa yang kau mau. Baik bagimu ku semogakan. Semoga tidak ada hal yang akan membuatmu kecewa karena kecerobohanku. Tapi jika ternyata sebaliknya, tolong aku. Datangi aku dan sampaikan kesalahanku. Sebisaku, akan aku ubah diriku menjadi sesuatu yang lebih baik. Bukan yang sempurna, aku hanya ingin menjadi yang lebih diterima. Tapi aku pikir ini akan menjadi sesuatu yang sulit.

Aku terlalu labil mengeja hati. Gelombang yang ku lalui cukup tinggi, bahkan ketika niat diri hanya sekedar singgah dari panasnya terik matahari. Ohh diri, mengapa tidak bertahan saja dengan yang kau anggap sulit? Siapa tau setelahnya kau bisa menjadi lebih dari sekedar yang kau ingin. Tapi kembali lagi, ini adalah hidupmu dan kau memiliki kehendak penuh atas dirimu. Yang terpenting jangan pernah lari dari apa yang tercipta setelah keputusanmu itu ada. Resiko ada untuk dihadapi, bukan untuk ditinggal lari. Bertanggung jawablah kepada diri sendiri. 

Sahabat? Ahh jangan anggap aku seperti ini. Aku lebih suka dipanggil teman. Lebih bebas dan lebih dari segalanya. Di sepanjang perjalanan hidup yang telah ku lalui, aku tak pernah menganggap siapapun menjadi sahabatku. Aku hanya memilih diantara dua. Teman atau saudara. Tidak ada sahabat. Tapi akan ada kekasih. Dia masih ku cari. Harapku masih manari-nari bersama doa-doa yang terpanjat di penghujung hari.

Disetiap perjumpaan aku mencari kenyamanan. Bagiku nyaman lebih dari segala-galanya untuk bisa membersamai seseorang. Aku hanya berusaha sebaik-baik diri di hadapan orang-orang. Agar saat aku kembali akan tetap ada yang membersamai dan saat aku pergi tak akan meninggalkan benci. Tapi susah. Terus saja ada yang membuatku kesal. Entah karena tingkah, ucapan, atau apapun yang tak sesuai dengan apa yang aku mau. Padahal banyak hal sudah sempat aku katakan kepadanya dengan harapan aku lebih bisa memakluminya. Tapi baiklah, sekali lagi aku harus sadar diri. Aku hanya teman yang tak berhak sadikitpun atas hidupnya.

Dan jangan pernah memintaku untuk sudi menjadikanmu prioritas. Hidupku bukan hanya tentang kamu saja. Hidupku adalah tentang apa yang aku mau. Tentang apa saja yang membahagiakanku. Dan kau tak pernah menjadi yang selalu. Bagiku teman bukan segala-galanya dihidupku. Mereka tak pernah benar-benar menyediakan kebahagiaan untukku. Malah kadang sebaliknya. Merepotkan. Ya, inilah hidup dan sebagai makhluk sosial yang paham akan ini aku bersedia untuk memaklumi.
Bagiku bapak ibuku lebih penting daripada menuruti keinginan teman-temanku. Oh tapi ada yang lebih penting daripada itu. Dialah diri yang ada di diriku. Bersamanyalah aku hidup dan dialah yang selalu siap sedia menjadikanku nomor satu. Tak pernah menolak, kecuali jika permintaan ku tak bisa memenuhi kadar kesanggupannya. 

Akupun tak akan meminta dan berharap lebih kepadamu. Hidupmu bukan tentang aku saja bukan? Yang terpenting tetap anggaplah aku sebagai temanmu. Sebagai seseorang yang pernah sekali bertemu dan kemudian menghubungimu meski hanya beberapa waktu. Aku mohon itu.
.
.
------------------
.
#Day13
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

The Family Goals of "38 Awesome"

Picture by : Winda Mega Rizka

Hal apa yang lebih buruk daripada sebuah perpisahan? Tidak usah dijawab, apalagi kalau sudah nyata tidak ada jawabnya. Karena beginilah realita hidup yang mau tidak mau harus aku terima setelah masa perantauan ku berakhir. Aku berpisah dengan orang-orang lama yang membersamaiku disana.  Baiklah siklus hidup memang selalu menjadi kejutan bagi siapa saja. Dan waktu adalah media pendukungnya. Berputar begitu cepatnya hingga terbentuk kisah demi kisah. Ya, benar. Dan ini adalah bagianku.

38? Apa itu? Siapa? Ahh bukan apa-apa dan tentu saja bukan siapa-siapa. Itu bagimu, tapi bagiku beda. Mereka berharga, mereka luar biasa, mereka istimewa dan tidak ada duanya. Aku jelaskan sesuatu. Kami bukan sekedar teman seperaduan di kota rantau. Lebih dari itu, kami adalah keluarga yang kaya akan kenangan. Keluarga yang meski beda ibu, tapi tak jemu menjadi candu. Dan "38 AWESOME" adalah jargon kebanggaan kami. Jangan dikata alay atau yang serupa dengan itu. Ini adalah nama dan sekaligus doa yang mengiringi kami sampai di titik yang sekarang ini. Aku beruntung bisa menjadi salah satu bagian dari mereka. Meskipun aku agak merepotkan, tapi keberadaanku tetap menjadi pertanyaan. Bukan hanya aku, tapi kita semua. 

Dipertemukan di sebuah organisasi kemahasiswaan, kami berjuang bersama sampai di titik akhir masa penghabisan. Suka dan duka telah berhasil terlewati dengan banyak drama. Alhamdulillah.
Kami saling menguatkan meski kami sama-sama terjebak dalam keterpurukan masing-masing. Sekali lagi, aku beruntung pernah berada diantara ini semua. Setidaknya ada yang terus mengalir setelah wisuda berakhir.

Setiap waktu, setiap tempat, setiap moment, dan setiap apa saja punya cara sendiri untuk menjadi terkenang dan dikenang. Aku dan mereka begitu. Dimana saja dan perihal apa saja yang telah atau yang sedang dan atau telah kita lalui bersama. Aku katakan, aku telah jatuh cinta kepada mereka. Jiwa-jiwa yang berhasil membuatku terpaut dengan cara mereka masing-masing. Aku mengagumi mereka, lewat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki mereka masing-masing. Aku berhasil jatuh hati, tanpa diminta dan tanpa dipaksa. 

3 tahun berakhir. Waktu terus berputar dan menemui masanya. Sekarang, jarak telah jauh membentang dan memisahkan kami semua. Meskipun hanya bisa saling sapa lewat dunia maya, wajah-wajah lama itu tetap saling membersamaiku meski hanya sekedar di dalam layar hape masing-masing. Setidaknya hidupku masih diramaikan oleh mereka semua.


Doc. Januari 2019
Foto ini diambil sebelum kabut tebal menghalau penglihatan, sebelum tubuh kembali basah karena rintik hujan, sebelum langkah kaki saling berjahuan, sebelum hari minggu di bulan pertama tahun ini selesai, dan sebelum akhirnya aku tersadar bahwa ragaku telah kembali berada diantara banyaknya kewajiban sebagai seorang pekerja.

Foto ini ada berkat keluangan waktu yang diperjuangkan masing-masing jiwa yang menuntut bersama dalam waktu yang sesingkat-sesingkatnya. Dari berbagai macam penjuru, kami menyibak jarak untuk sampai kepada temu yang tidak lama berhasil kami rencanakan. Rasanya aku ingin memiliki mesin waktu sendiri. Menikmati lebih banyak hal di pertemuan yang tidak sering terjadi ini. Mengenai garis waktu, ketidaksengajaan bertemu telah memberikanku banyak ingin yang berujung dengan kata selalu. Bisa ku bilang, ini adalah keberuntungan yang seru. Terimakasih orang-orang tersayangku.

Sekarang aku sedang merindukan beberapa bagian di hidupku, termasuk dibercandai mereka ketika sedang kesal kesalnya. Kangen dicariin pas lagi ngilang. Kangen ditenangin pas lagi kacau-kacaunya. Kangen melingkar sampai tengah malem ber-20. Kangen mantengin mereka main kartu. Kangen makan bareng. Kangen ribut rame-rame. Kangen marah canggung ke mereka. Kangen lari keliling kampus sambil nyanyi bareng. Kangen muncak bareng. Kangen dibuat nangis. Kangen apalagi si, masih banyak lagi sepertinya. Rasanya belum ada lagi yang menghiburku menggunakan cara seperti yang mereka punya. Kalaupun ada, tetap saja terasa beda. Mereka tiada duanya. Hanya satu dan itu milikku. Ingat itu. Hahaha

"Sebenarnya aku belum ingin pergi, tapi......hmm ya sudahlah" kataku dalam perjalanan mengantarkan salah satu dari mereka ke kosan.

Waktu itu, waktu pertemuan terakhirku bersama mereka. Sengaja ambil cuti, pergi ke Tembalang cuma buat ketemu mereka. Rindu memang perlu dibayar dengan penuh pengorbanan. Aku ucapkan terimakasih kepada kalian yang rela mengorbankan apapun untuk pertemuan ini. Yang belum berkesempatan ikut, semoga Allah kasih jalan buat kita biar bisa kumpul ber20 lagi ya saudara-saudara.

"Udahlah, kapan-kapan ketemu lagi. Balik sana, ati-ati ya" katanya menenangkan.

"Pasti lama deh. Eh ya udah balik dulu. Assalamualaikum" kataku mengucapkan salam terakhir.

Tapi aku tidak mengatakan itu langsung kepada mereka. Takut terlanjur sedih, takut dikata baper, takut ga jadi pulang, takut diciee cieein, takut semua-muanya. Gengsiku membesar, tapi ya begitu. Aku sakit sendiri. Mereka? Entahlah. Aku pikir sama, atau bahkan ada yang merasakan lebih.

Laju motorku semakin kencang. Mengikuti hembus angin yang mendinginkan Tembalang waktu itu. Hangat yang semenjak 2 hari sebelum itu ku rasakan, perlahan lari meninggalkan. Seperti aku yang melangkah pergi. Dari jarak yang sebelumnya berhasil ku sibak, dengan mudahnya ku lukis ulang. Sekarang aku sendiri lagi dibersamai kenangan.

Waktu itu beberapa dari mereka masih bersama. Membahas ini itu, main kartu, lempar bullyan, makan bareng, tidur bareng, ketawa bareng. Dan apalagi entah, aku terlalu lemah menerka kebahagiaan mereka setelah tidak adanya aku bersama mereka. Keterbatasan waktu menuntutku untuk pulang ke rumahku yang lain. Ya sudah tidak apa-apa. Aku sudah cukup tabah menerima ini semua.

Sampai jumpa dikesempatan yang lebih baik dan lebih ramai lagi saudara-saudaraku. Kalau kita beruntung, kita akan dipertemukan dipertemuan selanjutnya dengan apa-apa yang lebih sempurna lagi. Di tempat yang lebih baik, di waktu yang lebih tepat, dan dikeadaan yang lebih lengkap. Tapi kalau ternyata tidak, semoga kita tetap bersama dengan obrolan-obrolan ringan kita di grup whatsapp atau di video call yang kadang kita lakukan bersama. Semoga kita dipertemukan dengan orang-orang baru yang sama-sama seru seperti orang-orang lama yang pernah ada di hidup kita.

Jangan lupa pulang cah. Jangan lupa membayar rindu dengan orang-orang tercinta kalean. Jangan lupa juga datang ke kotaku. Sesekali singgahlah ke rumahku. Ada banyak celotehan yang ingin ku sampaikan ke kalean. Tidak terlalu penting si, tapi aku pikir kalean berhak tahu tentang ini.

Oke baiklah. Sudah terlalu banyak hal yang aku sampaikan. Cukup lah untuk membayar gerutuanku selama memendam rindu ke kalean. Terimakasih sudah sudi membaca. Aku harap pesanku ini akan sampai ke hati kalean masing-masing.

Selamat pagi jiwa-jiwa yang selalu bersemayam di dalam hati. Semoga Allah senantiasa menuntun kita semua untuk selalu berada di jalan yang diridhoi-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kebahagiaan dunia dan akhirat kepada kita semua. Sekian.


Peluk Jauh dan Salam Sayang dariku,
Kadik38


-------------------------------------

#Day14
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Jumat, 17 Mei 2019

Detik Pertama


Pandangku lengang dilintasi deretan kenangan yang entah kapan bisa terulang. Detik pertama sepertinya hanya akan menjadi yang pertama dan tak terulang. Benar kata kebanyakan orang. Kesempatan hanya datang sekali. Aku beruntung. Meski kecil kemungkinan bisa mengulang, setidaknya ceritaku telah ada terbingkai rapi diingatan. Sekarang aku ingin mengabadikannya lagi lewat liar aksara yang sedang ku rangkai menjadi sebuah cerita. Dan entah mengapa, aku ingin sekali dia membaca meski aku tak bisa memastikan caraku ini akan sampai kepadanya.

Detik pertama adalah degup jantung yang tidak berirama. Entah apa yang membuat diri ini terpaku. Pahamku hanya tertuju pada kabar yang membahagiakan di ujung waktu kala itu. Hembus angin membawaku sampai kepadanya. Merasakan satu per satu dari jawab yang lama ada di lintasan tanya. Degup jantungku seperti kayuhan sepeda seseorang yang sedang dikejar waktu. Cepat, semakin cepat dan membuat nafasku menjadi sangat tidak teratur kala langkah kakiku semakin mendekat ke arahnya. Sekedar terkagum atau apa aku susah mengartikan ini. Akhirnya hanya diam memandangnya dari kejahuan.

Detik pertama adalah mata yang berbinar. Terlihat dari kejahuan sesosok tuan tampan yang lama jadi idaman. Kedua mataku seakan tak berkedip memandang. Mencari butir kekurangan, tapi tak ku dapat. Malah semakin luluh hatiku dibuatnya. Aku mengagumi sosok itu. Seperti ini saja sudah bahagia. Tak perlu aku mendekat, aku ingin menikmatinya dulu seperti ini. Dan entah sampai kapan. Aku serahkan kepada yang Maha Memiliki Hati. Kepada-Nya aku berserah diri dan hanya kepada-Nya lah aku akan kembali.

Detik pertama adalah nama yang tereja. Hatiku berdebar ketika tanganku dan tangannya bertemu pada sebuah jabat tangan pertama itu. Saling mengucap nama dan melanjutkan perkenalan dengan canggung sambil mencuri-curi pandang. Oh Allah, aku benar-benar tak bisa bersikap biasa saja. Ada saja yang membuatku salah tingkah. Ada hembus angin yang tak henti menggelitikku. Dia membisikkan sesuatu kepadaku tapi aku tak bisa menangkap apa yang disampaikannya kepadaku. Isi otakku terlalu diramaikan oleh kemelut yang entah kapan akan berakhir. Aku juga tidak paham dengan cara kerja otakku. Benar-benar tak menentu. Beberapa ku coba memikirkan sesuatu, tapi buntu. Malah dia yang lagi-lagi datang ke ruang kosongku itu. Aku benar-benar ingin lari. Jauh sampai bisa membuat duniaku pulih kembali. Tapi sulit. Jarak memang tak benar-benar membantuku untuk bisa lupa.

Detik pertama adalah nyaring suara yang merdu terdengar. Lembut tutur kata dan apa saja yang diperdengarkannya kepada khalayak ramai telah berhasil menghangatkanku. Seperti kopi hangat yang menemani ujung pergantian hariku. Kau ada bersama hawa sejuk yang mengukir cerita di hati siapa saja. Lagi-lagi aku terjatuh semakin dalam di lubang kekaguman. Rasanya aku tak ingin lagi kembali berdiri, aku takut langkah kakiku membawaku pergi menjauh darimu. Ternyata jatuh cinta bisa membuatku segila ini. Oh Allah ampunilah aku yang tak mampu menjaga hatiku hanya untuk-Mu. Mohon bantu aku untuk bisa mengembalikan semuanya kepada-Mu Ya Rabb. Sungguh hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui semuanya.

Detik pertama adalah keberuntungan yang menjadi nyata. Raga kita saling menyapa meski hati kita belum saling cinta. Mungkin akan jadi cinta setelah kita terbiasa. Lagi lagi aku teringat yang banyak orang-orang katakan.

"Tresno Jalaran Soko Kulino"

Ya, kita butuh untuk terbiasa saling mengagumi, terbiasa bersama, dan terbiasa menabur cinta. Sungguh ini bukanlah sebuah mimpi. Melainkan harapan yang berulang kali terpanjatkan di dalam doa-doa ku. Tak akan lelah hati ini berharap, sampai tanya yang ku ingin terjawab oleh-Nya. Jika ternyata dia dan aku ditakdirkan bersatu, tentu aku akan sangat bahagia dan memanjatkan permohonan yang selanjutnya kepada Allah Yang Maha Mengabulkan Doa. Semoga aku bisa menjadi yang terbaik untukmu dan semoga kamu bisa menjadi yang terbaik untukku. Tapi jika ternyata tidak, aku akan menangisi ini sebentar. Sebentar saja, sebagai sarana pengungkap kecewa karena kebodohanku dan karena ketersediaanku untuk menunggumu. Tak akan lama, aku akan memohon sesuatu yang lain kepada-Nya. Semoga Allah mengirimkanku sosok yang terbaik dan lebih baik darimu. Aku percaya Allah tahu apa yang aku butuh.

Dan detik pertama adalah candu yang berhasil terulang. Doa dan harapan yang terpanjat kepada-Nya. Cita-cita abadi yang nyata masih fana juga cerita-cerita lawas yang tak henti menjadi dongeng di hidupku. Sungguh biarlah ini menjadi urusanku. Jangan hiraukan aku dengan segala hal yang menurutmu tak harus terjadi. Detik pertamaku, biarlah menjadi detik terindah di hidupku. Biar tanyaku ini menelusuri waktu. Mencari-cari jawab yang entah kapan akan bertemu. Pun jika ternyata akhirnya tak seperti yang aku ingin, biar ini menjadi cerita lanjutannya. Semoga dengan jawab itu menjadikan cerita ini sempurna.

Sampai jumpa dipenghujung waktu itu.

----------------------

#Day12
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
##0HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Kamis, 16 Mei 2019

Setelah Usiamu 20 ke Atas



Usia akan membawa kita menuju dewasa. Bersedia atau tidak ini harus jadi penerimaan untuk kita semua. Di sebuah perjalanan hidup, setiap jiwa melalui prosesnya masing-masing. Bahagia atau tidak lagi-lagi harus diselesaikan dengan syukur dan rela hati. Begitu pula denganku dan juga kita semua. Harapnya cuma satu. Semoga apa yang akan atau sedang terjadi bisa sesuai dengan apa yang kita mau. Tapi kalau ternyata tidak, semoga Allah senantiasa memampukan diri kita untuk bisa melalui garis takdir pemberian-Nya.

Sore ini aku bertemu dengan dia yang biasa ku panggil "I-Cuy". Laju motor yang kami kendarai mengantarkan kami ke sebuah pusat pembelanjaan di salah satu sudut kota kami. Ada yang harus kami cari untuk memenuhi keinginan hati kami.  Kami mencari sambil menceritakan ini itu. Bertemu dengan waktu yang tak bisa kami prediksi, membuat tampungan cerita kami hampir penuh. Akhirnya setiap bertemu ceritanya tumpah riuh. Kami ramai berdua dan kemudian berebut jatah bercerita. Ohh dasar wanita, tak pernah berhenti bicara ketika dilanda bahagia.

Sore ini, aku terpaku pada satu topik yang sedang kami bahas. Satu kalimat itu berhasil memukulku. Aku jatuh dan entah bagaimana bisa terbayang sampai detik ini.

"Apa yang membedakan di umurmu yang dulu dengan yang sekarang?"

Baiklah, pertanyaan ini sederhana. Tapi aku pikir selama ini aku tak begitu menghiraukannya. Cita-cita selalu ada tapi bagaimana dengan setelah itu tak pernah benar-benar aku pikirkan. Hidup adalah proses dan aku menikmatinya tanpa pernah menimbangnya. Tapi harusnya menilai tetap perlu untuk menjadikan ini sebagai pembanding.

Katanya, yang pertama dan yang paling menonjol adalah tanggung jawab. Aku setuju, semakin bertambah umur semakin bertambah tanggung jawab. Dulu pas masih kecil, kita adalah tanggung jawab bapak mamak. Tapi setelahnya, tanggung jawab berpindah ke diri sendiri dan kelak akan menjadi yang mempertanggungjawabkan. Hidup ternyata semenyenangkan ini. Pernah diberi dan akhirnya memberi. Ya begitu kurang lebihnya. Satu yang harus sama-sama kita lakukan adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa.

Kedua yang aku rasakan adalah lingkaran pertemanan. Tempat baru akan senantiasa mempertemukan kita dengan orang baru. Sebenarnya aku paling takut pergi ke tempat baru. Takut pisah sama orang lama terus ketemu orang baru. Eh pergi lagi dan ketemu orang baru lagi. Siklus. Tapi inilah yang akan membantumu menemukan mereka yang benar-benar ada di dunia ini untukmu. Waktu akan menuntunmu menemukan mereka yang benar bisa membuatmu tetap ada dengan dirimu yang apa adanya. Bukan yang malah menjadi orang lain. Berhati-hatilah dan mari mencari teman yang bisa saling mengingatkan demi menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Lanjut ke perubahan ketiga. Adalah perihal waktu dan materi. Dulu, pas masih sekolah, waktu serasa panjang. Langkah jadi leluasa ke mana-mana bareng mereka yang kita punya. Tak melulu ke tempat elit, yang penting bisa bersama. Sungguh nikmat yang sangat luar biasa. Tapi setelah jadi pekerja, materi teratasi. Meski tak jarang harus mengalahkan salah satu dari kebutuhan. Tapi waktu habis begitu saja. Seharian di tempat kerja dan jarang kemana-mana. Setelah lelah tertampung, waktu istirahat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Waktu kumpul sama mereka yang kita punya jadi berkurang atau malah tidak sempat masuk agenda. Jangankan untuk teman-teman lama yang dulu sering banget ngumpul, quality time sama diri sendiri aja susah. Apalagi sama mereka. Aku sendiri sangat bersyukur, meskipun setahun sekali aku masih dikasih kesempatan Allah buat ketemu orang-orang lama di hidupku. Setidaknya, ada temu yang membayar tumpukan rindu. Ciahhhh.

Perubahan keempat. Pandangan hidup bukan melulu soal dunia. Ada yang lebih kekal yang harus kita persiapkan. Mau tidak mau, kita harus memaksa diri untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Ingatan tentang mati harus selalu di hati karena tidak ada yang tahu kapan ia benar datang menghampiri. Dulu pas masih kecil, ibadah biar dapet reward dari bapak mamak. Sekarang udah gedhe, ibadah karena Lillahi Ta'ala. Karena sadar banyak yang kita pinta, maka mendekat kepada-Nya bisa jadi jalan untuk menjadikan semuanya menjadi lebih mudah. Pun karena kelak, ada banyak generasi yang membutuhkan kita untuk memberikan arahan di kehidupannya sebelum akhirnya mereka beetumbuh dan menggantikan kita semua.

Perubahan kelima. Bahwa sumber bahagia adalah bisa membahagiakan orang lain. Dulu pas masih kecil, dapet yang kita pengen aja dah bahagia sekali. Sekarang, bisa nyenengin orang-orang terdekat aja senengnya ngalahin isi dunia. Ah intinya bahagia bukan hanya bersumber dari diri sendiri melainkan dari banyak hati yang sudi menerima apa yang dipersembahkan diri ini. Sesederhana ini ternyata mengartikan bahagia.

Sebenarnya ada banyak sekali perubahan yang mengiringi pertumbuhan usia. Yang pasti, ada banyak pelajaran hidup didalamnya.

Setelah ini, coba kita renungkan kembali. Kita syukuri apa yang sudah kita punya dan kita kejar lagi apa yang sempat dan masih menjadi cita-cita kita. Perubahan yang ada bukan untuk menjadi sebuah hal yang disesali ataupun menjadi sebuah hal yang layak kita sombongkan. Semua ada agar kita bisa menghargai proses hidup kita masing-masing.

Dan itulah sekian dari perubahanku sampai sekarang ini. Bagaimana denganmu? Tapi apapun yang terjadi, semoga Allah senantiasa membersamai kita dengan orang-orang dan sesuatu yang baik.

Aamiin ya Rabb

--------------------------------.

#Day11
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Rabu, 15 Mei 2019

Tak Begitu Berharga, Tapi Ini Sangat Berarti


Kebahagiaan adalah sekian banyak hal yang mengukir senyuman. Sebenanya ada yang lebih bisa membuat senyuman itu lebih berkelas yaitu dengan penerimaan dan kerelaan. Hidup bermasyarakat menuntut kita untuk tidak egois. Memahami orang lain justru akan membuat kita dipahami oleh mereka yang kita ingini. Tidak bisa semuanya, tapi minimal ada.

Dilahirkan ke dunia ini adalah sebuah anugerah yang tak semua janin di rahim ibunya merasakan. Tapi meskipun kita datang dan meninggalkan dunia ini sendirian, hidup menuntut hati kita untuk memiliki sosial yang tinggi. Manusia diciptakan untuk saling membutuhkan. Dan dari membutuhkan, kita harus saling membantu untuk sampai kepada apa yang kita tuju. Tidak harus cepat, semua butuh untuk dinikmati sebagai proses dan dikenang sebagai masa lalu.

Aku tak begitu kaya. Tapi alhamdulillah termasuk berkecukupan. Gaji bulananku hanya tersisa beberapa untuk masuk ke rekening tabungan. Entah aku gunakan untuk apa, tiba-tiba hanya tinggal sisa. Dan andalanku untuk bisa menjadi kaya tanpa melihat materi adalah meluaskan hatiku dan hati orang-orang yang ku jumpai. Satu senyum yang ada dihadapanku sudah cukup menandakan bahagia. Apalagi sekian banyak percakapan hangat dengan siapa saja. Aku suka sekali berdialog dengan siapa saja yang aku jumpai. Dengan teman sebaya, dengan bapak mamak, dengan angin, dengan cuaca, atau malah dengan penghuni media sosial yang entah aku tahu atau tidak siapa dia. Aku juga suka berdialog dengan orang-orang baru yang ku jumpai di beberapa tempat. Dengan satpam kampus, dengan teman baru, dengan bapak-bapak yang sebangku denganku di bis, dengan karyawan baru di kantor, atau siapa saja. Aku ingin lebih tahu apa yang sejauh ini mereka lakukan dan mereka rasakan.

Aku tak segan-segan menyapa mereka. Entah hanya untuk meminta tolong atau bahkan hanya sekedar mendengarkan cerita. Di rumah juga begitu, meskipun tidak berhadapan 4 mata, tapi aku sering menundukkan kepala ketika bertemu atau menyapa dari jauh. Sekedar menghargai dan menghormati keberadaan mereka di sekitar kita.

Tapi ini yang paling berkesan di hidupku. Yakni mengucapkan tolong, maaf, dan terimakasih. Aku pikir ini sangat sepele, tapi ini begitu membawa kebahagiaan untuk orang-orang yang menerimanya. Dengan ini, aku seperti lebih dihargai, dia yang melakukan itu terlihat sopan, dan entah mengapa hatiku menjadi lebih bungah mendengar itu semua. Mungkin ini semua juga dirasakan orang-orang ketika aku melakukan itu kepada mereka.

Di kehidupan sehari-hari, aku membiasakan diri mengucapkan itu. Mengatakan tolong ketika membutuhkan sesuatu, menyampaikan maaf ketika melakukan kesalahan, juga menghaturkan terimakasih atas pertolongan yang telah ku dapatkan. Ini ringan (jika kita terbiasa). Tidak untuk hal-hal tertentu, kita butuh dalam semua aspek kehidupan kita. Percayalah tak melulu dengan materi bisa menyenangkan hati orang lain. Bersikap baik sudah lebih dari cukup. Yang penting kita tidak menyakiti dan merugikan orang lain. Tapi tidak bisa dipungkiri, manusia tempatnya salah dan khilaf. Maka segeralah meminta maaf, jika itu terjadi.

Menjadi baik memang tidak mudah. Semua bisa karena kita terbiasa. Meski kadang semua butuh dipaksa untuk berhasil menjadi apa yang kita mau. Jangan lupa menjadi yang menghargai agar kita juga bisa dihargai orang lain. Hidup ini seimbang sayang. Apa yang kita tanam, itulah apa yang akan kita tuai. Jadi, mari saling menjaga diri untuk saling menggenapi.

Selamat pagi dan berbahagialah selalu dengan sepertiga bagian dari ramadhan tahun ini.

--------------------------------.

#Day10
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Selasa, 14 Mei 2019

Barangkali Kamu Mau Mendengar


Hidup ini adalah sebuah proses. Tidak ada yang mudah, pun tidak ada yang susah. Kau dan aku hanya butuh "mau dan bersedia". Ya, kita hanya butuh mau berusaha untuk tahu bagaimana hasilnya. Kalau ternyata diantara kita tidak mau berusaha, lebih baik tidak usah dilanjutkan membaca. Sayang waktumu bukan? Aku tidak memaksa, ini kan hakmu.

Baiklah dengarkan aku, sebentar saja.

Duhai diri, barangkali apa saja yang ada disekitarmu pernah bosan mendengar keluhanmu. Tapi mereka tetap baik, tidak pernah membiarkanmu kecewa dengan tidak bersedia mendengar ocehanmu yang itu-itu mulu.

Barangkali apa saja yang disekitarmu pernah memendam lara padamu.Tapi mereka diam, tidak mengadukanmu pada siapa-siapa. Memendam sendiri memaklumi dirimu yang entah kapan sadarkan diri. Padahal sebaliknya, kamu sendiri yang malah mengadukan mereka kepada siapa saja. Tidak apa-apa, mereka masih mengerti.

Dan barangkali beberapa kali kamu ingin lari dari takdir yang menghampiri dan kemudian menemukan cara menyembuhkan lukamu. Atau aku pikir barangkali semesta telah lama memaksamu pergi, tapi ternyata kau terus kembali. Entah karena lelahmu, ketakutanmu atau bahkan karena egomu, aku kurang begitu mengerti perihal ini.

Tapi beruntung sekali, masih banyak jiwa yang merelakan raganya supaya sudi memeluk, menggandeng, menghibur, dan sekaligus mengawalmu menikmati hamparan semesta. Beruntung sekali, masih ada yang sudi membagikan tutur lembutnya untuk membuatmu mengerti apa yang membuatmu betah berkemelut dengan ketakutanmu. Ah semesta terlalu memihak kepadamu. Sebenarnya aku tidak setuju dengannya, tapi hati kecilku berkata lain. Memang harus ada yang seperti itu, untuk menyeimbangkan kehidupan. Allahu akbar.

Duhai diri, pelindung jiwa-jiwa yang penuh peluh. Duduklah disampingku sebentar. Ada yang masih ingin kusampaikan kepadamu. Tidak lama, nikmati saja. Dan barangkali apa yang sudah bertahan lama menemani bisa tiba-tiba lelah mengerti. Bahwa yang selama ini diam, sewaktu-waktu bisa meletup seperti kandungan magma diperut gunung berapi yang seketika meledak meramaikan isi bumi. Bahwa yang selama ini kuat bertahan menemani bisa tiba-tiba pergi tanpa pamit kepadamu. Barangkali dia sudah lama kecewa, tapi malah takut berbalik mengecewakanmu. Atau barangkali dia pergi untuk menyadarkanmu perihal sesuatu. Entah apa, sekali lagi aku kurang paham perihal ini. Aku harap kamu mengerti maksudku.

Aku pikir kita harus mulai sama-sama melihat bahwa barangkali yang sudah terjadi adalah jatah diri yang mesti kita syukuri sepenuh hati. Kita butuh untuk rela menerima semuanya, supaya hati dan jiwa raga kita bisa ikut baik-baik saja. Allah telah mengatur segalanya sesuai dengan daya uji yang kita punya masing-masing. Tidak ada yang sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya. Jadi mari saling memeluk diri dan berteriak dengan lantang, bahwa semua akan baik-baik saja. Allah tahu apa yang kita butuh. Janganlah risau duhai jiwa.

Aku pikir sudah itu saja. Barangkali dengan ini, apa yang memenuhi isi kepalaku bisa menyelami pikiran kusutmu. Sebenarnya sudah lama ingin kusampaikan kepadamu. Tapi aku terlalu bosan dikatakan sebagai seseorang yang "keras kepala". Padahal tidak. Andai kau tahu dan andai saja kau mau mengerti. Aku pasti bahagia sekali. Tapi ya sudahlah. Biar ini menjadi rahasiaku.

Aku hanya ingin menyayangimu dengan cara yang lain. Yang tak orang lain punya dan yang menurutku istimewa.

Selamat (barangkali kau merasa beruntung). Aku pamit. Sampai jumpa (kamu).

----------------------------------

#Day9
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Senin, 13 Mei 2019

Anak Perempuan Bagi Ibuku



Pada waktunya, usia akan bergulir menemui masanya. Seperti aku, seperti kita. Tidak lagi menjadi anak kecil. Kita dipaksa untuk dewasa di usia yang tak lagi masuk pada kategori muda. Padahal menjadi muda selalu menjadi hal yang ingin terulang. Bebas, lepas, dan tanpa batas.

Tapi tidak dengan aku dihadapan mamakku. Sejauh ini aku masih dianggapnya sebagai putri kecilnya. Atau mungkin sampai nanti ketika aku sudah menjadi seorang istri dan menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Oh entahlah, apakah seorang ibu memang seperti ini?

Aku dijaganya dengan berlimpah kasih sayang juga cintanya. Bahkan perlakuannya kepadaku juga kadang masih seperti pada saat beliau memperlakukanku sewaktu aku masih kecil. Haru memeluk, tapi tersadar. Umur tak bisa lagi membuatku bertahan menjadi anak kecil.

Mamakku sangat perhatian. Lidahnya tak pernah kelu mengingatkan setiap detail perbuatan. Komentarnya tak habis mengiringi apa yang sedang aku lalukan. Bahkan sebelum aku melakukannya. Kadang, aku malah merasa risih karena tidak bisa leluasa. Tapi hati mamak tetap harus ku jaga. Akhirnya menuruti adalah hal satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk menyenangkannya.

Tapi jangan terus berpikir bahwa aku ini selalu menjadi penurut. Kadang aku mengelak perintah mamak. Menunda melakukan yang diperintahkannya dengan kata nanti. Bahkan menolak dengan kata tidak. Beberapa hal berhak mengalami penolakan bukan? Termasuk keinginan seorang ibu terhadap diri anaknya?
Bagaimana tidak, baru saja selesai makan. 5 menit kemudian sudah di suruh makan lagi. Masyaallah, perutku juga butuh bernafas dari barisan makanan yang masuk ke tenggorokan. Aku tahu niat baik mamak, tapi tidak dengan yang satu ini.

Pernah teman dekatku datang. Perempuan dan seumuran denganku. Kebetulan sudah lama kami tidak bertemu. Dia main ke rumahku dan kita bercerita apa saja di kamarku. Mamak datang disela-sela percakapan seru kami, menawarkan beberapa makanan lagi. Kataku nanti. Aku akan mengambilnya sendiri. Tapi tidak. Kesabarannya tak bertahan lama. Makanan diantar dan di bawa masuk ke kamarku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala keheranan. Sedangkan temanku tertawa menyaksikan. Lucu dan memang pantas ditertawakan.

"De Yanti, De Yanti" katanya menggeleng

Sebenarnya, aku senang diperhatikan. Tapi aku pikir, diperlakukan seperti ini malah akan membuatku minim berkembang. Padahal sejujurnya aku sudah mempersiapkan semua. Kapan waktu makan, kapan waktu mandi, harus makan dengan apa, dan apapun. Termasuk memperlakukanmu tamuku sendiri. Aku hanya perlu diingatkan, tidak untuk terus-terusan diperintah atau malah dipaksa. Tapi aku tak kuasa menolak semuanya.

Pernah hatiku kelu menahan pilu atas ini. Dan tak sengaja melontarkan beberapa tanya kepada mamak.

"Aku udah gedhe kali mak. Makan bisa ambil sendiri laa" kataku kesal

"Kelamaan nduk" katanya menyingkat

"Besok kalo aku punya dah punya suami, mamak masih kaya gini nih?"

"Ya enggak lah" sambil menurunkan makanan yang dibawanya.

"Kalo ternyata aku dapet orang jauh. Ya ga jauh-jauh si. Situ aja paling. Gimana mak?" kataku menggoda

"Ya nggak pa pa. Kalo emang udah jodohnya mamak bisa apa?"

Lega banget denger mamak ngijinin. Rasanya satu pintu terbuka. Aku menertawakan ini bersama dengan temanku. Tapi tidak setelah itu.

"Oke mak. Berarti aku ntar ngikut suami ya mak?"

"Ya nggak bisa. Kudu tetep disini. Buat rumah disini aja laa. Biar mamak bisa lihat endok tiap hari"

Dahiku mengernyit. Aku keheranan dengan percakapanku bersama mamak. Temanku tetap bertahan dengan renyah tawa yang dia punya. Dunianya indah dihabiskan dengan menertawakanku. Tega memang.

Entah apa. Mamak selalu begitu. Entah bagaimana dengan ibu-ibu yang lain. Mamakku sangat unggul dalam hal menyayangi anak-anaknya. Aku beruntung bisa memilikinya. Meskipun banyak yang berbeda dengan apa yang aku ingini, hatiku tetap hanyut dalam kasih lembut mamakku.

Ya beginilah aku di hati mamakku. Sepertinya aku akan menjadi putri yang selalu dianggapnya kecil dihidupnya. Selamanya, sampai waktu berhenti menyapa kita berdua.
Bagaimana kamu dengan ibumu? Apakah sama sepertiku?

----------------------------------

#Day8
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....