Jumat, 31 Mei 2019

Kepada Hati Yang Membenci Benda Mati

Picture by : Pinterest
Aku baru saja sampai kantor, bergegas menyodorkan ujung jempol tangan kananku ke arah mesin scan untuk absen dan kemudian menuju ruangan kerjaku. Pagi ini aku agak terburu-buru. Terlalu asyik dengan youtube sampai akhirnya lupa waktu. Jarum jam menunjuk pada angka pukul 06.52 menit. Segera ku pacu roda duaku dengan kecepatan yang lebih daripada biasanya. Aku hanya punya waktu 8 menit untuk sampai di parkiran kantor dan kemudian melakukan absen.

Tas gendong kesayanganku baru saja ku geletakkan di atas sebuah box penyimpan arsip dokumen. Jaket yang menghangatkanku  sedari tadi juga baru saja ku lipat rapi.

"Assalamualaikum" sapa hangat seorang Annisa

"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh" jawabku

"Ya Allah pen" katanya sambil terpatah-patah

"What?" kataku singkat

"Asap kendaraan tuh emang jahat banget ya" katanya

Aku terdiam sembari memperhatikan dia yang kerepotan mengatur nafas sesampainya di ruangan kantor. Aku berdiri di samping sebuah meja kerja miliknya sambil menyiapkan sebuah sajadah dan sebuah mukena. Hampir setiap pagi, aku dan dia menghamba kepada Allah Sang Maha Segalanya. Kami bersujud bersama disela-sela meja kerja. Meminta ini itu kepada-Nya. 15 menit saja, sudah cukup. Selain termasuk golongan orang-orang yang taat kepada-Nya, dhuha juga bisa sebagai cara seorang manusia untuk meminta kecukupan tentang apa saja sampai dipenghujung hari yang dilaluinya.

"Dadaku sesak. Biasanya jalanan nggak macet. Kenapa pagi ini macet sekali?" lanjut Annisa menggerutu.

Aku masih terdiam, memperhatikan tingkah perempuan yang masih kerepotan dengan ini itu. Bahkan sekarang dia menjadi sangat kerepotan dengan makian yang dia punya. Oh bukan, dia pasti tidak setuju mengatakan dirinya sedang memaki. Aku ralat menjadi sambatan. Ya, pagi ini dia hanya berbagi sambatan. Dia baik hati sekali bukan? Ah sebaik apapun dia, di mataku tetap saja menjadi hal yang selalu salah. Batinku menolak pro dengannya.

"Lihat, padahal aku sudah pakai 2 masker. Kenapa udara kotor tetap masuk dan terhirup olehku?" katanya melanjutkan

Masih belum ku tanggapi. Aku masih terus mendengarkan sambil memperhatikannya melepas satu persatu barang-barang yang menempel di badannya. 2 jaket tebal berlapis sebuah kardus berbentuk persegi panjang yang menutupi dadanya, juga 2 masker wajah yang menutupi sebagian wajahnya, juga sebuah tas gendong yang dipakainya di depan dada. Semenjak paru-parunya terluka, dia memang menjadi lebih sensitif dengan udara. Aku mengerti ini, tapi aku tetap saja tidak suka dengan caranya.

"Mana udara lagi anyes-anyesnya. Dingin banget" tambahnya

Aku masih diam, menyelesaikan persiapanku menghamba. Dia juga sudah hampir selesai merapikan kerepotannya, kecuali dengan makian yang ada. Sepertinya akan menjadi lebih lama dari yang ku bayangkan sebelumnya.

"Semrawut banget ya pen lalu lintas di Kudus. Nggak kaya di Temanggung. Tertib tertib" katanya lagi.

Begitulah dia, doyan ngomong. Kadang aku seneng bisa ngomong banyak sama dia. Tapi banyak keselnya juga. Abis gimana si, berisiknya masyaallah.

"Sehat kan yu?" kataku singkat

"Ya gini ini" sahutnya

"Terus ngapain nyalahin benda mati?" kataku

"Abis gimana si, kan kesel"

"Salahin diri sendiri lah. Kan situ yang bisa mikir. Udara, motor, dan kesemrawutan itu mana punya pikiran?"

Dia diam. Entah capek dengan gerutuannya atau malah kecewa dengan omonganku. Aku hanya ingin menunjukkan rasa tidak sukaku atas sikapnya kepada apa saja yang telah dilaluinya pagi ini. Apalagi sampai menyalahkan benda mati. Persis seperti banyak ibu-ibu yang menyalahkan batu atau kaki meja kursi ketika anaknya tersandung kemudian jatuh. Menurutku ini justru malah membuat si anak menjadi tidak sadar diri. Kenapa tidak malah menenangkan dan kemudian menasihati si anak supaya lebih berhati-hati? Atau adakah sudut pandang lain yang lebih bisa ku mengerti selain ini? Oke baiklah, terserah.

Kenapa dia harus menggerutu sepanjang itu? Kenapa sih dia nggak instrospeksi diri sendiri? Kenapa sepagi ini sudah membuatku kesal dengan gerutuannya yang menurutku tidak harus dia lakukan. Harusnya dia bisa berangkat lebih pagi. Selain udara yang masih segar, dia juga tidak harus berebut jalan dengan pengendara yang memang kebanyakan tak tahu aturan. Harusnya dia paham bagaimana cara berkendara manusia-manusia rese di sini. Kenapa masih bertanya tentang ini?

Bukankah hidup ini harus saling mengerti. Atau menurutku malah diri sendiri harus lebih bisa mengerti dan juga menerima apapun yang telah di gariskan-Nya. Orang-orang tidak akan pernah mau tau apa yang menjadi inginmu. Kecuali mereka yang peduli padamu. Tapi aku pikir kau akan sangat susah menemukannya. Belakangan ini aku menemukan banyak sekali orang-orang yang bertopeng. Aku juga pernah melakukannya beberapa kali.

Sudut pandang kita bahkan harus meluas. Kita tidak boleh egois dengan pemikiran kolot yang kita punya. Mungkin pengendara ugal-ugalan yang sesekali kita temui di jalan itu sedang terburu-buru. Sampai sampai dia tak peduli lagi dengan aturan yang ada. Jangankan keselamatanmu, keselamatannya saja tidak dia hiraukan. Bayangkan saja bagaimana diposisi orang itu.

"Ngomong tuh emang lebih gampang

daripada ngelakuin langsung"

Sering mendengar kalimat itu? Ya, hampir setiap hari ada yang berkata seperti itu. Aku bahkan tidak habis pikir dengan pemikiran mereka. Tujuan bercerita apa sih? Buat tuker pikiran kan? Buat dapet solusi kan? Atau bahkan menjawab ke-kepoan diri. Hei, ayolah. Buka mata, buka hati, buka cakrawalamu dan mulai mencoba mengertilah. Saran atau jawaban apapun yang dilontarkan kepadamu atas ceritamu itu hanya perlu kau dengar. Toh kita nggak melulu memaksa pikiran kita buat dipakai sama kamu. Keputusan kan tetap adanya di kamu.

Dunia ini banyak warna honey. Kalau kau hanya mau menatap yang abu-abu, berarti kita lain dunia. Ahh lagian kita ini kan makhluk sosial. Butuh interaksi, butuh bantuan, juga butuh pemikiran orang lain. Diamlah atau setidaknya katakan "iya" juga "terimakasih".

Memang susah menjadi baik. Butuh terbiasa untuk menjadi bisa. Dan semoga kita bisa mengerti tentang ini. Aku bukan menyalahkanmu, aku hanya kurang setuju dengan apa yang kau lakukan. Maaf jika memang aku tak sadar menaruh salah padamu.

Selamat siang.

Salam Literasi,

--------------------------

#Day26
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Kamis, 30 Mei 2019

Nulis terus, Buat Apa?

Picture by : Pinterest
Sebuah pertanyaan sederhana datang dari seorang gadis sebayaku. Dia temanku, dan kami sudah seperti saudara sendiri. Belakangan ini, aku suka sekali menulis. Seperti seolah-olah berkata bijak, padahal aku hanya ingin berpendapat saja.
 
Siang itu sedang tidak ada kesibukan. Kebetulan pekerjaan kami sudah selesai dan kami saling bercerita. Aku menatapnya dengan sungguh. Menyimak sekian receh ceritanya yang terkadang tidak masuk akal. Tapi sebagai pendengar yang baik, aku tetap mendengarkannya meski sesekali hilang mood karenanya. Dan tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul darinya.

"Nulis terus, buat apa si pen?
Dapet duit emang?"

Aku diam, bingung memulai menjawab dari mana. Dia mengeryitkan dahi, seperti memberitahu tentang keheranannya kepadaku. Ketahuilah, ada banyak sekali alasan melakukannya. Dengan kerelahan hati yang penuh cinta, aku menjadikannya sebagai sebuah hobby baru.

Bagiku, menulis adalah mediaku untuk berbicara. Menyampaikan sekian banyak hal kepada dia yang ku jadikan tujuan. Aku bukanlah sosok yang begitu hangat menyampaikan sanggahan. Sesekali aku dikuasai amarah dan nada bicaraku menjadi tak terkendali. Beberapa kali aku menyesali ini. Tapi waktu tak akan berhenti apalagi berbalik arah. Sekarang, tugasku adalah memperbaiki diri menjadi lebih manis, lebih hangat, dan lebih baik lagi.

Menulis menjadikanku sebuah aksara yang menari-nari di atas kertas lewat goresan pena. Aku merangkai diri menjadi aksara demi aksara sampai berhasil menjadi barisan kata yang meruntut sebuah cerita. Aku bukan pembicara yang baik apalagi bijak. Sama sekali tidak, aku hanya ingin orang lain tahu bagaimana mau yang aku maksudkan. Karena bibir tak selamanya terkendali dan apalagi hati yang kita punyai. Aku menjaga hati kita lewat kata yang tertata dan rapi berbaris diantara baris-baris deretan aksara itu.

Menulis membantuku masuk ke dalam jiwa-jiwa yang rela membaca karya yang masih tergolong usang ini. Aku ingin sekali larut dalam suasana hati yang sedang dirasakan oleh orang-orang. Aku ingin mengerti menjadi mereka. Sedihnya, bahagianya, bimbangnya, riuh pikirannya, semua.
Menulis membantuku menjadi apa saja. Hujan, daun, angin, senja, seorang ibu, atau bahkan seorang perempuan yang sedang menggilaimu. Aku bisa menjadi apa saja yang aku atau yang bahkan kau inginkan. Menjelma menjadi semudah ini dengan menulis.

Menulis membantuku menjadi abadi. Aku ingin berkarya, sebelum hilang nyawa. Jika aku beruntung, aku akan dikenang sebagai seorang penulis. Pundi-pundiku mengalir dari hasil penjualan karyaku dan aku bisa mengelilingi Indonesia untuk memperkenalkan itu. Allahu Akbar, insyaallah. Tapi jika takdir berkata lain, setidaknya ada yang sudah tersampaikan kepada orang-orang yang aku tuju meskipun hanya secara tersirat. Aku ini penakut, mana berani menyampaikan apa-apa apalagi kepada dia yang ku cinta. Nyaliku menciut. Payah memang.

Menulis mempertemukanku dengan orang-orang baik yang sejenis denganku. Yang sukanya bercerita, yang gemar berbagi pengalaman, juga senang sekali memotivasi. Aku bahagia dipertemukan degan mereka semua, meskipun belum secara langsung. Setidaknya dunia maya bisa menyandingankan kita untuk sekedar berdialog bersama membicarakan apa saja yang sedang menarik bagi kita semua. Cukup menyenangkan sebagai sebuah pertemuan awal.

Dan tidak ada yang istimewa dari seorang penulis. Kecuali deretan katanya yang berhasil mengetuk hati pembacanya. Dan aku bukan menjadi diantara mereka. Atau begini lebih tepatnya. Aku belum menjadi diantara mereka. Aku masih belajar menjadi sepertinya. Seorang penyair yang hebat atau sekedar seorang budak cinta yang haus akan kata-kata. Halah bagiku sama saja. Setiap jiwa memiliki hak untuk itu.  Asal mereka mampu dan tentu saja mau. Karena mampu tidak akan berjalan tanpa kemauan dan begitupun sebaliknya. Semesta memang selalu begini. Saling melengkapi tanpa sedikitpun menggurui. Sederhana sekali.

Salam Literasi.

---------------------------

#Day25
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Rabu, 29 Mei 2019

Menjelang Terlelap


Lelap adalah obat bagi jiwa-jiwa yang seharian dipeluk rasa lelah. Lelap adalah ruang kosong untuk mengistirahatkan isi kepala juga raga yang kadang terus memaksakan dirinya. Lelap adalah gelap yang akan menyediakan terang. Membangun mimpi yang baru. Memupuk harapan yang baru. Juga mempersiapkan jiwa dan raga dengan semangat yang baru untuk menyambut dan kemudian menyelesaikan hari yang baru.

Pagi ini, kedua mataku kembali terbuka. Aku mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa kemudian memanjatkan banyak doa untuk kebaikan hari ini. Pagi ini aku siap menyambut hari baru dihidupku. Memupuk banyak harapan, mengecek daftar mimpi-mimpi, dan menentukan langkah jitu sampai dititik berhasil. Pagi ini aku mengakhiri doa. Kemudian bergegas mandi dan melakukan sholat subuh. Setelahnya aku melanjutkan menulis cerita yang semalam belum sempat selesai karena terlanjur ketiduran. Sampai lupa waktu, aku bergegas bersiap berangkat ke kantor. Agak terburu-buru memang. Untung tidak telat. Alhamdulillah.

Semalaman aku terlelap. Merawat raga yang telah lelah seharian. Juga mengistirahatkan ruang-ruang di pikiran juga jiwaku. Semalaman aku terlelap. Menghentikan sementara mimpi-mimpi yang masih memenuhi daftar di buku agendaku. Melemaskan kaki untuk perlombaan lari di keesokan hari yang lebih seru. Juga menyiapkan jiwa yang lebih besar untuk bisa menerima garis takdir yang telah ditentukan-Nya untukku.

Semalam menjelang terlelap, aku menuliskan apa yang telah aku lalui di hari kemarin. Bukan hanya semalam, tapi hampir setiap malam. Aku menulis semacam diary untuk diriku sendiri. Sambil mendengarkan lagu instrumental atau murotal dari hafidz hafidzoh yang suaranya masyaallah, aku tumpahkan segala kesal, agar tak lagi bertumpuk dan terkalkulasi di hari setelah itu. Aku menggerutu, juga mengucap syukur, menumpahkan kebahagiaan, dan tentu menyusun harapan untuk hari esok. Evernote adalah teman terbaikku. Kadang aku juga menyusun konten untuk diposting diblog kepunyaanku. Kadang sampai ketiduran atau bahkan sebelum sempat membuka evernote, aku sudah lebih dulu tertidur. Ketahuilah, mataku tidak cukup tangguh untuk menahan kantuk yang terlalu. Berat dan membuatku susah berfikir. Akhirnya lelap menjadi obatnya.

Aku menuju kamar mandi, membersihkan gigi, membersihkan wajah, menyelesaikan hajat, dan mengakhirinya dengan mengambil wudhu sebelum memulai menulis. Setelah kembali ke kamar, ku pasang masker di wajahku. Aku butuh ini, untuk menghilangkan buntusan di wajah, menyamarkan bekas jerawat, dan mencerahkan warna kulit. Pemilik wajah sensitif yang mulai sadar diri memang serepot ini. Tolong dimengerti ya. Hehe

Setelah berurusan dengan masker, aku mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Kemudian aku mulai merapal doa panjang sebelum tidur. Ayat kursi, An-Nass, Al-Falaq, Syahadat, doa sebelum tidur, dan dzikir panjang yang mengiringi perjalanan menulisku sampai akhirnya benar-benar tenggelam ke dalam mimpi. Dan tidak lupa memaafkan kesalahan orang-orang yang dilakukan kepadaku hari itu dan memohon ampun juga memohon keringanan agar diri sendiri yang penuh dosa ini mendapatkan maaf dan ampunan dari Allah juga dari orang-orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja ku sakiti. Ini adalah salah satu jalan menuju surga-Nya. Pernah dengar kisah laki-laki Anshar yang dikatakan nabi sebagai "Calon Penghuni Surga"? Dia tidak istimewa. Tampilannya biasa saja, amalan sunnahnya juga tidak begitu banyak. Tapi satu, hatinya besar. Dia tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun. Menjelang tidur, dia selalu memaafkan kesalahan orang-orang baik yang secara sengaja atau bahkan tidak sengaja menyakitinya. Masyaallah, begitu mulia hatinya. Ingin aku sepertinya. Sulit sekali memang, tapi percayalah kita hanya butuh terbiasa untuk melakukannya.

Aku membaca surat Al-Waqiah dan Al-Mulk sebelum membersihkan tubuhku. Biasanya sekalian setelah sholat isya. Surat Al-Waqiah adalah surat kekayaan. Surat ke 56 yang berjumlah 96 ayat ini mengingatkan kita dengan hari kiamat. Kata orang-orang, rutin membaca surat Al-Waqiah bisa memperlancar rejeki dan mencegah seseorang dari kemiskinan selama-lamanya.  Tentunya dengan diimbangi usaha dan ikhtiar ya dear. Aku butuh ini untuk menjadi kaya. Kalaupun tidak kaya secara materi, minimal kaya hati lah ya. Wkwkwk

Dan selanjutnya adalah surat Al-Mulk. Surat ke 67 dengan jumlah 30 ayat ini mengingatkan kita tentang kekuasaan Allah yang begitu besar. Surat ini akan menjadi pertolongan bagi siapa saja yang membacanya. Kata orang-orang, rutin membaca surat Al-Mulk bisa menjaga dan menyelamatkan seseorang dari siksa kubur. Surat ini bisa menjadi syafaat bagi siapa saja yang rutin membacanya. Pernah dengar kisah seorang ibu yang kuburannya wangi? Dia wanita biasa, tidak ada yang istimewa darinya. Tapi ketika meninggal, kuburanya berbau wangi. Sangat-sangat wangi. Kata putranya, ibunya tidak akan tidur sebelum membaca surat Al-Mulk. Masyaallah, Maha Besar Allah dengan segala kebesaran-Nya. Semoga kita termasuk kepada hamba-hamba yang selalu mendapatkan hidayah-Nya. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Rutinitasku menjelang tidur begitu panjangnya. Tapi percayalah, ini mudah. Kita hanya butuh terbiasa. Dulu aku tidak begitu. Boro-boro wudhu apalagi sampai berdoa. Setiap pulang, jilbab masih terpakai saja sudah langsung tertidur pulas. Akhirnya wajahku penuh jerawat, dan setiap bangun rasanya berat. Tidak pernah ada penghantar tidur sepanjang yang ku lakukan akhir-akhir ini. Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Semoga istiqomah selalu terlimpah kepada kita semua.

Salam Literasi.

-------------------------

#Day24
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Selasa, 28 Mei 2019

Hanya Ada Yang Tega Darinya

Laju motor pelan melintasi jalanan. Sore tadi senja sedang cantik-cantiknya. Rinduku terbayar dengan temu. Canda tawa riuh menemani perjalanan kami ke salah satu sudut kota kecil yang kami tinggali. Nyanyian singkat sesekali bergeming diantara bibir kami. Lagu milik siapa entah, terlalu banyak yang kami nyanyikan. Hatiku berbunga layaknya dibasahi derasnya hujan pertama di bulan ini.

Tapi senyumku tiba-tiba memudar disapu bahagianya. Seperti diterpa angin kencang, aku porak-poranda. Hatiku seperti tercabik, tapi pikirku tak pantas. Aku tak pernah jadi siapa-siapa di babak ini. Akhirnya tetap terlihat bahagia di atas derita menjadi jalan satu-satunya.

Tapi tak bisakah dia berhenti membicarakan ini. Yang bahagia dia rasa, tapi sangat tidak begitu denganku. Aku benar-benar diambang rasa pilu. Rasanya ingin menetap, tapi aku terus terkikis. Ingin berlari jauh, tapi untuk apa. Aku dan seseorang yang sekarang membuat bunga-bunga dihatinya mekar, cukup baik bertahan dengan kisah lama kami sebelum ini. Ya, tentu saja hanya sebagai teman.

Aku turut berbahagia dengan kisahnya yang sekarang. Yang indah sejak seseorang itu datang di kehidupannya dan hanya sekilas lewat di kehidupanku. Sadarku, aku hanyalah sebuah batu loncatan di kisah ini. Aku sungguh tak pantas menaruh hati atas ini. Sekalipun sejujurnya aku masih kebingungan dengan apa yang sedang aku hadapi sekarang. Tega dan polos memang sesuatu yang bedanya tipis. Dan sepertinya aku harus benar-benar belajar mengerti atas ini. Mau tidak mau, luasnya hati harus ku sediakan. Menjadi seperti seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bersikap biasa saja, meski setelahnya ada banyak hal yang membuatku tak berhenti menggerutu. Oh percayalah, bahkan meski aku belum benar-benar terjatuh, luka ini sudah begitu membekas di tepian hati.

"Kamu cemburu ya?" tanya perempuan sebaya yang sedang duduk persis dihadapanku

"Apaan?" jawabku mengelak

"Iyo, kamu cemburu kan?" gertaknya

"No. Siapa gua lagi?" jawabku

Aku cukup sadar diri atas ini. Aku bahkan tak pernah mengupayakan apa-apa atas ini. Dan aku pikir setelah ini semua terjadi, aku sama sekali tak pantas menuntut apapun. Oh waktu, bergulirlah lebih cepat dan lekas bawakan obat untuk batinku yang tersiksa ini.

"Terus?"

"Ya enggak nyangka aja. Wajar dong"

"Iya wajar"

"Bayangin elu diposisi gua. Kira-kira elu bakal gimana?" tanyaku membalikkan

"Aku? Ya sakit si. Tapi gimana si?"

"Gimana apanya?"

"Udah, sekarang biasa aja. Anggep seolah ga ada apa-apa. Toh emang ga pernah apa-apa kan?"

Oh hati, menguatlah. Sungguh kenyataan itu ada untuk dinikmati dan disyukuri. Bahkan menggerutupun tak akan membuat waktu menghentikan masanya apalagi merubah garis takdir berubah seperti apa yang kita mau. Nikmati saja, nikmati.

"Iya, emang ga pernah ada apa-apa" kataku menutup obrolan

Aku pamit, menyendiri bersama sisa ruang yang ada di hatiku. Berfikir akan seperti apa setelah ini. Aku tidak boleh egois, sekalipun aku pernah berfikir bahwa ini semua tak seharusnya terjadi. Tapi bagaimanapun, garis takdir ada tidak untuk dihindari.

Jatuh cinta membuatku teramat takut. Takut jatuh terlalu dalam kepada orang yang salah yang bahkan setelahnya malah akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa pulih kembali. Aku terlalu takut disakiti. Aku terlalu lelah mencari obat hati. Aneh memang, padahal kan kodrat dari manusia sendiri adalah saling menyakiti.

Dan biarlah ini menjadi masalahku. Akan aku bereskan sendiri dengan caraku dan tidak usah mempedulikanku. Aku lebih dari kuat untuk sekedar menyiapkan hati untuk orang baru. Luka ini, biarlah menjadi hiasan di hati. Kelak, akan ku kenang ini sebagai pukulan hangat yang menyenangkanku.

Salam Literasi,

---------------------------

#Day23
#OneDayOnePOst30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Senin, 27 Mei 2019

Orang Tua dan Kepandaian Anak

Picture by : Pinterest
Pikiranku masih belum sepenuhnya terbebas. Aku masih saja menimbang satu per satu kata yang keluar dari mulutku sore tadi. Aku takut menyinggung mamak. Hampir saja aku salah mengucap, semoga mamak tetap berpikiran positif terhadapku.

"Dek Arin semalem dapet duit dari Pak Yai tha ndok?"

"Iyo mak. Hafalane pinter banget. Masyaallah"

"Owalah gimana ceritanya ndok?"

"Pak Yai nawarin bakal ngasih Rp 50.000,- ke anak-anak kecil yang berani ngafalin surat Al-Alaq. Aku mau maju sebenere, tapi udah terlanjur sadar umur. Haha"

"Wkwkwk. Terus ndok?"

"Terus Dek Arin maju, ngafalin, dapet duit deh"

"Mantep emang"

"Bapak ibuk e juga joss semua sih ya mak. Bapaknya dokter, ibunya bidan. Pantes nurun ke anaknya"

"Hubungane apa ndok?"

"Gen orang tua kan berpengaruh ke anak-anaknya mak"

"Lhah mamak ga pinter. Terus kamu berarti turunane siapa?"

Aku diam. Mengulang kembali perkataanku di dalam hati. Lalu aku linglung. Bingung harus menjawab pertanyaan mamak dengan kalimat apa. Sebenarnya aku merasa biasa saja. Tidak begitu pintar dan tidak juga sebaliknya. Bahkan aku merasa harus lebih belajar lagi tentang ilmu kehidupan. Tapi bagi mamak dan beberapa orang tidak. Dihadapan mereka aku dianggap beruntung memiliki kualitas berpikir yang cukup baik. Aku bersyukur atas ini. Tapi juga berulang kali berfikir bahwa aku tak sebaik yang mereka pikir.

"Ya beda kasus tha mak" jawabku sambil terus berfikir

"Beda gimana?" kata mamak memojokkanku

"Mamak pinter kok"

"Pinter dari mananya? Tukang nyari rumput kok dibilang pinter" kata mamak merendah

Aku hampir selalu kesusahan setiap bicara sama mamak. Takut salah ngomong dan akhirnya menyakiti. Kehidupan kami 180 derajat berbeda. Mamak dibesarkan dilingkungan perkampungan yang terpencil, kering, minim penerangan, pendidikannya terbatas, dan mayoritas hanya sibuk mengumpulkan kekayaan tanpa tahu akan dikemanakan. Dulu sebelum mamak memutuskan merantau ke ibu kota, mamak sekolah di salah satu sekolah dasar di ujung kampung sambil membantu kakek nenek mengurus ternak sapi dan kambing. Setiap pulang sekolah dia mencari rumput untuk makan ternak-ternak itu. Malamnya capek dan ketiduran. Ditambah minim penerangan menjadikan mamak malas belajar. Aku tidak sampai hati membayangkan berada diposisi mamak.

Tidak sepertiku yang sekarang ini. Aku tinggal di perkampungan yang sudah modern. Waktu memang cepat sekali berputar. Begitu juga dengan perubahan yang ada. Kehidupanku jauh lebih baik daripada yang mamak rasakan. Begitu banyak syukur ku haturkan kepada Allah yang Maha Segalanya. Terimakasih telah menjadikanku ada di tempatku yang sekarang ini Ya Rabb.

Sudah tidak ada lagi penerangan yang redup, pendidikan disini juga lebih berkembang dan meskipun tidak semua berpikiran terbuka terhadap pendidikan, setidaknya ada beberapa dari mereka yang berpikiran sama denganku. Aku harus berkembang, meski tidak terlalu jauh. Perubahan di dunia ini begitu pesat. Aku tidak sanggup membayangkan ketika sudah memiliki anak-anak dan kemudian aku buta akan perubahan ini lalu tidak bisa mengarahkan mereka dengan baik menuju masa depan. Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

Orang tua adalah pewaris kecerdasan, terutama seorang ibu. Kromosom seorang ibu 2 kali lipat lebih banyak dari pada seorang ayah. Nah kromosom inilah yang mewariskan kecerdasan kepada sang anak. Pernah mendengar ungkapan Dian Sastro?

"Entah akan tetap berkarir atau menjadi ibu rumah tangga sekalipun, seorang wanita harusnya berpendidikan tinggi karena akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas menghasilkan anak-anak yang cerdas"

Berpendidikan tinggi memang bukan satu-satunya cara menjadi cerdas. Bahkan ada banyak sarjana yang nyatanya hanya pandai di mata kuliah tapi lemah di lingkungan sosial atau malah sebaliknya. Pun tidak hanya di lembaga pendidikan saja, kita bisa belajar. Dengan lebih banyak membaca, lebih banyak besosialisasi dengan orang banyak juga merupakan cara belajar. Tapi minimal pendidikan memperlihatkanmu tentang pengalaman dan membuka pandangan secara lebih luas. Aku merasakannya, begitu banyak perbedaan. Dan ini yang membuat kita lebih bisa memposisikan diri.

Mamak memang tidak sepenuhnya menjadi madrasah pertamaku. Aku mengerti dengan keterbatasan yang beliau punya. Tapi mamak istimewa. Mamak berhasil memastikanku untuk tetap berada di lingkungan yang bisa mendukung perkembanganku terutama dalam hal belajar. Inilah salah satu kecerdasan milik mamak. Dulu setiap ada PR dan aku tidak bisa mengerjakan, mamak mengantarku ke tempat tetanggaku dan menemaniku mengerjakan PR itu sampai selesai meskipun dengan bantuan orang lain. Mamak juga memberikan dorongan semangat untukku supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus dan kemudian melanjutkan ke sekolah yang menurutnya terbaik untukku bahkan sampai aku selesai menjadi seorang Ahli Madya sekarang ini. Doa mamak juga sepertinya tak pernah berhenti. Terimakasih mak.

"Setidaknya mamak bisa memastikan aku berkembang di lingkungan yang baik. Ini udah lebih cukup kok" kataku mencoba menenangkan

Tapi kemudian mamak pergi meninggalkan obrolan kita dengan seunting senyum. Aku tak mengerti arti senyumnya itu. Tapi aku berharap, aku tak salah mengucap. Jujur saja, membahas ini membuatku kebingungan. Tak seharusnya aku memulai perkataanku seperti itu.

Aku tahu tidak semua orang beruntung di segala hal. Tapi pasti ada satu. Termasuk aku. Aku terlahir di keluarga dengan pendidikan yang minim. Bapak dan Mamakku bahkan tidak berpendidikan tinggi. Tapi alhamdulillah, aku bisa sampai di Diploma III. Kuasa Allah memang Masyaallah. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung dunia dan akhirat.

Salam Literasi

----------------------------

#Day22
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Minggu, 26 Mei 2019

Gadis Kecil di Malam Itu

Semalam, gelap ku telisik dan ku terangi dengan sorot lampu scoopy yang ku tunggangi sampai ke tengah kota. Malam tadi bintang begitu setia menemani bulan yang bulatnya mulai tidak sempurna. Aku memacu diri ditemani udara yang dinginnya menusuk meski kain berlapis telah membalut tubuh lusuhku. Dan kemudian langkahku terhenti di kerumunan keramaian yang tetap saja membuatku merasa sepi. Aku bergabung bersamanya. Bersama pemandangan anak-anak kecil yang berlarian begitu bahagia di alun-alun kota sambil dipandang dan diperhatikan ayah ibunya. Bahagia sekali sepertinya. Tapi seperti teriris, lukaku sudah lebih abadi sebagai bekas. Aku menangis tanpa suara, meratap menyesali takdir yang tak pernah ku ingini. Aku berhenti sesekali. Berhenti menyesali apa-apa yang tak ku ingini. Sebentar saja, tapi kadang berulang. Setiap aku tahu diri, hatiku ramai mengucap syukur kepada Sang Ilahi.

Setidaknya aku masih diberikan nyawa. Setidaknya aku berhasil mendewasa meski jiwaku kadang mengerdil. Setidaknya malam tadi aku diberikan kesempatan untuk bisa berada disana, memandang apa saja yang ada dihadapan, juga mengucap syukur sebanyak-banyaknya. Tersadar tentang hakekat bahagia. Bahwa tak harus diri sendiri yang merasakannya melainkan dengan melihat orang lain mendapatkannya, hati sendiri juga bisa merasa bungah.

Semalam, aku duduk agak menepi di tengah alun-alun kota bersama wanita seumuranku. Kami bercerita tentang apa saja. Termasuk hari-hari yang telah berlalu, masa depan, menikah, dan kemudian menikmati kebersamaan bersama sampai maut memisahkan. Dia menceritakan mimpinya, aku juga. Tapi sedikit. Menyenangkan sekali menjadi pendengar setianya. Aku bahagia tapi sekaligus kebingungan. Ketidakmampuanku untuk melupakan ketakutanku, menjadikanku tenggelam dalam bayang-bayang masa lalu kelam itu.

Anak kecil itu berlarian. Cantik, manis, dan sepertinya dia bahagia. Malam tadi, dia berhasil menghabiskan malamnya bersama bapak dan ibunya. Aku tersenyum, merayu hati agar mampu tersenyum atas kebahagiaannya. Tapi susah. Malah aku dihampiri rasa rindu. Kepada siapa? Aku kurang bisa menjawab. Tapi aku pikir, aku merindukan berada diposisi anak manis itu. Ada bagian dari hidupku yang kembali memasuki ruang-ruang kosong dipikiranku.

Entah kapan terakhir aku merasakannya. Rasanya sudah lama sekali. Tapi aku masih beruntung. Adikku malah tidak sempat. Tapi sebagai anak laki-laki, aku pikir dia lebih mampu tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya menangis. Tidak seperti diriku yang rapuh ini. Keinget sesuatu sedikit langsung baper, berubah mood, dan berujung menangis. Dasar aku, cengeng.

Menyaksikan anak-anak itu berlarian, aku termenung. Terdiam dalam sebuah lamunan yang menyesakkan. Seperti kembali ke masa 17 tahun sebelum ini, aku terbayang kembali menjadi seorang putri kecil yang berlarian jauh kemudian kembali ke pelukan mamak sambil disambut senyum bahagia bapak. Tapi tiba-tiba hujan turun. Aku berlari mencari sesuatu yang teduh. Temanku juga. Orang-orang juga, termasuk gadis kecil yang menjadi perhatianku semenjak dia berlari. Kami berebut, sama-sama ingin melindungi diri. Tapi aku, kehilangan gadis kecil itu. Padahal aku ingin menghampirinya. Aku ingin tahu namanya, ingin berjabat tangan dengannya dan kemudian membisikkan sesuatu yang manis padanya.

"Kamu beruntung dan semoga selalu beruntung.
 Tetaplah menjadi manis gadis kecil"


Aku juga ingin menyampaikan lusuh pikiran yang memenuhi pikiranku sebelum hujan membasahi kepada ayah dan ibunya.

"Putrimu cantik. Dia manis dengan senyum yang dimilikinya. Jangan dirusak ya. Jangan jadikan dia sepertiku"

Tapi hujan memporak-porandakkan rencanaku. Aku kehilangan mereka dan juga meninggalkan jasuke yang ku nikmati sedari tadi. Akhirnya temanku mengajakku pulang dan kebetulan hujan sudah reda. Dia bahkan tidak pamit. Persis seperti ingatan lusuh yang melintas dipikiranku malam tadi. Menyebalkan memang.

Dan laju motorku kembali membawaku bersama temanku menuju tempat kami pulang. Jalanan malam tadi remang-remang ditemani sorot lampu yang berjejer di tepian. Kami menikmati akhir kebersamaan kami malam tadi dengan hangat pembicaraan yang mengalahkan dingin udara yang berhembus dijalanan.

"Everything will be okay. Gadis kecil itu akan bahagia dengan ayah ibunya" katanya memulai

"Apa? Kamu bicara apa?" tanyaku terpojok

"Aku memperhatikan sorot matamu sedari tadi. Tidak usah mengelak. Aku tahu" katanya

"Emmhhhh aaaa hmmm"

"Apa? Gengsi mengakui?"

"Aku kan kangen" kataku sambil mewek

"Nah kan"

Air mataku luruh. Wajahku hampir semuanya basah. Apa yang ku tahan, tak bisa lagi tertahan. Tangisku pecah bersama dengan gerimis yang tiba-tiba turun menemani perjalanan kami. Dia menenanganku sambil menertawakan tingkahku yang menurutku memang sudah tidak pantas lagi. Tapi aku bisa apa? Semuanya datang dengan sendirinya. Tanpa ku minta. Tanpa dimulai dengan sapa. Jangan dihakimi. Tidak ada yang tahu bagaimana jadi aku kecuali aku. Tolong mengerti.

Selalu ada yang diam-diam memperhatikan. Entah kita sadari atau tidak. Entah kita terima atau tidak. Mari sama-sama belajar untuk menjadi yang mengerti. Akan selalu ada yang menggantikan apa-apa yang hilang darimu. Seperti dia orang-orang lama yang hilang dari hidupmu, terganti dengan orang baru yang mungkin bisa jadi lebih seru, lebih membahagiakan, dan lebih bisa memelukmu dari kemelut hidup yang menghampirimu.

Percaya padaku.

Salam Literasi

-------------------------

#Day21
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Sabtu, 25 Mei 2019

Wanita dan Keahlian Memasak

Kata orang-orang, wanita itu kudu bisa masak. Supaya kalau sudah berumah tangga suaminya betah di rumah katanya. Kata siapa entah. Aku tak begitu ingat. Terlalu banyak yang mengatakan seperti itu. Baiklah aku paham, tapi tidak semuanya ku benarkan. Memasak bukan hanya cara satu-satunya untuk membangun suasana nyaman bagi suami, anak-anak, dan semua anggota keluarga.

Restoran dan warung sekarang ada dimana-mana. Tinggal uangnya aja, ada atau enggak. Ibu-ibu di kantorku juga jarang masak, tapi rumah tangganya harmonis. Yang penting tiap suami dan anak-anaknya pulang dan ingin makan, di rumah sudah tersedia makanan. Ini yang seharusnya diperhatikan. Pintar memposisikan diri. Benar kan?

"Nggak bisa masak nggak papa yang penting bisa mijit"

"Suami tuh nyari istri, enggak nyari koki ya kan?"

Dan masih banyak lagi kata-kata yang terucap dari kami masing-masing. Lumayan lah, cukup untuk menenangkan hati. Setidaknya, aku tidak sendiri melakoni diri sebagai wanita yang belum pandai memasak. Tapi percayalah, aku pasti akan belajar memasak sampai jadi ahli. Insyaallah.

Semalam aku dan teman-teman kantor seusiaku mengadakan buka puasa bersama. Kami berunding berhari-hari dan akhirnya memutuskan untuk masak sendiri menu buka puasa yang akan kami nikmati sendiri. Kami berenam, perempuan semua, dan tidak ada yang benar-benar ahli masak. Istimewa, bukan? Aku pikir iya. Tapi jangan anggap kami ini tidak idaman. Ada sisi lain yang memaksa kami menjadi ahli, tapi belum dengan memasak. Mungkin setelah ini akan jadi ahli. Yang pasti setelah kami sering belajar dan saling menilai hasil masakan kami masing-masing.

Dan ini adalah hasil dari masak bersama kami sore tadi. Bening bayam, lele goreng, tempe goreng dan mendoan, sambel kecap dan sambel bawang, nasi, krupuk,  teh anget, dan es buah berhasil kami buat dengan proses yang cukup drama. Dari mulai caraku memotong labu untuk campuran sayur yang terlalu tipis, sampai rasanya yang kurang asin. Sebenarnya bukan pelit garam. Hanya saja, aku takut dikatain kebelet nikah gara-gara masak keasinan. Ahhh bukan, ini hanya alibi. Aku memang sering was-was ketika menakar garam dan gula ke masakan. Apalagi ditambah dengan tidak mencobanya setelah matang. Akhirnya mengira-mengira menjadi jalan satu-satunya. Meskipun memang rasanya masih kurang pas.

"Ketahuan banget nih. Amatiran" kataku menggerutu.

Sepertinya setiap pergerakanku hampir semuanya kena omel sama mereka. Apalah itu, aku terima sebagai pembelajaran hidup. Semoga di agenda masak selanjutnya aku bisa lebih baik lagi ya.

Drama kedua dilanjutkan saat menggoreng lele. Gorengan pertama agak gagal. Lele menempel dengan wajan yang kami pakai untuk menggoreng. Aku pikir, karena minyak goreng yang kami pakai kurang banyak, sedangkan lele yang kami masukkan terlalu banyak. Kemudian hasilnya agak sedikit hancur. Saking besarnya semangat yang kami punya, lele dipenggorengan kami bolak-balik sampai akhirnya kami memutuskan untuk meniriskannya diatas piring. Seharusnya lele kami biarkan dan sesekali kami balik ketika menggoreng. Baiklah, koreksi.

Drama ketiga dilanjutkan dengan tempe. Sebenarnya rasanya sudah pas. Aku hanya ingin menceritakan tentang keributan kami ketika hendak menggorengnya. Dimulai dari memastikan bumbu yang akan digunakan sampai bentuk tempe yang akan dipotong semuanya jadi masalah. Aku kesal, tapi sekaligus merasa lucu. Jadi keinget Mamak tiap masak di rumah. Mamak selalu keberatan setiap aku ingin membantunya di dapur ketika beliau memasak. Tapi anehnya Mamak selalu menggerutukan aku yang jarang sekali memasak. Pernah suatu ketika, Mamak masak botok pindang. Mamak memanggilku, meminta tolong padaku untuk memarut kelapa dan mengulek sambal. Setelahnya aku disuruh kembali, tapi aku enggan.

"Udah, sana nonton TV lagi aja ndok" katanya

"Enggak ah. Mau ngelarin ini aja" kataku

Mamak tetap keberatan. Katanya aku merepotkan dan hanya akan memperlama proses memasaknya siang itu.

"Lhah mau ngapain? Kan udah kelar" katanya memaksa

"Lhah ini belum kelar si mak. Lagian mamak nih ribet banget. Aku nggak bisa masak diomongin, giliran mau bantuin masak diusir-usir. Gimana sih mak mak?"

"Emang bisa ngelarin kamu?"

"Bisa lah. Ginian doang kali mak"

Mamak pergi meninggalkanku di dapur dengan segala proses dan bahan yang tersisa dihadapan. Agak bingung sebenarnya. Takut masakannya nggak jadi atau malah rasanya yang jadi nggak karuan.

"Ginian doang kecil kali mak. Ngeremehin aku banget nih. Nggak tahu apa, tiap mamak masak aku curi-curi nyari tahu resep sama cara masak. Dihhh sebel" kataku menggerutu

Tapi alhamdulillah botok pindang hasil dari kesombonganku jadi dengan rasa yang tidak terlalu buruk bagi ukuran pemula sepertiku. Rasanya senang. Aku jadi percaya kalau aku sebenarnya pandai memasak, hanya saja aku tidak mau sombong. Halah ven ven, pinter banget nenangin diri. Huahhhhh

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku memasak. Dulu pas masih jadi anak kos, aku sering masak di kos. Menjadi mahasiswa akhir, membuatku malas keluar kos dan lebih sering menyelesaikan revisian hasil dari bimbingan. Seminggu sekali aku pergi ke tempat tukang sayur dan membeli beberapa bahan masakan. Setiap lapar, aku pergi ke dapur memasak. Entah telur dadar, telur ceplok, mie rebus, mie goreng, tempe goreng, tahu goreng, sarden, nugget, atau bahkan sossis. Ini cukup membantu mengganjal perut, sampai ajakan keluar untuk makan datang dari teman-temanku.

Percaya aku hanya bisa memasak itu? Tidak. Tolong perluas pemikiranmu tentang aku. Kadang di kos, aku memasak sayur atau juga menumis sesuatu. Mengurus diri sendiri, aku tak pernah ingin ribet. Yang penting nasiku tak sendiri masuk ke perut. Satu macam menu masakan dengan nasi cukup untukku. Mengurus diri sendiri memang semudah ini. Yang penting kita bisa mengerti apa maunya diri.

Jadi ingat masakan pertama yang aku masak di kos. Waktu itu aku ingin membuat tumis tempe dicampur dengan beberapa sayuran. Aku pergi ke dapur kos, menyiapkan bahan dan alat memasak dan kemudian memulai memasak. Api kompor ternyata terlalu besar, akhirnya hasil masakanku gosong. Bergegas aku membereskan dapur dan membawa hasil masakanku ke dalam kamar. Aku memandangnya berulang. Begitu hitam dan pahit rasanya. Ingin ku buang, tapi jatah uangku sudah minim.

"Ya Allah, masakanku gosong dan pahit. Uang jatah makanku sudah kepotong untuk membuat ini. Tapi masa iya, aku makan ini" kataku meratap

Akhirnya hari itu aku makan nasi dengan masakan tumis tempe gosong buatanku. Aku bercerita kepada mamak dan teman-temanku. Jangan ditebak bagaimana setelah mendengar ceritaku. Tentu saja mereka menertawakanku dengan tega. Tapi aku beruntung, aku mendapat banyak saran untuk masak selanjutnya. Akhirnya hari setelahnya aku mencobanya lagi dengan api yang lebih kecil tentunya. Alhamdulillah, belum sepenuhnya sempurnya, tapi untuk ukuran pemula menurutku ini sudah lebih dari cukup. Aku senang sekali.

Dari memasak aku belajar banyak hal. Keikhlasan hati dan kemauan belajar dibutuhkan demi menyajikan sebuah hidangan yang tentu saja harus dibumbui oleh banyak cinta. Masakan adalah simbol dari kasih sayang.

Yang ingin ku sampaikan kepada wanita-wanita yang belum ahli memasak, jangan sedih. Jangan khawatir tak bisa menyenangkan suami karena tidak pandai memasak. Masih banyak cara yang bisa kita gunakan untuk menggantikan itu. Dan semua akan menjadi ahli, asal mau belajar. Kita sama kok, bahkan Mamakku juga begitu.

"Mamak dulu tuh orang yang paling malas masak di rumah. Tapi abis nikah, jadi pinter sendiri ndok. Ndok besok juga gitu. Yang penting mau belajar aja" kata Mamak

Tuh kan, dengerin. Yang penting kita mau belajar. Ok?

Salam Literasi.

-----------------------------------

#Day20
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....