Senin, 27 April 2020

Romantika Orang Dewasa (3)

"Manusia banget sih kamu, sedih melulu" kataku kepadanya.

Dia perempuan, seumuran denganku, agak nyablak tapi baik, masih jomlo, dan sedang sama meratapnya denganku. Sebenarnya sudah lama aku dan dia tidak bertemu. Mungkin selepas wisuda sekitar 2 setengah tahun yang lalu. Tapi meski begitu, kita tetap saling mengganggu via chat WA.

"Sesungguhnya aku tidak terlalu bahagia seperti postinganku. Tapi ya syudahlaa, ahh aku jadi pengen ketawa haha" sahutnya.

Aku tertawa membaca chat terakhirnya. Membacanya menjadikanku berfikir bahwa memang selain banyak yang harus digapapain, hidup juga banyak yang harus diketawain. Bukan, bukan karena lucu. Tapi karena memang udah nggak habis pikir aja sama apa yang sudah-sudah. "Kok bisa? Lhah bagimane ceritanye? Lhah nggak jelas. Lhah yaudahlahhya terserah." gerutuku setiap merasakannya.

"Lhah sama, aku juga tidak sebijaksana postinganku. Serius, aku pengen jadi cah cilik lagi. Sakit akutuu jadi dewasa haha" kataku mencoba menyamai perasaannya.

"Aku pengen mainan masak-masakan aja nih. Jadi dewasa ribetnya nggak ketulungan. Ngorbanin perasaan nggak ada abisnya hihhhh" katanya kesal.

Aku tertawa (lagi). Kali ini lebih kepada merasa tidak tahu diri. Dulu masih kecil, aku meratap minta jadi kaya orang-orang tua yang kelihatannya dewasa itu. Tapi setelah sampai ditahap yang pernah ku mau itu, aku ketakutan dan mulai merengek minta kembali saja ke masa lalu. Waktu masih imut, masih lucu, masih lugu tanpa risau memikirkan ini itu. 

Kata orang-orang dewasa adalah pilihan. Kata orang-orang dewasa adalah tuntutan. Kata orang-orang dewasa adalah keharusan. Tidak ada jawaban yang mutlak. Setiap orang punya versi terbaiknya masing-masing.

Dulu aku membayangkan bahwa dewasa adalah sebuah pilihan. Aku bisa memilih menjadi apapun, pergi kemanapun, berhubungan dengan siapapun, dan dengan cara bagaimanapun. Aku bebas, merdeka sebagai seorang hamba. Tapi ternyata aku tidak sampai kepada bayanganku itu. Sepanjang perjalanan hidup yang aku lalui, dewasa bukan lagi sebagai pilihan. Dewasa adalah sebuah keharusan, juga tuntutan. Ya tentu saja ini membosankan. Banyak yang menjadikan diri sendiri menjadi terpaksa tanpa ada sebuah opsi pilihan. Padahal sebenarnya, sama saja. Karena sesungguhnya orang-orang dewasa itu hanyalah anak-anak kecil yang terpaksa menua. Yang usianya mau tidak mau bertambah dan kemudian memaksa orang-orang itu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada.

"Aku juga, sama. Tapi kita masih bisa main masak-masakan kok, tapi ya kudu jaga perasaan. Wkwkwk"

"Bercandamu.......... tidak lucu hah" katanya kesal.

"Jadi, beginilah rasanya setelah menjadi dewasa." kataku melanjutkan.

"Apa?"

"Oh tidak, maksudku menua."

"Ahh ya, itu...... lebih tepat"

Menua? Ya, ini memang istilah yang lebih tepat daripada menamakan diri dewasa tapi ternyata tidak dengan kenyataan yang ada. Kalau kita sedang ingin sesuatu dan tidak berkesempatan mendapatkan kemudian ingin menangis, menangis saja. Kalau kita sedang lelah kemudian mencari ibu, ayah atau siapa saja yang kita mau, datang saja. Ceritakan apa yang sedang kita rasakan juga yang kita inginkan. Yang membuat kita jatuh, yang bahkan ingin membuat kita menjadi gila. Lakukan saja apa yang kita mau. Bebaskan diri, jangan terlalu melawan masa bodoh.

Tapi satu yang harus selalu kita ingat. Datanglah kepada orang yang tepat. Yang bisa mengerti, yang tidak enggan menjadikan dirinya pendengar setia, yang bisa menemani, yang bisa membalut luka hati dan kemudian akan lebih bisa menjadikan kita bahagia setelahnya.
Atau kalau tidak, kita akan tahu siapa yang lebih tidak dewasa daripada apa yang telah kita lakukan dihadapannya. Haha

Karena sesungguhnya, dewasa itu hanyalah perkara tahu diri. Mengerti mana yang harus jadi prioritas. Mengerti bagaimana cara menyesuaikan dan membawa diri. Mengerti tanggung jawab terhadap resiko hidup. Mengerti bagaimana cara menghadapi apa saja yang datang dikehidupan ini.

Dewasa itu bukan soal umur. Pun bukan soal menilai. Dewasa itu bukan hanya pilihan. Dewasa itu keharusan dan tuntutan. Dewasa itu soal berfikir juga penerimaan terhadap diri sendiri atau bahkan kepada apa saja yang sedang dihadapi. Dewasa itu menghargai. Dewasa  itu menjaga. Dewasa itu, apa yang sedang kita lalui.

Jadi mari bergandengan tangan. Mari menua bersama dan menuju puncak dewasa itu. Semoga berhasil. Allah Yuftah Alaikum.

---------------------------

Salam Literasi

#Day (5)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Minggu, 26 April 2020

Tips Berteman Ala-Alaku

"Apa itu teman?"
Teman itu aku dan kamu. Ya, kita itu teman. Orang-orang yang kita kenal, yang ada di sekitar kita itu teman.
Yang kenalan jabat tangan atau sekedar say hello via sosial media itu teman. Yang sudah lama atau yang baru saja kita kenal itu teman.
Yang datang membagi bahagianya itu teman. Yang datang menangis dan sering menyusahkan kita itu juga teman.
Yang jadi sahabat kita itu teman. Yang jadi pasangan kita juga teman. Bapak, ibu, saudara? Mereka juga teman. Bahkan yang sudah terlanjur menjadi musuh kita juga teman.
Yang suka ndengerin celotehan itu teman. Yang bikin jadi terpaksa jadi pendengar juga teman. Yang suka berbagi pengalaman, yang suka ngasih wejangan, yang suka bikin seneng atau malah kesel itu juga teman.

Aku ini temanmu, kamu itu temanku. Kita itu teman. Aku mengenalmu, kamu mengenalku. Kita saling kenal, meski hanya sekedar tahu nama.

"Lalu menurutmu bagaimana cara berteman yang baik?"

Jadi hubungan pertemanan yang baik menurutku itu adalah hubungan yang bisa buat kita sebagai pribadi yang kurang baik bisa jadi baik dan kita sebagai pribadi yang udah baik jadi lebih baik lagi. Ya baik cara berpikirnya, baik imannya, baik hatinya, apalagi keuangannya. Hehe bercanda. Tapi serius.

Tapi ya namanya juga manusia, sedikit tapi pasti banyak salahnya. Ya lemes tutuknya, ya kusut isi otaknya, ya kaku hatinya, ya tipis isi dompetnya, ya apalagi yang mesti ku sebut. Aku pikir, masing-masing dari kita sudah lebih paham mengenai ini.

Ya, beginilah medan perjuangan kehidupan. Lewat hal-hal menyebalkan yang bahkan nggak pernah kita bayangkan, kadang malah bikin jalan kita kembali lurus, sudut pandang kita jadi lebih banyak, hati kita jadi nggak berteman dengan kaku, dan senyum? Tentu saja jadi indah merekah.

Dan dari sekian banyak yang ada di hati, sebagai teman yang baik, kalian mungin akan tetap menjadi salah sekian minoritas yang sering dicari. Teman adalah salah sekian hal yang ketika tidak ada dihadapan, kita jadikan sebagai pencarian. Kemudian ketika ada dihadapan, kita jadikan sebagai sasaran. Benar kan?

Jadi begini, sehalu apapun kita, kita tetap butuh seseorang sebagai teman. Ya, aku tetap butuh kamu, mereka, juga kalian sebagai teman. Entah akan menjadi sebagai yang aku cari atau malah yang lebih dari itu. Ya memang begitulah kenyataannya. Berteman memang harus begitu teman. Jangan bosen berteman ya. Nanti jadi sepi dan sendirian karena nggak punya teman. Haha.

Bersamaan dengan kata maaf, sebagai teman yang baik, aku ingin mengingatkan satu hal kepada teman-temanku yang budiman. Jadi teman, berjanjilah untuk lebih banyak memanjatkan syukur kepada-Nya. Jangan lupa minta yang lebih baik, lebih banyak, lebih segalanya, dan lebih menjadikanmu dekat dengan-Nya. Mintanya sambil nangis, sambil yakin, biar Allah cepet ngabulin.

Ahh terlalu berbelit, padahal sebagai teman aku cuma pengen ngomong:

"Kalau sebagai temanmu, aku belum bisa bikin kalian jadi lebih baik, berarti kalian yang kudu bikin aku lebih baik. Kalo ternyata susah, ya usaha. Masak gitu doang nyerah? Katanya sayang?"

Jangan bilang makasih ke aku. Aku cuma berusaha menjadi baik. Tapi kalau ternyata aku beneran jadi baik, itu keberuntunganmu. Aku tidak memberikan apapun kepadamu. Tidak sebelum ini, tidak sekarang, dan tidak juga setelah ini. Semua akan tetap berjalan apa adanya. Sebisaku semampuku, begitupun denganmu.

Ambillah keuntungan yang banyak dari ini semua, maksudku dari pertemanan yang sedang kita bangun dan rawat ini. Ambil sesukamu, bebas dan sebanyak yang kalian mau. Aku akan dengan senang hati menyerahkannya kepadamu (kalau aku mampu dan aku juga mendapat keuntungan dari itu).

Tapi sekali lagi, tidak usah bilang makasih/suwun/thank you dan semacamnya. Karena aku yang akan lebih dulu mengatakan itu kepada kalian.

"Terimakasih telah sudi bergabung dalam usahaku menjadi baik teman-teman."

Demi-kian dan aku sayang kalian sebagai teman.

Selamat siang.

------------------------------

Salam Literasi

#Day (4)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah






Sabtu, 25 April 2020

Romantika Puan Yang Sedang Jatuh Cinta (1)

Aku tidak tahu bagaimana harus memulai. Aku juga tidak tahu apa dulu yang harus aku mulai. Aku bahkan tidak tahu apakah ini bisa benar ku mulai atau sebaiknya tidak usah. Ya, aku terlalu banyak bertanya kepada diriku yang tidak mahir menjawabnya.

Malam ini aku ingin terbang ke atas langit. Aku ingin menari-nari dengan riang bersama bintang-bintang. Dan kemudian beristirahat sejenak di tubuh bulan sabit yang ku pandang indah serupa senyummu. Nyaman sekali sepertinya, aku tersenyum memandangmu dari jauh.

Oh hai, bersediakah kau genggam tanganku? Sebentar saja. Dan kita mainkan lagu romantis milik siapa saja untuk mengiringi dansa perdana kita. Lalu kita akan menjadi sepasang yang bahagia. Berdua seperti cerita romansa orang-orang yang sedang jatuh cinta. Oh kau, sungguh aku tak bisa berhenti mendambamu.

Semesta kepalang baiknya ya? Dipertemukannya aku denganmu, ya meski pada kenyataannya kau masih sekedar seseorang yang hanya bisa ku damba. Tidak apa-apa, setidaknya aku pernah bahagia bisa menemukanmu diluasnya semesta ini. Aku beruntung bukan? Ya, tentu saja. Kau juga, seharusnya. Kita sama, dalam hal yang berbeda.

Sekarang kita sudah saling jauh. Padahal aku belum sempat mengatakannya atau mungkin sekedar menanyakan tentang ini semua. Sampai didetik aku menuliskan ini, aku bahkan belum mengerti apa ini. Suka, kagum, atau malah cinta. Cinta yang apa adanya atau yang hanya sebatas ekspektasi belaka. Haha memangnya apa itu cinta, ahhh aku hampir putus asa menjawabnya sendirian.

Jauh di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak ingin menyesal karena tidak menjadikan kamu tahu ini semua. Tapi aku butuh cara untuk bisa menjadikanmu baik-baik saja setelah mendengarnya. Kau tau, aku bukan tipe wanita idamanmu. Dan aku tahu, aku belum cukup pantas untuk bisa membersamaimu. Aku cukup tahu diri untuk menyadari ini semua. Aku cupu ya? Belum berjuang, tapi sudah terkesan menyerah. Ahh aku memang payah berurusan dengan cinta.

"Bagaimana rasanya" tanyanya singkat.

"Biasa saja (tapi agak lain setiap mengingatnya)" kataku menjawab.

"Apa susahnya si menyatakan cinta?" katanya.

Kataku takut berkata-kata. Aku membisu seketika sambil bertanya-tanya mengenai apa saja.

"Apa yang akan terjadi setelahnya?"

Ya, siapa yang tahu akhirnya? Aku bahkan belum dan entah kapan akan siap menerima segala kemungkinan yang ada. Kau tahu bukan, membicarakan ini tidak akan menjadi sesederhana yang semestinya.

Kau tahu? Sepanjang waktu ku ketuk hatimu. Ku bisikkan lembut di kedua telingamu dari jauh, sebuah tanya yang entah kapan akan ku dapatkan jawabnya.

Kau tahu? Sejauh apapun kau, kedua mataku tak pernah bisa meninggalkanmu. Ku pandang apa saja yang bisa ku pandang tentangmu. Sesuatu yang lama ku tahu, yang mulai ku tahu, dan tentu saja yang belum ku tahu.

Kau tahu? Kedua mataku basah mengingatmu. Mengingat ketidakberanianku untuk bicara jujur kepadamu. Kau, andai kau tahu bagaimana rasanya. Seperti memaksa menggenggam sebuah pisau tanpa penghalau, tanganku berdarah, tapi aku tidak bisa begitu saja melepaskannya. Aku terjebak, kau telah menjadikanku terjebak.

Kau mungkin tahu bahwa aku suka menulis. Tapi aku tidak tahu, mungkin kau juga suka membaca. Tapi aku tidak yakin kau singgah untuk membacanya sebentar. Atau pernahkah kau membaca sajak amatirku? Aku sering menyampaikan beberapa hal untukmu. Mungkin kau pernah merasakan itu untukmu, atau baiklah lupakan saja. Aku hanya sedang menerka-nerka saja.
Tapi ada yang perlu ku sampaikan. Bisa minta waktumu sebentar? Sebentar saja. Atau  baiklah, tidak jadi, maaf mengganggumu.

Ahh tapi baru saja aku mengingat itu. Aku harus menyampaikannya padamu sekarang. Atau mungkin besok. Kau ada waktu? Oh ya tentu saja, aku membuang waktumu sekarang. Maafkan aku.

Hei, sebentar. Tapi aku sungguhan. Ada yang perlu kau tahu dariku. Sesuatu yang ku sembunyikan dari dulu. Kau mungkin sudah tahu, atau kau sengaja menghindar dariku, atau sebentar, sepertinya aku terlalu pandai menyembunyikan itu. Aku bahkan tidak berhasil menjawab pertanyaanku sendiri. Maaf, tapi aku pikir, aku mengganggumu lagi.

Tapi ini penting, bertahun-tahun ku rawat siksaan ini. Tidak apa-apa, akan ku lakukan apapun demi membuatmu tetap menjadi baik-baik saja. Bukankah kau adalah pusat dunia? Dunia milik orang-orang yang menaruh cinta dan sayangnya untukmu. Rekah senyummu adalah satu yang menjadikanku hidup. Oh ya, tentu baru saja aku mengakui itu kepadamu.

Hei, aku bingung harus memulainya dari mana. Aku takut, aku takut membuatmu terluka atau tidak nyaman. Tapi ketahuilah, aku tak pernah berniat melakukan itu kepadamu. Aku hanya ingin itu, sesuatu yang tak pernah kau beritahukan kepadaku.

Setiap hari, setiap detik yang terpaksa ku nikmati, setiap itupun pertanyaan itu muncul dibenakku. Tak berhenti disitu, aku menjadi semakin pilu, tanya itu menuntut jawab, sedang jawabnya ada padamu.

Dan katakanlah kepadaku apa yang harus ku lakukan untuk itu? Aku harus tetap baik-baik saja bukan? Ya, sama dengan yang ku upayakan untukmu. Tidakkah kau bersedia membantu? Aku menunggu jawabmu.

Tapi biar, aku tak akan menuntut lagi. Setidaknya sudah pernah sampai kehadapanmu puan malang yang mencintaimu. Sesuatu itu, biar berlalu. Biar tetap akan menjadi rahasia. Karena kita sama, kita adalah dua pemuja rahasia yang berkemungkinan berbeda.

--------------------------------------

#Day (3)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Jumat, 24 April 2020

Seperti yang Seharusnya

Dibilang tahu, aku tidak begitu tahu. Dibilang tidak tahu, aku pernah sedikit tahu. Tapi ya daripada berakhir sok tahu, mending aku pura-pura tidak tahu.

Aku ingat bagaimana aku ketika menuliskan ini. Agak kacau, riweh, tapi aku tetap kekeh bilang

"Aku akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja. Semesta baiknya tiada tara. Allah Maha Baik kepada hamba-Nya. Yang tenang, yang nerima, yang banyak syukur, yang sadar diri jadi manusia, ngerti ya?".

Dan sekarang aku jadi jauh lebih baik daripada apa yang aku pikirkan sebelumnya. Aku mendapatkan lebih dari apa yang aku minta, dan aku lebih bahagia daripada apa yang aku terka. Bahwa aku cukup hebat. Jatuh, gagal, patah, luka, air mata, derita, dan apa saja yang sempat menjadikanku terpuruk, kini sudah berhasil jadi cerita.

Sebenarnya setiap dari kita itu sempurna, dengan cara yang kita punya, tanpa perlu orang lain tahu kebenarannya. Mengertilah, bahwa semesta sudah melakukan yang semestinya. Percayalah pada dirimu sendiri, biarkan hati yang berbicara dan biarkan narulimu mengikuti kata hati.

Begini, aku pernah. Tidak hanya sehari, tapi berhari-hari, atau mungkin lebih dari apa yang hanya aku akui disini. Aku bingung dengan diriku sendiri. Aku merasa tidak begitu cantik, tidak terlalu pandai, tidak bijaksana, tidak dewasa, tidak begitu berguna, tidak ada harganya, dan banyak lainnya. Aku bahkan ingin berubah, menjadi seperti mereka yang ku pikir bisa diandalkan. Tapi ya ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Aku hanya sempat tidak mengerti, bahwa sebenarnya aku sudah seperti seharusnya. Seperti semesta, aku sudah cukup melakukan yang semestinya. Ya, aku telah mengikuti jatah hidup yang telah ditentukan-Nya.

Kadang, kita hanya terlalu banyak berfikir, menjadi pusing, dan kemudian terjebak di pikiran kita sendiri. Lalu kemudian kita ingin lari dari itu semua, tapi ternyata tidak bisa. Karena kita sudah terlanjur menjadi tawanan atas diri kita sendiri.

Bertanya pada diri sendiri "apa yang harus ku lakukan?"

Tapi kita masih saja terdiam, berteman dengan ketakutan, dan lalu berpikir kalau diri kita ini bukan siapa-siapa, kita bodoh, dan tidak berguna. Ya, kita memang benar-benar mengakuinya. Harus mengakuinya. Tapi tak apa, ini benar-benar wajar. Kita tidak boleh merasa repot dengan diri kita yang sering kebingungan ini. Kita manusia. Kita berhak sambat sebanyak-banyaknya.

Sekarang, mari kita nikmati bahagia yang ada. Mari kita terpejam sesaat dan bisikkan sesuatu yang layak untuk diri kita yang gemar kehilangan arah ini. Dia layak menerimanya dan kita sudah semestinya melakukannya.

"Terimakasih telah menemaniku sejauh ini duhai diri. Aku mencintaimu, aku bangga memilikimu. Bertahan terus ya, minimal seperti ini, atau kita bisa melakukannya dengan lebih baik, lebih bahagia, lebih hebat, dan lebih bersahaja lagi. Maaf ya, suka bikin kamu repot karena ego. Kamu tahu kan, butuh belajar seumur hidup untuk bisa jadi manusia yang diterima (ya minimal hanya diantara kita sendiri)? Haha"

Bagaimana? Sudah lega kan? Sudah tahu kan sekarang harus bagaimana? Aku tahu ini bukan sesuatu yang mudah. Aku tahu tidak mudah menjadi seseorang. Aku tahu tidak mudah menjadi diri sendiri. Aku tahu tidak pernah mudah untuk bisa memahami. Ya, aku tahu tidak pernah ada yang bisa mengerti, kecuali diri kita sendiri. Tapi kita harus menjadi seperti yang seharusnya. Menerima dan bahagia menikmati apa yang menghampiri kita.

Sekali lagi, selamat menyambut kejutan-kejutan hidup yang sering tidak tertebak ini. Dan jangan lupa bahwa kita harus bisa menjadi baik. Minimal sekali, dan kita boleh mengulangnya berkali-kali.

----------------------------------------

Salam Literasi

#Day (2)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah





Kamis, 23 April 2020

Sesederhana, Menerima

Pernah merasa tiba-tiba sedih, kacau, nangis sendiri, dan lemah selemah-lemahnya? Padahal tidak sedang terjadi apa-apa denganmu. Padahal kamu baru saja tertawa riang bersama seseorang yang sama riangnya denganmu. Padahal kamu sedang membayangkan sesuatu yang indah. Tapi kamu pikir kamu sedang tidak benar-benar baik-baik saja. Kamu teringat dan terbayang sesuatu. Tapi kamu masih mencoba untuk kuat, sampai akhirnya emosimu memuncak dan kamu tidak bisa lagi memperlihatkan bahwa kamu baik-baik saja. Pernah menyadari ini tidak? Bahwa kamu pernah serandom itu. Ya, beberapa tidak menyadarinya dengan baik. Mungkin, kamu jadi salah satu diantaranya.

Masih ingat kapan terakhir kali kamu merasa terluka? Masih ingat penyebabnya? Masih ingat bagaimana cara menyembuhkannya? Masih ingat kapan terakhir kali bertanya kepada dirimu tentang 3 pertanyaan sebelum ini? Masih ingat jawaban apa yg kamu temukan? Atau malah semuanya begitu saja terlupakan?

Baik, simpan jawabanmu tuan dan puan. Tidak perlu lagi menanyakan ini berulang. Tidak usah dulu kebingungan. Tidak usah lagi mengartikannya dengan berlebihan. Tidak usah, sungguh kita tidak perlu melakukannya sekarang.

Kita sama (ya mungkin), pernah mengartikan semuanya sendiri dan mungkin juga menghakimi. Kadang sesuatu yang kita inginkan tidak berakhir seperti apa yang kita inginkan. Lalu kemudian menjadikan diri kita ketakutan dan kita terjebak dalam kerumunan tanda tanya yang entah kapan menemukan jawabnya. Kadang aku sendiri tidak bisa menerima itu. Tapi sudah tidak lagi, setelah aku sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang mendapatkan apa yang aku mau. Tapi menerima segala yang telah menjadi kehendak-Nya. Ya, sesederhana itu jawabannya. Menerima.

Kamu tahu, betapa setiap orang memiliki haknya masing-masing? Kamu tahu, betapa dirimu juga berkemungkinan sama seperti mereka? Kamu bermimpi, bercita-cita, dan berkhayal sesukamu. Kamu sedih, bahagia, bingung, cari perhatian, bosen, khawatir, ngomel, diem, hidup, dan tentu saja mati. Ya selalu ada 2 kemungkinan di dunia ini. Iya atau tidak, benar atau salah, berani atau takut, berhenti atau terus, berdua atau sendiri, dan masih banyak lagi. Yang penting kita harus tahu bagaimana setelahnya. Bukan, bukan lari, tapi tetaplah berdiri tegak dengan dirimu dan sambutlah semuanya dengan bahagia. Ini tidak akan lama dan semua akan baik-baik saja.

Kamu tahu? Segala yang lucu kadang datang begitu saja tanpa pernah kita tahu. Lalu kita tertawa atau bisa jadi merasa gila karena tidak sejak dari dulu mengetahuinya.
Kamu tahu? Segala yang menyedihkan sering datang karena kita sendiri yang larut merasakan. Dan kita bersedih, menangis berkepanjangan, juga jadi hobby mengumpat karena kesal meladeninya.
Kamu tahu? Segala yang membahagiakan datangnya sering tidak terkira dan tidak kita sangka. Tiba-tiba saja dia datang dalam bentuk yang sangat sederhana tapi bernilai istimewa, lebih dari apa yang kita harapkan sebelumnya.

Nikmatilah, rasakanlah benar-benar  bagaimana rasanya. Mungkin kita akan tertawa, atau kembali menangis setelahnya, atau bisa jadi kita masih bingung harus bagaimana menjalaninya. Banyak mungkin yang bisa kita terka. Banyak terka yang menjelma sebagai sesuatu yang tak sesederhana atau bahkan serumit yang kita bayangkan. Banyak bertanyalah dan temukanlah satu per satu jawabnya. Tidak harus sekarang juga, bisa nanti, atau mungkin besok, lusa, dan entahlah. Setiap hal punya waktu dan caranya sendiri-sendiri.

Semesta memang gemar sekali memaksa kita untuk sudi paham, menerima, dan melengkapinya dengan syukur yang sebanyak-banyaknya. Tidak peduli seberapa sakit yang kita rasa, tidak peduli seberapa sementara bahagia yang kita punya, tidak peduli juga seberapa rumit kita memikirkan segala kemungkinanya.

Semesta selalu saja mengingatkan kita untuk bisa menjalani hidup ini dengan secukupnya dan sewajarnya. Tidak apa-apa, ini tidak akan menjadi masalah. Karena pada waktu yang telah menunggu, kita akan sampai kepada tanda tanya terakhir.

"Jadi ini jawabannya?" kata masing-masing kita sambil tersenyum lega.

Begitulah kiranya. Dan kemudian sebuah senyum sumringah akan tercipta, segala sakit akan pulih, segala hal akan menjadi indah dan kita akan bahagia.

Ya aku telah melakukannya (lagi) dan ini terhitung yang ke sekian kali. Kiranya kamu ingin juga melakukan hal yang sama denganku. Kamu bisa melakukannya sambil mengulang kalimat awal tulisan ini. Kalau ternyata sekali masih gagal, coba lagi. Kalau ternyata gagal lagi, coba lagi sekali lagi. Kalau ternyata masih gagal, coba lagi berkali-kali. Selamat mencoba. Semoga lekas pulih sakitmu, semoga semakin damai hatimu, dan semoga semakin tenang jiwamu.

-------------------------------------------

Salam literasi.

#Day (1)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#BianglalaHijrah

Selasa, 31 Maret 2020

Sudah Pukul 2 dan Aku Belum Berdua

Diketuk, pintu keheningan terjaga. Suara tuan tampan menggema di kedua telinga. Membuka ruang-ruang bicara, tempat segala tanya berkelebat tanpa berkemungkinan menemukan jawabnya. Entah siapa gerangan, aku remang memandang dan tidak berhasil menemukan.

Pukul 2 dini hari aku bertanya-tanya. "Ada apa?"

Menatap foto-foto lama, dijawabnya. "Tidak ada siapa-siapa"

Mencoba hilang kembali, aku tenggelam. "Sudah pukul 2 dan aku belum berdua"

Sekotak harapan muncul dari ruang-ruang diri yang mulai enggan membuka pintu. Senyumku mengembang, mengiringi rapal doa sambil mengusahakan menangis. Semoga Yang Maha Mempertemukan segera mengijinkan.

Sepanjang waktu ku ketuk hatinya. Ku bisikkan lembut di kedua telinganya dari jauh. Sebuah tanya yang entah kapan akan ku dapatkan jawabnya. "Akankah benar kau orangnya?"

Merubah posisi tidurku, aku menatap jelas gambar dirinya di antara foto yang berjajar di dinding kamar. Tidak ada suara. ku tekan tombol kipas angin di nomor 2. Agak dingin, tapi aku menikmatinya. Aku baik-baik saja.

"Tidak apa-apa. Kau masih bisa menatap bulan sabit di kejahuan sana" kata pikiranku meraung dibenak yang enggan terbaca maksudnya.

Langit begitu biru, berbaur dengan gelap. Muram, membentuk keindahan bagi yang menganggapnya indah. Aku mencoba melupakan dengan memutuskan menghitung bintang-bintang. Satu, lima, seratus, tiga ribu, delapan puluh rib.... mataku berkedip. Aku hilang ingatan, angka terakhir tidak lagi terbaca. Akhirnya aku berhasil melupakan, tapi tidak dengan kemelut perasaan.

"Sejauh apapun kau, kedua mataku tak pernah bisa meninggalkanmu. Ku pandang apa saja yang ku pandang tentangmu. Sesuatu yang lama ku tahu, yang mulai ku tahu, dan tentu saja yang belum ku tahu." kataku kepada langit. Paras tampannya begitu hangat ku pandang. Aku suka memandang langit malam-malam.

"Sama seperti biasa, kau begitu tampan Tuan" imbuhku.

Satu rekaman setia menggema di kedua telingaku. Setiap malam suara nyaringnya membangunkanku. Berdering begitu syahdu di waktu malas seperti ini. Sering ku ulang, sampai habis replaynya. Dia begitu dekat, mendekapku didingin malam yang kadang menjadikanku enggan membuka mata. Kita dekat, tidak terhalang lagi oleh sekat.

"Andai kau benar ada di sini" kataku menyerah.

Kedua mataku hampir selalu basah setiap mengingatnya. Mengingat ketidakberanianku untuk bicara jujur kepadanya. Segalanya tentang cinta, tidak pernah menjadi mudah untukku. Andai dia tahu bagaimana rasanya, seperti memaksa menggenggam sebuah pisau tanpa penghalau. Tanganku berdarah, tapi aku tidak bisa begitu saja melepaskannya. Aku terjebak, dia telah menjadikanku terjebak. Bagaimana bisa? Dia bahkan tidak pernah melakukan apa-apa kepadaku. Aku ingin lupa, aku ingin lari dari ini semua. Menjaganya dengan cinta yang entah sampai kapan akan menjadi rahasia.

"Bagaimana caranya?" tanyaku.

Sajak-sajak usangku adalah teman setiaku. Rumah ternyaman untuk membicarakan apa saja tentangnya. Meski terlalu sering berantakan, membacanya berulang seperti sedang melalui jalanan panjang menujunya. Aku tak ingin berhenti. Aku ingin selalu merangkai aksara menjadi sekian banyak kata yang bahkan aku sendiri kadang tidak bisa memahami artinya. Sudah ku bilang sebelumnya, segalanya tentang cinta tidak pernah menjadi mudah untukku.

"Sudah hampir pukul 3 dan aku masih belum berdua" kataku mengingat yang tadi.

Putus asa ke berapa entah. Aku tersesat, berkerumun dengan ekspektasi yang semakin membumbung. Memupuk percaya terhadap apa-apa yang belum tentu nyata, aku malah semakin tidak percaya diri. Dingin sekali, aku keluar dari kamar mandi. 5 menit yang lalu aku memaksa diri beranjak dari tempat tidurku. Ketidakkaruan di dini hari selalu membawaku menghadap kepada-Nya, Dzat Yang Maha Memiliki. 2 rekaat sudah lebih cukup daripada hanya sekedar rebahan sambil mempertanyakan ketidakpastian. Oh tidak, aku ingin selalu datang dalam keadaan apa saja. Bahagia, sebaliknya, diantaranya, aku ingin selalu datang kepada-Nya. Aku ingin menjadi hamba yang tahu diri. Hanya itu, ya tentu.

"Sudah lebih dari pukul 3. Tak apa aku belum berdua, asal tidak berhadapan dengan corona" kataku diakhir doa.

Virus tak beradab. Menerobos ketahanan tubuh juga kecongkahan dan kecerobohan orang-orang yang dengan percaya diri bersikap abai terhadapnya. Datang tidak pernah permisi, menyakiti, dan tidak pernah merasa salah sampai sejauh ini. Entah sudah hari ke berapa. Sengaja, aku tidak menghitung waktu untuk sesuatu yang berhasil menjadikanku ketakutan akhir-akhir ini. Orang-orang sibuk mencari perlindungan diri. Beberapa saling melindungi, beberapa sibuk saling memaki, beberapa sibuk menuruti ego sendiri. Aku tidak tahu harus bagaimana, selain mawas diri. Tidak ada yang tahu akan menjadi seperti akhirnya. Kita harus melakukan yang terbaik demi bisa melewati ini semua. Kita bisa, kita akan bisa. Semuanya akan baik-baik saja.

Doa-doa terapal begitu riuh. Harap demi harap menemukan gilirannya untuk terucap. Mohon ampunan atas segala dosa, mohon kebaikan dunia dan akhirat, mohon sampai di surga dunia dan akhirat, mohon pertemuan dengan-Nya, dan mohon-mohon yang lainnya termasuk tentang cinta terpanjat begitu sungguh. Aku selalu merasa lega setiap berhasil melakukan ini. Seperti ruang-ruang di hati bersih kembali. Aku tenang sekali menjalani hari-hari.

"Cukup untuk malam ini. Besok kita ketemu lagi ya?" kataku sembari membereskan sajadah dan mukena.

"Sepakat, tidurlah sejenak. Ku temukan kau dengan bahagia" kata siapa entah. Seperti ada yang berbisik, aku merasakannya beberapa detik.

"Tapi aku belum ingin mati" kataku terakhir.

Lelap kembali, aku tertidur lagi setelahnya. Rasanya nyenyak sekali. Aku terbangun, tepat setelah alarm subuh di ponselku berdering. Senyumku mengembang, pertemuan terakhirku dengannya begitu membahagiakan. Tuan baru saja melambaikan tangan kepadaku. Tidur singkatku begitu terasa sempurna. Aku ingin sekali mengulangnya lagi.

"Sampai jumpa Tuan. Sampai jumpa di jam-jam rawan seperti yang barusan ini" kataku senyum-senyum.

Pukul 2 sudah 3 jam yang lalu berlalu. Pukul 2 telah menjadi saksi bisu. Pukul 2 menjadi waktu pencarianku. Pukul 2 adalah waktu pertemuanku dengan-Nya, juga denganmu. Adalah kau, sebuah hal yang menyadarkanku bahwa ternyata aku belum berdua.

Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja.

Sabtu, 21 Maret 2020

Romantika Orang Dewasa (2)

Gelap, sambaran kilat, dan cahaya lilin yang mulai goyah tertiup angin. Ya malam ini begitu lengkap. Aku sangat menikmatinya dengan sebuah percakapan singkat bersama sosok sebaya di kejahuan sana. Masih sama-sama di bumi. Kami hanya berjarak beberapa kilometer saja. Teman lama, tapi agak spesial. Tentu saja, tidak semua orang bisa jadi temanku. Aku kan juga spesial. Haha.

"Emang paling enak tuh jadi anak kecil" gumam Dara.

Ya, kenal saja dia Dara. Perempuan, cantik, agak tinggi daripada aku (mungkin), setipe denganku. Tapi sudah tidak jomlo, hanya saja belum menikah, juga tidak suka jadi dewasa, kecuali terpaksa.

"Ya, emang enak jadi kamu" kataku.

"Hah, kok aku?" tanya Dara bingung.

"Aku juga si. Kita sama".

"Kamu aneh".

"Setiap kita adalah anak kecil" terangku.

Aku dan dia sedang curhat-curhatan seperti biasa. Menceritakan segala kerumitan hidup yang akhir-akhir ini terjadi. Sebentar tertawa, sebentar menggerutu, sebentar menangis, sebentar mengandai-andai, sebentar lagi jadi gila bisa-bisa. Wkwkwk.
Diujung pergantian hari yang tak kunjung nyala listrik itu, kami saling bercerita dan saling menertawakan.


"Tapi kita sudah tua" sesal Dara.

"Ya, kamu benar"

"Secepat ini ya rasanya?"

"Sudahlah. Biar tambah tua asal kita tetap menjadi muda" kataku membela.

"Maksudmu?" katanya bingung.

"Raga boleh menua buk, tapi tidak dengan jiwa muda. Paham kan?" kataku menjelaskan.

"Ya, aku mencoba" katanya pendek.

Tidak semua hal harus dimengerti saat itu juga. Kadang kami hanya bilang "ya, aku mencoba" sebagai tanda lampu hijau atas apa yang sedang kami bahas. Tidak masalah kalau ternyata ditengah-tengah percakapan, kami kembali lagi ke topik lawas yang sebelumnya masih berusaha kami mengerti. Tidak terlalu buruk, kami terbiasa melakoninya begitu.

"Kamu pernah marah karena sesuatu yang nggak kamu suka?" tanyaku.

"Kenapa? Itu hakku"

"Dan aku tidak sedang membahas itu. Bapak/ibumu pernah marah karena menyuruhmu ini itu tapi kamu tidak sempurna menurutinya?" tanyaku lagi.

Berfikir lama, Dara mencoba memahami pertanyaanku. Menjadi dewasa memang sesusah itu. Perlu lebih banyak mikir dan nimbang perasaan banyak orang, demi tetap membuat keadaan tetap baik-baik saja. Padahal kadang diri sendiri malah jadi korban. Haha, lucu. Aku benci melakoninya.

"Sering" katanya hati-hati.

"Tepat. Begitulah anak kecil"

"Maksudmu?"

"Tidak dewasa"

"Harusnya?"

"Harusnya tidak usah marah. Harusnya sadar lah, apa-apa diluar diri nggak bisa terus-terusan jadi apa yang benar-benar mereka mau. Kamu juga, aku juga, kita sama. Kita harus sadar itu" jelasku.

"Ya, aku setuju denganmu"

"Dan setiap kita adalah anak kecil yang....."

"Yang bertumbuh dewasa"

"Yang terpaksa tumbuh dalam diri yang dituntut dewasa"

"Aku tidak percaya, tapi aku pikir kamu benar"

"Hahaha" kami tertawa bersama.

Sadar diri bahwa kami dan juga kita tentunya akan selamanya jadi anak kecil yang ternyata harus terjebak dalam tubuh orang-orang dewasa.
Terjebak? Baiklah ini tidak terlalu buruk. Kita pasti bisa melewati babak ini dengan sebaik-baiknya, meski dengan sambatan yang sejadi-jadinya. Tidak apa-apa. Kita memang membutuhkannya.

"Woo dasar cah cilik" kataku mengejek.

"Tos dulu lah kita" katanya mencari bala.

"Jadi besok kalo aku nesu-nesu, kamu udah paham apa alasannya ya?" kataku mencari celah.

"Pinter amat buk nyari pembelaan" katanya memojokkanku.

Ahhh modusku gagal. Ternyata dia tahu apa maksudku.

"Woo ya jelas, CAH CILIK gitu haha"

"Kamu sadar sesuatu?"

"Hidup ini terlalu sayang untuk tidak ditertawakan"

"Kamu lucu"

"Kamu juga"

"Dia, mereka juga"

"Kita sama"

"Manusia"

"Hahaha"

Berakhirlah malam itu dengan akhir percakapan yang tak pernah berujung. Gelap sering kali mengundang kantuk. Aku mulai lelap, ditemani dengan segala mimpi dan juga harapan yang masih berlaku dibenakku. Begitu juga Dara. Tapi mungkin juga tidak, dia tidak juga merasa pening meski harus terjaga sampai pagi. Aku tidak bisa, aku belum bisa menjadi dewasa. Dia juga, tapi dalam hal yang lainnya. Kamu juga, kita hanya perlu rela mengakui saja.

Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Aku pamit dulu ya. Sampai jumpa di cerita romantika orang dewasa selanjutnya.
Salam Literasi.

Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....