Jumat, 17 Mei 2019

Detik Pertama


Pandangku lengang dilintasi deretan kenangan yang entah kapan bisa terulang. Detik pertama sepertinya hanya akan menjadi yang pertama dan tak terulang. Benar kata kebanyakan orang. Kesempatan hanya datang sekali. Aku beruntung. Meski kecil kemungkinan bisa mengulang, setidaknya ceritaku telah ada terbingkai rapi diingatan. Sekarang aku ingin mengabadikannya lagi lewat liar aksara yang sedang ku rangkai menjadi sebuah cerita. Dan entah mengapa, aku ingin sekali dia membaca meski aku tak bisa memastikan caraku ini akan sampai kepadanya.

Detik pertama adalah degup jantung yang tidak berirama. Entah apa yang membuat diri ini terpaku. Pahamku hanya tertuju pada kabar yang membahagiakan di ujung waktu kala itu. Hembus angin membawaku sampai kepadanya. Merasakan satu per satu dari jawab yang lama ada di lintasan tanya. Degup jantungku seperti kayuhan sepeda seseorang yang sedang dikejar waktu. Cepat, semakin cepat dan membuat nafasku menjadi sangat tidak teratur kala langkah kakiku semakin mendekat ke arahnya. Sekedar terkagum atau apa aku susah mengartikan ini. Akhirnya hanya diam memandangnya dari kejahuan.

Detik pertama adalah mata yang berbinar. Terlihat dari kejahuan sesosok tuan tampan yang lama jadi idaman. Kedua mataku seakan tak berkedip memandang. Mencari butir kekurangan, tapi tak ku dapat. Malah semakin luluh hatiku dibuatnya. Aku mengagumi sosok itu. Seperti ini saja sudah bahagia. Tak perlu aku mendekat, aku ingin menikmatinya dulu seperti ini. Dan entah sampai kapan. Aku serahkan kepada yang Maha Memiliki Hati. Kepada-Nya aku berserah diri dan hanya kepada-Nya lah aku akan kembali.

Detik pertama adalah nama yang tereja. Hatiku berdebar ketika tanganku dan tangannya bertemu pada sebuah jabat tangan pertama itu. Saling mengucap nama dan melanjutkan perkenalan dengan canggung sambil mencuri-curi pandang. Oh Allah, aku benar-benar tak bisa bersikap biasa saja. Ada saja yang membuatku salah tingkah. Ada hembus angin yang tak henti menggelitikku. Dia membisikkan sesuatu kepadaku tapi aku tak bisa menangkap apa yang disampaikannya kepadaku. Isi otakku terlalu diramaikan oleh kemelut yang entah kapan akan berakhir. Aku juga tidak paham dengan cara kerja otakku. Benar-benar tak menentu. Beberapa ku coba memikirkan sesuatu, tapi buntu. Malah dia yang lagi-lagi datang ke ruang kosongku itu. Aku benar-benar ingin lari. Jauh sampai bisa membuat duniaku pulih kembali. Tapi sulit. Jarak memang tak benar-benar membantuku untuk bisa lupa.

Detik pertama adalah nyaring suara yang merdu terdengar. Lembut tutur kata dan apa saja yang diperdengarkannya kepada khalayak ramai telah berhasil menghangatkanku. Seperti kopi hangat yang menemani ujung pergantian hariku. Kau ada bersama hawa sejuk yang mengukir cerita di hati siapa saja. Lagi-lagi aku terjatuh semakin dalam di lubang kekaguman. Rasanya aku tak ingin lagi kembali berdiri, aku takut langkah kakiku membawaku pergi menjauh darimu. Ternyata jatuh cinta bisa membuatku segila ini. Oh Allah ampunilah aku yang tak mampu menjaga hatiku hanya untuk-Mu. Mohon bantu aku untuk bisa mengembalikan semuanya kepada-Mu Ya Rabb. Sungguh hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui semuanya.

Detik pertama adalah keberuntungan yang menjadi nyata. Raga kita saling menyapa meski hati kita belum saling cinta. Mungkin akan jadi cinta setelah kita terbiasa. Lagi lagi aku teringat yang banyak orang-orang katakan.

"Tresno Jalaran Soko Kulino"

Ya, kita butuh untuk terbiasa saling mengagumi, terbiasa bersama, dan terbiasa menabur cinta. Sungguh ini bukanlah sebuah mimpi. Melainkan harapan yang berulang kali terpanjatkan di dalam doa-doa ku. Tak akan lelah hati ini berharap, sampai tanya yang ku ingin terjawab oleh-Nya. Jika ternyata dia dan aku ditakdirkan bersatu, tentu aku akan sangat bahagia dan memanjatkan permohonan yang selanjutnya kepada Allah Yang Maha Mengabulkan Doa. Semoga aku bisa menjadi yang terbaik untukmu dan semoga kamu bisa menjadi yang terbaik untukku. Tapi jika ternyata tidak, aku akan menangisi ini sebentar. Sebentar saja, sebagai sarana pengungkap kecewa karena kebodohanku dan karena ketersediaanku untuk menunggumu. Tak akan lama, aku akan memohon sesuatu yang lain kepada-Nya. Semoga Allah mengirimkanku sosok yang terbaik dan lebih baik darimu. Aku percaya Allah tahu apa yang aku butuh.

Dan detik pertama adalah candu yang berhasil terulang. Doa dan harapan yang terpanjat kepada-Nya. Cita-cita abadi yang nyata masih fana juga cerita-cerita lawas yang tak henti menjadi dongeng di hidupku. Sungguh biarlah ini menjadi urusanku. Jangan hiraukan aku dengan segala hal yang menurutmu tak harus terjadi. Detik pertamaku, biarlah menjadi detik terindah di hidupku. Biar tanyaku ini menelusuri waktu. Mencari-cari jawab yang entah kapan akan bertemu. Pun jika ternyata akhirnya tak seperti yang aku ingin, biar ini menjadi cerita lanjutannya. Semoga dengan jawab itu menjadikan cerita ini sempurna.

Sampai jumpa dipenghujung waktu itu.

----------------------

#Day12
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
##0HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Kamis, 16 Mei 2019

Setelah Usiamu 20 ke Atas



Usia akan membawa kita menuju dewasa. Bersedia atau tidak ini harus jadi penerimaan untuk kita semua. Di sebuah perjalanan hidup, setiap jiwa melalui prosesnya masing-masing. Bahagia atau tidak lagi-lagi harus diselesaikan dengan syukur dan rela hati. Begitu pula denganku dan juga kita semua. Harapnya cuma satu. Semoga apa yang akan atau sedang terjadi bisa sesuai dengan apa yang kita mau. Tapi kalau ternyata tidak, semoga Allah senantiasa memampukan diri kita untuk bisa melalui garis takdir pemberian-Nya.

Sore ini aku bertemu dengan dia yang biasa ku panggil "I-Cuy". Laju motor yang kami kendarai mengantarkan kami ke sebuah pusat pembelanjaan di salah satu sudut kota kami. Ada yang harus kami cari untuk memenuhi keinginan hati kami.  Kami mencari sambil menceritakan ini itu. Bertemu dengan waktu yang tak bisa kami prediksi, membuat tampungan cerita kami hampir penuh. Akhirnya setiap bertemu ceritanya tumpah riuh. Kami ramai berdua dan kemudian berebut jatah bercerita. Ohh dasar wanita, tak pernah berhenti bicara ketika dilanda bahagia.

Sore ini, aku terpaku pada satu topik yang sedang kami bahas. Satu kalimat itu berhasil memukulku. Aku jatuh dan entah bagaimana bisa terbayang sampai detik ini.

"Apa yang membedakan di umurmu yang dulu dengan yang sekarang?"

Baiklah, pertanyaan ini sederhana. Tapi aku pikir selama ini aku tak begitu menghiraukannya. Cita-cita selalu ada tapi bagaimana dengan setelah itu tak pernah benar-benar aku pikirkan. Hidup adalah proses dan aku menikmatinya tanpa pernah menimbangnya. Tapi harusnya menilai tetap perlu untuk menjadikan ini sebagai pembanding.

Katanya, yang pertama dan yang paling menonjol adalah tanggung jawab. Aku setuju, semakin bertambah umur semakin bertambah tanggung jawab. Dulu pas masih kecil, kita adalah tanggung jawab bapak mamak. Tapi setelahnya, tanggung jawab berpindah ke diri sendiri dan kelak akan menjadi yang mempertanggungjawabkan. Hidup ternyata semenyenangkan ini. Pernah diberi dan akhirnya memberi. Ya begitu kurang lebihnya. Satu yang harus sama-sama kita lakukan adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa.

Kedua yang aku rasakan adalah lingkaran pertemanan. Tempat baru akan senantiasa mempertemukan kita dengan orang baru. Sebenarnya aku paling takut pergi ke tempat baru. Takut pisah sama orang lama terus ketemu orang baru. Eh pergi lagi dan ketemu orang baru lagi. Siklus. Tapi inilah yang akan membantumu menemukan mereka yang benar-benar ada di dunia ini untukmu. Waktu akan menuntunmu menemukan mereka yang benar bisa membuatmu tetap ada dengan dirimu yang apa adanya. Bukan yang malah menjadi orang lain. Berhati-hatilah dan mari mencari teman yang bisa saling mengingatkan demi menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Lanjut ke perubahan ketiga. Adalah perihal waktu dan materi. Dulu, pas masih sekolah, waktu serasa panjang. Langkah jadi leluasa ke mana-mana bareng mereka yang kita punya. Tak melulu ke tempat elit, yang penting bisa bersama. Sungguh nikmat yang sangat luar biasa. Tapi setelah jadi pekerja, materi teratasi. Meski tak jarang harus mengalahkan salah satu dari kebutuhan. Tapi waktu habis begitu saja. Seharian di tempat kerja dan jarang kemana-mana. Setelah lelah tertampung, waktu istirahat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Waktu kumpul sama mereka yang kita punya jadi berkurang atau malah tidak sempat masuk agenda. Jangankan untuk teman-teman lama yang dulu sering banget ngumpul, quality time sama diri sendiri aja susah. Apalagi sama mereka. Aku sendiri sangat bersyukur, meskipun setahun sekali aku masih dikasih kesempatan Allah buat ketemu orang-orang lama di hidupku. Setidaknya, ada temu yang membayar tumpukan rindu. Ciahhhh.

Perubahan keempat. Pandangan hidup bukan melulu soal dunia. Ada yang lebih kekal yang harus kita persiapkan. Mau tidak mau, kita harus memaksa diri untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Ingatan tentang mati harus selalu di hati karena tidak ada yang tahu kapan ia benar datang menghampiri. Dulu pas masih kecil, ibadah biar dapet reward dari bapak mamak. Sekarang udah gedhe, ibadah karena Lillahi Ta'ala. Karena sadar banyak yang kita pinta, maka mendekat kepada-Nya bisa jadi jalan untuk menjadikan semuanya menjadi lebih mudah. Pun karena kelak, ada banyak generasi yang membutuhkan kita untuk memberikan arahan di kehidupannya sebelum akhirnya mereka beetumbuh dan menggantikan kita semua.

Perubahan kelima. Bahwa sumber bahagia adalah bisa membahagiakan orang lain. Dulu pas masih kecil, dapet yang kita pengen aja dah bahagia sekali. Sekarang, bisa nyenengin orang-orang terdekat aja senengnya ngalahin isi dunia. Ah intinya bahagia bukan hanya bersumber dari diri sendiri melainkan dari banyak hati yang sudi menerima apa yang dipersembahkan diri ini. Sesederhana ini ternyata mengartikan bahagia.

Sebenarnya ada banyak sekali perubahan yang mengiringi pertumbuhan usia. Yang pasti, ada banyak pelajaran hidup didalamnya.

Setelah ini, coba kita renungkan kembali. Kita syukuri apa yang sudah kita punya dan kita kejar lagi apa yang sempat dan masih menjadi cita-cita kita. Perubahan yang ada bukan untuk menjadi sebuah hal yang disesali ataupun menjadi sebuah hal yang layak kita sombongkan. Semua ada agar kita bisa menghargai proses hidup kita masing-masing.

Dan itulah sekian dari perubahanku sampai sekarang ini. Bagaimana denganmu? Tapi apapun yang terjadi, semoga Allah senantiasa membersamai kita dengan orang-orang dan sesuatu yang baik.

Aamiin ya Rabb

--------------------------------.

#Day11
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Rabu, 15 Mei 2019

Tak Begitu Berharga, Tapi Ini Sangat Berarti


Kebahagiaan adalah sekian banyak hal yang mengukir senyuman. Sebenanya ada yang lebih bisa membuat senyuman itu lebih berkelas yaitu dengan penerimaan dan kerelaan. Hidup bermasyarakat menuntut kita untuk tidak egois. Memahami orang lain justru akan membuat kita dipahami oleh mereka yang kita ingini. Tidak bisa semuanya, tapi minimal ada.

Dilahirkan ke dunia ini adalah sebuah anugerah yang tak semua janin di rahim ibunya merasakan. Tapi meskipun kita datang dan meninggalkan dunia ini sendirian, hidup menuntut hati kita untuk memiliki sosial yang tinggi. Manusia diciptakan untuk saling membutuhkan. Dan dari membutuhkan, kita harus saling membantu untuk sampai kepada apa yang kita tuju. Tidak harus cepat, semua butuh untuk dinikmati sebagai proses dan dikenang sebagai masa lalu.

Aku tak begitu kaya. Tapi alhamdulillah termasuk berkecukupan. Gaji bulananku hanya tersisa beberapa untuk masuk ke rekening tabungan. Entah aku gunakan untuk apa, tiba-tiba hanya tinggal sisa. Dan andalanku untuk bisa menjadi kaya tanpa melihat materi adalah meluaskan hatiku dan hati orang-orang yang ku jumpai. Satu senyum yang ada dihadapanku sudah cukup menandakan bahagia. Apalagi sekian banyak percakapan hangat dengan siapa saja. Aku suka sekali berdialog dengan siapa saja yang aku jumpai. Dengan teman sebaya, dengan bapak mamak, dengan angin, dengan cuaca, atau malah dengan penghuni media sosial yang entah aku tahu atau tidak siapa dia. Aku juga suka berdialog dengan orang-orang baru yang ku jumpai di beberapa tempat. Dengan satpam kampus, dengan teman baru, dengan bapak-bapak yang sebangku denganku di bis, dengan karyawan baru di kantor, atau siapa saja. Aku ingin lebih tahu apa yang sejauh ini mereka lakukan dan mereka rasakan.

Aku tak segan-segan menyapa mereka. Entah hanya untuk meminta tolong atau bahkan hanya sekedar mendengarkan cerita. Di rumah juga begitu, meskipun tidak berhadapan 4 mata, tapi aku sering menundukkan kepala ketika bertemu atau menyapa dari jauh. Sekedar menghargai dan menghormati keberadaan mereka di sekitar kita.

Tapi ini yang paling berkesan di hidupku. Yakni mengucapkan tolong, maaf, dan terimakasih. Aku pikir ini sangat sepele, tapi ini begitu membawa kebahagiaan untuk orang-orang yang menerimanya. Dengan ini, aku seperti lebih dihargai, dia yang melakukan itu terlihat sopan, dan entah mengapa hatiku menjadi lebih bungah mendengar itu semua. Mungkin ini semua juga dirasakan orang-orang ketika aku melakukan itu kepada mereka.

Di kehidupan sehari-hari, aku membiasakan diri mengucapkan itu. Mengatakan tolong ketika membutuhkan sesuatu, menyampaikan maaf ketika melakukan kesalahan, juga menghaturkan terimakasih atas pertolongan yang telah ku dapatkan. Ini ringan (jika kita terbiasa). Tidak untuk hal-hal tertentu, kita butuh dalam semua aspek kehidupan kita. Percayalah tak melulu dengan materi bisa menyenangkan hati orang lain. Bersikap baik sudah lebih dari cukup. Yang penting kita tidak menyakiti dan merugikan orang lain. Tapi tidak bisa dipungkiri, manusia tempatnya salah dan khilaf. Maka segeralah meminta maaf, jika itu terjadi.

Menjadi baik memang tidak mudah. Semua bisa karena kita terbiasa. Meski kadang semua butuh dipaksa untuk berhasil menjadi apa yang kita mau. Jangan lupa menjadi yang menghargai agar kita juga bisa dihargai orang lain. Hidup ini seimbang sayang. Apa yang kita tanam, itulah apa yang akan kita tuai. Jadi, mari saling menjaga diri untuk saling menggenapi.

Selamat pagi dan berbahagialah selalu dengan sepertiga bagian dari ramadhan tahun ini.

--------------------------------.

#Day10
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Selasa, 14 Mei 2019

Barangkali Kamu Mau Mendengar


Hidup ini adalah sebuah proses. Tidak ada yang mudah, pun tidak ada yang susah. Kau dan aku hanya butuh "mau dan bersedia". Ya, kita hanya butuh mau berusaha untuk tahu bagaimana hasilnya. Kalau ternyata diantara kita tidak mau berusaha, lebih baik tidak usah dilanjutkan membaca. Sayang waktumu bukan? Aku tidak memaksa, ini kan hakmu.

Baiklah dengarkan aku, sebentar saja.

Duhai diri, barangkali apa saja yang ada disekitarmu pernah bosan mendengar keluhanmu. Tapi mereka tetap baik, tidak pernah membiarkanmu kecewa dengan tidak bersedia mendengar ocehanmu yang itu-itu mulu.

Barangkali apa saja yang disekitarmu pernah memendam lara padamu.Tapi mereka diam, tidak mengadukanmu pada siapa-siapa. Memendam sendiri memaklumi dirimu yang entah kapan sadarkan diri. Padahal sebaliknya, kamu sendiri yang malah mengadukan mereka kepada siapa saja. Tidak apa-apa, mereka masih mengerti.

Dan barangkali beberapa kali kamu ingin lari dari takdir yang menghampiri dan kemudian menemukan cara menyembuhkan lukamu. Atau aku pikir barangkali semesta telah lama memaksamu pergi, tapi ternyata kau terus kembali. Entah karena lelahmu, ketakutanmu atau bahkan karena egomu, aku kurang begitu mengerti perihal ini.

Tapi beruntung sekali, masih banyak jiwa yang merelakan raganya supaya sudi memeluk, menggandeng, menghibur, dan sekaligus mengawalmu menikmati hamparan semesta. Beruntung sekali, masih ada yang sudi membagikan tutur lembutnya untuk membuatmu mengerti apa yang membuatmu betah berkemelut dengan ketakutanmu. Ah semesta terlalu memihak kepadamu. Sebenarnya aku tidak setuju dengannya, tapi hati kecilku berkata lain. Memang harus ada yang seperti itu, untuk menyeimbangkan kehidupan. Allahu akbar.

Duhai diri, pelindung jiwa-jiwa yang penuh peluh. Duduklah disampingku sebentar. Ada yang masih ingin kusampaikan kepadamu. Tidak lama, nikmati saja. Dan barangkali apa yang sudah bertahan lama menemani bisa tiba-tiba lelah mengerti. Bahwa yang selama ini diam, sewaktu-waktu bisa meletup seperti kandungan magma diperut gunung berapi yang seketika meledak meramaikan isi bumi. Bahwa yang selama ini kuat bertahan menemani bisa tiba-tiba pergi tanpa pamit kepadamu. Barangkali dia sudah lama kecewa, tapi malah takut berbalik mengecewakanmu. Atau barangkali dia pergi untuk menyadarkanmu perihal sesuatu. Entah apa, sekali lagi aku kurang paham perihal ini. Aku harap kamu mengerti maksudku.

Aku pikir kita harus mulai sama-sama melihat bahwa barangkali yang sudah terjadi adalah jatah diri yang mesti kita syukuri sepenuh hati. Kita butuh untuk rela menerima semuanya, supaya hati dan jiwa raga kita bisa ikut baik-baik saja. Allah telah mengatur segalanya sesuai dengan daya uji yang kita punya masing-masing. Tidak ada yang sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya. Jadi mari saling memeluk diri dan berteriak dengan lantang, bahwa semua akan baik-baik saja. Allah tahu apa yang kita butuh. Janganlah risau duhai jiwa.

Aku pikir sudah itu saja. Barangkali dengan ini, apa yang memenuhi isi kepalaku bisa menyelami pikiran kusutmu. Sebenarnya sudah lama ingin kusampaikan kepadamu. Tapi aku terlalu bosan dikatakan sebagai seseorang yang "keras kepala". Padahal tidak. Andai kau tahu dan andai saja kau mau mengerti. Aku pasti bahagia sekali. Tapi ya sudahlah. Biar ini menjadi rahasiaku.

Aku hanya ingin menyayangimu dengan cara yang lain. Yang tak orang lain punya dan yang menurutku istimewa.

Selamat (barangkali kau merasa beruntung). Aku pamit. Sampai jumpa (kamu).

----------------------------------

#Day9
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Senin, 13 Mei 2019

Anak Perempuan Bagi Ibuku



Pada waktunya, usia akan bergulir menemui masanya. Seperti aku, seperti kita. Tidak lagi menjadi anak kecil. Kita dipaksa untuk dewasa di usia yang tak lagi masuk pada kategori muda. Padahal menjadi muda selalu menjadi hal yang ingin terulang. Bebas, lepas, dan tanpa batas.

Tapi tidak dengan aku dihadapan mamakku. Sejauh ini aku masih dianggapnya sebagai putri kecilnya. Atau mungkin sampai nanti ketika aku sudah menjadi seorang istri dan menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Oh entahlah, apakah seorang ibu memang seperti ini?

Aku dijaganya dengan berlimpah kasih sayang juga cintanya. Bahkan perlakuannya kepadaku juga kadang masih seperti pada saat beliau memperlakukanku sewaktu aku masih kecil. Haru memeluk, tapi tersadar. Umur tak bisa lagi membuatku bertahan menjadi anak kecil.

Mamakku sangat perhatian. Lidahnya tak pernah kelu mengingatkan setiap detail perbuatan. Komentarnya tak habis mengiringi apa yang sedang aku lalukan. Bahkan sebelum aku melakukannya. Kadang, aku malah merasa risih karena tidak bisa leluasa. Tapi hati mamak tetap harus ku jaga. Akhirnya menuruti adalah hal satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk menyenangkannya.

Tapi jangan terus berpikir bahwa aku ini selalu menjadi penurut. Kadang aku mengelak perintah mamak. Menunda melakukan yang diperintahkannya dengan kata nanti. Bahkan menolak dengan kata tidak. Beberapa hal berhak mengalami penolakan bukan? Termasuk keinginan seorang ibu terhadap diri anaknya?
Bagaimana tidak, baru saja selesai makan. 5 menit kemudian sudah di suruh makan lagi. Masyaallah, perutku juga butuh bernafas dari barisan makanan yang masuk ke tenggorokan. Aku tahu niat baik mamak, tapi tidak dengan yang satu ini.

Pernah teman dekatku datang. Perempuan dan seumuran denganku. Kebetulan sudah lama kami tidak bertemu. Dia main ke rumahku dan kita bercerita apa saja di kamarku. Mamak datang disela-sela percakapan seru kami, menawarkan beberapa makanan lagi. Kataku nanti. Aku akan mengambilnya sendiri. Tapi tidak. Kesabarannya tak bertahan lama. Makanan diantar dan di bawa masuk ke kamarku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala keheranan. Sedangkan temanku tertawa menyaksikan. Lucu dan memang pantas ditertawakan.

"De Yanti, De Yanti" katanya menggeleng

Sebenarnya, aku senang diperhatikan. Tapi aku pikir, diperlakukan seperti ini malah akan membuatku minim berkembang. Padahal sejujurnya aku sudah mempersiapkan semua. Kapan waktu makan, kapan waktu mandi, harus makan dengan apa, dan apapun. Termasuk memperlakukanmu tamuku sendiri. Aku hanya perlu diingatkan, tidak untuk terus-terusan diperintah atau malah dipaksa. Tapi aku tak kuasa menolak semuanya.

Pernah hatiku kelu menahan pilu atas ini. Dan tak sengaja melontarkan beberapa tanya kepada mamak.

"Aku udah gedhe kali mak. Makan bisa ambil sendiri laa" kataku kesal

"Kelamaan nduk" katanya menyingkat

"Besok kalo aku punya dah punya suami, mamak masih kaya gini nih?"

"Ya enggak lah" sambil menurunkan makanan yang dibawanya.

"Kalo ternyata aku dapet orang jauh. Ya ga jauh-jauh si. Situ aja paling. Gimana mak?" kataku menggoda

"Ya nggak pa pa. Kalo emang udah jodohnya mamak bisa apa?"

Lega banget denger mamak ngijinin. Rasanya satu pintu terbuka. Aku menertawakan ini bersama dengan temanku. Tapi tidak setelah itu.

"Oke mak. Berarti aku ntar ngikut suami ya mak?"

"Ya nggak bisa. Kudu tetep disini. Buat rumah disini aja laa. Biar mamak bisa lihat endok tiap hari"

Dahiku mengernyit. Aku keheranan dengan percakapanku bersama mamak. Temanku tetap bertahan dengan renyah tawa yang dia punya. Dunianya indah dihabiskan dengan menertawakanku. Tega memang.

Entah apa. Mamak selalu begitu. Entah bagaimana dengan ibu-ibu yang lain. Mamakku sangat unggul dalam hal menyayangi anak-anaknya. Aku beruntung bisa memilikinya. Meskipun banyak yang berbeda dengan apa yang aku ingini, hatiku tetap hanyut dalam kasih lembut mamakku.

Ya beginilah aku di hati mamakku. Sepertinya aku akan menjadi putri yang selalu dianggapnya kecil dihidupnya. Selamanya, sampai waktu berhenti menyapa kita berdua.
Bagaimana kamu dengan ibumu? Apakah sama sepertiku?

----------------------------------

#Day8
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Minggu, 12 Mei 2019

Rumah Bagi Seorang Wanita


Tulisan ini, aku persembahkan untuk para pembaca terutama untuk wanita-wanita di seluruh penjuru semesta. Aku ingin berbagi sedikit dan sudi kiranya kita sebagai wanita sama-sama menyadari hal-hal yang menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya.

Dilahirkan sebagai satu-satunya anak perempuan di keluargaku, membuatku diperlakukan bak barang branded yang sangat dijaga pemakaiannya. Gerakku terbatas dan penuh dengan pertimbangan. Kadang ingin melawan, tapi hati enggan. Pintu surga bukan untuk dilewatkan begitu saja bukan? Ya, baiklah.

Hobbyku travelling. Tapi hanya sebatas ingin saja si. Sekarang aku lebih suka menulis daripada pergi ke sana ke mari mencari yang ku ingini. Larangan ini itu membuatku harus mencari sesuatu lain yang baru. Yang sama menyenangkan dan tentu saja tidak membosankan. Dulu waktu masih kuliah, merantau ke kota sebelah aku suka pergi ke sana ke mari. Keliling Semarang, naik gunung, menyusuri jalanan dan sungai, menikmati lebatnya hutan rimba, sampai di Jakarta, di Bandung dan di mana-mana. Capek tak menjadi masalah, ketika puas diri dihadapan melenggang. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu. Kembali kepada banyak hal yang membuatku seperti hidup di pelataran surga. Bahagia dan sudah itu saja.

Semenjak kembali menjadi anak rumahan, aku kembali menjadi diriku yang dulu. Yang tidak pernah kemana-mana. Yang waktunya habis di rumah entah untuk apa. Yang ingin ini itu tapi tidak boleh, kecuali semua ku lakukan di rumah. Padahal aku masih ingin ke sana, ke ujung dunia bagian sana. Mengagumi Kuasa Allah yang sangat indah sambil menghela panjang sembari menikmatinya.

"Oh mimpi besarku, menjadi nyatalah segera"

Menggerutu setiap mendapatkan penolakan ijin membuatku benar-benar lelah lagi merayu. Meskipun dalam sebulan, 2-3 kali ijin keluar rumah tetap ku upayakan demi mendapatkan penyegaran pikiran setiap weekend tiba. Aku benar-benar membutuhkan ini untuk bisa menemukan sesuatu yang baru atau sekedar menemui teman lamaku atau malah sekedar berkutat dengan ayam goreng kesukaanku. Tapi itu dulu.

Sekarang sudut pandangku bergeser. Pikirku selama ini telah salah. Aku terlalu menganggap dunia luar adalah tempat terbaik untuk mendapatkan apa yang aku cari. Padahal, tidak semuanya begitu. Sekarang, aku sudah mulai berhenti. Belum total memang. Aku masih berusaha mengurangi intensitas keluar rumah. Waktuku sekarang lebih banyak di kantor dan kembali ke rumah. Begitu seterusnya. Tapi jangan dibayangkan. Ini akan terlihat sangat membosankan.

Belakangan ini terlalu banyak hal sepele yang membuatku begitu takut. Aku tidak bisa menceritakannya satu per satu. Terlalu banyak. Kali ini aku hanya ingin menceritakan tentang keberhasilanku berlama-lama di rumah. Bukan karena tidak ada yang mengajakku pergi. Itu termasuk alasan, tapi bukan alasan utama. Alasan utama adalah karena rumah memang terbaik untuk seorang wanita. Beribadah, beraktivitas dan melakukan apapun bisa dilakukan disini. Rumah adalah tempat wajib untuk wanita. Tidak seperti lelaki yang harus ke masjid untuk memenuhi kewajibannya. Wanita malah lebih diutamakan di rumah. Selain alasan keamanan, wanita memang lebih dibutuhkan di rumah. Aku belum berstatus sebagai seorang istri, tapi aku tau tentang ini.

Dulu aku selalu kerepotan setiap ingin pergi. Ingin ke sana-sana tapi dilanda takut. Takut tidak dapat ijin, takut jatuh, takut dijahati, dan ketakutan-ketakutan lain. Bukan memelihara suudzon. Memikirkan kemungkinan terburuk tidak salah bukan. Apalagi kita tidak hidup sendiri. Kita ini membawa diri kita sendiri juga nama bapak mamak, saudara, dan orang banyak. Dan sekali  terjadi apa-apa pasti akan berdampak kepada semuanya. Aku hanya tidak mau terlalu merepotkan orang-orang yang aku sayang.

Akhirnya aku mencari sesuatu yang membuatku betah mendiami surgaku. Ya, rumahku adalah surgaku. Aku yang berkewajiban menjaganya. Salah satunya adalah dengan tidak sering meninggalkannya. Aku mencari segala cara yang membuatku tetap berkembang, meski langkahku hanya sebatas di rumah. Aku mencari titik yang membuatku nyaman.

Dimulai dari ruang favorit. Aku menjadikan kamar tidurku menjadi ruang favoritku setelah ruang tamu dan halaman depan rumahku. Aku pasang foto-foto lamaku di salah satu sisi dinding sebagai teman menjelang tidur. Memandang masa lalu adalah caraku mensyukuri bahwa aku pernah ditempatkan dan dibersamakan dengan mereka yang ada di foto jajar itu.
Kemudian menjadikannya sebagai tempat ternyaman untuk menikmati sujud yang lama juga dialog hangat bersama Yang Maha Kuasa. Aku sampaikan banyak inginku kepada-Nya. Semoga Allah mengijabah doa-doa yang kupanjatkan kepada-Nya.

Hal kedua yang aku lakukan, adalah mencari rutinitas yang tidak menuntutku untuk pergi dari rumah. Salah satunya adalah membaca dan menulis. Koleksi bukuku bertambah satu per satu semenjak aku kembali ke rumah. Benar kata orang-orang. Tidak harus datang ke suatu tempat untuk mengetahui bagaimana tempat itu. Cukup membaca, dan kita akan tahu semuanya. Dan kemudian menulis. Menulis bisa membantuku bersosialisasi dengan khalayak ramai. Bukan hanya dengan bapak, mamak, adek di rumah. Semua penjuru dunia bisa melakukannya lewat media sosial. Tapi ingat, berhati-hatilah. Bijaklah dalam menulis dan menyampaikan sesuatu.

Hal ketiga adalah mencari teman di rumah dan disekitar rumah. Aku sering ke rumah tetanggaku sebentar. Bermain dengan anak balitanya atau mengunjungi dan membicarakan sesuatu bersama teman-teman di sekitar rumahku. Ini hanya selingan, setidaknya hidupku juga mengenal dunia selain rumahku saja. Biasanya sore hari aku menyambangi mereka. Setelah pulang dari kantor dan membersihkan diri. Sesore saja tidak kelihatan, pasti mereka mempertanyakan. Alhamdulillah, aku termasuk yang diperdulikan mereka.

Kemudian selanjutnya adalah menyadari bahwa tempat terbaik untuk wanita sepertiku adalah di rumah. Terjaga, terlindungi, dan tentu saja bermanfaat untuk semua anggota keluarga. Sebenarnya masih ada beberapa alasan lagi untuk menjadikan rumah sebagai tempat terbaik kita. Lain kali aku jabarkan lagi ya.

See You.......

----------------------------------

#Day7
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave

Sabtu, 11 Mei 2019

Perihal Kehilangan



Beberapa perpisahan ada tanpa adanya kesepakatan. Satu pihak merencanakan, satu pihak tiba-tiba terkejut. Satu pihak tahu, tapi tidak dengan yang lain. Atau malah bisa jadi kedua-duanya sama-sama tidak mengetahui. Kodrat manusia adalah saling meninggalkan. Entah menjadi yang ditinggal atau malah menjadi yang meninggalkan, aku pikir ini sama-sama berkaitan dengan kepergian. Dan kepergian paling menyedihkan adalah kematian.

Kematian adalah ujung waktu yang sama-sama kita tunggu tanpa bisa kita tau kapan datangnya. Kematian adalah ujung yang benar akan kita jumpai tanpa benar-benar kita siapkan bekal menuju ke sana. Kematian adalah perpisahan yang abadi.

Seperti ini, seperti yang sedang aku takutkan. Yang sehat tiba-tiba hilang nyawa, yang sakit lama masih bertahan. Baiklah, kejutan hidup memang tidak ada yang tahu. Kita hanya perlu mempersiapkan diri untuk sampai di garis finish dengan selamat. Semoga surga firdaus senantiasa menjadi rumah abadi kita di akhirat kelak. Aamiin ya Rabb.

Ingin menolak, tapi sama sekali tak punya daya. Satu melihat dari sisi kebahagiaan . Satu lainnya melihat dari sisi kesedihan. Ya sudut pandang, memang menuntut kita untuk bisa menerima apa yang sedang ada dihadapan.
Seperti hidup, seperti mati, seperti hujaman lara yang tiada henti. Begitu matang direncanakan oleh Yang Maha Kuasa, tapi sulit dipahami oleh kaum awam seperti kita ini.

Tapi kenapa kita harus sedih berkepanjangan? Sedangkan yang terbaik selalu dihadiahkan-Nya untuk kita. Toh kelak kita harus bisa berdiri dengan jiwa raga sendiri. Toh kelak kita akan kembali menghadap Sang Ilahi sendiri. Jadi tidak masalah bukan, ketika yang sengaja atau malah sengaja kau cintai meninggalkanmu sendiri?

Apapun yang berada di jagat raya ini mempunyai masanya sendiri bukan? Kau, aku, dan kalian semua sama. Kita sama. Sama-sama harus menguatkan diri. Sama-sama harus mempersiapkan diri.
Bersedihlah. Sebentar saja ya. Secukupnya saja. Kalau dirasa sudah cukup, kembangan lagi senyuman. Jangan mau kalah dengan belenggu kesedihan. Kehidupan ini harus berlanjut dengan atau tanpa adanya orang-orang yang sudah tidak lagi ditakdirkan untuk bersama dengan kita.

Dan jika nanti aku pergi, jangan ditahan. Dilepaskan saja. Aku ini sementara dan memang akan tiada. Jika kau beruntung, kau akan menemukan yang lebih dariku. Atau jika yang terjadi malah sebaliknya, maka tetaplah anggap dia sebagai dia dan tanpa sedikitpun mengharap yang sama sepertiku. Beberapa hal memang datang sebagai ujian. Kau harus menerima ini.

Dan aku akan melakukan hal yang sama dengan apa yang ku mohonkan kepadamu. Semampuku. Sebisaku. Tapi jangan memaksa, aku butuh waktu untuk itu.

Ini mudah, tapi susah ternyata. Sambil berusaha, jangan lupa diiringi dengan doa. Semoga beruntung.


From me, 
Veni Veronika


-------------------------

#Day6
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ulasrasave



Surat Kepada Siapapun yang Sedang dan Masih Merasa Kehilangan

Dear Everyone, I know it's not easy. I also won't know how heavy your burden is. Tapi guys, hidup harus tetap berjalan....